The Cranberry Sea
Deru ombak perlahan naik, membasahi permukaan tempat seorang bocah laki-laki duduk. Ia termenung, menatap hamparan laut berwarna merah pekat di hadapannya. Pikirannya kosong, tak mampu mengingat bagaimana ia bisa berada di pulau kecil ini. Namun, satu hal pasti: ia sedang menunggu ikan berkaki yang konon akan menggerogoti daratan tempatnya berpijak.
Dengan tombak bergerigi di tangan, ia bersiap menghadapi makhluk itu. Matanya menelusuri permukaan air merah yang keruh, mencoba mengingat kembali peristiwa yang membawanya ke sini. Tiba-tiba, sesosok makhluk hijau melompat dari air, hampir menerkamnya. Dengan panik, bocah itu berlari dan masuk ke sebuah lubang dangkal di pulau itu.
Di dalam lubang, udara terasa lembap dan berlendir, tetapi setidaknya ia aman dari terkaman makhluk hijau tanpa gigi itu. Kruuuk—perutnya berbunyi keras, menandakan kelaparan yang tak tertahankan. Dengan penuh harap, ia merangkak lebih dalam, menelusuri lorong berdinding lunak hingga menemukan butir-butir nasi yang tampak bergerak.
Rezeki datang di saat yang tepat. Bocah itu segera mengambil sebutir nasi sebesar kepalan tangan, lalu memakannya dengan lahap. Butir nasi itu menggeliat di mulutnya, melewati kerongkongannya, meninggalkan rasa lendir yang aneh. Bibirnya kini penuh dengan sisa-sisa lendir dari makanan itu.
Krauk krauk—bunyi kunyahannya bergema. Hari sudah gelap ketika ia memutuskan keluar dari lubang persembunyian. Dengan hati-hati, ia merangkak ke permukaan dan mendapati makhluk hijau itu telah lenyap. Ia lalu berjalan menuruni daratan licin, menyeberangi dua bukit kecil. Di kaki bukit, ia kembali termenung, merasa ada yang salah dengan dirinya dan tempat ini, meski tak yakin apa itu.
Rasa kantuk menyerang. Ia bersandar pada bukit yang empuk, menguap lebar, lalu memejamkan mata. Malam itu, ia tertidur lelap.
Pagi menyingsing dengan matahari yang menyengat. Bocah itu terbangun oleh suara kecipak air yang riuh. Ia bergegas ke tepi pulau dan melihat gerombolan ikan bersisik sedang memakan daratan tempatnya berdiri. “Gawat!” pikirnya. Dengan sigap, ia menusukkan tombaknya ke arah ikan-ikan itu hingga mereka berenang menjauh.
Ia terduduk lega, meski hanya sesaat. Ia tak tahu apa yang akan terjadi jika pulau ini habis dimakan ikan-ikan itu. Ia tak bisa berenang, dan jika pulau ini lenyap, ia pasti tenggelam. Menatap ke bawah, ia melihat air semakin merah, dengan gumpalan-gumpalan daging mirip buah cranberry mengapung di permukaan.
Tiba-tiba, kenangan samar muncul di benaknya. Namun, sebelum ingatannya menjadi jelas, ia muntah hebat dan jatuh pingsan di tepi pulau. Hujan gerimis turun, tetesannya membasahi wajah seorang wanita yang terbujur kaku. Air hujan mengalir di pipinya, seolah-olah ia menangis dalam kematiannya.
Tak ada yang tahu berapa lama tubuh wanita itu telah mengapung di danau itu. Tak seorang pun menyadari keberadaannya. Hewan-hewan kecil dan besar menggerogoti sisa-sisa tubuhnya, namun di atasnya berdiri sebuah bayang yang enggan turun, seolah menjaga jasad itu.
Tetesan hujan membangunkan bocah itu. Ia menyeka mulutnya dari sisa muntahan, lalu terduduk lemas. Pulaunya semakin terkikis setiap hari. Bau amis bercampur hujan makin menyengat, membuatnya semakin mual. Ia ingin pergi, tetapi ketakutan membuatnya tak sanggup meninggalkan pulau ini—tanpa ia sadari, pulau itu adalah jasad seorang wanita yang mulai membusuk dan mengembang.
Siang berganti malam, begitu pula sebaliknya. Permukaan jasad wanita itu semakin mengembang, mengundang makhluk-makhluk danau untuk mendekat dan memakan sebagian darinya. Air di sekitar berubah hitam pekat. Bocah itu tak lagi mampu melawan gerombolan ikan bersisik dan ikan berkaki yang terus berdatangan.
Hingga suatu malam, deru mesin terdengar mendekat. Arus air mengguncang jasad itu. Sinar terang dari sebuah perahu menyapu permukaan danau, seolah mencari sesuatu. Bocah itu berdiri, melambai, dan berteriak, berharap menarik perhatian penyelamat.
“Di sana! Kita menemukannya!” teriak seorang pria berbaju selam.
Bocah itu tersentuh, harapan muncul bahwa ia akhirnya akan terbebas dari pulau terkutuk ini. Namun, sebelum ia bisa bertemu tim penyelamat, sebuah makhluk besar berkulit keras menyeruduk dan menggigit pulau itu dengan rahangnya yang kuat. Bocah itu terguling dan jatuh, menyaksikan makhluk itu ditembak mati di tempat.
Di tengah kepanikan, pandangannya tertuju pada jasad di bawahnya. Wajah itu begitu dikenalnya, wajah yang telah menemaninya sepanjang hidup. Namun, kini ia hanya bisa menatapnya dengan hati hampa, seolah dunia di sekitarnya runtuh, menyisakan kebenaran yang tak pernah ia duga.
Kasih tip buat penulis
