Jilid 1 (Cinta adalah sesuatu yang membara)
Kedua mata Jaka menatap kosong ke depan sejauh seribu mil. Di hadapannya, tubuh Raya, istrinya, terbaring kaku, napasnya tersengal akibat timah panas yang menembus lehernya. Tangan mereka masih saling menggenggam erat, di tengah derap kaki yang kacau dan kobaran api yang menari-nari menjulang ke langit kelam. Aksi massa terus bergolak, penuh amarah, dipenuhi kekerasan, dan nyawa yang melayang setiap detiknya.
Jaka, seorang aktivis sekaligus jurnalis mandiri, turun ke jalanan ibu kota malam itu untuk mendampingi Raya, istrinya, yang sedang menjalani magang sebagai reporter berita di sebuah stasiun televisi. Kampus Raya mewajibkan magang, dan meliput aksi demonstrasi ini adalah tugas akhirnya. Dengan menunggangi motor tua mereka, pasangan ini melaju ke pusat keramaian, tempat ribuan massa dari kalangan mahasiswa, petani, dan pedagang kecil berkumpul. Mereka datang dari pelosok negeri, bersatu dalam satu suara: menolak aturan baru yang merampas tanah rakyat secara sepihak, tanah yang mereka sebut “nganggur”.
