Prolog

Langkah Pertama


Suara bidak catur yang bergesekan dengan papan terdengar memenuhi ruangan.

"Skak."

Seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun membeku di kursinya.

Matanya terpaku pada papan di hadapannya.

Raja hitamnya tidak memiliki jalan keluar.

Benteng lawan mengunci satu sisi.

Menteri lawan mengawasi sisi lainnya.

Dan pion-pion yang tersisa hanya menjadi penonton atas kekalahannya.

Wasit mendekat.

"Checkmate."

Ruangan yang sebelumnya terasa begitu ramai tiba-tiba menjadi sunyi.

Anak itu menundukkan kepala.

Tangannya masih menggenggam bidak kuda yang tidak sempat dimainkan.

Pertandingan selesai.

Dia kalah.

"Arka!"

Suara ibunya terdengar dari kejauhan.

"Sudah selesai?"

Arka tidak menjawab.

Dia masih menatap papan catur.

Bagaimana bisa?

Beberapa langkah lalu dia merasa unggul.

Bahkan pelatih sekolahnya bilang posisi itu menguntungkan.

Tapi sekarang...

dia kalah.

Lawan di depannya mulai membereskan bidak.

Anak laki-laki yang usianya tidak jauh berbeda.

Wajahnya biasa saja.

Tidak terlihat seperti monster.

Tidak terlihat seperti jenius.

Tapi entah bagaimana dia menemukan langkah yang tidak dilihat Arka.

"Kamu hebat."

Suara lawannya membuat Arka mengangkat kepala.

"Aku hampir kalah."

Arka mengerutkan kening.

Kalimat itu terdengar seperti ejekan.

"Hampir kalah tetap saja kalah."

Lawan itu hanya tertawa kecil.

"Mungkin."

Kemudian dia berdiri dan pergi.

Meninggalkan Arka sendirian bersama papan catur yang masih dipenuhi bidak.

Satu menit.

Dua menit.

Tiga menit.

Arka masih duduk di sana.

Kenapa belum pulang?"

Seorang pria tua menghampiri meja.

Panitia turnamen.

Mungkin juga pelatih salah satu peserta.

Arka tidak tahu.

"Pak..."

Pria itu menoleh.

"Ya?"

Arka menunjuk posisi terakhir di papan.

"Langkah apa yang membuatku kalah?"

Pria itu tersenyum tipis.

Kemudian duduk di kursi lawan.

"Kamu benar-benar ingin tahu?"

Arka mengangguk.

Pria itu memindahkan sebuah menteri.

Hanya satu langkah.

Satu langkah sederhana.

Begitu sederhana hingga membuat Arka terdiam.

"Kalau dia memainkan ini..."

"Posisimu runtuh."

Arka menatap papan.

Lalu menatap lagi.

Dan lagi.

Dadanya terasa sesak.

Bukan karena sedih.

Bukan karena marah.

Melainkan karena kagum.

Ada dunia yang belum bisa ia lihat.

Ada langkah yang tidak mampu ia bayangkan.

Ada pemain yang lebih kuat darinya.

Jauh lebih kuat.

Pria tua itu berdiri.

"Masih banyak yang harus dipelajari."

Arka mengepalkan kedua tangannya.

Matanya tidak lagi tertuju pada kekalahannya.

Melainkan pada kemungkinan yang terbentang di depannya.

Jika ada langkah yang tidak bisa ia lihat hari ini...

Maka suatu hari nanti ia akan melihatnya.

Jika ada pemain yang lebih kuat hari ini...

Maka suatu hari nanti ia akan menyusulnya.

Untuk pertama kalinya sejak mengenal catur, Arka menyadari sesuatu.

Bukan kemenangan yang membuat permainan ini menarik.

Melainkan fakta bahwa selalu ada tempat untuk menjadi lebih baik.

Ia menatap papan catur untuk terakhir kalinya.

Lalu tersenyum.

Senyum kecil.

Namun penuh tekad.

Aku ingin menjadi lebih baik.

Aku ingin lebih kuat.

Aku ingin melihat dunia yang belum bisa kulihat hari ini.

End...

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!