Bab 9
Hal-Hal yang Tidak Ada di Papan Catur
Pagi hari.
Langit cerah.
Suara ombak terdengar dari luar penginapan.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Arka dibangunkan bukan oleh alarm.
Melainkan oleh Kevin.
"Bangun!"
BRAK!
Pintu kamar terbuka.
Arka langsung terbangun.
"Apa yang kamu lakukan?!"
"Sudah jam tujuh."
"Itu bukan alasan untuk mendobrak pintu."
"Aku mengetuk."
"Kapan?"
"Tiga detik yang lalu."
"..."
Arka mulai mempertimbangkan tindakan kriminal.
Satu jam kemudian.
Mereka sudah berada di pantai.
Kevin entah dari mana membawa bola voli.
"Tim!"
"Tidak."
"Itu bukan pertanyaan."
"Kevin."
"Kita main."
"Kenapa?"
"Karena liburan."
"Itu tetap bukan alasan."
Namun lima menit kemudian.
Mereka tetap bermain.
Karena ternyata Kevin memiliki bakat supernatural dalam memaksa orang ikut bersenang-senang.
Tim pertama:
- Kevin
- Naila
Tim kedua:
- Arka
- Rian
"Kenapa aku satu tim sama dia?"
Rian menunjuk Arka.
"Aku tidak bisa main voli."
"Aku juga."
"Justru itu masalahnya."
Pertandingan dimulai.
Kevin melakukan servis.
Bolanya meluncur sempurna.
Arka gagal menerimanya.
Poin.
"Hah."
Kevin tersenyum.
"Menarik."
"Apa?"
"Ada olahraga yang kamu tidak jago."
"Itu bukan informasi baru."
"Tapi menyenangkan melihatnya."
Sepuluh menit kemudian.
Arka berkeringat.
Dan mulai kesal.
Karena mereka kalah telak.
Sangat telak.
Kevin tertawa setiap kali mendapat poin.
Rian meminta maaf setiap kali gagal menerima bola.
Dan Naila...
Naila ternyata sangat kompetitif.
"Jangan kasih mereka kesempatan."
"Siap."
Kevin langsung mengikuti.
Arka berkedip.
"Hah."
"Apa?"
"Kamu ternyata suka menang juga."
Naila menatapnya.
Seolah baru saja mendengar sesuatu yang bodoh.
"Tentu saja."
"Loh?"
"Aku suka memahami catur."
"Hm."
"Itu tidak berarti aku suka kalah."
Untuk pertama kalinya.
Arka tidak bisa membantah.
Setelah pertandingan selesai.
Mereka duduk di bawah payung pantai.
Kevin membeli es kelapa.
Rian langsung memesan dua.
Dan entah bagaimana.
Arka akhirnya menikmati suasana.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada lawan.
Tidak ada jam catur.
Hanya angin laut.
Dan teman-temannya.
Teman.
Kata itu terasa aneh.
Karena selama bertahun-tahun.
Sebagian besar waktunya dihabiskan sendirian.
Berlatih.
Belajar.
Bertanding.
Namun sekarang...
Ada orang-orang yang berjalan di sampingnya.
Dan tanpa sadar.
Ia menyukai itu.
Menjelang sore.
Mereka berjalan di sepanjang pantai.
Kevin dan Rian berjalan di depan.
Entah sedang membahas makanan atau hal tidak penting lainnya.
Sementara Arka dan Naila tertinggal beberapa langkah.
Untuk beberapa saat.
Mereka hanya berjalan.
Tanpa bicara.
Namun anehnya.
Tidak terasa canggung.
"Aku punya pertanyaan."
Naila akhirnya berbicara.
"Hm?"
"Kamu pernah takut kalah?"
Arka terdiam.
Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba.
"Pernah."
Jawabannya lebih cepat dari yang ia duga.
Naila sedikit terkejut.
"Kukira kamu akan bilang tidak."
"Aku bukan robot."
"Itu masih diperdebatkan."
Arka memutar bola matanya.
Membuat Naila tertawa kecil.
"Lalu?"
"Apa?"
"Kenapa takut?"
Arka melihat laut.
Ombak datang.
Ombak pergi.
Kemudian menjawab.
"Karena kalau kalah..."
Ia berhenti.
Mencari kata-kata yang tepat.
"Rasanya seperti semua usahaku tidak cukup."
Angin berembus pelan.
Dan untuk pertama kalinya.
Naila melihat sisi Arka yang jarang diperlihatkan.
Bukan pemain nomor satu.
Bukan kandidat tim nasional.
Bukan orang yang selalu menang.
Melainkan seseorang yang juga takut.
Sama seperti orang lain.
Malam hari.
Mereka kembali ke penginapan.
Kevin langsung tertidur.
Rian tidak jauh berbeda.
Namun Arka masih terjaga.
Entah kenapa ia tidak bisa tidur.
Mungkin karena terlalu banyak hal yang sedang dipikirkannya.
Akhirnya ia turun ke lobi penginapan.
Suasana sudah sepi.
Hanya terdengar suara ombak dari kejauhan.
Arka duduk di salah satu meja dekat jendela.
Memandangi laut yang gelap.
Beberapa menit berlalu.
Lalu seseorang menarik kursi di depannya.
Naila.
Di tangannya ada dua kaleng minuman.
Tanpa berkata apa-apa.
Ia meletakkan salah satunya di depan Arka.
"Terima kasih."
"Hm."
Mereka duduk berhadapan.
Diam.
Mendengarkan suara ombak yang masuk melalui jendela yang sedikit terbuka.
Lalu Naila berkata pelan.
"Kalau suatu hari nanti kamu kalah..."
Arka menoleh.
Naila tetap melihat laut.
"...jangan pernah menganggap semua usahamu sia-sia."
Sunyi.
Tidak ada jawaban.
Karena untuk pertama kalinya.
Arka tidak tahu harus menjawab apa.
Dan jauh di dalam dirinya.
Entah kenapa.
Kalimat itu terus tertinggal.
Seolah suatu hari nanti...
Ia akan membutuhkannya.
End...
Kasih tip buat penulis