Bab 8

Liburan yang Tidak Benar-Benar Libur




Beberapa hari setelah seleksi berakhir.

Sebuah grup chat baru terbentuk.

Tim Nasional Junior.

Awalnya hanya berisi informasi latihan dari Coach Aditya.

Namun dalam waktu kurang dari satu jam...

Grup itu berubah menjadi tempat Kevin mengirim meme, Rian mengeluh soal liburan yang membosankan, dan Naila sesekali mengirim foto langit tanpa penjelasan apa pun.

Di tengah kekacauan itu.

Muncul satu pesan baru.

Kevin:


Liburan.

Kevin:


Pantai.

Kevin:


Tidak menerima penolakan.

Dan entah bagaimana.

Kurang dari satu hari kemudian.

Mereka sudah saling bertukar nomor telepon, alamat penjemputan, dan rencana keberangkatan.

Seminggu kemudian.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan.

Tidak ada pertandingan.

Tidak ada seleksi.

Tidak ada peringkat.

Dan itu membuat Arka merasa aneh.

Sangat aneh.

Pukul enam pagi.

Ia sudah duduk di depan papan catur.

Sendirian.

Seperti biasa.

Tangannya memindahkan bidak.

Menganalisis posisi.

Mencatat variasi.

Lalu ponselnya bergetar.

Kevin

Arka langsung curiga.

Biasanya kalau Kevin menghubunginya pagi-pagi...

Tidak ada hal baik yang akan terjadi.

Ia membuka pesan itu.

Bangun.

Arka membalas.

Sudah.

Beberapa detik kemudian.

Keluar rumah.
Kenapa?
Keluar aja dulu.
Tidak mau.
Aku di depan rumahmu.

Sunyi.

Arka berjalan ke jendela.

Dan benar saja.

Kevin berdiri di depan gerbang.

Bersama Rian.

Dan...

Naila.

"Hah?"

Sepuluh menit kemudian.

Arka sudah berada di dalam mobil.

Masih bingung.

"Jadi."

"Kita mau ke mana?"

Kevin tersenyum lebar.

"Liburan."

"Itu bukan jawaban."

"Pantai."

"Oh."

Arka kembali diam.

Lalu membuka tasnya.

Dan mengeluarkan buku catatan catur.

"JANGAN."

Kevin langsung merebutnya.

"Oi."

"Kamu liburan."

"Aku bisa membaca sambil duduk."

"Tidak."

"Aku bahkan belum membuka—"

"TIDAK."

Rian tertawa sampai hampir tersedak minuman.

Sementara Naila memalingkan wajahnya.

Tapi bahunya sedikit bergetar.

Dia sedang menahan tawa.

Dua jam kemudian.

Mereka sampai.

Pantai tidak terlalu ramai.

Angin laut berembus pelan.

Suara ombak memenuhi udara.

Untuk beberapa saat.

Tidak ada yang berbicara.

Karena pemandangannya terlalu indah.

Kevin langsung berlari ke laut.

Rian ikut mengejar.

Meninggalkan jejak kaki di pasir.

Dan dalam waktu kurang dari satu menit...

Mereka berdua jatuh.

"Hahaha!"

"Idiot."

Untuk pertama kalinya hari itu.

Arka tertawa cukup keras.

Lalu tiba-tiba.

Klik.

Ia menoleh.

Naila sedang memegang kamera.

"Kamu motret?"

"Hm."

Sejak kapan?

"Sudah lama."

Naila melihat hasil fotonya.

Lalu berkata pelan.

"Aku suka menyimpan momen."

"Momen?"

"Karena semuanya cepat berlalu."

Angin kembali berembus.

Untuk beberapa saat.

Mereka hanya melihat laut.

Tanpa sadar.

Suasana terasa nyaman.

Tidak canggung.

Tidak perlu banyak kata.

Sore hari.

Mereka duduk di tepi pantai.

Kevin membeli terlalu banyak makanan.

Rian mengeluh.

Naila memotret langit senja.

Dan Arka...

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama.

Tidak memikirkan pertandingan.

Setidaknya sampai...

Ia melihat sesuatu.

Di kejauhan.

Ada meja kecil milik kafe pantai.

Dan di atas meja itu.

Sebuah papan catur.

"..."

Naila langsung menyadarinya.

"Jangan."

"Aku belum bilang apa-apa."

"Jangan."

"Aku cuma melihat."

"Arka."

"Aku cuma penasaran."

"Arka."

"Hanya lima menit."

"Arka."

Kevin dan Rian langsung tertawa.

Karena mereka tahu.

Pertarungan ini sudah dimenangkan Naila sejak awal.

Malam hari.

Mereka menginap di penginapan dekat pantai.

Semua orang sudah tidur.

Lampu koridor redup.

Penginapan terasa jauh lebih sunyi dibanding siang tadi.

Hanya terdengar suara ombak dari kejauhan.

Arka duduk di salah satu meja dekat jendela.

Memandangi laut yang gelap.

Dan mulai menganalisis pertandingan.

Satu posisi.

Dua posisi.

Tiga posisi.

Waktu berlalu.

Tanpa ia sadari.

Seseorang duduk di seberangnya.

Naila.

"..."

"..."

Mereka saling menatap.

Lalu Naila menghela napas.

"Aku sudah menduga."

"Apa?"

"Kamu pasti tetap latihan."

Arka menggaruk pipinya.

Sedikit bersalah.

"Maaf."

Yang mengejutkan.

Naila justru mengeluarkan notebook miliknya.

Lalu meletakkannya di meja.

"Aku juga."

Sunyi.

Arka berkedip.

"Hah?"

Naila membuka catatan partai.

"Liburan memang penting."

Katanya pelan.

"Tapi kita tetap punya tujuan yang sama."

Untuk pertama kalinya malam itu.

Arka tersenyum.

Bukan karena catur.

Bukan karena latihan.

Tapi karena menyadari sesuatu.

Ia tidak sendirian.

Dan mungkin.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

Perjalanan menuju puncak tidak terasa terlalu sepi.

End...


Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!