Bab 7
Nama-Nama yang Terpilih
Ruang konferensi terasa lebih sunyi dari biasanya.
Dua belas kursi berjajar rapi.
Dua belas pemain terbaik yang berhasil lolos seleksi nasional.
Arka duduk di barisan tengah.
Di sebelahnya Rian.
Di depan mereka Kevin.
Dan di seberang ruangan Naila.
Aneh.
Beberapa hari yang lalu mereka masih saling mengalahkan.
Sekarang mereka duduk memakai jaket yang sama.
Jaket tim nasional.
"Masih terasa aneh."
Rian memegang bagian lengan jaketnya.
"Aku benar-benar lolos."
Kevin mengangguk.
"Aku juga."
Naila melirik mereka.
"Kalian terdengar seperti tidak percaya diri."
"Karena memang tidak percaya."
"Jujur sekali."
Rian tertawa.
Di sisi lain.
Arka memperhatikan lambang negara yang terpasang di dada jaketnya.
Tidak besar.
Tapi cukup membuat dadanya terasa hangat.
Lima tahun lalu.
Ia hanya seorang anak yang kalah di turnamen lokal.
Sekarang.
Ia duduk di ruangan yang sama dengan pemain-pemain terbaik di negaranya.
Dan untuk pertama kalinya.
Ia benar-benar merasa telah melangkah jauh.
Pintu ruangan terbuka.
Coach Aditya masuk.
Seluruh peserta langsung tenang.
Pelatih meletakkan beberapa dokumen di atas meja.
Lalu melihat satu per satu wajah para pemain.
"Saya ucapkan selamat."
Tidak ada tepuk tangan.
Karena semua orang menunggu kelanjutannya.
"Tapi jangan terlalu senang."
Beberapa pemain langsung menghela napas.
"Tentu saja."
Kevin berbisik.
Coach Aditya melanjutkan.
"Kalian belum menjadi tim nasional."
Ruangan langsung sunyi.
Beberapa pemain saling berpandangan.
"Hah?"
"Kalian baru lolos seleksi."
Pelatih menyilangkan tangan.
"Menjadi pemain hebat itu satu hal."
"Menjadi tim adalah hal lain."
Tatapan Coach Aditya berkeliling ruangan.
"Saya sudah melihat banyak pemain berbakat."
"Banyak jenius."
"Banyak juara nasional."
"Tapi mereka gagal ketika harus bermain untuk sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri."
Arka tanpa sadar memperhatikan setiap kata.
Karena kalimat itu terasa ditujukan padanya.
"Mulai minggu depan."
Coach Aditya menunjuk layar proyektor.
"Program pemusatan latihan nasional dimulai."
Beberapa pemain langsung menegakkan badan.
"Selama satu tahun."
"Kalian akan berlatih bersama."
"Bertanding bersama."
"Menang bersama."
"Dan kalah bersama."
Kalimat terakhir terasa lebih berat.
Namun sebelum suasana menjadi terlalu serius.
Coach Aditya menghela napas.
"Lalu setelah itu."
Semua menunggu.
"Libur satu minggu."
Sunyi.
"..."
"..."
"..."
Kevin berdiri paling dulu.
"LIBUR?!"
Ruangan langsung pecah.
Beberapa pemain tertawa.
Bahkan pelatih sampai memijat pelipisnya.
"Sit down."
"Maaf."
Kevin langsung duduk lagi.
Namun senyum di wajahnya tidak hilang.
Setelah pertemuan selesai.
Keempat orang itu berjalan keluar gedung bersama.
Matahari sore mulai turun.
Untuk pertama kalinya.
Mereka tidak lagi memikirkan pertandingan.
Tidak ada papan catur.
Tidak ada jam pertandingan.
Tidak ada lawan.
Hanya jalan pulang.
"Jadi..."
Kevin memecah keheningan.
"Liburan."
"Hm."
"Kalian mau ngapain?"
Rian mengangkat bahu.
"Tidur."
"Wah cita-cita yang sederhana."
"Kamu?"
Kevin tersenyum lebar.
"Makan."
"Itu bukan kegiatan."
"Itu gaya hidup."
Mereka tertawa.
Naila menggeleng pelan.
"Kalian ini..."
Namun bahkan dia terlihat sedikit lebih santai dari biasanya.
Lalu Kevin menoleh ke Arka.
"Kamu?"
"Hm?"
"Mau ngapain selama liburan?"
Semua langsung menunggu jawabannya.
Arka berpikir sebentar.
Kemudian menjawab dengan sangat serius.
"Latihan."
Sunyi.
"..."
"..."
"..."
"Tentu saja."
Kevin menepuk dahinya.
Rian tertawa terbahak-bahak.
Bahkan Naila sampai menahan senyum.
Dan untuk pertama kalinya.
Arka tidak mengerti kenapa mereka semua tertawa.
Malam itu.
Saat semua orang mulai merencanakan liburan mereka.
Arka kembali membuka catatan pertandingannya.
Posisi demi posisi.
Langkah demi langkah.
Ia masih melihat kesalahan-kesalahannya selama seleksi.
Masih menemukan hal-hal yang bisa diperbaiki.
Masih menemukan celah untuk berkembang.
Di luar jendela.
Langit malam terlihat tenang.
Dan di atas meja.
Sebuah catatan baru mulai terisi.
Target berikutnya.
Menjadi pemain utama tim nasional.
Arka menatap tulisan itu.
Lalu tersenyum tipis.
Perjalanannya belum selesai.
Justru baru dimulai.
End...
Kasih tip buat penulis