Bab 6

Orang yang Tidak Menyukai Kompetisi



Hari terakhir seleksi.

Hasil akhir diumumkan sore ini.

Sejak pagi, suasana gedung terasa berbeda.

Lebih tegang.

Lebih sunyi.

Tidak ada lagi peserta yang mengobrol santai.

Tidak ada lagi candaan berlebihan.

Karena semua orang tahu.

Hari ini beberapa mimpi akan berlanjut.

Dan beberapa lainnya akan berhenti di sini.

Arka baru saja menyelesaikan pertandingan terakhirnya.

Menang.

Tidak sempurna.

Tapi cukup untuk memastikan posisinya aman.

Ia berjalan keluar ruangan.

Dan menemukan Kevin duduk sendirian di dekat mesin minuman.

Tidak tersenyum.

Tidak bercanda.

Tidak seperti biasanya.

"Kamu kenapa?"

Kevin mengangkat kepala.

"Oh."

"Hasilmu bagaimana?"

"Aman."

"Bagus."

Lalu sunyi lagi.

Arka duduk di sampingnya.

Mungkin untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu.

Kevin terlihat murung.

Beberapa saat kemudian.

Suara tangisan terdengar dari ujung koridor.

Arka menoleh.

Seorang peserta perempuan berjalan keluar sambil menutupi wajahnya.

Di belakangnya.

Seorang pelatih mencoba menenangkannya.

"Tahun depan masih ada kesempatan."

Namun gadis itu tetap menangis.

Karena mereka semua tahu.

Kesempatan tidak selalu datang dua kali.

Kevin memperhatikan pemandangan itu.

Lama.

Sangat lama.

Kemudian berkata pelan.

"Aku tidak suka melihat itu."

"Hm?"

"Orang menangis."

Arka kembali melihat koridor.

"Oh."

Kevin tersenyum kecil.

Namun kali ini senyumnya terasa sedih.

"Aku tahu ini aneh."

"Apa?"

"Aku sebenarnya tidak terlalu suka kompetisi."

Untuk pertama kalinya.

Arka benar-benar terkejut.

"Hah?"

"Itu ekspresi yang sering kudapat."

"Tapi kamu pemain turnamen."

"Iya."

"Kamu ikut seleksi nasional."

"Iya."

"Lalu kenapa tidak suka kompetisi?"

Kevin menatap langit-langit.

Seolah mencari jawaban di sana.

"Aku suka catur."

"Hm."

"Aku suka bertanding."

"Hm."

"Tapi aku tidak suka bagian setelahnya."

Arka mengernyit.

"Bagian setelahnya?"

Kevin mengangguk.

"Kamu menang."

"Hm."

"Orang lain kalah."

"..."

"Orang tua kecewa."

"..."

"Pelatih sedih."

"..."

"Teman-teman menangis."

Kevin tersenyum pahit.

"Kadang aku berpikir."

"Akan lebih baik kalau semua orang bisa menang."

Sunyi.

Arka tidak langsung menjawab.

Karena untuk pertama kalinya.

Ia mendengar seseorang melihat kompetisi dari sudut pandang seperti itu.

"Kalau semua orang menang..."

Kevin menoleh.

"Ya?"

"Berarti tidak ada yang menang."

Jawaban Arka keluar begitu saja.

Kevin tertawa kecil.

"Nah, itu dia masalahnya."

"?"

"Aku tahu kamu benar."

Dia melihat ke arah aula pertandingan.

"Aku tahu kompetisi itu perlu."

"Aku tahu orang berkembang karena ada persaingan."

"Aku tahu semua itu."

"Lalu?"

Kevin menunduk.

Kemudian berkata pelan.

"Tetap saja aku membencinya."

Angin sore berembus melalui jendela koridor.

Untuk beberapa saat.

Tidak ada yang berbicara.

"Aku tidak mengerti."

Akhirnya Arka berkata jujur.

Kevin tersenyum.

"Aku juga tidak berharap kamu mengerti."

"Hah?"

"Kamu tipe orang yang ingin menang."

"Tentu saja."

"Kamu ingin jadi yang terbaik."

"Iya."

Kevin mengangguk.

"Lalu aku senang ada orang seperti kamu."

Arka berkedip.

"Kenapa?"

"Karena kalau semua orang sepertiku..."

Kevin tertawa kecil.

"...dunia kompetisi bakal bubar."

Untuk pertama kalinya hari itu.

Arka ikut tertawa.


Sore hari.


Pengumuman hasil seleksi dimulai.

Puluhan peserta berdiri di depan layar besar.

Tidak ada suara.

Tidak ada candaan.

Hanya ketegangan.

Nama demi nama muncul.

Peserta yang lolos.

Peserta yang gagal.

Arka melihat.

Arka Pratama.

Lolos.

Naila Putri.

Lolos.

Rian Saputra.

Lolos.

Kevin Wijaya.

Lolos.

Mereka berhasil.

Namun saat Arka menoleh ke belakang.

Ia melihat beberapa peserta lain menundukkan kepala.

Ada yang menangis.

Ada yang diam membeku.

Ada yang langsung pergi.

Dan untuk pertama kalinya.

Ia sedikit memahami apa yang dimaksud Kevin.

Kemenangan seseorang.

Kadang dibangun di atas kekecewaan orang lain.

Malam itu.

Saat semua orang pulang.

Arka berdiri sendirian di depan gedung.

Langit sudah gelap.

Namun kata-kata Kevin masih terngiang di kepalanya.

"Aku tahu kompetisi itu perlu."
"Tetap saja aku membencinya."

Arka tidak setuju.

Baginya kompetisi adalah sesuatu yang penting.

Tanpa kompetisi.

Ia tidak akan sampai sejauh ini.

Tanpa kompetisi.

Ia tidak akan menjadi lebih kuat.

Namun entah kenapa.

Untuk pertama kalinya.

Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.

Dan akhirnya ia mulai memahami mengapa Kevin tidak pernah benar-benar tersenyum setelah sebuah kemenangan.


End...


Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!