Bab 5

Orang yang Ingin Menang



Hari kedua seleksi.

Ruangan terasa lebih hidup dibanding kemarin.

Jika hari pertama dipenuhi ketegangan dan rasa gugup...

Hari ini berbeda.

Semua orang sudah merasakan pertandingan pertama mereka.

Tidak ada lagi peserta yang sibuk menyembunyikan kecemasan.

Yang tersisa hanyalah pemain-pemain yang ingin menang.

Di salah satu sudut ruangan, beberapa peserta sedang membahas pertandingan kemarin.

Di sudut lain, ada yang sibuk mempelajari catatan partai mereka.

Sementara layar besar di depan ruangan menampilkan klasemen sementara hasil ronde pertama.

Arka melihat namanya berada di posisi teratas.

Namun perhatiannya segera tertarik pada daftar pertandingan berikutnya.

Meja 1.

Arka Pratama vs Naila Putri.

"Hm."


Untuk pertama kalinya sejak seleksi dimulai.

Ia merasa sedikit bersemangat.

Di sisi lain ruangan.

Naila juga sedang melihat daftar yang sama.

Mata mereka bertemu.

Naila tersenyum tipis.

"Jangan mengecewakanku."

"Kamu juga."

Lima belas menit kemudian.

Pertandingan dimulai.

Pion putih maju dua langkah.

Arka membuka permainan dengan agresif.

Naila menjawab dengan tenang.

Sepuluh langkah pertama berlalu tanpa kejutan.

Dua puluh langkah.

Tiga puluh langkah.

Posisi mulai rumit.

Dan untuk pertama kalinya.

Arka merasa ditekan.

Bukan karena kalah posisi.

Melainkan karena Naila tidak bermain seperti kebanyakan lawannya.

Biasanya orang mencari kemenangan.

Naila tidak.

Dia mencari pemahaman.

Setiap langkahnya terasa seperti pertanyaan.

"Kalau aku bergerak ke sini, apa yang akan kamu lakukan?"

"Kalau posisi berubah seperti ini, apa yang kamu lihat?"

Bukan serangan.

Bukan jebakan.

Melainkan percakapan.

Dan Arka membencinya.

Karena ia tidak terbiasa dengan itu.

Baginya catur adalah medan perang.

Bagi Naila...

seolah-olah catur adalah bahasa.

15 menit berlalu.

Posisi semakin sempit.

Tidak ada yang unggul jauh.

Naila memindahkan kudanya.

Arka langsung mengernyit.

Langkah aneh.

Tidak menyerang.

Tidak bertahan.

Seolah hanya memperbaiki posisi.

Namun setelah berpikir beberapa menit...

Arka menyadari sesuatu.

Langkah itu luar biasa.

Sangat sederhana.

Tapi membuka kemungkinan yang tidak ia lihat sebelumnya.

Dadanya berdebar.

Ia suka perasaan ini.

Perasaan ketika menemukan sesuatu yang baru.

Perasaan ketika melihat dunia yang lebih luas.

"Masih banyak yang belum aku tahu..."

Entah kenapa.

Ia teringat kalimat pelatih lamanya.

25 menit kemudian.

Pertandingan mencapai akhir permainan.

Dan akhirnya...

Arka menemukan celah.

Kecil.

Sangat kecil.

Tapi cukup.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Naila terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak pertandingan dimulai.

Ia tersenyum.

"Luar biasa."

Lalu menjulurkan tangannya.

"Aku menyerah."

Ruangan menjadi sunyi.

Pertandingan meja satu selesai.

Arka menang.

Namun anehnya.

Ia tidak merasakan kepuasan seperti biasanya.

Karena kemenangan ini tidak terasa seperti mengalahkan seseorang.

Melainkan seperti mempelajari sesuatu.

Setelah pertandingan.

Mereka bertemu di area istirahat.

Naila sedang membaca catatan partai mereka.

Arka duduk di sampingnya.

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Lalu Naila bertanya.

"Kenapa kamu bermain catur?"

Pertanyaan mendadak.

Arka berpikir sebentar.

"Karena aku ingin menjadi lebih kuat."

Naila mengangguk.

"Dan setelah itu?"

"Hm?"

"Setelah kamu menjadi kuat."

"..."

"Apa tujuanmu?"

Arka menatap langit-langit.

Kemudian menjawab.

"Menjadi yang terbaik."

Jawabannya keluar tanpa ragu.

Naila tersenyum tipis.

"Aku sudah menduga."

"Lalu kamu?"

Naila menutup buku catatannya.

"Aku suka memahami sesuatu."

"Apa maksudnya?"

"Catur."

Dia menunjuk papan analisis di dekat mereka.

"Setiap pertandingan mengajarkanku cara berpikir yang berbeda."

"Meskipun kalah?"

"Meskipun kalah."

Arka terdiam.

Jawaban itu terdengar aneh.

Sangat aneh.

Namun entah kenapa.

Ia tidak bisa menertawakannya.

Karena selama pertandingan tadi...

Ia juga merasakan hal yang sama.

Sore hari.

Seleksi berakhir.

Para peserta berjalan keluar dari gedung.

Langit mulai berubah jingga.

Di depan pintu keluar.

Kevin sedang duduk di bangku sambil memakan es krim.

"Kalian selesai?"

"Iya."

"Siapa menang?"

"Arka."

Kevin mengangguk.

Lalu memakan sesendok es krim lagi.

"Kasihan."

Arka berkedip.

"Hah?"

"Yang kalah pasti sedih."

Sunyi.

Naila menatap Kevin.

Arka menatap Kevin.

Kevin menatap mereka balik.

"Apa?"

"Kamu memang aneh."

"Itu pujian atau hinaan?"

"Aku juga tidak tahu."

Mereka bertiga tertawa kecil.

End... 


Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!