Bab 4

Orang yang Tidak Cocok Jadi Pemain Catur



"Seleksi berlangsung selama tiga hari."

"Setiap peserta akan memainkan lima pertandingan."

"Peringkat ditentukan berdasarkan total poin."

Begitu kata Coach Aditya...

"Babak pertama dimulai dalam lima menit."

Suara panitia menggema di seluruh ruangan.

Puluhan peserta mulai menuju meja masing-masing.

Beberapa terlihat tenang.

Beberapa lainnya jelas gugup.

Arka melihat daftar pertandingan yang ditempel di papan pengumuman.

Meja 7

Arka Pratama vs Kevin Wijaya

"Kevin..."

Nama yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.

"Semoga aku tidak bikin kamu susah."

Arka menoleh.

Seorang anak laki-laki dengan senyum lebar berdiri di sampingnya.

Rambutnya sedikit berantakan.

Ekspresinya terlalu santai untuk ukuran seleksi tim nasional.

"Kamu Kevin?"

"Yup."

Kevin mengulurkan tangan.

"Senang bertemu dengan pemain nomor satu nasional."

Arka menjabat tangannya.

"Duduk saja dulu."

"Hah?"

"Pertandingannya sebentar lagi."

Kevin berkedip.

Kemudian tertawa.

"Kamu memang tidak suka basa-basi ya."

Arka tidak menjawab.

Kevin kembali tertawa.

"Aku suka orang jujur."

Dan entah kenapa...

Arka langsung merasa lelah.

Lima menit kemudian.

Pertandingan dimulai.

Jam catur ditekan.

Bidak pertama bergerak.

Arka memilih pembukaan favoritnya.

Kevin merespon dengan tenang.

Satu langkah.

Dua langkah.

Lima langkah.

Sepuluh langkah.

Lalu Arka mulai menyadari sesuatu.

Lawan di depannya kuat.

Sangat kuat.

Tidak sekuat Naila.

Belum.

Tapi jauh lebih kuat dari yang ia bayangkan.

Kevin mungkin tidak masuk sepuluh besar nasional.

Namun pemahaman posisinya luar biasa.

Menit demi menit berlalu.

Posisi papan semakin rumit.

Kevin terus tersenyum.

Sementara Arka mulai berpikir serius.

"Kenapa kamu tersenyum terus?"

Kevin tertawa kecil.

"Hah?"

"Kita sedang bertanding."

"Iya."

"Lalu kenapa terlihat senang?"

Kevin memandang papan catur.

Karena baginya pertanyaan itu terdengar aneh.

"Lah memang aku senang."

"..."

"Aku suka main catur."

Jawaban sederhana.

Terlalu sederhana.

Namun untuk beberapa alasan...

Arka tidak tahu harus menjawab apa.

Dua puluh menit kemudian.

Kevin mulai terdesak.

Bentengnya hilang.

Posisinya memburuk.

Dan akhirnya...

"Checkmate."

Kevin menatap papan.

Diam beberapa detik.

Kemudian menghela napas panjang.

"Wah."

Arka menunggu.

"Mengagumkan."

"Hm?"

"Kamu benar-benar kuat."

Tidak ada kekesalan.

Tidak ada frustrasi.

Hanya kekaguman tulus.

Kevin mengulurkan tangan.

"Selamat."

Arka menjabatnya.

"Terima kasih."

Biasanya setelah menang.

Lawan akan menunjukkan berbagai ekspresi.

Kesal.

Kecewa.

Sedih.

Namun Kevin malah terlihat bahagia.

Aneh.

Sangat aneh.

Saat makan siang.

Arka kembali bertemu Kevin.

Dan sayangnya...

Kevin langsung duduk di sebelahnya.

"Yo."

"..."

"Kamu makan apa?"

"..."

"Kenapa diam?"

"Aku sedang makan."

"Oh."

Sepuluh detik berlalu.

Kevin kembali bicara.

"Arka."

"Apa?"

"Kamu menikmati catur nggak?"

Pertanyaan itu membuat Arka berhenti mengunyah.

Menikmati?

Apa maksudnya?

Bukankah tujuan bermain adalah menang?

Bukankah tujuan latihan adalah menjadi lebih kuat?

Menikmati?

Ia tidak pernah memikirkannya.

"Aku tidak tahu."

Kevin tampak terkejut.

"Kamu tidak tahu?"

"Aku ingin menjadi pemain terbaik."

"Itu bukan jawaban."

Arka terdiam.

Kevin meminum jusnya.

Kemudian tersenyum.

"Kalau suatu hari nanti kamu jadi pemain terbaik dunia..."

"Hm."

"Lalu apa?"

"..."

"Kamu akan berhenti bermain?"

Untuk pertama kalinya.

Arka tidak punya jawaban.


Sore hari.


Hasil sementara seleksi diumumkan.

Nama-nama peserta terpampang di layar besar.

Arka melihat namanya.

Naila juga ada.

Rian masih bertahan.

Dan sedikit di bawah mereka...

Kevin Wijaya.

"Syukurlah."

Rian menghela napas lega.

Naila hanya mengangguk pelan.

Sementara Kevin...

Kevin malah tersenyum lebar seperti baru memenangkan undian.

"Kamu senang sekali."

Arka akhirnya mengucapkan apa yang sejak pagi ingin ia tanyakan.

Kevin berkedip.

"Lah?"

"Kamu kalah."

"Iya."

"Tapi kamu tetap tersenyum."

Kevin berpikir sebentar.

Lalu menatap papan pengumuman.

"Aku cuma senang masih bisa main besok."

Arka terdiam.

Karena untuk pertama kalinya...

ia bertemu seseorang yang memainkan catur bukan untuk menang.

Melainkan karena ia benar-benar menyukainya.

End...

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!