Bab 3
Seleksi
Satu bulan kemudian.
Arka berdiri di depan gerbang sebuah gedung olahraga nasional.
Di tangannya terdapat surat pemanggilan seleksi.
Di dalam tasnya terdapat papan catur lipat yang sudah menemaninya selama lima tahun.
Dan di dalam dadanya...
Ada sedikit gugup.
Ia tidak suka mengakuinya.
Tapi ini berbeda.
Turnamen nasional adalah satu hal.
Namun tempat ini adalah gerbang menuju tim nasional junior.
Tempat berkumpulnya pemain-pemain terbaik dari seluruh negeri.
"Jadi orang hebat juga bisa gugup ya."
Arka menoleh.
Rian berdiri di sampingnya sambil tersenyum.
"Kamu ikut juga?"
"Tentu saja."
Rian mengangkat surat seleksinya.
"Aku memang tidak sekuat kamu, tapi aku masih masuk peringkat dua puluh besar."
Arka mengangguk.
"Bagus."
"Hanya 'bagus'?"
"Kamu maunya apa?"
"Sedikit semangat kek, sedikit."
"Semangat."
"Terlalu datar."
"Kalau begitu jangan lolos."
"OI!"
Untuk pertama kalinya pagi itu, Arka tersenyum tipis.
Mereka masuk ke dalam gedung.
Ruangan seleksi sudah dipenuhi peserta.
Sekitar lima puluh orang.
Mungkin lebih.
Ada yang sedang mempelajari notasi pertandingan.
Ada yang membuka laptop.
Ada yang berlatih pembukaan catur bersama pelatih pribadi.
Suasana tegang.
Arka memperhatikan sekeliling.
Banyak wajah asing.
Banyak nama yang pernah ia lihat di peringkat nasional.
Namun satu suara tiba-tiba menarik perhatiannya.
"Kamu Arka, kan?"
Seorang gadis berdiri di depannya.
Rambut hitam panjang diikat sederhana.
Sorot matanya tajam.
Arka mengangguk.
"Kamu siapa?"
"Aku Naila."
Nama itu terdengar familiar.
Lalu Arka ingat.
Peringkat tiga nasional.
Pemain yang terkenal karena gaya bermain defensif yang hampir mustahil ditembus.
Naila menyilangkan tangan.
"Aku pernah melihat pertandinganmu."
"Oh."
"Oh saja?"
"Mestinya bagaimana?"
Naila menghela napas.
"Kamu benar-benar sulit diajak bicara ya."
"Aku sering dengar itu."
Rian yang melihat percakapan mereka langsung mundur beberapa langkah.
"Aku tidak ikut campur."
"Kamu kenapa?" tanya Arka.
"Insting bertahan hidup."
"?"
Naila mengabaikan mereka.
"Aku cuma ingin bilang satu hal."
Arka menunggu.
Naila menatap lurus ke matanya.
"Aku ingin mengalahkanmu."
Sunyi.
Beberapa peserta di sekitar mereka ikut menoleh.
Rian langsung memegang kepalanya.
"Ah, mulai deh."
Namun yang mengejutkan...
Arka tidak tersinggung.
Sebaliknya.
Ia tersenyum.
Tipis.
Sangat tipis.
Tapi cukup untuk membuat Naila menyadarinya.
"Kenapa kamu tersenyum?"
"Karena aku juga ingin mengalahkanmu."
Untuk pertama kalinya sejak datang ke gedung itu...
Arka merasa bersemangat.
Bukan karena seleksi.
Bukan karena tim nasional.
Melainkan karena menemukan seseorang yang menantangnya secara langsung.
Saat itulah suara pelatih terdengar dari depan ruangan.
"Semua peserta, harap duduk."
Ruangan langsung tenang.
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun berdiri di depan.
Wajahnya tegas.
Tatapannya tajam.
Pelatih kepala tim nasional junior.
Coach Aditya.
"Saya tidak peduli dengan peringkat kalian."
Kalimat pertamanya langsung membuat ruangan membeku.
"Saya tidak peduli siapa juara nasional."
Beberapa peserta saling melirik.
"Saya juga tidak peduli siapa yang dianggap jenius."
Tatapan Coach Aditya berkeliling ruangan.
"Karena catur tim berbeda dengan catur individu."
Arka sedikit mengernyit.
Catur tim?
Coach Aditya melanjutkan.
"Sebagian besar dari kalian datang ke sini karena hasil turnamen nasional individu."
"Dan itu memang alasan kalian dipanggil."
Beberapa peserta mulai memperhatikan lebih serius.
"Tapi turnamen individu hanya menunjukkan seberapa kuat kalian sebagai pemain."
Pelatih menyilangkan tangan.
"Sementara di tingkat yang lebih tinggi, kalian tidak selalu bertanding sendirian."
Sebuah slide muncul di layar proyektor.
Logo Tim Nasional Junior Indonesia.
Di bawahnya tertulis:
PROGRAM PEMUSATAN LATIHAN NASIONAL
KEJUARAAN NASIONAL ANTAR TIM JUNIOR
Ruangan menjadi semakin sunyi.
"Kalian dipanggil ke sini untuk membentuk tim nasional junior."
"Target pertama kalian adalah Kejuaraan Nasional Antar Tim Junior."
"Di sana kalian akan menghadapi tim-tim terbaik dari seluruh Indonesia."
"Bukan sebagai individu."
"Tapi sebagai satu tim."
Beberapa peserta saling berpandangan.
Karena untuk pertama kalinya mereka benar-benar memahami tujuan seleksi ini.
"Kalian boleh menjadi pemain hebat."
"Tapi jika tidak bisa bekerja sebagai tim..."
Coach Aditya menatap mereka satu per satu.
"...kalian tidak akan bertahan lama di sini."
Kalimat itu terus terngiang di kepala Arka.
Karena sejujurnya...
Ia belum pernah memikirkan catur seperti itu.
Selama ini.
Papan.
Lawan.
Dan kemenangan.
Hanya itu yang ada dalam pikirannya.
Tim?
Ia tidak tahu.
Namun untuk pertama kalinya...
Arka mulai merasa bahwa dunia yang akan ia masuki mungkin jauh berbeda dari yang ia bayangkan.
End...
Kasih tip buat penulis