Bab 2

Talenta Muda



Lima tahun kemudian.

"Checkmate."

Suara jam catur berhenti.

Lawan di seberang meja menatap papan dengan wajah tidak percaya.

Beberapa detik lalu posisinya masih terlihat seimbang.

Namun sekarang rajanya terjebak.

Tidak ada jalan keluar.

"A-Aku menyerah."

Arka mengangguk pelan.

Lalu menjabat tangan lawannya.

"Pertandingan selesai!"

Tepuk tangan terdengar dari beberapa penonton.

Tidak terlalu ramai.

Tapi cukup untuk membuat lawannya semakin tertunduk.

"Juara kategori U-15 tahun ini adalah..."

Panitia melihat kertas di tangannya.

"...Arka Pratama!"

Tepuk tangan kembali terdengar.

Kali ini lebih meriah.

Namun Arka hanya berdiri dari kursinya.

Mengambil tas.

Lalu berjalan menuju pintu keluar.

"Oi! Tunggu!"

Seseorang memanggilnya dari belakang.

Arka bahkan tidak perlu menoleh.

Ia sudah tahu siapa itu.

Rian.

Seorang anak laki-laki dengan rambut sedikit berantakan berlari menghampirinya sambil membawa dua botol minuman.

"Kamu nggak mau foto juara dulu?"

"Nanti saja."

"Nanti saja, nanti saja. Kamu selalu bilang begitu."

Arka menerima minuman yang disodorkan.

"Terima kasih."

Rian mendesah.

"Kadang aku heran."

"Apa?"

"Kamu baru saja juara."

"Lalu?"

"Lalu kenapa mukamu seperti habis kalah?"

Arka terdiam.

Karena sebenarnya...

Ia memang tidak terlalu memikirkan trofi itu.

Yang memenuhi pikirannya justru pertandingan semifinal tadi.

Ada satu posisi yang belum bisa ia pecahkan.

Satu langkah yang terasa kurang efisien.

Satu kesempatan yang terlewat.

Rian melihat ekspresi sahabatnya lalu langsung mengerti.

"Kamu mikirin pertandingan lagi ya?"

"..."

"Kamu ini benar-benar aneh."

"Kenapa?"

"Kebanyakan orang senang karena menang."

Rian menunjuk kepala Arka.

"Sedangkan kamu malah sibuk memikirkan langkah yang salah."

Arka berpikir sejenak.

"Mungkin karena aku masih belum cukup kuat."

Rian langsung memegang dahinya.

"Tuh kan."

"Apa?"

"Tidak ada obatnya."

Untuk pertama kalinya hari itu, Arka tertawa kecil.

Mereka berjalan keluar gedung turnamen.

Di luar.

Langit sore mulai berubah jingga.

Beberapa peserta lain sedang berfoto bersama keluarga mereka.

Ada yang menang.

Ada yang kalah.

Ada yang menangis.

Ada yang tertawa.

Namun perhatian Arka tertarik pada satu papan pengumuman.

Daftar peringkat nasional junior.

Ia berjalan mendekat.

Matanya langsung menemukan namanya.

1. Arka Pratama

Tepat di posisi paling atas.

Lima tahun lalu, ia bahkan tidak tahu cara bermain dengan benar.

Sekarang.

Ia adalah pemain junior terbaik di negaranya.

Seharusnya ia bangga.

Tapi anehnya...

Perasaannya biasa saja.

Karena begitu melihat peringkat itu.

Yang muncul di kepalanya bukan rasa puas.

Melainkan pertanyaan:

"Lalu setelah ini?"

Nasional sudah tercapai.

Apa langkah berikutnya?

Saat itulah matanya menangkap sebuah poster di samping papan pengumuman.

PROGRAM PEMUSATAN LATIHAN NASIONAL

TIM JUNIOR INDONESIA

SELEKSI BULAN DEPAN

Arka berhenti membaca.

Tim nasional.

Level berikutnya.

Dunia yang lebih besar.

Lawan yang lebih kuat.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Rian yang berdiri di sampingnya ikut membaca poster itu.

Lalu tersenyum.

"Oh."

"Apa?"

"Matamu."

"Hah?"

"Kamu lagi bersemangat."

Arka mengalihkan pandangan.

"Tidak."

"Pembohong."

Rian tertawa.

Karena ia mengenal Arka lebih baik daripada siapa pun.

Ekspresi itu selalu muncul setiap kali Arka menemukan tantangan baru.

Ekspresi seorang anak yang melihat gunung lebih tinggi untuk didaki.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...

Arka merasakan sesuatu yang belum ia rasakan sejak kecil.

Kegembiraan.

Bukan karena menang.

Melainkan karena menyadari masih ada tempat untuk menjadi lebih baik.

Di kejauhan.

Poster tim nasional bergoyang pelan tertiup angin.

Dan tanpa Arka sadari.

Keputusan yang akan ia ambil bulan depan akan mengubah seluruh hidupnya.

End...


Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!