Bab 12
Jarak
Pukul lima pagi.
Suara alarm berbunyi di seluruh asrama.
"Hnggg..."
Kevin menarik selimutnya.
Lalu menutup kepala.
"Aku tidak mau jadi atlet lagi."
"Bangun."
Rian melempar bantal.
"Terlalu pagi."
"Ini jam lima."
"Itu maksudku."
Sementara itu.
Di luar asrama.
Arka sudah bangun sejak empat puluh menit lalu.
Seperti biasa.
Tidak ada yang berubah.
Udara pagi masih dingin.
Lapangan masih sepi.
Dan di tangannya terdapat buku catatan kecil.
Catatan pertandingan kemarin.
Kekalahannya melawan Farhan.
Ia membaca setiap langkah.
Setiap kesalahan.
Setiap keputusan.
Satu per satu.
Tidak ada rasa malu.
Tidak ada alasan.
Hanya fakta.
Ia kalah.
Dan ia ingin tahu kenapa.
"Sudah kuduga."
Suara itu muncul dari belakang.
Arka menoleh.
Naila.
Membawa botol air.
"Kamu di sini lagi."
"Kamu juga."
"Aku jogging."
"Lalu kenapa berhenti?"
Naila menatap buku catatan di tangan Arka.
"Karena aku tahu kamu pasti sedang menganalisis pertandingan kemarin."
Sunyi.
"Kamu menyeramkan."
"Itu pujian?"
"Tidak."
Untuk pertama kalinya pagi itu.
Mereka tertawa.
"Apa yang kamu lihat?"
Naila duduk di bangku sebelahnya.
Arka membuka catatan.
"Langkah dua puluh tiga."
"Hm?"
"Farhan mengorbankan pion."
Naila melihat posisi yang digambar Arka.
Kemudian matanya sedikit membesar.
"Oh."
"Kamu baru sadar?"
"Tidak."
Naila menunjuk posisi lain.
"Aku baru sadar ini."
Arka membeku.
Ada variasi lain.
Variasi yang bahkan belum ia lihat.
Sunyi.
Kemudian.
Arka tersenyum.
"Kamu hebat."
Naila langsung memalingkan wajah.
"..."
"Hm?"
"Tidak apa-apa."
Namun telinganya sedikit merah.
Untung Arka terlalu fokus pada papan untuk menyadarinya.
Latihan pagi dimulai.
Hari ini berbeda.
Coach Aditya membagi mereka ke dalam kelompok.
Latihan strategi tim.
Bukan pertandingan individu.
"Mulai sekarang."
Pelatih berdiri di depan papan besar.
"Kalian harus belajar satu hal."
Semua memperhatikan.
"Catur tim bukan tentang siapa yang paling kuat."
Tatapan Coach Aditya berkeliling ruangan.
"Melainkan bagaimana empat orang menjadi lebih kuat bersama."
Arka sedikit mengernyit.
Ia masih belum terbiasa dengan konsep itu.
Selama bertahun-tahun.
Ia bermain untuk dirinya sendiri.
Bukan untuk tim.
Sesi latihan berlangsung hampir tiga jam.
Dan hasilnya...
Berantakan.
Sangat berantakan.
"Kenapa kamu melakukan itu?!"
Kevin menunjuk papan.
"Itu langkah terbaik."
Jawab Arka.
"Iya buat kamu!"
"Lalu?"
"Kita satu tim!"
"Hm?"
"Kalau kamu menang tapi strategi tim hancur, kita tetap kalah!"
Sunyi.
Untuk pertama kalinya.
Arka tidak punya jawaban.
Sore hari.
Latihan selesai.
Semua pemain terlihat lelah.
Bahkan Kevin sudah rebahan di lantai.
"Aku mati."
"Kamu masih bicara."
"Itu refleks."
Rian tertawa.
Sementara Arka duduk diam.
Memikirkan sesuatu.
Ia teringat kata-kata Kevin tadi.
Dan juga kata-kata pelatih.
"Catur tim bukan tentang siapa yang paling kuat."
Kalimat itu terus terngiang.
Karena selama ini.
Ia selalu berpikir bahwa jika dirinya cukup kuat...
Maka semuanya akan baik-baik saja.
Namun sekarang.
Ia mulai menyadari sesuatu.
Mungkin...
Menjadi pemain terbaik bukan satu-satunya cara untuk menang.
Malam hari.
Sebelum tidur.
Arka kembali membuka catatannya.
Di halaman terakhir.
Ia menulis sesuatu.
Bukan target baru.
Bukan ranking baru.
Melainkan sebuah pertanyaan.
Bagaimana cara menjadi pemain yang dibutuhkan tim?
Ia menatap tulisan itu.
Lama.
Kemudian menutup buku.
Besok.
Ia akan mulai mencari jawabannya.
End...
Kasih tip buat penulis