Bab 11
Orang-Orang yang Lebih Kuat
Senin pagi.
Bus tim nasional melaju meninggalkan kota.
Di dalamnya terdapat dua belas pemain yang baru lolos seleksi.
Beberapa terlihat bersemangat.
Beberapa gugup.
Kevin sedang tidur.
Rian sedang mendengarkan musik.
Naila membaca buku.
Dan Arka...
Menganalisis partai catur.
Tentu saja.
"Aku sudah tidak terkejut lagi."
Rian melirik layar tablet Arka.
"Kamu bahkan latihan di bus."
"Perjalanan empat jam."
"Iya."
"Itu maksudku."
Kevin yang baru bangun ikut menoleh.
"Dia memang tidak punya obat."
"Aku dengar."
"Bagus."
Empat jam kemudian.
Mereka tiba.
Pusat Pelatihan Nasional.
Gedungnya jauh lebih besar daripada yang dibayangkan Arka.
Lapangan olahraga.
Asrama.
Ruang kelas.
Perpustakaan.
Dan sebuah gedung khusus.
Gedung Catur Nasional.
"Wow."
Bahkan Kevin terlihat terkesan.
Coach Aditya berdiri di depan mereka.
"Selamat datang."
Beberapa pemain langsung menegakkan badan.
"Mulai hari ini."
"Kalian akan tinggal di sini."
"Belajar di sini."
"Berlatih di sini."
"Dan mungkin menderita di sini."
Sunyi.
"..."
"..."
"..."
"Bagian terakhir bercanda kan?"
Kevin bertanya.
Coach Aditya tersenyum.
"Itu bukan bagian yang bercanda."
"OH TIDAK."
Satu jam kemudian.
Para pemain berkumpul di aula utama.
Di depan mereka terdapat layar besar.
Coach Aditya menyalakan proyektor.
Muncul foto-foto pemain catur dunia.
Grandmaster.
Juara dunia.
Legenda.
Arka langsung mengenali sebagian besar nama itu.
"Mulai sekarang."
Coach Aditya berbicara.
"Kalian tidak lagi bersaing di tingkat nasional."
Slide berikutnya muncul.
Turnamen Asia.
Turnamen Dunia.
Ranking internasional.
"Kalian akan menghadapi pemain dari seluruh dunia."
Tatapan para peserta mulai berubah serius.
Kemudian slide kembali berganti.
Kali ini muncul logo Pelatnas Junior.
Di bawahnya tertulis:
KEJUARAAN NASIONAL ANTAR TIM JUNIOR
Beberapa peserta langsung memperhatikannya.
"Target pertama kalian adalah turnamen ini."
Coach Aditya menunjuk layar.
"Kalian akan menghadapi tim-tim terbaik dari seluruh Indonesia."
"Bukan sebagai individu."
"Tapi sebagai satu tim."
Ruangan menjadi sunyi.
Karena untuk pertama kalinya.
Sebagian besar dari mereka benar-benar memahami tujuan pelatnas ini.
"Empat pemain utama nantinya akan mewakili tim Pelatnas Indonesia."
"Yang lain tetap menjadi bagian penting dari tim."
"Tidak ada yang datang ke sini sendirian."
Arka sedikit mengernyit.
Masih terasa asing.
Karena selama ini.
Catur selalu terasa seperti perjalanan seorang diri.
"Dan saya akan jujur."
Coach Aditya mematikan proyektor.
Lalu menatap mereka satu per satu.
"Saat ini..."
"Kalian belum cukup kuat."
Sunyi.
Sangat sunyi.
Beberapa pemain langsung menegang.
Termasuk Arka.
"Tapi aku pemain nomor satu nasional..."
Seseorang berbisik.
Coach Aditya mendengarnya.
"Lalu?"
Ruangan langsung membeku.
"Saya tidak peduli."
Tatapannya tajam.
"Nomor satu nasional hanyalah titik awal."
"Bukan tujuan."
Arka merasakan dadanya berdebar.
Karena jauh di dalam dirinya...
Ia tahu pelatih benar.
Masih ada dunia yang belum ia lihat.
Masih ada pemain yang lebih kuat.
Masih ada puncak yang lebih tinggi.
Dan entah kenapa.
Ia menyukai perasaan itu.
Sore hari.
Latihan pertama dimulai.
Para pemain dibagi menjadi beberapa meja.
Sesi simulasi pertandingan.
Arka duduk berhadapan dengan salah satu pemain senior tim nasional junior.
Namanya Farhan.
Peringkat internasional junior.
Pengalaman tiga tahun lebih banyak daripada Arka.
Pertandingan dimulai.
Sepuluh langkah.
Dua puluh langkah.
Tiga puluh langkah.
Arka fokus.
Sangat fokus.
Namun semakin lama.
Posisinya semakin sulit.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
Ia merasa tertinggal.
Bukan karena blunder.
Bukan karena gugup.
Melainkan karena lawannya melihat lebih banyak.
Jauh lebih banyak.
Satu jam kemudian.
"Checkmate."
Sunyi.
Pertandingan selesai.
Arka kalah.
Ia menatap papan.
Lama.
Sangat lama.
Perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan kembali muncul.
Kagum.
Frustrasi.
Dan sedikit kegembiraan.
Karena sekali lagi.
Ia menemukan sesuatu yang belum bisa ia lakukan.
Sesuatu yang bisa ia pelajari.
"Bagus."
Suara Coach Aditya terdengar dari belakang.
Arka menoleh.
"Aku kalah."
"Iya."
"Lalu kenapa bagus?"
Pelatih menyilangkan tangan.
Karena untuk pertama kalinya hari itu...
Arka terlihat hidup.
"Bukankah ini yang kamu cari?"
"Hm?"
"Orang yang lebih kuat darimu."
Sunyi.
Arka kembali melihat papan.
Kemudian tersenyum tipis.
Sangat tipis.
Tapi tulus.
"...iya."
Di kejauhan.
Naila sedang berlatih.
Rian sedang bertanding.
Kevin sedang panik karena waktu di jam caturnya hampir habis.
Dan untuk pertama kalinya sejak menjadi pemain nomor satu nasional...
Arka merasa menjadi murid lagi.
Dan itu terasa menyenangkan.
End...
Kasih tip buat penulis