Bab 10

Janji di Bawah Langit Malam



Hari terakhir liburan.

Besok mereka harus kembali.

Kembali ke latihan.

Kembali ke jadwal padat.

Kembali mengejar mimpi masing-masing.

Namun malam itu.

Tidak ada yang langsung masuk kamar.

Mereka berkumpul di pantai.

Angin malam terasa sejuk.

Ombak datang silih berganti.

Dan untuk pertama kalinya sejak bertemu.

Tidak ada yang membicarakan catur.

Setidaknya selama lima menit.

"Lalu?"

Kevin membuka pembicaraan.

"Apa target kalian?"

"Target?"

"Iya."

Rian berpikir sejenak.

"Lolos ke kejuaraan dunia."

"Bagus."

Kevin mengangguk.

"Naila?"

Gadis itu menatap laut.

"Menjadi pemain yang lebih baik."

Jawaban sederhana.

Namun Arka tidak terkejut.

Itu memang terdengar seperti Naila.

"Lalu kamu?"

Naila menunjuk ke arah kevin.

"Aku?"

"Iya."

Kevin tertawa kecil.

"Aku ingin tetap menikmati catur."

Sunyi.

Arka langsung tahu.

Jawaban itu sangat Kevin.

"Kalau kamu?"

Kini semua mata tertuju pada Arka.

Untuk beberapa detik.

Ia hanya melihat ombak.

Kemudian menjawab.

"Aku ingin menjadi pemain terbaik di dunia."

Sunyi.

Tidak ada yang tertawa.

Tidak ada yang mengejek.

Karena mereka tahu.

Arka serius.

Sangat serius.

Bahkan mungkin lebih serius daripada siapa pun di sini.

Kevin tersenyum.

"Memang kamu banget."

Rian mengangguk.

"Aku juga tidak terkejut."

Naila hanya memperhatikan wajah Arka.

Lama.

Seolah mencoba memahami sesuatu.

Malam semakin larut.

Percakapan mulai berpindah ke topik-topik lain.

Makanan.

Film.

Hal-hal biasa.

Namun Arka tidak terlalu ikut.

Karena pikirannya masih tertinggal pada pertanyaan Kevin tadi.

Target.

Tujuan.

Mimpi.

Sejak kecil jawabannya selalu sama.

Menjadi yang terbaik.

Menjadi nomor satu.

Menjadi juara dunia.

Namun entah kenapa.

Malam ini.

Untuk pertama kalinya.

Jawaban itu terasa sedikit berbeda.

"Nih."

Sesuatu mendarat di kepalanya.

Arka menoleh.

Kaleng minuman.

Naila.

Lagi.

"Kamu sering melakukan itu."

"Apa?"

"Memberi minuman tanpa bilang apa-apa."

"Itu masalah?"

"Tidak."

Naila duduk di sampingnya.

Beberapa saat.

Mereka hanya melihat laut.

Lalu Naila berkata.

"Aku rasa tujuanmu keren."

Arka berkedip.

"Hm?"

"Menjadi pemain terbaik dunia."

"..."

"Tapi."

Nah.

Ada kata itu lagi.

"Tapi?"

Naila menatap bintang-bintang.

"Jangan sampai kamu lupa menikmati perjalanan ke sana."

Sunyi.

Kalimat itu sederhana.

Sangat sederhana.

Namun entah kenapa.

Ia teringat Kevin.

Ia teringat pertandingan melawan Naila.

Ia teringat dirinya sendiri lima tahun lalu.

Saat pertama kali kalah.

Saat pertama kali merasa kagum pada permainan ini.

Bukan pada trofi.

Bukan pada gelar.

Melainkan pada permainan itu sendiri.

Malam semakin larut.

Satu per satu mereka kembali ke penginapan.

Kevin paling dulu.

Rian menyusul.

Naila berdiri.

Lalu berhenti.

"Arka."

"Hm?"

"Jangan kalah dulu sebelum kita main di dunia."

Untuk pertama kalinya.

Arka tertawa.

"Itu terdengar seperti tantangan."

"Mungkin."

Lalu Naila pergi.

Meninggalkan Arka sendirian.

Ia tetap duduk di sana.

Melihat laut.

Melihat bintang.

Dan memikirkan perjalanan panjang yang menunggunya.

End...

Gimana, suka gak dengan tulisan ini?

Wah makasih 5 bintangnya!

Kasih tip buat penulis

qris

Makasih banyak tip nya ya!