Bab 1
Dunia di Atas Enam Puluh Empat Kotak
Satu minggu setelah turnamen.
Arka kembali kalah.
"Checkmate."
Dua hari kemudian.
Dia kalah lagi.
"Kamu terlalu cepat menyerang."
Tiga hari setelahnya.
Kalah.
"Rajamu terlalu terbuka."
Empat hari.
Lima hari.
Enam hari.
Kalah.
Kalah.
Kalah.
"Kenapa sih?!"
Arka menjatuhkan bidaknya ke meja.
Pelatih sekolah dasar tempatnya berlatih hanya menghela napas.
"Kamu marah karena kalah?"
"Tentu saja!"
"Bagus."
Arka berkedip.
"Hah?"
Pelatih itu mengambil pion putih dan meletakkannya di tengah papan.
"Anak-anak yang berhenti berkembang biasanya bukan yang kalah."
"Lalu?"
"Yang menang terlalu sering."
Arka tidak mengerti.
Bukankah menang itu tujuan bermain?
Pelatih melanjutkan.
"Orang yang menang terus merasa dirinya sudah cukup kuat."
"Tapi orang yang kalah..."
Pria itu mengetuk papan catur.
"...selalu dipaksa melihat apa yang belum bisa ia lakukan."
Arka menunduk.
Ia teringat langkah terakhir di turnamen minggu lalu.
Langkah yang tidak pernah terpikirkan olehnya.
Langkah yang masih terus menghantuinya hingga sekarang.
"Ayo lagi."
Hari itu Arka pulang paling akhir.
Seperti biasa.
Matahari mulai tenggelam saat ia keluar dari ruang klub.
Tas sekolah menggantung di bahunya.
Sementara sebuah papan catur lipat berada di tangannya.
"Kamu bawa lagi?"
Ibunya yang menjemput tertawa kecil.
Arka mengangguk.
"Memangnya mau dipakai di rumah?"
"Iya."
"Besok juga latihan."
"Iya."
"Arka."
"Apa?"
"Kamu kecanduan ya?"
Anak itu berpikir sejenak.
Kemudian menjawab dengan sangat serius.
"Mungkin."
Ibunya tertawa.
Sementara Arka kembali melihat papan catur di tangannya.
Belakangan ini ada satu hal yang terus mengganggunya.
Bukan kekalahan.
Bukan trofi.
Bukan turnamen.
Melainkan pertanyaan sederhana.
"Apa lagi yang belum aku tahu?"
Semakin banyak ia belajar.
Semakin ia sadar betapa luas dunia catur.
Ada pembukaan.
Ada strategi.
Ada pengorbanan bidak.
Ada perangkap.
Ada akhir permainan.
Ada ribuan pola yang bahkan belum pernah ia lihat.
Dan setiap kali menemukan sesuatu yang baru...
Dadanya selalu berdebar.
Seolah-olah ada dunia lain yang menunggunya.
Malam itu.
Setelah makan malam.
Setelah mengerjakan PR.
Setelah semua orang tidur.
Lampu kamar Arka masih menyala.
Di atas meja belajar.
Puluhan bidak catur tersusun rapi.
Ia sedang mencoba mengulang pertandingan final minggu lalu.
Langkah demi langkah.
Satu per satu.
Putih bergerak.
Hitam membalas.
Putih menyerang.
Hitam bertahan.
Sampai akhirnya...
Ia menemukan langkah itu lagi.
Langkah yang membuatnya kalah.
Arka membeku.
"Oh..."
Untuk pertama kalinya.
Ia benar-benar memahami kenapa langkah itu kuat.
Bukan karena lawannya beruntung.
Bukan karena dirinya ceroboh.
Melainkan karena lawannya melihat sesuatu yang tidak bisa ia lihat.
Dan entah kenapa...
Alih-alih kesal.
Arka justru tersenyum.
"Hebat..."
Kata itu keluar begitu saja.
Kemudian ia mengambil buku catatan.
Dan menulis sebuah kalimat.
Target.
Menjadi pemain catur terkuat di Indonesia.
Ia menatap tulisan itu.
Lama.
Lalu menambahkan satu kalimat lagi di bawahnya.
Aku akan menjadi lebih baik setiap hari.
End...
Kasih tip buat penulis