Bocah Itu Agus
Pendosa Yang Berdoa
Sebagaimana malam biasanya setelah pulang kerja, Pak Nurdin senang menyempatkan waktu untuk singgah ke kedai kopi langganannya. Kebetulan letak kedai tersebut tak terlalu jauh jaraknya dari rumah dan kantor, makanya Pak Nurdin pun dapat berjalan kaku usai menikmati secangkir kopi hitam, ditemani permainan catur di gawainya.
Namun, malam itu justru berbeda. Ada sejam lamanya, sejak batang kedua kreteknya menyala, perhatian Pak Nurdin belum lagi lepas dari bocah itu. Entah sudah berapa meja pengunjung yang disinggahi bocah itu untuk dimintai uang. Terdorong oleh rasa penasaran, Pak Nurdin pun mengajak bocah itu berbincang sebentar saat gilirannya tiba.
"Namanya siapa, Adik?"
Jawab bocah itu, "Agus".
"Agus umur berapa?"
Diacungkannya lima jemari dekilnya sebagai balasan. Setelah Pak Nurdin mengamati lebih saksama sosok tersebut, didapatinya bekas luka pada ujung bibir atas pada bagian pipi kiri bocah itu.
"Itu bibir Agus kenapa bisa luka?" Tanya Pak Nurdin sambil menunjuk letak luka bocah itu.
Terkejut mendengar jawaban bocah itu, Pak Nurdin kembali mengulangi pertanyaan yang sama.
"Agus dipukul mama." Begitu ucap lirih yang Pak Nurdin dengan juga sebelumnya dari bocah itu.
"Kenapa bisa Agus dipukul mama?" Selidik Pak Nurdin.
"Mama tidak punya uang."
Sekitar tiga kali Pak Nurdin menanyai hal yang sama untuk memastikan bocah itu sedang tidak berbohong.
"Kalau di rumah Agus nakal?"
"Tidak" Jawab bocah itu dengan suara yang mulai parau.
"Agus tinggal dengan siapa di rumah?"
"Sama mama dan kakak."
"Kalau bapak, ada?"
Pak Nurdin terdiam sejenak untuk mencerna jawaban sekaligus pertanyaan dari bocah itu yang mengatakan, "Apa itu bapak?"
"Agus disuruh mama cari uang." Lanjut bocah itu.
"Siapa yang suruh Agus cari uang?"
"Mama"
"Apa jadinya kalau Agus tidak dapat uang?"
Bocah itu mengarahkan kepalan mungilnya ke arah pipinya.
"Agus dipuku mama seperti itu?"
"Sama kakak juga." Tambah bocah itu.
"Kakak?"
"Iya"
Lima belas menit berlalu, bocah itu pun pergi berjingkrak-jingkrak dari meja Pak Nurdin dengan lemaran uang di genggamannya. Hanya ada satu harapan Pak Nurdin: Semoga bukan pipi kanannya lagi yang dipukul kali ini, baik itu oleh kakak maupun mama bocah itu.
Kasih tip buat penulis