Bab 1
AKU BERASAL DARI KELUARGA YANG TIDAK UTUH
Pernikahan adalah hal yang aku impikan sebagai tempat pulang setelah Ibuku memutuskan untuk menikah setelah kepergian ayah.bayangkan aku anak perempuan ke- 3 dari 9 bersaudara ditinggal ayah wafat di kelas 3 SMA.Setelah lulus langsung aku dipaksa keadaan untuk bekerja di luarpulau dan diluarnegeri sebagai TKW demi bisa menyekolahkan adik perempuanku,menafkahi ibuku agar ibu tidak kekurangan apapun.Setelah 3 tahun aku bekerja di luarpulau dan luarnegeri dan selama itu pula aku mengirim hasil kerjaku untuk ibu dan adiku.Kakak-kakak ku sibuk dengan rumah tangganya masing-masing dan hanya mengarahkanku untuk menafkahi adik dan ibuku dengan dalih birrul walidain di atas segalanya.Hingga tiba saat aku pulang dari luar negeri ibuku pamit menikah lagi dengan laki-laki yang dikenalnya di forum MTA , yang katanya sholih dan bisa jadi teman mengaji ibu,dan ibu ingin fokus akhirat karna sudah tua.Saat itu aku sangat shock dengan keputusan ibu yang mendadak.untungnya adiku sudah lulus SMA, dan mulai keluar dari rumah untuk bekerja sehingga aku tidak lagi khawatir,aku kasian sekali dngan adiku yang 18 tahun harus sudah pisah dengan ibu kandungnya.
Namun ternyata aku lebih kasian karna pulang kerja tak punya tempat pulang.Satu hari setelah ibuku nikah , tiba - tiba pagi hari ayah tiri sms "nak ini nomer ayah, kalo mau kirim mama kesini saja ,ini no rek ayah XXX-XXX".Betapa hancurnya hati aku sebagai anak perempuan yang telah berusaha ikhlas ibu menikah lagi agar bisa beribadah bersama,ada teman pergi.aku dan adiku rela nangis tiap malam saat rindu ibu. Dan semakin waktu semakin tau sifat asli ayah tiri yang hanya ingin menumpang hidup pada ibuku yang dinafkahi oleh anak-anak ibuku.Adiku pergi kejakarta merantau,dan aku tidak punya tempat pulang,dan aku berkeinginan menikah saja biar punya tempat pulang.Dan aku berkata dalam hati, jika saja ada laki-laki yang sudi melamarku, siapapun aku mau.Asalkan dia menerima aku apa adanya ,aku yang tak punya apa-apa di masa gadisku , karena sebelumnya aku ini memang tulang punggung.
Awal babak hidup baru tanpa ayah tanpa ibu,LDR dengan adik satu-satunya, kakak-kakak sudah mnikah dan fokus dengan rumah tangganya masing-masing.Ini sangat berat buat aku,dan aku perlu waktu lama untuk mendamaikan hati dan pikiranku sendiri agar dapat menerima kanyataan dengan lapang dada.Hingga sampai saat aku mulai tenang, dari yang sebelumnya aku mau beli pelembab dengan hasil kerja sendiri aja sayang banget karena ingat ada ibu dan adik yang butuh uangku dan sangat perlu aku bahagiakan,tiba-tiba jadi berani beli apapun pake hasil uang kerjaku sendiri.Aku mulai berpikir aku juga berhak membahagiakan diriku sendiri.Aku mulai bisa menikmati hari-hari dengan senyum tipis. Perlahan berlatih egois untuk tidak lagi hanya memikirkan kebahagiakan ibu saja.Mulai saat itu aku perlahan memikirkan masa depanku sendri.Salah satunya ialah ingin memiliki pasangan hidup sesegera mungkin.
Bersambung.....
Kasih tip buat penulis
