Chapter 10
Hujan baru saja reda. Udara di luar masih menyisakan aroma tanah basah yang samar-samar masuk lewat jendela yang setengah terbuka. Lampu meja di flat Rian menyala lembut, memberikan cahaya keemasan yang menenangkan, memantulkan bayangan tipis di dinding.
Rian duduk di sofa, bersandar dengan bahu sedikit lunglai. Perjalanan dari gudang tadi masih membekas di tubuhnya—bukan karena lelah fisik semata, tapi karena adrenalin yang belum sepenuhnya surut. Dia menatap Dinda yang berdiri di dekat dapur, menuangkan air panas ke dua cangkir. Gerakan wanita itu lambat, hati-hati, seolah setiap tetes air yang jatuh punya makna.
