PROLOG
Di publikasikan 15 Jan 2026 oleh Delia MawarHari menjelang sore, Natiqa yang masih bergulet manja di kasur, tertawa melihat ponselnya, sore ini Natiqa menghabiskan sisa harinya dengan bergelut di kasurnya. Handphonenya berdering, balasan dari sepupunya membuat Natiqa terdiam dengan perasaan sedikit hampa. Kalisha Gak dong Wkwkwk Anda Kali aja Wkwkw Chat itu sudah ada 2 jam yang lalu, tapi baru dibalas sekarang, positif thinking aja, mungkin lagi sibuk mempersiapkan diri buat acara bazar. Natiqa tersentak karena di panggil oleh ibunya dengan suara yang sangat nyaring, dengan sigap Natiqa bangun lalu turun ke bawah. “IYA BUN!” balas Natiqa, Anita, Ibunda Natiqa, menatap putrinya dengan berkacak pinggang, lalu mengulurkan tangannya. “Hpnya udahan, hp aja terus, tadikan bunda udah minta tolong untuk nguciin piring, kenapa hanya piring kaca yang di bersihin?!” ucap Anita agak ngegas, Natiqa memasang cengir lalu meminta maaf, Anita menatap sinis lalu mengambil hp putrinya lalu bermain bersama adik Natiqa, Naim. Natiqa langsung ke dapur, mencuci lalu membereskan cucian yang sudah bersih, sambil bersenandung Natiqa membereskan mainan adiknya, lalu mengambil handuk untuk mandi. “Bun, kalau lagi mens boleh keramas gak sih?” tanya Natiqa, Anita yang sedang bermain dengan Naim, menoleh lalu terdiam sambil dahinya mengerut. “Kayaknya sih boleh, tapi gak tahu deh, coba tanya papa nanti” jawab Anita, Natiqa mengangguk lalu masuk ke kamar mandi, padahal rencananya hari ini dia ingin membersihkan dirinya dengan keramas, tapi baru ingat kalau hari ini dia lagi kedatangan tamu bulanan. Setelah melakukan ritual mandi, Natiqa menaruh handuk lalu masuk ke kamar ibunya, “ bun, nanti tolongin pesen novel aku ya bun!” ucap Natiqa, Anita menatap sambil berdecak, “ iya, insyaallah!” balas Anita, Natiqa bersorak lalu naik ke atas. Setelah berganti baju, Natiqa menatap kumpulan buku novelnya, tak sengaja setelah menaruh baju yang tidak jadi dia pakai, matanya tertuju pada satu cardigan warna biru. Natiqa terdiam, cardigan biru ini, sama dengan cardigan yang selalu di pakai dia dan 2 sepupunya. Mereka membelinya kembar, dulu, mereka selalu menelfon bersama setiap malam minggu. Natiqa menghela napas, entah mengapa dia merindukan sepupunya yang tinggal jauh di maluku, padahal sebelum semua berantakan, dia dan sepupunya selalu menghabiskan waktu dengan cerita. Natiqa tahu ini hanya perasaan dan prasangka buruknya, tapi sejak semua itu, sepupunya perlahan mulai menjauh darinya, Natiqa hanya berpikir positif, kaau sepupunya punya kesibukan sendiri. Entah mengapa mengingat kejadian itu, Natiqa jadi kesal, kesal setengah mati, apalagi mendengar kemaren orang yang telah mengadu domba dirinya dan keluarga besarnya, menelfon ibunya dengan tenang tanpa adanya rasa bersalah. Kekesalan Natiqa semakin memenuhi dadanya, ternyata selain mengadu domba, orang itu juga mau menguasai posisinya yang merupakan anak yang hanya dianggap di keluarganya ini. Natiqa menghela napas, harusnya dia tak meresakan kekesalan sedalam ini, tapi dia rasa ini sudah keterlaluan, dia sudah lama tidak mengabari omanya. Natiqa ingin sekali mengabari omanya, tapi karena kejadian itu, dia tak ingin oma-nya menanyakan hal itu pada dirinya, dia tak siap di beri pertanyaan yang menyakitkan dari keluarga besarnya, dia hanya ingin menceritakan hari-harinya dengan oma yang sangat dia sayangi. “Andai kejadian itu gak ada, lagi itu orang siapa sih? udah tahu bukan kandung, gak tahu diri, gak ingat apa, 6 tahun hidup di jogja, malah ngadu domba kayak gini!” gumam Natiqa dongkol, dengan perasaan kesal, Natiqa turun ke bawah, mengambil nasi dan menyiapkan makannya, melihat sayur di meja, bayangannya ke ingat status WA tantenya, dimana dia memajang status tentang mereka yang berlibur ke pantai. Natiqa menghela napas, kenapa dia jadi memikirkan tentang keluarganya yang ada di maluku, apa karena dia terlalu merindukan keluarganya di maluku? Apa karena dia merindukan sepupunya yang begitu dia sayangi?. Natiqa tak ingin membuang waktu, dengan cepat dia menuju kamar ibunya dan menanyakan dimana letak telur berada, “ bun! Telur di sebelah mana ya?” tanya Natiqa, Anita menjawab, “ Di bawah, dekat panci! Kamu tolong sekalian nge-plok telur buat bunda dan adek!” balas Anita, Natiqa meng-iyakan, Natiqa memasak sambil menahan kesal, entah mengapa dia yakin, malam ini sepupunya bakal menelfon bareng, dan lagi-lagi, dia tak di ajak. “Kamu kenapa sih? apa karena ini bawaan haid? Jadinya pengen marah? Udah sabar, kamu udah hebat bertahan sampai sekarang” gumam Natiqa Benar, Natiqa sudah sangat hebat karena mau bertahan sampai saat ini ~~~~~~~~~~~~~ Assalamualaikum! YUHUU~ Kangen? udah tepati janjikan? Bukan tanggal 16 gess~ tapi tangga 15, soalnya besok isra miraj, mari menghargai Ini baru prolog, kemungkinan hari sabtu bakal masuk chapter satunya... Stay tune yaw babe! HAPPY READING~ ig: Delia Mawar @delliaaac Wattpad : Delia Mawar @delliaaac Bye!
Tears Drop (Air Mata Sedih, Ketawa dan Bahagia)