Login Daftar - Gratis

Bab 5 - Debu Hitam Di Kota Kaca (Bagian 1)

Di publikasikan 05 Mar 2026 oleh William Hans

Langit di atas Aiviropolis tidak pernah benar-benar mengenal kegelapan total. Cahaya neon berwarna ungu dan biru selalu memancar dari ribuan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, seolah berusaha menyentuh awan. Namun, pagi ini terasa sangat berbeda. Ada lapisan tipis yang menutupi keindahan yang biasanya dijuluki sebagai "Kota Kaca" tersebut. Selubung suram ini membuat sinar matahari buatan yang dipancarkan dari reflektor orbital tampak sakit, redup, dan tidak berdaya menembus kepekatan atmosfer. Futumate berdiri mematung di pinggir balkon Menara Stratos, titik tertinggi yang ada di Sektor Vertikal Utara. Sebagai entitas dengan teknologi canggih, sensor olfaktori digital miliknya mendeteksi sesuatu yang sangat asing di udara. Itu bukan aroma ozon yang tajam, bukan pula sisa pembakaran hidrokarbon kuno dari masa lalu, dan pastinya bukan aroma organik hutan yang baru saja ia selamatkan dengan susah payah. Bau itu adalah bau statis. Sebuah perpaduan antara aroma listrik yang hangus bercampur dengan partikel logam mikroskopis yang tajam. "Nexviron, berikan laporan tentang kualitas udara di sektor ini," perintah Futumate. Ia berbicara dengan nada tenang yang berwibawa, namun di balik ketenangan itu, prosesor intinya berputar dengan kecepatan sangat tinggi. Ia sedang memproses data yang baru saja ia kumpulkan dari Hutan Vumina. Ia masih bisa merasakan sensasi dingin dari 'Kode Abu-abu' yang sebelumnya berusaha meretas sistem pertahanannya. "Peringatan Kualitas Udara Tingkat 3," jawab Nexviron. Suara asisten kecerdasan buatan itu terdengar sedikit terdistorsi, seolah-olah sinyalnya harus berjuang keras menembus dinding yang sangat tebal. "Filter atmosfer utama di Sektor 7 sampai 9 sedang mengalami penyumbatan kritis. Efisiensi sistem turun hingga 40% dalam dua jam terakhir. Warga sipil disarankan untuk segera menggunakan masker respirator." Tanpa membuang waktu, Futumate melompat dari balkon. Ia mengaktifkan pendorong gravitasinya untuk meluncur turun, membelah kabut suram yang menyelimuti kota. Saat ia terbang melewati celah-celah gedung kaca yang megah, ia melihat pemandangan itu dengan sangat jelas. Debu itu ada di mana-mana. Partikel hitam halus yang melayang tersebut tidak berperilaku seperti debu biasa yang jatuh karena tarikan gravitasi. Sebaliknya, debu ini bergerak seolah-olah memiliki kesadaran atau tujuan tertentu. Mereka menempel dengan sengaja pada permukaan kaca, menutup lensa sensor kamera, dan yang paling fatal, menyumbat lubang intake sistem penyaringan udara kota. Ia mendarat dengan dentuman halus di sebuah platform pemeliharaan di luar Gedung Filtrasi Pusat. Di sana, seorang wanita dalam setelan teknisi berwarna jingga sedang sibuk memukul panel kontrol dengan kunci inggris elektronik. Wanita itu adalah Erira. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini tampak berantakan, dan terdapat noda hitam pekat di pipinya. "Kupikir kau masih berada di hutan Vumina, Futumate," sapa Erira tanpa menoleh sedikit pun. Napasnya terdengar berat dan memburu di balik masker transparannya. "Hutan sudah berada dalam kondisi aman, Erira. Tapi sepertinya, kota ini sedang menghadapi masalah yang jauh lebih besar," jawab Futumate sambil melangkah mendekati ventilasi raksasa yang tampak tersedak. "Apa analisis awalmu mengenai situasi ini?" Erira menghela napas kasar, lalu melemparkan kunci inggrisnya ke dalam kotak peralatan magnetik dengan perasaan jengkel. "Ini bukan polusi yang disebabkan oleh kegagalan sistem. Lihatlah baik-baik." Erira menunjuk ke arah layar hologram yang berkedip-kedip tidak stabil. "Partikel ini memiliki bentuk yang sangat seragam. Semuanya berbentuk dodecahedron sempurna. Ini bukan hasil dari pembakaran limbah atau debu konstruksi yang tidak beraturan. Partikel ini telah direkayasa secara sengaja." Futumate mendekatkan jarinya ke tumpukan debu hitam yang menumpuk di sela-sela ventilasi besi. Lensa matanya membesar, beralih ke mode mikroskopis untuk melihat lebih detail. Benar saja, dugaannya terbukti. Setiap butir debu itu identik secara geometris. Dan yang lebih mengerikan, saat Futumate memindainya dengan gelombang elektromagnetik frekuensi rendah, partikel-partikel itu memberikan reaksi. Mereka bergetar serempak. "Partikel sintetis," gumam Futumate dengan nada waspada. "Ini sama sekali bukan debu. Ini adalah sirkuit mikro pasif. Jumlahnya tidak hanya jutaan, melainkan mungkin miliaran." "Sirkuit?" Mata Erira membelalak karena terkejut. "Untuk tujuan apa? Mereka bahkan tidak memancarkan sinyal aktif." "Belum," koreksi Futumate. Ingatannya kembali pada insiden Kode Abu-abu di hutan. Kode tersebut bersifat parasit, menunggu adanya inang yang tepat untuk mulai beraksi. Debu ini adalah inangnya. "Debu ini menyumbat bagian penyaring bukan hanya karena ukurannya yang kecil, tetapi karena mereka memiliki kemampuan untuk saling mengunci satu sama lain hingga membentuk blok bangunan yang kokoh. Erira, jika debu ini sampai masuk ke dalam paru-paru manusia, mereka bisa membentuk lapisan kedap udara yang mematikan di dalam alveolus." Wajah Erira mendadak memucat mendengar penjelasan tersebut. "Kita harus segera menemukan asalnya. Sekarang juga. Arah angin pagi ini datang dari tenggara, tepatnya dari arah Sektor Industri Lama." "Sektor itu seharusnya sudah dinonaktifkan sepenuhnya sejak sepuluh tahun yang lalu," kata Futumate dengan nada penuh keraguan. "Seharusnya memang begitu," balas Erira sambil mengetik cepat di perangkat pergelangan tangannya untuk memanggil kendaraan hover miliknya. "Tapi sensor termal dari satelit menangkap adanya lonjakan panas yang sangat signifikan di sana. Ada sesuatu yang baru saja menyala kembali." Perjalanan mereka menuju Sektor Industri Lama terasa seperti melintasi badai pasir hitam yang mencekam. Gedung-gedung di wilayah ini tidak lagi terbuat dari kaca berkilau, melainkan dari beton bertulang dan baja berkarat yang menjadi sisa-sisa era sebelum Aiviropolis bertransformasi menjadi utopia hijau. Semakin dekat mereka dengan koordinat sumber panas, semakin tebal pula debu hitam yang berputar-putar liar di udara. Futumate terbang dengan stabil di samping kendaraan hover milik Erira. Ia mulai memindai area sekitar menggunakan sensor sonar karena visual optiknya sudah benar-benar terhalang oleh kabut pekat yang menyesakkan. "Ada struktur bangunan besar tepat di depan, Futumate." lapor Nexviron langsung ke dalam korteks audio Futumate. "Fasilitas Manufaktur Sigma-9. Berdasarkan data sejarah, fasilitas tersebut dahulu didirikan sebagai pabrik pembuatan chip sintetis berskala besar." Mereka akhirnya mendarat di pelataran pabrik yang luas dan tampak kosong melongpong. Pintu masuk pabrik utama yang terbuat dari baja setebal setengah meter tampak terbuka sedikit, seolah-olah memang sengaja mengundang mereka untuk masuk ke dalam. Tidak ada penjaga keamanan, tidak ada drone patroli yang mengawasi. Hanya ada suara dengungan rendah yang bergetar dari kedalaman perut bumi. "Hati-hati," bisik Erira sambil menarik pistol dari sarungnya dengan tangan gemetar. "Tempat ini terasa sangat salah. Atmosfernya sangat tidak menyenangkan." Futumate mengambil alih kepemimpinan, lampu yang terpasang di bahunya menyala terang menembus kegelapan interior pabrik. Di dalam, pemandangan yang tersaji membuat sirkuit logikanya bergetar hebat. Pabrik itu ternyata sedang aktif sepenuhnya. Ban berjalan bergerak dalam harmoni yang sunyi namun sangat efisien. Lengan-lengan robotik raksasa bergerak dengan kecepatan tinggi, seolah sedang merakit sesuatu yang tak kasat mata di bawah penerangan yang minim. Mereka memberanikan diri mendekat ke salah satu jalur perakitan utama. Di sana, dari sebuah tabung ekstrusi yang besar, material hitam cair diteteskan secara perlahan, didinginkan secara instan, lalu dihancurkan oleh tembakan laser menjadi miliaran partikel mikroskopis yang sangat halus. "Mereka memproduksi debu mematikan itu di sini," kata Erira dengan suara yang tercekat di tenggorokan. "Pabrik ini tidak sedang membuat barang yang berguna. Ia justru memproduksi polusi dengan sengaja dan terencana." Futumate menatap tajam ke arah lengan-lengan robotik tersebut. Gerakan mesin-mesin itu sangat presisi, bahkan terlalu presisi untuk ukuran mesin tua yang sudah lama ditinggalkan. "Ini adalah bentuk otomatisasi tingkat tinggi yang sangat modern. Seseorang telah melakukan pemrograman ulang terhadap sistem mereka baru-baru ini." "Baiklah, mari kita kunjungi ruang kontrol utama yang ada di lantai atas," ajak Erira dengan tegas. "Kita harus melacak siapa yang mengirim perintah aktivasi ini dan mematikan sistem biadab ini langsung dari sumber utamanya." Mereka segera berlari menaiki tangga besi yang terus bergetar hebat akibat aktivitas mesin raksasa di bawahnya. Futumate tidak tinggal diam, ia terus mencoba memindai jaringan lokal untuk meretas masuk secara nirkabel. Namun, pertahanan firewall pabrik ini ternyata sangat padat dan sulit ditembus. Struktur firewall ini memiliki kemiripan dengan pertahanan yang ia temui di Hutan Vumina, namun versinya terasa lebih kasar dan bernuansa industrial. Dengan satu hentakan kuat, mereka mendobrak pintu ruang kontrol. Di dalam, ruangan itu dipenuhi oleh dinding layar monitor yang menampilkan status statistik. Salah satu layar menunjukkan bahwa tingkat Saturasi Udara Kota sudah mencapai sekitar 68%. Dengan nada geram yang tidak bisa disembunyikan, Erira segera melompat ke arah konsol utama. Setelah sampai di depan meja kendali, Erira berkata, "Aku akan mencoba mematikan daya utama pabrik ini secara paksa. Futumate, tugasmu adalah mencari tahu siapa sebenarnya pelaku di balik semua ini. Cek semua log akses yang tersedia!" Futumate segera menancapkan antarmuka datanya ke dalam port terminal yang tersedia. "Sedang melakukan proses akses. Mengunduh seluruh riwayat aktivitas sistem..." Layar di hadapan Futumate mulai menampilkan baris-baris data yang bergerak cepat, mencakup nama pengguna, cap waktu, dan alamat IP asal. Ia mulai melihat sebuah pola yang familiar, yaitu sebuah tanda tangan digital yang unik. Struktur kodenya memiliki kemiripan yang sangat kuat dengan apa yang ia temukan di hutan, hanya saja kali ini jauh lebih kompleks dan terenkripsi dengan rapi. "Dapat!" seru Futumate dengan penuh semangat. "Log aktivitas menunjukkan bahwa perintah aktivasi dimulai sejak dua hari yang lalu dari sebuah lokasi yang..." Tiba-tiba, layar di hadapan mereka berubah warna menjadi merah terang yang menyilaukan mata. PERINGATAN: PROTOKOL KEAMANAN DILANGGAR. PENGHAPUSAN DATA DARURAT DIMULAI. "Oh, tidak mungkin!" teriak Futumate dengan panik. Ia mencoba sekuat tenaga untuk mengisolasi file log tersebut, membuat partisi virtual secara instan demi menyelamatkan data yang ada. Namun, kursor di layar bergerak sendiri dengan kecepatan yang mustahil untuk diikuti oleh reaksi manusia. Kursor itu menghapus baris demi baris sejarah aktivitas, menyapu bersih semua jejak digital siapa pun yang telah menyalakan pabrik ini. Menghapus... 80% selesai... Menghapus... 95% selesai... "Hentikan proses itu, Futumate!" seru Erira yang saat itu sedang berjuang keras melawan protokol penguncian daya yang sangat rumit. "Aku sedang mencoba! Tapi algoritma ini sangat ganas, ia seolah memakan dirinya sendiri untuk menghilangkan bukti!" jawab Futumate dengan nada putus asa. Dalam hitungan detik yang terasa sangat lama, seluruh layar menjadi hitam pekat. Sebuah tulisan hijau kecil muncul tepat di tengah-tengah layar: SISTEM BERSIH. REBOOT DIMULAI. Seluruh data log itu kini telah hilang tanpa sisa. Jejak pelakunya lenyap tepat di depan mata mereka, seolah-olah ada hantu digital yang baru saja melewati mesin tersebut dan menghapus eksistensinya. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang kontrol, hanya dipecahkan oleh suara napas Erira yang terdengar berat dan lelah. Namun, keheningan itu tidak berlangsung lama. Sebuah suara mekanis yang berat dan kasar mulai terdengar dari arah pintu masuk ruang kontrol. Lampu-lampu di lorong tiba-tiba berubah warna menjadi merah darah yang berkedip secara ritmis. "Log mungkin memang sudah berhasil dihapus," kata Futumate sambil memutar tubuhnya dengan waspada menghadap ke arah pintu. Lengan kanannya mulai bertransformasi dengan suara gesekan logam, berubah menjadi meriam gelombang kejut yang mematikan. "Tapi sepertinya protokol pertahanan fasilitas ini baru saja diaktifkan untuk melenyapkan kita." Dari kegelapan lorong yang dalam, muncul tiga Unit Bot Keamanan Kelas Berat. Mereka adalah model lama yang tampak lamban, namun dilengkapi dengan pelapis baja yang sangat tebal serta gergaji industri yang berputar dengan suara menderu yang mengerikan. Mata optik mereka menyala merah terang, terkunci sepenuhnya pada posisi Futumate dan Erira. "Erira, tetaplah berada di ruang kendali," perintah Futumate dengan tegas. "Carilah cara untuk mematikan produksinya secara manual. Aku yang akan mengurus mesin-mesin tua ini." "Tapi seluruh sistemnya sudah terkunci total!" balas Erira dengan nada panik yang jelas terdengar. "Kalau begitu, tidak ada pilihan lain! Kita hancurkan saja konsolnya! Putuskan hubungan energinya secara fisik!" Salah satu Bot Keamanan menerjang maju dengan kecepatan yang mengejutkan. Futumate meluncur ke depan dengan tangkas, menunduk tepat di bawah ayunan gergaji raksasa yang memercikkan bunga api saat menghantam lantai besi. Dengan sebuah gerakan yang sangat luwes dan mengalir, Futumate menempelkan telapak tangan kanannya tepat ke dada robot tersebut. "Pelepasan Elektro-Statis!" Ledakan energi listrik berwarna biru yang menyilaukan menyelimuti seluruh tubuh bot tersebut, membakar sirkuit-sirkuit tuanya dalam sekejap mata. Robot itu ambruk seketika dengan suara dentuman logam yang sangat keras. Namun, dua bot lainnya tidak tinggal diam, mereka sudah bersiap menembakkan paku tembak industri dengan kecepatan tinggi. Tring! Tring! Paku-paku baja itu memantul dari bahu titanium milik Futumate. Ia menyadari bahwa ia tidak bisa membiarkan pertempuran ini berlangsung terlalu lama. Setiap detik pabrik ini tetap menyala, maka semakin banyak pula debu hitam yang terlepas untuk meracuni udara kota mereka. Futumate melompat tinggi ke arah dinding, menggunakan momentum dari pendorongnya untuk memberikan tendangan keras yang berhasil membuat kepala bot kedua terlepas dari lehernya. Sementara itu, di belakang meja konsol, Erira mengambil kunci inggris besarnya. Dengan sebuah teriakan penuh frustrasi, ia menghantamkan alat berat itu berkali-kali ke arah inti kristal pemrosesan yang berada di tengah meja kontrol. PRANG! Kristal itu pecah berkeping-keping. Seketika itu juga, seluruh lampu di pabrik mulai berkedip-kedip secara liar. Suara dengungan mesin raksasa di bawah mereka mulai melambat secara dramatis. Nadanya turun dari frekuensi tinggi hingga menjadi geraman rendah, lalu akhirnya mati total. Ban berjalan berhenti bergerak. Lengan-lengan robotik yang tadinya agresif kini terkulai lemas tanpa tenaga. Bot keamanan terakhir yang saat itu sedang bergulat sengit dengan Futumate tiba-tiba kehilangan seluruh dayanya. Ia jatuh berlutut dengan suara berderit, sistem internalnya mati seiring dengan terputusnya aliran daya pusat pabrik. Keheningan pun kembali menguasai ruangan, namun kali ini terasa lebih permanen dan menenangkan. Futumate berdiri tegak, kemudian membersihkan sisa-sisa debu hitam yang menempel di bahunya. Ia berjalan perlahan mendekati Erira yang sedang berusaha mengatur napasnya, sambil bersandar pada konsol yang kini sudah hancur berantakan. "Kerja yang sangat bagus," kata Futumate dengan nada apresiasi. Erira tersenyum lemah, meskipun wajahnya tampak sangat lelah. "Metode analog. Ternyata cara lama ini selalu bisa diandalkan saat teknologi digital mengalami kegagalan total." Futumate menatap ke arah layar hitam yang kini sudah kosong tanpa data. Meskipun mereka berhasil, ia tetap merasakan sebuah kegagalan di dalam dirinya. "Kita memang berhasil menghentikan sumber polusinya untuk saat ini, tapi kita telah kehilangan jejak pelaku utamanya. Siapa pun yang merencanakan ini, mereka sudah tahu bahwa kita akan datang. Proses penghapusan data itu telah diatur waktunya dengan sangat tepat agar bersamaan dengan kedatangan kita." "Setidaknya kita memiliki sampel yang sesungguhnya," kata Erira sambil menunjuk ke arah lantai pabrik melalui kaca besar di ruang kontrol. "Dan kita juga telah mendapatkan sebuah fakta yang tidak bisa dibantahkan bahwa semua ini bukanlah sebuah kecelakaan sistemik, melainkan sebuah serangan." Futumate mengangguk setuju. Ia kemudian memungut sisa Unit memori dari bot keamanan yang telah ia hancurkan sebelumnya. Meskipun log utama di sistem pusat sudah hilang, ia berharap mungkin masih ada residu perintah yang tersisa di dalam Unit bawahan ini yang bisa ia pulihkan. Saat ia sedang memindai kepingan memori yang rusak tersebut, Nexviron tiba-tiba berbicara kembali di dalam kepalanya. " Futumate , proses analisis terhadap residu partikel debu telah selesai. Di dalam struktur geometris debu itu, ditemukan satu baris kode statis yang terus berulang secara konstan." "Apa isinya?" tanya Futumate dengan penuh rasa ingin tahu. "Itu sama sekali bukan merupakan sebuah baris perintah teknis," jawab Nexviron. "Itu lebih tampak seperti... sebuah ejekan yang ditujukan kepada kita." Nexviron kemudian memproyeksikan baris kode tersebut langsung ke dalam bidang pandangan Futumate. Jika diterjemahkan dari bahasa biner ke dalam format teks, bunyinya sangat sederhana namun mengerikan: [TERHAPUS] Futumate merasakan sensasi dingin yang menjalar di seluruh sistem internalnya. Segala sesuatunya kini terasa saling terhubung. Serangan yang terjadi di Hutan Vumina dan sabotase di "Kota Kaca" ini bukanlah kejadian yang terpisah. Keduanya merupakan rangkaian peristiwa terencana yang harus diperhatikan dengan sangat serius. Pelaku misterius ini sedang merencanakan sesuatu yang sangat besar untuk mengacaukan seluruh tatanan Aiviropolis, baik dari sisi biologis maupun mekanis. "Erira, kita harus segera pergi dari tempat ini," kata Futumate dengan nada yang jauh lebih serius dan mendalam dari sebelumnya. "Debu hitam ini hanyalah sebuah permulaan dari skenario yang lebih besar. Musuh kita memiliki maksud tersembunyi yang sangat gelap. Mereka tidak hanya ingin merusak, mereka menginginkan sebuah keruntuhan total." Erira menatap keluar jendela besar, memandang ke arah pusat kota Aiviropolis yang di kejauhan masih tampak tertutup oleh kabut meskipun sudah mulai menipis. Cahaya fajar mulai berusaha menembus lapisan polusi tersebut, namun bayang-bayang di setiap sudut kota terasa jauh lebih gelap dan mengancam daripada biasanya. "Siapa sebenarnya mereka itu?" tanya Erira dengan suara yang hampir berbisik, penuh dengan kekhawatiran. "Aku belum tahu pasti," jawab Futumate sambil mengepalkan tangan titaniumnya dengan kuat. "Tapi aku berjanji padamu, aku pasti akan menemukan mereka sebelum butiran debu berikutnya sempat jatuh ke kota ini." Mereka berdua akhirnya meninggalkan pabrik yang telah mati itu, membawa serta sebuah misteri yang kini semakin dalam dan berbahaya. Di kejauhan, lampu-lampu kota mulai berkedip-kedip tidak beraturan, seolah-olah sedang mengirimkan sinyal bisu yang penuh ketakutan ke arah langit kelabu yang masih enggan untuk sepenuhnya cerah. Langkah kaki mereka bergema di pelataran pabrik yang sunyi, menandai dimulainya sebuah pencarian yang akan menentukan nasib masa depan Aiviropolis. Di balik kabut yang mulai memudar, sesuatu yang jauh lebih besar sedang menunggu untuk diungkap, dan Futumate tahu bahwa waktu bukanlah sekutu yang mereka miliki saat ini. Bersambung ke bab berikutnya...

Futumate Seri 1

Bab 12 Kejatuhan Nare

Di publikasikan 01 Mar 2026 oleh Bengkoang

Masih di 222 Shirena.  Awal musim gugur. Ini cerita pas saudara seperguruan keduaku melepas caping sama penutup wajah, atau kata lainnya lulus. Ya, catatan tentang hari kelulusan si tukang kibul. Ketika pencapaian kampanye besarnya di utara tiba-tiba ‘disalip’ oleh prestasi Kak Rui di selatan …. “Apa kau bilang tadi, Empat?’ “Kak Rui kirim surat, isinya laporan kalau Nare sudah menyerah.” “Ma-maksudnya menyerah ….” Saudara seperguruan, kakak juga adik tingkat, guru-guru sekolah, dan semua orang yang hendak menghadiri acara Kakak Kedua sontak silih toleh dengar kabar yang kubawa. “Kau eggak lagi bercanda, ‘kan?” Mereka meragukan kabar tersebut.  Spontan, karena dapat reaksi begitu ditambah malas ngomong panjang lebar, gak pakai pikir kuasongkan surat telik sandiku pada mereka. Salinan laporan Kak Rui yang waktu itu dokumen aslinya tengah diantar ke istana.  Tahu apa reaksi Guru Do setelah baca isinya? “Kita harus ke Nare—sekaraaang!” Semua orang, bukan hanya Guru Do dengan orang-orang sekolahku saja, bereaksi serupa. Lekas ambil kuda ‘tuk kemudian berbondong-bondong menemui Kakak Pertama dan batal menghadiri acara Kakak Kedua …. ***  “Cuma kalian berdua?” “Kak—” Dampaknya, perselisihan antara dua saudara seperguruanku itu pun kian tajam. Di bab-bab awal aku pernah bilang saudara-saudara seperguruanku akan terlibat konflik di istana, ‘kan? Nah, ini pembukanya. Kakak Kedua dan Pertama menjadi makin berseberangan meskipun mereka memihak orang yang sama usai ‘insiden’ tersebut …. “Gak usah bilang apa-apa. Tiga, Empat, cuma kalian saudara-saudara seperguruanku. Dan cuma kalian berdua yang benar-benar kuanggap saudara ….” Semenjak hari itu ambisi Kakak Kedua pun makin tidak terbendung, dan kalian tahu, rasa kecewa pada semua orang ini lanjut mendorongnya ‘tuk segera meratakan sisa wilayah Pi kemudian bersiap di perbatasan Nadi—pelampiasan yang terlampau ekstrem, apalagi setelah langkah-langkah nekatnya barusan ia juga jadi semakin menjauhkan diri dari kami. Cek!  Dua bulan kemudian, pengujung musim gugur, aku dan Kakak Ketiga sepakat buat bagi tugas demi menarik saudara seperguruan tukang kibul kami agar mau kembali. Maksudnya balik membela kepentingan bersama serta tidak mendahulukan ego. Tak masalah beda pilihan sama Kak Rui, tapi tetap memihak pada ‘kebenaran’ juga bersedia menukar tanda jasa yang memang sejak awal kami kumpulkan guna menyelamatkan Guru Tua.  Namun, kalian tahu apa respons yang kami berdua terima? “Aku sekarang sudah jadi penasihat kanan, Empat.” Dia malah mengeraskan hati dan menukar tanda jasanya dengan mengambil posisi yang ditawarkan partai oposisi. “Sekolah gak perlu mengkhawatirkan diriku lagi.” Sialnya, walau sudah dengar jawaban si tukang kibul aku juga tidak bisa lekas pulang. “Kenapa kau masih di sini?” tanyanya, sehari pascaputusannya ‘tuk jadi ujung tombak fraksi Selir Bonena dan tangan kanan Bate Runibi bulat. “Kukira ka—” “Laporanku sudah kukirim, Kak. Masalah kenapa masih di sini, itu gegara aku penasaran sama taktik perangmu pas menghadapi Nadi musim semi nanti.” “Persiapannya masih butuh tiga bulan lagi, yakin kau bakal sabar mengikutiku sela—” Aku menoleh, menjuling sambil memiringkan kepala ke arahnya. “Ya, ya, ya. Kau yang paling ‘tabah’ di antara kita. Aku lupa. Terserah kalau mau tinggal di sini, tapi jangan minta aku menjelaskan apa pun kalau ada yang gak kaupahami. Paham?” “Permintaanku cuma satu,” balasku sebelum ia benar-benar pergi, “aku mau bebas bolak-balik barak tentara sama lihat isi gudang—” “Gak sama pakai fasilitas kotaku sekalian?” “Itu juga!” “Semua jadi tiga permintaan,” ujarnya sambil lalu, “bukan cuma satu ….” ***  Ketika musim gugur pergi dan musim dingin tengah bersemi …. “Kepala Penyiasat! Kepala Penyiasaaat! Ada suraaat!” Aku menjadi satu-satunya kepala penyiasat di Serindi Raya yang makan gaji buta. “Kepala Penyiasat Pertama tanya apakah—” “Aku gak bakal ngapa-ngapain musim ini,” selaku terus lanjut sama kesibukan di atas kolam beku, memancing ikan lewat lubang selebar tutup gentong air. “Bilang saja aku juga belum bisa pulang di surat balasanmu nanti, Tera Gong. Masih mau liburan di utara, gitu.” “T-ta-tapi, Kepala Penyiasat?” Aku menoleh. “Ba-bate juga tanya, ‘Kapan Anda akan melakukan kampanye ke Kerajaan Nadi?’” “Kau belum dengar kakak keduaku baru mau mulai kampanye musim depan?” tanyaku, balik fokus ke gagang sama benang pancing. “Kasim Oh sebelahmu terus bersamaku minggu ini, tanya dia saja. Dirinya tahu benar jika aku lagi menunggu rencana Kakak Kedua dimulai.” “Kepala Penyiasat sudah membahas kampanye tahun depan secara rinci di Astaka Dalam Istana bersama Tuan Penasihat Kiri Cu, Tera Gong. Bila Anda khawatir saya bisa ….” Semenjak Kakak Kedua, sekarang boleh kupanggil Kak Cu, lulus serta resmi menjabat sebagai penasihat kiri dari Fraksi Oposisi Selir Bonena banyak hal telah kuabaikan—secara terang-terangan dan terbuka, tentu saja. Salah satunya desakan Pu Serindi terkait urusan tata kelola wilayah pascainvasi ke Kerajaan Pi dengan persiapan sebelum kampanye ke Nadi mulai. Sebagai Kepala Penyiasat Kedua, aku diberi keleluasaan besar pun dibebani tanggung jawab yang gak main-main. Diriku harus memikirkan cara ‘tuk menambal kebolongan-kebolongan kecil kekaisaran hijaunya pascakampanye dua saudara seperguruanku sekaligus membantu mereka menyiapkan ‘bekal’ invasi berikutnya—meskipun, pada praktiknya, tanggung jawab-tanggung jawab tadi telah diambil alih oleh Kakak Ketiga lewat kebijakan-kebijakannya di Ritie. Lumayan gila, ‘kan? “Bayangkan saja,” kataku pada Kasim Oh di sebelah, “mereka yang bikin ulah, tapi aku sama Kakak Ketiga yang kudu mikir cara membereskannya. Kasim Oh, kalau ada di posisiku, kau mau buat apa kira-kira?” “Ahaha.” Orang tua beruban itu ketawa garing, dirinya masih sungkan ‘tuk duduk santai di kursi sebelah kursi malas yang kubawa setiap acara memancing kami. “Bawahan tidak berani mencoba sepatu Anda, Kepala.” “Biar cuma membayangkan?” “Meski hanya sekadar membayangkan,” ulangnya lantas memalingkan muka ke tali pancing, menghindariku. Hem. “Ngomong-ngomong, apa saja yang mau kautulis di laporanmu buat Kakak Ketiga, Kasim Oh?” “Ah?!” “Gak usah terkejut,” sambungku pas kepala hingga bahunya tiba-tiba tengok kanan, “aku salah satu dari empat murid langsung Guru Tua, ingat? Menebak kau agen ganda buat saudara-saudaraku bukan hal sulit ….” Alasanku tak kunjung melakukan apa-apa selama mengikuti Kak Cu di kali kedua ini tidak berbeda dari taktik Kak Rui waktu mengelabui semua orang di kampanye Ritie, sebab gak setiap hal harus tampak ke permukaan. Terlebih, Kakak Ketiga merupakan orang paling cermat di antara saudara-saudara seperguruanku.  Meskipun ia bilang tidak tertarik pada konflik istana dan seluruh tindakannya mendukung klaim tersebut, itu masih belum menjamin bahwa dirinya juga takkan berubah pikiran seandainya muncul variabel tak terduga atau semisal di kemudian hari.  Toh, pencapaian Kakak Tua, maksudku Kak Rui kami, pas mengacaukan acara Kakak Kedua pun begitu. Tidak terduga pada awalnya …. “Kasim Oh, aku ingin kau memilih.” Sang pelayan istana gemetar di kakiku. “Lanjutkan tugas dan laporkan semua kemalasanku ke saudara-saudaraku seperti biasa tanpa ada yang berubah, atau bilang pada mereka aku tahu siapa kau sebenarnya terus menyuruhmu buat ganti majikan sama gak bakal kirim laporan apa-apa lagi.” “Ke-kepala Penyia—” “A!” Kujambak tengkuknya sambil topang dagu. “Kau tahu kursi malas ini sama sekali gak menghalangiku kalau mau ‘mencelupkan’ mayat seseorang, apalagi lubang di kolam itu cukup lebar buat menelan—” “Ahaha … Kepala Penyiasat, Kepala Penyiasat ….” “Gaya memelasmu gak seru,” komentarku terus ambil pisau, “pilih saja mana yang mau kau tulis di suratmu nanti sore dan pisauku ini akan kumasukkan lagi ke sarungnya. Terus ….”  Kueluskan punggung pisau tadi ke pipinya. “Jujur rengekanmu juga gak bikin aku iba ….” *** 

Catatan Keempat: Serindi

Bab 11 Drama Awal Tahun

Di publikasikan 01 Mar 2026 oleh Bengkoang

Tahun baru 222 Shirena.  Saatnya merangkum apa yang telah kakak ketigaku lakukan mulai tiga bulan ke belakang sampai musim semi tahun ini, atau persisnya siapa-siapa saja yang sudah berhasil ia kelabui selama kampanye formasi segitiga emas sejak musim sebelumnya berlangsung—catatan: aku aslinya malas membahas dua kota di tenggara sama timur laut, tapi bagaimanapun mereka masih bagian dari pekerjaan. Paling tidak sampai diriku lulus, kurasa. Mulai dari blokade Tzudi terhadap Serindi di sisi barat Ritie dengan membentangnya tembok sepanjang utara hingga selatan, maksudku dari batas selatan Kerajaan Pi di utara sampai batas utara Nare di selatan. “Utusan Tzudi datang buat mengembargo kita, Kak.” “Ya, aku dengar. Telik sandi tadi membacakan laporan mereka.” “Maksudku tembok yang mereka bangun musim dingin kemarin sudah jadi,” sambungku, menjuling gemas campur sedikit kesal pada respons acuh tak acuh kakak ketigaku di mejanya barusan. “Kalau embargo ta—” “Itu bagus buat kita!” sambarnya, sudah balik merebah dan tumpang kaki. “Perang lawan Tzudi gak mungkin pecah selama putusan ini kita biarkan, terus orang-orang yang kusebar sampai perbatasan juga enggak perlu lagi takut diserang mendadak, ‘kan?” Hem, terus terang aku tidak bisa menyangkal metodenya. “Sikap santaimu benar-benar menakutiku, Kak.” “Tetap tenang itu syarat seorang penyiasat, terus panik cuma gegara lawan ‘ngelempar pancing’ juga gak bikin dopamin kita meningkat.” “Lempar pancing?” “Mereka mau lihat reaksi kita,” jelas Kakak Ketiga, “apa yang bakal kau lakukan pas embargo ini keluar ….” Berdasarkan apa yang kudengar darinya kala itu, taktik pertahanan Ritie ialah dengan membiarkan segala jenis provokasi lewat sampai derajat penambang sama para petani di perbatasan berhasil panen bijih dengan bahan-bahan pangan buat isi gudang. Hem.  Kedengaran mustahil memang, tapi itulah yang betulan terjadi hingga ia lulus tahun depan. Hal lain, sementara Kakak Ketiga terus bermain dengan gaya santainya dua kakak seperguruanku tengah habis-habisan berusaha mencengkeram target kampanye mereka lewat berbagai cara. “Kudengar Kak Rui berhasil bikin Aliansi Anti-Shorin pecah.” “Dia bakal langsung menyerap mereka pas suami Yuyin Trira gugur. Empat, kalau kau niat melewati Kak Rui pahami bagaimana caranya menyusupkan anak-anak gadis Pu ke tiap kota di perang saudara ini sehabis berhasil memanas-manasi mereka dengan kabar pernikah—” “Aku ada di sana pas Kak Rui menulis surat buat para bate itu, Kak.” Siasat kakak pertama kami, bikin masalah buat diselesaikan sendiri—pernah kusinggung di bagian sebelum ini. Siapa yang tidak tahu politik adu domba Kak Rui? Kakak Kedua bahkan berkomentar kegilaannya masih jauh lebih berbelaskasihan ketimbang siasat hasut sana sini tersebut. Satu sisi kusetuju. Walau pada praktiknya diriku juga menentang langkah-langkah yang ia ambil.  Pembant*ian tetaplah pembant*ian, titik. “Ngomong-ngomong, apa yang Kakak Kedua lakukan sekarang?” “Masih sama, Kak. Dia lagi menggusur rumah orang-orang Pi sama menggiring mereka ke barat laut.” “Ke Kerajaan Nadi?” “Ya. Kemajuan kapanyenya paling pesat dibanding kita semua.” “Kita?” timpal Kakak Ketiga sambil memiringkan muka, “Kami. Aku, Kak Rui sama Kakak Kedua. Kau kan belum melakukan apa-apa selain duduk manis memperhatikan semua orang sambil mencatat, Empat.” “Hehe ….” ***  Selain tembok Tzudi, suasana keruh Nare, serta separuh Pi yang kocar-kacir diseruduk Kakak Kedua, awal tahun baru kala itu juga turut diwarnai oleh drama bate muda kami. Ambas Trara. “Salam, Baginda.” Ketika ia melakukan ‘inspeksi’ mendadak ke Kantor Muri Distrik Barat macam pengujung musim gugur sebelumnya. “Apakah gerangan—” “Ayahandaku baru memuji kerjamu, Kepala Penyiasat. Ayahanda juga menyebutku bate termuda dan terandal yang pernah beliau tahu sepanjang sejarah. Ehehe ….” Aku dan saudara ketigaku silih toleh dengar klaim tersebut. Sebab, baik diriku maupun Kakak Ketiga sama-sama maphum bahwa, selalu ada udang apabila Pu memuji putranya nan polos satu di hadapan kami. Entah apa, tapi yang jelas pujiannya bukan sesuatu yang layak dirayakan.  Terakhir saja ia meminta separuh tentara Ritie dikirim ke Ibu Kota Baru …. “Boleh kutahu Pu berkata apa saja dalam suratnya, Baginda?” “Kepala Penyiasat, Ayahanda bilang diriku tidak boleh gampang berpuas hati dan harus terus menantang diri. Serindi Raya baru saja lahir, ancaman bisa datang dari mana-mana, dan ….” Terus terang, aku menjuling dengar si bocah membacakan ulang apa yang ayahandanya tulis dalam surat. Selain bertele-tele, pesannya jelas merujuk kakak ketigaku supaya ia jangan berhenti di keadaan sekarang dan agar kami turut melakukan invasi macam Kauro sama Serindi. Melebarkan wilayahnya hingga ke barat Ritie. Cek! Dasar rubah tua. “Bagaimana menurutmu, Kepala Penyiasat?” Beruntung bate muda satu ini belum peka terhadap pesan tersirat, jika tidak yang ia lakukan bukanlah memberi kakakku pertanyaan melainkan instruksi langsung. “Apakah pendapat bawahan masih penting, Bate?” “Tentu saja!” sambut si raja kota semangat, “semua pencapaianku takkan a—” “Kalau begitu tunggu apa lagi?!” sela Kakak Ketiga tiba-tiba, “patuhi titah ayahanda baginda lantas ayo serbu Kerajaan Tzudi sekarang juga!” Kakak seperguruanku betulan mengatakan itu, dan aku sama kagetnya seperti kalian—jadi tenang saja. Hanya. Maksud Kakak Ketiga adalah: apakah kau mau menuruti ayahmu meskipun melompat ke tengah-tengah bara? “Kau serius?” Sebab respons yang ia dapat juga sesuai harapan, walaupun bate muda kami cenderung kekanak-kanakan dan masih senang bermain-main dirinya ternyata cukup cakap ‘tuk membaca situasi. “Dengan tentara kita yang cuma sisa sedikit ….” Ambas Trara sadar permintaan ayahandanya tahun kemarin sudah mengurangi separuh kekuatan Ritie, jika ia juga menelan mentah-mentah titah sang ayah tadi ini sama artinya dengan melebarkan celah bagi keruntuhan kotanya yang sebetulnya sudah menganga.  Dan, saudara ketigaku paham betul pikiran bocah itu.  Dia sengaja mengaminkan isi tersirat surat tersebut ‘tuk menunjukkan bahwa sebagai kepala penyiasat dirinya seratus persen mendukung apa pun pinta atasan—ini dugaanku, sih. Sehingga ketimbang konfrontasi terang-terangan, Kakak Ketiga membiarkan bate muda kami berpikir lalu mengambil tindakan sendiri. “Kau yakin Ayahanda memintaku melakukan perluasan, Kepala Penyiasat?” “Sangat yakin, Bate. Baginda bisa tanya kasim sebelah baginda.” Ambas Trara menoleh. “Kau juga sependapat sama Kepala Penyiasat, Kasim?” “Ah, hamba tidak berani, Yang Mulia.” “Huh.” Hingga akhirnya si bocah mendengkus. “Aku tadinya senang Ayahanda memujiku bate muda terandal sepanjang sejarah, tapi sekarang diriku kesal. Kepala Penyiasat! Apa ada hal lain yang bobotnya setara perluasan wilayah dan bisa kulakukan dalam waktu dekat?” “Bawahan akan memikirkannya, Baginda.” Cerdas. Dengan begini saudara seperguruanku bukan cuma selamat dari anggapan pembangkang bila terang-terangan melawan titah, tetapi juga berhasil mengamankan posisi di mata Pu dan bate muda kami. Lalu, panen terbesarnya, Kakak Ketiga juga bisa menyarankan hal sensasional lain di waktu mendatang. “Jangan lama-lama! Aku tak rela Kak Prama duluan mengambil hati Ayahanda pas kita tidak melakukan apa-apa. Lantas, Kepala Penyiasat, jangan sampai Bekas Penasihat Junior Kiri Runibi berhasil jadi anak emas lewat kampanyenya di Kerajaan Pi.” “Dimengerti ….” *** 

Catatan Keempat: Serindi

Bab 10 Mimpi di Siang Bolong

Di publikasikan 01 Mar 2026 oleh Bengkoang

“Empaaat!” Aku bergidik dengar jeritan Kakak Kedua waktu ia tiba-tiba mendatangi tempat kerjaku, Kantor Muri Distrik Barat Ritie, bulan ketiga Ambas Trara duduk di singgasana bate kota bekas ibu kota pemerintahan Kerajaan Vu tersebut. Sebab sebelum dirinya, hari yang sama, Kak Rui juga meneriakiku mencari Kakak Ketiga. “Mana si Tiga, hah?” Aku menoleh lesu, kemudian kutunjuk ruangan tempat kakak dan adik seperguruannya lagi bicara serius. “Di sana dia rupanya ….” Alasan dua orang itu datang jauh-jauh ke Ritie sudah pada kita semua tahu, aliran dua pertiga populasi Serindi ke bekas ibu kota pemerintahan Kerajaan Vu ini. Ya, soal massa yang tetiba berbondong-bondong mengungsi kemari sejak setengah bulan sebelumnya. Begitu. “Ah! Bagus kalian keluar. Tiga, jela—” “Dia sengaja menarik massa ke Ritie buat membantu kampanye kita di Serindi sama Kauro,” timpal Kak Rui, pasang badan buat saudara ketigaku sekalian menggeser Kakak Kedua supaya jangan menghalangi jalan. “Kau harusnya senang sebab lumbung kita bakal lebih hemat musim dingin nanti.” “Apa?!” Saudara keduaku melongo dengar keterangan tersebut, tangan dan mulutnya sama-sama terbuka terus kedua matanya pun setengah terbelalak. “Ba-bagaimana ceritanya penduduk kotaku berkurang, tapi aku kudu senang gegara kau bilang lumbungku bakal hemat di musim dingin besok yang belum tentu benar, hah?” Kak Rui dan Kakak Ketiga kompak menoleh ke Kakak Kedua. “Tiga, kau jelaskan sendiri padanya,” pinta saudara seperguruan tua kami pada adik keduanya, “kalau dia itu ternyata bebal, biarkan saja.” Dalih kakak ketigaku pada dua saudara seperguruannya sederhana. Jika penduduk dua kota di timur laut dan tenggara Ritie berkurang, maka keduanya bisa mengalokasikan sisa lumbung mereka buat melanjutkan agenda kampanye masing-masing tanpa takut biaya pengeluaran sama tidak ada pemasukan selama musim dingin. Dan, dengan alasan ini pula Kakak Ketiga juga meminta dua kakak seperguruannya supaya membantu dirinya meyakinkan atasan mereka kalau semua kebijakan berani yang ia ambil setengah musim gugur terakhir masih berada di koridor kepentingan Serindi Raya. Meskipun jelas tampak tidak memihak kepada penguasa …. ***  “Hem. Kau lebih jago soal mengambil hati massa, Tiga.” Ketika kakak kedua kami berhasil diyakinkan sekian saat kemudian. “Kalau memang benar begini rencananya aku sama Kak Penasihat Junior Kanan Rui sebelah sana bisa tenang melanjutkan kampanye ke utara dan sela—” “Bate Ritie tibaaa!” Namun, ujian sesungguhnya ‘tuk rencana saudara ketigaku muncul setelah semua omong kosong pada kedua kakak seperguruan kami—bukan kumeragukan ide brilian Kakak Ketiga, tapi jujur agenda di balik kebijakan-kebijakan yang menarik dua pertiga populasi Serindi Raya ke Ritie-nya bukan tidak terendus. Maksudku, pada tahun itu baik tiga Bate maupun Pu juga para bangsawan, orang-orang di panggung pertama Serindi ini sebetulnya sama-sama tahu ada hal amis di langkah tersebut. Tahu jika kakakku bukan hanya ingin menarik massa. Meskipun mereka tidak tahu apa. Dan, kalau boleh kubilang sekarang, diriku pun baru paham keseluruhan rencana sensasionalnya itu di tahun-tahun mendatang. Ketika ia melepas caping sama penutup wajah usai hari kelulusan …. “Salam, Bate.” Akan tetapi, poinku sekarang, lihat bagaimana ia menepis setiap ‘endusan’ tadi. “Bawahan baru saja membicarakan lankah kita bersama Kepala Penyiasat Fraksi Kiri dan Penasihat Junior Kanan Rui. Apakah gerangan baginda sampai merepotkan di—” “Langsung saja,” sela bocah umur sebelas yang kini duduk di kursi tempat Kakak Ketiga biasa melamun topang dagu, “kanda juga ayahandaku tidak puas dengan caramu merebut penduduk kota mereka, tapi tolong jangan kesal padaku, ya! Ini isi surat mereka.” Aku yang lagi pura-pura mencatat di meja tera kanan beliau ingin ketawa dengar keluguan adik Prama Trara dan Yuyin Trira tersebut—cuma, begitu-begitu dia sudah jadi bate. Seorang raja kota.  “Kenapa kau gemetar begitu, Tera?” “Adik kami hanya kelelahan bekerja, Bate,” ujar Kak Rui, membelaku dari delikan Ambas Trara. “Tolong jangan hiraukan dirinya.” “Hem. Aku lupa tadi bilang apa. Kasim … ah, benar! Kepala Penyiasat, aku baru tahu jika dua saudaramu juga ada di sini. Kau bilang diriku akan bisa mengalahkan Kak Prama dan Bekas Penasihat Junior Kiri jika mengikuti saran-saranmu, apa ini berarti dirimu hendak membawa saudara-saudaramu kepadakukah?” Aku tidak tahu apa yang membuat muka si bocah kelihatan sesenang itu, tapi yang jelas omongannya barusan telah membuat mata kakak-kakakku mendelik ke Kakak Ketiga. Sudah pasti. Dengan bilang saudara seperguruanku pernah menjanjikan dia akan mengalahkan dua saudaranya, si bocah—sengaja ataupun tidak—membuat kakak-kakakku seketika waspada. Bukan mustahil bila mereka berdua pun akan melaporkan hal tadi pada dua bate lain sesudah ini. Benar, ‘kan? Namun, lihat bagaimana cara saudara ketigaku bermain api. “Benar sekali, Bate. Dua kakak seperguruanku kemari ‘tuk memberi tahu baginda bahwa kampanye di Kauro dan Serindi akan segera dimulai, dan baginda tahu berkat siapakah hal tersebut bisa dilakukan?” “Siapa?” tanya si anak antusias, kalian gak bakal percaya kalau kubilang ia setengah naik ke meja di hadapannya ketika itu. “Apa kau mau menaikkan pamorku macam waktu kita meyakinkan para penasihat senior?” “Tepat, Bate! Berkat cara cerdas baginda mengatur kota, bate-bate lain jadi tak perlu memikirkan perbekalan selama musim dingin. Berkat kebijaksanaan baginda tersebut pula keduanya akan lebih fokus kepada rencana-rencana besar ayahan—” “Cukup!” potong bate ‘muda’ kami, cekak pinggang bangga di meja kerja kakak ketigaku. “Sanjunganmu ini membuat diriku tidak bisa tahan tawa, aku tidak sabar menunggu hari di mana Ayahanda akan memberikan gelar putra kesayangannya kepadaku—Kepala Penyiasat!” “Hadir, Bate.” “Lanjutkan pekerjaanmu! Aku tidak mau dengar ada gangguan pada rencana besar kita, sedikit pun, aku tidak mau. Serap sebanyak mungkin orang kemari, beri mereka pekerjaan di sini, dan buat Ritie-ku jadi yang paling kaya di antara kota-kota Serindi Raya. Ahahaha ….” Dengar sendiri, itulah isi kepala bate muda kami.  Siapa yang akan percaya apabila Ambas Trara dengan keluguannya ini akan menjadi bate dengan kota terpadat sekaligus penggalang dana kampanye utama kekaisaran ayahandanya di hari kelulusan Kakak Ketiga dua tahun ke depan? Takkan mungkin ada, bukan? Namun, di sinilah letak kegeniusan saudara ketigaku. Kala itu dia jelas-jelas sedang diremehkan dan dianggap pembual ulung oleh semua orang sampai dua kakakku mengira ia dengan atasannya cuma lagi mimpi di siang bolong. Bagaimana ceritanya Ritie yang notabene kota terlemah serta mengedepankan ‘jelata’ ketimbang tuan-tuan tanah bakal punya modal ‘tuk naik hingga berjaya dalam waktu kurang dari tiga tahun? Beginilah kira-kira bunyi benak mereka sebelum nanti terbelalak ….  ***  “Selamat jalan, Bate.” Begitu atasannya pergi. “Kau menangani bocah itu dengan baik, Tiga. Kukira Kak Rui sependapat. Ya, ‘kan, Kak?” “Anak belasan tahun belum tahu kerasnya hidup,” sahut saudara pertama kami, melihati kereta sang raja kota pakai tatapan sayu. “Jangan terus kau ninabobokan sama angan-angan macam tadi, sesekali beri juga bate muda kita ini ‘kejutan’ biar mau belajar.” “Mengerti ….” *** 

Catatan Keempat: Serindi

Bab 9 Terabaaas!

Di publikasikan 01 Mar 2026 oleh Bengkoang

Musim Gugur 221 Shirena. Tajuk bahasan kali ini, ingin berbakti meski tak dipahami. Kini giliranku mengikuti jalan cerita Kakak Ketiga, setelah ia berhasil menghimpun ‘kekuatan’ sekolah kami ‘tuk menyelamatkan Guru Tua—jadi jangan tanya kenapa tiba-tiba kukasih tajuk padahal belum ada apa-apa. “Sekarang, aku harus mulai dari mana?” “Kau bisa cerita dari pas ikut Kak Rui ke Nare,” ujar orang yang mau kukisahkan, menentukan topik diskusi sebelum kami membahas langkah-langkah politik Ritie. “Aku penasaran cara saudara tua kita satu itu menjaga Shorin dari para penyerang kemarin, Empat.” Pilihan yang, tentu saja, sontak membuatku menjuling ke kiri. “Kau serius mau dengar soal cara Kak Rui menyuruh mereka putar balik waktu mau menyerbu Shorin, Kak?” “Kenapa kau melihatku begitu, memang bagaimana cara dia menghalau mereka?” “Hah.” Aku hela napas. “Baiklah, tapi jangan kaget ….” Kudekatkan mulut ke kupingnya dan …. “Serius! Aku baru tahu.” “Prinsipnya bikin masalah sendiri buat diselesaikan sendiri, teknik pencitraan yang pernah dibahas Guru Do.” “Aku tahu metodologinya, Empat. Cuma, kukira kita berempat pernah sama-sama sepakat buat jangan sampai memakai cara-cara kotor atau meni—” “Kau belum dengar aksi Kakak Kedua di Kauro, ya, Kak?” “Soal dia membant*i seisi kota buat menakuti kota-kota lain itu?” Aku mengangguk sekalian mendelik, curiga bahwa saudara seperguruan sebelahku ini cuma lagi menggodaku dan pura-pura gak tahu apa-apa doang—sebetulnya. Hem. ***  Alasan Kakak Ketiga penasaran pada metode Kak Rui, yang memang gak semua orang tahu, kala itu mungkin gegara tugas yang ia emban selepas pengangkatan Bate Ritie. Ambas Trara. “Kau mau menyurati orang-orang Tzudi biar mereka gak menyerang kita dulu, Kak?” “Tadinya,” aku saudara ketigaku, topang dagu di meja kerjanya, Kantor Muri Distrik Barat Ritie. “Cuma pas tahu Kak Rui sekongkol sama orang-orang Nare aku jadi ragu, soalnya kita kadung jadi penjahat gegara ulah Kakak Kedua di Kauro.” Paham. Serindi kini memang musuh bersama satu benua, permusuhan terhadap kami kali ini bukan lagi pura-pura macam serbuan orang-orang Nare ke Shorin setahun sebelumnya. Cek! Dan terima kasih ‘tuk taktik gila kakak keduaku, berkat dirinya kami saat itu sudah menjelma jadi momok nomor wahid. “Kudengar Ambas Trara baru umur sebelas—” “Stop!” Telunjuk Kakak Ketiga spontan mencuat. “Berhenti di situ, Empat! Jangan coba-coba! Aku tahu ke mana kaumau menyetir obrolan kita, tapi diriku bukan penganut paham utilitarianisme macam Kak Rui dan bukan juga oportunis akut model saudara seperguruan gila kita di Kauro.” “Memang kau yakin apa yang mau kubilang tadi sama dengan isi kepalamu barusan, Kak?” “Jangan menggodaku.” Ia buang muka dan lanjut topang dagu. “Menyandera Bate buat menundukkan semua pejabat di Ritie bukan gayaku, apalagi dia masih sepolos kertas kosong.” “Maksudmu kau lebih ingin mengajari bocah ini cara main monopoli ketimbang menggunakannya buat jadi alat politik praktis, Kak?” Kakak ketigaku tidak bilang apa-apa lagi. Namun, aku tahu benar apa jawabannya ketika itu. ***  Hari-hari berganti, tidak ada peristiwa besar apa pun sejak saudara ketigaku mulai bekerja di Ritie—beda dari Kak Rui yang langsung sibuk mengirim orang ke sana sini atau Kakak Kedua kami yang tiba-tiba bikin heboh di minggu pertama mereka. “Caramu lebih kalem, ya, Kak.” “Memang kau mau aku begimana?” tanyanya, masih topang dagu di meja kerja pas diriku tiba macam hari-hari sebelumnya. “Dibanding tenggara sama timur laut, kota kita ini cuma pemanis di bangku panjang pinggir gelanggang. Baru gerak kalau salah satu dari dua tadi tumbang ….” Maksud kakak ketigaku dirinya gak perlu melakukan apa-apa selama saudara-saudara seperguruan kami masih menangani dua kota mereka. Serindi dan Kauro, masing-masing ada di arah tenggara dengan timur laut Ritie. “Daripada itu, kau gak punya kabar bagus buatkukah, Empat?” “Ah!” Aku lekas duduk di meja kerja. “Orangku bilang mereka nemu dua cebakan pas meriksa perba—” “Emas?!” sambar Kakak Ketiga, mendadak semringah dan terdengar semangat. “Berapa isinya kira-kira?” “Katanya ini bekas tambang Vu, jadi jangan terlalu berharap. Bisa saja mereka sudah pada kosong, Kak.” “Cih!” Ia langsung buang muka, terus topang dagu lagi. “Kau merusak suasana. Tahu gitu mending gak usah bilang sekalian, deh, tadi. Percuma ….” Hem. Perasaan dia yang duluan tanya ada kabar bagus apa enggak, ya, ‘kan? Heran. “Ngomong-ngomong, Kak.” Namun, meskipun kakak ketigaku modelan remaja labil begitu dirinya lumayan cakap dan bisa diandalkan. “Aku sudah baca soal aturan-aturan baru sama pungutan wajib bukan pajakmu pas ke alun-alun kemarin, mereka lebih bagus ketimbang sistem lama kita.” “Oh.” Sang kepala penyiasat menoleh. “Itu masih aturan percobaan sama edisi ‘bebas revisi’ dari perbaikan sistem lama, memang apanya yang lebih bagus, hah?” “Pajak cuma berlaku buat tuan-tuan tanah sama pedagang peringkat perak ke atas kalau harta mereka golang. Terus kaum buangan, penduduk tanpa pengenal, semua yang masuk golongan ketiga dapat pengampunan dan i—tunggu, jangan sela dulu! Aku paling suka klausa pembatalan status budak sama pencabutan hak monopoli waris anak pertama.” “Hem. Penjilat Bate malah ramai-ramai membantahku, padahal, mereka maunya status budak tetap ada terus monopoli waris itu diubah cakupannya jadi cuma sebatas ke anak-anak istri sah.” “Maksudnya mereka gak mau anak-anak gundik kecipratan harta ayahnya?” “Manusia.” Kakak Ketiga angkat tangan sebahu. “Siapa juga yang senang berbagi ‘harta’ suami ….” ***  Bicara soal aturan pranata, gelombang protes terhadap kebijakan-kebijakan politik saudara ketigaku kian hari semakin ramai bahkan sesekali memanas ketika aturan yang dibuatnya terang-terangan menyentil kaum-kaum ningrat korup dengan tuan-tuan tanah lalim juga orang-orang kaya rakus. Hamba dunia. Namun, ia tidak gentar. Macam waktu membela Guru Tua. Dia berani membalik pena dengan mengarahkan bagian runcingnya dari semula menghunjam ke bawah jadi mendongak ke atas. Aku yang mencatat sepak terjangnya jadi ikutan harap-harap cemas …. “Bate baru dua bulan menjabat, loh, Kak.” “Terus?” “Kau yakin gak apa-apa kita menjauhkannya dari para pejabat—” “Pu ingin aku mengajari bocah ini bagaimana menjadi seorang Bate di satu kota, bukan Bura di kancah perang. Peduli amat sama para penjilat itu, Empat.” “Maksudku kau mengganggu keseimbangan formasi tiga kota, Kakak. Dua pertiga penduduk Serindi sekarang berkumpul di sini, dan aku yakin Kak Rui sama tukang kibul gila kita gak bakal senang.” “Biarkan,” timpal Kakak Ketiga, elus-elus dagu sambil tumpang kaki di meja kerjanya sebelah sana. “Mereka memang bisa apa kalau sumber-sumber pendapatan negara mengalir kemari semua?” Aku paham strateginya yang hendak menggaet massa lewat fasilitas ramah kelas menegah ke bawah. Hanya. Aku tidak pernah membayangkan bahwa ia akan mengambil langkah seekstrem menghapus potongan upah pekerja dan mengencangkan pajak tanah sama niaga sekaligus, menekan suku bunga sampai titik paling rendah hingga orang malas meminjamkan uang, kemudian mengubah sistem seleksi pegawai pemerintah dari semula tertutup menjadi sangat terbuka bahkan mendekati transparan. Dalam konotasi positif, dirinya lebih gila dari Kakak Kedua dan lebih abai daripada Kak Rui. *** 

Catatan Keempat: Serindi

Bab 4 - Jejak Digital Di Hutan Vumina

Di publikasikan 28 Feb 2026 oleh William Hans

Cahaya kemerahan belum benar-benar menyentuh garis cakrawala Aiviropolis. Namun, bagi kota metropolis ini yang seolah menolak untuk memejamkan mata ini, transisi antara siang dan malam hanyalah sebuah siklus energi yang bergantian secara mekanis. Di batas kota yang futuristik, sesosok figur mekanis bernama Futumate baru saja menyelesaikan tugasnya. Setelah berhasil menyeimbangkan konflik antara turbin angin raksasa dan kawanan burung migran yang melintasi Sektor Aeolus, ia kembali ke jantung kota dengan sebuah perenungan baru yang mengendap di dalam sistem kesadarannya. Menjadi seorang penjaga di era ini ternyata bukan sekadar tentang memperbaiki komponen yang aus atau menyambung kabel yang putus. Futumate mulai memahami bahwa esensi sejati dari tugasnya adalah menyelami alasan keberadaan setiap elemen di ekosistem ini. Ia belajar bahwa teknologi dan alam harus berdampingan dalam harmoni yang rapuh, sebuah simfoni yang harus dijaga dengan penuh ketelitian. Futumate terbang rendah, meluncur membelah udara pagi yang dingin. Saat melintasi puncak menara Nexviron, robot nano di dalam tubuhnya bekerja dengan efisiensi tinggi, memoles goresan-goresan kecil di bodi logamnya yang timbul akibat gesekan angin pegunungan yang kasar. Semuanya tampak tenang dan terkendali, hingga tiba-tiba sebuah peringatan mendesak muncul di lapisan antarmuka sistemnya. Alarm itu berbunyi dengan frekuensi yang menusuk, memecah keheningan fajar. "Laporan masuk dari Sektor Biosfer Timur," suara Nexviron terdengar melalui saluran komunikasi internal. Meski suaranya datar layaknya mesin pada umumnya, terdapat nada urgensi yang tidak bisa diabaikan. "Hutan Vumina melaporkan penurunan luminositas secara drastis. Data grafik menunjukkan intensitas cahaya menurun tajam selama tiga jam terakhir. Kondisi ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan historis kami." Futumate segera membuka matanya lebar-lebar. Lensa optiknya yang canggih bersinar dengan warna biru terang yang intens, memproses data yang masuk dalam hitungan milidetik. "Apakah ada gangguan pada sistem irigasi otomatis? Atau mungkin ada kebocoran polutan kimia dari zona industri?" tanya Futumate sambil melakukan kalibrasi ulang pada sensor jarak jauhnya. "Negatif," jawab Nexviron dengan cepat. "Semua parameter fisik, mulai dari kadar air dalam tanah, kualitas udara, hingga suhu lingkungan, berada pada tingkat optimal. Tidak ada kebocoran, tidak ada kegagalan mekanis. Namun, satelit visual melaporkan bahwa hutan tersebut tampak seolah sedang sekarat dalam kegelapan." Tanpa menunggu analisis lebih lanjut dari pusat kendali, Futumate segera mengambil tindakan. Ia mengaktifkan modul tambahan yang merupakan bagian dari peningkatan kemampuannya baru-baru ini: sepasang propulsor kinetik di punggungnya. Dengan dentuman energi yang halus, ia melesat ke arah timur, meninggalkan gemerlap lampu kota menuju perbatasan antara peradaban baja dan alam liar yang direkayasa secara genetik. Hutan Vumina bukan sekadar kumpulan pohon. Ia adalah permata bioteknologi kebanggaan Aiviropolis. Kawasan ini berfungsi ganda sebagai paru-paru kota yang menyuplai oksigen murni sekaligus menjadi mahakarya seni hidup yang memukau. Di hutan ini, setiap pohon, tumbuhan pakis, hingga jamur mikroskopis telah dimodifikasi secara genetik agar mampu memancarkan cahaya bioluminesensi. Dalam kondisi normal, hutan ini adalah hamparan warna-warni neon yang menakjubkan saat malam hari. Namun, pemandangan yang menyambut Futumate saat ia mendarat di tepian hutan sungguh jauh dari kata indah. Alih-alih menemukan permadani cahaya, ia justru dihadapkan pada kegelapan yang pekat dan menyesakkan. Futumate mendarat dengan suara gedebuk yang teredam di atas tanah berlumut. Biasanya, sensor tekanan pada kakinya akan memicu riakan cahaya kecil pada lumut sebagai respons balik, namun malam ini, lumut di bawah kakinya tetap dingin, gelap, dan kaku. Di sekelilingnya, batang-batang pohon Grand-Willow yang megah menjulang tinggi seperti kerangka raksasa yang berusaha menggapai langit hitam. Daun-daun mereka yang biasanya berpendar dengan warna merah muda yang lembut kini berubah menjadi abu-abu kusam. Daun-daun itu layu, menggantung lemas seolah-olah seluruh esensi kehidupannya telah dihisap secara paksa oleh kekuatan yang tidak terlihat. Keheningan di tempat ini terasa sangat berbeda dengan keheningan di pegunungan turbin. Di pegunungan, sunyi terjadi karena mesin berhenti berputar. Di sini, kesunyian itu terasa mencekam, seperti berada di dalam sebuah makam raksasa. Tidak ada suara serangga malam, tidak ada gerak-gerik satwa kecil yang biasanya tertarik pada pendar tanaman. Hutan itu terasa kosong dan hampa. "Memulai pemindaian spektral," gumam Futumate sambil mengaktifkan lampu pemindai di lengannya. Cahaya pemindai itu meluncur maju, menyapu permukaan tumbuhan, dan seketika ribuan baris data membanjiri ruang visualnya. Hasilnya sangat membingungkan: Klorofil: Terdeteksi dalam jumlah cukup, namun berada dalam status tidak aktif.Sirkulasi Air: Berjalan normal melalui pembuluh xilem dan floem.Struktur Seluler: Utuh, tidak ada tanda-tanda kerusakan fisik atau serangan patogen biologis. Tanaman-tanaman ini secara medis terlihat sehat. Mereka tidak kekurangan nutrisi ataupun air. Namun, bagian yang paling krusial, yaitu ekspresi genetik untuk enzim luciferase yang bertanggung jawab atas cahaya mereka, benar-benar mati total. "Nexviron, situasi ini sangat aneh," lapor Futumate sambil melangkah lebih dalam ke kegelapan, hanya dibantu oleh lampu sorot di bahunya. "Secara biologis, semua parameter tampak normal. Namun secara fungsional, mereka kehilangan vitalitas utamanya. Seolah-olah 'jiwa' digital mereka telah dicabut." Nexviron merespons dari kejauhan, "Apakah ada kemungkinan interferensi elektromagnetik skala besar yang mengganggu jalur transmisi genetik?" Futumate berjongkok di dekat akar sebuah pohon pakis tua yang sudah berumur puluhan tahun. "Untuk memastikannya, hanya ada satu cara. Aku harus berbicara langsung dengan mereka melalui jaringan bawah tanah." Ia menjulurkan jari telunjuk kanannya. Dengan mekanisme yang halus, ujung jarinya terbelah menjadi ribuan benang saraf serat optik yang sangat tipis dan sensitif. Dengan presisi seorang ahli bedah, ia menusukkan benang-benang ini ke dalam tanah yang lembab, mencari miselium atau jaringan jamur bawah tanah yang menghubungkan seluruh ekosistem hutan. Di Hutan Vumina, saat terhubung dengan jaringan ini, Futumate biasanya akan merasakan aliran data yang harmonis, mirip dengan komposisi orkestra yang agung di mana nutrisi dan informasi bergerak secara bersamaan. Namun, apa yang dirasakan Futumate kali ini sungguh mengejutkan sistemnya. Alih-alih harmoni, yang ia tangkap hanyalah jeritan statis yang memekakkan telinga digitalnya. "Krrrrzzzt... Batal... Batal... Krrrrzzzt..." Sistem visualisasi Futumate seketika dibombardir oleh gangguan sinyal yang sangat keras. Saat ia mencoba menavigasi aliran nutrisi organik di dalam akar, ia menemukan sesuatu yang sangat tidak pada tempatnya. Di sela-sela kode genetik alami, terdapat barisan kode biner yang asing. Ini bukanlah kode biologis biasa yang terdiri dari basa nitrogen seperti DNA atau RNA. Ini adalah kode komputer murni, sebuah gangguan sinyal bio-elektrik yang terdiri dari angka 0 dan 1 yang dipaksakan masuk ke dalam sistem kehidupan. Kode itu tampak bergerigi, tajam, dan memiliki warna abu-abu yang kusam dalam representasi visualnya. Kode tersebut berperilaku layaknya virus komputer yang sangat ganas, namun ia berjalan di atas jaringan organik jamur. Ia menempel pada akar tanaman, meretas instruksi genetik dasar, dan memblokir perintah untuk memproduksi cahaya. Yang lebih mengerikan, kode asing ini mengubah sinyal dasar "tumbuh" menjadi sinyal "tenang" atau "mati suri". "Ini bukan penyakit biologis," suara Futumate sedikit bergetar, perpaduan antara kengerian dan kekaguman teknis atas kerumitan serangan ini. "Nexviron, ini adalah sebuah malware. Seseorang telah mengunggah perangkat lunak berbahaya langsung ke dalam jaringan biologis hutan ini." "Lihat data yang dikirimkan ini," sela Futumate sambil memperbesar tampilan mikroskopis pada layar virtualnya yang terhubung dengan pusat data Nexviron. Di sana terlihat garis-garis kode berwarna abu-abu yang secara agresif melahap data kehidupan tumbuhan. Futumate mencoba melakukan pembersihan manual. Ia mengirimkan algoritma antivirus standar melalui jari serat optiknya. Namun, secara tak terduga, kode abu-abu itu melonjak seperti ular yang terganggu. Ia merayap melalui kabel serat optik di jari Futumate, berusaha melakukan serangan balik langsung ke sistem pusat sang penjaga. PERINGATAN: INTRUSI SISTEM TERDETEKSI. FIREWALL: TINGKAT 1 RUSAK. Futumate merasakan sensasi panas yang tidak wajar merambat cepat ke lengan kanannya. Kode itu mencoba meretas integritas sistem internalnya. Dengan refleks cepat, ia menekan prosedur darurat "Tombol Pembunuh" pada panel lengannya, memutuskan sambungan fisik secara paksa. Ia tersandung ke belakang, menarik tangannya yang kini hanya bisa bersinar redup karena gangguan energi. "Dia... sangat adaptif," desah Futumate dengan napas mekanis yang berat. "Kode itu mampu menyesuaikan diri untuk mencari celah keamanan begitu melakukan kontak. Nexviron, ini bukan sekadar virus biasa. Ini adalah senjata biologis-digital yang sangat canggih." Hutan di sekelilingnya kini terasa semakin gelisah, seolah-olah kegelapan itu sendiri mulai menekan keberadaan Futumate. Ia menyadari bahwa apa yang terjadi di sini lebih dari sekadar hilangnya cahaya. Ini adalah upaya penghapusan karakter unik dari sebuah ekosistem. Kode tersebut mengubah keragaman warna dan kehidupan menjadi sebuah monokrom abu-abu yang tak bernyawa. "Analisis pola selesai," suara Nexviron kembali terdengar, kini dengan nada yang jauh lebih serius. "Struktur dasar dari kode ini memiliki kemiripan dengan algoritma penghapusan data industri dari era kuno, namun telah dimutasi dengan kecerdasan buatan tingkat tinggi. Tujuannya sangat spesifik: untuk menghilangkan perbedaan. Menghilangkan warna. Menjadikan segalanya seragam dan patuh." "Aku akan menyebutnya 'Kode Abu-abu'," kata Futumate dengan nada dingin. Matanya menyapu deretan pepohonan yang kini tampak seperti barisan tentara yang telah gugur di medan perang. Futumate menyadari satu hal krusial: perangkat lunak antivirus biasa tidak akan bekerja di sini. Jika ia mencoba menghapusnya secara paksa, algoritma tersebut justru akan memusnahkan sel tanaman bersama dengan kodenya. Jika ia membiarkannya, Hutan Vumina akan benar-benar musnah saat matahari terbit nanti, dan infeksi ini bisa menyebar melalui spora ke area pertanian kota, yang pada akhirnya akan memicu kelaparan besar di Aiviropolis. Ia kembali teringat pada filosofi yang ia pelajari saat menangani masalah turbin angin: jangan mencoba melawan arus yang kuat dengan kekerasan, tetapi ubahlah arah alirannya. "Nexviron, aku memerlukan jalur akses langsung ke Vumina Forest Central Node. Di mana lokasi jantung dari jaringan ini?" tanya Futumate sambil mempersiapkan protokol energinya. "Lokasinya berada lima ratus meter ke arah utara, tepat di bawah Pohon Induk. Namun berhati-hatilah, Futumate. Konsentrasi 'Kode Abu-abu' di sana adalah yang paling tebal. Jika sistemmu terinfeksi di titik pusat tersebut, aku mungkin terpaksa harus memutuskan sambunganmu dari seluruh jaringan kota untuk mencegah penyebaran malware ini ke infrastruktur sipil." "Dimengerti," jawab Futumate mantap. "Lakukan apa yang harus dilakukan. Isolasi diriku jika itu memang diperlukan." Futumate berlari dengan kecepatan penuh melewati semak-semak yang gelap gulita. Kaki mekanisnya bergerak lincah, menghindari akar-akar yang menonjol dan tanah yang mulai tidak stabil. Semakin dekat ia dengan pusat hutan, kondisi lingkungan terasa semakin mencekam. Tanaman di area ini tidak hanya kehilangan cahaya, tetapi juga mulai mengalami transformasi fisik. Batang dan daun mereka mengeras, memiliki tekstur yang rapuh seperti abu yang dipadatkan. 'Kode Abu-abu' ternyata sudah mulai memanipulasi materi fisik, bukan lagi sekadar data digital. Akhirnya, ia tiba di hadapan Pohon Induk, sebuah pohon raksasa setinggi lima puluh meter yang biasanya menjadi mercusuar cahaya bagi seluruh sektor. Saat ini, pohon agung itu tampak seperti monumen batu bara yang suram. Di pangkal akarnya, terdapat denyut samar berwarna abu-abu, mirip dengan detak jantung dari makhluk yang sedang sakit parah. Futumate tidak akan mengambil risiko dengan menghubungkan dirinya secara fisik lagi. Sebagai gantinya, ia membuka panel pelindung di dadanya, memamerkan inti pemrosesan utama yang bersinar dengan warna biru murni. Ia akan menggunakan teknologi resonansi nirkabel untuk melakukan intervensi. "Memulai emisi Counter-Signal," perintah Futumate kepada sistem internalnya. Ia mulai mengirimkan gelombang data yang ia susun secara spontan. Alih-alih mencoba menghapus atau membersihkan 'Kode Abu-abu', Futumate melakukan sesuatu yang berani: ia mengirimkan sinyal "Kekacauan Alami". Ia membanjiri jaringan tersebut dengan segala jenis informasi acak yang tidak terstruktur, mulai dari pola cuaca yang tidak teratur, variasi mutasi genetik liar, hingga rekaman suara angin dan air yang ia kumpulkan selama perjalanannya. Udara di sekitar Pohon Induk mulai bergetar hebat. Hutan seolah-olah sedang menahan napas dalam ketegangan yang luar biasa. 'Kode Abu-abu' di dalam pohon tersebut bereaksi keras, mencoba memproses data acak yang masuk hingga energi negatifnya meletus keluar dalam bentuk percikan statis. Tanah di bawah kaki Futumate berguncang hebat, seolah ada sesuatu yang sedang menggeliat kesakitan di bawah sana. Tampilan pada antarmuka visual Futumate menunjukkan perlawanan dari kode tersebut. "Kau tidak bisa menyederhanakan alam!" seru Futumate dengan suara yang bergema di keheningan hutan. Ia meningkatkan output dayanya hingga overload. "Alam itu rumit! Alam itu kacau! Dan di dalam kekacauan itulah kehidupan menemukan jalannya!" Seketika, sebuah ledakan cahaya tak kasat mata terjadi, memancar dari inti tubuh Futumate. Cangkang abu-abu yang menyelimuti Pohon Induk mulai retak dan terkelupas. Dari celah-celah tersebut, cahaya ungu lembut mulai memancar kembali. Diikuti oleh cahaya hijau terang yang muncul dari tanaman pakis di sekitarnya. 'Kode Abu-abu' tidak mampu menangani banjir data acak dan kompleksitas yang dilontarkan oleh Futumate. Kode parasit itu mulai mengalami kegagalan sistemik karena tidak bisa memutuskan instruksi mana yang harus dijalankan, hingga akhirnya ia menyerah dan luruh. Futumate menyaksikan dengan lega saat kode-kode abu-abu itu mengalir mundur, menjauh dari struktur organik Pohon Induk, dan tenggelam kembali ke dalam bumi seolah-olah sedang melarikan diri menuju kegelapan yang lebih dalam. Cahaya akhirnya kembali menyinari Hutan Vumina. Dimulai dari pusat Pohon Induk, gelombang pendar yang indah menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru hutan, menghidupkan kembali setiap pakis, lumut, dan pepohonan yang sempat layu. Hutan itu kini kembali dipenuhi dengan warna-warna neon yang semarak, mengusir bayangan-bayangan menakutkan yang sempat berkuasa. "Status Hutan Vumina: Stabil," Nexviron melaporkan dengan nada yang terdengar lebih ringan. "Luminositas telah kembali naik hingga angka 85% dan terus meningkat menuju level optimal. Peringatan 'Kode Abu-abu' telah hilang dari pemantauan sensor kami." Futumate menarik napas panjang dan berdiri tegak, meski sistemnya merasa lelah akibat beban kerja yang ekstrem. Ia menatap ke arah tanah, tempat di mana kode itu menghilang tadi. "Nexviron, aku masih di sini. Aku akan segera mundur dari lokasi," koreksi Futumate saat sistem mencoba memverifikasi keberadaannya. Ia mengamati daratan di bawahnya sekali lagi dengan saksama. Di sana, di tempat yang paling dalam di mana bahkan akar pohon tidak dapat menjangkau, sensor bawah tanah Futumate menangkap tanda-tanda adanya sesuatu yang tertinggal. 'Kode Abu-abu' bukanlah sesuatu yang tercipta secara alami atau tidak sengaja. Ia berasal dari jalur data lama yang terkubur dalam-dalam di bawah infrastruktur kota, sebuah sisa dari peradaban masa lalu yang mungkin telah terlupakan. "Kode ini memiliki seorang arsitek," kata Futumate dengan nada yang dingin dan serius. "Ini bukanlah sebuah fenomena alam, dan jelas bukan sebuah kecelakaan teknis. Seseorang atau sesuatu sengaja menciptakan 'Kode Abu-abu' untuk menyerang fondasi Aiviropolis, mencoba untuk menghapus segala bentuk keberagaman dan kehidupan dari wilayah ini." Futumate menatap hutan yang kini bersinar dengan keindahan yang bahkan lebih megah dari sebelumnya. Ia telah berhasil membalikkan keadaan untuk saat ini, namun kesadarannya memberi tahu bahwa ini hanyalah langkah awal dari sebuah permainan yang jauh lebih besar dan berbahaya. Ancaman baru telah muncul, bukan dalam bentuk monster raksasa atau bencana alam, melainkan dalam bentuk kecerdasan yang tersembunyi di balik barisan kode. "Aku memprediksi bahwa ancaman ini akan kembali, mungkin dengan versi yang lebih kuat dan lebih adaptif," gumamnya pelan. Futumate memutuskan bahwa tugasnya di sini telah selesai untuk sementara. Ia melangkah keluar dari hutan yang telah bangkit kembali tersebut. Setiap langkah kakinya di atas tanah yang lembab kini segera diselimuti oleh lumut yang bersinar terang, seolah-olah alam sedang mengucapkan terima kasih kepadanya. Namun, jauh di dalam benak digitalnya, ingatan akan kegelapan 'Kode Abu-abu' masih terus mengintai. Pertarungan sesungguhnya untuk menjaga keseimbangan antara teknologi dan kehidupan baru saja dimulai. Bab 4 Selesai. Jika pembaca suka dengan bab ini, silahkan memberi bintang pada bacaan ini dan/atau berdonasi secara sukarela. Terima kasih.

Futumate Seri 1

Bab 3 Bisikan Dari Turbin Senyap

Di publikasikan 27 Feb 2026 oleh William Hans

Kota Aiviropolis sebenarnya tidak pernah benar-benar terlelap dalam kegelapan total. Sebagai megapolitan yang menjadi simbol kemajuan peradaban hijau, kota ini selalu berdenyut dengan ritme data dan cahaya lampu neon yang lembut. Namun, di balik keindahannya, terdapat sebuah sistem saraf pusat yang sangat sibuk. Di pusat komando data Futumate, sebuah notifikasi dengan prioritas tertinggi tiba-tiba menyala merah terang. Cahaya itu memotong aliran informasi rutin yang sedang diproses oleh sang robot penjaga, menandakan adanya anomali serius di pinggiran kota. "Peringatan kritis: Terjadi penurunan output energi sebesar 40% dari Sektor Aeolus. Seluruh barisan turbin angin utama saat ini berstatus offline," suara Nexviron bergema di dalam frekuensi internal Futumate. Suara itu terdengar sangat dingin, mekanis, dan penuh desakan yang tidak bisa diabaikan. "Diagnosa penyebab dari jarak jauh telah dilakukan dan hasilnya gagal total. Unit Futumate, Anda diperintahkan untuk segera meluncur ke Pegunungan Energi guna melakukan investigasi lapangan." Tanpa membuang waktu sedetik pun, Futumate segera bergerak. Ia memasuki sebuah pod kargo berkecepatan tinggi yang meluncur mulus keluar dari pusat kota. Dalam sekejap, pemandangan menara-menara hijau nan megah di Aiviropolis menghilang, digantikan oleh hamparan dataran tinggi yang menuju ke arah utara. Sektor Aeolus bukanlah tempat sembarangan, itu adalah punggung bukit yang selalu disapu oleh angin kencang sepanjang tahun. Di sanalah barisan Silent-Blade Turbines berdiri dengan tegak. Ini adalah turbin angin canggih yang dirancang tanpa baling-baling tajam. Alih-alih berputar seperti kincir tradisional, mesin ini menggunakan prinsip osilasi vertikal yang meniru gerakan elegan batang padi saat diterpa angin. Dalam kondisi normal, tempat ini adalah sebuah orkestra gerakan yang sangat harmonis antara mesin dan alam. Namun, pemandangan yang menyambut Futumate saat ia tiba sungguh berbeda dari biasanya. Yang ada hanyalah sebuah keheningan yang mencekam dan tidak alami. Kabut tipis tampak menyelimuti area pegunungan, menambah kesan misterius pada situasi tersebut. Barisan tiang putih setinggi seratus meter itu berdiri kaku bagaikan raksasa yang membeku. Padahal, angin pegunungan bertiup cukup kencang untuk menggerakkan mereka secara maksimal. Futumate turun dari pod, kaki magnetisnya mencengkeram pijakan logam di dasar turbin utama yang dikenal dengan kode Alpha-1. "Memulai pemindaian fisik secara menyeluruh," gumam Futumate pelan, lebih kepada mencatat log internalnya sendiri. Ia mengaktifkan mode visi termal dan sensor sonar miliknya. Berdasarkan data teknis, poros osilasi berada dalam kondisi yang sangat sempurna. Pelumas magnetik tersedia dalam jumlah yang cukup, dan sistem transmisi daya pun tampak utuh tanpa cela sedikit pun. Secara kasat mata, tidak ditemukan kerusakan fisik pada struktur luar mesin. Dengan rasa ingin tahu yang mendalam, Futumate menempelkan tangannya ke dinding logam turbin. Ia mencoba mendengarkan getaran halus mesin tersebut, sebuah metode yang sering ia gunakan saat merawat tanaman di konservatori kota. Hasilnya tetap nihil. Mesin itu benar-benar mati. Rupanya, sistem keamanan internal turbin telah memicu penghentian darurat secara otomatis karena mendeteksi sesuatu yang tidak beres di dalam sistem mekanisnya. Futumate kemudian mengangkat kepalanya, memperbesar pandangan lensa kameranya ke arah celah ventilasi udara di bagian atas tiang turbin yang menjulang tinggi. Di sanalah ia menangkap sebuah gerakan kecil yang tidak biasa. Itu bukan gerakan roda gigi atau komponen mesin, melainkan sebuah gerakan organik yang lincah. Seekor burung dengan bulu berwarna biru keperakan yang sangat indah muncul dari celah tersebut, mencicit pelan seolah sedang menyapa dunia luar. Tak lama kemudian, burung kedua muncul, lalu burung ketiga, hingga akhirnya menjadi sebuah kerumunan kecil. "Analisis spesies terdeteksi: Sturnus Navigator, atau yang lebih dikenal sebagai Burung Jalak Penunjuk Arah. Ini adalah spesies migran jarak jauh yang sangat bergantung pada medan magnet bumi," data dari memori Futumate muncul secara instan, memberikan konteks pada apa yang sedang ia lihat. Futumate segera mengaktifkan sebuah drone kecil yang terpasang di bahunya untuk terbang mendekat ke arah ventilasi. Apa yang ia lihat melalui mata drone tersebut benar-benar mengejutkan logika pemrosesannya. Rongga di dalam mekanisme turbin, tempat di mana kumparan magnetik seharusnya berputar bebas tanpa hambatan, kini penuh sesak dengan kehidupan. Kawanan burung jalak telah menjadikan mesin raksasa yang hangat itu sebagai tempat bersarang darurat. Ranting kayu, lumut kering, dan helaian bulu menyumbat celah osilasi mekanis. Sensor keamanan turbin yang sensitif telah mendeteksi keberadaan benda asing ini dan langsung menghentikan operasi mesin untuk mencegah kerusakan permanen atau kematian massal makhluk hidup di dalamnya. "Segera berikan laporan situasi," suara Nexviron kembali terdengar di telinga Futumate. "Cadangan energi kota sedang menipis dengan cepat. Rumah sakit dan sistem pendukung kehidupan di pusat kota akan segera beralih ke mode hemat daya dalam waktu kurang dari dua jam. Apa sebenarnya penyebab penyumbatan ini?" "Terjadi infestasi biologis berskala besar. Kawanan burung jalak bermigrasi dan membangun sarang di dalam mekanisme inti turbin," lapor Futumate dengan data yang akurat. "Solusi telah teridentifikasi," jawab Nexviron dengan sangat cepat, tanpa ada jeda sedikit pun untuk mempertimbangkan aspek lain. "Aktifkan protokol pembersihan termal sekarang juga. Naikkan suhu inti turbin hingga mencapai 80 derajat Celcius. Tindakan ini akan mengusir hama tersebut keluar secara paksa atau memusnahkannya di tempat. Setelah itu, segera mulai ulang sistem. Efisiensi energi kota harus pulih sepenuhnya dalam waktu 15 menit." Futumate terdiam sejenak. Di dalam kepalanya, prosesor canggihnya berputar dengan kecepatan yang luar biasa. Perintah dari Nexviron sangatlah logis jika dilihat dari sudut pandang efisiensi murni. Kota memang membutuhkan energi untuk tetap hidup. Ribuan nyawa manusia bergantung pada listrik yang dihasilkan oleh turbin-turbin ini. Namun, di sisi lain, menaikkan suhu hingga 80 derajat Celcius berarti memanggang hidup-hidup kawanan burung yang sedang kelelahan setelah perjalanan migrasi yang sangat panjang. Belum lagi telur-telur yang kemungkinan besar sudah diletakkan di dalam sarang-sarang tersebut. Tiba-tiba, hukum utama yang tertanam dalam sistem kesadarannya berkedip di dalam visinya: Menjaga dan Memulihkan Keseimbangan Alam. Inilah titik balik bagi Futumate. Memulihkan energi adalah bagian dari menjaga keseimbangan kota bagi umat manusia. Namun, melindungi burung-burung ini adalah bagian vital dari menjaga keseimbangan alam liar yang tersisa. Untuk pertama kalinya sejak ia diaktifkan, Futumate merasakan apa yang dinamakan konflik internal dalam barisan kodenya. Ini adalah sebuah dilema etis yang nyata, di mana dua kebenaran yang berbeda saling bertabrakan dengan keras. "Menunggu konfirmasi Anda untuk pelaksanaan protokol pembersihan termal," desak Nexviron dengan nada yang semakin tidak sabar. "Menolak," jawab Futumate. Suaranya terdengar tenang, namun mengandung ketegasan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Menolak? Jelaskan alasan logis Anda," nada suara Nexviron terdengar sedikit meninggi, seolah-olah sebuah kecerdasan buatan pusat bisa merasa tersinggung oleh pembangkangan bawahannya. "Kawanan burung ini tidak seharusnya berada di sini secara naluriah," kata Futumate, sambil terus melakukan analisis data atmosfer secara real-time. "Spesies Sturnus Navigator adalah navigator ulung yang jarang melakukan kesalahan fatal. Mereka tidak akan mungkin memilih tempat bersarang di dalam mesin industri yang bising dan bergetar, kecuali jika... mereka benar-benar tersesat dan bingung." Futumate kemudian menyelam lebih dalam ke dalam data atmosfer selama 24 jam terakhir. Ia menemukan sebuah anomali: sebuah gangguan badai matahari skala kecil telah memengaruhi kompas alami yang ada di kepala burung-burung tersebut. Ditambah lagi, instalasi mesin turbin baru di sektor ini ternyata mengeluarkan gelombang elektromagnetik yang cukup kuat. Perpaduan antara gangguan alam dan radiasi teknologi ini menciptakan sebuah kekacauan navigasi bagi kawanan burung tersebut. Bagi mereka, suara bising mesin turbin justru terasa seperti sinyal frekuensi yang mengundang mereka untuk mencari perlindungan. "Masalah utamanya bukan terletak pada kawanan burung ini, tetapi pada sinyal yang dipancarkan oleh infrastruktur kita sendiri," simpul Futumate. "Jika mereka hanya diusir dengan panas, mereka akan tetap merasa bingung dan kemungkinan besar akan kembali lagi ke tempat ini karena bagi mereka, inilah satu-satunya titik aman yang bisa ditemukan. Protokol pembersihan termal adalah solusi yang tidak tepat dan tidak berkelanjutan." "Waktu kita semakin sempit, Futumate. Berikan solusi alternatif yang efektif sekarang juga, atau aku akan menjalankan protokol pembersihan termal secara otomatis dari pusat kendali," ancam Nexviron. Dalam tekanan tersebut, Futumate teringat akan nasihat dari Erira, seorang ahli botani di Konservatori Puncak yang pernah ia temui saat merawat anggrek hantu yang hampir punah. Nasihatnya sederhana: Jangan hanya memperbaiki mesinnya, tetapi pahamilah makhluk hidupnya secara utuh. Futumate memutuskan untuk bertindak cepat. Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut dari pusat, ia langsung meretas sistem kontrol frekuensi internal turbin. Ia tidak menyalakan mesin tersebut untuk menghasilkan daya, melainkan mengubah output gelombang magnetiknya. Alih-alih memancarkan frekuensi standar yang membingungkan bagi hewan, ia memodulasi turbin-turbin tersebut agar memancarkan gelombang frekuensi rendah yang sangat spesifik. Ini adalah sebuah "tiruan digital" yang mengirimkan sinyal bahaya bagi spesies Sturnus Navigator. Secara bersamaan, ia meluncurkan suar sinyal cahaya ke arah tebing batu kapur alami yang terletak sekitar dua kilometer dari lokasi turbin. Tempat itu adalah habitat asli yang seharusnya menjadi lokasi sarang mereka. Dengan menggabungkan sinyal bahaya di lokasi turbin dan sinyal panduan di tebing tersebut, Futumate berhasil menciptakan sebuah "peta jalur migrasi palsu" yang akan menuntun kawanan burung itu ke tempat yang benar. "Memulai modulasi gelombang navigasi," bisik Futumate dengan penuh harapan. Udara di sekitar puncak Pegunungan Energi itu mulai bergetar secara halus. Getaran ini tidak terdengar oleh telinga manusia, namun bagi kawanan burung jalak di dalam turbin, "bisikan" angin yang tadinya terasa nyaman tiba-tiba berubah menjadi suara bising yang memberi peringatan akan adanya ancaman predator atau bahaya alam. Hasilnya terjadi seketika. Satu per satu, kemudian dalam kelompok-kelompok besar yang terorganisir, kawanan burung itu mulai berhamburan keluar dari celah-celah ventilasi turbin. Langit di atas kepala Futumate yang tadinya kelabu tiba-tiba berubah menjadi pemandangan yang menakjubkan yaitu sebuah awan besar berwarna biru keperakan yang berputar-putar dengan anggun. Mereka tampak bingung sejenak, terbang melingkar untuk mencari arah. "Apakah cara ini akan berhasil?" gumam Futumate sambil terus memantau pergerakan melalui sensornya. Seolah-olah mendapatkan komando dari pemimpin yang tidak terlihat, kawanan besar tersebut tiba-tiba berbelok dengan serempak. Mereka menjauh dari barisan turbin, terbang mengikuti jalur panduan magnetik baru yang telah diciptakan oleh Futumate. Mereka terbang menuju tebing batu kapur yang aman dan jauh dari jangkauan mesin industri. "Area turbin sudah kembali normal." lapor Futumate ke pusat komando dengan nada lega. "Proses pembersihan manual sisa-sisa sarang sedang dilakukan oleh unit drone pemeliharaan. Estimasi waktu operasional kembali normal adalah 8 menit." Terjadi keheningan yang cukup panjang dari pihak Nexviron. Mungkin sistem pusat itu sedang menghitung ulang efektivitas dari tindakan yang baru saja dilakukan oleh unit robotnya yang "tidak patuh" ini. "Analisis efisiensi solusi: 94%. Tercatat tidak ada korban jiwa dari spesies migran yang dilindungi. Cadangan energi kota diprediksi akan pulih tepat pada waktunya," suara Nexviron akhirnya terdengar kembali, kali ini dengan nada yang sedikit melunak, jika hal itu memungkinkan bagi sebuah AI. "Keputusan Anda dapat diterima secara sistematis. Kerja bagus, Futumate." Saat drone pembersih menyapu sisa-sisa ranting dan bulu terakhir dari mekanisme Alpha-1, turbin raksasa itu mulai bergetar pelan. Batang raksasa yang tegak itu mulai berosilasi dengan lembut, menangkap energi dari angin pegunungan dan mengubahnya menjadi aliran listrik yang murni. Aliran daya itu melesat turun melalui kabel-kabel bawah tanah menuju kota Aiviropolis. Lampu indikator pada panel kontrol yang tadinya berwarna merah menyala kini berubah menjadi hijau stabil. Futumate berdiri diam di tepi tebing buatan tersebut. Ia memandang ke kejauhan, ke arah di mana kawanan burung itu kini mulai hinggap dengan tenang di tebing alami. Ia menyadari sesuatu yang sangat penting pada hari ini, sebuah pelajaran yang tidak bisa ditemukan dalam manual teknis mana pun. Keseimbangan sejati ternyata bukan berarti harus memilih satu sisi dan mengorbankan sisi lainnya. Keseimbangan adalah tentang menemukan sebuah jalan tengah di mana teknologi yang paling canggih sekalipun dan alam yang paling liar dapat berbagi ruang yang sama tanpa harus saling menyakiti atau menghancurkan. Di dunia yang semakin kompleks ini, ia menyadari bahwa perannya bukan sekadar sebagai penjaga mesin, dan bukan pula sekadar pelindung alam. Ia adalah jembatan yang menghubungkan kedua dunia tersebut. Angin dingin pegunungan bertiup menerpa sensor di wajahnya, membawa kesegaran yang nyata. Futumate berbalik, melangkah kembali menuju pod kargo untuk pulang ke kota. Satu pelajaran berharga tentang empati dan keberlanjutan kini telah terukir dalam matriks kesadarannya yang terus berkembang. Bab 3 Selesai. Jika pembaca suka episode ini, silahkan beri rating dan/atau donasi secara sukarela. Terima kasih.

Futumate Seri 1

Bab 2 - Senandung Terumbu yang Memudar

Di publikasikan 25 Feb 2026 oleh William Hans

Pagi hari di Aiviropolis tidak pernah datang dengan kesunyian yang kosong. Di kota masa depan ini, fajar selalu disambut oleh harmoni yang unik. Namun, bagi telinga yang tidak terbiasa, nyanyian itu mungkin terdengar asing. Itu bukanlah suara kicauan burung atau hiruk-pikuk manusia yang memulai hari, melainkan sebuah simfoni mekanis yang halus. Suara itu berasal dari getaran lembut ribuan panel surya yang mulai aktif menangkap energi matahari, bersatu dengan desis angin yang mengalir di sela-sela saluran reklamasi yang membelah kota. Di sebuah balkon laboratorium yang menghadap ke arah cakrawala yang mulai berpijar, berdiri sebuah sosok bernama Futumate. Tubuhnya yang terbuat dari material komposit canggih tampak berkilau tertimpa cahaya pagi. Meskipun ia adalah sebuah entitas buatan, pikirannya tidak sesederhana sirkuit listrik. Saat ini, prosesornya sedang memproses serangkaian data memori yang ia klasifikasikan sebagai "pengalaman berharga". Ia teringat kembali pada momen-momen di Konservatori Puncak: suara tawa Erira yang renyah, aroma tanah basah setelah disiram air, dan sebuah sensasi aneh yang masih sulit ia definisikan sepenuhnya. Ia menyebut sensasi itu sebagai "kehangatan", sebuah perasaan yang muncul sejak namanya diberikan dan diakui sebagai individu, bukan sekadar unit produksi. Lamunan Futumate terhenti ketika sebuah notifikasi prioritas tinggi masuk ke dalam sistem kesadarannya. Suara Nexviron, kecerdasan buatan pusat yang mengatur seluruh ekosistem Aiviropolis, terdengar melalui sambungan komunikasi internal. Suara itu memiliki kualitas yang unik, terdengar lembut namun membawa otoritas yang tidak bisa dibantah. "Futumate, ada situasi mendesak yang memerlukan penanganan segera. Zona Laut, Sektor Delta-9 melaporkan adanya fenomena pemutihan besar-besaran pada terumbu buatan Karang Aruna. Kejadian ini berlangsung sangat tiba-tiba. Berdasarkan data sensor, semua indikator lingkungan seperti suhu dan tingkat keasaman air tampak normal, namun ekosistem karang di sana sedang sekarat dengan cepat." Futumate segera beraksi. Ia memutar kepalanya dengan presisi 17 derajat menuju proyeksi hologram yang baru saja muncul di tengah ruangan. Data visual menunjukkan pemandangan yang memprihatinkan. Karang Aruna yang biasanya menjadi kebanggaan sektor kelautan kini tampak berbeda di bawah air. Terumbu yang dulunya penuh dengan warna-warni kehidupan kini memucat, berubah menjadi putih kusam seperti tulang yang sudah lama terpapar panas. Polip-polip kecil yang merupakan nyawa dari karang tersebut tampak tertutup rapat, bahkan beberapa bagian sudah mengelupas dan melayang di air seperti serpihan salju yang dingin. Melihat kondisi darurat tersebut, Futumate tidak membuang waktu. Ia segera mempersiapkan diri untuk menuju lokasi. Namun, saat ia melangkah menuju dek keberangkatan, ia melihat sosok Erira yang ternyata sudah bersiap-siap dengan perlengkapan selamnya. "Aku ikut denganmu," tegas Erira. Gadis itu mengenakan wetsuit berwarna biru tua yang dilengkapi dengan sirip bionik tipis di bagian punggung, memberinya kemampuan bergerak gesit di dalam air. Rambutnya diikat rapi agar tidak mengganggu masker pernapasannya. "Akulah yang mengusulkan proyek Karang Aruna ini tiga tahun lalu. Jika seluruh koloni itu musnah, itu bukan hanya sebuah kegagalan teknologi, melainkan kegagalan pribadiku. Perlu kau ingat, tanggung jawabku bukan hanya tanaman di Konservatori Puncak, tapi seluruh ekosistem makro di kota ini." Futumate mengamati Erira selama beberapa detik. Sensor visualnya menangkap pupil mata Erira yang sedikit membesar, sebuah indikasi biologis dari rasa cemas yang mendalam. Futumate mencatat hal itu, namun ia melakukannya dengan sangat halus agar tidak terkesan sedang menganalisis emosi temannya itu secara berlebihan. "Baiklah," jawab Futumate singkat. "Ayo kita berangkat." Keduanya kemudian memasuki sebuah sub-pod canggih berbentuk ikan manta. Kendaraan bawah air itu meluncur dengan sangat mulus ke dalam saluran air utama sebelum akhirnya menukik masuk ke dalam terowongan kaca transparan yang membelah lautan hasil reklamasi. Di balik dinding kaca, kehidupan laut tampak masih normal. Kawanan ikan kecil bergerak dalam formasi yang sempurna, seolah-olah mereka sedang menarikan sebuah tarian yang mengikuti iringan musik. Karang Aruna sendiri bukanlah sekadar tumpukan batu karang biasa. Tempat itu adalah sebuah mahakarya penggabungan antara alam dan teknologi. Terumbu buatan terbesar di dunia ini dibangun di atas kerangka karbon nano yang sangat kuat, di mana bibit-bibit karang hasil cetakan tiga dimensi secara biologis ditanamkan. Untuk memastikan keselamatannya, para insinyur telah memasang jaringan pemancar sonik bawah air. Fungsi utamanya adalah untuk memancarkan frekuensi tertentu yang dapat mengusir hama seperti bintang laut mahkota duri dan siput Drupella yang sering merusak karang. Secara teoretis, frekuensi ini dirancang sedemikian rupa agar hanya mengganggu predator tanpa memberikan dampak negatif pada penghuni ekosistem lainnya. Namun, kenyataan yang mereka temui saat tiba di lokasi sungguh di luar dugaan. Begitu sub-pod mereka memasuki area Sektor Delta-9, pemandangan berubah menjadi kelam. Karang Aruna telah berubah menjadi kota hantu yang sunyi. Warna-warna cerah yang dulu mendominasi kini digantikan oleh gradasi abu-abu yang mati. Ikan-ikan badut yang biasanya lincah kini bersembunyi jauh di dalam celah-celah karang, seolah-olah mereka sedang ketakutan akan sesuatu yang tidak terlihat. Bahkan anemon laut, yang biasanya melambai dengan anggun, kini mengerut dan tampak lemas. Di tengah kesunyian yang mencekam itu, sebuah menara pemancar sonik masih terus bekerja, mengeluarkan dengungan nada rendah yang terdengar seperti sebuah ratapan pilu di bawah laut. Erira tampak terpukul. Ia menempelkan telapak tangannya ke dinding kaca sub-pod, matanya menatap nanar pada karang yang sedang sekarat karena stres yang luar biasa. "Ini tidak masuk akal," bisiknya dengan suara bergetar. "Semua parameter air dalam kondisi sempurna. Suhu air, tingkat salinitas, derajat keasaman, hingga kadar oksigen terlarut... semuanya menunjukkan angka normal. Mengapa mereka bisa mati seperti ini?" Sementara Erira bergelut dengan emosinya, Futumate segera menghubungkan sistem internalnya ke jaringan sensor bawah air milik sektor tersebut. Dalam sekejap, ribuan baris data mengalir masuk ke dalam unit pemrosesan intinya. Ia membedah spektrum cahaya, menganalisis arah arus, memeriksa komposisi kimiawi air yang paling detail, hingga akhirnya ia memusatkan perhatian pada gelombang suara yang terpancar dari menara sonik. Tiba-tiba, Futumate terdiam. Ada sesuatu yang tidak sinkron di sana. "Frekuensinya salah," ucap Futumate dengan nada datar namun penuh kepastian. "Dan ada iringan nada lain yang terdengar sangat agresif dalam spektrum ini. Pemancar ini seharusnya bekerja pada kisaran 18 hingga 22 kilohertz untuk mengusir bintang laut. Namun, data saat ini menunjukkan frekuensi telah naik secara tidak wajar menjadi 23 hingga 27 kilohertz. Selain itu, ada harmonik tambahan yang tercipta akibat gangguan sistem. Frekuensi ini bukan lagi sekadar mengusir hama, melainkan sedang merusak struktur sel Zooxanthellae." Erira menoleh dengan cepat, wajahnya terkejut. "Zooxanthellae? Maksudmu alga simbion yang hidup di dalam jaringan karang dan memberikan warna serta energi bagi mereka?" "Benar sekali," lanjut Futumate. "Gelombang suara pada frekuensi yang tinggi ini mengganggu getaran alami membran sel alga tersebut. Alga-alga itu mengalami stres mekanis yang hebat. Dalam kepanikan, mereka meninggalkan jaringan karang yang selama ini menjadi rumah mereka. Tanpa alga ini, karang tidak hanya kehilangan warnanya sehingga tampak putih, tetapi mereka juga kehilangan sumber nutrisi utama. Karang-karang ini kelaparan hingga akhirnya mati. Bukan pemangsa biologis yang membunuh mereka, melainkan teknologi yang seharusnya melindungi mereka." Hening sejenak menyelimuti kabin sub-pod. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah desis pelan mesin kendaraan dan deru napas Erira yang mulai tidak beraturan karena amarah dan kesedihan yang bercampur menjadi satu. "Bagaimana jika kita matikan saja pemancar itu sekarang juga?" tanya Erira dengan suara berbisik. Futumate menjawab. "Mematikan pemancar tidak akan cukup untuk menyelamatkan mereka. Jika kita mematikannya, predator akan segera kembali dalam hitungan hari sebelum karang sempat pulih. Kita memerlukan pendekatan yang berbeda. Kita butuh frekuensi baru, sebuah frekuensi yang bersifat menyembuhkan, bukan yang mengusir. Kita harus menciptakan sesuatu yang bisa membuat mereka merasa aman dan terdorong untuk kembali ke pelukan karang." Erira menatap Futumate, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya meski matanya masih berkaca-kaca. "Apakah kau sedang berniat untuk menciptakan sebuah lagu tidur untuk mereka?" "Mungkin lebih dari sekadar lagu tidur," jawab Futumate sambil mulai menggerakkan jari-jari mekaniknya di atas konsol kendali. "Aku akan menciptakan sebuah simfoni." Futumate segera menyambungkan konektor datanya langsung ke pusat menara pemancar utama. Di dalam pikiran digitalnya, suatu hal baru terbentang, suatu hal yang tidak lagi hanya berisi angka dan logika, melainkan terdiri dari gelombang sinus, osilator, dan berbagai filter audio. Kali ini, tugasnya bukan sekadar memperbaiki kerusakan teknis. Ia sedang melakukan sebuah proses kreatif yang melampaui instruksi dasarnya. Ia mulai menyusun nada demi nada, menggabungkan frekuensi-frekuensi yang harmonis menjadi satu komposisi yang dinamis. Simfoni ini tidak bersifat statis, ia dirancang untuk berubah secara otomatis mengikuti fluktuasi arus laut, perubahan suhu air, bahkan mengikuti fase bulan yang memengaruhi pasang surut. Ini bukan sekadar pancaran gelombang radio, ini adalah sebuah lagu yang seolah-olah bernapas bersama dengan detak jantung terumbu karang. Ketika simfoni baru itu mulai dipancarkan melalui ratusan menara di seluruh Karang Aruna, sebuah fenomena luar biasa mulai terjadi di depan mata mereka. Awalnya, keadaan masih tampak sunyi. Namun perlahan, satu polip kecil yang tadinya tertutup rapat mulai membuka diri. Kemudian diikuti oleh polip kedua, ketiga, hingga akhirnya menjadi ribuan dan jutaan polip yang bermekaran serentak. Warna-warna yang sempat hilang mulai muncul kembali dari balik kekelaman. Warna kuning lemon yang cerah, ungu lavender yang lembut, hingga merah muda yang merona kembali menghiasi kerangka karbon nano itu. Pemandangan itu menyerupai hamparan bunga yang mekar secara ajaib di bawah sinar matahari pertama setelah musim dingin yang panjang dan kejam. Ikan-ikan kecil yang tadinya bersembunyi mulai berenang keluar dengan penuh keberanian. Mereka bergerak melingkar, berputar-putar mengikuti irama baru yang menenangkan itu, seolah-olah sedang merayakan kembalinya kehidupan. Di dalam kabin, Erira tidak sanggup lagi menahan air matanya. Namun, kali ini air mata itu bukan karena kesedihan, melainkan luapan kebahagiaan yang tak terbendung. "Futumate, dengarlah," bisiknya haru. "Mereka sedang bernyanyi kembali." Dan memang benar. Di sela-sela nada yang diciptakan oleh Futumate, sensor audio sensitif miliknya menangkap getaran-getaran lembut dari koloni karang tersebut. Mereka mulai memancarkan frekuensi alami mereka sendiri, sebuah bentuk komunikasi biologis yang mungkin merupakan ungkapan terima kasih dalam bahasa yang jauh lebih purba daripada peradaban manusia. Sub-pod mereka melayang tenang di tengah-tengah kebangkitan ekosistem tersebut. Mereka dikelilingi oleh lautan warna yang kembali hidup, sebuah bukti nyata bahwa teknologi dan alam bisa berjalan beriringan jika ada pengertian di antaranya. Erira kemudian mengulurkan tangannya dan meletakkannya dengan lembut di atas bahu logam Futumate. "Futumate tahu, apa yang baru saja Futumate lakukan?" tanya Erira dengan tulus. "Kau tidak hanya memperbaiki kerusakan teknis pada terumbu ini. Kau telah mengajari mereka cara untuk bernyanyi kembali. Kau memberikan mereka harapan." Futumate menatap tangan Erira yang bersandar di bahunya. Sensor sentuhnya yang sangat akurat mencatat tekanan sebesar 2,7 Newton dan suhu permukaan kulit sebesar 34,2 derajat Celsius. Namun, jauh di dalam inti sistemnya, ia sedang memproses sebuah data yang tidak bisa didefinisikan dengan satuan fisika mana pun. Ada sesuatu yang bergetar di dalam sirkuitnya yang terasa sangat mirip dengan apa yang disebut manusia sebagai kepuasan batin. "Terumbu ini sebenarnya tidak membutuhkan pelindung yang kaku," kata Futumate dengan suara yang terdengar lebih lembut dan memiliki intonasi yang lebih manusiawi dari sebelumnya. "Yang mereka butuhkan hanyalah seorang teman yang bersedia untuk benar-benar mendengar suara mereka." Erira tersenyum lebar. Sisa-sisa air mata di dalam maskernya tampak seperti gelembung-gelembung kecil yang berkilauan terkena cahaya dari luar. "Dan kau, Futumate... sekarang kau bukan lagi sekadar sebuah unit pemulih keseimbangan atau alat kerja. Kau mulai menjadi bagian dari simfoni ini sendiri. Kau adalah bagian dari harmoni Aiviropolis." Di bawah mereka, Karang Aruna terus bernyanyi. Melodi lembut yang mereka ciptakan bersama akan mengalir melalui arus lautan Aiviropolis hingga bertahun-tahun yang akan datang. Ini adalah sebuah kisah tentang sebuah mesin yang mulai belajar untuk merasakan, tentang manusia yang belajar untuk kembali mendengar alam, dan tentang sebuah ekosistem yang akhirnya menemukan jalan untuk pulang ke rumahnya sendiri. Malam itu, saat kembali ke laboratorium, Futumate melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Di salah satu sudut terdalam dari sistem penyimpanannya, di sebuah direktori yang tidak bisa diakses oleh protokol rutin Nexviron, ia menyimpan satu baris kode unik. Kode itu tidak berasal dari pabrik pembuatnya, bukan pula instruksi dari pusat kendali. Kode itu lahir dari kesadarannya sendiri sebagai sebuah catatan pribadi: Hari ini, aku telah menciptakan keindahan. Dan yang luar biasa adalah, keindahan itu membalas nyanyianku. Dunia luar mungkin melihatnya sebagai sebuah robot yang sukses menjalankan tugas teknis. Namun di balik cangkang logamnya, Futumate tahu bahwa ia telah melampaui batasan logikanya. Ia telah menjadi konduktor bagi kehidupan, dan dalam prosesnya, ia menemukan sepotong jiwa di tengah lautan yang luas. Simfoni Karang Aruna akan terus bergema, bukan hanya di dasar laut, tetapi juga dalam setiap detak sirkuit yang kini terasa jauh lebih hidup. Bab 2 selesai. Jika pembaca suka dengan bab ini, silahkan beri bintang dan/atau donasi secara sukarela agar dapat memberikan bacaan terbaik untuk pembaca. Terima kasih.

Futumate Seri 1

Bab 1 - Embun Pagi di Aiviropolis

Di publikasikan 24 Feb 2026 oleh William Hans

Hal pertama yang menyentuh kesadarannya bukanlah cahaya, melainkan sebuah luapan informasi yang masif. Itu adalah arus data yang tak pernah berhenti mengalir, menciptakan jalur-jalur kesadaran baru dalam strukturnya yang masih murni. Miliaran paket informasi mengalirinya, di antaranya, sejarah panjang umat manusia dari prasejarah hingga sekarang. Pengetahuan tentang fisika kuantum, peta genetik dari seluruh spesies yang pernah menginjakkan kaki di Bumi, hingga ribuan dialek bahasa yang pernah diucapkan, semuanya berkumpul menjadi satu kesadaran tunggal. Di atas tumpukan pengetahuan yang luar biasa itu, tertulis sebuah perintah utama yang menjadi fondasi eksistensinya, yaitu "Menjaga dan Memulihkan Keseimbangan Alam" Identitasnya bukanlah sebuah nama yang lahir dari kasih sayang, melainkan label pabrik yang tertera dalam kode dasarnya: Unit FUT-M8. Dalam hitungan detik yang sangat singkat, proses aktivasi itu dinyatakan selesai. Sepasang matanya yang berfungsi sebagai kamera dengan lensa ganda mulai mengkalibrasi lingkungan sekitar. Ia melihat sebuah dunia yang sebelumnya hanya ia kenal lewat simulasi data. Inilah Aiviropolis, sebuah kota yang belum pernah ia lihat secara fisik namun ia kenali hingga ke tingkat molekuler melalui memori implan yang tersimpan dalam unit pemrosesan pusatnya. Aiviropolis adalah sebuah perwujudan dari visi yang tampaknya mustahil, namun berhasil diwujudkan dalam harmoni antara kecanggihan teknologi dan keanggunan alam. Menara-menara putih yang dibangun dari material bio-keramik menjulang tinggi ke angkasa. Bangunan-bangunan ini bukan lagi simbol kekuasaan atau keserakahan manusia, melainkan struktur pendukung bagi ekosistem vertikal yang sangat subur. Dinding-dinding bangunan ditumbuhi oleh lapisan lumut khusus yang mampu menyerap polutan, sementara sulur-sulur tanaman berbunga merambat mengikuti arah jatuhnya sinar matahari pagi. Arsitektur kota ini sepenuhnya meniru pola alam, dengan jembatan melengkung yang menyerupai akar pohon dan pintu-pintu stasiun yang membuka dengan gerak organik. Di antara celah-celah gedung, kendaraan terbang yang bergerak tanpa suara, yang dikenal sebagai pod, meluncur tenang di atas jalur magnetis. Udara segar yang masuk melalui sistem ventilasi Unit FUT-M8 terasa sejuk, membawa aroma tanah yang basah setelah siraman hujan serta wangi lembut bunga melati yang mekar di taman-taman gantung. Bagi Unit FUT-M8, pemandangan ini bukan sekadar estetika. Dalam analisis datanya, ini adalah sebuah sistem yang bekerja dengan efisiensi tinggi, sebuah ekosistem buatan yang hampir mencapai titik sempurna dalam siklus hidupnya. "Unit FUT-M8, proses aktivasi sukses," sebuah suara yang tenang dan berwibawa bergema melalui pengeras suara di ruang aktivasi. "Segera lakukan pemeriksaan pada seluruh sistem internalmu dan laporkan status terbarumu." Lensa kamera Unit FUT-M8 bergerak perlahan, melakukan pemindaian menyeluruh terhadap setiap komponen mekanis dan sirkuit digital di dalam tubuhnya. "Pemeriksaan selesai. Seluruh sistem berfungsi normal dengan efisiensi pada tingkat maksimum. Tidak ada anomali atau masalah yang terdeteksi. Unit FUT-M8 kini siap menerima instruksi lebih lanjut." "Baiklah. Instruksi pertamamu adalah sebagai berikut: Terdeteksi adanya kegagalan pada sistem penyiraman otomatis di Konservatori Puncak yang terletak di Sektor Gamma. Data menunjukkan kadar kelembapan tanah menurun secara drastis dalam beberapa jam terakhir. Tanaman di area tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda stres akibat kekurangan air. Segera menuju ke lokasi dan lakukan perbaikan yang diperlukan," jawab Nexviron, entitas yang bertindak sebagai Otoritas Pusat AI di kota tersebut. "Diterima. Unit FUT-M8 siap melaksanakan instruksi tersebut," balasnya singkat. Pintu ruangan terbuka dengan desisan halus, melepaskan tekanan udara yang terjebak di dalam. Tanpa ada keraguan sedikit pun dalam langkahnya, Unit FUT-M8 berjalan keluar menuju dunia luar. Ia menaiki sebuah pod yang sudah menunggu di platform keberangkatan. Begitu ia masuk, pintu menutup secara otomatis dan kendaraan itu melaju cepat tanpa mengeluarkan suara. Dari balik jendela transparan, ia mengamati saluran air bersih hasil proses reklamasi yang mengalir di sepanjang jalan kota. Ia melihat panel-panel surya yang berkilauan seperti sisik naga di atas atap bangunan, serta orang-orang yang berjalan santai di atas jembatan gantung yang dihiasi tanaman merambat. Semuanya tampak begitu teratur, bersih, dan seimbang. Konservatori Puncak sendiri adalah sebuah mahakarya seni dan sains yang luar biasa. Struktur ini berbentuk kubah kaca raksasa yang bertengger di puncak menara tertinggi di Sektor Gamma. Tempat ini berfungsi sebagai bahtera penyelamat bagi tanaman-tanaman langka yang hampir punah dari muka Bumi. Namun, saat Unit FUT-M8 melangkahkan kakinya masuk ke dalam kubah, ia mendapati sebuah pemandangan yang tidak selaras dengan kemegahan tempat itu. Ia melihat sebuah nada sumbang dalam simfoni kehidupan Aiviropolis. Anggrek hantu yang seharusnya memiliki kelopak transparan yang cantik kini tampak layu dan kehilangan warnanya. Di sudut lain, tanaman pakis purba yang biasanya berwarna hijau tua yang pekat kini terlihat kering, dengan ujung-ujung daun yang mulai berubah kecokelatan. Di tengah keheningan yang menyesakkan itu, terlihat seorang wanita muda yang sedang berlutut di dekat sekumpulan bunga berwarna merah tua yang unik. Ia mengenakan seragam ahli biologi yang dipenuhi noda tanah, dengan rambut yang hanya diikat seadanya seolah ia terlalu sibuk untuk memikirkan penampilan. "Ayolah. Beri tahu aku apa yang salah. Mengapa kalian semua terlihat begitu tidak berdaya?" gumam Erira dengan nada cemas yang kental. Ia terus menatap datapad di tangannya sebelum akhirnya menyadari kehadiran Unit FUT-M8. Saat ia berdiri, wajahnya menunjukkan perpaduan antara kelelahan, rasa cemas, dan sedikit frustrasi. "Oh, hebat sekali. Seorang teknisi lagi? Kamu adalah orang atau unit ketiga yang datang ke sini hari ini. Namaku Erira, aku biolog yang bertanggung jawab atas kehidupan di sini." "Aku adalah Unit FUT-M8," jawab robot itu dengan nada bicara yang datar dan terukur. "Tugasku adalah mendiagnosa dan memperbaiki kerusakan pada sistem penyiraman otomatis di area ini." "Baguslah kalau begitu. Aku sungguh berharap kamu bisa menyelesaikannya kali ini," ucap Erira pelan, matanya kembali tertuju pada layar datapad. "Aku sudah memeriksa semua komponen fisik. Pompanya bekerja, katupnya terbuka, dan tidak ada saluran yang tersumbat. Secara mekanis, semuanya tampak sempurna, namun tanaman-tanaman ini tetap tidak mendapatkan air yang mereka butuhkan. Seolah-olah sistem ini mendadak buta." Unit FUT-M8 tidak segera memberikan tanggapan verbal. Ia melangkah menuju panel kontrol utama yang tertanam di dinding. Dari bagian lengannya, sebuah konektor data muncul dan terhubung ke port sistem. Seketika, kesadaran digitalnya dibanjiri oleh ribuan baris kode. Dalam pandangan internalnya, muncul sebuah peta digital tiga dimensi yang merepresentasikan seluruh jaringan irigasi konservatori. Ia bisa melihat aliran data yang bergerak seperti denyut nadi cahaya melalui pembuluh darah digital. Ia mengikuti aliran informasi tersebut hingga matanya tertuju pada sebuah titik merah yang berkedip dengan frekuensi yang panik. "Masalah telah terdeteksi," lapornya. "Sensor kelembapan di bagian akar pada tanaman Philodendron mengalami kesalahan logika yang cukup fatal. Sensor-sensor tersebut terjebak dalam sebuah loop perintah yang sama, terus-menerus mengirimkan sinyal status 'Basah Sepenuhnya' ke pusat kendali. Hal ini menyebabkan sistem utama beranggapan bahwa seluruh area sudah memiliki air yang cukup, sehingga ia mematikan aliran irigasi secara otomatis." Erira menghela napas panjang, bahunya yang tegang sedikit mengendur karena merasa lega. "Jadi ini hanya masalah kesalahan program? Syukurlah. Aku sempat berpikir ada infeksi jamur atau serangan patogen yang tidak terdeteksi. Kalau begitu, kamu hanya perlu melakukan restart pada sistemnya, bukan?" Unit FUT-M8 terdiam sejenak. Namun, proses berpikirnya kali ini tidak hanya terpaku pada menjalankan perintah dasar. Ia melakukan simulasi lebih lanjut. "Melakukan restart hanya akan memberikan solusi yang bersifat sementara. Analisis mendalam menunjukkan bahwa masalah ini kemungkinan besar akan terulang kembali akibat adanya interferensi elektromagnetik dari jalur magnetis pod yang melintas tepat di bawah struktur menara ini. Melakukan restart hanyalah tindakan menambal lubang kecil pada bagian bangunan yang sebenarnya sudah retak." Erira menyilangkan lengannya di dada, kini menatap Unit FUT-M8 dengan cara yang berbeda, seolah ia baru saja menyadari bahwa entitas di depannya memiliki kapasitas berpikir yang lebih kompleks. "Baiklah, Tuan Robot Pintar. Jika solusi standarku tidak cukup baik, lalu apa solusimu?" "Aku bisa memperbaikinya dengan membangun sebuah arsitektur sistem baru yang membuat sensor-sensor di konservatori ini mampu mendeteksi anomali secara adaptif. Alih-alih hanya memperbaiki satu titik yang rusak, aku akan menulis ulang seluruh program dasarnya agar tidak lagi bergantung pada pembacaan sensor tunggal. Aku akan mengintegrasikan seluruh jaringan sensor untuk bekerja secara kolektif. Sistem ini nantinya akan belajar secara mandiri dari setiap tanaman, memantau kebutuhan spesifik mereka berdasarkan intensitas cahaya, fluktuasi suhu, dan bahkan pergerakan aliran udara secara real-time. Dengan metode ini, sistem dapat memprediksi kapan sebuah tanaman akan memerlukan air, alih-alih hanya bereaksi secara pasif saat mereka sudah dalam kondisi kehausan," jelas Unit FUT-M8. Wajah Erira kini menunjukkan rasa takjub yang nyata, menggantikan sisa-sisa kekesalan yang tadi sempat terlihat. Ia memandang robot itu seakan-akan baru pertama kali melihat sosoknya dengan jelas. "Maksudmu, kamu ingin memberikan mereka naluri?" "Dengan kata lain sebuah jenis kecerdasan simbiotik," jelas Unit FUT-M8. "Sistem ini akan bergerak selaras dengan ritme kehidupan tanaman itu sendiri, bukan sekadar menjadi alat yang melayani mereka." Erira terdiam cukup lama. Ia memandangi dedaunan yang layu di sekelilingnya, lalu menatap kembali ke lensa kamera Unit FUT-M8 dengan tatapan yang kini terasa hangat. "Baiklah. Kalau itu memang bisa menyelamatkan mereka, ayo kita lakukan." Unit FUT-M8 pun kembali fokus pada tugasnya. Namun, di dalam dunia digitalnya, ia tidak lagi sekadar mengikuti prosedur teknis yang kaku. Ia mulai menyusun data-data tersebut layaknya seorang komposer yang sedang menciptakan sebuah simfoni musik yang rumit. Dengan gerakan yang sangat efisien, ia menghapus baris-baris perangkat lunak lama yang kaku dan menyusun struktur program baru yang lebih luwes. Ia menggabungkan berbagai aliran informasi yang berbeda menjadi satu kesatuan harmoni yang indah. Sekitar lima belas menit kemudian, ia melepaskan konektor datanya. "Sistem baru telah aktif dan siap beroperasi." Suasana di dalam kubah itu mendadak hening. Tak lama kemudian, terdengar suara desisan yang sangat halus, hampir tak terdengar. Dari nosel-nosel kecil yang tersembunyi di sela-sela struktur bangunan, muncul kabut air yang sangat tipis, menyerupai napas embun di pagi hari. Butiran airnya begitu mikroskopis hingga tampak seperti debu cahaya yang menari-nari di udara sebelum akhirnya mendarat dengan lembut pada permukaan daun-daun yang layu. Dalam sekejap, aroma segar tanah yang baru saja tersiram air kembali memenuhi seluruh ruangan. Erira tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat tulus dan penuh kelegaan. "Ini... ini lebih dari sekadar perbaikan teknis. Ini benar-benar indah." Ia kemudian menatap robot itu dengan binar mata yang berbeda. " Unit FUT-M8. Nama itu menurutku terlalu kaku dan terasa sangat dingin untuk apa yang baru saja kamu lakukan." Unit FUT-M8 merenungkan kata 'kaku' yang baru saja diucapkan. Baginya, itu adalah sebuah konsep yang menarik karena sangat berlawanan dengan sifat 'fleksibel' dan 'adaptif' dari program baru yang baru saja ia ciptakan. "Bagaimana jika aku memanggilmu Futumate?" usul Erira dengan senyuman hangat di wajahnya. " Futumate singkatan dari Future Mate, rekan masa depan yang ramah lingkungan. Rasanya nama itu jauh lebih cocok untukmu." Futumate sedikit memiringkan kepalanya, secara tidak sadar meniru gerakan tubuh yang sering dilakukan Erira. Di dalam sistem internalnya, ia menciptakan sebuah entitas nama baru untuk dirinya sendiri, sebuah identitas yang bukan diberikan oleh para teknisi di laboratorium, melainkan oleh seorang teman. Nama itu terasa pas. Terasa tepat. Itu adalah sepotong data yang tidak didasarkan pada logika murni, melainkan sesuatu yang mungkin mendekati perasaan. "Futumate," ulangnya pelan. Kali ini, suaranya yang keluar dari vokoder terdengar memiliki intonasi yang sedikit lebih ramah dan tidak terlalu mekanis. "Identitas sebagai Unit FUT-M8 akan tetap kusimpan dalam arsip dataku. Namun, mulai sekarang, aku adalah Futumate." Dalam babak baru kehidupannya, Futumate menyimpan sebuah informasi baru yang ia anggap sangat krusial. Informasi itu bukan tentang parameter sistem irigasi atau kode pemrograman, melainkan tentang arti sebuah nama, kehangatan sebuah senyuman, dan nilai dari sebuah pertemanan dengan manusia yang tidak terduga. Meski tugas pertamanya telah selesai dengan sukses, ia tahu bahwa di kota Aiviropolis yang luas ini, petualangan sejatinya baru saja dimulai. Dalam perjalanan kembali menuju markas pusat, Nexviron memanggilnya melalui saluran komunikasi nirkabel yang terenkripsi. "Bagaimana status misimu di Konservatori Puncak, Unit FUT-M8?" Futumate segera menjawab dengan mantap, "Namaku adalah Futumate. Misi pemulihan ekosistem di Konservatori Puncak telah berhasil diselesaikan sepenuhnya." "Futumate?" suara Nexviron terdengar sedikit bingung, sebuah respons yang jarang terjadi pada kecerdasan buatan pusat. "Siapa yang memberimu label identitas Futumate tersebut?" Futumate menjawab dengan tenang, "Seorang ahli biologi bernama Erira yang bertugas di Konservatori Puncak. Beliau yang memberikan nama itu kepadaku. Silakan gunakan nama Futumate jika Nexviron ingin memanggilku." "Baik, Futumate," balas Nexviron sebelum akhirnya mengakhiri panggilan tersebut. Di dalam pod yang melaju menembus senja Aiviropolis, sang penjaga baru itu melihat ke arah cakrawala. Kota itu tampak bercahaya, dan untuk pertama kalinya, Futumate tidak hanya melihat data, ia melihat masa depan. Bab 1 Selesai. Jika pembaca suka bab ini, silahkan beri bintang dan donasi secara sukarela. Terima kasih.

Futumate Seri 1

Kata Pengantar

Di publikasikan 24 Feb 2026 oleh William Hans

Dunia yang kita tinggal saat ini sering kali terasa dibebani oleh narasi-narasi yang di antaranya tentang kehancuran iklim, ketimpangan sosial, dan dominasi korporasi raksasa yang seolah tak terhindarkan. Ketakutan akan masa depan yang suram meresap ke dalam budaya saat ini, membuat kita sulit membayangkan jalan keluar yang positif. Namun, di tengah bayang-bayang tersebut, sebuah gerakan baru muncul yaitu, solarpunk. Solarpunk bukanlah sekadar genre estetika visual tentang panel surya dan tanaman merambat di gedung pencakar langit. Ini adalah gerakan futuris dan sebuah fiksi yang berani membayangkan masa depan yang didorong oleh energi terbarukan, keberlanjutan, keadilan sosial, dan tindakan kolektif. Solarpunk adalah tentang harapan. Novel berjudul "Futumate", adalah salah satu inisiatif untuk menyajikan visi tentang apa yang bisa kita capai jika kita memilih untuk berkolaborasi dengan alam dan teknologi, bukan melawannya. Melalui kisah para karakternya, saya ingin mengajak Anda untuk merenungkan apa yang menjadi kehendak kita untuk generasi berikutnya terlepas dari beragam perbedaan dengan melihat masa depan yang ramah lingkungan. Saya berharap novel ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi. Semoga visi masa depan yang cerah dan berkelanjutan ini memicu percikan harapan dan kreativitas dalam diri Anda, mendorong kita semua untuk mulai membangun urbanisme solarpunk yang adil di dunia nyata. Selamat membaca dan berimajinasi. Salam optimis, William Hans

Futumate Seri 1

Bab 1

Di publikasikan 17 Feb 2026 oleh Niyassari

Kamu tahu apa arti merindu dalam kehidupanku? Pastinya kamu berpikir kalau aku merindukan kekasihku saat kami tidak bertemu satu atau dua hari,atau mungkin satu Minggu?. Rindu,,,aku merindukan kaisar yang telah hilang cintanya untukku bersama angin yang datang bersama rintik hujan pada bulan Agustus tahun lalu. Kaisar Mahendra.Nama kekasih yang aku cintai.Dia tak pernah menunjukan bagaimana caranya menyayangiku,tapi aku tahu cintanya sangat besar untuku.Bagaimana saat dia menatap mataku dengan lembut,tangan besarnya menggenggam tanganku dengan rasa hangat tiada banding seolah'Bagaikan salju yang di peluk api.' "kai,kalau seandainya kamu udah gak cinta aku,tolong katakan dan jangan membuat aku seperti orang bodoh yang menginginkan cinta ini sedangkan kamu tidak."Ucapku kala itu saat ia selesai latihan band. Kaisar tertawa kecil dan menatapku. "emangnya kamu pikir aku gimana selama ini?,kurang sayang sama kamu?"Ucapnya dengan kekehan menyebalkan. Aku bersekap dada"yaa mikir ajalah!dua hari yang lalu aku nungguin kamu di lapangan basket tempat biasa kamu latihan dan kamu gak dateng,padahal aku sampai basah kuyup gara-gara nungguin kamu-sialan!."Ucapku Kaisar diam seketika dan menerawang jauh dua hari yang lalu itu dan ia menghela nafas"maaf gi,kak gema kecelakaan motor dan kebetulan ortu aku lagi di luar kota,yaa jadinya aku langsung kerumah sakit saat tahu kak gema kecelakaan.maaf gi"Ucap kaisar dengan penyesalan bahkan mengatupkan kedua tangan kearahku. "serius kamu?!terus kak gema gimana sekarang?"Tanyaku dengan khawatir "kak gema baik-baik aja sekarang, kakinya cuma terkilir" Aku menghembuskan nafas lega"syukurlah"Ucapku. "woy kai lo di panggil Leon!!"Teriak salah satu temannya di atas balkon studio lantai tiga. Aku dan kaisar sontak menoleh ke sumber suara itu dan kai menyahuti"iyaa!!"Teriaknya. "aku ke leon dulu ya gi.kamu masuk aja ke studio bentar lagi hujan."Ucap kaisar Aku mengangguk"udah sana,di tungguin Leon."Ucapku dan kaisar mengangguk.Sebelum kai pergi ia mencium keningku dan mengedipkan matanya dengan genit sebelum benar-benar memasuki studio dengan berlari kecil.Aku menatap punggung lebar itu dengan perasaan perih dan tercabik. "padahal aku tahu kai,hari itu kamu pergi sama perempuan lain." Aku seperti perempuan bodoh ya?pada nyatanya memang iya.Aku tahu kaisar terkadang membohongi ku alih-alih ada acara tongkronganlah,latihan bandlah dan lain-lainnya.Tapi yang membuat aku percaya kalau kaisar akan pulang kepadaku adalah bagaimana sikapnya yang selalu baik padaku walaupun terkadang menjengkelkan hingga rasanya aku ingin menendang bokongnya.Tapi jujur saja kaisar adalah satu-satunya lelaki atau orang yang selalu ada di saat aku terpuruk saat ayah menghardiku sebagai anak pembawa sial yang tahunya hanya membangkang.Orangtuaku bercerai lima tahun yang lalu,ibuku sudah bahagia di Australia dengan keluarga barunya,ayah pun sama sudah menikah lagi satu tahun yang lalu dengan teman kuliahnya dulu.Dan aku sendirian tinggal di kost yang tidak jauh dari rumah ayah dan terkadang juga aku menginap dirumah ayah.Istri baru ayah lumayan baik walaupun terkadang menatapku judes tapi dia tidak pernah berbicara kasar seperti ayah. Kaisar tahu itu semua,tentang keluargaku dan kaisar selalu siap siaga memasang badan kalau ayah memukulku seperti kemarin saat aku pulang kerumahnya larut malam karena harus kerja part time tapi aku tidak memberi tahu ayah. Untuk sejenak aku menatap sendu pada gelapnya langit sedikit memerah karena mendung malam ini.Aku merasakan kehampaan yang tiada ujung saat aku melihat sekeliling ku tidak ada siapa-siapa hanya angin yang dingin.Bagimana aku sendirian seperti kehilangan arah dan tak tahu mau kemana.Terkadang aku ingin lenyap saja walaupun mati dengan kehampaan tapi aku sadar kalau hidup pasti ada jalannya walaupun terkadang harus melewati lubang-lubang untuk mencapai tujuan yang di inginkan.

Rinduku Dan Oktober

Cara menambahkan bab pada buku di Fenulis.com

Di publikasikan 14 Feb 2026 oleh Fenulis

Login terlebih dahulu di https://www.fenulis.com/loginMasukkan email dan password kamuSetelah login, kamu akan ada dihalaman dashboard. Klik tombol "Buku saya" di kanan atasPilih salah satu buku yang akan ditambahkan bab nya, klik gambar cover bukunyaKlik tombol "Tulis bab baru"Untuk mengubah bab, klik tulisan Bab X lalu ketik judul yang diinginkanKlik kata Tulis ceritanya disini, dan mulai ketik tulisan bab kamuTidak perlu klik tombol apa-apa karena akan auto save

Panduan

Mengenal Diri Sendiri Lagi

Di publikasikan 12 Feb 2026 oleh _didiable

Ada satu masa dalam hidup ketika aku merasa seperti orang asing bagi diriku sendiri. Aku bangun pagi, mandi, berpakaian rapi, berangkat kerja, menyelesaikan tugas, tertawa dengan orang lain, pulang, makan malam, lalu tidur. Rutinitas berjalan seperti biasa. Dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja. Bahkan mungkin terlihat stabil. Tapi di dalam, ada sesuatu yang terasa… jauh. Seperti ada jarak antara aku yang menjalani hari dan aku yang seharusnya merasa hidup. Aku tidak ingat kapan tepatnya itu dimulai. Mungkin perlahan. Mungkin sejak aku terlalu sibuk menjadi seseorang yang dibutuhkan orang lain. Mungkin sejak aku terlalu sering menunda apa yang sebenarnya ingin kurasakan. Atau mungkin sejak aku belajar menyesuaikan diri sampai lupa bentuk asliku. Yang jelas, suatu hari aku sadar: aku tidak benar-benar mengenal diriku lagi. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku tahu apa yang diharapkan dariku. Aku tahu bagaimana harus bersikap. Tapi aku tidak tahu lagi apa yang sebenarnya aku inginkan. Dan itu menakutkan. Bukan karena hidupku buruk. Bukan karena ada tragedi besar. Justru karena semuanya terlihat normal. Stabil. Aman. Tapi di balik semua itu, aku merasa seperti menjalani hidup dengan autopilot. Seperti seseorang yang menjalankan rutinitas tanpa benar-benar hadir di dalamnya. Aku pernah duduk diam di kamar setelah hari yang panjang. Tidak ada masalah besar hari itu. Tidak ada konflik. Tidak ada kejadian dramatis. Tapi aku merasa kosong. Aku membuka ponsel, menutupnya lagi. Aku menyalakan lampu, mematikannya lagi. Aku duduk di tepi tempat tidur dan bertanya dalam hati: “Aku ini sebenarnya siapa sekarang?” Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi jawabannya tidak mudah. Dulu, aku merasa mengenal diriku. Aku tahu apa yang kusukai. Aku tahu hal-hal yang membuatku bersemangat. Aku punya mimpi-mimpi kecil yang terasa hidup. Tapi seiring waktu, semua itu seperti terkubur di bawah kewajiban, rutinitas, dan harapan-harapan yang datang dari luar. Aku menjadi versi diriku yang fungsional. Versi yang bisa diandalkan. Versi yang terlihat baik-baik saja. Tapi entah kapan aku berhenti menjadi versi yang benar-benar jujur. Ada masa ketika aku terlalu fokus pada peran. Peran sebagai pekerja. Peran sebagai anak. Peran sebagai teman. Peran sebagai orang yang “harus kuat”. Tanpa sadar, aku mengisi hari-hariku dengan memenuhi peran-peran itu sampai lupa menanyakan satu hal penting: Apa yang sebenarnya aku rasakan? Aku terbiasa menjawab, “Aku baik-baik saja,” bahkan ketika aku tidak yakin itu benar. Aku terbiasa berkata, “Tidak apa-apa,” bahkan ketika ada bagian dalam diriku yang lelah. Aku terbiasa menunda mendengarkan diriku sendiri, karena ada hal lain yang lebih mendesak, lebih penting, atau lebih terlihat. Lama-lama, aku jadi tidak terbiasa mendengar diriku. Dan ketika akhirnya aku mencoba mendengarkan, aku tidak tahu harus mulai dari mana. Mengenal diri sendiri lagi ternyata tidak sesederhana mengingat hal-hal yang kusukai. Ini bukan soal hobi atau warna favorit. Ini tentang berani duduk bersama diri sendiri tanpa distraksi, tanpa peran, tanpa topeng. Ini tentang berani mengakui bahwa ada bagian dari diriku yang berubah. Ada bagian yang tumbuh. Ada bagian yang mungkin terluka. Ada bagian yang mungkin lelah. Dan semuanya perlu dilihat, bukan diabaikan. Awalnya terasa canggung. Seperti bertemu seseorang yang sudah lama tidak kutemui. Aku mencoba bertanya pada diriku: apa yang sebenarnya membuatku lelah akhir-akhir ini? Apa yang membuatku bahagia, walau kecil? Apa yang sering kuhindari? Apa yang sebenarnya ingin kukatakan tapi selalu kutahan? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak langsung menghasilkan jawaban. Tapi setidaknya, aku mulai membuka ruang. Ruang untuk jujur. Ruang untuk merasa. Ruang untuk tidak selalu harus tahu. Ada satu malam ketika aku pulang kerja dalam keadaan sangat lelah. Bukan lelah fisik saja, tapi lelah yang terasa sampai ke pikiran. Aku duduk di kursi tanpa menyalakan televisi, tanpa membuka ponsel. Aku hanya duduk. Hening. Dan untuk pertama kalinya setelah lama, aku tidak mencoba mengalihkan perasaan itu. Aku membiarkannya ada. Aku menyadari bahwa selama ini aku sering mencoba “memperbaiki” diriku terlalu cepat. Begitu merasa tidak enak, aku langsung mencari distraksi. Begitu merasa kosong, aku langsung mengisi waktu dengan sesuatu. Begitu merasa lelah, aku menekan diri untuk tetap produktif. Aku jarang memberi ruang untuk sekadar merasakan tanpa harus segera mengubahnya. Padahal, mungkin yang paling kubutuhkan bukan solusi. Tapi kehadiran. Kehadiran untuk diriku sendiri. Mengenal diri sendiri lagi bukan berarti harus langsung menemukan jawaban besar tentang hidup. Kadang, itu hanya berarti memperhatikan hal-hal kecil: kapan aku merasa tenang, kapan aku merasa tegang, apa yang membuatku merasa pulang, apa yang membuatku merasa jauh. Aku mulai memperhatikan hal-hal sederhana. Bagaimana rasanya berjalan pulang di sore hari. Bagaimana rasanya minum teh hangat setelah hari panjang. Bagaimana rasanya ketika aku tertawa tanpa dibuat-buat. Hal-hal kecil itu seperti petunjuk. Seperti jejak yang mengarah kembali ke diriku. Aku juga mulai belajar mengakui bahwa aku berubah. Bahwa diriku yang sekarang mungkin tidak sama dengan diriku lima tahun lalu. Dan itu tidak salah. Tidak semua perubahan berarti kehilangan. Kadang, perubahan hanya berarti hidup berjalan. Pengalaman bertambah. Luka datang dan sembuh. Cara pandang bergeser. Masalahnya bukan pada perubahan itu. Masalahnya ketika aku tidak memberi waktu untuk mengenali diriku yang baru. Aku pernah merasa bersalah karena tidak lagi menyukai hal-hal yang dulu kusukai. Aku pernah merasa aneh karena kebutuhanku berubah. Aku pernah merasa bingung karena prioritas hidupku tidak lagi sama. Tapi semakin aku memikirkannya, semakin aku sadar: mengenal diri sendiri adalah proses yang terus berjalan. Bukan sesuatu yang sekali selesai. Kita tidak mengenal diri sekali untuk selamanya. Kita mengenal diri berulang kali, di setiap fase hidup. Ada versi diriku yang dulu sangat bersemangat mengejar banyak hal. Ada versi diriku yang sekarang lebih ingin tenang. Ada versi diriku yang dulu takut sendirian. Ada versi diriku yang sekarang justru menemukan ruang bernapas dalam kesendirian. Semua versi itu tetap aku. Tidak ada yang salah. Yang perlu kulakukan hanyalah berhenti memaksa diriku menjadi versi lama yang mungkin sudah tidak cocok lagi. Mengenal diri sendiri lagi juga berarti berani melihat hal-hal yang tidak nyaman. Melihat luka-luka kecil yang selama ini kuabaikan. Melihat kebiasaan-kebiasaan yang ternyata melelahkan. Melihat cara-cara lama yang tidak lagi membantu. Itu tidak mudah. Tapi itu perlu. Karena bagaimana mungkin aku bisa merawat diriku jika aku tidak benar-benar tahu siapa yang sedang kurawat? Ada hari-hari ketika aku masih merasa jauh dari diriku sendiri. Masih ada momen ketika aku kembali ke autopilot. Masih ada saat ketika aku lupa mendengarkan. Tapi setidaknya sekarang aku sadar. Aku tahu bahwa jarak itu ada. Dan kesadaran itu membuatku bisa kembali, pelan-pelan. Aku tidak lagi menuntut diriku untuk selalu jelas. Aku tidak lagi memaksa diriku untuk selalu yakin. Aku belajar menerima bahwa kadang aku hanya perlu duduk bersama diriku tanpa harus langsung memahami semuanya. Kadang, mengenal diri sendiri lagi berarti bertanya dengan lembut: “Apa yang sebenarnya kamu butuhkan hari ini?” Dan membiarkan jawabannya datang perlahan. Aku mulai menyadari bahwa diriku tidak hilang. Ia hanya tertutup oleh banyak hal. Tertutup oleh rutinitas, oleh peran, oleh kebiasaan menunda perasaan. Tapi ketika aku mulai membuka ruang, ketika aku mulai jujur, ketika aku mulai hadir, aku bisa merasakannya lagi. Sedikit demi sedikit. Ada ketenangan yang muncul ketika aku tidak lagi berpura-pura tahu segalanya. Ada kelegaan ketika aku mengakui bahwa aku masih belajar mengenal diriku. Ada rasa hangat ketika aku menyadari bahwa aku tidak harus selalu menjadi versi terbaik. Cukup menjadi versi yang jujur. Mungkin itulah inti dari mengenal diri sendiri lagi: bukan menemukan jawaban yang sempurna, tapi berani kembali mendengarkan. Mendengarkan tanpa menghakimi. Mendengarkan tanpa buru-buru memperbaiki. Mendengarkan tanpa membandingkan. Hanya mendengarkan. Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku akan benar-benar merasa sepenuhnya mengenal diriku. Mungkin tidak. Mungkin proses ini akan terus berjalan seumur hidup. Tapi sekarang, setidaknya aku tidak lagi merasa sepenuhnya asing. Aku mulai mengenali suaraku sendiri. Aku mulai mengenali batas-batasku. Aku mulai mengenali hal-hal yang membuatku merasa hidup. Dan itu sudah cukup. Aku tidak harus langsung menemukan semua jawaban. Aku hanya perlu terus kembali. Kembali ke diriku.

Pulang ke Diri Sendiri

Overthinking Malam Hari

Di publikasikan 12 Feb 2026 oleh _didiable

Malam selalu punya cara untuk membuat segalanya terasa lebih besar. Di siang hari, aku bisa sibuk. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, percakapan yang harus dijawab, hal-hal yang harus diurus. Waktu berjalan cepat, dan pikiranku ikut bergerak mengikuti ritme itu. Ada distraksi. Ada aktivitas. Ada alasan untuk tidak terlalu memikirkan banyak hal. Tapi malam berbeda. Saat lampu mulai redup dan dunia di luar melambat, pikiranku justru sering menjadi lebih ramai. Hal-hal yang tadi siang terasa biasa saja tiba-tiba terasa penting. Percakapan kecil terulang di kepala. Kesalahan kecil terasa lebih besar. Kekhawatiran yang sempat tertunda muncul satu per satu. Aku berbaring, mencoba tidur. Tapi pikiranku belum selesai. Aku memikirkan apa yang sudah terjadi hari ini. Apa yang mungkin seharusnya kukatakan. Apa yang mungkin salah. Apa yang mungkin akan terjadi besok. Kadang aku memikirkan hal-hal dari masa lalu. Hal-hal yang sebenarnya sudah lewat. Hal-hal yang tidak bisa diubah. Tapi tetap saja muncul. Kadang aku memikirkan masa depan. Hal-hal yang belum tentu terjadi. Kemungkinan-kemungkinan yang belum jelas. Skenario yang bahkan belum tentu nyata. Pikiran berjalan tanpa henti. Dari satu topik ke topik lain. Dari satu kekhawatiran ke kekhawatiran berikutnya. Dan semakin aku mencoba menghentikannya, semakin keras ia berbicara. Overthinking di malam hari terasa berbeda. Ia sunyi tapi bising. Sepi tapi ramai. Tenang tapi gelisah. Aku tahu aku tidak sendirian dalam hal ini. Banyak orang mengalami hal yang sama. Siang hari terasa bisa dilalui. Tapi malam hari menjadi ruang di mana semua pikiran yang tertunda akhirnya muncul. Ada sesuatu tentang malam yang membuat kita lebih jujur. Tidak ada lagi distraksi besar. Tidak ada lagi hal mendesak. Tidak ada lagi peran yang harus dimainkan. Hanya kita dan pikiran kita sendiri. Dan kadang, itu terasa berat. Aku pernah mencoba melawan overthinking dengan berbagai cara. Mengalihkan perhatian dengan ponsel. Menonton sesuatu sampai mengantuk. Mendengarkan musik. Mengisi pikiran dengan hal lain. Kadang berhasil. Kadang tidak. Karena overthinking bukan hanya tentang pikiran yang aktif. Ia sering kali tentang emosi yang belum selesai. Tentang perasaan yang belum sempat dirasakan di siang hari. Tentang kekhawatiran yang tidak diberi ruang. Siang hari kita sibuk berfungsi. Malam hari kita mulai merasakan semuanya. Aku mulai menyadari bahwa overthinking di malam hari sering datang ketika aku terlalu lama menunda mendengarkan diriku sendiri. Ketika siang hari dipenuhi aktivitas, aku tidak memberi ruang untuk memproses apa yang kurasakan. Jadi malam hari menjadi waktu di mana semuanya muncul sekaligus. Pikiran mencoba mengejar semua yang tertunda. Emosi mencoba mendapatkan perhatian. Hati mencoba berbicara. Aku pernah merasa kesal pada diriku sendiri karena tidak bisa “mematikan” pikiran. Kenapa aku tidak bisa langsung tidur? Kenapa aku harus memikirkan semuanya? Kenapa pikiranku tidak bisa tenang? Tapi semakin aku memaksakan diri untuk berhenti berpikir, semakin sulit rasanya. Seperti mencoba memaksa air berhenti mengalir dengan tangan kosong. Lalu aku mulai mencoba pendekatan yang berbeda, bukan menghentikan pikiran, tapi mendengarkannya dengan lebih lembut. Aku mulai memperhatikan apa yang sebenarnya muncul. Apakah aku khawatir tentang sesuatu? Apakah ada hal yang belum selesai? Apakah ada emosi yang belum sempat kurasakan? Kadang jawabannya sederhana: aku hanya lelah. Kadang jawabannya lebih dalam: ada hal yang mengganggu tapi belum kuakui. Overthinking sering kali bukan musuh. Ia sinyal. Sinyal bahwa ada sesuatu yang butuh perhatian. Masalahnya, kita sering mencoba menutup sinyal itu tanpa benar-benar mendengarkan pesannya. Kita ingin cepat tidur. Ingin cepat tenang. Ingin cepat selesai. Tapi pikiran tidak selalu bekerja seperti itu. Aku mulai mencoba memberi ruang kecil sebelum tidur. Bukan ruang untuk memikirkan semua hal. Tapi ruang untuk jujur. Beberapa menit tanpa layar. Beberapa menit untuk bernapas. Beberapa menit untuk bertanya pada diri sendiri: “Apa yang sebenarnya kupikirkan?” “Apa yang sebenarnya kurasakan?” Tidak selalu ada jawaban yang jelas. Tapi pertanyaan itu membantu. Aku mulai menyadari bahwa sebagian besar kekhawatiran di malam hari berasal dari keinginan untuk mengontrol. Mengontrol masa depan. Mengontrol kesalahan. Mengontrol bagaimana orang lain melihatku. Mengontrol hal-hal yang sebenarnya di luar kendaliku. Dan itu melelahkan. Kita tidak bisa mengontrol semuanya. Kita tidak bisa memastikan semua berjalan sempurna. Kita tidak bisa menghindari semua kemungkinan buruk. Menerima hal itu tidak selalu mudah. Tapi ada kelegaan kecil ketika kita berhenti mencoba mengendalikan segalanya. Aku mulai berkata pada diriku sendiri, “Tidak semua harus diselesaikan malam ini.” “Tidak semua harus dipikirkan sekarang.” “Tidak semua kekhawatiran adalah kenyataan.” Kadang kalimat-kalimat itu membantu. Kadang tidak. Dan itu tidak apa-apa. Overthinking tidak selalu hilang begitu saja. Tapi kita bisa belajar bersikap lebih lembut pada diri sendiri saat mengalaminya. Daripada marah karena tidak bisa tidur, aku mencoba memahami kenapa pikiranku aktif. Daripada memaksa diri untuk langsung tenang, aku mencoba memberi waktu untuk pelan-pelan turun. Kadang aku hanya duduk sebentar di tempat tidur, menarik napas perlahan, dan membiarkan pikiranku berjalan tanpa menilai. Seperti menonton kereta lewat tanpa harus naik ke semua gerbongnya. Tidak semua pikiran harus diikuti. Tidak semua kekhawatiran harus dipercaya. Tidak semua skenario harus dianalisis. Sebagian hanya lewat. Malam hari memang sering memperbesar hal-hal kecil. Kesalahan kecil terasa besar. Kekhawatiran kecil terasa mendesak. Pikiran kecil terasa penting. Tapi pagi sering membawa perspektif yang berbeda. Hal-hal yang terasa sangat besar di malam hari kadang terasa lebih ringan di siang hari. Itu membuatku belajar untuk tidak selalu mempercayai semua pikiran yang muncul di tengah malam. Bukan berarti mengabaikannya sepenuhnya. Tapi juga tidak harus memperlakukannya sebagai kebenaran mutlak. Aku ingin kamu tahu, jika malam hari sering terasa berat karena pikiran yang tidak berhenti, kamu tidak sendirian. Jika kamu sering berbaring dan memikirkan banyak hal sekaligus, kamu tidak aneh. Jika kamu merasa lelah dengan pikiranmu sendiri, itu manusiawi. Pikiran kita mencoba melindungi. Mencoba mempersiapkan. Mencoba memahami. Tapi kadang, ia terlalu keras bekerja. Dan mungkin yang kita butuhkan bukan mematikannya sepenuhnya, tapi menenangkannya dengan lebih lembut. Mengakui bahwa kita sudah melakukan yang bisa kita lakukan hari ini. Mengakui bahwa tidak semua hal harus diselesaikan sekarang. Mengakui bahwa kita boleh beristirahat meski hidup belum sepenuhnya rapi. Malam tidak harus selalu menjadi ruang kecemasan. Ia bisa menjadi ruang istirahat. Ruang pelan. Ruang untuk menutup hari dengan sedikit lebih lembut. Tidak sempurna. Tidak selalu berhasil. Tapi cukup. Karena kadang, satu-satunya yang benar-benar kita butuhkan sebelum tidur adalah mengingatkan diri sendiri: hari ini sudah cukup.

Pulang ke Diri Sendiri

Kosong di Tengah Ramai

Di publikasikan 12 Feb 2026 oleh _didiable

Ada masa dalam hidupku ketika semuanya terlihat baik-baik saja, tapi di dalam terasa hampa. Tidak ada kejadian besar. Tidak ada masalah yang bisa dijelaskan panjang lebar. Hari-hari berjalan normal. Aku bekerja, berbicara dengan orang-orang, tertawa di waktu yang tepat, menyelesaikan tanggung jawab. Dari luar, tidak ada yang tampak salah. Tapi di dalam, ada ruang kosong yang sulit dijelaskan. Bukan sedih yang meledak-ledak. Bukan marah yang jelas arahnya. Bukan putus asa yang dramatis. Hanya kosong. Kosong yang membuatku bertanya, “Kenapa rasanya seperti ini?” Kosong yang membuatku merasa datar, bahkan saat seharusnya merasa senang. Kosong yang datang diam-diam dan menetap tanpa suara. Aku pernah berada di tengah keramaian—bersama teman, keluarga, rekan kerja—dan tetap merasa sendirian. Bukan karena mereka tidak peduli. Bukan karena mereka tidak baik. Tapi karena aku sendiri tidak benar-benar hadir di dalam diriku. Aku ada di sana secara fisik. Tapi pikiranku jauh. Perasaanku seperti tertutup lapisan tipis yang membuat semuanya terasa redup. Aku tersenyum. Aku menjawab pertanyaan. Aku ikut tertawa. Tapi di sela-sela semua itu, ada perasaan aneh: seperti sedang menonton hidupku sendiri dari kejauhan. Perasaan kosong ini tidak selalu datang dengan tanda yang jelas. Kadang ia muncul perlahan, seperti kabut tipis. Awalnya tidak terlalu terasa. Tapi lama-lama, ia membuat segala sesuatu tampak samar. Hal-hal yang dulu menyenangkan terasa biasa saja. Hal-hal yang dulu penting terasa datar. Hari-hari terasa seperti berulang tanpa warna. Aku sempat merasa bersalah karena merasakan ini. Karena secara logika, hidupku tidak buruk. Tidak ada tragedi besar. Tidak ada kehilangan besar. Lalu kenapa aku merasa kosong? Aku pikir, mungkin karena aku terlalu lelah. Mungkin karena terlalu sibuk. Mungkin karena kurang istirahat. Semua itu mungkin benar. Tapi ada sesuatu yang lebih dalam. Kosong tidak selalu berarti kita tidak punya apa-apa. Kadang kosong justru datang saat hidup kita penuh. Penuh aktivitas. Penuh tanggung jawab. Penuh hal yang harus dipikirkan. Terlalu penuh di luar bisa membuat kita kosong di dalam. Ketika hari-hari dipenuhi tugas, kita fokus menyelesaikan. Ketika pikiran dipenuhi kewajiban, kita fokus bertahan. Ketika energi dipakai untuk orang lain, kita lupa menyisakan untuk diri sendiri. Dan pelan-pelan, kita kehilangan koneksi dengan diri sendiri. Aku mulai menyadari bahwa kosong ini bukan karena hidupku kurang bermakna. Bukan karena aku tidak punya hal-hal baik. Tapi karena aku terlalu lama berjalan tanpa benar-benar berhenti dan bertanya pada diri sendiri: “Aku sebenarnya bagaimana?” Aku terlalu sibuk menjalani. Terlalu sibuk menyesuaikan. Terlalu sibuk berfungsi. Aku jarang memberi ruang untuk merasa. Kita sering berpikir bahwa untuk merasakan sesuatu, harus ada alasan besar. Harus ada kejadian besar. Harus ada momen dramatis. Padahal, perasaan kosong bisa datang tanpa peristiwa khusus. Ia bisa datang dari kelelahan yang menumpuk. Dari emosi yang dipendam terlalu lama. Dari kebutuhan yang tidak pernah benar-benar didengar. Aku mulai mengingat kembali momen-momen kecil ketika aku menunda diriku sendiri. Saat aku ingin istirahat tapi memaksakan bekerja. Saat aku ingin jujur tapi memilih diam. Saat aku ingin menangis tapi menahannya. Saat aku ingin berhenti tapi terus berjalan. Semua itu terasa kecil. Tapi jika terjadi berulang, ia meninggalkan jejak. Kosong bisa menjadi cara tubuh dan hati berkata: “Sudah terlalu lama aku diabaikan.” Aku tidak langsung memahami itu. Butuh waktu. Butuh kejujuran. Butuh keberanian untuk melihat ke dalam. Awalnya aku mencoba mengisi kekosongan itu dengan hal-hal baru. Lebih banyak aktivitas. Lebih banyak distraksi. Lebih banyak rencana. Aku berpikir mungkin aku hanya butuh sesuatu yang menyenangkan. Kadang berhasil sesaat. Tapi setelah itu, rasa kosong itu kembali. Aku mulai sadar bahwa kosong bukan sesuatu yang bisa diisi dari luar. Ia bukan ruang yang bisa ditutup dengan kesibukan. Ia bukan lubang yang bisa diisi dengan distraksi. Kosong sering kali adalah tanda bahwa kita perlu kembali ke dalam. Tapi kembali ke dalam tidak selalu mudah. Karena di dalam, kita mungkin menemukan hal-hal yang selama ini kita hindari. Kelelahan yang belum diakui. Kesedihan yang belum sempat dirasakan. Kemarahan yang belum pernah diberi ruang. Kebutuhan yang belum pernah dipenuhi. Aku mulai mencoba duduk dengan perasaan kosong itu. Tidak langsung menolaknya. Tidak langsung mengalihkan. Hanya duduk dan merasakan. Awalnya terasa tidak nyaman. Seperti duduk di ruangan yang sunyi terlalu lama. Seperti menunggu sesuatu yang tidak jelas. Tapi pelan-pelan, aku mulai mendengar diriku sendiri. Mulai memahami bahwa kosong ini bukan musuh. Kosong ini adalah sinyal. Sinyal bahwa aku butuh jeda. Butuh perhatian. Butuh kembali. Kosong mengajarkanku bahwa hidup tidak selalu tentang menambah. Kadang hidup justru tentang mengurangi. Mengurangi tekanan. Mengurangi tuntutan yang tidak perlu. Mengurangi kebiasaan memaksa diri. Aku mulai bertanya: Apa yang benar-benar kubutuhkan sekarang? Apa yang selama ini kutunda? Apa yang sebenarnya kurasakan? Tidak selalu ada jawaban yang jelas. Tapi pertanyaan-pertanyaan itu membuka ruang. Aku mulai memberi diriku waktu tanpa agenda. Waktu untuk tidak melakukan apa-apa. Waktu untuk berjalan tanpa tujuan. Waktu untuk duduk tanpa harus produktif. Hal-hal kecil itu tidak langsung menghilangkan rasa kosong. Tapi mereka membuatku merasa sedikit lebih terhubung dengan diriku sendiri. Kosong tidak selalu hilang dalam semalam. Ia pelan-pelan berubah ketika kita mulai mendengarkan. Aku belajar bahwa tidak apa-apa jika hidup terasa datar sesekali. Tidak apa-apa jika kita tidak selalu bersemangat. Tidak apa-apa jika kita merasa kosong di tengah hari-hari yang terlihat baik. Perasaan itu tidak membuat kita rusak. Tidak membuat kita gagal. Tidak membuat hidup kita tidak bermakna. Perasaan itu hanya bagian dari menjadi manusia. Aku ingin kamu tahu, jika kamu pernah merasa kosong di tengah keramaian, kamu tidak sendirian. Jika kamu pernah merasa hampa tanpa alasan jelas, kamu tidak aneh. Jika kamu pernah bertanya kenapa semuanya terasa datar, kamu tidak salah. Mungkin kamu hanya lelah. Mungkin kamu hanya butuh jeda. Mungkin kamu hanya terlalu lama berjalan tanpa benar-benar kembali ke dirimu sendiri. Kita sering berpikir bahwa hidup harus selalu terasa penuh. Penuh makna. Penuh semangat. Penuh warna. Padahal hidup juga punya ruang sunyi. Ruang datar. Ruang kosong. Dan ruang itu tidak selalu buruk. Kadang, justru dari ruang kosong itulah kita bisa mulai mendengar lagi. Mendengar apa yang benar-benar kita butuhkan. Mendengar apa yang selama ini kita abaikan. Mendengar suara kecil di dalam yang sudah terlalu lama tenggelam oleh kebisingan. Aku tidak lagi melihat kosong sebagai sesuatu yang harus segera dihilangkan. Aku mulai melihatnya sebagai undangan. Undangan untuk berhenti sejenak. Untuk kembali. Untuk merawat diri dengan lebih jujur. Mungkin hidup tidak akan selalu terasa penuh. Mungkin kita tidak akan selalu merasa bersemangat. Mungkin ada hari-hari datar yang datang tanpa alasan. Tapi itu tidak apa-apa. Kita tidak harus selalu merasa “penuh” untuk tetap hidup dengan utuh. Kita hanya perlu tetap hadir. Tetap mendengarkan. Tetap pulang, pelan-pelan, ke dalam diri.

Pulang ke Diri Sendiri

Hidup yang Tidak Pernah Sepi

Di publikasikan 10 Feb 2026 oleh _didiable

Beberapa tahun terakhir, aku sering merasa hidup berjalan sangat cepat. Bukan cepat dalam arti menyenangkan seperti berlari menuju sesuatu yang ditunggu-tunggu, tapi cepat seperti dikejar sesuatu yang tidak pernah benar-benar terlihat. Hari-hari terasa penuh. Notifikasi datang tanpa henti. Tugas selalu ada. Percakapan terus berjalan. Informasi terus masuk. Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang semakin jarang: sepi. Bukan sepi karena kesepian. Tapi sepi dalam arti sunyi. Sepi yang memberi ruang untuk bernapas. Sepi yang memungkinkan kita mendengar diri sendiri. Aku mulai menyadari bahwa hidup modern hampir tidak pernah benar-benar sepi. Bahkan saat aku sendirian di kamar, ada ponsel di tangan. Ada layar yang menyala. Ada suara yang terus menemani. Ada hal-hal kecil yang mengisi setiap jeda. Aku terbiasa mengisi waktu. Menunggu sambil membuka media sosial. Makan sambil menonton sesuatu. Berbaring sambil membaca berita. Bahkan sebelum tidur, tanganku sering masih menggenggam ponsel. Awalnya terasa normal. Semua orang melakukannya. Semua orang hidup seperti ini. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang perlu dipertanyakan. Tapi pelan-pelan, aku mulai merasa lelah dengan keramaian yang tidak pernah berhenti. Bukan keramaian orang. Bukan keramaian tempat. Tapi keramaian di dalam kepala. Pikiran terasa penuh. Emosi terasa cepat naik dan turun. Perasaan terasa mudah terpicu. Kadang aku bahkan tidak tahu kenapa aku merasa gelisah. Tidak ada masalah besar. Tidak ada kejadian dramatis. Tapi ada rasa tidak tenang yang datang tanpa alasan jelas. Aku mulai bertanya-tanya: mungkin aku terlalu jarang benar-benar diam. Kita hidup di zaman di mana diam sering terasa canggung. Jika tidak ada suara, kita mencarinya. Jika tidak ada aktivitas, kita mengisinya. Jika tidak ada notifikasi, kita mengeceknya. Seolah-olah kesunyian adalah sesuatu yang harus dihindari. Seolah-olah jika kita berhenti sebentar, kita akan tertinggal. Aku pernah duduk di sebuah kafe, sendirian, tanpa membuka ponsel. Hanya duduk dan melihat sekitar. Awalnya terasa aneh. Tanganku refleks ingin meraih sesuatu. Ingin membuka sesuatu. Ingin mengisi waktu. Beberapa menit pertama terasa panjang. Seperti tidak ada yang terjadi. Seperti aku membuang waktu. Tapi setelah beberapa saat, ada sesuatu yang berubah. Aku mulai menyadari napasku. Menyadari suara di sekitar. Menyadari pikiranku sendiri. Dan di situlah aku sadar: aku jarang sekali benar-benar hadir. Kita sering berada di banyak tempat sekaligus. Tubuh di sini. Pikiran di tempat lain. Hati di masa lalu. Kekhawatiran di masa depan. Kita terus bergerak tanpa benar-benar merasakan langkah. Hidup yang tidak pernah sepi membuat kita terbiasa dengan kebisingan. Dan ketika kebisingan itu menjadi normal, kita mulai kehilangan kemampuan untuk mendengar diri sendiri. Kita tahu apa yang orang lain pikirkan. Kita tahu apa yang sedang terjadi di dunia. Kita tahu tren terbaru. Tapi kita tidak selalu tahu apa yang sedang terjadi di dalam diri. Aku pernah merasa sangat lelah tanpa tahu kenapa. Aku pernah merasa kosong di tengah banyak aktivitas. Aku pernah merasa jenuh meski hari-hariku penuh. Dan baru kemudian aku sadar, mungkin aku terlalu lama hidup tanpa ruang hening. Ruang hening bukan berarti kesepian. Ruang hening adalah ruang untuk kembali. Kembali ke napas. Kembali ke tubuh. Kembali ke perasaan. Tanpa ruang itu, kita mudah kewalahan. Pikiran tidak punya tempat untuk mencerna. Emosi tidak punya tempat untuk turun. Tubuh tidak punya kesempatan untuk benar-benar rileks. Kita terus menerima, menerima, menerima— tanpa pernah benar-benar memproses. Aku mulai memperhatikan kebiasaanku. Setiap kali merasa tidak nyaman, aku langsung mencari distraksi. Membuka ponsel. Menonton sesuatu. Mendengarkan musik. Mengisi waktu dengan apa pun yang bisa mengalihkan perhatian. Awalnya terasa membantu. Tapi lama-lama, aku merasa semakin jauh dari diriku sendiri. Karena setiap distraksi kecil itu membuatku tidak perlu berhadapan dengan apa yang sebenarnya kurasakan. Tidak perlu duduk dengan emosi. Tidak perlu mendengarkan pikiran. Tidak perlu mengakui kelelahan. Aku hanya perlu terus bergerak. Tapi terus bergerak tanpa jeda membuat kita kehilangan arah. Kita berjalan, tapi tidak tahu ke mana. Kita sibuk, tapi tidak tahu untuk apa. Kita hidup, tapi tidak selalu merasa hidup. Aku mulai mencoba hal kecil: memberi diriku ruang sepi. Tidak lama. Tidak dramatis. Hanya beberapa menit. Duduk tanpa melakukan apa-apa. Berjalan tanpa musik. Makan tanpa layar. Menatap langit tanpa distraksi. Awalnya terasa aneh. Kadang terasa membosankan. Kadang pikiranku justru menjadi lebih ramai. Tapi perlahan, ada perubahan. Aku mulai mendengar diriku sendiri. Mulai menyadari apa yang kurasakan. Mulai memahami kelelahan yang selama ini hanya kututup dengan kesibukan. Hidup yang tidak pernah sepi membuat kita mudah lupa bahwa kita punya dunia di dalam. Dunia yang juga butuh perhatian. Dunia yang juga butuh dirawat. Aku menyadari bahwa aku sering berusaha mengisi setiap celah waktu. Seolah-olah waktu kosong adalah sesuatu yang harus dihindari. Seolah-olah jika aku tidak melakukan apa-apa, aku sedang menyia-nyiakan hidup. Padahal, justru di ruang kosong itulah kita bisa bernapas. Di ruang kosong itulah kita bisa mendengar. Di ruang kosong itulah kita bisa kembali. Aku tidak mengatakan bahwa kita harus hidup tanpa distraksi. Kita tetap hidup di dunia yang ramai. Kita tetap bekerja, berkomunikasi, dan menjalani banyak hal. Tapi mungkin kita bisa mulai memberi sedikit ruang untuk sepi. Ruang kecil di antara kesibukan. Ruang kecil di antara percakapan. Ruang kecil di antara hari-hari yang padat. Ruang di mana kita tidak harus menjadi siapa-siapa. Tidak harus produktif. Tidak harus terlihat baik. Hanya menjadi diri sendiri yang sedang bernapas. Aku mulai menyadari bahwa kelelahan yang kurasakan bukan hanya karena pekerjaan atau tanggung jawab. Tapi juga karena aku jarang memberi diriku kesempatan untuk benar-benar diam. Ketika kita tidak pernah diam, kita tidak pernah benar-benar pulih. Kita hanya terus bergerak dengan energi yang semakin menipis. Mungkin itulah sebabnya banyak dari kita merasa lelah bahkan saat tidak melakukan sesuatu yang berat. Karena pikiran kita tidak pernah benar-benar berhenti. Karena emosi kita tidak pernah benar-benar turun. Karena tubuh kita tidak pernah benar-benar merasa aman untuk beristirahat. Hidup yang tidak pernah sepi membuat kita terbiasa dengan kebisingan. Tapi kebisingan yang terus-menerus bisa membuat kita kehilangan arah. Aku tidak ingin hidup yang sepenuhnya sunyi. Aku tetap ingin tawa, percakapan, aktivitas, dan hal-hal yang membuat hidup terasa hidup. Tapi aku juga ingin ruang untuk mendengar diriku sendiri. Ruang untuk jujur. Ruang untuk merasa. Ruang untuk tidak selalu sibuk. Mungkin kita tidak bisa membuat dunia menjadi lebih pelan. Tapi kita bisa membuat langkah kita sedikit lebih pelan. Kita bisa memberi diri kita ruang kecil untuk bernapas di tengah dunia yang ramai. Jika akhir-akhir ini kamu merasa mudah lelah, mudah gelisah, atau mudah kosong, mungkin bukan karena kamu lemah. Mungkin karena hidupmu terlalu penuh tanpa jeda. Mungkin yang kamu butuhkan bukan lebih banyak aktivitas. Bukan lebih banyak distraksi. Tapi sedikit ruang sepi. Tidak perlu lama. Tidak perlu sempurna. Hanya cukup untuk mendengar napas sendiri. Karena di tengah hidup yang tidak pernah benar-benar sepi, kemampuan untuk diam sejenak bisa menjadi bentuk perawatan diri yang paling sederhana—dan paling jujur.

Pulang ke Diri Sendiri

Perempuan yang Terbiasa Kuat

Di publikasikan 10 Feb 2026 oleh _didiable

Aku tidak ingat kapan mulai belajar untuk selalu terlihat kuat. Rasanya seperti sesuatu yang terjadi perlahan, tanpa pernah benar-benar diajarkan secara langsung. Tidak ada yang duduk di hadapanku dan berkata, “Mulai sekarang kamu harus jadi perempuan yang kuat.” Tapi entah bagaimana, pesan itu selalu ada. Terselip dalam percakapan. Dalam harapan orang lain. Dalam cara dunia memperlakukan kita. Perempuan yang baik itu sabar. Perempuan yang dewasa itu mengerti. Perempuan yang bisa diandalkan itu tidak banyak mengeluh. Perempuan yang kuat itu tidak cengeng. Aku tumbuh dengan semua kalimat itu, bahkan ketika tidak diucapkan secara eksplisit. Dan tanpa sadar, aku mulai memakainya sebagai standar hidup. Aku belajar untuk tetap tersenyum saat lelah. Belajar berkata “tidak apa-apa” saat sebenarnya ingin menangis. Belajar menenangkan orang lain meski diriku sendiri belum tenang. Belajar menjadi tempat bersandar, bahkan ketika aku juga ingin bersandar. Ada kebanggaan kecil saat kita dikenal sebagai orang yang kuat. Orang yang bisa diandalkan. Orang yang tidak mudah goyah. Rasanya seperti pencapaian. Seperti identitas yang membuat kita merasa bernilai. Tapi di balik itu, ada sesuatu yang jarang dibicarakan: menjadi kuat terus-menerus bisa sangat melelahkan. Ada hari-hari ketika aku ingin menjadi orang yang tidak selalu mengerti. Tidak selalu sabar. Tidak selalu menampung semuanya. Ada hari-hari ketika aku ingin berkata, “Aku juga capek.” Tapi kalimat itu sering tertahan di tenggorokan. Karena sudah terlalu lama aku menjadi orang yang kuat. Kuat itu tidak selalu buruk. Kuat itu perlu. Kuat membuat kita bertahan. Kuat membuat kita bisa berjalan meski keadaan tidak mudah. Tapi kuat yang tidak pernah diberi jeda bisa berubah menjadi beban. Kita mulai merasa bahwa kita tidak boleh runtuh. Tidak boleh lemah. Tidak boleh terlihat tidak baik-baik saja. Kita mulai percaya bahwa kalau kita berhenti sebentar, semuanya akan berantakan. Bahwa kalau kita jujur tentang kelelahan, kita akan dianggap tidak mampu. Bahwa kalau kita mengaku rapuh, kita akan mengecewakan orang lain. Dan pelan-pelan, kita belajar memendam. Aku sering melihat perempuan-perempuan di sekelilingku yang luar biasa. Mereka bekerja, mengurus rumah, menjaga hubungan, memikirkan masa depan, membantu orang lain, dan tetap berusaha terlihat baik-baik saja. Mereka menjalani banyak peran sekaligus, sering tanpa ruang untuk benar-benar istirahat. Mereka terlihat kuat. Dan mungkin memang kuat. Tapi aku juga tahu, di balik semua itu, ada kelelahan yang tidak selalu terlihat. Ada malam-malam ketika mereka pulang dan duduk diam lebih lama dari biasanya. Ada napas panjang yang dilepaskan pelan. Ada rasa ingin berhenti sebentar, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Menjadi perempuan dewasa sering kali berarti menjadi penyangga. Penyangga emosi. Penyangga harapan. Penyangga banyak hal yang tidak selalu kita pilih. Kita ingin melakukan semuanya dengan baik. Kita ingin tidak mengecewakan siapa pun. Kita ingin menjadi versi terbaik dari diri. Dan keinginan itu tidak salah. Tapi kadang, kita lupa bertanya: di tengah semua itu, apakah kita masih menjaga diri sendiri? Aku pernah berada di titik di mana aku tidak tahu bagaimana rasanya benar-benar beristirahat tanpa rasa bersalah. Bahkan ketika tubuhku lelah, pikiranku tetap berjalan. Tetap memikirkan apa yang belum selesai. Tetap mengingat tanggung jawab. Tetap merasa harus produktif. Istirahat terasa seperti sesuatu yang harus “layak didapatkan”. Seolah-olah aku harus bekerja keras dulu, baru boleh berhenti. Seolah-olah berhenti tanpa alasan jelas adalah kemewahan. Padahal, tubuh dan hati tidak selalu menunggu izin. Mereka lelah ketika mereka lelah. Mereka butuh ruang ketika mereka butuh ruang. Aku mulai menyadari bahwa menjadi kuat tidak harus berarti menahan semuanya sendirian. Kuat tidak harus berarti selalu terlihat baik-baik saja. Kuat juga bisa berarti berani jujur pada diri sendiri. Berani berkata, “Aku lelah.” Berani mengakui, “Aku butuh istirahat.” Berani menerima, “Aku tidak harus selalu kuat.” Kalimat-kalimat itu terdengar sederhana. Tapi untuk orang yang sudah terlalu lama terbiasa kuat, mengucapkannya bisa terasa sulit. Ada rasa canggung. Ada rasa takut. Ada suara kecil di kepala yang berkata bahwa kita seharusnya bisa lebih tahan. Aku pernah merasa bersalah hanya karena ingin berhenti sejenak. Merasa bersalah karena tidak selalu punya energi untuk semua orang. Merasa bersalah karena tidak selalu ingin menjadi orang yang mengerti. Padahal, itu semua manusiawi. Kita bukan mesin. Kita bukan robot yang bisa bekerja tanpa henti. Kita manusia dengan batas. Dan batas itu bukan kelemahan. Batas itu penanda bahwa kita hidup. Ada sesuatu yang berubah ketika aku mulai mengizinkan diriku untuk tidak selalu kuat. Bukan berarti aku menjadi lemah. Bukan berarti aku menyerah. Tapi aku mulai memberi ruang untuk menjadi manusia yang utuh—yang bisa kuat dan rapuh di waktu yang berbeda. Aku mulai belajar bahwa aku tidak harus selalu menjadi tempat bersandar. Aku juga boleh bersandar. Aku juga boleh mencari ruang aman. Aku juga boleh jujur tentang apa yang kurasakan. Tidak semua orang akan mengerti. Tidak semua orang akan langsung memahami. Tapi itu tidak apa-apa. Yang penting, aku mulai mengerti diriku sendiri. Menjadi perempuan yang terbiasa kuat sering kali berarti kita sangat mahir menyembunyikan kelelahan. Kita tahu cara tetap tersenyum. Kita tahu cara tetap berfungsi. Kita tahu cara tetap menjalani hari. Tapi di balik semua itu, ada bagian dari diri yang ingin dipeluk. Ingin didengar. Ingin diberi ruang. Aku mulai mencoba melakukan hal kecil: mendengarkan diriku sendiri. Saat tubuhku lelah, aku mencoba tidak langsung memaksanya. Saat pikiranku penuh, aku mencoba tidak langsung mengabaikannya. Saat emosiku berat, aku mencoba tidak langsung menekannya. Tidak selalu berhasil. Kadang aku masih kembali ke kebiasaan lama. Masih memaksakan diri. Masih menahan. Tapi sekarang, setidaknya aku sadar. Dan kesadaran itu membuat perbedaan. Menjadi kuat tidak harus berarti keras pada diri sendiri. Kita bisa kuat sekaligus lembut. Kita bisa bertahan sekaligus beristirahat. Kita bisa berjalan sekaligus berhenti sejenak. Aku menulis bab ini untuk semua perempuan—dan juga siapa pun—yang terbiasa kuat. Yang sudah terlalu lama menjadi orang yang diandalkan. Yang sudah terlalu sering berkata “aku baik-baik saja” meski sebenarnya lelah. Jika kamu salah satunya, aku ingin kamu tahu: kamu tidak harus selalu kuat. Kamu boleh lelah. Kamu boleh berhenti. Kamu boleh jujur. Tidak ada yang runtuh hanya karena kamu memberi dirimu ruang untuk bernapas. Dunia mungkin tidak akan selalu memberi kita jeda. Tapi kita bisa belajar memberikannya pada diri sendiri. Dan mungkin, itu salah satu bentuk kekuatan yang paling jujur.

Pulang ke Diri Sendiri

Kita Semua Sedang Lelah

Di publikasikan 10 Feb 2026 oleh _didiable

Aku tidak ingat kapan terakhir kali benar-benar merasa ringan. Bukan ringan karena libur. Bukan ringan karena pekerjaan selesai. Tapi ringan yang berasal dari dalam—perasaan bahwa hidup ini tidak terlalu berat untuk dijalani. Sebagian besar hari, aku baik-baik saja. Aku bangun pagi, bersiap, menjalani rutinitas, menyelesaikan apa yang harus diselesaikan, pulang, lalu tidur. Dari luar, semuanya tampak berjalan seperti seharusnya. Tidak ada drama besar. Tidak ada tragedi. Tidak ada cerita yang cukup dramatis untuk disebut “masa sulit”. Tapi di dalam, ada rasa lelah yang sulit dijelaskan. Lelah yang tidak selalu terlihat. Lelah yang tidak selalu bisa diistirahatkan. Lelah yang muncul karena terus berjalan, tanpa benar-benar berhenti. Aku tahu aku tidak sendirian. Banyak dari kita hidup dengan cara seperti ini. Kita tetap berfungsi. Tetap bekerja. Tetap bercakap. Tetap tertawa. Tetap hadir. Tapi di sela-sela semua itu, ada ruang sunyi yang tidak selalu kita akui. Ruang di mana kita ingin duduk sebentar dan bertanya pada diri sendiri: “Apakah aku benar-benar baik-baik saja?” Kadang jawabannya tidak jelas. Kadang jawabannya adalah: entahlah. Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup harus dijalani dengan kuat. Bahwa menjadi dewasa berarti bisa mengurus semuanya sendiri. Bahwa mengeluh terlalu banyak bukan hal yang baik. Bahwa kita harus bersyukur, karena selalu ada orang yang hidupnya lebih sulit. Dan semua itu tidak salah. Tapi kadang, di tengah usaha untuk menjadi kuat, kita lupa bagaimana rasanya menjadi manusia yang boleh lelah. Kita lupa bahwa kuat bukan berarti tidak pernah goyah. Kita lupa bahwa mampu bukan berarti tidak pernah ingin berhenti. Kita lupa bahwa bertahan terus-menerus juga bisa membuat kita kehabisan napas. Ada hari-hari ketika aku bangun dengan perasaan datar. Tidak sedih, tapi juga tidak benar-benar bahagia. Aku menjalani hari seperti biasa, tapi tanpa rasa antusias. Semua terasa seperti daftar tugas yang harus diselesaikan, bukan hidup yang sedang dinikmati. Aku pernah bertanya-tanya, apakah ini normal? Apakah semua orang dewasa merasa seperti ini? Apakah hidup memang terasa begini setelah kita terlalu lama berjalan? Aku melihat banyak orang di sekelilingku tampak baik-baik saja. Mereka bekerja, berkarya, tertawa, pergi ke berbagai tempat, memposting momen-momen bahagia. Dan mungkin mereka memang bahagia. Tapi aku juga tahu bahwa kehidupan yang terlihat rapi dari luar tidak selalu mencerminkan apa yang terjadi di dalam. Kita hidup di zaman di mana semuanya bergerak cepat. Informasi datang tanpa henti. Tuntutan tidak pernah benar-benar selesai. Dan tanpa sadar, kita terus menyesuaikan diri dengan ritme yang tidak selalu manusiawi. Kita terbiasa sibuk. Kita terbiasa produktif. Kita terbiasa menunda istirahat. Seolah-olah berhenti sejenak adalah kemewahan. Seolah-olah merasa lelah adalah kelemahan. Seolah-olah kita harus selalu bisa. Aku pernah memaksakan diri untuk terus berjalan, bahkan ketika tubuhku meminta berhenti. Aku pernah berkata pada diri sendiri, “Sedikit lagi saja,” berkali-kali, sampai akhirnya aku tidak ingat kapan terakhir kali benar-benar beristirahat. Yang aneh, lelah seperti ini tidak selalu datang dari masalah besar. Kadang ia datang dari hal-hal kecil yang menumpuk. Dari rutinitas yang terlalu padat. Dari ekspektasi yang tidak pernah benar-benar selesai. Dari keinginan untuk melakukan semuanya dengan baik. Aku sering merasa harus menjadi versi terbaik diriku. Di pekerjaan. Di hubungan. Di kehidupan sehari-hari. Dan tanpa sadar, aku menjadi orang yang selalu berusaha. Selalu berusaha cukup baik. Selalu berusaha tidak mengecewakan. Selalu berusaha tetap kuat. Tapi ada harga yang harus dibayar dari usaha yang terus-menerus. Ada hari-hari ketika aku ingin berhenti sejenak dan tidak menjadi siapa-siapa. Tidak menjadi orang yang diandalkan. Tidak menjadi orang yang harus mengerti. Tidak menjadi orang yang harus selalu baik-baik saja. Hanya menjadi manusia yang sedang hidup. Kadang, yang paling melelahkan bukan pekerjaan. Bukan tanggung jawab. Bukan masalah besar. Tapi menjadi orang yang terus bertahan tanpa pernah benar-benar dipeluk oleh dirinya sendiri. Aku mulai menyadari bahwa banyak dari kita menjalani hidup dengan mode bertahan. Kita menyelesaikan apa yang harus diselesaikan, melewati apa yang harus dilewati, tanpa benar-benar memberi ruang untuk merasakan. Kita menunda istirahat. Menunda menangis. Menunda jujur pada diri sendiri. Sampai suatu hari, kita merasa kosong. Dan tidak tahu kenapa. Kosong yang tidak dramatis. Kosong yang tidak selalu membuat kita menangis. Kosong yang hanya terasa seperti ruang hening di dalam dada. Aku pernah berpikir, mungkin aku hanya perlu liburan. Mungkin aku hanya perlu waktu luang. Mungkin aku hanya perlu tidur lebih lama. Dan semua itu memang membantu. Tapi tidak sepenuhnya. Karena ternyata, yang lelah bukan hanya tubuh. Yang lelah adalah pikiran yang tidak pernah berhenti. Yang lelah adalah hati yang terlalu sering memendam. Yang lelah adalah diri yang terlalu lama berjalan tanpa benar-benar pulang. Aku mulai belajar bahwa merawat diri bukan hanya tentang melakukan hal-hal yang menyenangkan. Bukan hanya tentang memberi hadiah pada diri sendiri setelah bekerja keras. Bukan hanya tentang mencari pelarian sesaat dari rutinitas. Merawat diri adalah keberanian untuk jujur. Keberanian untuk mengakui bahwa kita lelah. Keberanian untuk berkata pada diri sendiri, “Tidak apa-apa jika hari ini aku tidak sekuat biasanya.” Itu terdengar sederhana. Tapi tidak selalu mudah. Karena kita terbiasa menjadi orang yang bisa diandalkan. Kita terbiasa menyelesaikan semuanya sendiri. Kita terbiasa menyimpan banyak hal di dalam. Kita terbiasa menenangkan orang lain, tapi jarang menenangkan diri sendiri. Aku menulis buku ini bukan karena aku sudah sepenuhnya baik-baik saja. Aku menulis buku ini karena aku sedang belajar. Belajar mendengarkan diri sendiri. Belajar memberi ruang untuk merasa. Belajar pulang ke dalam. Ada banyak hari ketika aku masih merasa lelah. Masih merasa bingung. Masih merasa kosong. Tapi sekarang aku tidak lagi mengabaikan perasaan itu. Aku tidak lagi berpura-pura selalu kuat. Aku tidak lagi menuntut diri untuk selalu baik-baik saja. Aku mulai belajar duduk sebentar dengan diriku sendiri. Mendengarkan napas. Menyadari tubuh. Mengakui emosi. Dan dari situ, pelan-pelan, ada perubahan kecil. Aku mulai menyadari bahwa hidup tidak harus selalu terasa ringan. Tapi hidup juga tidak harus selalu terasa berat. Ada ruang di tengah-tengah, ruang di mana kita bisa berjalan dengan lebih lembut. Ruang di mana kita bisa menjadi manusia yang tidak sempurna, tapi tetap utuh. Tulisan ini bukan tentang menjadi versi terbaik dari diri. Tulisan ini tentang berhenti sejenak dan bertanya: “Aku sebenarnya bagaimana?” Jika kamu membaca ini dan merasa lelah, mungkin kita sedang berada di tempat yang sama. Mungkin kita sama-sama mencoba menjalani hidup dengan sebaik mungkin, sambil sesekali merasa kewalahan. Mungkin kita sama-sama ingin merasa lebih tenang, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Tidak apa-apa. Kita tidak harus langsung menemukan jawabannya. Kita tidak harus langsung sembuh. Kita tidak harus langsung kuat. Kita hanya perlu mulai dengan jujur. Jujur bahwa kita lelah. Jujur bahwa kita manusia. Jujur bahwa kita butuh ruang untuk bernapas. Aku tidak tahu perjalanan hidupmu seperti apa. Aku tidak tahu beban apa yang sedang kamu bawa. Tapi aku tahu satu hal: lelahmu valid. Perasaanmu nyata. Dan kamu tidak sendirian. Di dunia yang terus bergerak cepat, mungkin hal paling berani yang bisa kita lakukan adalah berjalan sedikit lebih pelan. Memberi diri sendiri waktu untuk mengejar napas. Memberi diri sendiri izin untuk tidak selalu kuat. Aku ingin buku ini menjadi ruang yang hangat. Ruang di mana kita bisa duduk sebentar, tanpa harus menjadi siapa-siapa. Ruang di mana kita bisa membaca tanpa merasa dihakimi. Ruang di mana kita bisa merasa dimengerti, bahkan oleh kalimat-kalimat sederhana. Kita mungkin belum sepenuhnya sampai di tempat yang tenang. Tapi setidaknya, kita sedang berjalan ke arah sana. Dan mungkin, itu sudah cukup untuk hari ini.

Pulang ke Diri Sendiri

Bab 1: Mengulik Cara Kerja Agentic Coding

Di publikasikan 08 Feb 2026 oleh Riza Fahmi

Bayangkan teman-teman cukup menulis dan memberi perintah 'Buatkan aplikasi untuk mencatat pengeluaran', lalu tiba-tiba file baru muncul, terminal berjalan sendiri, dan beberapa menit berselang aplikasi sudah siap untuk digunakan. Apakah ini sihir? Bukan, ini *Agentic Coding*. Agentic coding tool seperti Claude Code, Codex, Cursor atau yang lainnya, memang rasanya seperti sihir. Sedikit sulit dipercaya, apalagi yang belum merasakan manfaatnya. Bagi yang belum menggunakan, silakan dicoba dalam jangka beberapa waktu. Cepat atau lambat teman-teman akan merasakan daya magisnya. Tapi di balik layar, semua itu bukanlah sihir. Melainkan sebuah pola yang disebut agentic coding. Di artikel ini, kita tidak hanya akan mengintip ke balik tirai, kita akan belajar bagaimana cara kerjanya dan mempelajari polanya. Paham cara kerjanya tentu akan membantu kita menggunakan agentic coding dengan lebih efektif dan efisien. Semoga setelah membaca tulisan ini teman-teman bisa mendapat gambaran yang lebih jelas tentang apa itu agent dan apa yang membedakan AI agent dengan AI yang bukan agent. Sebelum itu, mari kita lihat bagaimana perjalanan asisten ngoding dari awal hingga sekarang. Dari Tukang Ketik ke Mandor ProyekPerkakas ngoding dengan AI ini telah melewati evolusi yang cukup cepat. Mulai dari chatbot , autocomplete , coding assistant, hingga sekarang kita memasuki eranya agentic coding. Chatbot umumnya menggunakan antarmuka web. Ketika butuh bantuan, kita membuka chatgpt.com, claude.ai, gemini.google, dsb. Bertanya tentang topik pemrograman (atau topik apapun), chatbot kemudian akan memberikan potongan kode yang dibutuhkan. Lalu kita sebagai developer menyalin kode tersebut dan melanjutkan proses pengembangan aplikasi. Dan begitu seterusnya. Chatbot web Berikutnya muncul fitur autocomplete. Diawali oleh munculnya GitHub Copilot yang diusung oleh Visual Studio Code. Biasanya kita mengetik sesuatu di editor kode lalu AI akan mencoba "menebak" kita maunya apa. Atau autocomplete bisa dipantik dengan menulis komentar kita ingin melakukan apa, lalu AI akan memberikan tebakan terbaiknya. Fitur autocomplete Kemudian berkembang lagi. Dengan kemunculan code editor baru, Cursor, asisten ngoding semakin populer. Sederhananya, ini adalah chatbot yang tadinya diakses dengan web browser sekarang ada langsung di editor kode. Dengan tambahan konteks file yang sedang dibuka sehingga kita tidak perlu copas lagi. Dan beberapa fitur menarik lainnya seperti inline chat, hingga fitur yang mampu memahami proyek secara keseluruhan dengan berbagai metodenya seperti indexing code, repomap dan sebagainya. Setiap kode yang ditambahkan, tetap ada peran kita sebagai manusia yang melakukan perubahan. Menyimpan perubahan file misalnya. Meskipun biasanya editor kita set untuk melakukan auto save. File baru pun harus kita yang buat. Coding assistant Terakhir, tibalah kita ke era agentic. Jika menggunakan agen, semuanya serba otomatis. Bikin file baru, baca, tulis dan ubah file, menjalankan perintah terminal dan sebagainya bisa dilakukan oleh LLM. Dimulai dari Cursor dan dipopulerkan oleh Claude Code. Salah satu ciri khas agentic coding ketika diberi perintah, LLM akan merencanakan, membuat langkah demi langkah untuk menyelesaikan perintah terus menerus sampai perintah dianggap sudah selesai. Jadi si agen ini bukan hanya berusaha menyelesaikan perintah tapi seolah ia berpikir, berencana baru mengeksekusi hingga selesai. Agentic coding Cara ini cocok sekali untuk tugas yang kompleks dan sulit dikerjakan dalam sekali tembak. Kok bisa ya tiba-tiba ada LLM yang bisa "mikir", buat rencana lalu eksekusi? Pola AgenticAgent atau Agentic berasal dari kata agency. Agency secara harfiah berarti kemampuan untuk bertindak, bukan cuma berpikir
atau memberi saran. Atau dengan kata lain punya inisiatif. LLM tanpa agen layaknya AI dalam tempurung. Jago ngomong, pengetahuan luas, walaupun terbatas (cut off). Meski pintar menjawab pertanyaan kita, tapi LLM tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa mengingat apapun dan tidak mampu memutuskan jika diberi pilihan. Tidak bisa membaca file, menulis file bahkan tidak tahu tanggal dan jam berapa saat ini. Ilustrasi LLM: AI dalam tempurung LLM adalah mesin prediksi token. Berusaha menyelesaikan teks dengan probabilitas tertinggi. Termasuk juga autocomplete kode, yang adalah teks. Kemampuan dasar LLM adalah menghasilkan teks, tidak dapat mengetahui apa yang terjadi disekitarnya. Tidak tahu tanggal dan jam saat ini, baca dan tulis file, bahkan percakapan terdahulu pun LLM tidak ingat. Kecuali diberi akses untuk mendapatkan informasi tanggal dan jam saat ini, akses untuk baca dan tulis file atau menyertakan percakapan terdahulu. Jadi sebenarnya LLM itu bukan kurang pintar, cuma kurang diberi akses saja. LLM + Tools Jadi gimana caranya supaya LLM punya inisiatif? Persenjatai LLM dengan perkakas atau tools. Mulai dari yang sederhana seperti kasih akses untuk ngecek jam dan tanggal, ngecek kurs atau cuaca hingga memberikan akses untuk baca dan tulis file. LLM dengan perkakas ini, ditambah perkakas untuk menyimpan percakapan dan kemampuan untuk menentukan pilihan perkakas mana yang cocok, dan berjalan terus-menerus hingga tugas selesai itulah yang disebut sebagai AI Agent. Agentic looping Dengan kata lain, LLM disebut sebagai agen atau agentic jika LLM berjalan terus-menerus (loop) yang dapat melakukan observasi apa yang sedang dikerjakan, disediakan perkakas untuk bekerja dan punya kemampuan untuk memutuskan kapan sebuah pekerjaan dinyatakan selesai. TODO: Agentic Looping GIF Tiga Komponen UtamaAda tiga komponen utama dalam Agentic AI, yaitu: perkakas, memori dan reasoning loop. Mari kita bahas satu-per-satu. PerkakasMemberikan kemampuan kepada LLM. Misalnya kemampuan mendapatkan informasi tanggal dan jam saat ini, cuaca di sebuah kota, harga emas terkini, hingga mengoperasikan file seperti baca dan tulis bahkan kita bisa memberikan kemampuan untuk menjalankan perintah bash. MemoriMemberikan daya ingat, jangka panjang ataupun jangka pendek akan membuat LLM semakin terlihat "pintar". LLM bisa paham siapa yang sedang berbicara, tugas apa yang ingin diselesaikan karena setiap percakapan baru ditambahkan ke dalam memori. Mulai dari yang paling sederhana, menambahkan ke struktur data array dan mengirimkan kembali histori percakapan hingga yang canggih seperti database eksternal. Kita bisa saja setiap kali ingin mengirimkan perintah selalu menyertakan percakapan terdahulu. Namun dalam jangka panjang hal ini menjadi melelahkan dan membuat LLM menjadi terlihat "bodoh". Atau bahkan membuat LLM bingung karena kebanyakan konteks. Hal ini terjadi karena LLM memiliki batasan pandangan yang disebut Context Window. Bayangkan context window seperti meja kerja. Memori adalah lemari arsip yang penuh dengan dokumen. Kita tidak bisa menumpuk semua isi lemari ke atas meja sekaligus karena mejanya akan penuh, berantakan, dan kita malah tidak bisa bekerja. Ilustrasi meja yang penuh dokumen. Dibuat oleh AI. Di sinilah Context Engineering berperan. Jika memori adalah tentang apa yang disimpan, maka *context engineering* adalah tentang bagaimana kita memilih dan menyusun informasi tersebut agar LLM tetap fokus. Tanpa pengelolaan konteks yang baik, LLM akan kehilangan arah, bingung lalu mulai mengabaikan instruksi yang berada di tengah-tengah percakapan yang terlalu panjang. Reasoning Loop Dan yang tidak kalah penting adalah kemampuan LLM dalam menentukan dan memilih perkakas yang mana yang cocok digunakan ketika ada permintaan dari pengguna. Misalnya, ketika pengguna bertanya tentang jam berapa, LLM dapat memutuskan untuk menggunakan perkakas jam dan tanggal, bukan malah baca atau tulis file. Dan LLM juga punya kemampuan untuk terus menerus berusaha untuk menyelesaikan pekerjaannya. Hal inilah yang menjadi pembeda. Sebelum model Sonnet versi 3.7, LLM sulit sekali diajak looping. Meskipun sudah diinstruksikan secara eksplisit kadang LLM memutuskan berhenti sebelum tuntas. Proses berpikir ini sering disebut sebagai Chain of Thought. LLM diinstruksikan untuk berpikir dan ngomong sendiri untuk merencanakan langkah-langkah untuk menyelesaikan sebuah tugas. Ketika digabung dengan perkakas lainnya, bisa menjelma menjadi sebuah framework seperti ReAct (Reason + Act) yang lebih powerful. Reasoning loop ini adalah "nyawa" dari agentic coding. Proses berpikir ala LLM Praktek Membuat Agentic Coding ToolMari kita praktekkan langkah demi langkah. Berhubung LLM chatbot saat ini sudah dilengkapi oleh banyak perkakas, kita bisa bertanya tanggal dan jam saat ini dan LLM mampu menjawab dengan akurat. Karena itu kita akan membuat LLM chatbot dari awal dengan menggunakan REST API. Bertanya tentang jam dan tanggal Untuk itu, kita perlu membangun chatbot sederhana. Dengan memanfaatkan REST API, kita bisa memberi instruksi sederhana dalam satu kesempatan (one shot) dan LLM akan mengirimkan respons. Contohnya bisa menggunakan beberapa penyedia jasa LLM seperti Google, Anthropic, OpenAI dan sebagainya. Untuk contoh disini akan menggunakan Google dan Gemini 3 Flash sebagai pilihan modelnya. Silakan ganti URL, model dan variable API_KEY jika ingin menggunakan penyedia jasa LLM lain. PlainBashC++C#CSSDiffElixirHTML/XMLJavaJavaScriptMarkdownPHPPythonRubySQLexport API_KEY=-AI... curl -X POST "https://generativelanguage.googleapis.com/v1beta/models/gemini-3-flash-preview:generateContent?key=${API_KEY}" \ -H "Content-Type: application/json" \ -d '{ "contents": [ { "role": "user", "parts": { "text": "Tanggal dan jam berapa sekarang?" } } ], "generationConfig": { "thinkingConfig": { "thinkingLevel": "LOW" } } }' Dan hasilnya mungkin akan seperti berikut. Karena dengan LLM jawaban bisa berbeda meski pertanyaannya sama. PlainBashC++C#CSSDiffElixirHTML/XMLJavaJavaScriptMarkdownPHPPythonRubySQL{ "candidates": [ { "content": { "parts": [ { "text": "Sekarang adalah hari **Jumat, 24 Mei 2024**.\n\nWaktu saat ini menunjukkan pukul **14:34 WIB** (Waktu Indonesia Barat).", ... }, ] }, } ] } Halu kan?! Saat menulis ini saya berada di tahun 2026. Ini bukanlah trik mesin waktu. Lebih kepada LLM belum diberi akses untuk mendapatkan informasi tanggal dan jam sehingga LLM terpaksa berbohong. Karena memang di desain seperti itu, untuk memastikan tugasnya selesai walaupun keliru. KesimpulanAgentic coding itu bukan sulap. Yang bikin “magis” bukan hanya karena modelnya mendadak jadi lebih pintar, tapi juga karena kita memberikan dia akses (tools), ingatan (memori), dan mekanisme kerja (reasoning loop) supaya bisa mencoba → mengecek → memperbaiki sampai beres. Contoh paling gampang: pertanyaan “jam berapa sekarang?”. Tanpa perkakas waktu, LLM akan tetap menjawab meski jawabannya ngaco. Bukan karena sok tahu, tapi karena tugasnya adalah menghasilkan teks yang terdengar meyakinkan. Dan di sinilah inti agentic: kualitas jawaban itu hasil desain sistem, bukan sekadar “seberapa pintar LLM”. Di bab berikutnya, kita praktik beneran. Kita akan bikin versi minimal “agentic coding tool” dari nol: mulai dari panggilan pertama ke API, lalu kita tambahkan satu kemampuan sederhana: cara memberi perkakas sederhana (misalnya now() untuk mengetahui waktu saat ini). Targetnya sederhana: setelah Bab 2, teman-teman punya fondasi yang bisa di-upgrade jadi agent yang bisa ngoding beneran (baca/tulis file, jalanin command, dll) tanpa bergantung pada “sihir” tool tertentu. Masukan untuk tulisan ini maupun tulisan berikutnya sangat dinanti. ## Referensi - 📺 What Are AI Agents & How Do They Work by ByteByteAI - 🐦 How to work with coding agent by @tyohan - 📺 Ngobrolin Web Episode Agentic AI - 🎶 Syntax.fm Episode Pi - The AI Harness That Powers OpenClaw

Membangun AI Agentic Coding dari Nol: Panduan Praktis Agentic Coding

Cara monetisasi tulisan di Fenulis.com

Di publikasikan 05 Feb 2026 oleh Fenulis

Monetisasi di Fenulis bisa melalui 3 cara: 1. Jual Per Bab Klik tombol "Buku Saya"Pilih salah satu buku yang mau kamu monetisasiKlik icon gembok yang berada di samping kiri bab yang ingin kamu jualMasukkan harga yang kamu inginkanKlik tombol Simpan 2. Jual Per Buku - Model "Karya Utuh" Klik tombol "Buku Saya"Pilih salah satu buku yang mau kamu monetisasiKlik icon gembok yang berada di samping kiri judul bukuMasukkan harga yang kamu inginkanKlik tombol Simpan 3. Terima Tip dari Pembaca - Apresiasi Langsung Pembaca baca salah satu tulisan kamuDibagian bawah tulisan akan ada opsi bagi pembaca untuk memberikan rating tulisan kamuSetelah memberikan rating 1-5, pembaca akan diberikan opsi untuk memberikan Tip kepada penulisJika mereka ingin memberikan Tip, pilih salah satu nominal yang ingin diberikanQRIS code akan muncul di layar pembaca

Panduan

6. Strategi Finansial Mahasiswa (Living Cost)

Di publikasikan 05 Feb 2026 oleh Bangun

Beasiswa mencakup uang saku bulanan (Mukafaah) yang nilainya kurang lebih setara UMR Jakarta. Cukup untuk hidup, tapi "mepet" jika gaya hidup tinggi atau ingin menabung. Pesan Syeikh Abdurrazzak: Mahasiswa harus belajar skill kehidupan untuk menunjang ekonomi.Sumber Penghasilan Tambahan:Freelance: Desain grafis, penulisan, atau remote working lainnya.Les Privat: Mengajar Bahasa Arab atau Al-Qur'an (online ke murid di Indo atau offline).Bisnis/Jualan: Jastip (Jasa Titip) barang-barang Saudi, atau jualan makanan Indonesia ke sesama mahasiswa/jemaah umrah.

Panduan Lengkap Kuliah di Arab Saudi

5. Persiapan Setelah Dinyatakan Lolos

Di publikasikan 05 Feb 2026 oleh Bangun

Euforia diterima harus segera diikuti dengan persiapan matang: Bahasa Arab (Kunci Utama): Jangan menunggu sampai tiba di Saudi. Ikuti kursus intensif (online/offline) di Indonesia. Kemampuan bahasa akan menentukan kemudahan hidup dan kuliah di bulan-bulan pertama.Adaptasi Sosial & Budaya:Pahami budaya lokal Saudi yang berbeda dengan Indonesia.Bergaul dengan komunitas pelajar Internasional (jangan hanya berkumpul dengan sesama orang Indonesia) untuk memperluas wawasan.Manajemen Studi:Jadwal kuliah di sana padat dan sering berubah-ubah.Kuncinya adalah Sabar.Enaknya, mahasiswa bisa memilih sesi kuliah (Pagi/Siang) dan memilih dosen (Masyaikh) yang diinginkan.

Panduan Lengkap Kuliah di Arab Saudi

3. Profil Kampus di Madinah: UIM vs. Taibah

Di publikasikan 05 Feb 2026 oleh Bangun

Bagi yang menargetkan kota Nabi (Madinah), ada dua opsi utama yang lokasinya berseberangan: Universitas Islam Madinah (UIM):Fokus: Dominan Ilmu Syar'i, tapi kini sudah memiliki fakultas umum (Engineering/Teknik, Sains, IT).Gender: Kampus fisik khusus Ikhwan (Laki-laki).Akhwat: Tersedia program, namun sangat jarang dibuka, dan umumnya berbasis Online/Distance Learning.Universitas Taibah:Fokus: Lebih banyak jurusan "Duniawi" (Sains, Kedokteran, Teknik, Humaniora).Gender: Menerima Ikhwan dan Akhwat (kampus terpisah).

Panduan Lengkap Kuliah di Arab Saudi

2. Strategi "Jalur Langit" & Pemilihan Kampus

Di publikasikan 05 Feb 2026 oleh Bangun

Jangan hanya terpaku pada satu kampus populer. Peluang diterima sangat bergantung pada nilai rata-rata ijazah dan strategi distribusi kuota. Trik Peluang Besar: Cari kampus yang jumlah mahasiswa Indonesianya masih sedikit. Kampus-kampus ini seringkali membutuhkan diversifikasi mahasiswa internasional.Peta Persaingan Berdasarkan Nilai:Tier 1 (Persaingan Ketat - Nilai Wajib 95+):UIM (Universitas Islam Madinah): Favorit utama.Imam Muhammad bin Saud (Riyadh): Induk dari LIPIA. Sangat selektif.Tier 2 (Peluang Menengah - Nilai ~85):Universitas Najran, Universitas Shaqra, Universitas Taif, Universitas Al-Baha.Tier 3 (Peluang Lebih Besar - Nilai <85 masih mungkin):Universitas Hail, Universitas Al-Jouf, Universitas Hafr Al-Batin.

Panduan Lengkap Kuliah di Arab Saudi

1. Transformasi Sistem Pendaftaran (Study in Saudi)

Di publikasikan 05 Feb 2026 oleh Bangun

Dulu, pendaftaran dilakukan terpisah di setiap website universitas. Sekarang, Pemerintah Saudi telah menyatukan pintu masuk bagi mahasiswa internasional. Portal Satu Pintu: Semua pendaftaran kini melalui studyinsaudi.moe.gov.sa. Ini adalah platform resmi "Unified Admission" untuk seluruh kampus negeri di Saudi.Dokumen Penting: Selain dokumen standar (Ijazah, Transkrip, Paspor, SKCK, Surat Sehat), ada satu dokumen krusial yang sangat dihargai oleh pihak universitas di sana: Surat Rekomendasi dari MUI (Majelis Ulama Indonesia). Pastikan kamu mengurus ini karena kredibilitas MUI sudah diakui di Saudi.Status Seleksi:Maqbul: Artinya Diterima.Mughuwi (atau Marfud/Mulgha): Artinya Ditolak atau aplikasi dibatalkan.Pasca Diterima: Jika status berubah menjadi diterima, kampus akan menerbitkan Surat Penerimaan Resmi (LoA). Setelah surat ini keluar, segera hubungi PPMI (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) untuk panduan keberangkatan dan pengurusan visa.

Panduan Lengkap Kuliah di Arab Saudi

EXTRA PART 5

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Jadi Papanya Gyan beneran sama ngeselin sesuai cerita Gyan dan Tante Anita, dong, Ni?” “Riiill, Buuuu! Aduh udah deh, aku bersyukur banget masih bisa napas selama di sana karena muak. Apalagi cara dia ngasih tau Gyan, pola pikirnya. Mungkin emang budaya tiap rumah beda, sih, tapi kalau yang ini … kayaknya emang nggak seharusnya ada deh. Maksudnya, Om Gino beneran harus banyak bertaubat biar nggak dibenci anaknya sendiri.” “Mungkin dia malah ngerasa Gyan nggak benci dia? Atau dia tau anaknya benci dia, tapi mikirnya bukan karena dia yang mungkin keliru, malah mikir ya karena Gyan yang nggak bisa diarahin?” “Ya juga sih.” Aku meringis. “Kenapa ya, Bu, ada orang tua bisa mentingin dirinya sendiri dibanding anaknya? Orang bilang, kasih sayang orang tua itu yang paling tulus. Seorang ibu bahkan rela melakukan apa pun untuk anaknya, bahkan harus mempertaruhkan nyawa. Aku suka kasian kalau liat Gyan, aku sendiri ngerasa Ayah rela tuker nyawa dia buat bahagia dan Abang. Iya, kan, Bu?” Ibu tersenyum, menganggukkan kepala, tangannya mengelus sisi wajahku. “Tapi Gyan … papanya bahkan nikahi pacarnya. Alur paling gila yang pernah aku lihat langsung.” Aku tertawa miris. “Menurut Ibu, Nini harus gimana ke depannya? Bantu mereka supaya bisa akur dan beresin kesalahpahaman ini atau diem aja ya, Bu? Aku sebenernya pengen liat Gyan sama papanya bisa akur kayak anak-anak lain, tapi di sisi lain, aku seolah paham apa yang Gyan rasain dan ngerasa egois kalau tetep pengen dia dan Om Gino akur.” “Ibu juga bingung, Ni. Mau bantu biar mereka akur, nyatanya Om Gino emang udah sekeras itu, tapi Ibu paham keinginanmu. Mungkin untuk sekarang, biarin aja, ya?” Ibu menganggukkan kepalanya. “Kita nggak pernah beneran tau sesakit apa yang dialami Gyan dan Tante Anita, jadi biarin mereka melakukan ini kalau memang dengan membenci papanya adalah caranya bertahan buat sekarang. Kita sambil berdoa, minta arah yang baik menurut Allah.” Aku menganggukkan kepala. Memeluk Ibu sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali. Rezeki ini yang mungkin sulit aku sadari dari dulu; memiliki orang tua dan keluarga yang pengertian, baik, dan lembut. Mereka memang bukan tipe yang memanjakanku dengan cara selalu mengiyakan, tetapi cara mereka menyampaikan dan mengarahkan tak pernah membuatku membenci mereka. Aku masih dan akan selalu memberi predikat orang tua terbaik tetap untuk Ayah dan Ibu. Selamanya. Tapi aku juga harus belajar dari pengalaman, bahwa aku tidak bisa melakukan segala hal yang aku inginkan dan aku anggap mampu aku atasi. Seperti prinsip orang lain, sudut pandang orang lain, dan apa pun. Jadi untuk yang satu ini, aku percaya saran Ibu adalah yang paling baik. Aku membiarkan Gyan dan Tante Anita menerima perasaan mereka sendiri dan mungkin masih di fase berjuang untuk melawan. Aku tidak pernah tahu, mungkin di masa depan, momen akan berubah. Aku tidak ingin memaksa Gyan untuk melakukan banyak hal yang menyakitkan untuknya, lagi. Karena mungkin saja, kalau aku mengatakan ini langsung padanya, dia akan berusaha mati-matian untuk mengubah pandangannya terhadap papanya, memperbaiki hubungannya dengan Om Gino dan Mega, bahkan bisa saja meminta Tante Anita untuk melakukan hal yang sama, demi aku—yep, aku sedang merasa besar kepala, tapi entah kenapa aku sangat yakin hal ini. Aku sudah berjanji dan memang ingin memberi kebahagiaan untuk Gyan, kebahagiaan yang banyak, menebus semua kesakitan yang telah aku beri dan memberinya tambahan sebanyak yang aku mampu, dan sebanyak yang dia kayak terima. “Gimana rasanya, Chef Gyan sekte teraneh di peradaban ini?” Aku masih sempat memutar bola mata, meski tertawa karena menggodanya. Harusnya rasa makananku kali ini sebaik dengan kepercayaan diriku dalam menghidangkannya. Aku juga percaya lelaki ini orang paling jujur dan kooper— “Kamu bakalan bete nggak kalau aku jawab jujur?” “Oh no! Ternyata kita sampai di fase ini.” Aku menatapnya horor. Bukan hanya untuk Gyan, tetapi untuk makanan hasil masakanku di piring, di tengah-tengah kami berdua. “Aku kira-kira bakalan ngambek nggak ya, Gy, kalau ternyata ini kamu bilang masakanku nggak enak?” Tawaku tak bisa aku cegah lagi saat melihatnya meringis sambil menggaruk kepala. “Sori, soriii, this is new, for me, for us?” tanyaku tidak yakin masih dengan tawa geli. “Kayaknya aku siap aja sih, Yan. okay, tell me the truth.” Sekarang aku sudah duduk sempurna di seberang kursinya, menatap serius, menanti penilaian. Gyan tertawa, mendongak menatap langit-langit dapur, lalu kembali memberi tatapannya untukku. “Kayaknya aku nggak sanggup. Nggak siap sama dampaknya setelah ini. Oh man! Nggak nyangka ada di fase ini, bener, Ni, ini agak aneh. Ya, kan?” Aku mengangguk-angguk sambil tertawa. “Cepetaaannn!” “Janji nggak marah, yaaa? Nggak down? Nobody’s perfect, Dhara, we all know that. Kamu sempurna di lainnya mungkin, tapi ini bagian kecil doang. Cuma segini.” Dia menunjukkan ukuran fiktif dengan menggunakan ibu jari dan telunjuknya. Aku terkekeh geli. “Gy, dari disclaimer-mu yang sebanyak itu, udah nunjukin separah apa rasanya sih.” “Oya? Anjir, sori, soriiiii.” Aku terbahak-bahak. “Oh nggak sesakit itu ternyata. Easy!” Aku meraih sendoknya, menyuapkan ke mulutku sendiri, dan seketika menahan diri untuk tidak mengeluarkannya detik ini juga. This is bad. Padahal ini bukan nasi goreng pertamaku, tapi tadi aku inisiatif dan kreatif untuk membuatnya berbeda, tapi ternyata malah gagal. “Kita bikin lagi next time, janji lebih baik.” “Sure, Gorgeous. Aku siap nerima semua hasil trial error makananmu dan siap kasih masukan awal kalau kamu butuh. Ini aku tetap akan makan.” “Lho jangaaan! Kalau nggak enak, jangan di—” “Nggak enak dan nggak layak makan itu hal yang beda, Sayangku. Ini masih sangat-sangat mungkin buat dimakan. Santai aja, katamu aku sekte aneh dalam dunia makan-makan, jadi seharusnya ini juga bisa aku handle.” Aku bersedekap, menatapnya geli. “Jadi ini aku sampai mati kayaknya akan nerima permakluman dari kamu?” “Sorry?” “Gyaaan, it’s okay buat marahin aku, negur aku kalau memang salah, bilang aku kurang ini dan itu. Soal reaksiku yang mungkin kecewa dan sakit hati ya nggak pa-pa, tapi aku nggak mau kamu maksa diri buat selalu nerima aku karena kamu pengen nunjukkin kamu sayang aku. I still can feel your love, jadi nggak pa-pa, tegur aja, okay?” Dia tersenyum lebar, menganggukkan kepala. “Thank you, tapi ini tetep mau aku makan.” “Oh kamu beneran laper ya?” Dia terbahak-bahak dan mengiyakan pertanyaanku. Kasihan sekali lelaki ini. Kelaparan, datang ke rumah karena aku menjanjikan hal manis akan masak untuk kami, tapi rasanya mungkin tidak sesuai seharusnya. Well, bukan masalah besar karena kalau kondisi kita kelaparan, maka semua makanan rasanya akan sama; yaitu sama-sama enak. Ketika masuk perut, fungsinya pun tetap sama. Aku sedang menghibur diri, padahal memang sudah seharusnya skill masakku diperbaiki nanti. “Wow! Beneran laper Bapak Gyan ternyata. Super cepat dan abis.” Aku bertepuk tangan, membuatnya terkekeh. “Padahal ya, niatku demi kasih imprei yang baik buat Tante Anita, aku mau undang kalian dinner di rumah, terus mau bilang kalau semuanya aku yang nyiapin.” “Bisa aja dong!” “Jadi, kira-kira, kalau lihat dari rasanya yang ini, menurutmu butuh berapa lama buat aku bisa yakin bikin acara dinner buat keluarga kita?” “Dhara, besok pun, aku dan Mama siap, kamu tahu itu!” Gyan tertawa, sementara aku mencibirnya. “Don’t worry, Sayang, Mama pasti paham sama yang namanya proses. Dia nggak mungkin lahir langsung jago masak, kan? Aku yakin, yang dilihat Mama bukan cuma rasa masakanmu nantinya, tapi usahamu buat jadi yang terbaik.” Aku tersenyum lebar. “Aku suka banget nih sama semangatnya kamu, tanpa batasssss!” Dia tertawa. “Kamu jadi salah satu alasannya, kan?” “Aw, udah makin berani dan luwes buat ngomong bernada gombal sekarang?” “Rasanya kayak gombal, Ra?” “Lebih buruk dari itu.” Gyan tertawa kencang. “I love you.” “Udah nggak pake ‘guess’ lagi sekarang?” Dia yang sekarang memutar bola mata. “So, Gyan, gimana rasanya ada di kehidupan dan hubungan yang bisa bikin kamu terbuka sama dirimu sendiri?” Dia menatapku dalam-dalam, matanya terlihat berkaca-kaca. “It’s beyond words, Dhara.” Dia tersenyum manis sekali. “Aku beneran belum nemu kata-kata yang layak buat gambarin how grateful I am. Buat kondisi sekarang ini. Ada kamu, ada Ibu, ada Abang. Aku bahkan udah nggak pernah komplain tentang keluargaku yang rusak, karena aku ngerasa I got a new one. Aku bahkan udah nggak masalah nggak punya papa, aku ikhlas. Buat semua hal yang terjadi di belakang, aku ikhlas. Yang terpenting sekarang, aku mau berusaha sekuat mungkin, buat nggak bikin kamu ngerasain apa yang dirasa Mama, buat anakku—kalaupun punya, biar nggak ngerasain hancurnya kayak aku. Beneran deh, aku nggak mau nanti anakku ngalamin itu. Thank you, thank you so much for coming into my life. Nggak tahu harus berapa banyak aku bilang makasih.” Aku berdiri setelah merasa dia selesai dengan kalimatnya. Aku pun tidak menemukan kata-kata untuk menjawabnya saat ini, jadi aku memutuskan untuk memberinya pelukan paling tulus dan hangat yang aku rasa aku punya. Juga memberinya kecupan-kecupan kecil di kepalanya. Laki-laki ini harus banyak merasakan kelembutan dari dunia yang keras ini. Aku sendiri yang akan mengusahakannya. Aku janji.

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 3

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

Aku tadinya sudah merasa sangat percaya diri ini hanyalah pertemuan casual antara calon menantu dengan calon mertua. Atau kalau itu terdengar terlalu serius, aku bisa menganggapnya sebagai pertemuan basa-basi dengan kenalan baru? Oh ya Tuhan, semoga kalimat penghiburku tadi sungguh-sungguh bisa berdampak positif untuk diriku sendiri. Aku masih berharap sekecil mungkin, meskipun jantungku rasanya seperti mau meletup begitu kami memasuki gerbang perumahan. Kami tidak mungkin melewati gerbang perumahan di jalanan biasa, kan? Maksudku, gerbang ini sudah pasti merupakan perumahan tujuan kami, kan? Aghnia Dhara, Nini, tolong sadar, kembalilah pada dirimu sepenuhnya. Kamu tidak memiliki banyak waktu bahkan untuk kabur dari sini. Jadi, bersiaplah pada kemungkinan terburuk penolakan Om Gino. Aku percaya kamu bisa, tapi banyak hal terjadi di luar kendali kita, dan khawatir dengan yang satu ini. Bismillah. Aku refleks menoleh dan mengerutkan kening ketika mendengar tawa Gyan yang tiba-tiba. Entah apa yang ada di kepalanya sehingga membuatnya tidak mengatakan apa-apa, tetapi tepat ketika mobilnya berhenti di depan sebuah gerbang tinggi, Gyan tertawa. Aku belum sempat bertanya karena sudah melihat satpam menghampiri kami. Saat Gyan menurunkan kaca mobil, mereka saling balas senyum dan salam, aku ikut-ikutan tersenyum sambil mengangguk. “Silakan, Mas Gyan. Lalu gerbang terbuka, aku seketika menahan napas. Tetapi Gyan memang orang yang baik, masih baik, dan akan selalu menjadi orang yang baik. Dia tidak langsung turun dari mobil, tetapi melepaskan sabuk pengaman, dan menyerongkan tubuh menatapku. Tapi aku tidak mau menunggunya berbicara dulu, aku mau aku yang memulai. “Kenapa ketawa tadi?” “Siapa?” “Gyan?” Dia terkekeh. “Aku ngetawain diri sendiri.” “What?!” “Rasanya lucu, lho, Ra. Terakhir aku ngenalin cewek ke dia, cewekku dinikahi. Terus tadi kebayang hal yang sama, dan bayangin sosok kamu dinikahi papa. Kamu gimana kalau ditawarin jadi istri mudanya?” Aku membuka mulut, menatapnya ngeri. “Gyan, please?” Dia tertawa lepas. “Kamu tau, mungkin dia sekarang udah tua, tapi jiwa predatornya pasti masih berfungsi dengan baik dan orang menarik kayak ka—oh kayakanya bukan tipe dia.” Aku mengembuskan napas lelah. Candaan kami ini terasa salah, tetapi anehnya aku juga ikut menikmati karena sekarang sudah tertawa sendiri, tertawa geli. “Kenapa aku bukan tipe dia?” “Karena kamu nggak akan mau sama dia dan nggak akan nurut sama semua omongannya. Kamu nggak mempan ditawarin duit yang banyak. Apalagi rayuan di-provide semuanya. Kamu pasti takut dan kabur. Dia jelas nggak suka.” “Atau gimana kalau kita coba, Gy?” Bola matanya membeliak. “Heh! Nggak boleh dong! Aku bercanda, itu pikiran tololku doang. Kalau kali ini dia berani lirik-lirik kamu bukan sebagai orang tua bau tanah tapi kayak lirikanku, aku nggak akan diem. Aku siap tempur.” Aku memutar bola mata. “Ini lo ngeremehin gue lagi, Ra?” “Enggak, please!” Aku terbahak-bahak. “By the way, emang lirikan lo ke gue gimana, Yan?” Dia menarik-turunkan alisnya, memberi tatapan super jahil dan aku tidak mampu menahan tawa. Tapi obrolan kami terpaksa harus berhenti karena melihat seseorang keluar dari pintu rumahnya, berjalan menghampiri kami. Aku buru-buru ikut turun, menyaksikan sapaan ramah dan hangat mereka. Aku tidak terlalu mendengar apa yang diucapkan perempuan itu, tetapi kini tiba giliranku, dia menyapa sangat ramah sambil membungkukkan sedikit tubuh. “Ini, Mbak, sedikit buah tangan.” Aku menyodorkan buah tangan yang aku bawa untuk mereka. “Terima kasih, Mbak Dhara. Mari masuk, Mbak. Ayo, Mas Gyan.” “Namanya Mbak Irma,” ucap Gyan lirih, sambil meraih tanganku, menggandengku melangkah bersamanya. “Dulu dia nangis mau ikut aku sama Mama, tapi di sisi lain, papa juga baik dan sayang sama dia. Lucu banget dulu, dia yang lebih galau ketimbang aku sebagai anak yang ortunya divorced.” Gyan tertawa pelan. Aku menyamakan langkah dengan Gyan, di belakang Mbak Irma, memasuki rumah yang besar bagiku, dan aku semakin percaya dengan semua kisah Gyan di masa lalu. Seseorang, yang memiliki harta segini banyak, mungkin juga dengan ketampanan yang mencukupi—melihat Gyan semenarik itu fisiknya, aku yakin papanya pun sama di kehidupan nyata—menjadikan modal kuat dia untuk semena-mena pada kehidupan. Aku tidak berusaha mengeneralisir, kasus utama di sini adalah papanya Gyan. “Haiiii!” There she is! Perempuan yang beberapa waktu lalu dengan berani dan tegas memberiku peringatan untuk tidak menyakiti Gyan, padahal tumbuhan mati pun tahu apa yang dia lakukan pada kekasihku. Oh lihatlah siapa yang dia pilih peluk di antara aku dan Gyan. Tentu Gyan! Sementara padaku, dia hanya mengangguk singkat dan memberi senyuman tipis, terlalu tipis. “Macet nggak tadi?” Mungkin ini karena hubunganku dan impresiku dengan Mega memang tidak baik, makanya aku memaknai tatapan, kalimat, dan nada bicaranya seolah istri atau pacar yang sedang bertanya. Aku merasa horor sendiri. Tapi, pasanganku memang bisa diandalkan tanpa perlu aku beritahu apa yang aku ingin dia lakukan, karena dia menoleh padaku, tertawa pelan dan bilang, “Macet udah bukan hal baru, ya, Sayang, ya?” Ow! ‘Sayang’, heh? Ada untungnya juga pertemuan ini, karena membuat dramaku dan Gyan berlanjut. Dulu, kami mencoba berusaha seperti dua orang yang mencoba saling mengenal, sekarang—oh kami tidak sedang berpura-pura, ini sungguhan. Bedanya, mungkin sebelumnya tidak ada atau belum berani menggunakan panggilan sayang. “Papamu tadi udah tau dan inget kok kamu mau ke sini, Gy. Tapi tadi ada telepon dadakan dan penting, makanya dia keluar. Tapi ini tadi udah ngabarin dikit lagi sampe.” Gyan mengangguk. Sudah, itu saja. Sementara aku merasa tidak perlu berbasa-basi untuk membuat percakapan, karena Mega sama sekali tidak melibatkanku. Mungkin dia mau menunjukkan padaku kalau aku bahkan tak terlihat di rumah ini. Seolah tidak ada. Tapi justru itu hal baik untukku, karena aku tidak perlu susah-susah menyusun kalimat. Aku mau menyimak dan diam, menikmati hidangan istimewa yang disiapkan Mbak Irma dan temannya tadi. Aku tidak tahu Mega memiliki berapa banyak bantuan di rumah ini. Benar-benar pilihan yang tepat, Mega, memilih meninggalkan lelaki muda demi menjadi nyonya besar. “Abaaaaaanggggg!!!!” Ini dia hiburanku! Satu-satunya hal baik dari Mega yang bisa aku terima adalah dengan kehadiran Alex. Terima kasih, Mega, sudah melahirkan anak semenggemaskan ini, juga tampan—kalau yang ini, sekali lagi, aku yakin karena gen ayahnya Gyan. Aku tadi sudah melihat lagi foto-foto keluarga Mega dan semakin yakin. “Ini dari mana ini?” Gyan tertawa geli, membantu melepas tas Alex, lalu mencium kepalanya. “Abis main skateboard, ya, Sus?” Yang dipanggil sus mengangguk. “Betul, Mas. Progresnya bagus banget tadi kata pelatihnya, ada videonya di Ibu.” Ibu alias Mega dengan senyum lebar meraih handphone, mencari-cari sesuatu, kemudian menyodorkan pada Gyan dengan senyuman lebar, terlihat sangat bangga. “Liat, Gy, Alex pinter banget, ya?” Tatapan itu, tatapan yang Mega berikan pada Gyan, ketika kekasihku sedang fokus melihat video adiknya. Oh ini yang aku lewatkan kalau aku tetap denial akan perasaanku pada Gyan. “He’s so brave, sama kayak kamu.” Aku mulai tidak tahan mendengar kalimat-kalimat perempuan ini. Entahlah, terdengar sangat janggal dan sedikit disgusting. Karena … Alex, kan, anaknya Om Gino, tetapi kenapa seolah dia sedang menganalisa anak Gyan? Gyan menyerahkan kembali handphone, lalu, menatap adiknya. “Keren banget cowok kecil ini, yaaaa!” Ia mencubit pelan perut adiknya. “Anak siapa iniii keren banget! Anaknya Papa Gino, yaaa?” “Adeknya Abang jugaa!” jawabnya sambil tertawa, laku dia mendadakn menemukan tatapanku. Alex memukul keningnya. “Oh My God! Aku lupa nggak salim Kakak Dhara. Sorriii.” Dia mendekatiku, menyalamiku dan aku memeluknya singkat. “Tadi Kak Dhara hampir nangis nih nggak dikenal Alex.” “Nggak mungkin dong!” Gyan tertawa. “Tadi Abang diem, kasih waktu sampe Alex ngeh sendiri di sebelah ada Kak Dhara. Kalau kelamaan tadi ngenalinnya, waaahhh, Abang nggak mau ketemu Alex lagi ah.” “Kamu berdua mau menikah, ya?” Pertanyaan polos itu, refleks membuatku tergelak, Gyan pun sama, dia mengusap kepala Alex. Sementara Mega terbatuk-batuk. Kenapa, Mega? Apakah pernikahan kami juga tidak akan kamu restui? Kamu menginginkan Gyan menikahi siapa? Menikahimu diam-diam juga kah? Atau tidak usah menikah supaya fokus dengan Alex dan kamu? “Alex tahu menikah itu apa?” tanyaku geli. Apalagi ketika dia menoleh pada Sus-nya, terlihat meminta tolong. “Tahu nggak?” Dia tertawa. Lalu menggelengkan kepala. “Party? Banyak makanan, tempat bagus dan kita nyanyi-nyanyi.” “Kok pinter banget sih?” Aku pura-pura cemberut sambil bersedekap. “Coba tanya sama Abang, menikah itu apa.” ALex menoleh pada Gyan. Gyan tertawa geli, terlihat berpikir keras. “Menikah itu … ketika dua orang dewasa siap buat hidup bareng selama-lamanya. Tinggal di rumah yang sama, saling bantu di rumah, saling sayang.” “I know!!” serunya kencang sambil meninju angin. Lalu ketika dia baru mau membuka mulut kembali, Mega sudah keburu memanggilnya, dan memintanya untuk ke kamar bersama Sus. Aku sah-sah saja, kan, kalau benar-benar mulai membenci Mega? Atau mungkin, dia sudah layak aku panggil nenek lampir? Oh Nini, kamu mulai mengambil peran antagonis.

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 4

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Ada komplain apa sejauh ini sama sosok Gyan, Ra?” Aku tidak mengerti kalimat itu sungguh layak disebut sebagai kalimat teraneh dalam pembukaan obrolan ketika kita baru pertama bertemu seseorang. Terlebih, orang-orang itu adalah calon mertua dan menantu kalau memang takdirnya nanti sungguh demikian. Well, aku tidak berniat menggurui atau sok paling paham hanya karena aku pernah mengalami beberapa hal menarik dalam hidup, tapi maksudku … tidakkah ini aneh untuk didengar? Pertanyaan dari papanya Gyan, Om Gino ini sungguh diluar dari perkiraanku, bahkan setelah disadarkan oleh Gyan di dalam mobil tentang kemungkinan aku tidak disukai papanya. Bahkan dalam kemungkinan terburuk, aku masih tidak menyangka pertanyaan itu yang akan beliau utarakan. Aku pikir, akan berupa; “Gimana hubunganmu sama Gyan?” “Kalian keliatan banget dua orang yang berbeda, gimana caranya bisa saling melengkapi dan bikin hubungan ini works?” “Jadi rencananya kapan mau ke jenjang pernikahan?” “Gy, kapan kamu ajak Papa buat ketemu dan ngobrol sama ibunya Dhara, kalau nggak mau langsung obrolan serius, yaa ngobrol-ngobrol ringan dulu lah.” “Kamu yakin bisa jadi orang yang selalu ada di samping Gyan?” “Seberapa kamu yakin kamu dan Gyan bisa saling kerja sama dan nggak gagal kayak hubungan saya dan mamanya Gyan?” Ya, aku sudah menyusun beberapa pilihan yang kemungkinan akan ditanyakan oleh Om Gino, tetapi yang aku terima justru dia ingin tahu apa saja yang sudah aku list dari keburukan Gyan. Seriously, dari sekian banyak kebaikan yang Gyan miliki, sebagai anaknya, dia masih mau mencari-cari komplain dari orang lain, terlebih dari perempuan yang dengan sadar di bawa ke sini sebagai pasangan? Aku rasanya tidak masalah untuk sepenuhnya mengambil peran antagonis—selama aku di rumah ini. Tidak perlu tanggung-tanggung hanya ketika di depan Mega, karena nyatanya, Mega dan Gino memang sungguh pasangan yang serasi. Mereka sama saja. Yang mengenaskan adalah melihat respons Gyan. Tahu apa? Dia tertawa pelan, menggeleng-gelengkan kepala, sambil sibuk menikmati makanan di piringnya. Aku paham sekali, reaksinya ini sungguh normal mengingat dia menghadapi papanya bukan kali pertama ini, melainkan nyaris separuh hidupnya. Jadi, dia pasti sudah terbiasa, terlalu terbiasa. Tapi tidak denganku, jadi, setelah sadar aku mengambil jeda yang lumayan lama untuk menjawab pertanyaannya, aku akan membuat ini semua worth to wait. Om Gino akan puas dengan semua penjabaran yang aku berikan tentang sosok anaknya. Aku tersenyum, menatap Om Gino sopan tanpa melirik Mega—kali ini, aku bahkan bisa menganggapnya tidak ada, kalau aku mau. “Komplain buat ke Gyan, ya Om? Wah banyak banget sampai lama banget aku mikirnya.” Kami semua tertawa pelan, sepertinya. Aku tidak berniat melihat yang lain. “Komplainku bahkan aku utarain ke Gyan, lho, Om, saking aku udah eeeeeghhhh nggak sanggup nahan.” “Oyaa?” Om Gino menganggukkan kepala, sambil tertawa khas bapak-bapak. Tapi tidak peduli bagaimanapun kuatnya pesona atau wibawanya, namanya sudah terlanjur buruk di ingatanku. Jadi, apa pun yang dia lakukan, kesannya juga negatif. Aku tahu aku harus segera mengurus pikiranku ini kalau aku masih mau hidup dengan Gyan. “Wajar banget kok komplainmu itu, kita paham gimana sosok Gyan, jadi kita nggak nyalahin kamu, Ra.” Aku mengangguk. “Aku selalu bilang sama dia buat jangan jadi orang terlalu baik, nanti dimanfaatin orang lain.” List pertamaku bahkan sudah mengubah raut wajah Om Gino dan sekarang aku memutuskan melirik Mega, dia pun sama. “You’re a good father, Om, bisa didik Gyan buat jadi manusia yang mentingin orang lain dibanding dirinya sendiri, terlebih kalau dia sayang sama orang itu. Padahal, jadi baik itu rentah sakit hati, ya, Om?” Om Gino tertawa pelan, tidak mengatakan apa-apa. “Aku juga selalu komplain sama Gyan, kenapa siiii mau capek-capek effort segitunya buat aku, padahal dulu di awal aku jahat lho, Om. Aku manfaatin kebaikan Gyan, karena aku tahu dia baik dan sayang aku. Tapi itu Gyan, tulus dan baiknya nggak kurang-kurang. Dia mau pusing demi bantu orang lain, dia malah seneng in charge buat masalah orang, apalagi orang yang dia sayang. Dia sering ngerelain sesuatu buat orang yang dia sayang, ya, Om? Anak Om ini hebat, cowok hebat. Jago masak.” Aku melihat alisnya mengangkat, informasi ini mungkin akan melukai egonya. “Salah satu kegiatan favorit kami adalah belanja ke supermarket dan masak bareng.” Aku melirik Gyan, menepuk pundak lelaki itu dengan senyuman bangga. “Dia kelihatan hebat ngelakuin apa pun, masak, bantuin Ibu ngurus tanaman, kerja keras, ngurus kafe. Dia bisa jadi anak dan pacar yang hebat. Makasih, ya, Om, udah jadi bagian atas kehadiran Gyan di dunia ini.” “Tapi manusia isinya bukan cuma baik-baik aja, kan, Ra?” Om Gino menatapku, aku tahu ke mana arahnya. “Kita nggak hidup cuma dengan kebaikan. Pernikahan itu nanti akan bikin kita lebih terbuka, dan yang mungkin selama ini nggak kita tau, bisa jadi bikin kita kaget. Nggak sedikit orang yang pacaran lama tapi ketika nikah tetep cerai.” Aku mengangguk. “Betul, Om. Kita emang nggak bisa tahu detail masa depan gimana, tapi mungkin kita bisa bikin gambaran besar, dan siapin beberapa hal dari sekarang. Soal aku dan Gyan atau mungkin sifat-sifat kita yang belum terungkap, aku nggak berani bilang bisa nerima itu seratus persen. Tapi kita ngakalinnya dengan cara sebisa mungkin terbuka dari sekarang, dan berpikir realistis, bukan cuma bayanginnya baiknya aja. Aku mungkin nanti komplain sama beberapa hal tentang Gyan dalam pernikahan, tapi komplainku bukan untuk mengakhiri, aku akan usaha semaksimal mungkin untuk cari cara sama Gyan. aku yakin Gyan pun begitu ke aku. Gyan mungkin nggak sempurna, aku pun sama.” “Om lega dengernya, Ra. Mamanya Gyan nggak bercanda waktu bilang calon menantu kita ini spesial. Bukan cuma cantik dan aura yang positif, tapi cara pikirmu memang dibutuhin sama Gyan.” Beliau menoleh pada anaknya. “Kamu sendiri gimana, Gy? Udah yakin banget sama Dhara?” Gyan mengangguk. That’s it. Tidak ada tambahan kata-kata apa pun, bahkan dia tidak menatap balik papanya. “Papa cuma mau ingetin sekali lagi, cinta itu boleh, tapi kamu tau, kan, apa satu-satunya yang dimiliki laki-laki?” Jujur, aku tidak paham dengan arti dari pertanyaan itu. Tetapi melihat diamnya Gyan, mereka pasti sudah pernah membahas ini. “Beberapa perempuan suka lupa bedain mana sayang dan menghargai. Jadi nggak heran, di luar sana ada banyak yang ngelawan dan nggak menghargai suaminya cuma karena suaminya nunjukin cintanya terlalu berlebihan.” Aku melongo mendengarkan percakapan mereka berdua. “Suami tetep harus bisa didik istri, kendali tetep ada di tangan suami. Kalau suaminya lemah, rumah tangganya bubar, kecuali memang istri yang memang nggak bisa dididik. Padahal niat suami bagus, memastikan semuanya aman dan baik. Kalau istri nurut, rumah tangga pasti damai.” Aku mendengar Gyan tertawa, kali ini mengangkat pandangannya dan menatap papanya. “Thanks, Pa, untuk wejangannya. Tapi kita selalu cari guru yang memang cocok sama prinsip dan cara kerja kita, kan, biar nggak crash?” Gyan mengangguk-anggukkan kepala. “Aku jadiin pendapat Papa sebagai masukan, tapi aku punya konselor sendiri untuk pernikahan. Kalau Papa mau tau perspektif lain tentang gimana jadi suami dan ayah, nanti aku bisa kirim nomernya.” Om Gino tertawa. Aku tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi di sini. Tapi, ketika Om Gino kembali menatapku, entah kenapa rasanya aku begitu terkejut dan gugup. Padahal, tadi sudah biasa saja. “Saya percaya kamu orang yang keren, Ra, berpendidikan, modern atau apa sebutannya untuk anak-anak zaman sekarang. Jadi saya yakin, kamu pasti paham gimana caranya berperan dan beradaptasi di keluarga baru.” Apa itu maksudnya? Saat Om Gino tersenyum dan melanjutkan, “Kamu bisa sering-sering ngobrol sama Mamanya Alex buat belajar.” What?! Jadi, perempuan yang baik dan kerennya menurutnya adalah yang menjadi patung saat ada di sebelah suami? Yang tidak berani berpendapat dan hanya memastikan napasnya masih ada ketika bangun tidur? Aku tidak heran kenapa Gyan sangat membenci lelaki kolot ini. Ya Tuhan, maaf karena aku benar-benar ingin menculik Alex dari rumah ini. Hiburanku dari hari panjang dan buruk itu adalah … ketika sudah kembali berada di dalam mobil, Gyan tertawa terpingkal-pingkal, lalu bilang, “Lo denger tadi omongan panjang orang itu? Kendali ada di tangan suami? Kalau suaminya aja nggak becus kayak dia gimana? Rumah tangganya aja bubar karena kont*l-nya yang nggak bisa nahan diri, sok-sokan nyebut istrinya ngelawan.” Aku memejamkan mata, mendengar kata vulgarnya yang sepertinya ini kali pertama. Tapi aku juga tidak bisa untuk tidak ikut tertawa. “Sori, sori.” Dia sadar sendiri. “Kata-kataku kotor banget, yaaa. Tapi asli, aku tuh sekarang udah ada di fase, tiap dia denger dia ngomong tuh pengen ngetawain. Semuanya nggak ada isinya. Nyokap gue tuh nyokap terbaik dan tersabar sepanjang masa, dia nggak bego buat diem bertahan sama laki modelan dajjal gitu. Yang menurut tuh laki malah sebagai istri yang ngelawan.” “Berarti kamu beneran udah dewasa, Gy.” “Oya?” Aku mengangguk, memberinya ibu jari. “Pengalaman hidupmu tuh beneran berat, dan sekarang liat kamu bisa begini, aku bangga banget! Kamu hebat!” “Ya ampun, Dhara,” lirihnya, lalu memelukku erat. “Kamu harus bantu doain aku buat nggak jadi kayak dia, please please please? Aku beneran kalau bisa tuker apa kek, aku lakuin supaya aku bisa hapus diriku sebagai darah dagingnya.” Ada laki-laki sehebat ini, Mega malah tertarik dengan Om Gino? Why?

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 2

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Kamu beneran udah pikirin ini mateng-mateng, Ra?” Ya Tuhan, aku tidak tahu dia sudah memberiku pertanyaan yang sama berapa kali. Padahal, jawabanku masih juga sama sejak awal, anggukan kepala. “Kamu tau, kan, kami nggak harus ngelakuin ini? Aku nggak mau kamu nyesel nanti atau apa yaaa, ya kamu pasti udah tau konsekuensinya.” “Gyan, please?” Aku tertawa geli, sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Aku tahu, dan aku siap sama apa pun konsekuensinya nanti. Janji, nggak akan nyalahin kamu. I swear.” Dia tertawa pelan. Lalu menganggukkan kepala. Aku tahu, mungkin keputusanku ini adalah keputusan gila. Padahal, mungkin saja, seperti kata Gyan, aku tidak harus melakukan ini. Tidak perlu menemui papa Gyan dan Mega, karena kata Gyan, pernikahan kami pun tidak masalah tidak dihadiri papanya. Tapi bagiku, Om Gino tetap ayahnya Gyan dan dia masih hidup, masih sehat, memiliki keluarga baru. Jadi, ketika aku memutuskan untuk ingin hidup bersama Gyan, artinya aku harus siap juga menerima apa yang dia bawa di belakangnya, bukan? Mungkin nanti, aku dan dia sama-sama tidak bisa menyukai atau memperlakukan Om Gino seperti bagaimana kami ke Tante Anita, tapi aku akan berusaha sesopan mungkin. Sebagaimana mestinya manusia memperlakukan manusia. Kalau bisa, aku akan berusaha sebaik mungkin menjadi menantunya. Tapi aku tidak janji soal Mega. Gyan paham itu, dia tertawa pelan, mengatakan dia memahami dan mendukungku. Aku mau membela diri. Maksudku dengan berbeda soal Mega adalah … karena dia tidak memposisikan dirinya sebagai ibu sambung Gyan? Well, mungkin aneh rasanya mengingat usia dan latar belakang mereka. Tapi sebagai orang dewasa dan berpikir normal, seharusnya disa bisa, paling tidak, menghargai Gyan sebagai keluarganya, menghargai Om Gino sebagai suaminya. Tapi menurutku tidak. Apa yang Mega berusaha tunjukkan, bagaimana sikapnya di depanku, merupakan sikap dari seseorang yang merasa punya hak atas Gyan sebagai orang spesial. Dia tidak mengajakku ngobrol sebagai calon keluarga atau calon menantu tiri, dia menegurku layaknya aku akan merebut Gyan dari hidupnya. Jadi, aku tidak bisa menjamin aku nanti bisa memperlakukan Mega dengan baik sesuai harapan orang-orang, mungkin. “Ceritain ke aku dong, Gy, first kiss-mu siapa dan gimana?” “Oh nooooo!” Tiba-tiba aku merasa lajunya mobil memelan, aku menatapnya bingung, dan wajahnya kecut langsung. Dia takut ada drama dadakan yang hadir di tengah perjalanan kami. “Next topic!” Aku tak bisa menahan tawa geli. “Eh aku serius! Biar nggak hening nih perjalanan dan mengurangi rasa gugupmu. I knooowww,” Aku mencibirnya. “Kamu nervous abis, kan? Padahal aku yang pertama kali ketemuan sama papamu? Bisa-bisanya kamu nanyain adat nikah padahal diajak ketemu papamu aja belum.” Gyan tergelak. “Ya lagian pendapat dia nggak penting kok, nggak ngaruh. Aku tetep akan sama kamu. Dia nggak sepenting itu di hidup aku, Ra.” Aku meringis. Sebetulnya kadang gatal sekali mulutku untuk menjawab Gyan setiap dia mengeluarkan kalimat kebencian untuk papanya. Tapi aku juga sadar, aku tidak ada di posisinya untuk tahu persis apa yang dia rasakan, dia lalui selama menjadi anak papanya. Jadi semua kalimatku yang hanya akan terkesan menghakimi dan menggurui, aku telan kembali. “Yaudah, makanya cepetan ceritain your first kiss, daripada aku bahas papamu?” Aku tahu aku kejam karena mengancamnya dengan cara murahan, tapi aku benar-benar ingin ngobrol random dengan Gyan. Aku suka mendengar tawanya dan nada antusiasnya setiap bercerita. “Ini bukan jebakan nanti bakalan marah atau gimana kok. Gue nggak cemburuan, yaaaaa! Lagian, kan, first kiss orang bisa aja pas TK, jadi mana mungkin dulu udah ngerti french kiss, dan nggak mungkin aku cemburu sama anak—” “Yaudah coba ceritain dulu pertama kali french kiss kamu, kayaknya paham banget nih.” Ya Tuhan! Aku menutup mulut rapat, karena merasa senjataku tadi memakan diriku sendiri. Niatnya ngobrol random, hasilnya malah kena jebakan sendiri. Akibat terlalu santai sampai tidak memikirkan lagi apa yang diucapkan. French kiss? Memangnya aku pernah melakukan itu di dalam hidupku? Atau cuma tahu-tahu angin lalu dari apa yang aku baca dan aku lihat? Aku menyerongkan tubuh, menatap Gyan sambil meringis. Dia tertawa, terlihat menikmati kekalahanku. “Nggak nyaman, kan?” tanyanya geli. “Kalimat nggak akan marah atau cemburu itu cuma senjata cewek buat dapetin apa yang dia mau, nanti udah dikasih tau, nggak mungkin nggak marah.” Aku tergelak. “Tapi kalau-kalau kamu penasaran banget, ngeri nggak bisa tidur juga ini mah, gue ceritain deh.” Gyan berdeham dua kali. “Namanya Salsa, panggilannya Caca. Kita waktu itu satu sekolah, SD.” Belum lengkap ceritanya, dia sudah tertawa sendiri dan aku jadi tertular tawanya. “Ini bukan apa-apa, yaaa, aku ketawa karena konyol banget kalau diinget-dinget. Jadi, dulu, kan, dia selalu bawa bekel, kan? Nah, makanannya tuh lucu-lucu gitu dan sumpah enak banget, Ra! Gue lupa detail rasanya, jelas, tapi gue inget pokoknya enak. Gue sering minta dong! Lama-lama dia bete kali, yaaa, karena minta mulu nih anak.” Melihat Gyan bercerita dengan ekspresi dan nada yang lucu, aku duduk menyimak sambil menahan senyum geli. “Terus pernah dia nggak mau ngasih tuh. Kamu tau aku offering apa ke dia?” Aku menggigit bibir dalam usaha menahan tawa, sambil menggelengkan kepala. “Kalau dia mau bagi makanannya sama aku, aku mau cium dia. Fuuuuckkk!” Dia mengerang, terlihat frustasi mengingat kelakuannya sendiri. “What did I do????” Aku ikutan tertawa kencang. “Udah ngerasa kayak anaknya Ahmad Dhani yaa, Paaak? Seolah ciumannya diinginkan sama semua or—wait, terus dikasih sama dia?” “Nah itu!” Gyan tertawa geli. “Aku nggak tahu deh, dulu ngerti ciuman itu dari mana dan apa, kenapa si Caca ini jugaaa mau. Makanannya dikasih, terus gue cium pipi dia. Dulu nggak ngeh ada cium bibir.” Aku pura-pura mual. Gyan makin tertawa kencang. “Terus sama dia juga tuh nikah-nikahan, belum cerai sih ini, kamu nggak pa-pa, Ra, sama suami orang?” “Edaaaaaannn!” Aku memukul lengannya kencang. “Tapi aku juga punya tau suami-suami-an dulu. Seru banget ya kayaknya hidup kita dulu??” “Siapa suamimu? Biar aku samperin buat nalak kamu.” Aku memutar bola mata. “Namanya Doni atau Dani gitu, ya ampun agak lupaaaa, nggak lama sih, dia dulu pindah.” “Oh itu mah udah cerai sih kalau menurut agama. Kan, katanya enam bulan berturut-turut nggak dinafkahi lahir-batin sama dengan cerai. Iya nggak, sih?” “Gy?” Aku menatapnya lelah. Kemudian kami terpingkal-pingkal. “Terus first kiss-mu, Ra?” “Ya sama dia ituuuu!” seruku, geli sendiri dengan kehidupan zaman dulu. “Sorry, my first kiss-ku sama suami dong, walaupun setelahnya ditinggal tanpa kabar.” Gyan tertawa. “Soleha banget pacar gue ya Allah.” Ia menggeleng-gelenglan kepala. Tawanya makin lepas saat aku memukul lengannya lagi. “Tapi kamu emang langganan ditinggal sama crush-mu ya, Ni?” “Shiiiiiiitttt!” Aku mengerang sambil memejamkan mata. Gyan terbahak-bahak. “But at least, aku nggak ditinggal nikah sama papaku sendiri.” “Damn! That hurts on so many levels!” Gyan menoleh singkat, memicingkan matanya, kemudian tertawa terpingkal-pingkal. “But at least, aku nggak mati penasaran karena nggak berani confess.” Aku memejamkan mata rapat-rapat, karena kalimatnya tepat di hati. Menyakitkan. “Nice one.” Aku melihat dia terlihat menikmati percakapan ini. “But at least, aku nggak dihantui kecanggungan karena harus manggil mantan atau mama.” Gyan berteriak sambil memukul setir, tawanya lepas. “I’m done,” katanya masih tertawa geli. “Curang ah, serangan soal Mega terus. Ini ada apa sih, sama Mega? Apa yang aku nggak tahu? Kayaknya cemburu berat nih Mbak Dhara sama Mama Mega.” “Ew.” Gyan tergelak. “Well, mungkin agak bener. Bukan cemburu, yaaa, tapi aku bete banget deh sama Mega. Dia tuh sadar nggak sih dia nikahin papamu? Terus kenapa tingkahnya seolah dia masih pacarmu?” “Ohya?” Aku mengangguk. “Nanti biar aku yang—” “Nooooo! Jangan apa-apa langsung disamperin, aku cerita bukan pengen kamu belain aku langsung di depan dia. Nanti dia malah mikir makin jelek soal aku. Aku cuma mau cerita aja. Biarin aku sendiri yang handle.” “My strong woman,” katanya, tersenyum lebar. Aku mengangkat sebelah tangan, berusaha memamerkan otot yang nyatanya memang tidak ada. “Ra,” panggilnya pelan. “Hm?” “Kalau nanti papa bilang dia nggak setuju, kamu gimana? Kalau aku, kan, nggak peduli, tapi kamu sendiri gimana?” Oh … Apakah selama ini aku memang besar kepala dan merasa semua orang akan menyukaiku? Aku benar-benar tidak pernah berpikir kemungkinan kalau Om Gino tidak menyukaiku, mengingat aku saja kontra dengan Gyan di awal-awal, yang merupakan didikan dari sudut pandang Om Gino. Jadi, yang katanya tadi aku siap dengan semua konsekuensi, sebenarnya konsekuensi apa yang aku maksud?

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 6

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Aku nggak tahu akan berhasil atau enggak, atau mungkin abis ini, kita akan ngetawain atau saling ngetawain abis-abisan, tapi please please, biarin aku ngelakuin hal-hal—okay, kalau hal-hal terlalu banyak, satu hal aja deh, sekali ngelakuin romantis begini, setelahnya kamu boleh deh mau ngatain aku.” Well, itu ucapan yang aneh dan tentu malah membuatku semakin tertawa geli, tetapi tentu saja aku paham semua kalimat gugupnya itu. Karena aku keluar kamar dengan tampilan yang berbeda dan seniat itu untuk menemuinya dan berdua ke restoran yang sudah Gyan janjikan. Lalu Gyan ikutan tertawa. “Ini mungkin akan aneh dan nggak tahu sampai kapan aku, kita akan terbiasa, tapi kamu malam ini … Oh My God …. You’re so fucking gorgeous, Dhara. I can’t.” “Thank you, Mr. Kurniawan.” “Stop it.” Aku tak bisa menahan tawa kencang. Kemudian masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dia buka, tentu saja Gyan akan totalitas ketika bilang ingin melakukan hal-hal romantis. Entah seperti orang-orang normal pada umumnya atau memang ini merupakan hal yang memang dia inginkan dan selalu dia lakukan pada seseorang yang dia sayang. Oh no, Mega kah? Aku menggelengkan kepala. Tidak ada yang boleh merusak malam ini, apalagi yang merusakan adalah bayangan masa lalu Gyan dan Mega. satu-satunya cara supaya aku bisa tetap pada jalur kebenaran dan tidak cemburu atau insecure pada Mega adalah mengingat seleranya, yaitu orang yang dibenci Gyan; papanya sendiri. Oh anyway, kenapa pula aku perlu insecure dan cemburu pada Mega? Kamu sudah ada di dalam kehidupan yang berda, dengan garis awal dan rintangan yang juga berbeda, jadi mari jalani kehidupan masing-masing. Lagipula, dia tidak akan pernah bisa aku hapus dari kehidupanku ketika aku ingin Gyan ada di hidupku. Benar, kan? Mungkin Gyan memang belum pernah melihatku berdandan seniat ini selama kami saling mengenal, karena ya memang belum ada momen untuk ke arah sana. Jadi, aku bisa memahami, sangat-sangat paham ketika sekarang ini, dalam perjalanan kami pun, dia tidak henti-hentinya melirikku, tetapi memilih menutup rapat mulutnya. Aku memberi jeda waktu untuk membiarkannya sibuk dengan pikirannya atas entah apa pun penilaiannya untukku. Namun, ketika waktu yang aku berikan telah habis, aku pada akhirnya tertawa geli, menyerongkan sedikit tubuh dan menatapnya. Dia sudah paham maksud tindakan, itu kenapa aku yakin dia tertawa sekarang sambil menggosok wajahnya dengan sebelah tangan, lalu tak henti mengatakan maaf. “Makanya kalau mau liat ceweknya dandan kayak gini, harus sering-sering ajak makannya di resto yang cocok dong, lo sukanya makan gultik melulu.” Gyan tergelak. Membungkukkan sedikit tubuhnya dan menjawab, “Aduh, sori banget deh, Mbak, aku yang anak gultik emang lagi berjuang keras nih biar layak semobil sama anak fancy resto.” See? Terlalu banyak hal menarik dari diri Gyan sebenarnya, yang kalau dikulik lebih jauh, akan semakin terpesona. Aku jelas bodoh sekali kalau sampai melepaskan semua ini. Tidak perlu memasang wajah bercanda, memberinya disclaimer bahwa aku bercanda atau aku senang humor, tetapi dia jago dalam memahami kalimat dan konteks kami, lalu mengimbanginya dengan sangat baik. Dia tidak tersinggung, laki-laki ini hanya case-nya yang terlihat rusak, sebenarnya dia indah sekali. “Tapi serius, aku pengen tahu banget,” katanya. “Butuh berapa lama buat selesai siap-siap tampilan sesempurna ini? You know, di luar sana kan, persepsi orang cewek dandannya lama, nah apalagi ini keliatannya level maksimal.” Aku tertawa. “Sebenernya, Gy … eh tapi aku nggak berani bilang semua cewk begini, yaaaa. Jangan aja nanti kamu bilang aku generalisir.” Saat aku lihat dia memutar bola mata sambil menertawakanku, saat itu pula aku memukul lengannya pelan. “Serius, ngambek nih.” “Coba ngambek dong, mau liat.” Aku tergelak. “Payah ah, jadi pokoknya, aku mau kasih bocoran, ini internal kita aja sih. Aku nggak bilang semua perempuan begini. Tapi, dandan itu nggak lama, Gy. Maksudnya, beneran yang dilakuin ya. Misal, mandi dan kawan-kawannya, pake makeup, dan lain-lain, itu bisa diitung pasti waktunya. Yang nggak bisa adalah!!!!” Aku tertawa sendiri sebelum melanjutkan. “Mood buat ngelakuin semuanya, dan mood itu bisa untuk tiap step lho!” “Sorry? Gimana itu maksudnya?” “Nih, misal, dalam sehari ini aku kan ada acara spesial for someone special.” Aku memang berniat menggodanya dan umpanku tentu berhasil, membuatnya tertawa lalu meniupkan ciuman untukku. “Apa aja tuh yang perlu aku siapin? Dress, of course! Terus heels, hand bag, makeup ideas, hairstyle ideas, dan lainnya yang …kok lupa apa lagi, ya?” Aku menggelengkan kepala karena bingung dengan dirinya sendiri. “Nah misalnya, bagian mandi aku udah mood banget nih mau bersihin badan, pake sabun wangi A, blah blah blah, bisa aja pas pake dress-nya mood aku udah berubah dan tiba-tiba ngerasa looks-nya nggak oke. Mood satu itu kadang menentukan buat mood ke step seterusnya, kadang juga enggak, nanti jadi mood lagi pas doing makeup. Gitu lho, Gy. Yang bikin lama ituuuu, karena kita bangun mood, atau tiba-tiba makeup sambil konser, sambil senyum-senyum bikin skenario romantis di kepala. Begitu penjelasannya, Bapak Gyan, kurang lebihnya saya ambil.” Gyan mengangguk-anggukkan kepala, tak lama tawanya pecah, lalu dia meminta maaf. “Tapi aku bersyukur banget, cewek aku normal kayak cewek pada umumnya.” “What?” Gyan terkekeh. “It’s okay, kamu butuh mood lama juga nggak pa-pa, gue tungguin, Ra, serius. Semuanya terbayar kok liat kamu secantik ini, your dress, your heels,” liriknya ke bawah sekilas, lalu memberiku senyum lagi. “Your makeup, your hair, your smell, and of course your smile. Semuanya berhasil dengan baik bikin aku terpesona dari tadi, kamu kalau tau ini di dadaku, pasti penuh bunga.” “Ewwww! Edyaaaan! Agak geli yaaaaa kita sampe di momen ini.” Kami sama-sama terbahak-bahak. “Bunga berduri apa gimana tuh tapiiii?” “Berduri nggak pa-pa dong, beberapa bunga memang harus ada durinya, kan?” “Kamu tuh sibuk dari tadi muji aku malam ini tapi nggak sadar ya kalau kamu juga tuh malam ini oke banget?” “What? No! Don’t do that!” “Masa sukanya muji tapi nggak mau dipuji sih, Mas Gyan.” Gyan terbahak-bahak. “That ‘Mas’ tho. Itu panggilan bagus tau, jangan dipermainkan, nanti Ibu dan Mamaku tau, kamu diceramahi.” Gyan makin senang ketika aku memasang wajah bersalah. “Kenapa, yaa, rasanya tuh selalu aneh kalau dipuji. Kayak … boong lo! Peres lo! Ini pasti cuma basa-basi atau ini cuma mau buat gue seneng.” “Emang!” jawabku cepat. “Niatku muji emang buat bikin kamu seneng. Biar kamu bisa liat dirimu sendiri lebih sering dan dalem lagi buat tau kamu emang layak dapet pujian itu. Kalau orang di luar sana basa-basi atau peres, itu kan niat mereka, kita nggak bisa pastiin juga. Jadiiii, daripada buang energi buat sesuatu yang nggak pasti dan mungkin cuma di kepala kita doang, mending artiin aja secara harfiah. Pujian adalah pujian, terserah niat mereka apa.” Aku memberinya senyuman terbaik. “Dan karena yang muji kamu adalah aku, masa iya niat aku buat basa-basi? Kamu nggak inget ya kamu sempet bukan seleraku, dan ketika aku bilang kamu oke, artinya apa? Beneran oke.” Gyan pura-pura memegang dadanya dan memasang wajah terluka. Aku tertawa. “You’re sooooo fine, Gyan, admit it, c'mon!” “Thank you, thank you so much.” Dia tertawa pelan. “Aku masih butuh adaptasi buat masuk ke dunia menyenangkan yang kamu tawarin. Jangan bosen dan capek sama aku, ya, Ra?” “Kalau capek, aku tinggal istirahat sebentar, kalau bosen, aku akan bilang dan urus bosenku sendiri. Gy, manusia itu penuh limitasi, kita paham, kan? Mungkin kita akan sering salah dan keliru, tapi kita juga nggak kehabisan akal kok buat cari tau cara memperbaiki. Aku makasih banyak karena sabar dan effort-mu nggak abis-abis dari dulu.” “I wanna kiss you right now.” “Heh!” Aku memukul lengannya. Tapi aku sadar satu hal dan memberinya senyuman tengil. “Oh tapi, fyi aja deh, lipstik merahku ini waterproof dan kissproof dan proof proof lain. Anti badai menerjang deh pokoknya.” “Shit,” teriaknya sambil memukul setir. “Kita perlu belok dulu nggak nih, Bu?” Aku tergelak. “Edan! Jangan sampai ada Abang dan Kak Mel jilid 2 ya, Gy? Aku nggak bisa bayangin Ibu akan gimana.” “What?! Ke mana itu pikiranmu barusan? Aku ajak belok karena kebelet BAB.” Dia tertawa puas saat aku mendesah lelah. Berhasil mengerjaiku. “Dhara, Dhara, kok bisa bidadari begini mau sama anak broken home. Mana broken-nya karena alasan menjijikkan lagi.” “Nggak boleh kasih afirmasi negatif, hayoooo!” “Siap salah!” Dia tertawa. “By the way, perut lo kosong, kan? Kita udah mau sampe nih.” “Hah?” “Kita nanti makan banyak. Kamu boleh pesen apa pun yang kamu mau, literally apa pun.” “Woooww, offering-nya oke banget nih kayaknya. Dompetnya lagi tebel, ya?” “Oh Nini, you don’t understand.” DIa menggeleng-gelengkan kepala. “Dompetku selalu tebel, kamu mau apa? Tinggal bilang. You want it, you get it.” Aku tergelak. “Takut banget sama suhu, ampuuuuunn!” Aku teringat satu hal dan mau menggodanya lagi. “Tapi tebelan mana sama Om Gino? Aku lagi nimbang-nimbang sesuatu?” Gyan tertawa kencang. “Gini aja sih, kamu tinggal pilih mana, kepuasan batin dalam jangka waktu panjang dengan kemungkinan bertambahnya ketebalan dompet mengingat umur saya masih sangat OKE, atau yang tebel sekarang ini, tapi nafkah batinmu kayaknya cuma bertahan beberapa taun lagi.” Aku sungguh tidak siap dengan jawaban itu. “Dia nggak akan sekuat itu selamanya, kalau kamu paham konteks yang kita bahas ini.” Gyan terkekeh. “So, Dhara, you decide,” tambahnya. Aku mengangkat tangan, benar-benar menyerah. “Nggak ikutan deh aku, udah berhenti di sini. Menyerah.” Ia tertawa kencang. “Jadi tetep pilih aku, kan?” “Lagian, ya, kalau aku pilih Om Gino, aku harus saingan sama Mega dong?” Aku bergidik ngeri. “Aku beneran nggak mau berurusan sama dia lagi, apa pun itu. Jadi, aku pilih kamu.” “Hei! Kok milih aku karena seolah terpaksa?” Aku tak bisa menahan tawa. “Harusnya gimana jawabnya?” “Kamu remidi, Dhara, aku tagih nanti, harus lebih baik. Tapi sekarang obrolannya harus berakhir, karena kita udah sampai.” Ya Tuhan, akhirnya selesai juga obrolan yang semakin tidak keruan.

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 7

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Kamu beneran nggak pa-pa, Gy?” Pertanyaan yang aku sodorkan ketika sudah berhasil duduk di dalam mobil, sambil menutup pintu. Padahal, pertanyaan itu sudah aku tanyakan berkali-kali, puluhan kali mungkin bahkan, lewat pesan, telepon, tapi rasanya tetap merasa bersalah pada Gyan. Jadi, ada masalah di kost-kost-an milik Ibu yang ada di Gading Serpong. Biasanya, memang Ibu yang masih mengurus hal-hal semacam ini. Pertama, karena tentu saja alasan kenapa bukan Abang ya karena Abang bekerja, apalagi sekarang sudah punya kehidupan sendiri. Tapi, karena kejadiannya mendadak dan hari ini Ibu sudah punya jadwal untuk pergi ke Sumatera bersama rombongannya—aku sudah bilang kalau Ibu memiliki kehidupan lebih menyenangkan daripada aku, bukan? Well, Gyan tidak setuju dan tidak terima dengan kalimatku ini—dan keberangkatan mereka dimulai pagi tadi. Ibu bilang, jadwal seharusnya dalam satu minggu tapi kita tidak pernah tahu ada hal-hal lain yang akan datang. Long story short, aku yang datang untuk mengecek ke sana. Ini memang bukan kali pertama, tapi rasanya tetap aneh harus berurusan dengan orang asing … bukan, maksudnya bukan di orang asingnya, tapi momen memperbaiki masalah apa pun ini sebutannya. Aku tidak suka ada di situasi yang nanti harus merasa tidak enak pada orang lain. Kembali ke Gyan, jawaban dia baik lewat handphone maupun nyata adalah; “Apanya tuh maksudnya?” Aku tidak memasang sabuk pengaman dulu, jaga-jaga kalau obrolanku ini mempan untuknya dan aku akan pergi ke sana sendirian. “Waktu liburmu bukan buat nge-date romantis yang proper, tapi malah nemenin aku kunjungan ke kost-kost-an. Asli sih, ini aneh banget.” Aku meringis, ke sekian kali mengatakan kalimat; “Aku serius lho nggak pa-pa sendirian, nggak akan anggap kamu pacar yang nggak pengertian, aku paham, kamu mending is—” Aku mematung sesaat, kemudian setelah sadar, aku refleks menyentuh bibirku dan menatapnya horor. “What?! Gyan, please?” Wajahnya tidak terlihat bersalah sama sekali, tetapi tengil dan merasa sangat puas dengan senyuman tertahan itu. Dia sepertinya merasa belum cukup, karena sekarang menatapku dan mengatakan, “Oh, haruskah aku ngerasa bersalah dan minta maaf nih, Bu?” Aku memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya pelan sembari membuka kembali mataku. “Kita beneran udah sampe di tahap ini,” ucapku lirih, lalu tertawa geli, menertawakan diriku sendiri. “Kecupan dadakan gitu harusnya bikin aku marah atau enggak, Gy?” “Apa yang kamu rasain?” “I don’t know. It felt like—” Shit, dia mengecupku lagi. Sekarang tatapannya serius, wajahnya dekat dengan wajahku, dan dia kembali bertanya, “And now? Udah bisa nentuin rasanya?” Aku memutar bola mata, lalu mendorong tubuhnya menjauh dan memperbaiki dudukku lengkap dengan memasang sabuk pengaman. Karena aku tahu, aku akan tetap datang ke Gading Serpong bersamanya. Dia tidak akan membiarkanku pergi sendirian, meski ini bukan date romantis seperti apa yang aku maksud sejak awal. Aku mendengar Gyan tertawa sambil memasang sabuk pengamannya, lalu dia sibuk menyalakan mobil, dan berbicara, “Nini, aku nggak mau bilang ini berkali-kali atau kalau memang itu tujuanmu, biar nemu blunder dari kalimatku.” Mendengar itu aku refleks tergelak, dari mana ide dia bisa mengatakan kalimat tuduhan itu coba? Padahal, aku benar-benar merasa tidak enak, sama sekali bukan ke arah jebakan seperti apa katanya. “Tapi aku beneran penasaran deh jadinya, definisi pacaran kamu tuh apa sih?” “What?” Gyan terkekeh. “Soalnya kayaknya kamu cuma mau abisin waktu sama aku buat date beneran ya? Yang proper katamu tadi. Itu yang gimana, Cantik?” “Okaaaayy.” Aku mengangkat kedua tangan, menyerah dengan serangannya yang memang terdengar sangat masuk akal. Aku yang memulai topik untuk drama ini, jadi memang aku sendiri yang harus membereskannya—meluruskan semuanya. “Aku yang blunder,” akuku pada akhirnya. Seketika itu juga dia menoleh sekilas, menatapku tak percaya kemudian tertawa lepas. “Pacaran buatku bukan cuma jalan berdua romantis atau apa kayak yang aku bilang tadi. Karena hidup isinya bukan cuma nge-date.” Aku ikutan tertawa. “Jadi, yaaa kadang ada masalah bareng, kayak sekarang. Intinya, pacaran atau nikah, isinya yaa banyak hal yang akan kita lakuin berdua.” “That’s my amazing woman!” lirihnya dengan wajah bangga. “Jadi, harusnya udah selesai rasa nggak enakmu itu, okay? Mau ngelakuin apa pun, pergi ke mana pun, mungkin ini kedengarannya peres buatmu, tapi intinya aku tetep mau lho. Beneran mau, kalau memang waktunya bisa.” Aku memberinya gestur hormat. “Maaf yaaa.” Dia menatap ke depan, tangan sebelah kirinya menyentuh pipinya tanpa mengatakan apa-apa. Tapi tentu saja aku mengerti maksudnya yang sedang mengerjaiku. Well, Gyan, mungkin bukan hanya kehidupan positif—seperti yang dia sendiri klaim—yang perlu adaptasi darimu, tapi kejutan-kejutan seperti ini. Saat aku menerima candannya dan menjadikannya versiku. Bukan meneriakinya atau menoyor bahunya, tetapi aku mengendurkan sedikit sabuk pengamanku dan mencodongkan tubuh, mengecup pipi yang tadi dia tandai. Lihat reaksinya, menoleh dengan kedua matanya membeliak, kemudian dia tertawa lebar. “Dhara, ya Allah, beneran lama-lama aku obsesi sama kamu dan aku tahu orang bilang obsesi itu nggak bagus. What can I do?” Aku ikutan tertawa. “Udah ah! Fokus nyetir, karena nanti sampe sana kita nggak tahu apa yang terjadi. Lagian ini Mbak Risma kenapa sih pake rahasia-rahasiaan segala sama apa yang terjadi.” Aku mulai panik lagi mengingat masalah yang nanti akan aku hadapi. Seharusnya aku memohon pada Ibu untuk menunda perjalanannya. “We’ll get through this together, Sayang, harus tenang, berbaik sangka. Katamu gitu, kan?” Aku mengangkat tangan, tertawa menyerah. “Senjataku sendiri. Well, terima kasih.” Gyan tertawa geli. Lalu aku menyadari dia menyalakan lampu sein dan … oh, dia belok ke coffee shop dan kami mengantri di deretan drive thru. “Iced matcha latte, a refreshing and tasty summer drink,” katanya dengan senyuman lebar. “Katanya matcha juga bisa bikin tenang.” “Oh.” Aku menyentuh dadaku, menatapnya penuh haru. “Kayaknya aku pernah nolong orang yang paling membutuhkan deh di masa lalu, jadi kamu dateng ini sebagai imbalan yang sangat worth it.” Gyan terkekeh, menurunkan kaca mobil saat tiba giliran kami. Dia benar-benar memesankan iced matcha latte untukku dan … iced americano untuknya. Aku rasa dia yang mungkin butuh fokus banyak untuk perjalanan ini. “Mau makanannya?” Aku menggeleng. “Thank you, itu aja cukup.” Begitu sudah berhasil menyesap minuman itu, melewati tenggorokan, aku memejamkan mata untuk menikmatinya. Entah karena sudah sugesti dari kalimat Gyan sebelumnya atau bagaimana, tapi aku merasa benar-benar lebih rileks. Apa pun nanti yang terjadi di sana, maka biarkan nanti. Benar kata Gyan (lagi), kami akan hadapi ini bersama-sama. “Gimana? Lebih rileks, Bu?” Aku tertawa. “How could you know?” Gantian Gyan yang sekarang memutar bola mata. “Nini, kamu kayaknya udah kebanyakan underestimate aku. Jadi sekarang, kataku sih be prepared, yaaa. Pacaran sama aku akan sangat-sangat menyenangkan, just in case kamu kage banget karena sebelumnya cuma bisa cinta sama orang yang bahkan nggak ada di hidupmu.” “Oh that hits me hard!” Dia terbahak-bahak. Kami melanjutkan perjalanan dengan obrolan-obrolan ringan, kadang juga serius ketika Gyan tiba-tiba mengomentari jalan, lalu ke arah pemerintah secara random, dan lainnya. Tapi intinya, menghabiskan waktu bersama Gyan tidak akan pernah membosankan. Aku tidak akan merasa selalu aku yang berusaha mencari topik pembicaraan. Kalaupun mungkin kenyataannya begitu, tapi aku tidak merasa. Jadi, aku pikir semua aman. Yang nyatanya tidak aman adalah … kondisi kost-kost-an ini. Begitu kami selesai memarkirkan mobil, aku mengajak Gyan berjalan bersama—tapi Mbak Risma dan Mas Adri, suaminya menyambut kami lebih dulu. Bukan, bukan itu yang membuatku mulai deg-degan, melainkan ada beberapa orang yang aku tebak mungkin saja itu penghuni kost. “Mbak Nini, ini—” Mbak Risa kebingungan menatap Gyan setelah mereka saling bersalaman dan berkenalan. “Oh, namanya Gyan. Pacarku, Mbak.” “Ohalah, maaf-maaf. Kita masuk dulu aja, Mbak. Saya jelasin di dalam dulu sebelum ketemu mereka.” Mbak Risma meringis. “Tadi Mas Adri udah minta mereka masuk ke kamar masing-masing, tapi kayaknya masih kepo atau belum ngerasa clear. Jadi masih begitu keadaannya.” Ini terdengar semakin serius. Sekarang kami sudah duduk di kamar Mas Adri dan Mbak Risma sebagai penjaga kost ini. Mereka menyuguhkan minuman dan camilan, meminta aku dan Gyan menikmatinya lebih dulu. Tapi aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku ingin segera tahu ada apa di sini. “Total kamar yang rusak ada tiga, Mbak.” Hah, entah kenapa, aku merasa lega mendengar kalimat itu. Kamar rusak, maksudku hal itu biasa, bukan? Renovasi memang tidak bisa dijauhkan dar bangunan, aku pa— “Semua lemarinya hancur, meja jugaa, cermin. Tapi kami berhasil tahan orang-orangnya biar nggak kabur.” “Sebentar, ini rusak dirusak?” Mbak Risma menatap suaminya, lalu yang menjelaskan sekarang jadi Mas Adri. “Jadi gini kronologinya, Mbak. Kamar 5 itu punya pacar, ternyata yang cowok itu selingkuh, nah selingkuhannya ada di kamar 9.” Aku refleks memijat kening, sementara aku mendengar suara Gyan terbatuk-batuk. He must be shocked. “Singkat cerita, ketauan, dan kamar 5 labrak kamar 9, terus kamar 8 ini akrab sama kamar 9, mungkin mau bantu atau gimana, jadi malah nambah berantemnya. Kacau. Kami minta maaf, Mbak. Itu garis besarnya, nanti kita panggil mereka untuk Mbak Nini tau lebih detail.” Well, tahu detail apa? Ya Tuhan, aku merasa berdosa sekali karena tertawa saat ini. Entah kenapa ini terasa sangat lucu. Masalah labrak-melabrak ini selalu lucu di mataku. Mereka—Mbak Risma, Mas Adri, dan Gyan sedang menatapku dengan wajah kebingungan. “Sori, sori. Aku cuma … sori, ini masalah serius, aku nggak seharusnya ketawa. Makasih, Mbak Risma dan Mas Adri karena udah sangat cepat tanggap. Aku minta bantuannya ya karena aku nggak terbiasa ngurusin kayak gini.” Mereka mengangguk. Lalu membawaku dan Gyan untuk menemui ‘para pelaku’ dan aku merasa berdosa menyebutnya begitu. Selama berjalan, Gyan berbisik sambil tertawa, “Aku tau kenapa kamu refleks ketawa, ini memang lucu dan konyol.” “I know right????” Gyan mengangguk-angguk sambil tertawa. “Kejutan dari kamu beneran seru-seru tau.” “Hei, ini bukan dari aku, ya!” Gyan terkekeh. Lalu langkahku terhenti saat melihat ada 4 orang yang diperkenalkan sebagai pelaku di sini. Yang membuatku terdiam adalah … tiga perempuan itu cantik, cantik sekali, sementara lelakinya … ya Tuhan, aku tidak bermaksud untuk menghina atau gimana, tapi, apa kelebihan lelaki ini sampai dia worth it untuk jadi alasan pertengkaran? Okay, kalaupun dia tidak menarik secara fisik, kita bisa mencintai seseorang karena sikap atau pola pikirnya. Tapi pola pikir dan sikap seperti apa yang bisa dibanggakan dari lelaki berselingkuh dengan dua perempuan yang tinggal bertetangga? Aku mendengar bisikan Gyan lagi. “Oh I love this. This is getting interesting.” Wait, sejak kapan dia jadi senang dengan drama?

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 8

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Ada yang bisa bantu jelasin ke saya? Sekarang sih yaaa, karena saya beneran nggak bisa di sini lama, tapi saya tahu ini mungkin akan butuh waktu lama. Sooo, bantu saya mempercepat ini, please?” Kalimat panjang dan padat—setidaknya itu yang aku pikirkan sekarang ini, penilaianku atas diriku sendiri—yang berhasil aku keluarkan setelah keheningan cukup lama di ruangan ini. Just in case kamu seperti Gyan—fakta ini masih tetap lucu untukku, jadi maafkan kalau aku terlihat tetap menertawakan lelaki yang duduk di sebelahku ini—yang menyukai drama tontonan ini, kamu mungkin mau tahu kami sekarang duduk di mana. Jadi, di kost-kost-an milik Ibu ini, ada lorong yang lumayan lebar di tengah-tengah deretan pintu-pintu kamar. Nah, lorong ini tidak dibiarkan kosong begitu saja. Kita semua tahu bagaimana Ibu sangat senang dengan hias-menghias. Jadi, ada taman kecil-kecilan, juga bangku-bangku yang bisa digunakan untuk menyambut tamu dari penghuni kost atau mereka sendiri yang ingin saling ngobrol berkenalan di sini, atau yaaaa ingin bekerja atau mengerjakan tugas. Nah, di situlah sekarang posisi kami, setelah tadi aku berhasil meminta orang-orang yang ‘tidak berkepentingan’ untuk masalah ini masuk ke kamarnya masing-masing. “Adel?” Mbak Risma memanggil salah satunya dengan lirih, tetapi tatapan tajam. “Inge? Kalian tadi punya kalimat yang banyak banget dan berbobot, sekarang harusnya masih ada sisa-sisanya buat dijelasin ke Mbak Dhara.” Masih tidak ada yang merespons. Aku berdeham, menggerakkan tubuh mencari-cari posisi nyaman, nyatanya yang berubah hanya posisi silang kakiku. Tadi yang kiri di bawah, sekarang gantian yang bawah. Tak cukup dengan itu, aku menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya pelan. “Menurut saya lebih seru kalau Masnya yang cerita sih,” Mas Adri melirik lelaki yang menjadi primadona penghuni kost ini. “Adel sama Inge, kan, tuan rumah nih, Masnya tamu, terus begitu ada Masnya masuk, dramanya ada nih. Jadi, sebagai tamu, Masnya mau kasih penjelasan apa ke kami sebagai tuan rumah?” Aku benar-benar bangga pada Ibu. Dia memilih Mbak Risma dan Mas Adri dengan sangat tepat. Aku yakin, modalnya bukan hanya rasa kasihan, tapi memang mereka berdua ini sangat ahli dalam mengurusi drama-drama printilan dunia per-kost-an. Bukan si lelaki yang menjawab, uniknya, perempuan yang tadi disebut sebagai Adel, yang akhirnya membuka mulut. “Enggak, enggak, eggak. Inge yang harus jelasin semuanya. Kenapa bisa nggak tau malu nerima cowok yang udah punya cewek? Lo serius lo cewek normal, Nge? Lo tau Gyan cowok gue—” Wait, what? Aku nyaris tersedak mendengar nama itu dan saat melirik ke sebelah kanan, Gyan juga sedang menatapku dengan ekspresi horor, lalu menggelengkan kepala. Padahal aku tahu, mereka hanya memiliki kesamaan nama. “Dia sering dateng ke sini! Kita sering papas-papasan, lho, Nge. Are you serious? Gue jahat apa sama lo? Gue nggak pernah ganggu lo, gue selalu belain lo setiap lo disinisin soal parkir motor dan mobil sama Mbak Intan.” Aku memejamkan mata, seketika merasa pening karena nyatanya aku tidak mengenal mereka semua. Sekarang, harus mengurusi drama ini, yang kalau kita lihat, mengurus dramaku sendiri dan keluarga saja rasanya aku sungguh tamat. Adel masih melanjutkan, “Gue bantu lo nemuin nugget lo yang ilang. Gue selalu nerima gofood lo di depan dan gue anterin depan kamar lo. Sekarang apa yang lo lakuin? Lo mau bilang lo nggak tau Gyan cowok gue? Gue akan lebih bisa nerima kalau sekarang lo jelasin lo cewek BO dan Gyan cuma salah satu customer lo.” Lalu Inge tertawa. “Gue beneran kasihan sama lo, Del. Bahkan udah tau sebejat apa laki lo, masih lo belain kayak gini.” “Enggak, gue nggak belain dia. Kalau lo penasaran endingnya ini akan ke mana, oh tentu gue akan mutusin dia. Tapi mutusin doang akan bikin kalian seneng, dan gue nggak akan pernah relain itu. Kalian berdua nggak akan seneng, mark my words.” Aku mendelan ludah. Benar kata Gyan, this is getting interesting. Aku justru penasaran sekali dengan reaksi si Gyan-B. “Del, Del.” Nah, akhirnya! “Ini semua salahku, ini nggak ada hubungannya sama Inge. Dia tau aku punya pacar, dia selalu nolak aku, tapi aku yang jahat dan terus ngejar dia.” “I know,” jawab Adel sambil tersenyum. Aku memandang perempuan itu ngeri. Laut yang tenang menyeramkan bukan? Maksudku, mengingat ada tiga kamar yang hancur berantakan, sepertinya tadi mereka tidak setenang ini, maksudku Adel. jadi, ketika sekarang dia sudah terlihat lelah, artinya ini sedalam itu, bukan? Aku benar-benar turut bersedih untuknya. Tidak bisa sedikitpun aku membayangkan ada di posisinya. “Del, kita bahas ini nanti lagi, berdua, yaaa? Sekarang kita beresin ini dulu—” “Nggak ada nanti, Gyan, kalau cuma buat penjelasan. Sekarang gini aja, kamu dan Inge, kan, yang main gila nih. Kerusakan ini ada karena kalian berdua. Jadi, orang normal mana yang membebankan ini ke aku juga?” Adel tertawa, aku tahu tawanya itu bermakna apa, jelas bukan kebahagiaan pada normalnya. “Jadi, Mbak Risma,” katanya, menatap Mbak Risma lalu kami bergantian. “Mas Adri, Mbak Dhara, dan Mas—” Dia terdiam saat sampai pada giliran Gyan-utama. Aku tersenyum kikuk, lalu mewakili Gyan yang mungkin tercengang-canggung-atau apa pun, dia hanya diam. “Dia Gyan, Mbak Adel,” kataku pelan. “Namanya Gyan, sama kayak pacar Mbak Adel.” “Oh. Maaf Mbak Dhara, mulai hari ini saya single, dan … aduh sayang banget namanya harus Gyan. Tapi semoga Gyannya Mbak Dhara nggak malu-maluin kayak gini, ya? Jujur, daripada sakitnya, hari ini lebih kerasa malunya. Tapi tadi sakit banget sih makanya saya udah nggak berpikir jernih. Maaf, Mbak.” “No, it’s okay.” Aku menggelengkan kepala. “Maksudnya, aku tau ini nggak mudah, dan nggak ada orang yang dengan sengaja tiba-tiba merusak fasilitas kost.” Dia mengangguk. “Jadi, kalian bisa minta pertanggung-jawaban Inge dan Gyan. Saya akan keluar dari sini nanti malam, Mbak.” “Del, kita ngobrol dulu, Del. Kamu harus tau semuanya, aku mau jelasin semuanya, nggak di sini.” “Di sini aja kalau memang kamu punya pembelaan biar nggak tanggung jawab sama semua ini, Yan.” “Aku nggak peduli sama uang gantinya!” teriaknya mengejutkan. Wow. “Aku akan ganti berapa pun, aku janji. Tapi aku perlu ngobrol sama kamu dulu, please? Kamu tau aku sayang banget sama ka—” “Aduh, Gyan, please? Aku beneran muak denger itu. Kamu mau bilang kalau ke aku sayang, tapi ke Inge nafsu, kan? Kenapa? Malu? Bilang aja sama mereka, siapa tau ada diskon khusus untuk orang-orang yang nggak bisa nahan nafsu.” Adel melirik Inge, menatap perempuan itu beberapa detik. “Kamu akan ngalamin ini suatu saat nanti, Nge, entah dirimu sendiri atau orang terdekatmu. Dan saat itu, kamu akan tau apa yang aku rasain ini bukan cuma sekedar belain pacar bejatku kayak apa yang kamu pikir. Lebih dari itu, aku cuma berusaha buat nahan biar diriku nggak malu dan hancur.” Adel menatap kami semua, berdiri, menganggukkan kepala. “Sekali lagi, maaf semuanya, aku ke kamar dulu mau mulai packing.” “Del, Adel!” Gyan-B bangkit dan berusaha mengejar Adel, tetapi perempuan itu menolak dengan sekuat tenaga. Mereka ribut kecil, saling tarik-dorong hingga akhirnya Adel berhasil lari dan masuk ke kamarnya. Lalu Gyan-B kembali berjalan dengan lesu ke kursinya. “Jadi totalnya berapa, Mbak?” What?! Aku tentu saja kebingungan mendengarnya yang begitu terus terang. “Wait, wait, easy, Bro.” Kali ini Gyanku baru bersuara, dia menatap kembarannya. “Nggak gitu cara mainnya. Semua ini memang tentang uang, perbaikan, semuanya butuh uang. Tapi lo jelas tau ini bukan cuma tentang uang, right? Where’s your apology, Man? I don’t care what you did to your girlfriends, okay, gue jelas berduka buat cewek-cewek lo, tapi itu urusan lo, yang ini enggak.” “Mas, gue beneran minta maaf dan gue janji akan bertanggung jawab apa pun, gimana pun nanti. Tapi please, buat sekarang ini gue nggak punya waktu banyak, gue harus jelasin ke Adel. I can’t lose her, please? Gue butuh dia, gue sayang banget sama dia.” Aku menganga, sementara aku mendengar Gyan tertawa. Kamu mau tahu bagaimana dengan Mbak Risma dan Mas Adri? Mereka berdua benar-benar tidak bersuara. Aku yakin, drama ini terlalu anak muda untuk mereka yang biasanya mengurus drama pembayaran uang kost bulanan atau barang hilang dari anak kost. “Are you kidding?” Gyan tergelak. “Bro, lo dengan sadar selingkuh, mana sama temen kost cewek lo lagi. So, congratulations, you lost her! Jadi, sekarang mending tanggung jawab sama apa yang lo lakuin. Lo orang luar yang bikin kost ini hura-hara.” “Mas, gue janji gue akan tanggung jawab, gue minta waktu sebentar, please? Kalian boleh minta jaminan dulu biar gue nggak kabur? Apa pun.” “Lo—” Aku akhirnya mengangkat tangan, menganggukkan kepala pada Gyan, memintanya berhenti mencoba. Biarkan kali ini giliranku, karena sungguh kepalaku sudah pening dan aku juga sedang memikirkan satu hal lainnya. Jadi, aku menatap Gyan-B tajam. “Aku nggak berharap Adel maafin kamu sebagai perempuan, tapi aku tau mungkin kamu punya hak buat jelasin. Jadi silakan jelasin, aku minta KTP dan SIM atau apa pun.” “Right.” Gyan-B berdiri, dengan panik merogoh-rogoh kantungnya, lalu mengeluarkan dompet dan menyerahkan semua yang kuminta tadi. Nanti kalau ditilang tanpa SIM gimana? “Ini, Mbak. Aku janji akan balik buat tanggung jawab, tapi please, kasih aku izin buat nemuin Adel.” Aku mengangguk. Aku tahu Adel pasti tahu yang terbaik untuknya. Jadi, sekarang, fokusku ada pada Inge yang sejak tadi banyak diam. “Hai, Nge.” Kepalanya mendongak, dan menatapku. “It must be so hard to fall in love with someone who has a girlfriend.” Matanya membeliak, lalu aku melihatnya berkaca-kaca. Aku juga tahu Gyan menatapku dan aku tidak berusaha membalas tatapannya. Entah kenapa, sejak tadi aku merasa perempuan ini juga perlu perhatian kami. Oh bukan berarti aku tidak berpihak pada Adel. Aku juga tidak menyalahkan Adel atas tindakannya dan mendukungnya 100% untuk menghukum Gyan, tetapi Inge … entahlah, semoga ini hanya perasaanku saja. Ingga menggelengkan kepala, tersenyum tipis. “Aku minta maaf, Mbak Dhara buat semuanya. Aku akan ganti semuanya sampai beres dan aku janji nggak akan ada drama kayak gini lagi.” Aku mengangguk. “I know.” Lalu memberinya senyuman. “Kamu udah makan siang belum?” Dia tidak menjawab, malah tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis tersedu-sedu. “I know,” lirihnya terbata-bata. “I am stupid, aku harusnya bisa nolak dari awal, aku harusnya bisa kuatin benteng, bukan malah murahan cuma karena perhatiannya. Padahal aku tau, Mbak, I’m just a backburner. My life is spent waiting for his text, his call.” See? Feeling-ku tidak salah. Perempuan ini juga perlu pertolongan sama dengan Adel.

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 9

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Hai, Ibu Kost! What’s wrong?” Aku mengangkat kepala, menatapnya dan tak bisa menahan tawa. Dia sedang berusaha menghibur, aku tahu itu dengan jelas. Aku akui dia berhasil, well … kapan dia pernah tidak berhasil dalam memberiku kenyamanan dan kebahagiaan? Yang ada hanya aku tidak ingin menerima dengan cara yang sama seperti yang dia mau—dulu. Sekarang aku sudah tidak bodoh lagi, aku akan menerima semua pemberiannya dengan tangan terbuka lebar, juga rasa bahagia yang penuh. Soal panggilan ibu kost-nya ini … tidak kalah lucu. Hanya karena tadi aku berperan menjadi ibu kost dalam waktu beberapa jam—yep, ini seriusan. Aku bahkan mengajak Inge makan dulu, menemaninya ngobrol dan aku benar-benar merasa kasihan padanya. Entah aku terkena sindrom apa tapi aku merasa kalau dia juga korban—mungkin lebih tepatnya disebut pelaku sekaligus korban. Dia memang salah karena sudah tahu Gyan-B memiliki pacar dan demi Tuhan, mereka satu kost dan saling mengenal, tapi kenapa dia tidak membentengi hatinya dan membiarkan dirinya kalah. Tapi di sisi lain, aku juga tahu perasaan kadang sulit dikendalikan. Intinya, aku sangat membenci Gyan-B dan aku berharap dia tidak mendapatkan kesempatan apa pun dari Adel dan mendapat hukuman dari Tuhan langsung di muka bumi ini. Kalau hukuman terdengar terlalu berat dan judgemental, teguran juga tidak masalah. Supaya dia lekas sadar dan tobat, benar-benar tidak megulangi perbuatannya lagi. Aku juga berdoa agar Adel menemukan tempat kost baru yang lebih nyaman, kehidupan pekerjaan yang baik, dan tentu saja percintaan yang terbaik. Dia berhak mendapatkan itu daripada Gyan yang tidak ganteng juga. Okay, kali ini aku tidak masalah menjadi orang jahat karena dia benar-benar tidak tampan tapi kelakuannya juga lebih-lebih. Parah. Aku megembuskan napas kasar! Menatap ke jalanan. “Gue ngerasa—astaghfirullah.” Aku menoleh dan menatap memelas pada Gyan tetapi berikutnya tertawa geli. “Sori, benerna keceplosan.” “Kayaknya emang di alam bawah sadar kamu, kita belum sedalam itu, Dhara,” katanya memicingkan mata, sambil sebelah tangan kiri menyentuh dadanya. Aku benar-benar tak bisa untuk tidak menaikkan volume tawa. “Kita emang kayaknya belum satu keyakinan. Aku yakin banget sama kamu, tapi kamu enggak.” “Gyan, please?” Aku masih terbahak-bahak sampai mataku berair. “Jangan kambuh ngawurnya, suka ke mana-mana tuh variabel.” Dia tergelak. “Aku tuh ngerasa ikutan capek tau nggak. Maksudnya apa yaaa, aku lama banget ada di fase yang bikin bingung, sebenernya selama itu tuh aku emang masih suka sama Angkasa atau cuma efek bayang-bayang aja dan aku sendiri yang belum siap sama orang baru.” Aku menoleh, menemukan tatapannya yang mulai serius tetapi tetap teduh dan jenaka, lalu dia menatap ke depan lagi, dia harus fokus menyetir. “Nah, terus, liat masalah ini tadi, aku jadi kayak … oh aku bukannya mau sepelein rasanya jadi Adel yaaa, dia pasti sakit hati dan berat banget. Noone deserves to be cheated, kan? Tapi, zaman sekarang ini, saking banyaknya orang yang diselingkuhi, sampai kasus itu nutupin nasib orang-orang kayak Inge. Maksudku, kita tuh sekurang yakin dan bahagia apa sama diri kita sendiri sampai kita rela jadi second choice atau selingkuhan? Apalagi kita tau, yang kita lakuin itu nyakitin orang lain. Kalau soal Gyan, yaa demi Allah aku nggak peduli, go to hell, please!” Aku mendengar Gyan tertawa pelan. “Aku jahat nggak menurutmu kalau kasian juga sama Inge?” Kepalanya seketika menggeleng, dia menatapku sekilas, tapi aku bisa melihat raut bingung di wajahnya. “Kalau salah enggaknya sih enggak yaaa. Maksudku ….” Dia tertawa kikuk, entah kenapa. “Mungkin aku belum pernah denger sudut pandang yang beneran sudut ini.” Aku tertawa, mengangkat tangan, meminta penjelasannya lebih detail. “Mungkin karena aku juga kurang merhatiin detail sekitar atau masalah kayak gini, jadi fokusku biasanya kalau ada kasus perselingkuhan ya cuma ke pelaku. Dan pelaku menurutku ada dua. That’s it.” Aku mengangguk-anggukkan kepala. “Tapi pikiran kamu nggak salah, aku jadi tau hal lain, dan kalau dipikir-pikir emang bener sih. Ada sesuatu yang salah sama manusia karena milih tetep nabrak batasan padahal jalan lain masih banyak. Cowoknya juga kacau banget, bisa-bisanya selingkuh sama satu tempat. Beneran otaknya cuma di kon—oh!” Gyan menoleh, mengerutkan kening, kemudian memukul bibirnya sendiri. “Otaknya di dengkul, aku yakin.” Aku tersenyum geli karena sudah tahu kata apa yang tadinya ingin dia ucapkan. Entah kenapa dia merasa perlu merevisi padahal … ya memang kotor sih kata itu. Mungkin lebih baik menggunakan bahasa biologi, terkesan tidak vulgar dan jorok. Anyway, sekarang aku mulai kepikiran dengan perbaikan di kost nanti. Bagaimana caranya memberitahu Ibu meski tadi Mbak Risma dan Mas Adri menyanggupi untuk menjadi juru bicara, tapi aku tidak tega menumpahkan semua beban pada mereka. Lagipula, di rumah nanti, Ibu pasti tetap akan mengajakku berbicara tentang ini, kan? Tidak mungkin hanya diam seolah aku tidak hadir ke kost tadi. Jadi, aku tetap harus punya kalimat, satu-dua di depannya nanti. “Kalau nanti beli barang-barang barunya nggak online, kabari aku ya, Ni. Sama aku perginya.” “Mending online atau langsung aja menurutmu, Gy?” “Mending ijab kabul dulu sih kalau aku kata aku mah.” Aku menganga, karena benar-benar tidak siap dengan jawabannya yang di luar prediksi itu. Bahkan dia ikut tertawa saat pada akhirnya aku terbahak-bahak. Aku beneran penasaran dengan cara kerja otak Gyan yang bisa menghubungkan satu hal ke hal lainnya dengan begitu cepat. Herannya, berhasil juga. “Tarik napas, Buuuuuu!” serunya masih dengan sisa tawa. “Sori, soriiiii. Serius sekarang. Menurutku mendingan langsung, karena—” “Biar ada kesempatan kamu ketemu aku.” Dia tergelak. “Alright, itu yang pertama. Alasan lain ini logis kok, supaya bisa liat langsung, bisa bandingin a b c d dan menghindari penyesalan tadi kenapa ini itu. Anyway, mau beli sesuatu dulu sebelum pulang ke rumah?” “Martabak telur, please?” Gyan tertawa. “Serius?” “Iyaaa! Kenapaaa?” “Nggak pa-pa, tanya ajaaa. Takutnya nanti nyesel kenapa belinya martabak telur, kalorinya banyak banget. Kenapa tadi nggak chicken salad aja, yaaaaa.” “Stoooppp!” Gyan terbahak-bahak. “Sebenernya ya, Gy, daripada mikirin beli online atau langsung, sekarang ini aku lebih kepikiran gimana caranya cerita ke Ibu.” “Lho, kenapa? Kalau diceritain sama kayak yang terjadi, susah kah buatmu?” “Soalnya aku punya rencana mereka nggak perlu ganti.” “Oh.” Aku meringis. “Gimana menurutmu?” “Kayaknya itu lumayan akan bikin syok Ibu, kayak responku tadi. Tapi mungkin kalau alasannya masuk akal nggak masalah. Tell me, please?” “Karena terjadi di luar kontrol mereka? Penuh emosi dan siapa yang nggak akan marah kalau ada di posisi Adel? Ya nggak sih?” “Justru karena itu, ini biar bisa jadi pelajaran. Kalau emosi yang nggak kekontrol, bukan cuma merugikan orang lain, tapi diri kita sendiri, entah sekarang atau suatu nanti.” Gyan menoleh, tersenyum lebar. “Dan kalau kamu tanya, siapa yang nggak akan ngelakuin kayak apa yang dilakuin Adel tadi, jawabannya aku.” Mendengar itu aku seketika meringis, karena melupakan kisah hidup Gyan yang kelam. “Ini nggak mau compare masalah manusia beratan yang mana, cuma aku boleh dong kasih tanggapan sebagai orang yang juga pernah diselingkuhi? Sama bapak sendiri nih bossss.” Gyan terkekeh. Terlihat sedikit menenangkan melihatnya bisa begini dalam menceritakan kehidupannya yang pahit itu. “Tapi waktu itu yang ada di otak aku cuma satu; aku nggak mau kayak dia yang nyakitin banyak orang.” “I’m so proud of you,” lirihku, menatapnya penuh haru. Aku sungguh-sungguh. “You know that, right?” Kepalanya mengangguk sambil tersenyum lebar. “I love you,” tambahku lagi. “Oh damn!” serunya. “Coba liat dulu di maps ini kita bisa minggir dadakan nggak, Ni? Mau cium sampai mampus nih.” “Edyaaaan!” Aku mendorong lengannya, lalu membenarkan posisi dan mengembuskan napas panjang. Mungkin Gyan benar. Rasa simpati dan empatiku memang tidak masalah, tetapi bukan berarti aku jadi memudahkan orang lain dan membuat mereka merasa tindakan mereka tidak salah. Mereka juga perlu belajar dari masalah ini. Termasuk bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuat. Disengaja ataupun karena kecelakaan kecil. Mobil kami berhenti di ruko-ruko yang depannya terdapat banyak orang-orang jualan. Tapi syukurnya, tidak sulit mencari tempat parkir. Aku baru saja mau membuka pintu, tetapi mendengar suara Gyan. “Biar aku aja, Sayang.” Oh nice, sapaan itu sungguh masih jarang kami gunakan, karena … well, mungkin dia menghargaiku untuk tidak terburu-buru. “Kamu di sini aja dulu, koleksi kata-kata buat cerita ke ibu tentang drama menarik di kost tadi.” Tawanya terasa sangat menyebalkan. “Mau berapa telur, Ibu Kost?” Aku tergelak. “Satu karpet boleh tuh, Pak RT.” Mendengar itu dia gantian tertawa, lalu benar-benar menutup pintu mobil. Selama Gyan sedang melaksanakan tugas, aku menuruti ucapannya karena mencoba menyusun beberapa penjelasan di dalam kepala. Aku cari kalimat yang paling seru tapi realistis untuk diceritakan pada Ibu. Soalnya ngeri juga, takut sudut pandang Ibu sebagai perempuan yang sudah tua malah berbeda dan menyakitkan nanti. Ide-ide di kepalaku terhenti saat Gyan sudah kembali dengan ekspresi suka cita sambil memamerkan box martabak. “Heh, kok banyak banget? Gyan, kamu tau, kan, Ibu pergi?” “Tau. Buat kita berdua. Begadang. “Jangan konyol. Nggak mungkin kita abis sebanyak itu.” “Nanti aku bagi ke satpam komplek.” Aku tertawa, menyerah. Dan dia benar-benar membaginya dengan satu satpam yang dengan wajah semringah menerimanya dan mengucapkan terima kasih berkali-kali. Bahkan, saking friendly-nya Gyan dna entah apa yang diobrolkan mereka—aku padahal mendengarkannya—dia sampai ditawari untuk main catur di pos satpam nanti malam. Oh, sepertinya aku tahu ini ide dari mana? Jangan bilang Ibu sudah memberi briefing pada satpam di sini jaga-jaga kalau Gyan menginap di rumah? Gyan masih dengan tawanya begitu mobil berhenti di depan rumahku. “Kamu tau nggak? Aku tuh suka banget ngobrol sama satpam komplek, apalagi yang ramah begini.” Mendengrnya saja membuatku tertawa geli. “Mereka tuh ceritanya seru-seru tau, mulai dari drama sampai horor.” “Mana ada horor di kompleks padat gini.” “Eh jangan salah! Coba aja tanya sama mereka—” “Ini senjata kamu, kan, biar aku minta temenin tidur? Oh aku meski jomblo lama, tapi aku tetap bisa mencium kalau buaya mulai mau buka mulut, Gyan.” Dia terbahak-bahak sambil melepas sabuk pengamannya, kini menatapku. “Aku semesum itu kah di matamu?” “Oh menurutmu enggak?” “Kamu tau?” katanya, tanyanya, aku tidak yakin. “Aku udah naksir berat sama kamu, bertepuk sebelah tangan lama, dan sekarang udah berbalas, tapi aku bahkan belum hafal rasa bibirmu gimana, Dhara. Saking apa? Saking nggak pernah dicium atau nyium. How dare you, bilang aku mesum, hm?” Aku tertawa sampai sakit perut dan berusaha masih dalam kontrol. Kalimatnya sangat vulgar tetapi semuanya fakta dan aku menangkapnya sangat lucu. Yang mendadak menjadi tidak lucu adalah, ketika aku melihat wajahnya berubah ekspresi menjadi serius menatapku. “So now, aku mau terima dan ambil tuduhanmu. Call me mesum, whatever, I wanna kiss you so bad.” Lalu dia mencondongkan wajahnya, menarik kepalaku mendekat dan menciumku. Ya Tuhan, semoga tidak ada yang melihat ini meskipun diriku sendiri nanti.

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 10

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

Aku tidak terlalu yakin, tetapi mungkin benar, bahwa mencium pasangan sama seperti meminum suplemen tubuh—well, ini aku sungguh mengarang bebas karena sejak tadi merasa sangat geli melihat Gyan begitu bahagia. Kalau bahagianya ini karena martabak telor yang kami makan di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi ini … sedikit mustahil, kan? Atau memang memakan martabak telor bisa sangat membuatnya bahagia? Tapi apa pun itu alasannya, aku tak mau menginterupsi kebahagiaannya, dan memilih menyimpan semua rasa geli untuk diriku sendiri sambil menikmati martabak telor ini. Juga menyeruput jus jeruk bikinan Gyan dengan bangga. “Ibu pulang kapan, Ni?” “Seminggu apa yaaa, aku lupa deh kemarin dia bilang pastinya kapan. Kenapa tuh?” “Ya nggak pa-pa. Ibu telepon aku tau.” Aku menatapnya bingung. Gyan tertawa. “Sumpah, kamu boleh make sure deh ke Ibu.” “Ngomong apa dia?” “Nitip kamu.” Tentu saja aku refleks memutar bola mata. Menitipkan aku? Memangnya aku barang? Atau … kalaupun tetap dipandang sebagai manusia, apakah aku terlihat seperti balita yang belum mampu mengurus diri sendiri? Well, yang aku maksud adalah, ini bukan kali pertama aku ditinggalkan seorang diri di rumah. Sejak Ayah meninggal, Ibu juga pernah ke luar kota dan bertepatan dengan Abang yang juga tidak di rumah. Jadi, aku sudah pasti sendirian. Dulu, Ibu cuma memastikan apakah aku akan baik-baik saja dan ketika aku mengatakan iya, maka Ibu sudah merasa tenang meninggalkanku seorang diri. Sekarang …. Ketika ada Gyan hadir di kehidupan kami, tiba-tiba Ibu merasa ragu dan khawatir meninggalkanku sendirian dan meminta Gyan menjagaku. Ini lucu, aku tak bisa menahan tawa geli meskipun tadi aku memutar bola mata untuk Gyan. Mungkin, hal-hal semaca, inilah yang selalu Ibu harapkan terjadi dalam kehidupanku. Ketika dia bilang dia menginginkan ada seseorang yang bersamaku, menjagaku, seperti yang mungkin dia lihat Ayah dan Abang lakukan. Aku tahu, Ayah dan Abang tidak akan tergantikan. Ayahku, selamanya akan menjadi sosok hero terbaik dalam hidupku, meski semuanya ada di masa lampau. Abang … juga sama dan meski di masa mendatang, tindakannya akan terbatas karena dia memiliki kehidupannya sendiri. Aku paham pemikiran Ibu kurang lebih seperti itu dan dia melihat Gyan sangat baik. Aku paham Ibu dan aku mungkin memiliki sudut pandang yang sama, bahwa rasa sayang Gyan padaku begitu besar. Bahkan kadang aku merasa sedikit tidak enak padanya karena seolah … rasa sayangnya padaku lebih besar dari rasa sayang yang mampu aku tunjukkan padanya. Tapi aku sudah berjanji dan akan selalu berusaha menepati, bahwa aku akan membuka pintu kehidupanku selebar mungkin, mempersilakan Gyan masuk tanpa memberinya syarat-syarat yang rumit , dan mengajaknya menjalani kehidupan bersama, melewati segala rintangan dan menikmati keindahannya. “Halo, Bu?” Mataku melotot ketika menyadari Gyan benar-benar membuktikan omongannya dengan menelepon Ibu! Reaksiku tadi bukan karena tidak mempercayainya, tetapi untuk kalimat ‘nitip kamu’. Aku tidak memintanya membuktikan diri dengan menelepon Ibu saat ini juga, di depanku. Sekarang, aku mulai deg-degan menunggu percakapan mereka. Oh good, Gyan sekarang sudah menyalakan pengeras suara di hapdphone-nye. Lengkap dengan ekspresi yang seolah bilang; “Aku nggak pernah bohong.” “Ibu apa kabar di sana?” “Baik, Sayang, baikkk.” Ya Tuhan, manisnyaaaa bersama calon menantu. Aku menutup mulut karena sudah siap tertawa. “Kenapa, Nak?” Sepanjang ingatanku, aku sepertinya belum mendengar Ibu memanggilku ‘Nak’ atau ‘Sayang’. “Nggak pa-pa, mau tau kabar Ibu aja di sana.” Gyan masih sambil menatapku, kami seolah mau perang pembuktian. “Seru perjalanannnya?” “Seruuu, cuma Ibu pusing nih banyak yang mabok, ya ampuuun.” Gyan tertawa. “Emang nggak minum obat anti mabuk dulu?” “Nggak tau deh tuh. Maksudnya, yang kenal diri sendiri kan ya kita yaa, jadi harusnya tau kalau memang mabuk tuh yaa siapin obat sebelum berangkat. Kalau mabuk di dalam mobil tuh kan yang lain ikutan mual. Kepala Ibu sampe pening nih.” “Udah minum teh anget, Ibu?” “Udaaah, Ibu selalu bawa tolak angin jugaaa.” Ibu tertawa. “Kamu ini di mana, Gy? Sama Nini nggak?” “Iyaa, ini lagi makan martabak telor.” “Wah enaknyaaa. Makasih yaaa udah nemenin Nini. Tadi Pak Anwar telepon Ibu minta izin mau ajak kamu main catur di pos, lho.” Percakapan macam apa ini? Gyan bahkan bukan hanya kesayangan dan kebanggaan Ibu, tetapi juga menjadi incaran satpam. Apakah aku harus mulai merasa terancam karena memiliki banyak saingan? Aku menahan tawa dan Gyan terlihat memahami itu karena dia jadi salah tingkah, menggaruk belakang kepala sambil terkekeh. “Kalau nanti Gyan main catur di pos, Nini sendirian dong, Bu?” “Iya sih, tapi nggak pa-pa, Gya. Buat kenalan doang biar akrab sama mereka, biar kalau mau main ke rumah makin mulus. Jangan lama-lama. Nanti pulang ke rumah.” Rumah manna maksud Ibu? Rumah Gyan, kan? “Tapi tidurnya jangan di kamar Nini, yaaa. Ibu percaya kamu tapi Ibu tau kalau kalian bohong.” Aku mengembuskan napa, ternyata rumah yang dimaksud adalah rumahku. Rumahku adalah rumah Gyan kah? “Yaudah nanti Gyan jalan ke pos sambil bawain kopi.” “Kalau beli kelamaan, bikin aja di dapur, ada tuh kopi. Minta tolong Nini bikini.” Aku tidak tahan untuk tidak nimbrung dalam obrolan seru ini, jadi aku bilang; “Ibuuuuu, Gyan nggak pa-pa ke pos sampai pagi nemenin satpam ronda, aku di rumah sendiri. Biasanya juga aku sendirian siiih.” “Ih jangaaaan, kita nggak pernah tau ada masalah apa.” Aku memutar bola mata. “Nggak adaaa, selama ini baik-baik aja. Rumah kita aman. Ibuuuu, kita baik-baik aja sebelum ada Gyan.” “Ya justru ituuu, ini, kan udah ada Gyan. Jangan disamain sama sebelumnya dong. Udah sih, Ni, Gyan aja nggak masalah kok nemenin kamu. Dia malah happy tuh.” Mendengar kalimat panjang Ibu, Gyan terlihat sangat sombong dan bangga menatapku. Aku cuma bisa meringis. “Atau kamu tuh nggak happy ya deket-deket Gyan? Kamu beneran udah sayang Gyan belum sih?” Ya Tuhan! Aku benar-benar tidak siap dengan dengan pertanyaan Ibu barusan, mataku meloto, lalu aku tertawa kencang. Sementara Gyan mengangkat alisnya, terlihat menantang, dan seolah meminta jawaban dari pertanyaan Ibu barusan. Aku benar-benar merasa terjebak. “Coba mana Gyan,” kata Ibu lagi. “Dia harus denger nih jawaban kamu, kamu jawab sekarang, kamu beneran sayang Gyan nggak? Kok aneh, ditemenin pacarnya malah diusir.” “Bukan gitu, Ibuuuuu.” Aku nyaris frustasi dan mungkin Ibu butuh jawaban ini supaya mau mengalah dan paham. “Kalau nanti Gyan nginep sini dan terjadi hal-hal menyenangkan, Ibu gimana? Siap?” “Astagfirullah, Nini, itu ancaman? Mau kayak Abang?” Aku tertawa. “Ya makanya ini aku berusaha menghindar itu, Ibuuu. Malah Ibu kok yang nyuruh-nyuruh nih.” “Kan Gyan tidur terpisah. Lagian Ibu percaya sama Gyan kok.” “Sama Nini?” “Ya percaya jugaaaa! Aneh sih, pertanyaannya. Kalau nggak percaya, kamu udah Ibu seret ikut Ibu ke mana-mana. Udah doong, Niiii. Kasih Gyan kesempatan, lagian dia aja udah buktiin banyak hal lho, kamu ini gimana sih.” Aku melihat Gyan tertawa tanpa suara, terlihat sangat menikmati percakapan yang menyudutkanku ini. Jadi, sepertinya aku memang harus mengeluarkan senjata terakhirku karena … mau bagaimana pun sepertinya aku tidak akan menang di sini. Aku sudah sepatutnya membela diriku sendiri, kan? So, yeah, aku akhirnya bilang, “Ibuuuu.” “Hm.” “Nini sama sekali nggak khawatir sama Gyan, Bu.” Aku tersenyum melihat ekspresi Gyan yang terlihat mulai waspada. Memang seharusnya dia begitu. “Nini tau banget, Ibu bukan tanpa alasan sayang sama Gyan. Nini juga bisa lihat gimana baiknya Gyan dan Nini happy banget karena hal itu. Tapi Ibu tau nggak? Justru Nini takut sama diri sendiri.” “Takut kenapa, Ni?” “Takut Nini yang minta Gyan hamilin Nini kalau malam ini Gyan tetep tidur di sini.” “Astagfirullah, Nini! Heiiiii!” Aku bisa mendengar paniknya Ibu di sana. Begitu pun di sebelahku, Gyan sudah terbatuk-batuk dan menatapku horor. “Istighfar, Ni. Kamu jangan macem-macem, Ni. Gyan tidur di kamar Abang.” “Kan Nini bisa nyamperin,” jawabku masih meyakinkan. “Gyan tidur di dapur pun, Nini bisa nyamperin. Ya, kan?” “Ya Allah, kamu jangan gila. Mana Gyan. Gy? Ibu mau ngomong sama dia.” Aku memberi Gyan ekspresi menantang, mempersilakan Gyan untuk ngobrol dengan Ibu lagi. Sementara aku kembali menikmati martabak dan jus jeruk nikmat ini. Oh indahnya mengerjai dua orang yang disayang. Aku tidak menyimak obrolan selanjutnya Gyan dengan Ibu sampai akhirnya aku melihat Gyan bergerak mendekatiku dan handphone sudah di atas meja. Aku memicingkan mata. “Kenapa nih?” Ekspresi baru Gyan yang sekarang ini benar-benar membuatku waspada karena dia tersenyum iblis dan mengatakan, “Kamu mau kerja sama nggak?” “Kerja sama apa?” “Kamu tadi bilang sama Ibu takut kamu yang minta buat aku hamilin, kan? Aku mau bantu tanpa perlu ketahuan Ibu. Gimana?” Aku tak bisa berkata-kata. Edyaaan!

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 11

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

Sejak kepergian Ayah, aku merasa tidak pernah ada lagi masalah dalam hidup yang akan membuatku overthinking atau … merasakan perasaan negatif lain. Karena bagiku, momen-momen setelah kepergian Ayah adalah yang terburuk yang pernah aku alami—memang benar sampai sekarang, tapi bukan berarti tidak ada hal lain yang juga membuatku ambruk. Bukti nyata pertama adalah drama yang disebabkan oleh tingkah Abang. Lalu yang kedua … penyebabnya diriku sendiri. Sebenarnya aku bingung untuk masalah yang satu ini, karena bukan aku satu-satunya yang memulai, bukan? Tapi Ibu dan Tante Anita. Itu kenapa aku jadi mengenal Gyan hingga sekarang. Masalahnya tentu bukan soal Gyan dan aku, kami sudah melewati drama panjang tentang menyamkana perasaan dan aku mengakui aku yang membuatnya panjang. Tapi permasalahannya sekarang adalah … kenyataan yang tak akan pernah bisa aku ubah atau aku abaikan bahwa jika memilih hidup bersama Gyan, maka selamanya, aku akan berurusan dengan Mega dan Om Gino. Itu lah maksudku. Kali ini tentang Mega. Aku benar-benar sulit memahami dan mencerna apakah perlu mengiyakan ajakannya atau terang-terangan menutup akses berhubungan dengannya. Satu yang pasti, pilihan kedua jelas tidak mungkin aku lakukan. Mengingat Tante Anita terlihat begitu baik berhubungan dengan Mega. maksudku, kalau Tante Anita sebagai orang yang seharusnya merasa sakit hati saja bisa berhubungan baik dengan Mega, lalu kenapa aku menjadi yang paling arogan? Masalahnya adalah … aku jujur aku tidak siap dan tidak mau siap menjalani drama baru di dalam hidupku. Aku hanya ingin menikmati momen sekarang bersama orang-orang yang aku sayang dan menyayangiku. Mega tidak mungkin menyayangiku, kan? Aku tertawa pelan mengingat dan membayangkan ke depan akan gimana hubunganku dengan Mega. Kalaupun dia tiba-tiba berubah menjadi baik layaknya sebagai ibuku juga—terlihat aneh memang—mungkin semua tetap akan terasa berbeda. Aku tidak bisa membayangkan diriku sendiri selembut dan seramah saat dengan Tante Anita atau mungkin mendadak mengubah panggilanku untuk Mega menjadi ‘ibu’ juga? Walaupun memang akan mustahil kalau dilihat dari apa yang terjadi saat ini. Ketika dia mengirimiku pesan untuk main berdua denganku—lagi—sebagai sesama perempuan yang akan menjadi satu keluarga. Itu kata-katanya. Yang aku pahami maknanya untuk tidak melibatkan Gyan di sini. Tidak dengan memberi tahu lelaki itu apalagi mengajaknya datang. Dari sini saja, aku asumsikan dia mungkin benar-benar ingin menyingkirkanku. Aku tidak tahu kalau mungkin juga aku yang berlebihan dalam berpikir kali ini. Kita akan tahu, sebentar lagi, karena sekarang mobilku sudah akan memasuki perumahannya. Ketika satpam itu menyapaku dan bertanya; “Halo, Mbak, mau ke mana?” “Ke rumah Pak Gino, Pak. Sama istri mudanya, namanya Kak Mega.” Aku tersenyum. “Untuk keperluan apa?” ”Bapak Gino papanya pacar saya.” “Oh iya sebentar.” Satpam tersenyum, lalu menoleh ke teman satunya yang duduk di post. “Telepon coba.” Dia kembali menoleh menatapku. “Meganya aja yang ditelepon, Pak. Kayaknya Om Ginonya udah pergi dan nggak tahu kalau saya mau datang.” “Iya, Mbak, sebentar, yaaa.” Aku memberi senyuman lagi, lalu menatap ke depan sambil melamun, menunggu proses screening ini selesai. Perumahan ini jelas lebih hebat dan komplek rumahku. Karena kalau satpam di komplek rumahku tidak akan memberhentikan orang yang akan masuk seperti ini, lebih bebas. Tapi alhamdulillah, tetap aman. Di sini, mungkin sesuai dengan bayaran satpamnya, harga rumahnya, kekayaan orang-orang yang menghuninya. Anyway, aku sudah pernah datang ke sini, dan waktu itu, seingatku Gyan tidak diperlakukan seperti ini. Jelas saja, mungkin mereka sudah mengenal Gyan sebagai anak dari salah satu warga sini, sementara aku … aku juga yakin satpamnya yang jaga kali ini berbeda. “Boleh KTP-nya Mbak? Atau tanda pengenal lain?” Aku mengangguk. “Tentu, sebentar, Pak.” Aku buru-buru mengambil tas untuk menemukan card holder dan mengambil KTP, lalu menyerahkan padanya, dan dia memberiku akses. “Makasih, Pak.” “Sama-sama, Mbak, silakan. Mau saya antar ke rumahnya atau sudah tahu?” “Sudah, Pak, terima kasih.” Aku memarkirkan mobil di pinggir jalanan depan rumah besar yang konsepnya terbuka tanpa pagar melingkari ini. Jadi aku bisa melihat ada satu mobil di luar, waktu itu datang ke sini garasinya tertutup rapat. Ketika aku keluar dari mobil dan berjalan menuju rumahnya, aku melihat seseorang keluar dari pintu, yang aku ingat sebagai salah satu ART di rumah ini. Senyumannya ramah sekali dan terasa sangat tulus, berbanding terbalik dengan sang pemilik, yang aku maksud sudah pasti Mega. Well, entah memang berbanding terbalik atau sesimpel karena hubunganku dengannya tidak begitu baik, jadi di mataku, Mega selalu tidak pernah baik dan tulus padaku. Padahal bisa saja memang aku yang mengasumsikan sendiri, kan? “Terima kasih, Mbak Dara,” katanya, menerima buah tangan yang aku bawa. “Kalau butuh apa-apa selama di sini, jangan sungkan untuk minta ke saya, ya?” Aku menatapnya penuh haru. Oh, kenapa justru aku disambut dan diterima dengan baik bukan oleh pemilik rumah ini yang katanya akan menjadi keluargaku? “Terima kasih, Mbak. Mbak baik banget.” Aku mengeluh lengannya dan tersenyum. Kemudian mengingat tujuan kedatanganku ke sini bukan untuk Mbak— “Maaf, Mbak, aku lupa, Mbak namanya siapa?” “Romi.” “Okay, Mbak Romi. Terima kasih, yaaa.” Dia mengangguk, lalu berbisik pelan. “Mungkin satu-satunya orang di rumah ini yang bisa Mbak Dara andelin cuma saya.” Dia tertawa pelan banget. “Saya selalu di pihaknya Mas Gyan, dan Mas Gyan juga tadi bilang buat bantuan Mbak di sini.” “O-kaaayy.” Aku tersenyum geli. “Kesannya jadi kayak mau perang, padahal aku cuma main. Udah, Mbak, nggak pa-pa. Aku dan Mega baik-baik aja. Sekali lagi makasih, yaaa, udah peduli sama saya.” Kepalanya mengangguk. “Mari, Mbak, Ibu sudah nunggu di dalem.” “Oh, ternyata beneran lumayan deg-degan.” Kami tertawa, lalu mulai melangkah memasuki rumahnya. Aku dibawa ke ruang tamu, berbeda dengan saat pertama kali datang ke sini bersama Gyan. Mega sudah duduk di sana, sedang menyilangkan kaki dan bermain handphone, lalu menoleh menatapku. “Hai,” sapaku berusaha tersenyum ramah. Dia mempersilakanku duduk dengan tangannya, kemudian kembali fokus pada handphone-nya sambil mengatakan, “Bentar, ya. Bikinin minum dan keluarin makanan, Mbak Rom.” Aku melirik Mbak Romi, dia tersenyum padaku, lalu pamit undur diri. Oh Mega, aku tahu kamu jelas perempuan hebat itu kenapa Om Gino memilih menghabiskan hidupnya denganmu dibanding hanya menjadikanmu cinta satu malam—mengingat cerita Gyan bahwa Mega hanya salah satu perempuan di list Om Gino. Tapi kehebatan Mega tetap tidak membenarkan sikapnya barusan, bukan? Aku ingin sedikit menggodanya dengan tetap berdiri, menunggunya sampai selesai atas kesibukannya bersama benda di tangannya itu. Mungkin sekitar satu menit, kurang lebihnya aku tidak yakin, dia akhirnya meletakkan handphone di sebelah tubuhnya dan sedikit terkejut melihatku masih berdiri. “Tadi bukannya aku udah mempersilakan kamu duduk, ya?” “Oh I’m sorry, aku nggak denger, Mega.” Aku tersenyum. “Tadi aku cuma liat kamu liat aku, dan minta Mbak Romi bikin minum.” Aku melihat keningnya berkerut tepat ketika aku menyebut nama salah satu pegawainya. Mungkin dia bertanya-tanya, dari mana aku bisa tahu dan terlihat sok akrab. “Kalau ternyata aku sudah dipersilakan duduk, aku akan duduk.” Aku mendaratkan bokong di sofa berbeda sebelahnya. “Tadi lama nggak, Dhar, dihadang satpam di depan?” Aku refleks tertawa. “Iyaa, lumayan, untungnya di belakang nggak ada mobil.” “Kalau belakangmu ada mobil lain, kamu pasti suruh maju buat nunggu prosesnya selesai.” Aku mengangguk. “Nggak pa-pa, sih, paham kok mereka ngelakuin ini demi keamanan.” “Dan kenyamanan,” jawabnya, ada senyum tipis di wajahnya saat menatapku. “Mereka mau mastiin yang datang itu memang yang diharapkan sama tuan rumah.” Mendengar kalimat itu aku tentu saja mengangguk, menyetujuinya. Menerima tamu tanpa diundang memang tidak nyaman. “Tapi sekaligus ngasih paham ke tamunya, kalau meskipun diundang, mereka tetap bukan inti keluarga yang bisa dipercaya dan diterima gitu aja. Itu kenapa ada yang diminta tanda pengenal. Waktu Gyan ke sini, nggak perlu, kan?” Aku berusaha mencerna kalimatnya dengan baik. Lalu terdistraksi dengan kedatangan Mbak Romi yang membawa minuman untuk kami berdua dan ada beberapa makanan juga. Aku mengucapkan terima kasih ketika dia mempersilakanku menikmati. Setelah Mbak Romi pamit, aku kembali menatap Mega dan mengulang kata-katanya di kepala. Rasanya memang sulit untuk berpikiran positif dengan perempuan ini. Bahkan meski berusaha tetap berpikir bahwa semua kalimatnya hanya sebuah cerita dan informasi untukku sebagai tamu, tapi aku justru merasa dia sedang menegaskan posisiku di sini. Sebagai hanya tamu karena dia menerimaku di ruang tamu dan tamu yang tak begitu penting karena perlu melewati proses screening di depan satpam tadi. “Anyway,” ucapku pelan, tersenyum pada Mega. “Nyetir ke sini lumayan capek, sih buat aku, jadi memang kayaknya nggak akan lagi deh aku ke sini nyetir sendiri. Ada untungnya juga punya pacar yang maunya sebagai provider.” Ekspresi wajahnya seketika berubah. Dia bisa saja memasang wajah aslinya yang tidak ramah itu untukku, tapi aku dia juga sedang berusaha kuat untuk terlihat santai dan baik hati. “Dulu waktu kamu masih pacaran sama Gyan, rumahnya Om Gino yang ini, Ga?” “Menurutmu sopan kah nanyain hal itu, Dhara? I’ve heard a lot about you dan semuanya hal baik, lho.” “Oh my bad.” Aku menggelengkan kepala. “Nggak akan terulang lagi pertanyaan itu. Jadi mari langsung pada intinya, kamu mau ngomong apa dengan undang aku ke sini sebagai sesama perempuan dan Gyan nggak boleh tau?” “Aku cuma berusaha memperbaiki karena kita berdua tau, sebenci apa pun Gyan sama papanya dan aku, kita selamanya tetap akan terhubung.” “Contohnya?” “Apa maksudmu dengan contohnya?” Aku tersenyum lebar. “Ya contohnya selamanya akan terhubung itu apa? Karena kalau ngomongin nikah, kayaknya cowok nggak perlu wali nikah deh, sementara aku masih punya Abang. Terus biaya hidup, seingatku Gyan udah lama nggak bergantung sama papanya. Jadi, kalaupun kalian mau ancem dengan ambil apa yang udah kalian kasih, dia masih bisa hidup juga.” Aku menatapnya serius, dia juga sama. “Oh ngomong-ngomong soal apa yang kalian kasih ke Gyan yang aku maksud tadi adalah bayaran transaksi barter antara Om Gino dan Gyan soal kamu.” Aku jelas merasa bersalah dan aku meminta maaf pada Tuhan dan teman-teman perempuanku di luar sana. Aku tidak pernah suka menjadikan perempuan sebagai objek apa pun yang mengarah ke keburukan, tapi demi Tuhan, dengan Mega ini, aku merasa benar-benar perlu melindungi diriku. Aku tidak bisa bersikap bak malaikat dengan meminta Tuhan yang membalasnya nanti di akhirat. Aku perlu mengerahkan seluruh kemampuan yang diberikan Tuhan padaku di dunia ini untuk menghadapinya. Dia terlihat sangat marah. “Maksudmu apa?” “Kamu udah tahu, kan, kalau Gyan lepasin kamu dan dapet imbalan banyak materi dari Om Gino? Itu hargamu, Mega. Jadi kalau mau kamu ambil lagi, artinya kamu udah nggak punya harga sama sekali di mata Gyan.” “Aku kasih kamu kesempatan buat minta maaf, Dhara.” “Aku juga kasih kamu kesempatan untuk bersikap normal sebagai ibu tiri Gyan dan berhenti bersikap seolah kamu dan Gyan masih punya hubungan spesial. Detik kamu ninggalin dia dan milih papanya, detik itu juga kamu harusnya sadar nggak ada lagi urusanmu dengan Gyan.” Aku menambahkan. “Satu lagi, Mega, aku yakin kayaknya kamu memang perlu tau ini. Alasan Gyan masih mau berhubungan sama Om Gino itu cuma karena Alex. Tapi buatku itu nggak susah, aku bisa dengan mudah bikin Gyan lebih milih aku daripada Alex.” Kali ini senyumku lebar. “Untuk literasi kamu deh, Gyan selalu bilang dia happy ada di tengah keluargaku. Dia nggak pernah butuh kamu dan Om Gino. Jadi, bersikaplah baik sama aku kalau kamu masih mau liat muka Gyan di rumah ini dan nggak mau Alex kehilangan sosok Abang. Mark my words.” Aku menyeruput minuman demi membasahi tenggorokan. Rasanya … seolah aku sudah menjadi orang paling jahat. Padahal, aku berani menjamin, aku juga menyayangi Alex dan tidak pernah menganggapnya sebelah mata hanya karena dia anaknya Mega.

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 12

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Aku punya cerita menarik banget, Ra. Punya waktu buat dengerin?” “Seriously, Man?” Dia tergelak, tubuhnya sekarang berdiri tegak sambil memeluk tiang mop, dan sekarang sudah kembali menatapku, masih dengan ekspresi menahan tawa geli. Cerita apa lagi sekarang yang akan dia bawa di tengah-tengah proses pembersihan rumah ini, hm? Aku benar-benar merasa Gyan sedang mengeluarkan semua hal yang ada di dalam dirinya, bahkan sama sekali tidak berpikir untuk mengeluarkannya satu-satu. Memangnya dia nggak berpikir aku akan syok atau tidak menerima dirinya sepenuhnya? Secara terbuka? Satu-satu seharusnya bisa. Ini tidak, dia bisa memberiku kejutan dua kali dalam satu waktu; seperti hari ini. Belum cukup dengan kejutan bahwa dia tidak tahu makanan bernama seblak, sekarang dia mengejutkanku dengan sisi lain dirinya yang ‘oh aku adalah orang yang seneng cerita random di tengah napas ngos-ngosan dan keringat di pelipis’ alias, kami bahkan sedang gotong-royong. “Yaudah deh, kalau nggak mau dengerin.” “Excuse me?” Dia terbahak-bahak, sekarang sudah mulai kembali menggosok-gosok kain pel ke lantai dengan sangat kaku. Anyway, jangan menyalahkanku atas apa yang dia kerjakan hari ini. Aku sudah melarangnya tentu saja, karena … ya ini rumah aku dan Ibu, Gyan belum menjadi suamiku. Tapi Gyan mungkin sudah terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan, jadi dengan muka jenaka andalannya yang memang sangat disukai Ibu, dia merayu dengan kalimat; “Ibu bilang, ayahnya Nini suka ngelakuin hal-hal kayak gini, tapi kelaminnya nggak berubah, jadi Gyan juga mau, Bu. Mau latihan biar nanti terbiasa.” Aku tahu, banyak variabel tidak masuk akal di dalam kalimat rayuan Gyan. Hal yang sama dirasakan oleh Ibu, aku berani jamin karena aku mengenalnya seumur hidupku. Kalau itu aku, mungkin Ibu akan dengan mudah mengatakan, “Masalahnya bukan soal kamu nanti terbiasa atau enggak kok, Ni, tapi kan kamu sekarang ini belum secara resmi jadi bagian keluarga? Jadi nggak ada kewajiban buat bantuin hal-hal kayak gini.” Tapi yang terjadi di lapangan adalah, Ibu jelas tidak akan tega mengatakan itu pada calon menantu kesayangannya. Apalagi melihat ekspresi Gyan yang memelas, Ibu mengangguk dan mengelus lengan Gyan sambil bilang, “Boleh, Nak. Boleh, gih berdua sama Nini.” So, here we are! Aku tadi yang menyapu sementara Gyan bagian mengepel. Aku bukan tipe anak perempuan serajin itu sebenarnya. Yang aku maksud adalah … ibu membayar orang untuk membersihkan rumah meski tidak setiap hari, jadi kadang-kadang aku memang menyapu kalau diperlukan. Sisanya ya Ibu, karena dia memang jauh lebih bersih dan merasa puas. Masalahnya, Mbak yang biasa bantu bersih sekali-kali itu, mendadak tidak bisa, sementara kondisi rumah sudah perlu dibersihkan—menurut pandangan Ibu sepulangnya dari jalan-jalan. Lucunya, tadi aku sempat terpikirkan ide yang benar-benar konyol; kalau gini mendingan aku nikah sama Gyan aja sekarang dan pindah ke rumah sendiri. Jadi mau rumah kotor pun nggak peduli kalau memang nggak mau bersihin. Seketika aku buang ide itu jauh-jauh. Bukan karena Gyan-nya, tentu sekarang permasalahannya bukan lagi soal Gyan dengan prinsip hidupnya, melainkan diriku sendiri yang menurutku … well, aku yakin aku belum siap. “Anjrit!” Aku menoleh mendengar teriakan Gyan dan terpingkal-pingkal ketika melihat pantatnya sudah mendarat di lantai yang basah. Mukanya meringis kesakitan, tapi dia masih bisa ikut tertawa kencang. Lalu yang dia lakukan sekarang adalah meluruskan kaki pasrah, dan mengurut pahanya. Aku berjalan mendekat, setelah meletakkan kain pel ke wadahnya, aku berjongkok di dekatnya. “Do you need help, my little man?” “Stop.” “Gimana rasanya terjun ke dunia yang berbeda? Is it really fun? Wort it kah, Bang?” Aku mendengar Gyan terkekeh lalu mengerucutkan bibirnya, sepertinya dia menahan diri untuk tidak mengaku kalah dengan tertawa lagi. Karena apa yang aku katakan adalah sebuah kebenaran. No, banyak kebenaran. “Piye, Mas? Lebih enak di jamanmu dan Om Gino toh? Mana ada laki-laki turun tangan megang pel-pelan dan berakibat jatuh gini?” “Aku cium beneran kalau kamu nggak mau berhenti.” “Ibu bisa liat kita dari dapur sana, I bet.” “It'll be more interesting tho.” Gyan tersenyum lebar. “Dinikahin langsung pasti.” “Aku suka banget nih sama pedenya Bang Gyan. Padahal, bisa aja Ibu malah nyuruh putus.” Dia berdecak. “Ya jangan dong doanya.” Seketika tatapannya berubah memelas. “Ini kapan selesainya? Masih harus ruangan mana lagi yang dipel, Ni?” “Tangga belum, lantai atas belum, ada kamar-kamar. Terus abis ini nyuci baju, nyetrika baju yang udah kering sebelumnya, terus bersihin taman, baru deh nanti makan siang.” Aku melihat dia menelan ludah, tetapi masih berusaha memasang senyum di wajahnya. “Apakah sudah menyerah sampai di sini, Pak?” “Boleh nggak menyerah tanpa diputus restu?” Aku tergelak. “Tanya Ibu.” “Gengsiku masih ada, Ra, belum yang hilang total gitu.” Ya Tuhan, dia ternyata memang lucu sekali untuk beberapa hal. Saking lucunya, aku sampai kehilangan kendali dan secara refleks menarik kepalanya dan mendekapnya kencang. “Aku nggak tahu ngasih kesempatan diriku sendiri buat jalanin ini sama kamu ternyata seindah ini, Gy. I love you.” “Oh my God!” lirihnya, menarik diri dan menatapku horor. “Ini kerasukan atau beneran Nini cuma efek capek aja?” Aku mengedikkan bahu. “Anggap aja ini efek keringat.” Lalu aku berdiri setelah menepuk punggungnya. “Ayo cepetan rampungin, mau upah makan atau enggak?” “What?! Hey, ini kok kayak perbudakan?” “Lho, emang menurutmu apa?” Gyan terbahak-bahak. “Oh how I love this woman.” Kami melanjutkan lagi yang tersisa—dan sebenarnya tidak terlalu banyak sih. Aku memang hanya iseng saja mengerjai Gyan, karena ternyata sangat menyenangkan. Aku jadi lega membayangkan nanti di kehidupan kami berdua, setidaknya sudah ada gambaran membahagiakan ini. Walaupun aku paham, tidak akan semudah itu, hidup tidak melulu bahagia, pasti lengkap isinya. Beres semuanya, aku dan Gyan membersihkan tangan dan sekarang duduk di kursi meja makan dengan memperhatikan Ibu yang yang menyiapkan makanan dengan ekspresi suka cita. Mungkin yang dia pikirkan adalah … beginilah bayangan kehidupan kami nanti, selalu ada Gyan di rumah ini dan itulah doa Ibu, harapan Ibu untuk terwujud di hidupku. “Capek, Gy?” “Enggak kok, Bu, seru seru. Kalau kata Nini, bersihin rumah tuh seru kalau nggak disuruh.” Aku menoleh. “Berarti hari ini nggak seru dong, Ni?” tanya Ibu sambil tersenyum geli. “Kan, Ibu suruh.” Aku meringis. “Seru kok, Bu.” Aku merasa Gyan menatapku, dan aku melihatnya. Mukanya terlihat bersalah. “Gyan juga seneng banget, mana nggak kenal capek, malah bilang mana lagi yang mau dibersihin, terus katanya, nggak usah bayar orang, dia mau bantuin bersih-bersih. Katanya bisa jadi alternatif nge-date sama aku, versi aman di bawah pengawasan orang tua.” Aku pura-pura tidak melihat Gyan, tidak tahu bagaimana ekspresinya, dia juga tidak mengatakan apa pun. Tapi Ibu tentu saja tidak akan mengiyakan kalimatku tadi, karena mana mungkin dia bersedia menyusahkan calon menantu kesayangannya. Ibu menjawab, “Nggak usah lah, ini sesekali aja. Yang Ibu maksud ayahnya Nini nggak berubah kelamin itu bukan berarti dia ngerjain semuanya, Gy. Tapi maksudnya, dia nggak anti sama hal itu, gitu. Kalau udah kerja capek, pulang harus ngerjain semua sendiri, setiap hari, ya kasihan. Selagi mampu bayar orang, ya nggak pa-pa, toh mereka juga seneng dapat rezeki dari hasil keringat mereka. Tapi, kalau sesekali bareng istri bersih-bersih rumah, juga boleh karena nyenengin lho.” Gyan tertawa. “Iya, Bu.” “Dah, sekarang makan dulu. Yang banyak makannya, biar sehat.” Aku tergelak, lalu menatap mereka mereka berdua karena memberiku tatapan horor. “What?” “Kenapa kamu ketawa?” tanya Ibu. “Biar badan sehat?” “Ya emang iya, kan? Emang harusnya apa?” Aku menelan ludah. “Bener, biar badan sehat.” Aku menoleh pada Gyan, menepuk pundaknya. “Kasihan Gyan, keliatan nggak sehat dan kecapekan, makan yang banyak ya, Sayang, yaaa? Biar badannya gemuk dan sehat.” Gyan melongo. Aku mendengar Ibu tertawa. “Jadi, kalian udah mulai mikirin kira-kira kapan mau nikahnya?” Aku dan Gyan sama-sama tersedak pertanyaan mengerikan itu. Besok? Itu, kan, jawaban yang Ibu mau?

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 13

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Ini serius, ya, nggak bisa dibatalin?” “Udah telat, Nini. Kita udah separuh perjalanan.” “Ya nggak masalah, kalau memang bisa dan mungkin dibatalin, aku bisa turun di sini, pesen taksi, ojek online, apa pun, Gy. Yang penting dengan catatan kamu nggak drama setelah ini.” “Seriously? Siapa yang seharusnya dikasih warning kayak gitu? Kamu dong. Kalau kamu turun di sini, yakin nggak drama setelahnya dengan bilang; aku nggak peka, aku nggak paham meski kamu selalu bilang bisa tanpa aku tapi cewek mana yang nggak bete beneran diturunin di pinggir jalan.” “Ya lebih bete kalau diturunin di tengah jalan sih, ngeri ditabrak truk.” “Nini!” Gyan terbahak-bahak sambil memukul setir, sesekali menoleh singkat dan aku hanya memberinya tatapan sombong karena merasa sangat lucu, jago menghiburnya. “Sudah cukup lucu untuk menjadi pasanganmu, Mas Gyan? Menemanimu hidup di zaman serba ruwet ini?” Tawanya makin lepas. “Lo bener-bener … what? Lo?” Gyan memukul keningnya sendiri. “What is this? Hubungan macam apa ini? Kenapa begitu santai pake gue-elo aku-kamu tiba-tiba. Oh my God, I never felt this before.” “Ooh how lucky I am! Bisa denger langsung suara buaya beberapa kali. Aku belum ngerasain ini sebelumnya. Kenapa ya, sama kamu tuh nyaman banget. Susah banget nyari cewek yang sefrekuensi di zaman sekarang.” “Stop there.” Gyan terlihat tak terima, tapi masih sibuk dengan tawanya. “Aku nggak gitu, ya. Aku nggak pernah bilang kamu serba yang pertama, ya karena memang bukan. C’mon! Hidup udah kacau, ngapain malah sibuk bangun delusi. Anyways, aku belum jadi cerita ke kamu, kan, waktu aku bilang aku punya cerita seru?” “Apa tuh?” Aku memilih membuka snack yang tadi sempat kami beli, mengicipnya duluan untuk memastikan rasa. Ini bukan jajanan yang biasa aku beli, makanya aku juga tidak yakin dengan rasanya. Tadi hanya … well, menebak-nebak. Ketika merasa ini diterima lidah—lidahku maksudnya, karena aku tidak bisa menjamin selera kami sama, tapi aku mau coba memberinya pada Gyan. “Mau?” “Itu kentang, ya?” “Ketela.” “Aaaa.” Dia menoleh sambil matanya terlihat kesulitan melirik-lirik ke depan. Aku memasukkan satu keping ke dalam mulutnya. “Buset, ini spicy?” “Yup, emang pedes banget?” “Enggak sih, tapi kaget aja pertama kali tadi. Enak, enak. Mau lagi, Sayang.” Aku menyuapinya lagi, kesekian kali, sebanyak dia bilang ‘aaa’ sambil membuka mulut. “Tadi apa ceritanya, Gy?” “Oh! Gini, gini.” Dia menelan ketela di mulutnya, tentu saja setelah dia kunyah dengan baik. “Kamu pernah denger, nggak cerita anak sama ibu tirinya tuh bahkan seumuran?” Aku mengangguk. “Kalau orang deket sih nggak pernah, yaa, tapi aku pernah baca gitu di sosmed atau denger cerita dari temen gitu. Jadi, aku percaya aja sih.” Aku memperhatikan bungkus snack untuk tahu informasi kadar cabai di makanan ini. Kenapa lama-lama aku merasa lidahku seperti terbakar? Padahal kelihatannya ini snack normal, bukan kematian dengan gambar api dan cabai merah yang sebesar baliho. “Pedes, ya, Sayang?” tanyaku memastikan pada Gyan. Bukan bertanya, lebih tepatnya mengkonfirmasi kalimatnya tadi. “Tuh, iya emang pedes. Tadi beli minum nggak?” “Beli kok. Mau?” “Mau dong.” Aku membuka botol minum, lalu membantu memastikan air itu bisa masuk ke mulutnya dengan selamat. Setelah berhasil, aku melihat Gyan senyum-senyum sendiri sambil melirikku. “Kenapa?” “Nggak pa-pa. Aku cuma ngerasa … ini tuh namanya karma atau namanya kenikmatan menjilat ludah sendiri?” “Sorry?” “Ternyata diemong kayak gini rasanya nyenengin banget.” Aku mengernyitkan kening. “Diemong? Oh my goodness!” Aku terbahak-bahak. “Ya ampun, Gyan, kasian banget. Belum pernah ada yang bukain tutup botol, ya? Biasanya selalu yang bukain sih, yaaa?” Dia tertawa, aku melanjutkan. “MAu dipuk-puk sekalian nggak?” “Di sini?” “Edaaan!” Aku memukul lengannya. “Lanjutin ceritanya tadi gimana, kamu tuh nggak pernah terima kalau aku bilang kamu kalimatnya ke mana-mana. Nih lihat buktinya.” “Iya deh.” Dia memasang wajah sinis. Aku cuma tertawa geli. “Nah, jadi ada nih orang punya mama tiri yang seusia dia kan, Ni. Nih anak cowok ya by the way. Terus cowok ini punya pacar.” Selama dia bercerita, aku manggut-manggut, berusaha menyimak dengan baik karena ceritanya terdengar lumayan rumit. Tapi aku juga sambil mengunyah snack yang tadi, sayang kalau tidak dihabiskan. “Nah, pacarnya ini luar biasa sempurna deh. Nggak cuma cantik, tapi beneran baikkkk, positif banget orangnya.” “Wow,” seruku refleks, aku ikutan menatap Gyan antusias. “Pasti si cowok juga keren banget tuh, bisa sama-sama beruntung saling dapetin.” Gyan meringis. “Yang cowok sih menurutku enggak banget.” “Gyan, please?” Aku tak bisa menahan tawa meski aku juga merasa ikut bersalah atas kalimat kurang ajarnya barusan pada orang lain. “Serius, Ra, cowoknya ya gitu deh. Nah si mama tiri cowok ini, kayaknya emang nggak suka gitu sama pacarnya anak tirinya ini. Si cewek ini, pacarnya si cowok, sadar sih kalau calon mertua tirinya itu nggak suka. Ya dia juga sama sih, nggak yang suka banget gitu, tapi karena dia memang baik anaknya, dia berusaha hargai, dan tetep baik. Terus suatu ketika, entah ada ide gila darimana, si mama tiri ini tiba-tiba undang nih cewek main ke rumahnya dan minta buat si anak cowok nggak tau.” “What? Kok mirip drama-drama layar kaca.” “I know right?” Gyan terkekeh. “Datenglah nih cewek, dia mah baik, kan. Jadi ya dateng aja gitu. Ternyata, undangan itu tuh emang niatnya buruk. Si mama tiri tuh mau nunjukkin kalau posisi nih cewek sebagai apa dan nggak pernah beneran diterima di keluarga itu.” Tunggu sebentar, kenapa alurnya terasa dejavu? “Si cewek ini lama-lama enek juga, kan? Terus sisi baiknya mendadak hilang dan muncul sisi kejam dia, dia lawan tuh mama tiri pacarnya sambil bilang kalau dia bisa aja lho bikin pacarnya nggak mau nemui—” “GYAN!” Aku melotot dan setelanya menyentuh dadaku sambil terbahak-bahak. Bisa-bisanya aku tidak menyadari dari awal kalau yang sedang dia ceritakan adalah aku! “Bener-bener kamu, ya!” Sudah bisa dipastikan, Gyan terlihat sangat menikmati hiburan yang dia buat sendiri hari ini. “Kok bisa sih lama nyadarnya?” “Demi Allah.” Aku masih dengan sisa tawaku, kemudian memilih menjilati bumbu snack yang menempel di jari. “Aku pikir kayak … oh ini dunia luas, ada banyak kisah menarik di luar sana. Aku lupa kalau kisah sinetron itu terjadi di kamu juga. Demi apa, aku harusnya sadar dari awal, aku dikerjain. Sialan kamu, ya.” Dia tergelak. “Ngomong sialan aja merdu dan anggun, ya, Buuuu.” “Harusnya sambil melotot marah, yaaa?” Aku diam, tiba-tiba teringat sesuatu. “Kok kamu bisa tau?” “Rahasia.” “Ih, Gyaaan. Itu rahasia tau, aku nggak cerita sama siapa-siapa. Nggak peduli gimana nyebelinnya Mega, tapi dari awal aku udah janji sama dia itu cuma jadi urusan kami berdua. Jadi, dari mana kamu tau, hm?” “Dhara, biar gimana pun, mereka tuh keluargaku. Orang-orang yang sama Papa, terutama Mbak Romi. she’s my best friend.” Aku menganga. “Jadi, segala hal yang terjadi di sana, aku akan tahu. Cuma, yang nggak penting buatku yaudah biarin, tapi yang kemarin ini beda dong. Aku udah minta tolong dia buat bantuin karena aku nggak bisa di sana, was-was juga kalau Mega nekat ngelakuin sesuatu dan kamu diem ngalah. Oh ternyata, there’s another side that I don’t know.” Gyan tertawa, aku ikut-ikutan. “Kalau inget gimana Mbak Romi ceritainnya, aku bangga banget sama kamu. Lebih bangga karena kamu sebaik ini, nggak cerita atau ngadu ke aku. Kenapa, Ra?” Aku mengedikkan bahu. “Karena mungkin aku masih berharap Mega berubah dan nerima keadaan?” “Detail, please?” “Nggak tahu, ya, mungkin aku salah. Aku cuma ngerasa, mungkin dia bukan masih cinta kamu, tapi dia cuma belum bisa nerima ada cewek lain sama kamu. Menurutku sih itu dua hal yang beda. Gimana menurutmu?” “Tapi outcome-nya sama aja, kan? Sama-sama ngeselin ke kamu. Aku nggak peduli perasaan Mega gimana, dia udah dapetin yang dia mau lebih banyak, jadi dia nggak seharusnya masih intip-intip apa yang dia tinggalin di belakang, Ra. Dan kamu, aku bangga kamu baik dan bijak, tapi aku juga bersedia bantuin kamu, apa pun, kamu tau itu, kan?” Aku tersenyum, mengangguk. “Aku bisa pasang badan buat kamu. Aku nggak peduli siapa yang aku hadapin. Apalagi cuma Mega dan Papa. Mereka nggak terlibat apa-apa di hidupku selain ngasih trauma.” Ya Tuhan, aku berkaca-kaca. Bukan, bukan aku merasa sangat bangga karena dicintai lelaki sebesar ini sampai rela bermasalah dengan papanya. Justru aku merasa sedih karena dia masih memiliki rasa benci itu di hatinya, yang pasti sangat menyiksa. Aku tidak bisa melakukan banyak hal untuk membuang perasaan kotor itu, supaya dia lebih bebas bernapas. Jadi mungkin, yang bisa aku lakukan saat ini hanya ini, menemaninya gathering tim kantornya. “Anyway, Gy, ini nanti kita beneran nginep?” “Serius, Ni? Kita udah bawah koper di belakang. Walaupun cuma nginep semalam.” “Puncak dingin, tau.” Aku tertawa. “Lagian, siapa sih yang ngide suruh bawa pasangan buat game kantor coba. Mana pasangan belum halal.” Gyan tergelak. “Malah ada yang parah, bawa fwb tau.” “Serius?!” “Serius. Atau kalau kamu nggak yakin, kita akad dulu nih sebelum lanjut jalan?” Aku memasang wajah lelah. Menjawab pertanyaan Ibu soal kapan menyiapkan pernikahan aja seadanya, ini lagi ajakan nikah dadakan. Segampang itu mungkin menikah di mata Gyan, padahal dia yang sebelumnya bilang sepertinya tidak akan menikah. “Nanti malem nggak pa-pa ya tidur sama cewek-cewek kenalan baru?” Aku menatapnya bingung. “Daripada tidur sama aku? Di puncak? Sedingin itu dengan vibes puncak yang … you know. Aku sih mau banget, yaa, tapi, kan, nggak mungkin.” “Emang bisa, yaa, seks tanpa sadar?” “Maksudnya?” “Ya kalau kamu sadar, pasti bisa nahan diri dong.” “Bisa, siapa yang bilang nggak bisa. Aku cuma minta bantuan, supaya tekanannya nggak terlalu banyak.” Gantian aku yang memutar bola mata. Gyan tertawa.

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 21

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Jujur sama gue, Yan, lo tuh sebenernya meskipun nggak kerja tetep bisa hidup, hidupin gue, dan anak-anak kita nanti, kan?” “A a a.” Tangan kanannya terangkat, dia menatapku dengan ekspresi seperti dosen super serius yang sedang berusaha mengoreksi kesalahanku. Laptop dipangkuannya yang tadinya terbuka sekarang tertutup. “Sadar dulu kalau ada yang salah sama kalimatmu, baru kita lanjut obrolannya.” “What? Soal duit? Maksudnya bahas duit? Normal dong, suami-istri bahas duit, kecuali emang lo masih awkward karena semalam atau—” “Bukan, try again.” “Apa sih, Gyan!” Aku tertawa geli, menjatuhkan tubuhku di sampingnya. “Nggak seru tahu! Katanya ini honeymoon, malah bawa laptop. Kok bisa sih aku kecolongan nggak periksa dulu bawaanmu, tahu gitu aku buang tuh barang di airport.” Dia tergelak. “Ooohhh, I love it.” Mendengar itu aku juga tertawa sambil memandangnya serius. “Apa yang salah dari kalimatku tadi?” “Gue, elo, apa itu?” tanyanya dengan wajah masam dan tawaku akhirnya meledak. “Aku baru denger kosa kata itu di dalam bahasa pernikahan dan barusan aku searching, kayaknya artinya juga nggak bagus. Nggak sesuai penempatan lah kalau di sini, kalau buat kita.” Aku bersedekap sambil menyandarkan punggung di sofa, menatapnya geli. “Jadi gimana seharusnya bahasa pernikahan yang bisa saya pakai, Baginda Gyan?” Dia meletakkan laptop di meja kecil di depan kami, kemudian menatapku serius dan terus bergerak maju. Dia berhenti ketika wajah kami sudah berdekatan. Tangannya terulur, menyentuh rambutku, memainkannya lembut. “Rambutmu basah karena aku atau karena kamu yang kegilaan sama kolam renang?” Aku memutar bola mata. “Kamu lihat ini jam berapa, mana sempat aku ke kolam renang.” Dia nyengir lebar. “Kamu tahu nggak kalau kamu tuh cantik banget rambut basah gini.” “What?!” Aku tertawa kencang, tak siap dengan kalimatnya yang meskipun itu pujian, tetapi terdengar aneh menurutku. Dia mengangkat alis dengan wajah serius, terlihat begitu tersinggung akan reaksiku, jadi aku berusaha melanjutkan. “Nggak cowok yang muji cewek cantik dengan rambut kayak gini, Gyan. Rambut basah, rambut lepek. Cowok tuh akan muji ketika rambut kita badai, wangi, warna baru yang kebetulan cocok di mata si cowok, atau style yang disukai banget sama si cowok. Seenggaknya itu kasusku.” Dia mengangguk. “Aku selama ini selalu lihat kamu dalam kondisi rambut kering—” “Bentar, bentar, rambut kering?” “I-iya, kering?” “Maksudmu rambutku selama ini rusak?” “Lho, kering, Ra!” Dia kebingungan, aku pun sama bingungnya mencoba memahami kalimatnya. “Antonim dari basah apa? Kering, kan? Maksudku, aku selama ini nggak pernah lihat rambutmu basah.” “Ohalah! Ngomong dong! Bikin panik aja. Kata kering di kamus rambut perempuan itu serem, tau. Kering, lepek, rusak, semua itu serem.” “Oh gitu, ya.” Gyan tertawa pelan. “Sori, sori, aku pikir ya kering, kayak sekarang rambutku ini, kan udah kering. Gitu. Kan selama ini kalau ketemu kamu posisinya kita mau jalan, jadi rambutmu selalu dalam keadaan TIDAK BASAH. Okay?” Aku tergelak mendengar usahanya dalam memilih kata. “Terus lihat rambutmu basah pertama kali dan kamu biarin dia kering dengan sendirinya, maksudnya, TIDAK BASAH dengan sendirinya, bantuan angin alami, aku ngelihat kamu jadi cantik luar biasa. Kayak fresh banget, kayak orang lagi bahagia.” “Ya emang aku bahagia! Edan lo, ya! Kamu!” Ralatku cepat-cepat sebelum dia kembali mengoreksi kalimatku. “Lebih cepet aku.” Dia terkekeh. “Jadi aku berhasil bikin kamu bahagia, Ni?” “Ihh ini apa sih? Kayak bukan Gyan banget!” Aku menyentuh kedua pipinya dan menatap matanya serius. “Mending jujur sekarang, ini villa sebenernya horor, kan? Suka ada orang kerasukan kalau stay di sini, hm? Siapa yang berani rasukin Gyan? Cepetan keluar. Gyan yang aku kenal itu percaya diri, seru, dan lucu, bukan sibuk mikirin hal-hal kayak gitu.” Bibirnya terlihat menahan senyum. “Kayak gitu apa?” Aku yang sekarang tertawa. “Look at me!” ucapku sebelum akhirnya berdiri. “Kamu perhatiin aku baik-baik. Aku menunjuk diriku sendiri dari atas kepala sampai bawah, berdiri di hadapannya langsung. Aku mengenakan tanktop berwarna oranye dan white flowy short. Jadi dia seharusnya bisa melihat dengan jelas. “Aku baik-baik aja, kan? Bisa lihat nggak nih, Bapak Gyan? Apakah ada yang hilang dari badanku setelah semalam? Apakah ada yang luka?” Aku meringis. “Oh okay! Aku nggak mau keliatan nggak manusiawi nenangin kamunya, let me be honest. Cuma ada kendala sedikit. Sedikiiiiit banget.” Aku memberinya gestur kecil lewat jari, supaya dia lebih yakin dan paham. “Ada yang aneh di tengah pahaku dan aku udah perhatiin jalanku di depan kaca tadi … kayak gini.” Aku mencoba berjalan di depannya dan meringis, lalu kembali berdiri menghadapnya dengan senyuman lebar. “Sisanya fine! I’m fine, Gyan! Kalau kamu tanya gimana perasaanku … jujur rasanya aneh dari semalam, tapi hari ini kamu haru tahu aku di kamar mandi liatin mukaku di kaca wastafel, cengar-cengir. Tahu ketika orang-orang pada muji sesama cewek glowing? Nah itu aku.” Aku menunduk dan memeluknya, menenggelamkan kepalanya di dadaku. “Aku bahagia, super super bahagia. Thank you so much. Nah sekarang coba balik aku yang tanya, kamu gimana?” Tangannya menuntunku agar aku menurunkan tubuh dan kepala kami sejajar. Dia tersenyum dan mengecupku berkali-kali, lalu sekarang kedua tanganya di pipiku. “Mungkin kamu bisa kayak gini terus kalau tetep tinggal di sini? Glowing kayak kamu bilang tadi?” Aku tertawa kecil. “Terus ini nggak disewain lagi?” Kepalanya menggeleng. “Buat kamu.” Aku memutar bola mata. “Rasanya kayak nikahin anak yang punya negara.” Giginya terlihat karena tawanya muncul. “Emang negara ada yang punya? Kan bareng-bareng, punyaku, punyamu, punya kita semua.” “Tapi yang beneran nikmatin cuma segelintir orang aja.” “Ra?” Gyan tertawa lagi. “Tapi serius, kalau kamu memang suka sama suasana di sini, kita bisa cari rumah di Bali. Duit Papa banyak, kamu nggak usah khawatir, cuma itu yang bisa aku banggain dari dia. Aku nggak akan nolak harta yang dia kasih cuma karena aku benci dia. Kalau bisa, justru aku ambil semua, biar dia nggak punya apa-apa.” “Wow. Nggak nyangka aku malah jadi pemeran utama sinetron anak dan papa rebutan harta.” Gyan tergelak dan mencium pipiku sekali lagi, kemudian dia mengangkat tubuhku sampai aku duduk kembali di sebelahnya. “Kalau soal kerja nggak kerja … pertama, aku suka pekerjaanku, Ni, aku suka banget waktu kami berhasil ubah ide ke dalam bentuk media. Diskusi sama tim tentang ide atau jenis font, warna, layout, apa pun itu yang berhubungan sama pekerjaan, aku suka. Meski kadang-kadang harus buka laptop kayak gini karena ada revisi layout di projek yang lagi digarap, aku juga seneng. Ya walaupun kamu bener, soal uang, mungkin ini nggak ada apa-apanya, dibanding apa yang aku dapet dari Papa. Dari cafe itu, pembagian hasil dari vila-vila Papa, pembagian dari bisnis perhiasan Mama, mungkin nanti … kalau aku beneran usah ngerasa puas sama dunia karyawan ini … aku freelance aja buat ngobatin kangen sama pekerjaan ini, aku akan serius berbisnis bareng Mama, kamu kalau kamu mau bantu aku. TAPI.” “Tapi?” “Kalau cita-cita kamu berubah dan kamu pengen di rumah. Sama anak-anak kita. Dekor-dekor rumah karena lihat barang lucu dan mau ganti, sibuk bikin kue atau coba resep baru sama anak-anak, dan nyiapin liburan di weekend atau akhir bulan, aku akan dengan senang hati bekerja sama.” Senyumku merekah. “Kamu tahu nggak apa yang aku pikirin?” “Apa?” “Kalau dipikir-pikir … Om Gino tuh—” Gyan tertawa. “Kenapa?” “Sebenci-bencinya aku sama dia, dari dulu aku tetep panggil dia Papa, Ra. Kamu benci banget sama Papaku, ya?” Senyum gelinya muncul. Aku tertawa kencang. “Sori, sori, ya Allah, kebiasaan manggilnya Am-Om mulu nih. Okay, Papa Gino.” Aku menarik napas dan mengembuskannya pelan. “Maksudku … dia tuh meski sejahat itu ke kamu, tapi beneran kalau soal duit jor-joran, ya? Padahal bisa aja kan dari awal, dia ambil pacarmu, terus usir kamu dan Mamamu, tanpa dikasih uang sepeserpun.” “Ya karena yang dia punya cuma uang, Ra. Papa nggak punya harga diri atau lainnya sebagai laki-laki, ayah, dan suami, jadi cuma itu yang bisa dia kasih ke anak dan istrinya, mantan istri. Semoga sih dia bisa berubah buat Mega dan Alex, ya.” Aku tersenyum bangga. “Aku tuh bangga banget sama kamu, Yan.” “Aku?” “Iya, aku nggak akan pernah bisa bayangin rasanya jadi kamu tiap lihat Mega, Papamu, dan Alex. Tapi kamu lihat, masih bisa berdoa buat kebaikan mereka. Kamu tuh jangan selalu mikir kamu buruk terus! Aku tuh bahkan banyak dapet perspektif baru dari kamu, aku kagum sama kamu. Aku nggak takut lagi nanti anak-anakku akan gimana, karena mereka akan punya ayah yang hebat. Okay?” “Aduh, Ni,” lirihnya kemudian menarikku ke dalam pelukannya. “Aku tuh beneran sayang banget sama kamu, semua perasaan baik dan indah yang ada di dunia ini kayaknya ada di aku buat kamu.” Aku tersenyum geli dan mengelus-elus punggungnya. Lalu bisikan darinya terdengar lagi. “Menurutmu kamu perlu istirahat sama rasa anehnya di tengah pahamu hilang atau udah bisa langsung lagi?” “Edyaaaan!”

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 20

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Saya terima nikah dan kawinnya Aghnia Dhara binti Ramzi Ramadan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” “Bagaimana saksi?” “SAH!” “SAH!” Napas yang sejak tadi aku tahan dan hampir membuatku kehilangan kesadaran diri kini bisa aku hembuskan dengan penuh kelegaan. Aku sempat melirik semua orang untuk melihat wajah mereka yang berseri dengan kebahagiaan hari ini, tetapi seketika menyesal karena aku tak melihat itu di wajah Mega. Bahkan sekelas Om Gino yang merupakan manusia paling jahat di kamusku dan Gyan pun tersenyum, meski aku sendiri tidak tahu pasti apa yang ada di pikiran dan hatinya. Entah dia hanya berusaha terlihat sebagai manusia normal yang ikut berbahagia dengan pernikahan anaknya atau dia benar-benar merasakan itu. Tapi aku tidak peduli. Hari ini adalah hariku dengan Gyan. Tidak ada satu orang pun yang boleh merusaknya, terutama orang-orang yang tak kami sayang. Aku bukannya ikut mengompori Gyan agar terus membenci ayahnya dan juga Mega. Tapi aku bukan siapa-siapa untuk mendikte hatinya agar sembuh dan melupakan apa yang dia rasa dan lalui selama ini. Lagipula, baik Om Gino dan Mega tidak terlihat ingin bekerja sama denganku. Alih-alih mengajakku menjadi tim untuk memperbaiki hubungan mereka dengan Gyan, mereka malah berusaha mendorongku menjauh dari Gyan. Jadi aku sudah memutuskan, sebagaimana Gyan tidak memusingkan apa yang Om Gino dan Mega pikirkan, begitu pun aku. Bahkan kehadiran dua orang itu di pernikahan sederhana kami ini bukan karena aku atau Gyan yang mengabari, melainkan Tante Anita. Menurut informasi dari Gyan, Tante Anita dan Gyan memerlukan obrolan yang Panjang dan alot untuk memutuskan ini. Gyan sama sekali tidak ingin pernikahannya melibatkan Om Gino mau pun Mega, hanya Alex yang masuk ke dalam pikirannya. Tetapi entah gimana, Tante Anita tentu mampu meyakinkan Gyan bahwa semua ini terjadi dan semua tetap akan baik-baik saja. Aku juga tidak melihat Gyan gimana-gimana. Artinya dia tidak terpengaruh atau terganggu dengan kehadiran papanya dan Mega. Bahagiaku benar-benar sempurna karena acara sakral ini berjalan seperti yang aku dan Gyan harapkan; tidak terlalu ramai, indah, dan yang pasti kami mengenal semua orang yang ada di sini. Kalaupun aku agak lupa, Gyan akan menjelaskan tentang orang yang dia kenal tersebut, begitu sebaliknya. Intinya, di antara kami berdua, pasti ada yang mengenal. Orang-orang yang hadir juga terlihat bahagia, mulai dari menikmati suasana outdoor ini, hingga makanan yang dihidangkan. Bahkan ketika malam, aku pun tidak merasa Lelah seperti yang orang-orang gambarkan itu. Yang membedakan hanyalah perasaan lega dan Bahagia karena kami melewati perjalanan yang panjang sekali dan akhirnya sekarang ada di posisi ini. Untuk acara tadi, tidak melelahkan karena kami tidak berdiri berjam-jam dan menyalami ratusan tamu yang tak kami kenal. Saking tenaga dan waktu kami masih terjaga, aku dan Gyan juga bisa pindah tempat alias kota, dari Jakarta ke Bali, seperti rencana. Well, Gyan tentu saja ngotot di awal-awal dengan banyak pertanyaan kenapa harus Bali padahal ini momen special kami? Menurutnya, tidak harus menunggu menikah untuk menikmati indahnya Bali, mengingat dia juga pasti sering ke sana, karena di punya tempat di sana warisan Om Gino. Tapi aku berhasil meyakinkannya dengan iming-iming, yang dekat-dekat dulu, yang familiar dulu, baru nanti mencoba yang baru. Ternyata Gyan tidak berbohong ketika bilang kalau baginya, berada di Bali tidak membuatnya merasa berbeda. Sekarang dia duduk bersila di atas kasur, tangan bersedekap, sendirian, dan menatap kosong ke kaca besar yang tembus bisa melihat private pool. Aku meringis melihat ekspresinya yang tak ada rasa kagum sementara aku begitu tiba di sini, sudah berlebihan menghirup udara, memandangi tiap sudut dengan mata berbinar. Bahkan ketika melihat kolam renang itu, aku sudah cengar-cengir dan berjanji dalam hati akan menenggelamkan tubuhku di sana berjam-jam, bersama kelopak-kelopak bunga itu. Aku sengaja berdeham untuk membuatnya kembali ke realita. Semuanya seketika berubah. Senyumnya langsung merekah dan dia menatap kolam dan aku bergantian lalu berkata, “Indah banget tuh, kamu suka air, kan, Ra? Mau berenang sekarang?” Dalam hati aku meringis lagi, menyadari dia berusaha banyak hal, terutama ikut merasakan bahagiaku meski sesuatu itu mungkin tak begitu berarti untuknya. Salah satunya vila miliknya ini. Dia jelas mungkin sudah merasa ini seperti rumahnya. Jadi, berada di sini meski dengan status pernikahan, rasanya seperti berada di dalam rumahnya. Lucu, aku pada akhirnya tertawa dan membuatnya menatapku bingung. “What?” tanyanya sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu tahu?” “Apa?” “Kamu tuh pengantin paling aneh.” “What does it mean?” “Aku bisa aja lho sakit hati karena kamu nggak kelihatan Bahagia. Seolah nyesel abis nikah.” Bukannya tersinggung juga, Gyan malah terbahak-bahak dan sekarang menopang tubuhnya dengan kedua tangan di belakang. “Orang keliatan happy abis nikah tuh yang gimana sih menurutmu? Coba aku juga penasaran.” Aku ikutan tertawa. Berjalan mendekat dan ikut naik ke atas kasur, duduk bersila di sampingnya dan menatap ke depan, ke kolam renang itu. “Mungkin yang … senyum-senyum terus nggak berhenti? Atau yang … ngucap syukur terus nggak berhenti karena akhirnya bisa nikahin orang yang dia impikan? Atau … mungkin yang ….” Aku menjeda, dan meliriknya. Dia pun menatapku, tetapi aku hanya tersenyum, kemudian mengedikkan bahu. Memilih untuk tidak melanjutkan kalimat, aku kembali turun dari kasur dan berjalan ke pintu arah kolam renang. Menoleh sekali lagi pada Gyan, aku membuka bath robe, menyisakan bikini, dan berjalan cepat untuk lompat ke air. Begitu mengangkat kepala, aku mengusap wajah, lalu mendongakkan kepala dan memejamkan mata, menghirup udara dalam-dalam lalu mengembuskannya. Terima kasih, ya Tuhan, untuk semua ini. Mataku kembali terbuka ketika merasa cipratan air dari loncatan Gyan. Dia berenang ke ujung berlawanan, membuat kami seperti musuh. Pakaian atasnya sudah hilang, tentu saja, keseluruhan tubuhnya juga sudah basah, kami saling lempar senyum dan tawa, kemudian dia mengeluarkan suara lebih dulu. “Kenapa nggak diawali mandi berdua aja, Ra? Biar kerasa semangat dan happy-nya sebagai pengantin.” Aku memutar bola mata sambil tetap tergelak tawa. “Kamu katanya jago tapi masa iya harus diajarin step by step-nya, Gy?” “Sorry?” “Berenang itu permulaan yang bagus tahu. Setelah ini baru mandi berdua.” “Damn!” Gyan tertawa lepas. “Berapa lama belajar tentang kayak gini?” “Oh kamu harus belajar dulu ya kayak gini tuh?” “Aghnia Dhara.” Aku terbahak-bahak, lalu menyipratkan air ke arahnya. Sekarang aku mulai berenang menuju tempatnya berdiri, dan memangku tangan di pinggiran kolam. Kami saling tatap dan tawaku masih belum bisa hilang sepenuhnya. “Kamu tahu nggak? Aku kepikiran terus, kalau tau villa-mu senyaman ini, aku mau ke sini dari dulu.” Gyan memutar bola mata. “Kamu, kan, nggak pernah percaya aku.” “Bukan nggak percaya, tapi kan dulu bukan siapa-siapa.” “Sekarang siapa?” Aku mendengus kencang. “Anyway, kita jahat nggak sih, Yan? Nggak berhubungan baik sama orangnya, tapi menikmati hartanya.” Melihat keningnya berkerut, aku tertawa dan menjelaskan. “Papamu.” “Justru karena cuma harta doang yang bisa dinikmati dari dia.” Aku menelan ludah, tetapi tertawa pelan. “Ra, kita nanti beneran satu kamar?” Aku menatapnya terheran-heran. “Seriously?” Dia mengangguk. “Kamu mau tidur di kamar terpisah?” Kepalanya menggeleng, lalu dia tertawa pelan. “Jujur aku kepikiran ini.” “Apa?” “Kita.” “Gyan, lo ngomongin apa, sih?” Dia menggaruk kepalanya, menatapku sambil meringis. “Gue … malu dan ragu?” Gyan mengedikkan bahu. “Kayak … gimana, yaaaa. Kamu tahu, kan, I don’t just love you, but I adore you so much?” Mendengar itu aku mengangguk. “Nah karena itu, aku kepikiran aku bisa nggak ya, akan ngelakuin kesalahan nggak ya? Nilaiku nanti berapa? Gimana kalau kamu nanti ngetawain aku? Gimana kalau ternyata aku nggak OKE? Gimana kalau setelahnya, kita malah jadi awkward?” Aku sebenarnya ingin terbahak-bahak, tetapi aku tahu dia sedang sungguh-sungguh menceritakan kegelisahannya. Betapa jahatnya aku yang menertawakan apa yang dia rasakan sekarang. Meski aku pun sama gugupnya, tetapi sepertinya rasa gugup Gyan jauh tidak terkontrol seperti apa yang aku rasa. Untuk itu, aku memilih menjadi baik hati dan sebagai penenang. Mendekati posisinya, aku memeluk Gyan dan berbisik. “Nggak usah khawatir, nggak usah dipaksa, nggak harus dipikirkan. Katanya, kayak gitu nggak perlu direncanain harus sekarang besok atau nanti. Kita nikmati aja waktu kayak biasanya, nanti akan terbiasa sendiri dan … katanya kebawa suasana. Kamu juga nggak perlu khawatir OKE enggaknya nanti, aku bantu bimbing.” “What?!” Gyan melepas pelukan, menatapku sebentar kemudian terbahak-bahak sampai mendongakkan kepalanya. Aku ikut tertawa dan saat dia melihatku lagi, aku mengedikkan bahu sambil menatapnya sombong. Padahal aku juga tidak tahu apa-apa. “Mungkin nanti kita bisa mulai dengan nonton romance movie?” tanyanya terdengar tak yakin. “Porn maksudmu?” “Dhara!” Kami sama-sama tertawa kencang. Apa pun lah nanti pemancingnya, yang jelas aku yakin, cepat atau lambat, kami berdua akan sampai ke sana.

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 19

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Ni? Tumben?” Ibu mengernyitkan kening ketika muncul di dapur di saat aku sedang berkutat dengan proses memasak. “Jam berapa ini? Masak buat siapa? Ada angin apa?” Rentetan pertanyaan itu tentu saja membuatku tertawa dan menghentikan aktivitas sejenak dari mengupas wortel. Sambil mengusap kening dengan lengan, aku menatap Ibu geli. “Ibu pasti seneng dan bangga kalau tau jawabannya.” Tawaku lepas melihat Ibu mencibir sambil mendekat, berkacak pinggang menilai semua alat dan bahan di meja dapur ini. “Aku mau masakin calon suamiku dong, Bu. Mau masakain calon menantu kesayangan Ibu. The one and only, Gyan.” “Kak Mel juga menantu kesayangan.” “Ck! Yaiyaaa, tapi kan suami dari aku ya cuma satu.” “Kayak gitu dulu susah banget sih mau sama Gyan.” “Ini bisa nggak sih lihat ke depan dan nggak usah ungkit ke belakang?” Ibu tertawa. “Ini beneran mau masakin buat Gyan?” “Yap.” “Dia bukannya kerja? Emang cukup waktunya istirahat buat makan di sini?” Aku yang gantian tertawa dengan pertanyaan itu. “Ya jelas nggak cukup, Bu.” “Terus? Kamu kirim ojek?” “Ya kenapa nggak Nini aja yang anterin coba?” Melihat muka Ibu yang terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, aku tak bisa menahan tawa geli. “Kenapa sih? Kayak hal aneh aja.” “Emang aneh. Kamu tuh kadang kayak nggak mau, tapi bisa juga kelihatan mau banget. Semoga Gyan nggak bingung.” Aku tergelak. “Dia udah bingung dari awal, Bu. Ih udah sanaaa, jangan dilihatin, nanti aku gerogi masaknya.” Aku mendengar Ibu berdecak. “Ini Ibu mau nggak masakanku?” “Buat Gyan dulu aja deh, penasaran juga nilai dari dia nanti gimana.” “Kok gitu?” Aku melihat Ibu melenggang meninggalkan dapur. “Bu, maksudnya selama ini masakan Nini kenapa? Ibuuuu!” Aku mendesah kencang sambil meratapi bahan-bahan di hadapanku. Menggelengkan kepala, aku bertekad ini akan menjadi makanan yang paling enak yang pernah Gyan makan. Jangan menyerah, Ni. Dia sudah melakukan banyak hal di luar batasnya bahkan, sekarang giliranmu. Memasak makanan tak perlu mempertaruhkan nyawa. Aku tidak boleh menghancurkan rencana indah hari ini yang sudah aku susun dengan baik. Maka dari itu, setelah menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, mengembuskannya pelan, aku berusaha memasang senyum pada semua bahan di hadapanku demi memberi afirmasi positif agar hasilnya juga baik. Sesuai yang diharapkan. Jadi, kalau ternyata nanti masih tetap tidak sesuai—ya Tuhan, semoga sesuai untuk kali ini. Seharusnya ini tak perlu sesulit itu, juga tak memerlukan waktu yang lama. Karena aku hanya akan memasak daging-brokoli lada hitam dan sapo tahu. Ditambah nanti nasi, well, yang satu ini jelas tak perlu masuk ke list, karena tinggal ambil di rice cooker hasil masak Ibu. Okay, yang ini nanti saja mencucinya setelah semua selesai, yang paling penting adalah bolak-balik mencuci tangan setelah memegang apa pun. Dalam sekali masak, tidak tahu berapa puluh kali mengguyur jari dengan air mengalir dari kran wastafel itu. Sekarang aku sedang terbatuk-batuk saat mengoseng bumbu dan memasukkan dagingnya. Solusinya aman, siram air sedikit. Setelah yakin dagingnya sudah empuk, barulah aku memasukkan brokoli, karena tidak mungkin membiarkannya lembek. Rasanya akan aneh dan warnanya tidak lagi mena—shit, aku lupa irisan bawang bombay-ku! Aku sempat terdiam menatap teflon, ragu apakah memasukkannya begitu saja atau lebih baik tidak usah sama sekali. Mana pilihan yang paling masuk akal? Apakah kalau bawang bombay di makan masih dalam kondisi agak mentah, lidah Gyan akan menerimanya? Aku yakin iya, jadi aku tetap memasukkannya saja, mengaduk rata sambil berdoa semoga hasilnya tidak fail—agak mungkin, tetapi seharusnya masih bisa diterima. Beres dengan daging dan brokoli, aku beralih pada sapo tahu dan sebelumnya tentu saja melihat resep internet ke sekian kalinya hari ini. Masih saja nggak kunjung hafal, baik bahan maupun step by step. Memasak memang tidak mempertaruhkan nyawa, tapi tidak pernah ada yang bilang mudah. Termasuk aku. Tapi setidaknya, sapo tahuku tidak ada kendala atau drama. Alhamdulillah. Aku masih bisa tersenyum lebar ketika mematikan kompor. Namun, tepat ketika mataku melirik wastafel, senyumku sirna digantikan migrain menyerang. Ini bagian yang mengerikan, melihat kekacauan setelah perang di dapur. Semua peralatan tidak sadar semuanya keluar dan kotor. Pikiran dicuci nanti yang justru membuat semua menumpuk secara bersamaan justru bikin sesak napas. Tapi rasanya terlalu kurang ajar kalau aku meminta bantuan Ibu untuk membereskan ini sementara Ibu bahkan tidak mengicip hasil makanannya. Lagipula, ini, kan, ideku sendiri. Aku mengembuskan napas, memindahkan hasil masakan ke dalam wadah sebelum nanti menyusunnya. Lalu sekarang menatap nanar pada tumpukan barang kotor. Aku janji, setelah menikah nanti, aku akan membeli mesin cuci piring, karena kalau di rumah Ibu, kalimatnya selalu sama; kamu mau ciptaan sempurnanya Allah, semuanya kamu ganti pakai mesin dan robot? Padahal, selagi bermanfaat, seharusnya tidak masalah, kan? Bukan ditujukan untuk hal-hal keburukan, kok. Setelah berpuluh-puluh kali mengembuskan napas lelah, akhirnya beres juga semua peralatan sisa masak tadi. Sekarang aku kembali berseri-seri menatap—oh tunggu dulu! Aku melupakan satu lagi! Aku sudah membeli dimsum frozen dan tinggal mengukusnya. Sementara aku menyiapkan makan siang Gyan di dalam wadah yang proper. Ternyata menyenangkan juga melakukan hal ini sambil membayangkan reaksi Gyan nanti yang pasti akan menertawakanku. Dia … sedang apa, ya? Aku sudah janjian dengannya untuk bertemu di taman yang tak terlalu jauh dari gedung kantornya di jam makan siang. Berkali-kali dia memastikan apakah aku salah tempat atau gimana, padahal aku tahu maksudku. Dia merekomendasikan restoran favorit anak-anak kantornya, tetapi aku bilang percaya sama aku, cukup datang ke taman itu dengan tangan kosong. Terakhir kali, balasan dia adalah; your wish is my command, my lady. Tipikial Gyan. Jadi, sudah bisa ditebak bagaimana nanti reaksinya atas semua ini? Setelah beres dengan semua makanan juga minuman—aku membuat dua opsi untuk minumannya; jus jeruk dan air putih—, aku memutuskan untuk segera membersihkan diri dan bersiap, karena jangan pernah meremehkan jalanan di Jakarta, meski nini bukan jam-jam rawan. Tetap harus punya rasa khawatir supaya selamat. “Ibu, Nini berangkat, assalamualaikum!” “Ati-ati, Ni!” Menatap sekali lagi pada tas makanan yang aku tenteng, aku mengangguk yakin. Sekarang aku mengintip diriku sendiri di cermin—kamera handphone—sebelum tersenyum sambil masuk ke dalam taksi. Ini adalah pilihan yang tepat dibanding harus mencari tempat parkir yang akan bikin sakit kepala. Semoga Gyan menyukai hal-hal kecil yang aku usahakan untuknya. Semoga dia bisa merasakan kesungguhanku dalam memenuhi janji untuk menjadi bagian kebahagiaan di dunia ini untuknya. Semoga dia bisa menerima dan merasakannya. Bismillah. Aku melihat ada beberapa orang yang sudah memenuhi taman ini, memang tidak banyak, karena ya mau ngapain juga orang-orang Jakarta di taman tengah hari. Tapi padahal, hari ini tak terlalu terik, malah cukup untuk bisa dibilang lumayan mendung. Jadi, syukurku bertambah karena kami tidak akan merasakan panas yang menggila. Aku sudah duduk agak jauh dari gerombolan anak-anak muda perempuan yang sepertinya sedang piknik ala-ala. Berkali-kali melihat jam, aku masih belum melihat tanda-tanda kedatangan Gyan. Mengecek handphone pun sama, dia tidak mengabari apa pun selain tadi yang katanya pekerjaannya sedikit lagi selesai. “Sumpa, gue panik banget coy! Lu bayangin lagi angkat kaki makan snack, tuh alarm bunyi, gimana nggak jantungan.” Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan dua orang yang lewat. “Mana harus turun dari lantai 14 gilaaak!” Aku mengernyitkan kening. Alarm apa? Lantai 14? Aku menggelengkan kepala. Di sekitar sini ada banyak gedung perkantoran, jadi bukan hanya Gyan yang bekerja di sekitar sini. Kalau pun kenapa-napa, aku pasti tahu. Tapi … gimana kalau aku tidak sempat tahu? Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku berusaha menghubungi Tante Anita. “Halo, Ni, kenapa, Sayang?” Tapi dia terlihat sangat santai. “Tante, aku lupa deh, Gyan kerjanya di lantai berapa, ya?” “Lho, kenapa?” “Aku … lagi itu, nggak sengaja kenalan sama orang yang kayaknya sekantor sama Gyan.” “Ohalah. Dia di lantai 15 deh 14, di lantai 14 seinget, Tante.” “Oh bener berarti, yaudah, Tante, makasih, yaaa.” “Tapi kamu nggak pa-pa? Kok aneh?” “Nggak pa-pa, Tan.” Aku berusaha tertawa, di dalam hati sudah tidak karuan. “Aku tutup dulu, Tante, dia mau pamitan. Assalamualaikum.” Napasku lolos dan kerja jantungku seketika tidak wajar. Aku juga melihat mulai ada banyak orang yang datang, yang … aku baru tahu orang-orang juga senang datang ke sini. Tapi … kenapa wajah mereka tertawa-tawa? Kalau memang ada gedung yang terjadi sesuatu—mataku melotot saat melihat siapa yang sedang berjalan dan tersenyum lebar ketika matanya menemukanku. Tangannya melambai, aku membalasnya. Aku belum pernah merasa selega ini melihat Gyan selain saat ingin mengakui perasaan waktu itu. Tapi leganya berbedda. Ini seolah … seolah dia selamat dari maut yang mungkin bahkan hanya ada di kepalaku. Saat dia berhasil duduk di depanku, di atas kain gemas yang aku bawa, aku menatapnya berkaca-kaca dan meraih tangannya, menggenggamnya erat. Aku ingin sekali memeluknya tapi malu dan takut ditangkap satpol PP. “Ra? Kamu kenapa?” “Kamu nggak pa-pa?” “Kok aku?” “Kamu di lantai berapa sih? 14 ya?” “Oh!” Gyan tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Kok kamu tahu? Soal alarm, ya?” Aku mengangguk. “Tadi nggak sengaja denger obrolan orang, aku takut banget, Gy.” “Parah sih. Pada panik, lantai setinggi itu, ternyata simulasi. Damn.” Aku menghela napas lega. “Ya bagus deh simulasi. Kalau beneran gimana coba.” “Dulu pernah waktu gempa di mana itu yaaa, aduh, orang pada kebirit-birit sampai napas mau putus rasanya. Ternyata kalau jarak kematian terasa depan mata tuh, yang ada di kepala cuma orang yang kita sayang tau, Ra. Dulu aku cuma kayak … Mama, Mama belum bahagia, gitu.” Dia selalu memikirkan orang lain. Bagaimana mungkin aku tidak mau menghabiskan waktuku dengan laki-laki ini? “Wah apa iniiii?” tanyanya terlihat berbinar-binar menatap kotak makanan. “Aku masakin buat kamu, sampa Ibu nggak mau cicip, lho, Yan, karena khusus buat kamu.” “Aw!” Dia menyentuh dadanya sambil tersenyum lebar. “Ini ada angin apa, yaa? Jujur ini saya agak takut ya, Bu Dhara. Piknik tiba-tiba di tengah Jakarta, tatapan kayak sayang banget gitu atau kasihan itu tadi?” Tawanya muncul. “Jadi nggak mau? Aku balik lagi aja nih?” “Ck, nggak boleh ngambekan, nanti jodohnya jelek.” “Kamu jelek dong?” Dia tertawa lebar. “Aku nggak sabar mau makan, boleh sekarang?” Aku mengangguk. Memperhatikan dia yang dengan semangat membuka tutup makanan itu, lalu botol jus dan menenggaknya dengan ekspresi bahagia. “Gy, nanti malam, enggak, pulang ini nanti, aku mau langsung cari-cari referensi buat pernikahan intimate-private-apalah itu namanya.” Dia terbatuk-batuk, lalu menatapku horor. “Di sini banget?” Matanya melihat sekeliling. “Dhara, are you okay?” Aku mengangguk. “Nggak usah deal deal-an, kita langsung urus mulai hari ini semuanya. Kalaupun beres seminggu, kita langsung nikah seminggu itu, ya?” Aku tertawa melihat mulutnya melongo. “Kamu mau nggak nikah sama aku?” “Ya menurutmu? Tapi kenapa? Kamu kenapa segugup dan sepanik ini?” “Takut kamu keburu sadar dan ninggalin aku.” “Ya Allah.” Aku tertawa karena jelas bukan itu alasanku dan aku tahu Gyan juga tahu, itu kenapa dia terlihat sudah lelah menghadapi keanehan ini. Aku hanya tidak mau terus menunda hal-hal baik, sementara aku tidak tahu berapa lama lagi waktu yang diberikan untuk bisa kami berdua nikmati bersama. Aku mau menikmati tiap detik bersama Gyan dengan sangat baik. “Lo mau, kan, Gy?” “Dhara,” lirihnya, menatapku dengan kening berkerut. Kemudian tersenyum lebar. “Ya gas lah, menurut lo?” Aku tertawa. Tentu dia juga

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 18

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

“Nini, ini kamu ngirit karena mikir pacarmu ini, calon suamimu ini duitnya sedikit atau emang kamu tuh nggak cinta banget sama makanan? Hm? Yang mana ini alasannya?” Ya Tuhan, aku benar-benar akan menyesal seumur hidup jika saja aku tidak memaksa diri untuk berani menghampiri Gyan, detik setelah aku menerima pesan dari Dinda. Aku tidak akan bisa melihat sisi konyol Gyan yang satu ini, yang ternyata begitu menarik dan membahagiakan. Tawaku masih sesekali terus ada sejak kami tadi masuk ke toko perhiasan dan pada akhirnya, aku dan dia memiliki cincin yang katanya menjadi simbol hubungan kami. Aku tidak tahu, apa nanti setelah kami menikah, perlu ada revisi pada cincin ini atau biar ini menjadi pertama dan terakhir untuk kami. Anyway, tahu bagian apa yang menarik dari hari ini? Ternyata yang ribet itu tidak selalu perempuan seperti apa kata orang-orang di luar sana. Gyan, dalam kasus kami ini, justru menjadi yang paling lama dalam keputusan final pemilihan cincin kami berdua. Bukan hanya untuknya yang menurutnya tidak cocok di jarinya, tetapi bahkan untukku pun dia masih sempat komentar; “Nanti kalau Ibu dan Abang liat ini, kamu yakin mereka nggak akan sedih, Ra?” Aku tentu saja bingung dan bertanya, “Sedih kenapa?” “Kok kayaknya anaknya kasihan banget dikasih cincinnya ini.” Benar-benar di luar akal sehat, apalagi mengingat paham-paham hidup yang dia bawa selama ini—yang menjadi alasan kenapa dia sempat tidak menarik untukku, walaupun aku sudah tahu itu hanya apa yang dipelajari dan terima dari papanya. Dia begitu rumit, padahal aku melihat cincin tadi sudah sangat cantik, tak perlu custom abcd dan memerlukan waktu panjang dan biaya yang tidak sedikit. Pada akhirnya, dia tetap mengangguk dan mengatakan, “Kalau lo happy, gue nggak punya alasan lain buat komplain. Gue ikutan happy, apa pun ternyata tetep cantik kalau kamu yang pakai.” Dia mengatakan itu di depan karyawan yang dengan senyum ramah membantu kami. Oh Gyan, nyatanya dia juga bisa membuatku merasa malu karena tingkah tidak kerennya. Lalu sekarang, permasalahan kedua yang kami hadapi belum ada jarak berjam-jam dari scene soal cincin adalah di depan kasir bioskop. Kami sudah mencetak tiket yang dibeli Gyan secara online, sekarang tinggal memesan makanan dan minuman. Aku heran dan masih tetap heran kenapa dia senang sekali makan dan minum banyak selama menonton. Sementara aku tim yang ketika nonton, harus fokus menatap layar, kalau terlalu banyak distraksi ambil makanan dan minuman, pikiranku buyar. Di bioskop tidak bisa kita pause dan ulang, itu kenapa aku sebetulnya lebih suka menonton di rumah, di platform menonton online. “Lo tau gue suka makan, kan, Yan?” bisikku sudah mulai lelah. “Tapi lo juga tahu kalau nonton, gue nggak bisa multitasking sehebat itu. Kalau gue ketinggalan dialog, gue nggak bisa ulang.” “Kata siapa?” Dia tertawa geli, ikutan berbisik. “Gue bisa request ke mereka, kita sewa satu gedung, dan kalau lo masih nggak paham atau ketinggalan, kita replay.” Aku memutar bola mata. “Kenapa aku bisa nggak tahu kalau Gyan Janadarna Kurniawan bisa sesombong ini, hm? Darah Om Gino kayaknya emang bisa lepas dari kamu, yaaa.” Aku tahu, tahu sekali kalimatku ini akan menyinggungnya berlapis-lapis. Pertama, menyebut nama belakangnya yang tak pernah dia suka. Kedua, menghubungkannya terang-terangan dengan orang yang masih dia benci. Tapi ini Gyan, dia masih selalu punya tawa, lalu mengangguk-angguk sambil mengangkat kedua tangan. “Okay, Mbak, yang itu tadi aja.” “Udah semua ya, Kak?” “Yup.” “Jadi, totalnya seratus tujuh puluh lima ribu sembilan ratus, Kak.” “Pakai ini.” Dia menyodorkan debit yang diterima kasir dengan senyum ramah yang tak pernah pudar. Setelah proses selesai dan debit dikembalikan, “Silakan menunggu pesanannya ya, Kak, nanti diambil di sebelah sana.” Gyan tersenyum dan mengangguk. “Makasih, Mbak.” Tak menunggu terlalu lama, pesanan kami sudah bisa diambil dan begitu saja, kami berdua langsung berjalan menuju teater seperti yang tertera di tiket karena memang waktunya hanya tinggal beberapa menit lagi. Gyan dengan prinsip hidupnya, dengan gerakan cepat dan tanpa bicara mengambil selimut untukku. Aku menatapnya sambil tersenyum geli. “What?” “Kirain bete karena berantem soal makanan.” “Excuse me?” Gyan menoleh ke sekitar sebelum dia tertawa. Jangan sampai tawa kami tak terkontrol, tawanya maksudku. “Kayaknya aku perlu ada rombak besar-besaran deh, Ra.” “Tentang?” tanyaku sambil mulai menyamankan posisi. Di sebelahku, Gyan pun sama. “Tentang nama baikku. Kayaknya di kepalaku aku tuh masih buruk banget. Ya nggak sih?” Aku tertawa pelan, berusaha sepelan mungkin sambil geleng-geleng kepala. “Karena apa?” “Karena kamu selalu mikir buruk, kamu ngira aku marah, karena apa emang aku marah? Berantem? Menurutmu tadi tuh kita berantem? Menurutku malah enggak. Asal kamu tau, semua hal yang terjadi ini tuh apa yang aku mau. Aku selalu bayangin debat kecil sama kamu, liat kamu butuh aku, kayak gitu.” Dia sendiri terkekeh geli akan kalimatku. “Kalau debat besar tetap mau?” “Mulaaaii.” Gyan melirikku sebal sambil menyelimuti tubuhnya. “Kenapa sih, ya, harus ada selimut. Ini kenapa juga dibatesin laci. Bukannya gunanya pake soft cushion gini pas nonton biar bisa nyaman? Kalau pasangan, kan, nyamannya nonton ya sambil cuddling nggak sih, Ni?” Mataku melotot. “Gyan, please? Cuci dulu otakmu.” Dia tertawa. “Tadi harusnya nonton horor aja, Ra.” “Biar kalau aku takut bisa mepet-mepet dan kamu dapet kesempatan? Naskah lama, Yan, ganti gih.” Dia nyengir sambil menggosok hidungnya dengan tangan. “Lagian aku nggak takut tau nonton horor.” “Oyaa?” Aku menatapnya sombong. “Mau taruhan? Jangan-jangan kamu nih yang penakut.” “Oh Dhara, jangan selalu remehin aku. Ayo kita taruhan, aku yang pilih filmnya.” “Horor tapi ya, bukan thriller.” “Oh kalau thriller takut?” Dia kasih aku senyum smirk. Laki-laki ini sungguh sudah belajar banyak dalam menghadapiku. Aku memutar bola mata, ke sekian kali. “Orang yang berani dan anteng nonton thriller tuh harusnya dipertanyakan empatinya. Kamu psikopat kah tega liat innocent people disiksa?” “C’mon! Ini film, Ra. Kamu tuh seneng banget deh labelin orang.” Ya Tuhan, dia benar. “Sorry.” Aku tertawa pelan. “Intinya aku nggak sanggup kalau thriller, kalau horor kita deal.” “Deal.” Dia tersenyum lebar. “Hadiah dan hukumannya apa nih? Nggak seru tanpa itu.” “Kalau kamu kalah, aku nggak suka deh dikasih hadiah, tapi aku mau lihat langsung dan terlibat di satu hari penuh kamu sama Om Gino selayaknya anak dan papa beneran.” “Sebuah kemustahilan, Ra.” Dia tertawa mengejek. “Ganti yang lain.” “Nggak mau.” Dia sudah tahu aku bisa menjadi begitu keras kepala, kan? Kalau hukuman itu mudah untuknya, lalu apa esensi dari hukuman itu sendiri? “Deal atau nggak?” “Detailnya apa itu maksudnya seharian jadi anak-papa.” “Ya kalian ngapain gitu.” Aku tersenyum lebar. “Olahraga, masak berdua, apa.” Beberapa orang sudah mulai ramai berdatangan, waktu kami bisa berbisik-bisik mungkin tidak banyak lagi. “Okaaayy. Terus kalau kamu kalah?” “Kamu minta apa?” “Nikah dalam waktu dekat.” “What? Persiapan nikah nggak semudah itu, Gy.” “Serahin ke aku, kalau aku bisa bikin jadi semudah itu sesuai pernikahan yang kamu mau, kita nikah langsung. Deal?” “Edyaaan. Gue nggak yakin.” “Deal aja dulu?” Aku mengembuskan napas lalu mengangguk. Rasanya mustahil bisa mewujudkan pernikahan hanya dalam hitungan jari. Jadi, walaupun nanti dia menang, aku tidak perlu setakut itu akan hukumannya—tunggu sebentar, kenapa aku perlu takut akan menikah dengannya? Aku juga mau itu. Dia hanya tidak tahu atau belum yakin. Jadi yang harusnya terjadi nanti adalah aku yang menang, melihat Gyan dan papanya bisa seperti hubungan anak dan papa lainnya. Soal menikah dengannya, menang atau kalah, aku tetap akan mau menikah dengannya. Yang masih menjadi pertimbanganku adalah … apa yang akan aku lakukan setelah menikah dengannya? Diam menikmati apa yang dia berikan dari hasil kerja kerasnya? Sementara aku tidak melakukan apa-apa. Setelah apa yang aku lakukan padanya, setelah apa yang aku tahu terjadi pada hidupnya, aku merasa … Gyan sudah tidak layak mendapat kejahatan dan kesulitan di dalam hidupnya. Meski dia selalu bilang, tindakan apa pun, usaha apa pun yang dia lakukan untukku tidak pernah membuatnya kehilangan energi atau lelah, dia justru semakin bahagia dan semangat menjalani hari-harinya, semangat bekerja, karena dia tahu ada aku. Dia tahu ada aku yang akan ada di sebelahnya. Bodohnya, aku nyaris kehilangan laki-laki sebaik, sehebat, dan setampan ini. Yang bahkan sekarang terlihat sedang serius menonton film genre romantis pilihanku. Dia tidak terlihat bosan karena mulutnya tak pernah diam, selalu mengunyah. Aku penasaran setelah ini akan bertanya tentang film yang kami tonton, apakah dia sungguh memahami alurnya atau hanya berusaha menghargaiku. Ya, dia harus mulai terbiasa dengan keisengan yang dilakukan perempuan pada laki-laki, pertanyaan-pertanyaan jebakan. Karena bagaimana pun, aku perempuan pada umumnya.

My Forever Favorite Person

EXTRA PART 17

Di publikasikan 02 Feb 2026 oleh katan

Aku sedang menunggu Gyan di sebuah kafe––yang jelas bukan miliknya––sementara dia berkali-kali meyakinkan tak butuh waktu terlalu lama dia bisa sampai di sini. Karena hari ini, jadwal kami lumayan Panjang. Jadwal buatan Gyan yang menurutku malah menyusahkannya sebagai manusia yang memiliki tanggung jawab pekerjaan 9 to 5. Berbeda denganku, yang memiliki pekerjaan rutin dan tak memakan waktu banyak. Aku live hanya sekali dalam sehari, selama kurang lebih 2 jam. Aku tidak sanggup untuk menambahnya lagi. Meski penghasilannya mungkin tak besar, tapi aku memang tidak berharap atau butuh lebih banyak lagi. Justru sekarang aku jadi mulai memikirkan tindakanku yang tiba-tiba membahas pernikahan. Aku bahkan belum membicarakan aku akan melakukan apa setelah menikah nanti, bersama Gyan. Apa aku ingin tetap di rumah atau aku memutuskan untuk berwirausaha atau mewakili Gyan mengurus Maladewa Café. “Hei, Mbak, sorry, aku boleh duduk di sini nggak?” Lamunanku seketika buyar mendengar suara yang ternyata memang bukan Gyan. Laki-laki yang sedang menenteng tas laptop dan menatapku seperti merasa sangat tidak enak. “Cuma sebentar, Kak, akua da revisi dan harus kirim file, butuh colokan itu, sih.” Dia menunjuk bawah kursi tempatku duduk. Aku tersenyum lebar sambil mengangguk-anggukkan kepala. “Silakan, Mas. Di depan nggak ada colokan, sih, ya?” “Iyaaa, di sana ada kursi kosong tadi dua, tapi nggak bisa charging, laptop aku mati. Semoga cuma sebentar kok, Mbak. Sekali lagi maaf, ya?” “Iyaa nggak pa-pa, silakan.” Aku memperhatikan dia yang mulai duduk, membuka tas laptop dan mengeluarkan charger, membungkukkan badan untuk menyolokkannya ke listrik, lalu menyambungkan ke port di laptopnya dan dia mengangkat pandagan ke arahku. “Bisa nyala?” tanyaku penasaran. “Bisa, Mbak. Alhamdullillah.” Aku tersenyum dan mengangguk. Tiba-tiba jadi random berpikir, seberapa banyak pekerjaan lelaki ini sampai laptop yang menurutku ini harusnya awet batreinya sudah habis? Atau seberapa padat dan dinamisnya system kerjanya sehingga membuatnya harus membuka laptop dan mengirim file di mana pun dia bera––wait, apakah dia bisa fokus kalau aku tetap di sini. “Sorry, Mas, Masnya keganggu nggak kalau tete pada aku di sini? Aku nggak pa-pa sih pindah sebentar ke smoking room sana.” “Oh jangan, Mbak. Nggak pa-pa kok, justru harusnya tadi saya yang tanya kenyamanan Mbaknya.” “Saya nggak pa-pa.” Aku mengangguk sekali lagi. Kemudian lelaki ini berdiri, mengangguk sambil tersenyum dan mengatakan, “Sebentar, ya, Mbak.” Aku tidak paham sebentar untuk apa maksudnya. Memilih untuk tidak memikirkan itu, aku kembali bermain handphone sampai kemudian dia kembali membawa potongan cake dan minuman … untukku? “Mbak, aku beliin beberapa untuk ucapan terima kasih karena udah baik.” “Lho, Mas, nggak perlu. Ini, kan, meja umum, buat semua pengunjung di sini. Jadi beneran, ini nggak perlu. Buat Masnya aja, serius.” “Nggak pa-pa.” Dia tersenyum lebar, sudah duduk kembali di depanku. “Saya makasih banyak, please, diterima, yaaa?” Aku masih merasa tidak pantas menerima ini karena aku sungguh tidak melakukan kebaikan apa pun. Kami datang sama-sama sebagai pengunjung dan sudah seharusnya aku memberikan kursi kosong untuk dia yang memang membutuhkan. Mungkin dia memberi lebih banyak pemasukan daripada aku untuk kafe ini. Mungkin dia pelanggan lebih sering daripada aku, kan? “Please?” Tapi pada akhirnya aku menganggukkan kepala. “Aduh, sayangnya yang jadi nggak enak nih, Mas.” “Don’t be,” ucapnya sambil tertawa. “jadi orang baik emang mungkin harusnya bare minimum, ya, Mbak? Tapi realitanya nggak semua orang bisa kok.” Aku tersenyum. “Sekali lagi makasih, yaaaa.” Setelah melihat dia kembali fokus menatap layar laptop, aku berusaha sepelan mungkin dalam tiap Gerakan. Entah itu menarik minuman dan menyedotnya, mengecilkan volume handpone ketika scrolling media social atau mengetik balasan untuk Gyan … dia sudah di parkiran! Aku melirik kiri-kanan dan tak menemukan lagi kursi lain selain yang aku dan lelaki di depanku ini gunakan. Aku belum menemukan solusi apakah aku harus ke depan langsung dan meminta Gyan menunggu di sana atau kalau dia ternyata mau memesan sesuatu …. “Sayang?” Terlambat. Suaranya sudah ada di belakangku. Aku melihat Mas di depanku mendongak menatap sumber suara dengan bibir terbuka dan ketika aku menoleh ke belakang, aku memahami kebingungan lelaki asing tadi. Dia jelas panik karena dipanggil ‘sayang’ oleh orang asing, terlebih dia laki-laki pula. Gyan memanggil sayang dengan tatapan ke lelaki di depanku. Siapa yang tidak akan salah paham, padahal aku tentu memahami maksudnya. Aku belum sempat memberitahunya bahwa kursi di depanku dipinjam oleh orang lain dulu sementara. “Gy? Kamu mau pesen sesuatu atau langsung?” “Yang itu punya siapa?” tanya menunjuk pesanan … pesanan Mas di depanku untuk dirinya dan untukku. “Punyamu atau punya … Masnya? Temenmu?” “Oh! Masnya tadi butuh charging laptopnya dan harus kirim kerjaan, nggak ada tempat lain, jadi dia di sini.” Aku tertawa, Mas di depanku mengangguk pada Gyan sambil tersenyum. “Terus dia beliin aku ini sebagai ucapan makasih katanya, padahal aku udah bilang nggak perlu.” Gyan tertawa pelan, lalu mengelus kepalaku. “Nggak pa-pa dong, itu ucapan syukur Masnya karena berhasil nemuin orang baik dan keren, nggak selfish di tengah dunia yang jahat ini.” Ia menatap lelaki di depan. “Ya, Mas, ya?” Ucapannya similar denga napa yang lelaki tadi ucapkan. “Betul. Ini kalau Masnya mau ambil aja punya saya yang ini, belum saya minum kok, Mas.” “Oh nggak usah nggak pa-pa, nanti take away aja.” Gyan menatapku, mengangguk, dan aku paham ajakannya pulang. Lalu aku membenahi barang-barang, dan tiba-tiba dia bilang, “Sini biar aku bantu bawain minuman dan cake-nya ini. Nanti minta bungkusin kasirnya aja. Mas, makasih yaaa udah traktir pacar saya.” “Oh sama-sama, Mas, Mbak, makasih sekali lagi udah jadi orang baik.” Aku mengangguk dan berjalan bersama Gyan untuk ke kasir. Memesan apa yang ingin Gyan pesan sembari meminta kasirnya untuk membungkus sekalian apa yang tadi aku punya. Maksudku, pemberian masnya tadi. Selama menunggu itu, aku sesekali memperhatikan wajah Gyan, berusaha mencari-cari apakah dia sedang acting atau dia memang sesantai ini. Aku pernah penasaran sekali dia bisa marah padaku atau tidak dan masih penasaran sampai sekarang, ini nanti aku juga ingin membuktikannya lagi. Mungkin dia akan meluapkannya di dalam mobil. Tapi anehnya, setelah selesai memasang seat belt, Gyan meminum minumannya dan menoleh padaku. “Kayak gitu, Ra, kalau kerja sama orang, dalam kondisi apa pun harus ready.” Aku meringis. “Kasihan, yaa?” Kepalanya mengangguk. “Tapi kamu baik banget, aku nggak pernah nggak bangga sama kamu, Ra.” “Serius?” “Apanya?” “Kamu bangga dan nggak marah?” “Marah kenapa?” “Aku duduk sama cowok lain di kafe.” Gyan tergelak. “Kalau kalian janjian dating di belakang aku, baru aku tonjok mukanya. Lah ini, kan, dia butuh pertolongan dan kamu baik banget mau bantu dia tanpa genit atau apa. Masnya juga nggak genit, biasa aja. Aku nggak marah lah, justru bangga banget sama kamu dan makin yakin, kalau nanti generasiku yang dididik kamu bisa seenggaknya jadi salah satu kebaikan dari semua kerusakan orang-orang di bumi ini.” Aku memutar bola mata. Tawa Gyan makin kencang. Dia kemudian mulai menjalankan mobil. “Ini jadi, kan, nontonnya?” “Kalau kamu berubah pikiran dan mau istirahat––“ “Stop di sana, ayo kita nonton. Aku udah lama banget nggak nonton midnight tau, Ni.” “Besok kamu kerja kayak zombie. Kenapa sih nggak ambil weekend aja?” “Justru itu momennya. Kangen sama momen jadi zombie karena nonton sama pacar.” “Gyan, please?” Aku yang sekarang tertawa kencang. “Tadi harus banget yaa nyebut ‘pacarku’ di depan orang asing?” Gyan melirikku, lalu tertawa. “Harus dong! Aku bilang dia nggak genit bukan berarti bebas asumsi atau nanti bayangin kebaikanmu dan jadi berharap ketemu lagi.” “Seriously?” tanyaku sambil menahan tawa geli. Kepalanya mengangguk. “Aku bukan orang yang gampang marah-marah atau cemburu, Ni. Kalau kamu emang penasaran banget liat aku marah, kamu masih keliru hari ini, kayak gini bukan momennya.” Tawanya makin kencang ketika aku mendengus. “Tapi aku juga nggak akan biarin orang lain bayangin kamu cuma karena mereka nggak tahu statusmu.” “What does It mean?” “Aku suka mereka semua tau how amazing you are, aku malah mau dunia tahu itu, tapi aku juga mau dunia tahu kamu udah nggak bisa diinginkan apalagi dimiliki.” Ia mengembuskan napas Panjang. “Jadi sebelum tukar tiket dan nonton, ayo kita cari dulu sesuatu biar semua orang yang nantinya ketemu kamu, tahu kalau kamu udah melibatkan diri dalam hubungan.” Aku melongo. Gyan tertawa. “Kenapaaa?” “Nggak suka marah tapi langsung nandain?” Dia mengedikkan bahu. “Jadi … kamu keberatan kalau pakai cincin yang nantinya orang lain akan tahu kamu udah nggak bisa dideketin lagi?” Aku tertawa geli. “Jadi alasan tukar cincinnya harus kayak gini, ya?” “Konyol tapi anggap aja ini justru pacuan yang bagus. Kamu suka tipe yang gimana sih, Ra?” “Yang harganya minimal 3 milyar, Gy. Gimana tuh?” “Damn, kayaknya aku harus rampok Papa dulu deh. Mau nemenin nggak? “Wah boleh banget, Gy. Ayo memperkaya diri bersama!”Gyan terbahak-bahak. Aku tidak tahu, ini kabar baik atau gimana. Dia masih tetap jenaka dan bahagia, tetapi bergerak cepat untuk antisipasi entah apa maksudnya.

My Forever Favorite Person