Login Daftar - Gratis

Cara merubah data diri di Fenulis.com

Di publikasikan 05 Dec 2025 oleh Fenulis

Login terlebih dahulu di https://www.fenulis.com/loginMasukkan email dan password kamuSetelah login, kamu akan ada dihalaman dashboard. Klik gambar avatar kanan atas, lalu pilih menu "Pengaturan" atau bisa langsung kunjungi halaman https://www.fenulis.com/settings/profileUntuk merubah profile picture, klik pada gambar Foto profilUntuk Nama lengkap, dan Bio bisa langsung ketik kolom datanya yang ingin diubahSetelah selesai, klik tombol "Simpan"

Panduan

Hati vs Gunung

Di publikasikan 03 Dec 2025 oleh Bangun

Suatu ketika, penulis mengikuti dan menyimak kelas dari Ustadz Umar Indra yang membahas Kitabut Tauhid karya Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahab. Pada saat itu kami tibalah pada pembahasan bab Firman Allah. Kita ketahui dulu bahwa apa yang ada didalam Al Quran itu berasal dari betul-betul perkataan Allah. Pada bab tersebut kita dibawa untuk melihat begitu dahsyatnya Allah, begitu berkuasanya Allah, begitu kuatnya Allah. Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab didalam kitabnya membawakan hadits qudsi ini yang menggambarkan bagaimana keadaan para malaikat ketika mendengar setiap kali Allah berbicara, terdapat pada surat As Saba' ayat 23 حَتّٰىٓ اِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوْبِهِمْ قَالُوْا مَاذَاۙ قَالَ رَبُّكُمْۗ قَالُوا الْحَقَّۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka. Mereka berkata, "Apa yang telah difirmankan Rabb kalian?" Mereka menjawab "Kebenaran". Dan Dia maha tinggi lagi maha besar. Ustadz Abu Umar Indra menggambarkan keadaan detail malaikat ketika mendengar Kalamullah (perkataan Allah), penulis lupa beliau mengutip perkataan sahabat/tabiin siapa. Jika Allah ingin memberikan wahyu, langit-langit bergetar karenanya. Karena saking takutnya para Malaikat ketika mendengar firman Allah, seluruh penghuni langit pingsan dan keadaan mereka bersujud kepada Allah. Lalu malaikat pertama yang mengangkat kepalanya adalah Jibril Alaihissalam, lalu Allah menyampaikannya kepada Jibril Alaihissalam, kemudian Jibril turun melewati beberapa langit, dan setiap malaikat penjaga langit bertanya, apa yang di ucapkan Rabb kita? lalu Jibril mengabarkan kepada mereka, begitu seterusnya disetiap lapis langit sampai Jibril menyampaikannya kepada siapa Allah mengirimkan wahyuNya. Setelah kita dibawa untuk melihat betapa Aziz nya Allah, lalu Ustadz Abu Umar Indra membawakan firman Allah surat Al A'raf ayat 143 yang menceritakan tentang permintaan Nabi Musa untuk melihat Allah. وَلَمَّا جَاۤءَ مُوْسٰى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ فَلَمَّآ اَفَاقَ قَالَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa, "Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Allah berfirman, "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya niscaya kamu dapat melihatKu. Tatkala TuhanNya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikan gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman." Disini ada perkataan yang membuat saya betul-betul merenung, beliau mengatakan Gunung melihat Allah saja bisa hancur. Manusia hatinya bergetarpun tidak, padahal hatinya kecil, tapi kerasnya melebihi gunung. Hati kita itu sekeras apa kok hancur-hancur gitu lho. Allahu Akbar. --- Coba kita renungkan seberapa sering kita melalaikan adzan berkumandang, tidak segera shalat, menunda-nunda shalat. Seberapa sering kita mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, tapi hati kita gak ada bergetar sedikitpun. Seberapa sering kita hadir duduk di kajian, dibacakan hadits-hadits, firman-firman Allah tapi kita sambil main handphone. Sekeras itu kah hati kita daripada gunung? 🏔️ Semoga Allah jaga hati kita semua dengan keimanan yang sempurna, dan semoga Allah jaga Ustadz Abu Umar Indra beserta keluarganya.

Renungan

Muqoddimah

Di publikasikan 03 Dec 2025 oleh Bangun

بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ Segala puji hanya untuk Allah Azza Wa Jalla, yang dengan segala kebesaranNya, keagunganNya, kemuliaanNya membuat kita semakin yakin bahwa kita sebagai manusia diberikan kehidupan oleh Allah di dunia ini semata-mata hanya untuk beribadah kepadaNya. Sebagimana firman Allah dalam surat Adz Dzariyat ayat 56 yang berbunyi وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku. Dengan melihat ayat ini, apapun yang kita lakukan di dunia ini, segala sesuatunya niatkan untuk beribadah kepada Allah semata, meskipun itu perkara yang mubah. Shalawat serta salam kita sampaikan kepada Nabi kita Muhammad ﷺ yang dengan syariat yang beliau ﷺ bawa, membuat kita hidup di dunia ini terarah, bukan tanpa arah, teratur bukan tanpa aturan, semua rambu-rambu syariat telah sempurna beliau ﷺ sampaikan. Tugas kita sebagai yang mengaku mengikuti nabi ﷺ adalah dengan benar-benar mengikutinya. Semoga Allah menjadikan kita semua hamba-hamba yang memiliki keimanan yang kuat, karena tanpa keimanan yang kuat hati kita tidak mudah untuk tersentuh, merenung akan kebesaran Allah. Dan semoga Allah memasukkan kita semua ke surga Firdaus, surga tertinggi yang telah Allah siapkan bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh. Karena kata nabi ﷺ "Jika engkau minta kepada Allah, maka mintalah surga Firdaus."  Allahuma amin...

Renungan

Al Quran

Di publikasikan 02 Dec 2025 oleh Bangun

Al Quran adalah Kalamullah, yaitu perkataan Allah. Dan betul betul Allah langsung yang berbicara melalui malaikat Jibril, lalu disampaikan kepada nabi ﷺ Ibnu katsir mengatakan, Al Quran, diturunkan: Oleh Malaikat termulia (Jibril alaihissalam)Kepada manusia termulia (Rasulullah ﷺ)Di kota termulia (Mekkah)Di bulan termulia (Ramadhan)Dengan bahasa termulia (Bahasa Arab)Kenapa dipilih bahasa arab, karena bahasa arab merupakan bahasa yang memiliki kosa kata yang paling terbanyak di dunia. Dan Al Quran ini mukjizat dari Allah, karena Allah sendiri yang akan menjaganya. Tidak akan berubah isinya sampai hari kiamat, Allah akan menjaga kemurniannya. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al Hijr:9 اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ Sesungguhnya Kami-lah yang meurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami-lah yang benar-benar memeliharanya

Istilah-istilah dalam Islam

Ummu Sunnah

Di publikasikan 02 Dec 2025 oleh Bangun

Dikatakan ummu sunnah karena dari ribuan hadits, hadits inilah yang menjadi induk dari hadits-hadits yang ada. Hadits ini juga dikenal dengan hadits Jibril, dimana malaikat Jibril datang kepada ﷺ menanyakan 3 hal, yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Bahkan di akhir hadits ini, ketika rasul ﷺ bertanya kepada Umar bin Khattab tentang siapa yang datang tadi, rasul ﷺ mengatakan, dialah Jibril, dia datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian. Disini jelas bahwa Islam, Iman, dan Ihsan adalah cakupan keseluran dari agama ini.

Istilah-istilah dalam Islam

70 - Lanjut ke Timur

Di publikasikan 01 Dec 2025 oleh Bengkoang

“Lapor—” Srat—Sring! Sring! Empat bilah pedang serentak terhunus, tanggal pertama di Bulan Lima 224 Shirena. Merespons kelabang merahku tatkala ia memenggal penunjuk jalan yang ‘lah membawa kami ke sang penanda daur atau siklus peradaban Eldhera di depan sana …. “Hallo, Nona Sage.” Hem. Tampaknya kehadiranku di tenda itu bukan sesuatu yang mengejutkan. Air muka gadis di hadapanku masih setenang dua pertemuan kami sebelum ini, di kemah militer darurat Kuil Widupa dan sabana tenggara distrik luar Zona Netral, tidak beriak sama sekali. Bahkan setelah ada kepala yang menggelinding ke dekat ujung gaunnya. “Kurasa prajurit pilihan Saintess memang takkan mudah ditangani …,” ujar si gadis, terdengar amat datar dan tanpa rasa. “Namun, siapa sangka bila salah seorang akan menerobos kemari hanya untuk menahan diriku.” “Menahanmu?” “Tidak perlu pura-pura di depanku,” sambungnya, diikuti senyum remeh yang menyebalkan. “Dirimu nekat menerobos kemari agar pasukan utama kalian punya waktu untuk menemukan posisiku, bukan?” Empat pengawal di kanan kirinya kemudian menyarungkan senjata mereka kembali. “Sebagai lambang kebijaksanaan benua, membaca siasat rumit sudah jadi kudapan harianku. Oleh karena itu, kehadiranmu ke tenda ini pun telah dapat kuramalkan bahkan sebelum kalian kuseru dari muka barisan utama di belakang sana.” “Benarkah?” “Huh.” Satu sudut bibirnya naik. “Bukankah selagi dirimu menyelinap kemari dan berbicara denganku seperti sekarang teman-temanmu di belakang sedang berusaha meyakinkan pasukan kecil kalian supaya menyusuri jejak-jejak yang telah kau tinggalkan untuk membimbing mereka? Sayangnya, entah apakah teman-temanmu itu bisa kembali ke pasukan kalian atau tidak—hahaha ….” Kulintangkan kapak perangku, gerakan yang membuat empat padri berzirah berat di kanan kiri si gadis spontan memegang gagang senjata siaga. “Tidak perlu buru-buru,” tegurnya pada mereka sebelum lanjut menaruh tongkat sihir di pangkuan dan bicara padaku dengan gaya santai, “aku akan jujur padamu. Prajurit yang kukirim ‘menemani’ kalian sebelum kau datang padaku adalah unit berani mati, jadi diriku agak terkejut karena dirimu ternyata masih mampu untuk mengimbangi mereka kemudian nekat mencariku ke tenda ini.” “Apa kau baru saja mengakui kalau tentaramu tidak lebih hebat daripada milisi Dataran Tengah, Sage?” “Kau boleh menafsirkannya seperti itu, jika mau. Diriku takkan menyanggah. Toh, memang takkan ada siasat yang selalu berjalan sempurna.” Aku selanjutnya menoleh. “Kau dengar sendiri, ‘kan, Saudara?” ucapku, memanggil Tupa Lim ke dalam tenda. “Sudah kubilang orang-orang tadi dari padri pelopor, jadi saudara-saudara kita gugur dengan cara yang layak.” “Kukira poinmu adalah kita tidak lebih buruk daripada mereka, Saudara,” sahut rekan satu kompiku tersebut, ia lalu menghunus pedang sebelahku. “Aku ingin menjajal si helm banteng.” Kulirik dirinya sekilas lantas berjalan ke sebelah kiri, isyarat yang secara alami dipahami oleh lawan-lawan kami sebagai provokasi hingga dua pengawal Sage pun lekas mengikuti. “Kurasa kau memberiku lawan yang lebih mudah ….” *** Tiga bulan lalu …. “Apa rencanamu, Naila?” Ketika Saintess mengunjungiku di Kantor Kepala Roda Batu. “Kau tahu, memanggil semua orang ke Dataran Tengah juga akan mengundang banyak belalang liar ke ladang. Mengerti maksudku, ‘kan?” “Tentu. Lebih daripada itu, aku bahkan sedang membujuk sekelompok elang tua untuk mematuki mereka.” “Sialan. Apa kau pikir elang-elang ini bakal kenyang cuma mematuk belalang?” tanyaku, juling gemas di Kursi Direktur Roda Batu. “Terus juga, bintang pertiwiku bukan babumu. Jadi biarpun kami datang ke barak bulan depan, alasannya bukan panggilan Saintess.” “Bukan masalah,” timpalnya enteng, asyik menonton gaduh di jalan-jalan Distrik Utara sambil melipat tangan depan jendela lantai dua sana. “Toh, aku hanya perlu kalian buat ada di daftar tentaraku. Tidak lebih.” “Hem. Kau pikir aku akan percaya?” Ia menoleh, senyum, lalu balik mengabaikanku. “Dirimu tidak harus percaya, Ure. Namun, kau akan menemukan banyak peluang di mana kalian secara suka rela akan membantuku tanpa perlu kuminta. Lihat saja ….” Huh. Lucu. Sekarang aku paham kenapa Naila hanya perlu namaku ada di daftar tentaranya. “Nona Sage, kurasa Anda terlalu meremehkan kami.” Dan. Tiga bulan kemudian atau tepatnya pada malam ini. Elang-elang tua itu benar-benar mematuk belalang yang datang ke ladangnya tanpa diminta …. *** “Hahaha!” “Kau tidak capek ketawa sambil jalan begitu, Saudara Tuma?” “Capek? Apa itu capek—hahaha! Mana mungkin aku capek saat tongkat legenda milik Sage ada di tanganku, Saudara Clebi. Lihat ini, hahaha ….” Hari kedua kampanye Aliansi Anti-Serindi. Aku, Lim, Clebi, dan Tuma. Empat tupa penyintas yang selamat dari jebakan Sage malam tadi, kini tengah kembali ke pasukan utama. “Ah, ya! Saudara Mi ….” Lim mendekatiku. “Sebelum Saudara Clebi dan Saudara Tuma menyergap kedua sisa pengawal Sage, kau sengaja membakar dinding tenda buat mengalihkan perhatian mereka, ‘kan?” Kusenyumi dirinya sekilas. “Perasaanmu saja, Saudara Lim.” “Oh, ayolah! Gerakan tombak lawanmu lebih sederhana daripada dua kapak si helm banteng pas melawanku, dengan kalibermu yang menyapu semua padri di tenda pertama sekali kibas kemarin duel kalian seharusnya berlangsung lebih cepat daripa—” “Bisa menganalisa lawanku sembari bertarung juga tanda bahwa levelmu tidak buruk, Saudara Lim.” “Saudara Mi, tungguuu ….” Mungkin benar diriku sanggup menyapu mereka sekali kibas macam yang Lim bilang, atau bahkan mengambil seluruh tanda jasa buatku sendiri jika benar-benar mau. Tidak perlu sampai membiarkan Sage bunuh diri demi menjaga kehormatan sebagai salah seorang tokoh ‘suci’ di cerita ini. Namun, pertempuran kami juga bukan panggungku seorang. Dan tampil biasa-biasa akan lebih mudah buat sekarang …. “Dengarkan perintah!” pekik Clebi, begitu kami tiba di kemah pasukan utama. “Padri-padri itu pemberontak, ringkus mereka semuaaa ….” Sekian saat kemudian. “Lapor!” Ketika riuh dan denting senjata yang sempat menyeruak sesaat lalu telah mereda. “Tupa, semua padri milik Sage sudah ditangkap dan ….” Aku menoleh pada Lim dan Clebi. “Apa rencana kita sekarang?” “Jika kembali ke Zona Netral sekarang, pasukan pahlawan takkan membiarkan kita bertemu Saintess.” “Setuju, Saudara Lim. Aku juga berpikir begitu. Kurasa saat ini kita hanya bisa terus maju, Saudara Mi.” “Soal Saudara Tuma?” tanyaku lagi, merujuk tupa yang lagi menerima laporan prajurit di belakang. “Apa dia bakal mau kalau kesempatan emasnya kita tunda sampai kampanye selesai?” “Kurasa kita tidak punya pilihan.” Kami bertiga kompak angkat bahu lantas menoleh dan berbalik padanya …. *** “Aku tidak percaya ini.” “Berhenti meradang dan jalanlah yang tegap. Saudara Tuma, kau dilihat sebagai pahlawan oleh banyak upa di bawah sana. Dan meski promosi pangkatmu sekarang tertunda takkan ada yang merebut tongkat legendaris di punggungmu juga, ‘kan?” “Hehe. Kau benar, Saudara Clebi. Kau benar ….” Kutoleh pasukan di bawah sana sekilas dengar obrolan dua tupa sebelahku. “Huh … setelah Celah Kuku Angin di depan kita sudah masuk wilayah kota pertama Fujin, ‘kan?” gumamku kemudian sambil menengadah, “Kota Multo, apa pun yang menyambut di sana mereka akan menginduk pada hukum dengan aturan yang berbeda dari Dataran Tengah.” “Oi! Apa maksudmu, Saudara Mi?” Merespons suara Tuma, aku pun melihat padanya tanpa mengatakan apa-apa. “Ke-kenapa kau melihatku begi—ja-jangan bilang dirimu mau merebut tongkat legendarisku, Saudara Mi?” “Hahaha.” Tawaku pecah lihat ia memeluk tongkat bekas Sage sambil sembunyi di bahu Clebi. “Aku punya kapak perang yang menandingi tombak pahlawan, buat apa juga merebut tongkatmu. Hahaha ….” Tanggal 2 Bulan Lima. Kembali ke jalur—kurasa, tadinya mau kutulis ‘balik ke laptop’ biar lucu cuma gak jadi. Dua kompi elite Saintess yang sempat terjeda di perbatasan Fujin oleh seruan mendadak Sage kini melanjutkan langkah menuju timur …. ***

Segenggam Cinta 'tuk Berlian

69 - Lambang Kebijaksanaan Benua

Di publikasikan 01 Dec 2025 oleh Bengkoang

“Boleh kutahu kenapa kami dikumpulkan di sini, Saudara?” Begitu tanya Zaib, salah seorang elite Saintess, tatkala kami dijeda oleh para prajurit milik Sage sekian mil usai melewati perbatasan Zona Netral. Pertanyaan yang tanpa ba-bi-bu langsung menyeret diriku dan semua tupa di sana ke konspirasi berdarah di hari pertama kampanye Aliansi Anti-Serindi …. “Akh!” Sebab padri atau para tentara pribadi Sage itu, tanpa alasan jelas, malah menebasi punggung tupa-tupa di kanan kiriku sebagai jawaban. “Akh—” “Apa-apaan ini?!” Membuat sebagian mereka, kapten unit khusus milisi Dataran Tengah, spontan menghunus senjata lantas berbalik kemudian merapat sembari pasang kuda-kuda membelakangi masing-masing. “Kenapa kalian tiba-tiba menyerang kami, hah?” “Benar, siapa kalian sebenarnya?” “Mana Nona Sage? “Kurasa pertanyaan kalian sia-sia,” kataku pada orang-orang di sebelah, “zirah berat mereka itu milik pasukan pelopor, terus di luar ada panji biru dengan gambar kuda bersayap sama tombak menghunjam ke atas—” “Apa?! Maksudmu mereka padri algojo yang terkenal itukah …?” *** Dua malam sebelumnya …. “Bohong!” Ketika kutepis tangan Mark yang kala itu tengah mencoba menenangkanku usai rencana aneksasi Kuil Widupa oleh Pahlawan ia kabarkan kepada semua orang. “Kalian tahu keluargaku ada di sini, ‘kan?” ujarku, bicara sendiri sebelum kemudian duduk. “Jika Zona Netral sekarang bukan lagi tempat aman, lalu ke mana aku harus membawa mereka?” “Saudara Mi, kami paham berita ini sangat mendadak.” Ken, si penyihir rambut merah api, mendekat lantas duduk di sampingku. “Hanya saja, kau pun tahu sejak kita mulai menyelidiki Serindi dengan situasi benua tahun lalu kemungkinan Dataran Tengah akan runtuh macam sekarang memang ada, bukan?” “Aku bukan ingin memperkeruh pikiranmu, tapi semua i—” “Aku mengerti, Mita,” selaku yang selanjutnya menumpu sikut pada lutut, berpikir sembari menutup mukaku sebentar. “Jika Barat betulan mau menyapu Dataran Tengah sama Timur sekali jalan, kurasa sekarang memang kesempatan terbaik. Apalagi gerbang Zona Netral terbuka sangat lebar. Cek!” “Bagus kau paham!” “Aku dipaksa keadaan, Erik.” “Ya, apa pun itu yang penting kita bisa kembali membahas rencana.” “Rencana?” kejarku, menatap si pemegang anggar heran. “Apa maksudmu rencana?” “Apa lagi?” timpal Mita, ia menyerahkan sebuah gulungan pada Mark. “Kapten, daftar barang yang kau minta semua ada di sini. Mi, kita akan membawa orang-orang ke luar Zona Netral bulan depan.” “Maksudmu pas kita dikirim ke timur ….” Saat itu semua orang di Bintang Pertiwi sudah menduga bahwa pasukan Pahlawan memang akan dipecah ‘tuk membuka akses Barat ke Dataran Tengah sementara sebagian menjaga pasukan Saintess agar tetap di luar Kuil Widupa, bahkan penundaan keberangkatan mereka kemudian mengonfirmasi dugaan tersebut. Namun, diriku baru tahu jika sebagian tadi yang sekarang muncul bersama Sage akan langsung menunjukkan wajah asli mereka begitu kami keluar dari perbatasan. Tidakkah ini terlalu tergesa-gesa …. “Kenapa mereka tidak ada habisnya?” “Itu karena kalian tidak mau menyerah, Saudara Lim.” “Saudara Mi?” “Se-sejak kapan kau duduk di sana?” “Aku capek meladeni mereka, jadi kupindah kemari terus duduk di kursi ini—” “Saudara Mi, awaaas!” Blentang! Serpihan pedang yang dipakai buat menghantamku berhamburan bak kaca pecah, membelalakkan mata semua orang di tenda komando tersebut. “Kau barusan mau menebaskukah?” tanyaku, menoleh ke padri di sebelah. “Pedang dengan besi murah takkan berguna terhadapku, tolong pakai setidaknya baja poles atau kalau kalian punya gunakan mitril sekalian.” “Sa-saudara Mi?” “Di-dia punya ilmu kebal?” Aku tumpang kaki dan topang dagu menanggapi reaksi semua orang. Meski bukan kali pertama, tapi belalakan mata dengan mulut ternganga mereka tetap saja memberiku kesan puas tersendiri. “Jangan hiraukan diriku, kalian lanjut saja di sana.” “Oi-oi-oi! Kau ini sebenarnya berada di pihak mana, Saudara Mi?” “Benar! Jika dirimu juga elite Kuil Widupa dan bisa mengalahkan mereka, kenapa tidak cepat bantu kami?” Merespons teriakan para tupa, padri-padri yang awalnya mengepung mereka kini beralih pada diriku. “Kenapa kalian kemari?” tanyaku lagi, masih topang dagu macam tadi. “Apa—” Swush—Blentang! Blentang! Blentang! “Hoaaam ….” Aku menguap menerima tebasan, hunjaman, dengan benturan langsung senjata-senjata rapuh mereka, geli sebab derajat kekuatan tempur elite Regu Pahlawan ternyata cuma segini. “Sudah selesaikah?” *** “Gila! Saudara Mi, kudengar unitmu adalah yang termalas sekemah kita. Kukira kabar ini sungguhan, tahunya kalian begitu cuma buat mengelabui mata-mata dan membuat musuh lengah.” “Benar. Siapa sangka? Aku sampai terkejut kau juga mengambil jawara sebagai kelas kedua.” “Kurasa itu masuk akal. Seorang penjinak tidak boleh terlalu bergantung pada tamon mereka, bukan?” “Ngomong-ngomong, kenapa kita tidak langsung kembali?” Malam hari, usai insiden di tenda komando sesaat lalu, aku bersama sisa tupa yang berhasil selamat kini tengah mengejar prajurit pembawa pesan—padri yang sengaja kubiarkan kabur ‘tuk memandu kami kepada Sage. “Kalau langsung kembali ke pasukan utama, kesempatan buat menangkap Sage akan lenyap.” “Eh?! Kenapa begitu, Saudara Lim?” “Saudara Tuma, kau ini tidak paham kecepatan sangat vital dalam perang, ya?” “Bukan tidak paham, Saudara Clebi. Namun …, menyergap mereka akan jauh lebih mudah jika kita langsung mengerahkan banyak orang sekaligus. Benar, ‘kan?” “Ya, kalau jumlah kita betulan lebih banyak atau jalur pelarian mereka mendukung untuk itu.” “Maksudnya mendukung, Saudara Mi?” “Kurasa menjelaskan kenapa kita melacak pembawa pesan pada Saudara Tuma sia-sia—” “Oi-oi-oi! Apa di matamu aku sebodoh i—” “Benar,” sela Tupa Clebi, memberi isyarat kami telah sampai ke tujuan. “Target kita ada di depan ….” Ada dua hal yang ingin kami capai lewat keputusan nekat sekarang, yakni menemukan lokasi tenda komando utama Sage dan mencegahnya melarikan diri. Jika mengandalkan pikiran Tupa Tuma tadi, kembali dulu buat mengerahkan pasukan utama kemudian menyergap dengan kekuatan penuh, maka salah satu bahkan mungkin keduanya takkan pernah tercapai. Kalian penasaran kenapa? Pertama, ada jeda waktu yang cukup ‘tuk memberi tahu Sage bahwa rencananya telah gagal jika kami mundur dan mengambil pasukan lebih dulu. Mereka bisa memanfaatkan jeda tersebut guna mempersiapkan diri. Kedua, ada padri yang turut berjaga bersama peletonku saat aku pergi memenuhi seruan Sage. Tidak mustahil juga bila mereka akan mencegah kami untuk kembali ke pasukan utama, bukan? Ketiga, anggaplah kami mampu mencapai pasukan atau unit masing-masing. Namun, selanjutnya apa? Menyerang balik ataukah mundur ke Zona Netral lalu melapor pada atasan? Kalau membalas, bisakah kami melacak lokasi Sage sejelas saat membuntuti si pembawa pesan sekarang? Jika mundur, yakin kami dapat selamat dari jebakan atau lolos dari pengejaran mereka? Dan sialnya lagi pertanyaan-pertanyaan barusan belum semuanya …. “Kita berpencar. Saudara Lim, kau dan aku akan masuk dari depan. Sisanya menyelinap lewat belakang ….” ***

Segenggam Cinta 'tuk Berlian

68 - Tanggal Keberangkatan

Di publikasikan 01 Dec 2025 oleh Bengkoang

“Apa bobot kalian cukup untuk menghadapi Serindi ….” Aku menjuling tiap kali Naila, saintess zaman ini, mengulang-ulang kalimat ketigaku pada pahlawan beberapa waktu lalu. Ya, saat kami tidak sengaja bertikai gegara buruan di bagian sebelumnya—ingat? “Dari mana kau dapat ide buat mencegat mereka di sabana terus bilang kalimat seberani itu, Ure?” tanya sang empu Kuil Widupa, kelihatan begitu puas. “Benar kapak perangmu juga patah terus dirimu sekarang mau tak mau harus sembunyi gegara kejadian ini, tapi regu pahlawan jauh lebih parah—” “Oi, Naila.” Aku bosan bahas pahlawan sama salah paham kemarin. “Bisakah kita berhenti membahas kejadian itu terus ganti ke obrolan lain? Kelabang Merah sengaja kubikin patah biar berevolusi, terus alasan kenapa aku ke sabana juga betulan buat berburu antelop.” “Sekalian memberi Regu Pahlawan pelajaran biar mereka gak berlagak di wilayahku, ya, ‘kan?!” Cih! Gadis ini benar-benar kepala batu …. *** “Nona Saintess bilang apa, Tupa?” Kulirik Shopia sebelahku heran, ragu bila dirinya betulan tidak dengar apa-apa pas Naila barusan di tendaku—mustahil, bahak gadis itu tadi benar-benar kencang. “Buat apa tanya, kalian sudah menguping juga, ‘kan?” Tanggal 29 Bulan Empat. Kabar soal pertemuanku dengan Regu Pahlawan sampai ke telinga Saintess, ia bahkan khusus mengunjungiku hari ini demi membahas hal tersebut sambil menertawakan keapesan para ‘pesaing’ politiknya itu. Sisi yang kutahu takkan pernah dirinya tunjukkan ke sembarang orang …. “Apa ini soal tanggal keberangkatan kita ke timur, Tupa?” “Tupa, kudengar Pahlawan masih di tenda rawat—” “Dia dirawat, gegara apa?” “Ke mana saja kau ….” Dan, kalian tahu, selain kunjungan Naila hari itu rutinitas peletonku masih sama macam biasanya. Tidak ada yang berbeda padahal seminggu ini kemah militer heboh oleh kabar pahlawan masuk tenda rawat. Benar, masih gegara insiden kemarin. “Aku juga baru dengar sekarang, Pahlawan jatuh dari kuda pas acara berburu minggu lalukah?” “Ada kabar yang bilang mereka sebenarnya disergap hari itu.” “Disergap bagaimana?” “Disergap, ya, disergap.” “Bisakah kalian jangan ribut?” pintaku pada semua orang, ingin menikmati suasana damai kolam ikan tempat kami biasa memancing sebelum jam makan siang. “Ikan-ikanku jadi pada gak mau makan umpan ini.” “Tapi, Tupa. Apa benar Pahlawan—” “Aku gak tahu, Samuel. Cuma, tanggal keberangkatan kita besok tetap sama.” “Berarti kabar yang bilang Pahlawan dirawat itu salah atau palsu dong?” “Entahlah.” Kugelengkan kepala spontan. “Bisa jadi salah, tapi mungkin juga benar. Aku gak tahu, Saju, yang jelas di sini hari keberangkatan peleton kita masih tanggal satu bulan depan. Enggak berubah.” “Ini aneh.” “Maksudmu aneh, Rodet?” “Upa Samuel, Anda pasti tahu kabar Pahlawan jatuh dari kuda bukan berita biasa. Jika itu tidak benar, kenapa semua orang membiarkannya tersebar?” “Aku setuju. Bagaimanapun Pahlawan adalah—” “Jangan mendramatisir situasi, Shopia,” tegurku yang segera menarik gagang pancing, “hem … aku tahu ke mana kalian mau menyetir topik ini.” Kulempar lagi kail pancingku ke kolam dan kutebar beberapa umpan sekaligus. “Sama, kalaupun benar ada agenda terselubung di balik kabar Pahlawan jatuh dari kuda minggu lalu itu apa kalian pikir mereka gak bakal mengendusnya atau cuma akan duduk diam sajakah?” “Tupa, siapa ‘mereka’ yang Anda rujuk barusan?” Sial! Aku keceplosan. Cek! “Benar juga! Tupa, jangan-jangan Anda juga curiga kalau kabar ‘Pahlawan Jatuh dari Kuda’ ini sengaja dibuat-buat untuk menutupi sesuatu yang lebih besar.” “Hem. Kurasa Tupa bukan hanya curiga, Zadho.” “Setuju, Upa Samuel. Tupa, Anda sebenarnya tahu sesuatu yang belum kami tahu, ‘kan?” Jelas diriku tahu sesuatu, bahkan bukan sekadar tahu. Akulah penyergap di kabar kedua yang tadi sempat mereka singgung, dan aku tahu betul bagaimana kronologi peristiwa yang membawa Pahlawan ke tenda rawat minggu lalu. Namun, diriku juga tidak boleh mengaku. “Singkirkan mata penasaran kalian. Aku takkan bilang apa-apa soal kecelakaan Pahlawan minggu la—” “Kecelakaan Pahlawan? Tupa, berarti dia benar-benar jatuh dari kuda?” Hem. Jadi sebaiknya kututup mulutku rapat-rapat …. *** “Berangkaaat!” Dua hari kemudian, Bulan Lima 224 Shirena. Sesuai jadwal dan rencana Kemah Komando Utama Aliansi Anti-Serindi, sekian ratus ribu milisi Zona Netral hari ini dikirim ke garis depan. Hendak jadi bantuan untuk negara-negara di timur. Dan, berdasarkan rencana Kemah Komando juga, pasukan pahlawan yang semula akan memimpin kampanye kala itu menunda keberangkatan mereka hingga beberapa hari ke depan. Entah apa alasannya …. “Mereka gak jadi pergi bareng kita?” “Anda lupa, ya, Tupa?” “Lupa apa, Samuel?” “Berita pahlawan jatuh dari kuda.” “Oh.” Mulutku membulat. “Padahal ada sage di regunya, tapi anak itu malah gak mau cepat sembuh.” “Anda bicara macam orang tua mereka, Tupa.” “Memang. Begini-begini aku punya anak gadis sebaya Pahlawan di rumah, Shopia. Jadi caraku waktu melihat isi regunya kemarin gak akan jauh beda sama kacamata orang tua pas lihat putra-putri mereka.” “Benarkah? Berapa usia Anda sekarang, Tupa?” “Zadho!” “Gak apa-apa, Saju. Sekarang aku—” “Perhatiaaan!” Bagus! Sekarang apa? Kenapa mars barisan milisiku tetiba dipotong …. *** Hem. Apa kalian percaya kebetulan? Maksudku, percayakah kalian bahwa hal-hal di dunia ini terjadi secara acak tanpa terencana kemudian muncul ke permukaan begitu saja tanpa sebab-sebab jelas dan bukan sesuatu yang sebetulnya direncanakan seseorang? Jika percaya, aku punya pertanyaan lanjutan. Benarkah pertemuan dengan sage juga penyintas kemarin hanya sebuah perjumpaan yang tidak terduga? Kuentak kuda bayangan ke tenggara dengan niat ingin menghindari masalah. Namun, siapa sangka bila diriku justru bertemu mereka di sana. Kebetulankah? Lantas, milik siapa sebenarnya anak panah yang terpotong oleh panahku sebelum kami berseteru hari itu dan kenapa pula caranya harus demikan? Bukankah semua ini terlalu rapi untuk sebuah peristiwa acak …. “Katanya pasukan Pahlawan tidak berangkat bersama ki—” “Aku lebih penasaran kenapa sage dengan para padrinya baru muncul sekarang,” gumamku yang kala itu lanjut memisahkan diri buat melapor, sesuai instruksi caupa sesaat lalu. “Kebetulan lagikah?” “Apa yang kebetulan, Saudara—oh, aku Lim, Tupa Unit Serbu Dua Puluh Kompi Caupa Jabad.” “Kita satu kompi, Saudara. Aku, Mi. Salam.” “Salam. Soal tadi, apanya yang kebetulan, Saudara Mi?” “Macam yang kubilang. Aku merasa Sage dan para padri di sana mencurigakan.” “Mencurigakan?” “Kita semua tahu Pahlawan baru akan berangkat ke medan perang minggu depan,” kataku sambil toleh kanan-kiri, “lalu kenapa Sage tidak bersamanya sekarang?” “Apa kau sedang membahas teori konspirasi?” timbrung tupa lain sebelahku, “ah! Aku, Zaib. Salam.” “Salam. Kurasa boleh kau sebut begitu, Saudara. Kita sekarang dipisahkan dari milisi pelopor lain, buat apa?” “Aku tidak memikirkannya,” timpal Lim terbelalak, “tapi benar juga, kenapa kita berhenti di perbatasan Fujin sedangkan pasukan lain terus bergerak ke timur?” “Kita semua prajurit Saintess, ‘kan?” Aku dan semua Tupa di sana mengangguk merespons Zaib …. ***

Segenggam Cinta 'tuk Berlian

67 - Pahlawan dan Penyintas

Di publikasikan 01 Dec 2025 oleh Bengkoang

“Apa pemungkas penyintas sama pahlawan zaman ini cuma segini?” Tanggal 22 Bulan Empat. Hari di mana Kelabang Merah kuayun memapak tebasan pedang dengan hunjaman tombak milik penyintas dan pahlawan periode Shirena …. “Aku kecewa,” gumamku, kembali berdiri usai berhasil menepis kombinasi serangan ‘terkuat’ dua anak muda di hadapanku. “Kalau tidak mampu mengimbangi kapak perangku, buat apa kalian berlaga jadi pahlawan yang akan menyelamatkan benua—haaah?!” *** Sebelumnya …. “Terima kasih, Shopi—eh? Kenapa kalian bengong?” “Tupa, A-Anda bisa sihir pemanggil?” Ketika para personel peletonku melongo waktu kupanggil kuda bayangan buat menemaniku berburu, pas saat upa dua mereka baru saja membawakanku busur dengan satu tabung penuh panah. “Profesi tempurku di serikat seorang penjinak, kalian gak tahu?” “Bu-bukan.” Zadho menggeleng. “Kuda. Kuda Anda luar biasa, Tupa.” “Oh ….” Sayangnya, reaksi mereka itu bukan baru pertaman kali kulihat. Jadi, kuambil busur dengan panahku lalu naik ke punggung kuda—cuek. “Ini rahasia kita. Jangan bilang siapa-siapa soal kudaku, oke?” “Ah, ya, Tupa! Sebentar ….” Samuel, upa pertama peletonku, buru-buru berdiri terus mendekat. “Tadi pagi kulihat panji pahlawan melintas ke sabana,” terangnya sambil menunjuk arah timur laut, “untuk menghindari masalah, sebaiknya Anda jangan berburu di sekitar sana.” “Aku mengerti.” Kusenyumi mereka lantas putar haluan, hendak menghindari masalah mengikuti saran dari upa pertama peletonku. “Terima kasih ….” Namun, mungkin memang dasarnya hari itu diriku lagi kebagian jatah apes saja, aku malah ketemu sama para penunggang kuda menyebalkan yang ternyata pecahan regu pahlawan hingga kemudian kami cekcok dan kini telah beradu satu dua pukulan ringan. Cek! “Sebelum kalian berdua mencul terus tampil sok jago di depanku,” kataku pada pahlawan dan penyintas yang masih belum dapat berdiri sehabis melepas pemungkas sebelumnya, “orang-orang di belakang sana itu bilang jika aku sudah mengganggu perburuan mereka, padahal jelas-jelas buruan kita saja beda.” Seusai kukatakan hal tersebut, Penyintas pun berhasil kembali bangkit—walau dengan susah payah serta masih harus bertumpu pada atau mengandalkan pedang besar di depan lututnya supaya tetap tegap. “Boleh kutahu siapa Anda?” “Bah!” Kuayun kapakku ke samping. “Kau baru tanya siapa diriku sekarang, setelah pedang dan tombak kalian tak mampu menyentuh mantelku—ke mana saja akal sehatmu selama ini, hah?” “Diriku sungguh minta ma—huek!” Ia ambruk lagi. Membuat sage yang sejak keduanya berlaga menunggu bersama para penunggang kuda cepat-cepat menerobos gelanggang ‘tuk merapal penyembuh pada mereka. “Oi! Tidak ada yang merapal mantra penyembuh buatku di sini. Kenapa kau mendekat, Nona?” “Aku tak tahu siapa dirimu ….” Pahlawan kini mencoba ‘tuk berdiri, dia tancapkan tombak sebagai tumpuan mengikuti cara kawan sebelahnya sesaat lalu. “Namun, kurasa perselisihan antara kita hanyalah dalih.” Aku menjuling dengar tudingan tersebut. Dalih, dirinya pikir aku segabut itu sampai punya banyak waktu luang buat repot-repot mencegat mereka di sini kali, ya—niat banget, asli. “Kuakui prajuritku terlalu angkuh,” lanjut si pahlawan, “kami salah karena merasa tidak tertandingi ….” Orang-orang di belakangnya kelihatan gentar. Sebagian bahkan menangis. Mungkin karena haru atau apalah, aku tidak tahu. Cuma, diriku bukan anak kemarin sore sampai tak mengenali bahwa anak ini sedang berakting. “Aku akan mengingat pelajaran hari i—” “Berhenti di situ, Anak Muda!” Jadi kuacungkan Kelabang Merah ke arahnya. “Katakanlah diriku memang datang untuk ‘menegur’ kalian karena sudah tidak tahu diri. Akan tetapi, semua itu bukan demi dirimu juga.” Mari simpan dulu niat asliku buat berburu makan malam dan ayo kita bermain dengan mereka …. “Tiga hal. Ada tiga yang mau kubilang pada kalian.” Begitu ujarku sembari melangkah mendekati si pahlawan. “Pertama. Sage adalah dia yang mampu mengenali penyintas. Bukan milikmu. Juga bukan milik benua jika perlu kukatakan. Lalu, kedua ….” Kuayun kapakku sekali kibas. Swush! “Jangan terlalu bangga hanya karena kalian dipanggil pahlawan ….” *** Dua bulan lalu. Ketika iklan serikat dan tajuk naik daun sedang gencar-gencarnya di Dataran Tengah …. “Paman Mi, kau tahu di mana Soran? Aku belum melihatnya seharian i—” “Gadis itu kusuruh menemani ibunya belanja,” timpalku, melirik Miki sekilas. “Hari ini dia ambil cuti, ‘kan?” “Ya, tapi berkas buat besok yang harusnya Soran periksa kemarin belum dia apa-apakan.” “Coba lihat ….” Kutaruh koran yang lagi kubaca di meja lalu mengulurkan tangan, penasaran apa kertas yang anak itu jadikan alasan buat bertemu putriku kali ini. “Kalian ketemu hampir setiap hari di kantor,” kataku menggodanya, “apa masih kurang?” “Aku kemari betulan karena laporan itu, Paman,” sanggahnya, topang dagu di meja taman tersebut. Yang, tentu saja tidak ingin kupercaya. “Pret.” “Eh, ya, Paman. Kau juga baca berita promosi serikat. Menurutmu, apa ke depannya mereka masih akan terus menyewa gerobak sama kuda-kuda kita?” “Kenapa nada pertanyaanmu kedengaran pesimis, Bocah?” “Hah. Jujur aku merasa pemburu-pemburu ini sekarang sudah punya modal buat beli gerobak sama kuda-kuda pengangkut sendiri,” akunya lesu, “jadi kukira gerobak-gerobak dengan kuda sewaan macam punya kita mungkin bakal dianggap cuma mengurangi pemasukan mereka. Apa aku salah?” Satu sudut bibirku naik dengar keluhan tersebut. “Kalau pikiran mereka sama sepertimu, iya.” “Hem. Tadinya aku berharap kalau kau akan menyanggahku, Paman.” “Menyanggahmu, buat apa?” “Ya, dirimu yang sudah mendirikan Roda Batu buat Soran, ‘kan?” Ia melihatku, matanya menyiratkan sebuah tanda tanya besar. “Kupikir kau akan lebih memikirkannya daripada siapa pun di Gerbang Kanan Baruke.” “Oh. Mungkin dirimu belum tahu ….” Kukembalikan berkas yang Miki bawa kepadanya. “Atau, kau sudah lupa lagi. Roda Batu kubuat untuk mengajari kalian agar jangan kaget pas bertemu krisis terus terbiasa mencari jalan keluar di situasi-situasi sulit, gak lebih.” “Hah?” “Sama kayak waktu kau kuajak menemaniku dan Lian belanja dulu, Bocah. Roda Batu itu contoh kalau kita bisa melakukan apa saja selama punya niat.” “Bukan demi uang—” “Bukan, lah!” sambarku semringah, “kau ini, kalau alasannya cuma uang uang itu habisnya cepat. Jangan salah paham, tapi aku ingin kalian belajar bertanggung jawab sama bisa diandalkan.” “Hem. Ini memang lebih terdengar seperti dirimu.” “Ngomong-ngomong, kenapa ranahmu masih puncak pengembunan hawa padahal kau sudah kuajari teknik rahasia keluargaku. Apa kendalanya, hah?” “Hehe.” Miki nyengir sebentar lantas beralasan. “Aku gak punya wak—adaw! Kenapa tiba-tiba memukulku, Paman? Sakit tahu ….” Alasan yang jelas takkan kuterima, apalagi aku tahu benar bagaimana rutinitas kami sehari-hari. “Gak punya waktu itu enggak ada …,” balasku yang selanjutnya pergi ke belakang sebentar kemudian kembali sembari membawa si Oren dan Ijo bersama makanan mereka. “Kalau memang niat, kadal-kadalku saja masih bisa kukasih makan sambil menceramahimu, loh, ini.” Anak itu menjuling. “Apa kau gak bisa lebih longgar, Paman?” tanyanya, menarik terus memangku si Ijo lalu mendekatkan sarang tawon buat makanan si kadal mungil. “Kudengar pahlawan saja baru berlatih pas dirinya mau ….” Kalian tahu, sembari mengelus punggung si Oren yang lagi mematuki tawon-tawon di depannya, aku pelan-pelan topang dagu mendengarkan Miki. Antara gemas sama penasaran, apa isi kepala pemuda di fase peralihan remaja akhir ke dewasa muda satu ini. Dan, ada beberapa hal yang juga kutandai pada obrolan kami dua bulan lalu tersebut. Salah satunya citra pahlawan benar-benar melekat di benak banyak orang …. ***

Segenggam Cinta 'tuk Berlian

66 - Alasan Lain

Di publikasikan 01 Dec 2025 oleh Bengkoang

“Itu mereka?” Tanggal 14 Bulan Empat. Pahlawan tiba di Dataran Tengah bersama pasukannya. Satu kabar yang sontak menjeda seluruh kegiatan serta membuat heboh seisi Kemah Militer Darurat Zona Netral …. “Aku baru tahu dia punya tentara gajah sama badak,” akuku pas lihat arak-arakan pasukan vegasisnya pahlawan dengan penyintas zaman ini melintas sepanjang gerbang hingga area kemah komando pertama, “panji mereka juga benar-benar mencolok.” “Tupa, Caupa Jabad memberi kita perintah.” Kuterima gulungan dari Samuel, upa pertama di unitku, lalu melihatnya sekilas. “Mereka bilang kita ikut infanteri pahlawan bulan depan—Rodet, ikanku berenang terbalik!” Ibarat tongkat estafet. Selain bikin gaduh, kemunculan legiun vegasis atau pasukan dengan panji kuda bersayap alias pegasus jingkrak milik pahlawan di Dataran Tengah kala itu sontak menggeser jangkar perhatian benua dari semula menyoroti Kuil Widupa menjadi pada topik seputar hari dan tanggal keberangkatan mereka menuju Timur. Bintang Pertiwi, yang sebelumnya tenteram di barak unit masing-masing, pun seketika turut dapat dorongan agar bersiap ‘tuk bergerak padahal belum ada tanda-tanda bahwa kampanye kami akan segera mulai. Kabar lain, Serindi kini sedang menjeda laju invasi mereka. Menurut laporan Pilo-Pato, gerakan musuh bersama tiga bagian benua itu berhenti lantaran pintu dunia kecil di sisa-sisa wilayah Kerajaan Sun terbuka beberapa hari lalu. Berita yang lebih menarik ketimbang kedatangan pahlawan beserta bala tentaranya …. *** “Kudengar kau dapat promosi ….” Seminggu kemudian, di bekas tenda pertama Bintang Pertiwi, ketika regu berburuku menyempatkan diri ‘tuk bertemu sebelum bulan depan bertolak ke gelanggang masing-masing. “Kita hari ini mau merayakan itu atau—” “Kurasa si Mark minta kita kumpul bukan buat bahas promosi,” timpal Erik, dengan pembawaan serta aura berbeda daripada biasanya. “Jika boleh menebak, tapi karena apa yang dia lihat pada pahlawan.” “Hem.” Satu sudut bibirku naik. “Kau jadi macam beda orang.” “Kurasa juga begitu,” balasnya lantas tersenyum. Sementara diriku dengan anggota paling impulsif sebintang pertiwi dulu tersebut berbasa-basi, Mark—kapten sekaligus orang yang memanggil kami berkumpul malam ini—juga telah selesai menyiapkan sesuatu yang sejak diriku duduk dirinya utak-atik buat ditunjukkan. “Kuharap kalian jangan terkejut ….” Begitu tangannya meletakkan potongan teka-teki terakhir di papan, seberkas cahaya pun memancar dari benda itu kemudian berubah jadi potongan gambar bergerak. Hem. “Kenalanku bilang inilah alasan Serindi nekat memulai perang dan berani melawan benua.” Aku menoleh dengar klaim tersebut. “Kau lagi gak bercanda, ‘kan?” “Benar, tolong jangan main-main. Kita sudah melihat mereka keluar masuk dunia kecil sambil mencaploki wilayah negara-negara di Timur, Mark. Sekarang dirimu mau bilang mereka memulai perang karena sepotong video—yang benar saja!” “Aku gak ingin mengatakan ini karena tahu seniat apa dirimu mengumpulkan kami, tapi Ken benar,” tambah Mita, mendukung penyihir mantra api berambut merah di sampingnya. “Bagaimana kita yakin isi video itulah alasan sebenarnya, Mark?” “Kukira kau mau mengulas isi regu pahlawan setelah bertemu langsung dengan mereka.” Erik memijit pelipis sebelum lanjut berkata, “Katakan, dari mana datangnya ide bodoh ini?” Mark, tampak tetap tenang walau sedang ditekan oleh semua orang, ia bahkan masih sempat mengambil satu benda lagi sebelum menanggapi kami. “Aku paham ini semua mendadak,” ucapnya kemudian, “diriku juga sama seperti kalian, menganggap video itu semacam lelucon pas ingat semua temuan kita selama ini. Namun ….” Ia sodorkan benda kedua tersebut. “Dekret Pu Serindi i—” “Rasa hormatku sekarang turun, kau tahu,” sela Erik, menyambar lalu membuka gulungan dari tangan Mark dan hendak membacakannya. “Kalau benda ….” Akan tetapi, baru juga matanya melirik kertas itu dirinya sontak dibuat kaku sambil terbelalak. Selang beberapa detik, dia pun melipat gulungan tadi lantas berucap dengan raut yang sukar kujelaskan. “Kurasa aku sudah benar menyebut mereka orang gila.” “Memang apa bunyi dekret i—” “Nih, baca sendiri!” Mita selanjutnya membuka dekret tersebut bersama Ken, aku yang juga penasaran kemudian pindah ke dekat mereka. Dan saat sang suvervisor Bintang Pertiwi mendorong gulungan di tangannya …. “Astaga.” Kami bertiga kompak geleng kepala. “Mereka pikir kita ini apa kalau bukan manusia—” “Papan dengan video yang kalian lihat tadi disebut ramalan Yanma, orang-orang Serindi percaya mereka akan terbebas dari derita kefanaan ketika benih-benih kotor—maksudnya kita, lenyap dari Eldhera. Selama masih ada pelintas dunia yang datang kemari, ‘kefanaan’ dengan penderitaan bangsa mereka takkan berakhir.” “Kukira pembakaran penyihir abad pertengahan dengan genos*da perang dunia dua sudah yang paling buruk.” “Mereka lebih parah daripada itu, Ken. Aku gak ingin memegang benda ini ….” *** Hari berikutnya. Ketika jatah liburku bulan ini telah kupakai semua dan diriku kembali pada rutinitas di barak …. “Tupa, apa istri Anda mengusir—” “Benang pancingmu getar itu,” timpalku, menghindari pertanyaan Shopia, upa kedua peletonku. “Cepat tarik atau ikanmu gagal kau tangkap terus dirimu kebagian jatah jaga malam ini.” “Baik, Tupa.” Aku masih kepikiran kejadian semalam. Mengapa Serindi bisa punya pikiran kalau penderitaan penduduk Eldhera disebabkan oleh para pelintas dunia yang datang kemari? Meski tidak selalu berakhir baik, seingatku kami tak pernah sengaja ingin merusak tatanan dunia ajaib ini juga, bukan? Ambil contoh Matilda, ia berhasil menyatukan seluruh benua di bawah satu panji. Prestasi yang tidak pernah kubayangkan bisa diraih bahkan itu tercapai sebelum pintu labirin bawah tanah terbuka. Era pelintas sebelum dirinya, orang-orang jadi kenal mesiu dengan senjata api yang lebih murah saat dipakai membendung serbuan monster. Sumbangsih yang, jujur saja, enggan kulakukan di zamanku. Meski luas tanah yang dihuni manusia zaman ini lebih sempit ketimbang dulu, tetapi penyintas sekarang masih kebilang baru. Maksudku dia bahkan belum mencoba buat mencapai apa pun …. “Kenapa kesannya macam jadi penyalahan, ya?” “Anda bilang sesuatu, Tupa?” “Oh.” Aku terduduk di kursi malas. “Itu, aku lapar. Boleh tolong ambilkan busur, Shopia?” “Busur?” “Benar. Aku ingin berburu sambil menyegarkan pikiran,” ujarku lekas bangkit dan membetulkan zirah, “gak tahu kenapa diam menunggu kalian di sini hari ini malah bikin kaki sama tanganku gemetar.” “Anda bisa saja, Tupa. Aku akan mengambilkan Anda busur, sebentar.” “Tupa, apa pahlawan membuat Anda gugup?” tanya Zadho, prajurit termuda di peletonku. “Sejak kita masuk infanteri Vegasis, aku juga sering gugup.” Anak itu menunduk sebentar, melirik riak benang pancingnya. “Mereka menggendong senapan yang katanya sangat ringan, tapi lebih mematikan daripada anak panah atau mata tombak lempar biasa—kuharap kita juga akan dapat senjata seperti itu!” Diriku tersenyum pas ia melompat lalu mulai tarik-tarikan sama ikan di kolam. “Bisa jadi,” kataku kemudian cekak pinggang, “aku mungkin gugup karena sage kita sekarang ternyata seorang wanita yang sangat cantik.” “Sebagai sesama wanita, kuakui dia yang tercantik di zaman—eh, ya! Anda tidak takut kena omel istri memuji perempuan lain begitu, Tupa?” “Eh?!” Spontan aku sadar, diriku sudah beristri. “Benar juga, Saju. Hampir aku gak berani pulang ….” ***

Segenggam Cinta 'tuk Berlian

Islam

Di publikasikan 04 Nov 2025 oleh Bangun

Sebagaimana yang disampaikan dalam hadits jibril ketika malaikat jibril menjelma menjadi manusia dan bertanya tentang Islam Malaikat Jibril mengatakan: "Wahai Muhammad jelaskan kepadaku tentang Islam?" "Nabi ﷺ menjawab:" Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan haji ke Baitullah Al Haram jika engkau mampu mengadakan perjalanan ke sana.

Istilah-istilah dalam Islam

65 - Wajib Militer, Lagi?

Di publikasikan 04 Nov 2025 oleh Bengkoang

“Selanjutnyaaa!” Hari pertama di Bulan Tiga, 224 Shirena. Waktu di mana aku datang ke Kemah Militer Darurat dengan muka lesu dan aura gak semangat …. “Kau datang dari serikat?” “Ya.” “Mana kelompokmu?” “Di Barak Distrik Timur.” “Hah?!” Muka bingung dua tentara di depanku bisa kumaklumi. Pasalnya, pada buku besar di hadapan mereka diriku tercatat sebagai anggota Regu Bintang Pertiwi dari serikat pemburu Distrik Timur. Namun, surat panggilan yang kubawa menerangkan bahwa Saintess menempatkanku di kesatuan khusus bersama orang-orang pilihannya. Jika merujuk buku besar di sebelah kiri, surat di kanan perintah Saintess. Namun, bila menuruti surat tersebut maka kuota pada buku besar tak tercapai dan harus ada ‘sedikit’ pengaturan ulang. “Bagaimana?” tanyaku beberapa saat kemudian, ketika bosan menunggui tentara di meja registrasi debat adu argumen sekian pertimbangan tanpa hasil jelas. “Aku jadinya masuk ke mana?” “Tunggu!” timpal keduanya kompak, enggan mengalah dan menyudahi debat kusir di sana. Membuatku, yang kala itu sejak awal memang gak semangat, segera melipir lalu memberi isyarat pada orang di belakang. “Kau duluan saja, Saudara. Dua orang yang memeriksaku sepertinya akan lama ….” Selang beberapa waktu seseorang menemuiku, perwira menengah yang katanya baru dapat instruksi langsung dari Dewan Penasihat Tinggi Kuil Widupa. Ia bilang, diriku bebas memilih ingin masuk ke mana. “Kalau begitu aku mau ke Barak Distrik Timur ….” *** Malam hari, masih tanggal yang sama. “Mi!” “Oooi, Miii ….” “Saudara Mi!” Mark, Mita, Ken, dan Erik muncul dengan penampilan baru. Berjalan mendekati tenda Regu Bintang Pertiwi dalam balutan zirah gemerlap bak kena sorot lampu spot di panggung teater …. “Aku baru tahu kalian sene—” “Stop!” Tangan Erik sigap menyelaku. “Aku tahu penampilanku memukau, tapi ini bukan waktu yang tepat buat dirimu menyatakan kekaguman. Hehe.” “Dih.” Aku mendelik geli. “Siapa juga yang mau memujimu. Tadi itu aku mau bilang zirah kalian gak cocok sama bendera kita—tuh, lihat!” Mereka kompak mendongak ke puncak tenda, memperhatikan bendera yang lagi berkibar di atas sana. “Bintang Pertiwi masuk divisi penyerbu, batalion Yoram Anteloe di legiun Bura Namieri, Kepala Serikat jadi caupa kompi kedua, dan kita di sini cuma sampai regu pahlawan datang lalu memimpin kampanye ini.” “Bicaramu macam tanpa jeda, Saudara Mi.” “Aku cuma membacakan apa yang kudengar pas tadi sampai saja, Saudara Ken,” jelasku kemudian mengambil beberapa benda dari kotak yang sejak tadi kududuki, “ngomong-ngomong, persiapan yang kita bahas kemarin sudah selesai, ‘kan?” “Apa itu?” “Botol ajaib.” “Botol ajaib?” “Botol ini macam kantung dimensi yang biasa buat nampung banyak barang,” terangku sembari membagikan benda buatan murid-murid Saintess sama produk khasnya Kuil Widupa tersebut, “sudah teruji, kupakai sarang baru tawon-tawonku.” “Benarkah?” “Benda ajaib begini cocok buatmu, Mita.” “Ya, ya. Macam dirimu enggak butuh saja, Erik.” “Aku gak bilang enggak bu—eh! Kenapa botolmu kelihatan beda?!” “Oh.” Kuambil botol labu di pinggangku. “Ini? Dia kupakai buat jadi sarang tawon. Kan, tadi kubilang ….” Aku enggak perlu bilang blak-blakan kalau botol labuku sudah kumodifikasi sendiri ke mereka, ‘kan? Lagian gak semua hal kudu kujelaskan juga. Atau, haruskah? “Eh, ya! Bareng sama botol, di kotak itu juga ada token buat ambil zirah sama senjata besok pagi. Cuma kek-nya kalian enggak bakal butuh, deh.” “Dih, enak saja! Butuh, lah ….” Erik langsung mengembalikan botol ajaibku lantas melihat isi kotak bersama Mita dan Ken. “Kukira kalian sudah gak perlu gegara punya zirah mengkilat—” “Sembarangan!” timpal ketiganya sambil menoleh, kompak. Yang, segera didukung oleh kapten regu sebelahku. “Kita tetap butuh, Saudara Mi. Apalagi kita juga belum tahu seintens apa perang melawan Serindi nanti, ‘kan?” “Aku paham kalau maksudmu buat cadangan, Mark.” “Ngomong-ngomong, di laporan kemarin katamu tentara bayaran akan membantu kita, ‘kan, Saudara Mi? Aku iseng tanya kenalanku, dan kau tahu mereka bilang apa ….” Kuperhatikan penuturan sang kapten saksama, ingin tahu hasil penyelidikannya. “Mereka juga memberiku kartu nama serupa di lampiranmu.” “Benarkah?” “Ya, hanya beda grup. Kenalan-kenalanku mengirim kartu Kelompok Khimaira dengan Sphink.” “Dua kartu?” Satu alisku terangkat. “Tambah dariku kemarin, berarti ada tiga grup di ekspedisi seka—” “Kukira ada lebih!” timbrung Erik, selesai mengosongkan peti di belakangnya. “Aku sama si Ken juga didekati ‘agen-agen’ ini pas datang ke pertemuan serikat Distrik Selatan.” “Cuma, aku dan Erik langsung menolak mereka waktu itu. Kami tidak berpikir semua ini penting.” “Menurutku panggilan Saintess sekarang gak sesederhana judulnya,” tambah Mita, mengasongkan dua token bagiannya Mark. “Kalian setuju, ‘kan?” Kurasa takkan ada bantahan kalau soal itu …. *** Besoknya, tanggal 2 Bulan Tiga. Seluruh milisi yang datang hari kemarin selanjutnya dikumpulkan di lapang apel ‘tuk diberi perlengkapan, manual militer dasar bakal rujukan selama pelatihan sebelum hari keberangkatan ke Benua Timur, serta diperkenalkan kepada—sambil mendengarkan sepatah dua patah sambutan dari—bura-bura atau para panglima pada kampanye melawan Serindi ini. Seminggu kemudian, tanggal 9 Bulan Tiga. Bintang Pertiwi yang semula masuk kompi kedua di bawah panji serikat dipecah ke lima kompi berbeda lalu diberi pangkat tupa dengan dua upa dan satu peleton khusus. Alasannya hasil tes keahlian tempur kami melampaui atau di atas perkiraan semua orang, begitu. “Jadi ini unitkukah?” “Izin jawab. Benar, Tupa!” Aku menjuling dengar respons tersebut. “Karena kalian unitku ….” Jadi, kugerakkan tangan memanggil mereka mendekat. “Mari perjelas aturan main kita—kemari-kemari!” Kalian tahu, aku gak suka frasa komando militer lama yang apa-apa harus mulai dengan ‘izin’ sebelum kalimat atau keterangan berikutnya. Oleh sebab itu kusuruh mereka membuang kata tersebut selama di depanku …. “Mengerti?” “I—siap, mengerti!” “Gak usah teriak-teriak.” “Me-mengerti.” “Bagus ….” Selesai berkenalan. Peletonku selanjutnya kubawa ke satu bukit tak jauh dari kemah militer, memasang tenda, lalu kusuruh mereka mengamati latihan semua orang dan mencatat apa-apa saja yang terlihat dari atas sana. Sejak hari itu hingga bulan berikutnya, kegiatanku cuma rebahan sambil sesekali menerbangkan merpati. Tidak ada yang lain sampai …. “Suara apa ini?” “Ini panggilan kumpul, Tupa.” “Hem.” Kurentang tanganku, melakukan peregangan buat melemaskan otot sebentar, kemudian bangkit dan melipat kursi malas. “Suruh semua orang kumpul terus bongkar tenda-tenda kita ….” Tanggal 14 Bulan Empat. Gong besar berbunyi, tanda kumpul kalau kata salah seorang upaku, panggilan ‘tuk semua unit agar bergegas kembali ke kemah utama. “Siapa yang kebagian pegang gelas ikan?” Salah seorang prajurit angkat tangan. “Kau telat bangun apa kalah lomba lari?” “Lo-lomba lari, Tupa.” Ia pasang raut lesu pas rekan-rekannya tertawa, reaksi normal buat mereka yang telah mengikuti jadwal pelatihanku sebulan ini. “Aku tidak percaya akan kalah melawan Zadho.” “Gak penting.” Kuasongkan wadah ikan di tanganku ke mukanya. “Yang namanya kalah tetap akan disebut kalah. Pegang gelas ikanku sampai kita turun, kalau ia berenang terbalik tas teman-temanmu kau yang pikul.” “Mengerti ….” Meski wajah si prajurit tampak tidak semangat, aturan tetaplah aturan. Begitu dirinya masuk barisan, kami pun lekas turun gunung. Memenuhi panggilan yang tengah berkumandang …. ***

Segenggam Cinta 'tuk Berlian

64 - Agenda Saintess

Di publikasikan 04 Nov 2025 oleh Bengkoang

“Katamu gak mau terlibat kesumatku pada Serindi. Kenapa sekarang kuil widupamu malah kelihatan jadi yang paling semangat menghujat mereka, hah?” Naila, gadis di depanku, pasang muka polos waktu kusodori pertanyaan seputar tajuk ‘Naik Daun’ dengan isu ‘Panggilan Saintess’ di rubrik sama berita-berita terkait politik benua pada semua surat kabar Zona Netral. Matanya lincah mengerling sana-sini lalu kupingnya kerap pura-pura tidak dengar di sofa Ruang Kerja Kepala Roda Batu sana. Benar-benar bikin gemas …. “Perabot di ruanganmu boleh juga,” ungkapnya, mengganti topik dengan mengulas suasana ruang kerja Miki dan Soran ketika itu. “Padahal bulan lalu belum ada gantungan apa-apa di dinding sebelah sana.” “Ini bukan ruanganku. Terus juga, Roda Batu sudah mau efektif hampir dua bulan. Mana mungkin ruangan CEO-nya gak berubah setelah kami dapat pemasukan stabil, ‘kan?” “Benar juga—eh, ya! Kalau kau bukan kepala, terus apa peranmu di Roda Batu?” tanya sang saintess, topang dagu melihatku sambil merebah di depan sana. Hem. Kalian tahu, kalau bukan gegara dia merupakan penyewa Gerbang Kiri Baruke sekaligus sponsor utama usaha transportasi putriku di sini, diriku sebetulnya malas. “Cek! Saintess. Aku mulai bosan, bisakah kita sudahi basa-basinya terus pindah ke topik serius sekarang?” “Banyak telinga yang menguping ki—” “Rasa penasaran sama ingin tahu keluargaku sangat besar. Selama itu masih sekitar Baruke, di mana pun kita bicara tetap akan ada banyak telinga yang berusaha buat curi-curi dengar.” “Kau kuundang ke istanaku—” “Di sana gantian murid-muridmu yang mengupingi kita.” “Hem.” Ia kini melipat tangan. “Kau yakin mereka boleh menguping?” Kujulingkan mata menanggapi pertanyaan barusan. “Mereka keluargaku, korban Serindi, dan sekarang menjadi penduduk sementara zona netralmu. Bukan orang luar juga. Jika dirimu kemari memang bukan karena ingin bicara serius denganku, kenapa tadi kausuruh anak-anakku memanggilku kemari, Naila?” “Huh.” ‘Huh?’ Kalimat panjangku cuma dibalas ‘Huh?’ Aku tidak percaya ini …. *** “Bagaimana tadi, Paman—” Brak! Kugebrak mejanya tatkala Miki menemuiku begitu Saintess pergi, membuat si bocah sontak terperanjat lantas mematung di antara sofa dan ambang pintu Ruang Kerja Kepala Regu Roda Batu bersama semua orang yang mengikutinya ketika itu. Detik berikutnya. Kuayunkan telunjuk dari kiri ke kanan, isyarat agar mereka duduk di sofa, kemudian topang dagu dan pasang muka datar sampai orang terakhir kebagian tempat duduk. Saat suasana di sana cukup kondusif …. “Kalian dengar semuanya, ‘kan?” Miki dan para penyelia Roda Batu silih lirik sebelum mereka pelan-pelan mengangguk. “Bagus,” kataku lalu mundur dari meja dan berjalan ke dekat jendela, “Saintess akan mencabut izin usaha kita jika aku gak pergi ke barak bulan depan ….” Kugenggam pergelangan tanganku di belakang pinggang, mirip posisi istirahat di tempat—tapi lebih santai. “Ini merupakan krisis sekaligus sebuah peluang jika kita mau ambil risiko buat naik ke level berikutnya. Kalian tahu apa yang harus dilakukan selama diriku gak di sini …?” Kalian tahu, Miki dan para penyelia itu cuma bengong waktu kepalaku menoleh. “Oi! Kalian mengerti maksudku, ‘kan?” Mereka menggeleng, jujur. “Ya, ampun ….” Respons yang sontak membuatku geleng-geleng lekas kembali ke Meja Kepala Roda Batu tanpa harapan. “Hopeless-hopeless. Kalian betulan gak tahu harus melakukan apa pas Saintess sama seisi Kuil Widupa fokus ke kampanye melawan Serindi, ya? Benarkah? Oh, ayolah …. Kita ini menunggu kesempatan buat memonopoli lalu lintas di Dataran Tengah, ‘kan?” Miki dengan para penyelia kembali silih lirik. “Dengan jumlah orang yang berkumpul di sini mulai bulan depan besok sampai hari keberangkatan ke Timur tiga atau empat bulan berikutnya, menurut kalian berapa uang yang bisa roda batu kita petik untuk tiap kereta yang mereka sewa …?” Benar-benar. Setelah dibikin gemas oleh Naila yang sedang aji mumpung lewat tajuk naik daun hingga memaksaku masuk ke dalam rencananya demi rencana balas dendamku terhadap Serindi, hari itu diriku pun makin dibuat gemas sama orang-orang Roda Batu yang kekurangan ambisi hingga tidak melihat peluang di depan mata. Hadeuh …. *** “Seharian ini mukamu ditekuk terus. Ada apa?” Kuputar leher, mengusir pegal, sambil terpejam pas lihat Berlian membawakanku teh hangat. “Kata Miki kau tadi marah-marah di kantor, Sayang.” “Bukan marah—terima kasih, Sayang—tapi ngomel. Aku gemas anak itu sama pegawai-pegawainya gak peka kalau ada peluang emas di depan mata. Bulan depan bakal ada banyak orang yang datang kemari, jadi kusuruh mereka buat menghubungi semua hotel sama penginapan di sini terus pesan kamar sebanyak yang kita bisa.” “Pesan kamar hotel, buat apa?” Kutaruh cangkir tehku selesai kucecap. “Buat diiklankan sama kita sewakan lagi,” terangku pada Berlian, “Sayang, barak di luar delapan distrik hanya menampung mereka yang kena wajib militer, bukan keluarga atau kerabat mereka juga.” “Oh!” Mulut istriku membulat, dirinya kemudian mengambil benang dan jarum renda. “Aku paham. Pantas Miki masih kelihatan ceria pas membicarakanmu dengan Soran di beranda tadi. Aku sampai heran dirinya ini sebenarnya sedang mengeluh apa lagi memujimu, Sayang.” “Hem.” Aku menjuling. “Tentu saja, akan kukeplak kepalanya kalau anak itu gak belajar apa-apa dari omelan di kantor tadi. Bagaimana a—” “Eh, ya, Sayang!” Berlian menjeda kegiatan dan menoleh. “Maaf menyela, tapi bukannya mereka begitu juga karena permintaanmu, ya?” “Hah?” Mataku rada mendelik. “Maksudnya?” “Dulu. Katamu jangan terlalu terobsesi sampai ingin cepat-cepat memajukan usaha ini, ‘kan?” Hem, aku lupa. Sepertinya diriku memang pernah berkata begitu …. “Dirimu yang bilang pada Miki supaya dia lebih fokus memperbaiki kegiatan hariannya dulu, kalau masalah perusahaan katamu cukup sampai pemasukan stabil sama bisa melakukan perluasan bertahap saja, ‘kan?” “Kayaknya aku memang pernah bilang gitu, deh, Sayang.” “Nah. Berarti—” “Bukan berarti dia boleh melewatkan kesempatan emas macam begitu juga dong ….” Istriku tersenyum kemudian menggeleng, dirinya lantas melanjutkan kegiatan sembari menemaniku. “Kurasa kemarin dirimu tidak menduga jika Saintess akan memanggil penduduk benua kemari, benar, ‘kan?” “Ya.” Kugeser meja dengan tehku ke pinggir, setelahnya diriku lalu mendekat kepada Lian. “Gadis itu bilang kalau dirinya gak mau meminjamiku Belati Pasir terus jadi kambing hitam atas kesumatku pada Serindi. Eh, sekarang malah dia sendiri yang menjebakku supaya bergabung ke dalam rencananya melawan mereka.” “Bicara soal jebak-menjebak. Sayang, bukankah sebenarnya kau dengan teman-temanmu duluan yang sudah memaksa Nona Saintess mengambil langkah ini, ya?” “Kenapa kau berpikir begitu?” Berlian merebahkan diri ke badanku. “Macam sekarang,” ujarnya sembari terus merajut, “aku takkan bersandar ke badanmu kalau kau tak mendekat padaku barusan, bukan?” “Hem. Aku masih belum mengerti.” “Kau ini. Pura-pura apa sedang menggodaku biar bisa terus memelukku, hah?” “Hehe. Aku suka juling gemasmu, Sayang.” “Ya, iyalah ….” Tanggal 27 Bulan Dua. Apakah hari pembalasanku pada Serindi sungguh telah dekat? Saintess yang kemarin enggan membantuku kini malah memanggil penduduk benua dengan dalih menjawab jerit beserta tangis orang-orang timur. Bahkan, ia sampai mengaturkan situasi di mana diriku tak punya pilihan selain bekerja sama bersama kuil widupanya. Siapa sangka …. ***

Segenggam Cinta 'tuk Berlian

63 - Bibit Konspirasi

Di publikasikan 04 Nov 2025 oleh Bengkoang

“Ah! Kau sudah datang ….” Minggu keempat di Bulan Dua, 224 Shirena. Dua minggu sejak perburuan perdana Bintang Pertiwi serta satu minggu setelah nama kami mulai bergema di delapan distrik zona netralnya Dataran Tengah …. “Maaf baru bisa hadir hari ini,” tuturku, buru-buru melepas lalu mengaitkan mantel basah ke gantungan dekat pintu kemudian segera gabung bersama orang-orang di meja rapat. “Terima kasih. Aku sudah baca rangkuman pertemuan dua hari kemarin, kalian bisa lanjut dari poin sebelum diriku datang.” “Bagus. Mari lanjutkan dari poin permintaan Fujin, Linx, Gorgeo, Patu, Du dengan Ding. Serikat kita sedang naik daun sekarang ….” Naik Daun. Kata tersebut menjadi pembuka pada setiap rapat darurat serikat yang kudatangi, mulai dari serikat di Distrik Timur, Distrik Selatan, bahkan sampai ke serikat-serikatnya distrik kecil sekitaran perbatasan Kuil Widupa dengan Kerajaan Linx dan Fujin. Kata ini jadi penenang tersendiri hingga masalah pelik yang tengah kami hadapi ketika itu seolah-olah menyusut serta tampak tidak ada apa-apanya tatkala mulai dibahas. Alhasil, naik daun pun kini menjelma jadi semacam mantra penenang. Bukan tanpa sebab. Keberhasilan Bintang Pertiwi yang melompat dari kayu ke peringkat besi disusul promosi-promosi regu pemburu lain di banyak serikat setelahnya pada minggu-minggu inilah yang mengaminkan hal tersebut sehingga semua orang percaya angin kejayaan sedang berembus ke Dataran Tengah. “Dua pertiga Kerajaan Sun, seluruh Nadi, seperenam Rari, dua pertiga Tzudi dengan sepertiga wilayah Azura telah jatuh ke tangan Serindi. Dan, karena Zona Netral sepakat membentuk Aliansi Melawan Musuh Bersama, Nona Saintess khusus meminta kita ‘tuk mengirim pemburu peringkat besi sampai baja tempa ke Timur ….” Dengar sendiri, ‘kan? Masalah yang dibahas aslinya benar-benar dan sungguh sangat serius, tetapi wajah presenter di hadapanku sama sekali tak menunjukkan raut tegang. Sebaliknya, senyum tipis yang baru saja ia lempar selesai menandai peta pada papan besar di belakangnya seakan-akan berkata: Ini adalah kesempatan emas buat kita …. *** “Saudara Mi, kau masih di sini?” Kutoleh arah suara yang baru saja menegur, tersenyum, lalu mengangkat tangan menanggapi lambaian orang-orang di belakangnya sebelum mereka lanjut menjauh dan naik kereta masing-masing. “Ya. Mertuaku bilang beliau ada urusan di dekat sini, jadi diriku menunggu.” “Kurasa mertuamu dapat menantu yang baik.” “Terima kasih.” Aku bergeser ke kanan sedikit, memberi orang yang mendekatiku ruang buat duduk. “Diriku hanya sedang senggang. Atau, Anda boleh menyebutku tidak punya pekerjaan, Ketua.” “Aku kagum padamu,” timpalnya yang kemudian mengasongiku secarik kertas, semacam kartu nama dengan logo kepala singa dan tambahan sayap kelelawar. “Kudengar regu berburumu baru menyapu papan misi serikat kalian serta berhasil memecahkan rekor sebagai pemburu pendatang baru di kelas kayu dan batu terbaik.” Diriku cuma senyum menanggapi pujian tersebut. “Saudara Mi, diriku paham bila dengan kaliber seperti ini dirimu juga rekan-rekan di Bintang Pertiwi merasa pekerjaan dari serikat kurang menantang. Kalau mau, aku bisa menawarkan sampingan ….” Sekali lagi, diriku hanya tersenyum pas ia menunjuk kartu di tanganku pakai lirik sama gerakan kepala. “Baiklah.” Orang itu selanjutnya berdiri, memberi hormat, lantas undur diri. “Aku masih ada urusan di tempat lain, semoga harimu menyenangkan. Saudara Mi.” Begitu ia pergi …. ‘Sampingan.’ Kuperhatikan kartu pemberiannya sebentar. “Huh. Grup Mantikora. Perusahaan penyedia jasa tentara bayaran ulung dan tepercaya—” “Bagaimana menurutmu?” “Hah?!” Aku hampir jantungan tiba-tiba dengar suara Naila di sebelah. “Kau mengagetkanku, Saintess.” “Oh, ayolah ….” Gadis penguasa Kuil Widupa itu cuma terkekeh ringan lekas acuh tak acuh kemudian duduk di bangku sebelahku. “Diriku muncul dan hilang tiba-tiba bukan hal baru buatmu, ‘kan, Ure? Jangan bersikap seakan-akan ini kali pertama.” “Tadi memang kali pertamaku.” Ia menjulingiku. “Apa?” tanyaku kemudian, masih elus dada bekas kaget sesaat lalu. “Katakan apa maumu dan cepatlah pulang ke istanamu sana, aku bakal repot kalau sampai mertuaku melihat kita lagi bicara berdua begini.” “Dih. Memang kau siapa berani mengaturku segala, hah?” “Aku?” Kutunjuk muka sendiri. “Sohib leluhurmu dari zaman Chloria dengan Mirandi, artinya diriku masuk jajaran leluhur kuil widupamu. Paham?” “Ya, ya, ya. Aku paham. Orang Tua.” Sontak mataku mendelik dengar balasan si gadis muda. “Sudahlah. Diriku kemari bukan mau berdebat denganmu, Ure.” “Terus?” “Kau sudah lihat efek tajuk ‘naik daun’ di surat-surat kabarku, ‘kan?” Seketika, begitu dengar kata naik daun, pikiranku langsung fokus pada satu hal. Seluruh rumor dengan desas-desus mengenai Dataran Tengah yang hendak mendominasi dunia lewat gerakan Melawan Musuh Bersama atau Aliansi Anti-Serindi. “Hah ….” “Jangan cuma hela napas, Ure. Katakan sesuatu, kau sudah melihatnya apa belum?” “Sudah.” “Bagus. Kau akan ikut dalam rencanaku, bukan?” tanyanya dengan mata penuh binar, “bukan cuma membalas Serindi, jika membantuku kau juga akan dikenang sebagai pahlawan yang menyelamatkan benua.” Separuh omongan Naila benar. Surat-surat kabar juga antek gadis sebelahku ini jelas sangat sanggup buat menggoreng reputasi seseorang dari ujung barat hingga pesisir timur benua, tidak ada bantahan akan hal tesebut. Bila ingin cepat menyentuh massa, sejak dulu dukungan dari kuil widupanya mutlak diperlukan oleh para politisi Eldhera. Namun, diriku bukan salah satu dari mereka. Jadi …. “Kenapa aku harus ikut rencanamu?” Wajah Naila spontan masam. “Kau betulan takkan membantuku, Kek?” tanyanya lagi, dengan raut juga delik manja yang khas. “Tajuk naik daunku sudah membantu bintang pertiwimu menarik perhatian Pahlawan, ‘kan? Jangan bilang dirimu be—” “Berhenti di situ, Nona.” Kutunjuk muka sang Saintess, gemas. “Aku belum dengar apa rencanamu dan kau juga baru bicara lagi denganku sekarang. Bagaimana diriku bisa memberi keputusan untuk hal yang sama sekali tidak kutahu, mengerti?” “Hem.” Gadis itu melipat tangan kemudian lenyap dari pandangan. “Masuk akal. Kalau begitu kutunggu kau di istanaku, temui aku segera, Ure.” Begitu suara si empu Kuil Widupa berlalu, Ayah Mertua pun muncul menjemputku. “Menantuuu ….” *** “Kau gak bosan menunggu di sana sendirian, ‘kan?” Kuasongkan benda yang kudapat setelah pertemuan sebelumnya pada Ayah Mertua. “Apa ini?” “Seseorang memberiku kartu nama, Kepala Grup Mantikora dari Distrik Barat Daya ….” Selagi Ayah membolak-balik benda tersebut, kurapikan dudukku lantas bergeser ke pojok gerbong. Hendak menikmati pemandangan di luar jendela selama perjalanan pulang ke Distrik Utara tersebut. “Kurasa roda batuku memang akan butuh regu pengawalan khusus bila suatu saat ingin melebarkan sayap ke luar wilayah,” tuturku kemudian, lanjut memberi keterangan sebelum nanti ditanya-tanya. “Dan, orang yang memberiku benda itu mungkin layak jadi pertimbangan, Ayah.” “Memberimu kartu nama ‘tuk peluang kerja sama di masa depan.” Ayah mertuaku mengoper kartu nama tadi pada Ketua. “Orang ini memang punya pandangan jauh. Visioner.” “Aku belum mau memikirkannya, jujur saja.” “Kenapa?” “Anda belum baca koran hari ini, Besan. Saintess memanggil penduduk benua ‘tuk meredam krisis di Timur.” “Apa hubungannya?” “Macam kata Ketua, diriku akan pergi mewakili keluarga kita,” terangku, membantu Ketua Sekte bicara pada Ayah. “Jadi semua urusan di Roda Batu sementara nanti kupercayakan pada Miki sama Soran.” “Hem. Kau sungguh ingin balas dendam pada mereka?” “Apa lagi yang bisa kulakukan ….” ***

Segenggam Cinta 'tuk Berlian

62 - Bintang Pertiwi

Di publikasikan 04 Nov 2025 oleh Bengkoang

“Berhenti melotot padaku dan duduklah yang benar ….” Kutepis muka Erik agar menjauh pas ia menggangguku mengemudikan gerobak saat kami hendak kembali ke Dataran Tengah, pertengahan Bulan Dua, Musim Semi 224 Shirena. Ketika perburuan perdana regu berburuku selesai lebih awal daripada jadwal …. “Saudara Mi, matanya gak akan berhenti menatapmu sampai kau menjelaskan kenapa badak kemarin kita jual ke Bulan Biru padahal mereka hanya butuh tanduknya saja. Aku pernah ada di posisimu. Seminggu penuh dia terus menguntitiku dengan mata seperti itu, kau tahu.” “Oh, ya, Saudara Ken?” Aku menoleh dengar hal tersebut, senyum pada Erik di sebelah, lalu balik konsentrasi mengarahkan gerobak. “Dirimu akan mengerti setelah kita sampai ke Serikat, E—” “Gak mau!” timpal si pemegang anggar poni paruh beo, mulai mendekatkan mukanya lagi. “Aku akan terus menatapmu sampai kau jelaskan kenapa kita gak boleh bawa badak kemarin. Kalau alasanmu cuma regu ketiga, jurus anggarku bisa menyengat pantat mereka sekali ayun.” “Ini bukan soal jurusmu bisa ‘menyengat’ mereka, tapi kalau badak itu ngotot kita bawa pulang semua hewan eksotis yang sudah kau dan aku tangkap akan hilang. Mau, pulang dengan tangan kosong?” “Hah? Kok, bisa gitu?” “Kau akan tahu pas kita sampai Serikat ….” Aku tidak ingin menjelaskannya sekarang. Bicara sambil mengemudi begini merepotkan …. *** Kemarin petang …. “Bagaimana?” Tatkala Selena, penyihir tiga cincin yang menawar badak cula titanium kami, mengatakan harga tertingginya. “Lima keping emas per gram harusnya tidak buruk, bukan? Dua kali pasar, kalian tidak rugi bila mau menjual cula badak itu padaku di sini.” “Kami mengerti, tapi keputusan a—” “Lima keping emas per gram?!” Kalian tahu, Erik terus pasang gelagat tak percaya sejak Mark dengan penyihir wanita di depannya mulai bicara berdua. Bahkan, kalau bukan gegara Ken yang pegangi, dia berkali-kali mau mengacungkan anggar ke kelompok Selena. “Omong kosong! Jangan percaya, Mark! Lebih aman badak ini kita bawa pulang ….” Sampai pada klimaks negosiasi, dirinya tetap menolak bekerja sama walaupun sang kapten sendiri sudah setuju untuk menerima tawaran mereka. “Gak! Aku menolak. Lebih baik kita berkelahi saja sekarang.” Begitu katanya dengan anggar di atas kepala mengarah pada Mark. “Aku mengerti poinmu, tapi kita juga gak bisa membawa badak i—” “Voting!” tuntut Erik tiba-tiba, mengajukan banding dan perlawanan terakhir. “Kuyakin bukan aku saja yang ogah menjual badak di sana ke mereka. Ya, ‘kan, Ken?” Ken, waktu ditembak sohibnya begitu, hela napas lantas angkat tangan sebahu. “Kalian tahu sifatnya.” “Bagus. Dua menolak.” “Aku ikut keputusan kapten,” ujar Mita, pindah ke dekat Mark. “Jangan memusuhiku, ya?” “Ya, ya. Wanita selalu benar ….” Erik kemudian melihatku. “Aku?” Jujur, saat itu diriku pun sebenarnya ingin membawa badak kami pulang. Namun, pas ingat kelompok ketiga yang menunggu kesempatan menyergap di sekitar membawanya bukan pilihan terbaik. Jadi, “Jual.” “Apa?!” “Nah!” sambut Selena semringah, ia lekas mendekat bersama semua anggota Bulan Biru. “Kukira kalian sudah punya keputusan serta telah mufakat, benar?” “Aku gak mau menjualnya padamu.” “Sayang sekali, Pria Muda. Kelompokmu sepertinya tidak mendukung dirimu kali ini ….” Sejak itulah si pemegang anggar berponi beo terus memelototiku. Hingga kami keluar dari Hutan Purtara lalu mengambil gerobak dan kembali ke Dataran Tengah …. *** “Kita sudah di serikat ….” Satu minggu kemudian. “Sekarang beri tahu aku kenapa kalian mau menjual badak kita ke Regu Bulan Biru!” Kutengadahkan kepala ke langit sebelum meladeni Erik. Ia, pemegang anggar dengan poni khas bak paruh beo menutupi mata kanan ini, benar-benar persisten. Tidak mau melepaskanku dan terus melotot sambil menguntit macam yang dikatakan Ken. “Hah ….” Kuhela napas lelah, menggeleng dan berdecak, lantas merangkulnya. “Kau lihat papan di sana itu?” “Mading berita sama buronan serikat?” “Periksa daftar buronnya, gih … lihat dulu ke sana … jangan terus menoleh, kami gak bakal kabur.” Bukan hanya diriku, tapi kurasa Mark dengan Mita pun tahu akan rumor ini. Itu sebabnya mereka satu suara denganku minggu lalu, menjual badak cula titanium kami sekalian ke Regu Bulan Biru. “Bagaimana?” “Jadi, kau tahu kalau jal*ng kemarin sama kelompoknya dicari gegara tukang pe-ka?” “Mulutmu ….” “Apa?!” Erik menepis tangan Mita waktu ia mendekat hendak menyentil bibirnya. “Aku cuma kesal, lagi pula mereka memang pantas buat dimaki, ‘kan?” “Cek! Itu gak bagus buat pembaca kita, tahu!” Hem. Aku masih ada keperluan di tempat lain. Jadi mari biarkan si pemegang anggar sama supervisor Bintang Pertiwi kita dengan urusan mereka di depan mading sana. Mark dan Ken juga tampaknya sepemikiran …. “Saudara Mi, Kapten.” “Saudara Ken, Mark.” “Kita kumpul di kantorku lagi besok, setelah jam makan siang. Bagi hasil sama rencana berikutnya kita bahas di sana sekalian. Ken, Saudara Mi.” Usai bertukar salam, kami bertiga pun berpencar. Hendak kembali ke urusan masing-masing …. *** Minggu ketiga Bulan Dua, 224 Shirena. Perburuan perdana Bintang Pertiwi selesai. Seluruh target di daftar buruan dilaporkan, beberapa hewan eksotis yang kusisihkan kubawa pulang, lalu gerobak dengan kuda-kuda Roda Batu pun kukembalikan. Kemudian, selang dua hari dari laporan kami ke serikat, surat-surat kabar Distrik Timur ramai menulis pada headline berita mereka, ‘Regu Pemburu Dengan Potensi Luar Biasa Kini Telah Lahir di Benua ….’ Berita yang bikin geger seisi Dataran Tengah termasuk orang-orang rumahku tanpa kecuali …. “Berita macam apa ini?” komentar ayah mertuaku, mengacungkan koran pagi yang beliau bawa dari gerbang depan ke muka semua orang pas keluargaku duduk-duduk santai di beranda. “Kelompok pemburu baru naik ke peringkat besi di perburuan perdana. Mustahil. Mereka pasti menyuap pejabat.” “Peringkat besi itu kelas ce, ‘kan, Ayah Lian?” “Dari mana Anda tahu bila mereka menyuap? Bisa saja anak-anak ini memang punya bakat,” tanggap Ketua Sekte, menaruh cangkir teh lantas mengulurkan tangan pada Ayah Mertua. “Coba lihat, Besan ….” “Tidak ada yang mau menjawabku, tah?” “Kau benar, Bocah,” timpalku menanggapi Miki, kasihan. “Peringkat besi itu kelas ce, bintang dua, dan boleh berburu bersama regu-regu lain atau membentuk kelompok berburu besar.” “We, Paman. Kau tahu soal kelas sama peringkat pemburu?” Kini aku menjuling dengar balasannya. “Menurutmu?” kataku lantas kembali pada kegiatan semula, memberi makan Oren dan Ijo bersama primata-primata baruku di tepas tersebut. “Begini-begini aku pernah kerja bareng pemburu sama serikat, loh, ya.” “Katanya formasi regu mereka seorang pendekar berpedang besar, seorang pendekar pemegang anggar, satu orang penyihir penyembuh, satu orang pengguna mantra api, dan satu orang lagi seorang penjinak. Kombinasi tempur petarung jarak menengah dengan fokus pertahanan juga serangan melebar.” “Lihat wajahmu, Ketua. Apa kau tertarik pada mereka?” “Tentu saja!” jawab ketua sekteku semangat, “Besan, Anda juga pasti sudah bisa menebak as di regu ini adalah penyihir api dengan pemegang anggar mereka, bukan?” “Buat apa kau tanya itu?” “Ayolah, berhenti pura-pura di depanku. Tiga pendukung di regu baru ini menjadi jangkar ‘tuk pertempuran jangka panjang. Jangan bilang Anda tidak tahu?” “Aku tahu. Cuma ….” Kalian tahu, kini mataku curi-curi pandang dengar obrolan Ayah dengan Ketua Sekte. Dua orang tua itu mengulas formasi regu di koran tadi bak penonton sepak bola yang baru selesai menonton pertandingan tim kesayangan malam sebelumnya. Heboh, terus penuh dengan bumbu gestur nan lucu. Dan, sebagai salah seorang dari yang lagi mereka bicarakan pada waktu itu. Tanpa sadar diriku mulai geli sendiri …. ***

Segenggam Cinta 'tuk Berlian

Muqoddimah

Di publikasikan 03 Nov 2025 oleh Bangun

بِسْمِ اللَّهِ الرحمن الرَّحِيمِ Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimussholihat Segala puji bagi Allah, zat yang menciptakan seluruh makhluknya di langit dan di bumi. Shalawat serta salam kita sampaikan kepada manusia terbaik yang Allah ciptakan untuk menjadi contoh teladan bagi manusia seluruhnya sampai akhir zaman, manusia terbaik yang membawa agama yang Allah ridhoi, membawa satu-satunya agama yang akan menyelamatkan kita di dunia dan di akhirat. Dalam buku ini, kita akan membahas istilah-istilah yang sering kita dapatkan di dalam syariat Islam. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah kepada penulis, dan kepada semua pembaca buku ini. Semoga Allah memberikan ilmu yang bermanfaat kepada kita semua. Allahuma amin

Istilah-istilah dalam Islam

61 - Buruan

Di publikasikan 22 Oct 2025 oleh Bengkoang

“Kerja bagus.” Minggu pertama Bulan Dua. Perburuan perdana regu pemburu baruku berjalan mulus, sangat mulus—bahkan. Saking mulusnya, sembilan puluh sekian persen daftar target di tangan Mita sudah tercentang dan gerobak-gerobakku kini penuh sama buruan hidup yang siap kami bawa pulang. Hanya kurang satu …. “Badak cula titanium, di mana kita bisa menemukan hewan ini?” “Apa di kertas itu gak ada keterangannya?” tanyaku, selesai mengikat tali gerobak buruan yang kusisihkan buat koleksi pribadi. “Ayo perjelas bagi hasil perburuan kita sekali lagi, bagianku plus ongkos gerobak-gerobak ini gak bakal kutagih. Asal—” “Semua hewan di gerobak khusus satu sebelahmu itu kau bawa pulang,” sambung Erik, cekak pinggang dekat gerobak buruan kami. “Dirimu sudah mengatakannya belasan kali. Saudara Mi ….” Ia mendekat. “Katakan padaku, kau sebetulnya mau melakukan apa terhadap hewan-hewan di gerobak i—” “Dia penjinak, Erik.” “Nah!” Kutunjuk Ken karena membantuku. “Aku mau membiakkan mereka. Pas usahaku nanti berhasil, kita jadi gak perlu repot keluar buat memburu mereka lagi, ‘kan?” Ting! Chloe mengirim notifikasi, hewan-hewan di Eldhera juga dari semua kanal yang pernah kudatangi telah dibiakkan di Kantong Hati Naga 2.3—nomor seri menara-menara dalam kantung ajaibku, 2.1 ‘tuk klasifikasi batuan; 2.2 flora atau tumbuhan; dan, 2.3 buat fauna. ‘Alasan, Chloe,’ balasku lewat telepati, ‘biar mereka gak curiga pas nanti lihat di rumahku ada banyak hewan-hewan aneh sama langka ….’ [Oh!] Begitu tulisnya lantas mengirim emotikon senyum. Ting! Balik ke Bintang Pertiwi. “Jadi, bisa ‘kan mereka kubawa ke rumah?” “Hewan-hewan kecilmu gak biasa.” Mita, supervisor perburuan perdana ini, garuk dagu sambil membungkuk dan cekak sebelah pinggang memeriksa kerangkeng binatang-binatang mungil di gerobakku. “Mi, apa mereka betulan mahal kalau dijual pas masih hidup?” “Bukan cuma mahal!” sambarku semringah, reaksi spontan sebab dapat pertanyaan yang kusuka. “Jika mereka berhasil dibiakkan, tren hewan peliharaan para penyuka binatang bisa kita rekayasa sesuka ha—” Oops! Kututup mulutku segera, sadar seringai kelompokku pas dengar hewan-hewan di gerobak sana mampu memanipulasi pasar hewan peliharaan menakutkan. Macam psikopat baru dapat tumbal …. *** “Ini tempatnya?” Dua hari kemudian …. “Tawonku bilang makhluk itu di jantung hutan.” Saat kelompokku berhasil menemukan lokasi badak cula titanium. “Cuma, kita belum bisa masuk sekarang.” “Hah? Kenapa?” “Ada pemburu lain di seberang sama kanan kita,” jelasku lalu toleh kanan kiri, memeriksa sekeliling sebelum lanjut meladeni Erik, terus berbalik dan menghadap pada semua orang. “Kalau maksa jalan sekarang, dia—maksudku si badak, bakal kabur ke arah mereka.” Aku lantas jongkok dan menggambar denah kasar posisi kami di tanah. “Gini …, jadi daripada masuk hutan terus bikin saingan-saingan kita untung, mending gali perangkap di sini sama tunggu mereka ngegiring makhluk itu kemari.” “Oh.” Mulut pemegang anggar sebelahku membulat, sedang tiga sohib di kiri dan seberangnya mengangguk-anggukkan kepala. “Aku paham ….” Tampaknya presentasiku jelas. Aku senang mereka tipe rasional yang bisa diajak kompromi …. *** Setengah jam kemudian. Ketika lima lubang sedalam betis hingga lutut dirangkap jaring berpenutup rumput tambah daun-daun kering telah siap ‘tuk ‘menyambut’ buruan kami …. “Hoi, Mi. Kenapa dia berhenti?” Kuangkat bahu sembari mendorong dua tangan naik ke pundak menanggapi delikan Mita di sebelah, tak tahu kenapa buruan kami tiba-tiba berhenti tepat di depan salah satu lubang yang kelompokku gali. Aku betulan tidak tahu. Ini benar-benar kali pertamaku lihat adegan begitu—kalau kalian percaya. Makhluk putih dengan tanduk di atas hidung itu maju mundur, menoleh, lantas mengejar ujung ekor macam anak anjing pas main di halaman. Kebayang? “Kau yakin dia belum menyadari jebakan kita, kan?” Kulambaikan tangan merespons pertanyaan tersebut, isyarat pada Erik dan Ken supaya bersiap dengan rencana kedua juga sekalian memberitahu Mark agar segera menggunakan keahlian uniknya. Segera …. “Sekaraaang!” Ketika waktunya pas. Diriku melesat bersama Mita mengikuti Erik dan Ken, sementara Mark seketika melompat lantas merapatkan tangan sambil merapal getaran yang sontak menahan kaki lalu menarik tubuh buruan kami ke salah satu lubang bak undur-undur sedang menarik mangsa di kawahnya—kemampuan unik nan menakjubkan. Yang, sigap dibalas dengking disusul terjangan bumerang dari arah berlawanan. “Berhenti kaliaaan!” “Mi, menunduk—huaaa!” Ya. Bisa kalian tebak. Mereka salah satu regu yang kusebut di awal tadi. Alasanku, Mita, Ken, sama Erik cepat-cepat pasang badan buat jadi pagar manusia pas Mark mengurus badak di belakang adalah fakta bahwa mereka sewaktu-waktu mungkin akan menyergap kami macam sekarang. Melempar bumerang besar yang baru saja dihalau gelombang suara oleh mantra jeritan Mita …. “Siapa kaliaaan?!” pekik seseorang dari seberang, muncul dari sela-sela siluet atau bayangan pohon di depanku dan semua orang. “Kami Regu Bulan Biru dari Serikat Pagar Putih, kenapa mencuri buruan kami?” “Omong kosong!” timpal Erik, pasang kuda-kuda memapak mereka. “Kalian gak lihat lubang-lubang di sana, hah? Jelas-jelas badak ini buruan kami.” Mengikuti si pemegang anggar. Aku dan Ken lantas memanggil koloni tawon dan merapal mantra cincin api serentak. Sementara Mita, kala itu sudah mundur untuk ‘menunggui’ lubang tempat badak kami terperangkap sekaligus membantu Mark di belakang. “Ayo perjelas situasi kita,” kataku, mengarahkan mata kelabang merah dan sengat para tawonku ke arah para penyergap. “Kami sudah melacak badak ini sejak meninggalkan Dataran Tengah dan masuk wilayah Purtara, menurut aturan Serikat kita tidak perlu bertikai jika buruan sudah ditandai oleh regu lain, bukan?” “Bacot!” sahut salah seorang dari mereka, pemegang pedang tulang besar. “Aturan pemburu dibuat oleh para pemburu. Kita pakai cara lama, maju—” “Tunggu!” Entah ada apa, tapi salah seorang dari para penyergap itu—wanita dengan topi runcing tinggi sama jubah biru gelap khas para penyihir—tiba-tiba menjeda kawan-kawannya lalu mendekat. “Regu bulan biruku adalah pemburu kelas baja, kami membutuhkan badak cula titanium kalian untuk naik ke baja tempa.” Dengar itu, Ken menurunkan kuda-kuda kemudian maju satu langkah. “Apa kau sedang—” “Benar!” timpal si wanita tanpa sedikut pun ragu atau sungkan, menyela seakan sudah tahu apa isi kepala sang penyihir api berambut merah tanpa perlu ia katakan. “Sebutkan harga kalian dan akan kugandakan ….” Kalian tahu, adegan macam begini mengingatkanku pada banyak kejadian di masa lalu. Ketika dua orang bertemu di jalan secara kebetulan, sama sekali belum saling mengenal dan tanpa ada niat apa-apa sebelumnya, kemudian melakukan sebuah transaksi tak terduga. Arogansi tidak biasa, percaya diri tinggi, tambah aura campur tekanan status serta latar belakang terasa dominan meski belum diungkapkan. Aku suka wanita ini. Cara ia menyeret kami ke ruang negosiasi persis orang-orang (serikat) dagang berpengalaman …. ***

Segenggam Cinta 'tuk Berlian

60 - Perburuan Perdana

Di publikasikan 19 Oct 2025 oleh Bengkoang

“Gak telat, ‘kan?” “Sepuluh dua satu, sembilan menit lebih awal dari janji temu kita.” “Syukurlah ….” Hari pertama Bulan Dua, 224 Shirena. Tanggal perburuan perdana Regu Bintang Pertiwi dari Distrik Timur …. “Semua orang sudah kumpul. Erik, mana kertas misi yang akan kita ambil hari ini?” Erik, pendekar anggar dengan poni melengkung ke kanan bak paruh beo, mengeluarkan setumpuk kertas dari dalam tas. Bisa kalian tebak berapa jumlahnya? Yup! Kurang lebih. Tebalnya hampir menandingi HVS baru beli. Mataku sampai terbelalak dengar bunyi mereka pas mendarat di lantai gerobak. Dug! “Kau gak salah, Erik?” “Salah?” Ia lantas menggeleng. “Aku mengambil misi semua jenjang. Mulai pemula sampai profesional, tidak ada lagi kertas di papan tugas selain yang kutunjukkan pada kalian sekarang.” “Sebanyak—” “Perburuan perdana harus spesial!” soraknya semangat, “terus, juga harus menjamin pamor kita bakal langsung meroket sampai menembus langit dan melanglang buana di luar angkasa.” “Kau terlalu semangat,” timpal Ken, “lagi pula, tidak ada ruang angkasa di Eldhera.” “Tahu, tapi aku lahir di Bumi yang percaya planet sama luar angkasa.” “Bisakah kalian lebih fokus?” “Si Ken yang mulai, Mita.” “Aku cuma mau meluruskan informasi. Salah?” Aku tersenyum lihat tingkah mereka dalam hati, lalu timbul rasa usil pada benakku seketika. “Aku penganut bumi datar.” “Nah!” Telunjuk Ken mencuat spontan, menunjukku antusias. “Bumi bola itu teori konspirasi. Semua foto dan video yang kita lihat di berita sama film soal planet lain cuma sains fiksi.” “Ngomong-ngomong soal fiksi, kita juga hidup di dunia fantasi.” “Jangan kau tambah lagi, Mi.” Mita menyikut lenganku. “Dua orang di sana sudah membuatku pusing dengan segala macam teori dunia dan kehidupan materialis yang katanya ‘sekadar’ ilusi ….” Ia menjuling sambil membuat tanda petik pakai gerakan jari. “Daripada meladeni mereka, lebih baik bantu aku pilih misi paling mudah sama cepat membuat kita terkenal.” “Kurasa Mark lebih jago soal memilih,” timpal Erik, angkat tangan bersama Ken. Yang sontak didukung orang sebelahnya. “Setuju.” “Aku percaya banyak hal perlu waktu sama butuh proses,” kataku lantas mundur lalu bersandar ke pinggiran gerobak, “kenapa gak ambil semua saja? Toh ….” Kutarik selembar kertas acak pakai Benang Pandora. “Monster paling bahaya di daftar serikat skalanya cuma rusa tanduk petir. Bisa kita jatuhkan dengan beberapa pukulan atau kita tangkap hidup-hidup buat dibiakkan terus jadi persediaan.” “Hem.” Mita melirikku dan tersenyum. “Ide membiakkan ini bagus juga.” “Aku suka percaya dirimu, Saudara Mi. Kita lakukan pakai cara itu. Erik, kau setuju denganku, ‘kan?” “Tanya si Mark, dia kaptennya. Cuma, karena si Mi bilang begitu, berarti tindakanku membawa semua kertas misi di perburuan perdana kita sudah benar.” “Ya, ya, kau benar sudah melakukannya. Puas?” “Sudah.” Mark selesai memilah kertas misi jadi beberapa tumpuk. “Dari paling dekat sampai terjauh, kita bisa menyapu semua sekali jalan.” “Haha. Bagus! Sebagai anggota tercantik di kelompok, aku a—” “Stop!” Ken dan Erik kompak mengacungkan tangan ke muka Mita. “Kami tahu apa yang mau kau lakukan. Sebaiknya jangan ….” Perburuan perdana. Mari lihat apa yang bisa kelompok ini lakukan …. *** “Paman Mi.” Bulan lalu, di Kantor Roda Batu, Gerbang Kanan Baruke. “Apa?” Aku menoleh ke belakang. Kulihat Miki bersama seorang wanita muda—yang, ketika itu tak langsung kukenali bahwa ia adalah Mo Lin. “Siapa ini?” Kujeda kegiatanku, baca harian pagi, lalu mundur dari sofa buat menyapa mereka sebentar. “Hallo, aku Mi. Apa dia pacarmu, Bocah?” “Paman Mi!” Miki melotot, sedang gadis sebelahnya hanya terkekeh. “Kau betulan gak kenal dia ini siapa?” Kugelengkan kepala bingung. “Sia—tunggu! Giok di pinggangmu … ah, aku tahu!” “Bagus. Kau butuh waktu buat mengenali Mo—” “Kau murid Belukar Semak!” tebakku riang pagi itu, “hah. Kurasa aku tahu alasanmu datang kemari, saudari seperguruanmu ada di ….” Aku berhenti bicara pas lihat wajah Miki. “Paman Mi. Apa kau serabun itu sampai gak tahu siapa yang lagi berdiri sebelahku? Dia ini Mo Lin, Mo Lin.” “Mo Lin?” Seketika, kepalaku mundur sesaat kemudian mendekat buat memastikan omongan si Bocah. “Mo Lin. Kau Mo Lin tunangan saudara seperguruanku?” “Maaf tidak langsung memberitau Anda, Leluhur—” “Hayyah! Kau sudah tinggal bersamaku cukup lama, kenapa malah memanggilku leluhur lagi?” “Paman Mi, Mo Lin akan pergi besok.” “Hah?” Aku terbelalak. “Pergi, pergi ke mana?” “Sekteku sedang menghadapi krisis. Ketua memanggil para murid untuk kembali ke perguruan segera. Karena itu ….” Mo Lin memberi hormat. “Diriku rencananya akan berangkat ke Tianwu besok pagi, Leluhur.” “Eh? Kau bisa pergi sesukamu, tidak perlu bersikap formal begini. Jangan panggil leluhur, kau saudari iparku.” “Panggilan pulang ini bukan perintah biasa, Paman Mi,” tambah Miki, ia mendekat lantas menjelaskan situasi gadis itu sambil berbisik. “Kau tahu, Paman, sektenya memaksa Mo Lin agar menjadi ….” Mataku membelalak tiap kali dengar detail pada penjelasan si bocah. Mo Lin bukan sekadar dipaksa pulang, tapi juga harus mengorbankan diri demi menyelamatkan Sekte Belukar Semak di tengah krisis mereka. Masalah pelik yang selanjutnya jadi bahan pikiran Saudara Seperguruan Qin hingga dua hari kemudian …. “Aku tidak bisa membiarkannya, dia calon istriku. Mana mungkin kurelakan dirinya begitu—” “Terus dirimu mau apa, hah?” tanyaku pas menemani si calon ketua sekte plontos main catur, “Mo Lin pulang naik kereta kemarin sore, kalau mau menyusul kau butuh tunggangan yang bisa lari secepat Pelangi-ku.” Saudara Seperguruan Qin berhenti mondar-mandir, menoleh, lalu mendekat. “Junior, kau barusan bilang …?” “Aku gak bilang apa-apa.” “Pinjamkan Pelangi-mu padaku, Junior. Aku akan menyusul calon istriku hari ini—tidak, sekarang juga!” “Percuma!” Kupalingkan badan ke arah lain. “Burung purba satu itu makan banyak, dia menghabiskan belasan kilo dalam seminggu. Kalau mau awet, harus sekalian bawa beberapa sarang tawon terus ….” Kalian tahu, saudara seperguruan plontosku ternyata sudah lenyap waktu diriku menoleh. Dan saat kuperiksa ke kandang, ia betulan membawa Pelangi bersama semua sarang tawon di sana. “Cek! Aku belum bilang kalau tawon-tawonku baru kehilangan ratu lama mereka.” Aku selalu ingin ketawa pas ingat kejadian hari itu …. “Kenapa kau senyam-senyum sendiri, Saudara Mi?” Kembali ke hari ini, perburuan perdana Bintang Pertiwi. “Apa dirimu tidak sengaja menghirup racun monster bunga di sana, hah? Kemarikan tanganmu—” “Aku baik-baik saja.” Sigap kutarik kembali lenganku lalu menggeleng menanggapi Erik. “Barusan … cuma kebayang hal lucu,” kilahku lantas merayapkan ratu tawon baru dari bahu ke punggung tangan, “Cantik, lihat bunga besar di sana itu, ‘kan? Ayo, bawa teman-temanmu buat menyerbuki dia—sana!” Begitu ratu tawon kulepas ke udara, koloni yang menunggu di sekitar segera lepas landas kemudian menyerbu bersama sang ratu. Mengepung buruanku dalam formasi deru nan menggigilkan badan hingga ke tulang …. ***

Segenggam Cinta 'tuk Berlian

59 - Sebelum ke Benua Baru

Di publikasikan 19 Oct 2025 oleh Bengkoang

“Pagi, Sayang.” “Pagi. Tumben, mukamu cerah.” Kukecup kening istriku lantas ikut duduk di meja makan bersama semua orang. “Punya istri cantik, putri yang manis, mertua ….” Kutoleh ayah Berlian terus senyum. “Dermawan dan sangat pengertian, lalu ketua sama saudara seperguruan bisa diandalkan. Apa lagi yang kurang di hidupku?” “Kau belum menyebutku, Paman Mi!” sambar Miki, mengacungkan tangan dari ujung meja. “Apa gak mau memanggil calon menantu yang baik dan penurut ini?” “Ah!” Kutunjuk dirinya ceria. “Kau bocah comblang yang mempertemukanku dengan Nyonya Mi—” “Hahaha.” Semua orang tertawa, kecuali Miki. Ia cemberut sebentar lantas mengalihkan diri pada mangkuk dan makanan di depannya …. *** Tanggal 24 Bulan Pertama, sehari usai dengar kabar bila jalan ke Benua Baru terbentang di utara. “Apa Saintess ada?” “Nona Saintess sedang—” “Ini masih pagi, Ure,” tegur suara perempuan dari belakang, Naila. “Tidak apa-apa, dia tamuku … aku akan berkeliling distrik, kau boleh mengikutiku kalau mau.” Karena hari itu diriku tidak punya kerjaan, plus ada yang mau kubicarakan dengan gadis ini, aku pun naik ke punggung Pelangi. “Aku akan mengikutimu ….” Sesaat kemudian, di perjalanan menuju Alun-Alun Distrik Barat. “Kudengar kau mendaftar ke serikat kemarin, apa benar?” tanya sang Saintess dari tandunya, membuka topik dengan kegiatanku hari kemarin. “Katanya, kelompokmu sekarang isinya para pemburu veteran.” “Mereka penyintas era Chloria.” Kusesuaikan laju Pelangi sejajar dengan tandu milik Naila. “Yang, kau tahu, pernah dipanggil oleh Kaisar Brave.” “Mereka masih ada?” “Setahuku sisa empat orang, yang mendaftar jadi pemburu bersamaku kemarin.” “Oh. Kukira mereka semua punah pas perang besar Kyongdokia—Jian Seng, ternyata masih ada yang bertahan sampai zaman ini.” “Bahasamu ….” Aku menjuling, rada delik sebetulnya, ke arah tandu si saintess. “Kau pikir mereka binatang?” “Eh?” “Punah,” jelasku rada sebal, “cari kata lain yang lebih halus sama enak didengar. Aku kesal kaupakai istilah itu buat merujuk manusia, Naila.” “Ya … apa kata lain yang bisa mengganti situasi macam kematian massal?” Aku berpikir sejenak. Ada kata binasa, habis, langis, musnah, rembas, tumbas, tumpas, sama tumpur. Namun, rasanya aneh kalau mereka dipakai buat ganti punah di kalimat Naila. “Hem. Ada tamat riwayat, tapi masih kurang kena.” Sayang, diriku tak menemukan diksi lain buat mengganti kata punah tadi. “Kurasa di konteks ini aku yang terlalu sensitif. Kau benar.” “Tamat riwayat bisa dipakai. Ehem! Begini, ‘Kukira riwayat mereka benar-benar sudah tamat pas perang besar Kyongdokia—Jian Seng, siapa sangka masih ada yang bertahan sampai zaman ini.’ Bagaimana?” “Apa itu penting?” “Kau yang mulai tadi.” “Ah, iya.” Kuanggukkan kepala setuju. “Agak maksa sih, tapi lumayan.” “Bagus. Sampai mana tadi?” “Tadi?” Kulirik riwayat obrolan di atas sekilas. “Oh, ‘… bertahan sampai zaman ini.’” “Ya. Kupikir mereka—kenapa rasanya kita cuma berputar-putar di situ, Ure?” “Eh?! Benar juga.” “Akh! Intinya aku kaget para penyintas itu masih ada, titik. Jangan diputar-putar lagi!” Aku garuk pipi dengar protesnya. “Jadi apa rencana kalian, Ure?” tanya Naila kemudian, melanjutkan topik sesaat tandunya berhenti guncang-guncang gegara ia tadi kesal. “Aku yakin dirimu takkan memilih serikat kalau cuma buat urusan sepele, apalagi empat orang yang kita bahas sekarang akan lebih aman jika terus sembunyi di balik bayangan. Benar?” “Benar, tapi masuk serikat bukan ideku.” “Hah?” “Aku awalnya minta tolong empat orang ini untuk menyabotase rencana Serindi soal pintu dunia lain, sekalian mencari cara buat mengembalikan mereka ke kanal asal. Pikiranku waktu itu, menyelinap di antara gerakan pasukan Serindi bukan hal sulit dengan keahlian bawaan sistem milik para penyintas.” “Terus kenapa kalian malah mengekspos diri?” “Salah seorang di antara mereka percaya bahwa cara membersihkan gulma adalah dengan mencabut hingga ke akar-akarnya, jadi daripada sekadar sabotase terus memberi kesempatan kedua kenapa gak kami rancang situasi di mana Serindi hanya punya satu pilihan tanpa ada peluang bangkit lagi.” “Dan apa itu?” “Yakni menyerah pada ambisi dominasi mereka.” “Bwahaha!” Saintess terbahak. “Menyerah pada mimpi dominasi mereka—lucu! Ini sangat lucu, benar-benar lucu, Ure. Hahaha ….” Ya. Aku juga begitu pas dengar saran Mark dkk. kemarin. “Bagaimana jika kubilang dengan menyeberangkan Barat ke Timur macam yang kulakukan pada Matilda?” Naila sontak bungkam. Aku tahu benar para saintess punya kebiasaan mencatat sejarah dengan detail lalu mewariskannya sebagai kisah untuk bahan belajar saintess-saintess berikutnya. Jika Naila tahu soal para penyintas dari masa perang Kyongdokia melawan Jian Seng di era Chloria, mustahil dirinya tidak tahu apa yang terjadi pada periode Mirandi, bukan? “Kau sedang membual, ‘kan, Ure?” “Kenapa kau berpikir begitu?” “Menyeberangkan Barat ke Timur bukan sekadar butuh niat, tapi juga sokongan logistik berat tambah sumber daya manusia terlatih. Bagaimana kalian akan melakukannya dengan kekuatan lima orang. Mustahil.” “Kau benar. Empat orang penyintas zaman Chloria tambah diriku mustahil memaksa Barat bergerak ke Timur tanpa sesuatu yang besar, apalagi pasangan penyintas dan sage tambah pahlawan zaman ini masih ada.” “Lantas kenapa dirimu terdengar sangat percaya diri?” Kudongakkan kepala bangga sebelum menjawab Naila. “Pertama, aku punya dirimu. Saintess sekaligus satu-satunya suar sihir glorian.” “Apa maksudmu?” “Menyeberangkan Barat ke Timur cuma bisa dilakukan lewat satu jalan, yaitu Dataran Tengah, benar?” “Jangan bertele-tele, langsung beri tahu aku!” “Akan kupancing regu pahlawan tambah penyintas dunia lain bersama pasangannya kemari—” “Aaah!” Kudengar sorak panjang dari arah tandu. “Kau mau bikin gara-gara di wilayah kuilku. Sialan.” “Dengan kemunculan regu baru yang lebih mendominasi daripada pahlawan bersama rengrengan-nya, kurasa sulit buat menemukan tempat terbaik selain kuil widupamu. Naila, Bintang Pertiwi cuma akan tinggal di sini sampai kuping pahlawan panas dengar nama kami. Setelah itu aku dan empat orang tadi akan langsung pergi.” “Itu yang kubenci dari kalian,” keluhnya, “kenapa tidak sekalian lambungkan pamorku sampai ke ujung—” “Ya, lalu menyebarkan delusi utopiamu ke seluruh benu—” “Hei!” Ia memekik dari dalam tandu. “Utopiaku bukan delusi, ya! Enak saja! Kau lihat sendiri semua ras yang hidup di sini berada dalam harmoni—har-mo-ni!” “Selama masih di wilayah delapan distrikmu, ya!” timpalku sembari menoleh ke tandu Naila, “semua tampak baik-baik saja dan berada dalam harmoni macam yang kau bilang. Namun ….” Kutengadahkan kepala sejenak lantas tanya, “Pernahkah dirimu mengintip ke luar tembok utara atau selatan?” Tidak ada sahutan, jadi kulanjut narasiku. “Bertempur sudah merupakan naluri alami bangsa monster. Sulit mengubah itu dalam tempo singkat walau kaupaksa sedemikian rupa ….” Ya, aku pun gagal melakukannya dan beralih dengan mempelajari mereka bersama Letta. Simpulan kami ialah tak perlu ada utopia, melainkan cukup sediakan wadah di mana makhluk-makhluk buas ini mampu melaksanakan peran tanpa takut gangguan pihak luar—atau, pada kasus kami kala itu, manusia. Makhluk yang katanya memiliki akal dan dianugerahi kemampuan berpikir, tapi kerap hanya ia gunakan ‘tuk memikirkan diri mereka sendiri. Egois. ***

Segenggam Cinta 'tuk Berlian

58 - Serikat Petualang

Di publikasikan 19 Oct 2025 oleh Bengkoang

“Kau yakin kita mau mendaftar jadi pemburu di sini?” Semua orang kompak menoleh Mark dengar pertanyaan Erik. Pria jangkung itu lantas menegapkan badan, merapikan postur sebagai tanda kebulatan tekad sebelum kakinya lanjut melangkah menuju pintu gedung di hadapan kami. Sedang diriku dan tiga orang lainnya, menyusul usai silih lirik sama saling timpal pakai gerakan bahu. Minggu keempat Bulan Pertama 224 Shirena …. “Anda berlima satu kelompokkah?” “Ya. Aku seorang tanker, Erik damage dealer, Ken mage, Mi dan Mita support.” Resepsionis melongo dengar penuturan Mark. “Maksudnya orang ini pengguna pedang besar,” jelasku, menggeleng di depan meja resepsionis. “Sebelahnya pemegang anggar, yang itu penyihir elemen, terus wanita di sana penyembuh, terakhir aku seorang penjinak. Ini tamonku, ratu tawon dengan koloni mereka di luar.” “Oh.” Mulut resepsionis membulat dan kepalanya mengangguk dua kali. “Saya akan segera kembali, silakan tunggu di bangku sebelah sana.” “Terima kasih ….” Sesaat kami berlima duduk. “Hei, apa kalian pikir kita lagi main game?” “Jangan tanya aku.” Erik mundur, membiarkanku melongok Ken. Gerakan yang segera orang sebelahnya tepis dengan ikutan mundur. “Aku juga gak mau jawab. Mark.” “Kita sama-sama belum punya pengalaman sebagai pemburu serikat,” timpal orang ketiga, menyulam jari dan menumpu sikut pada lutut saat Ken selesai mundur. “Tadi itu spontan.” “Pengalaman pertama, kalian berharap apa?” tanggap Mita dari ujung, duduk tumpang kaki sembari melihati kaca bedak dan merapikan lipstik sebelah Mark. “Masih untung keterima juga—” “Tunggu!” Kegiatan yang sontak menggugah rasa penasaranku. “Mita. Bedak sama liptsik yang kau pegang, apa mereka dari bumi?” “Ini?” Ia tunjukkan dua benda di tangannya. “Jangan ngawur, mana mungkin barang dari zaman itu masih ada sampai sekarang, huh. Mereka kubeli waktu liburan ke Benua Baru.” “Benua Baru?” “Ya. Aku membelinya sebelum berlayar kemari ….” Kalian tahu, bak dengar geledek siang bolong, mataku terbelalak dan tubuhku terperanjat seketika Mita bilang ia dan kawan-kawannya baru kembali dari Benua Baru empat dekade lalu. Kabar yang juga sontak membuatku melesat ke Baruke lantas kembali dengan sebuah peta lama …. “Tunjukkan!” kataku begitu peta tersebut kugelar, “tunjukkan di mana letak pelabuhan yang kau bilang tadi.” “Hem.” Mita dan teman-temannya tampak ragu. “Aku tidak yakin, tapi ….” Lihat titik yang mereka tunjuk, kutahu bila empat sekawan itu datang bukan lewat timur atau barat. “Kalian yakin ini tempatnya?” “Saudara Mi, kenapa kau kelihatan sangat cemas?” “Bertahun-tahun aku mencari putriku di Benua Lama,” tuturku di depan mereka, “Benua Baru adalah satu-satunya harapanku untuk menemukan dirinya. Itu kenapa kubilang kemarin ingin pergi ke sana ….” *** “Apa hari ini melelahkan?” Senyumku mekar tatkala Berlian menyambutku di halaman depan rumah, meskipun detik berikutnya ia lekas melayu lantaran apa yang kudengar tadi siang. Sore hari, tanggal 23 Bulan Pertama, selesai mendaftarkan Bintang Pertiwi, kelompoknya Mark dkk., sebagai regu pemburu dari Distrik Timur Kuil Widupa yang bersertifikat dan diakui serikat. “Kenapa wajahmu murung lagi?” tanya Lian, membuka topik dengan menekan dua pipiku gemas. “Kau gak senang melihatku, ya?” Kupegang kedua tangannya terus ambruk, terduduk di tengah-tengah antara gerbang sama teras depan, hingga sang Nyonya Mi seketika ikut tersungkur dan jatuh ke badanku. “Ya, ampuuun—Sayang!” “Jangan bangun dulu.” Sigap kutarik lagi lengannya agar ia duduk bersamaku. “Aku mau cerita soal tadi.” “Apa gak bisa di dalam saja?” “Di dalam banyak orang.” “Di sini kotor.” “Tinggal mandi.” Berlian menjuling. “Kata Soran, kau tadi dari sini—” “Aku dapat kabar soal Miaw,” selaku lantas merebah ke pangkuannya, “Benua Baru ternyata bisa diseberangi lewat utara. Sayang ….” Istriku tak lekas menanggapi, ada jeda hening sekian detik sebelum dirinya merespons dengan bertanya. “Siapa Miaw?” “Balqiria de Miaw el Tiltina.” Berlian menatapku, tanda tanya di wajahnya makin kentara. “Putriku,” terangku lalu bangkit kemudian duduk menghadapnya, “putri sulung dari istri pertamaku ….” *** Malamnya, masih tanggal yang sama. Sehabis membersihkan diri bersama istri …. “Hah.” Aku duduk selonjoran di karpet ruang tengah, menyalakan kemenyan di pedupaan, terus menengadah sembari memikirkan kejadian-kejadian yang kulalui sejak meninggalkan Istana Naga Letta. “Kenapa gak tanya dia, ya?” gumamku meratapi diri, “padahal kemarin kami—” “Siapa lagi?” jeda Berlian, muncul dalam balutan gaun malam dan handuk masih terikat di kepala. Ia kemudian duduk depan meja rias, membuka kotak ‘perlengkapan dan alat tempur’ para wanita, lalu tersenyum padaku lewat pantulan mukanya di kaca. “Kau lagi memikirkan siapa tadi, hah?” “Tika,” jawabku terus terang, aku selanjutnya mendekat dan memeluk pinggang Lian dari belakang. “Pemilik Kemah Tikar Dagang.” Berlian menoleh, mencolek pipiku, terus lanjut pada kegiatan sebelum tidurnya. “Aku mampir ke tempat wanita itu pas Ekspedisi Tujuh Panji kemarin, malahan sempat lihat peta dunia baru yang ada kedua benua di Kantor Layanan Tikar Dagang Dua Pekan di sana.” Kucium leher istriku lantas memejamkan mata di pundaknya. “Cuma sayang, kesempatan buat tanya cara menyeberang ke Benua Baru kulewatkan begitu saja.” “Hem.” Berlian menempelkan kepala kami. “Kau ini, bukanya tadi baru dapat kabar bagus?” ucapnya lembut, “kenapa malah menyesali yang sudah lama terjadi?” “Benar, tapi aku masih kepikiran. Kalau—” “Ssst! Jangan katakan lagi. Mengeluh takkan mengembalikan waktu yang sudah hilang.” “Benar lagi.” Kubuka mataku dan tersenyum. “Toh, sekarang aku tahu kita bisa pergi ke Benua Ba—” “Eh, ya! Jadi kapan?” “Kapan?” Aku melotot. Sedetik kemudian diriku paham. “Oh. Tunggu urusan dengan Serindi beres dulu. Aku kadung minta bantuan banyak orang buat melumat mereka, Sayang.” Berlian mengangguk, selang beberapa saat dirinya pun rampung berdandan. “Aku sudah selesai. Ayo tidur ….” *** Tadi siang, pas dengar jalan ke Benua Baru terbentang lebar di utara. “Kalian gak lagi bohong padaku, ‘kan?” Aku masih belum bisa percaya, padahal sudah kuulang pertanyaan itu sekian kali di depan Mark dkk. Namun, rasanya bagai mimpi. Selama ini diriku dan Letta percaya bahwa satu-satunya cara ‘tuk menyeberang ke Benua Baru adalah dengan menyingkap tabir pembatas benua setelah mengalahkan raksasa penjaga di selatan. Siapa sangka bila sejak perang besar era Chloria dan Yamadi memilihku sebagai penerus, pembatas yang dahulu menghalau gelombang serbuan ultrus beserta para pemegang manik darah tidak pernah muncul kembali. Siapa sangka bila siklus Eldhera ternyata terputus di zamanku …. “Kalian benar gak lagi bohong?” “Saudara Mi, kau terus menanyakan itu dari tadi. Apa gak bosan?” “Benar. Aku mulai mual.” “Kalian benar baru berlayar dari Benua Baru empat puluh tahun lalu?” tanyaku sekali lagi, ganti kalimat supaya jangan monoton. “Seperti apa di sana sekarang? Apa Eldheran masih ada? Kekaisaran Sirena bagai—Famora?!” “Kerajaan bajak laut dan semua yang baru saja kausebut sudah lama runtuh, Saudara Mi.” “Mark!” Aku mendelik. “Bilang kalau yang kudengar ini bohong.” “Kami tidak bohong,” tegas Mita, bangkit lantas melipat tangan. “Sirena yang terakhir berdiri sebelum orang-orang memberontak terus menuntut revolusi. Sejak itulah Benua Baru bukan lagi peradaban pascaprimitif atau era pertengahan prakolonial.” “Apa maksudnya?” “Saudara Mi, kau mungkin belum tahu. Benua Baru sudah mengulangi siklus kehancuran dan pembangunan ulang berkali-kali. Aku bahkan sudah tak ingat kami berhenti menghitung di kehancuran keberapa ribu—” “Benar kata Erik!” dukung Ken, “bahkan penyintas angkatan kita yang punya keahlian regenerasi dengan daya tahan tubuh luar biasa saja sekarang cuma sisa empat orang. Aku, Mita, Mark, sama Erik. Kau tidak kuhitung karena tinggal di Benua Lama.” “Saudara Mi. Bukan maksudku memupuskan harapan atau apa, tapi kurasa putrimu tidak ada di Benua Baru.” “Mark benar, kami adalah penyintas terakhir yang berhasil selamat dari kehancuran massal ….” Siang itu sekitarku tiba-tiba jadi hening. Mita dan Erik yang tampak adu mulut sambil memperagakan tangan di depanku sama sekali tidak terdengar. Muka serius Mark. Ken yang lanjut melihati peta lamaku. Aku mendadak tidak bisa fokus untuk mendengar apa-apa lagi. Entah harus kutuliskan bagaimana situasi tadi. Namun, satu hal tidak berubah meski berita yang kudengar dari mereka separuhnya benar merupakan kabar duka. Harapanku masih enggan pupus …. ***

Segenggam Cinta 'tuk Berlian

57 - Kelompok Penyintas

Di publikasikan 19 Oct 2025 oleh Bengkoang

“Kukira kalian takkan datang.” “Awalnya memang tidak,” timpal salah seorang dari mereka yang kutunggu malam itu, ia melompat dari atas gerobak lantas cekak pinggang menghadapku. “Namun, dia yang tahu tentang asal-usul Puncak Hijau dengan bekas lokasi Kemah Penyintas bukan orang sembarangan—” “Atau bukan seseorang yang seharusnya ada di zaman ini …,” sambung orang kedua yang turun dari gerobak tersebut, “benar begitu, ‘kan?” “Benar.” Aku tersenyum menyambut mereka …. *** “Paman Mi?” “Kau telat setengah dupa, Bocah!” ujarku pas Miki tiba, “para pegawaimu sudah pada berangkat ke pangkalan. Apa sanksi yang kau minta hari ini?” Minggu ketiga Musim Semi 224 Shirena. Ketika Baruke efektif kembali di Dataran Tengah …. “Hehe. Aku belum terbia—” “Kamarmu cuma sekian langkah dari sini,” selaku yang lalu menaruh laporan hari kemarin di sudut meja kerja anak itu, “apa perlu kupotong gaji atau sekalian mencopot jabatan kepala usaha sementaramu bulan i—” “Potong gaji!” sambar Miki, cepat-cepat menungkup laporan tersebut. “Aku akan berusaha buat bangun lebih pagi, Paman. Kau boleh pegang kata-kataku. Hehe.” “Baiklah.” Kuangkat bahu dan kugerakkan kepala sekali. “Roda Batu akan jadi perusahaan Soran. Kalau kau masih gak bisa menangani posisi kepala perusahaan ini sampai musim semi selesai, aku terpaksa turun langsung buat mengajari gadis itu—” “Percaya padaku, Paman.” Miki mengangguk, mantap. “Percaya padaku, ya? Akan kubantu Soran menangani semua urusan perusahaan sepenuh hati ….” Kusenyumi dirinya singkat. “Hem. Jangan buru-buru mau memajukan perusahaan, mulai dengan menstabilkan pemasukan terus buat satu atau dua rencana perluasan bertahap pakai modal kita. Baca laporan di tanganmu, pahami, lalu atur poin-poin yang perlu dibahas bersama para penyelia nanti sore.” “Siap, Bos!” “Bagus. Aku ada urusan di luar, jadi gak akan mengawasimu hari ini.” “Tenang saja, Paman.” Anak itu mengacungkan jempol. “Kau akan bangga setelah lihat hasil kerja calon me—maksudku hasil kerjaku bulan ini. Ya, hasil kerjaku!” “Kalau begitu buktikan. Mulai dengan memperbaiki kebiasaan bangun telatmu—aku pergi ….” *** Siangnya, di salah satu kantor usaha penyintas Puncak Hijau. “Ini.” Kusodorkan peta yang kuterima dari Pilo-Pato tadi pagi ke orang di meja direktur. “Serindi menarik pasukan mereka dan balik membuat pagar manusia enam mare dari pesisir timur.” “Maksudmu, Saudara Mi?” “Mereka ganti strategi,” timpal pria di sofa tamu, menjawabkan buatku. “Saudara Mi, apa sumbermu juga menyebut alasan kenapa Serindi mundur dari Ding?” “Kalau dugaanku benar ….” Aku pindah ke sofa lantas duduk dan merebah. “Orang-orang gila itu akan fokus mencaploki pintu-pintu dunia lain di sekitar Pi, Vu, dengan Kerajaan Nare lebih dulu. Mengumpulkan artefak putih di sana terus mempersenjatai bura atau yoram andalan mereka buat lanjut menggeser pagar.” “Huh.” Orang di meja direktur kemudian beranjak. “Aku akan mencocokkan peta ini dengan data kita. Erik, kau panggil Mita dan Ken kemari ….” Sesaat kemudian. “Mark belum kembali?” “Belum.” Kugelengkan kepala lantas balik rebahan sambil melihat langit cerah di seberang jendela. “Kurasa dia sekalian mencatat temuan-temuan baru di petaku.” “Bicaramu macam kami tidak pernah benar-benar kerja,” timpal Mita, satu dari dua orang yang dibawa Erik ke kantor tersebut. “Eh, ya! Ngomong-ngomong, kau yakin kita akan menemukan portal ke bumi pakai cara ini, Mi?” “Enggak.” “Lah, terus?” “Kalau dugaanku benar,” jelasku sebelum lanjut berkata, “kita mungkin bisa melacak saluran yang terhubung lewat kanal-kanal kecil itu buat menemukan portal ke bumi. Jadi, gak langsung Eldhera—Bumi.” “Bukannya kita dulu dipanggil ke dunia ini sekaligus?” “Benar, tapi para penyihir yang merapal mantra pemanggil saat itu langsung tewas begitu kita datang, bukan?” “Hah ….” Ken dan Erik kompak merebah di sofa sebelahku. “Seandainya dulu kita tidak terpencar—” “Cukup dengan keluhan kalian …,” sahut suara dari belakang, Mark. Ia kembali lalu menggelar peta besar di meja tengah-tengah ruangan. “Aku sudah menyalin semua koordinat dari peta baru kita. Coba lihat kemari.” “Ini peta—” “Yang Saudara Mi bilang mau kita pakai buat melacak portal ke bumi.” “Haha.” Ken tampak antusias. “Saudara Mi, bagaimana kita akan memulai penca—” “Jangan buru-buru,” ujar Mark, “Benua Timur sedang kacau gegara invasi Serindi. Bergerak tanpa persiapan sama saja dengan mengantar nyawa.” “Terus apa rencananya?” tanya Erik, mencondongkan diri pada sang direktur. “Portal-portal ke dunia kecil itu sekarang adalah harapan kita, kalau kau takut mati gegara manusia-manusia dunia ini aku—” “Mark benar,” tambahku selesai memeriksa penampakan peta di atas meja, “aku hidup bersama orang-orang Eldhera, mereka bukan npc atau mob yang bisa kita tebas terus abaikan begitu saja. Setidaknya buatlah rencana supaya kita bisa bergerak di antara portal-portal itu tanpa melibatkan diri pada urusan dunia ini.” “Setuju.” “Setuju.” “Hei, aku juga tanya itu tadi. Apa rencana kita?” “Aku belum punya,” aku Mark, merebah lemas di sofanya. “Selama ini aku cuma merekrut orang dan mencari penyintas yang tersisa sampai kita berlima bertemu, tapi kalian tahu sendiri ….” Ia sapu tatapan semua orang sekali kerling. “Selain jutaan tahun yang berjalan sangat lambat, diriku hanya ingin hidup tenang tanpa pernah benar-benar memikirkan bagaimana cara kita pulang.” Pulang? Aku ingin ketawa dengar kata itu. “Aku ingin ke Benua Baru.” “Eh? Maksudnya, Saudara Mi?” “Bicara soal pulang …,” sambungku, balik merebah ke sandaran sofa. “Aku sudah gak punya pikiran ke sana.” “Hah?” “Rumahnya di sini, Erik.” Mita bangkit lalu berdiri dekat jendela. “Maksud si Mi, kita sudah kadung tinggal lama di Eldhera dan secara tidak langsung juga telah menjadi bagian dari dunia ini.” “Menjadi bagian bagaimana, Mita?!” bantah Erik, ikut bangkit dari sofa. “Jelas-jelas kita semua dipanggil paksa waktu datang kemari, bukan manusia asli yang lahir di dunia i—” “Memang!” timpal Mita, menoleh singkat lantas melipat tangan dan menatap ke luar. “Aku paham poinmu, tapi maksudku manusia bukanlah batu. Kadang aku sendiri merasa takdir kita memang bukan untuk kembali. Apa bedanya datang lewat lingkaran mantra dengan lahir dari wanita Eldhera?” “Jika maksudmu beradaptasi kita sudah lama melakukannya,” timbrung Ken, “lihat ….” Bush! Pria itu memamerkan sihir burung apinya di hadapan kami. “Kuyakin kita semua pernah terkesan bahkan mempelajari keahlian dunia ini, ‘kan?” Aku senyum merespons dirinya kemudian ikut menjentikkan jari. Ctak! Memanggil ratu tawon beserta koloni di sekitar ‘tuk datang dan berkumpul di depan jendela. “A-apa i—” “Itu tawon-tawonku,” kataku, melambai-lambaikan tangan sembari mendekat ke jendela. “Bagaimana cara membuka kaca-kaca ini?” “Yang bisa dibuka ada di sudut, Saudara Mi.” “Ah, terima kasih.” Lekas kudekati jendela yang bisa dibuka lalu menjulurkan tangan, isyarat agar ratu tawon hinggap ke lenganku. “Pintar. Suruh kolonimu kembali, Sayang.” Setelah sisa tawon-tawonku bubar. “Keahlianmu menakutkan.” “Kau sendiri yang bilang kita mempelajari hal-hal mengesankan, Saudara Ken?” balasku lantas kembali ke sofa bersama ratu tawon merayap di lengan. “Lihat, bukankah ratu satu ini imut?” “Ahaha.” Erik telan ludah. “Tawon-tawonmu memang … mengesankan.” “Huh. Kupikir para pria hanya akan memilih keahlian-keahlian tidak berguna,” sindir Mita, yang juga hendak memamerkan keahlian. “Aku bi—” “Cukup.” Namun, baru juga wanita itu mau merapal, Mark sudah berdiri terus jalan ke meja direktur. “Kita di sini untuk membahas apa yang akan para ‘penyintas’ lakukan. Bukan malah adu kepandaian.” Kalimat bagus. Aku suka dia yang fokus. “Setuju,” ucapku sambil rebahan, “tiap periode punya penyintasnya sendiri-sendiri, akan bagus kalau kita bisa mengumpulkan mereka semua.” “Cita-citamu ketinggian,” sahut Ken, “tapi aku setuju.” “Alasan Ken dan Mark mendirikan kelompok ini juga itu, ayo lakukan.” “Huh. Kudengar penyintas zaman ini lumayan tampan. Ayo mulai dari dirinya ….” Memetakan koordinat portal kanal kecil dan mengumpulkan penyintas dunia lain, apakah langkahku tepat? ***

Segenggam Cinta 'tuk Berlian

56 - Gerbang Baruke

Di publikasikan 19 Oct 2025 oleh Bengkoang

“Sekarang bagaimana?” Hari ketiga Musim Semi 224 Shirena. Aku, ayah mertuaku, Ketua, lalu Miki. Kami berempat merebah di sofa lobi sehabis mengulas gerakan Serindi yang nekat menerobos Tzudi dan Azura hingga sisi timur Ding. Langkah aneh yang menurut mertuaku disebabkan oleh beliau …. “Apa lagi?” ujar Ayah, balik tanya pada Ketua. “Gelang putih ini tidak boleh jatuh kembali ke tangan mereka atau kita semua takkan berakhir baik di hadapan manusia-manusia gila itu.” Miki menoleh padaku lalu kubalas spontan pakai gerak bahu tidak tahu. Sementara Ketua dan Ayah Mertua, keduanya terus menatapi gelang dalam kotak di meja serius. ‘Sebenarnya apa rahasia gelang Ayah?’ batinku sebelum bangkit ‘tuk undur diri, “aku lapar. Ayah, Ketua, kami akan makan siang di luar. Ayo, Bocah ….” *** “Eh, ya, Paman Mi.” Sekian saat kemudian, di warung pinggir jalan dua blok dari hotel kami. “Jangan tanya apa-apa dulu!” pintaku, menunjuk Miki tak semangat terus balik topang dagu memperhatikan orang lalu-lalang sembari bergumam. “Kuil Widupa selalu jadi tempat teramai di benua. Semua orang datang kemari, tapi kenapa mereka gak membuka gerbang macam dulu?” Miki selanjutnya pindah duduk ke sebelahku, dan pangsit di mangkuknya masih ia camili ketika itu. “Paman Mi, kau sebenarnya sedang melihat apa?” “Kubilang jangan tanya apa-apa dulu, ‘kan—” “Tapi, Paman, melihatmu melamun begini bikin aku penasaran. Lihat mangkukku, ini sudah yang ketiga sejak kita duduk di sini ….” Kulirik mangkuk di tangan anak itu sekilas, dia benar-benar lahap untuk ukuran pemuda kurus. “Aku lagi mikir,” kataku kemudian, kembali melihat orang-orang di depan sana. “Bagaimana kalau kita buka usaha jasa antar sama angkutan umum?” “Ma-maksudnya?” “Kau lihat orang-orang yang lalu-lalang ini. Mereka hilir mudik dengan banyak belanjaan, benar?” “Terus?” “Kenapa gak kita bawakan tas mereka buat satu atau dua keping perung—benar juga!” Kalian tahu, bak kena siram air segar, mataku membelalak seketika. Lekas kuajak Miki ke Kantor Muri ‘tuk mendaftarkan kelompok usaha, membeli enam belas gerbong kereta dengan dua puluh empat ekor kuda dari pasar setelahnya, terus pasang iklan lowongan pekerjaan guna mencari enam belas pegawai lapangan tambah empat orang penyelia merangkap juru tulis. Belum cukup sampai di situ. Sorenya kubuka kembali gerbang Baruke buat jadi kantor sekaligus pangkalan dengan depo pertama usaha jasa angkut dan transportasi umum tadi …. “Hem.” Hingga satu minggu kemudian, tanggal 10 Bulan Pertama. “Aku baru tahu kau punya rencana untuk membuka tempat ini lagi, Ure.” Saintess datang dan menyalamiku selesai acara peresmian usaha baru tersebut. “Dari mana ide jasa angkut dengan transfortasi umum ini, hah?” “Jangan menggodaku …,” timpalku, senyum pada Naila lalu lanjut mengintip armada Roda Batu—kelompok usaha baruku—di luar lewat jendela. “Daripada kuberikan Baruke padamu cuma-cuma, mending kupakai dia buat menambah pemasukan.” “Alasan itu bisa kuterima.” “Huh.” Aku mendengkus. “Masalah ide, kau bisa tanya bocah sebelah sana.” “Bocah?” “Jangan tanya aku!” Miki sigap angkat tangan waktu sang saintess menoleh. “Minggu lalu Paman Mi melamun sambil melihat kerumunan depan warung pangsit. Terus dia bergumam, ‘Kenapa gak kita bawakan tas mereka buat satu atau dua keping perunggu.’ Setelah i—” “Miki …,” panggilku yang lantas kembali ke meja kerja, “jangan bongkar detail kegiatanku depan gadis ini. Dirinya bisa meniru banyak hal sekali dengar, kau tahu?” “Oh. Ayolah, Ure.” Naila menggeleng sembari menyusul mundur dari depan jendela lalu duduk di sofa tamu. “Para pendahuluku bilang tak ada ruginya bekerja sama denganmu ‘tuk memajukan Kuil Widupa, jadi jangan bersikap pelit di depanku begitu.” “Pelit?” Kulirik dirinya sebal. “Aku keluar sepuluh ribu keping perak tambah lima puluh emas buat modal kereta, kuda, dan upah dua bulan pertama pegawai. Kalau rincian itu kuberitahukan padamu, besok atau bulan depan mungkin akan ada pesaing di usaha tranportasi ini—paham maksudku?” Gadis itu menjuling sebelum menjawab. “Jangan khawatir. Saintess-Saintess pendahuluku bilang usaha terbaik jika kita bekerja sama adalah bank, jadi aku takkan tertarik pada hal lain.” “Benarkah?” “Kau bisa pegang kata-kataku. Dirimu bahkan boleh memonopoli ba—” “Kata-kata penguasa Kuil Widupa kurasa bukan bualan,” potongku lantas menyiapkan kertas dan pena, “mari catat apa saja yang bisa kita lakukan buat melengkapi utopiamu, Naila.” “Bagus. Omongan leluhurku benar ….” Alasan Saintess zaman ini datang ke peresmian Roda Batu adalah Gerbang Kiri Baruke. Atas arahan leluhur di Altar Jiwa, pagi itu ia menawariku keleluasaan gerak di Dataran Tengah meliputi segala urusan terkait izin tinggal, membuka usaha, bea cukai, pun seabrek tetek bengek administrasi yang nanti akan melibatkan dirinya dengan Kantor Pengadilan. Sebagai timbal balik diriku hanya perlu menandatangani berkas pengalihan sebagian properti Baruke, gerbang kiri tadi, jadi atas nama mereka. Hal yang takkan pernah kulakukan jika bukan gegara tidak punya pilihan …. “Ogah!” Jadi, kugelengkan kepala tegas. “Kalau kuil widupamu mau pinjam sisi timur tempat ini buat kantor bank macam dulu, dia bisa kusewakan setengah harga sebab kita kenalan lama.” “Apa tawaranku kurang besar, Ure?” “Bukan soal tawaran, Naila, tapi karena dia kenangan terakhirku. Rumah Permata Biru dan Rumah Seratus Bebek sudah hilang, jika Baruke dengan Rumah Kecil kalian ambil juga lantas di mana aku harus menunggu putriku saat dirinya kembali?” “Akh!” Sang saintess tidak puas, pasti. “Sadarlah, Ure! Putrimu sudah hilang jutaan tahun la—” “Diam!” Aku tak mau dengar. “Jangan asal bicara! Meskipun kau dengar semua dari Salsabila, aku tetap akan menunggunya pulang ….” Benar. Putriku masih hidup. Takkan kubiarkan siapa pun memupuskan harapanku. Istana Naga Timur masih berdiri. Ini bukti kuat dan tak terbantahkan bila Miaw masih hidup meski aku tidak tahu di mana rimbanya …. *** “Paman Mi.” Aku menoleh. “Jadi Soran betulan bukan putri sulungmu?” “Kau bukan baru pertama kali mendengarnya,” ujarku sebelum kemudian berbalik dan kembali ke Gerbang Kanan Baruke, “terus juga, sedikit yang kau tahu soal ini akan lebih baik, jangan katakan apa pun depan istriku atau kau jangan pernah dekati Soran lagi—” “Eh! Kau tenang saja, Paman Mi. Mulutku tertutup rapat ….” 224 Shirena. Baruke kembali kubuka dan beroperasi di Dataran Tengah, merespons keserakahan Saintess atas utopia Kuil Widupa, sebagai penyedia layanan publik macam dulu. Sekaligus alasan untuk menjauhkan keluargaku dari keributan di timur …. “Saintess sudah pulang,” kataku pada mereka yang menguping dari balik pintu, “kalian boleh keluar—” Srek—bruk! Ketua, Senior Qin, dengan ayah mertuaku ambruk begitu pintu kugeser. Sedang Soran, ibunya, juga Saudari Ipar terkekeh pelan dari kursi di belakang mereka. “Sudah selesaikah?” “Kuil Widupa akan mengirim orang buat ‘menata’ Gerbang Kiri besok atau nanti sore paling cepat,” tuturku pada Berlian, “apa pun yang mereka lakukan, tolong jangan mendekat ke sana.” Selanjutnya kusenyumi semua orang lantas undur diri, hendak kembali ke ruang kerja di sebelah. “Hei, apa-apaan barusan itu? Menantu, Menantu—” “Ayah Lian, Paman Mi harus memeriksa rencana operasi Roda Batu. Jadi abaikan saja dia. Biar kuceritakan hasil pertemuan dengan Saintess pada kalian ….” Ini kali kedua keluargaku mengungsi setelah tragedi Kauro. Apa kami masih perlu menunggu kali ketiga untuk membalas Serindi? ***

Segenggam Cinta 'tuk Berlian

Kesemutan di Kaki dan Selimut Hangat

Di publikasikan 12 Oct 2025 oleh Titik Nol

Satu jam berlalu dalam sekejap. Di pangkuan Adi, Lestari tidak hanya tidur, tetapi seolah-olah sedang melakukan perjalanan jauh ke dasar kesadarannya, ke sebuah tempat di mana tidak ada pager berbunyi atau monitor EKG yang berisik. Tidurnya begitu lelap, begitu damai, hingga Adi sendiri hampir ikut terbuai, meski kakinya sudah mulai mengirimkan sinyal protes. Kesadaran kembali pada Lestari secara perlahan, seperti saat ia terbangun di pagi hari tadi. Bukan karena suara, melainkan karena pergeseran internal. Ia merasa telah cukup beristirahat. Saat membuka mata, pemandangan pertama yang ia lihat adalah langit-langit apartemen yang temaram. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba memetakan kembali posisinya. Bantal empuk di bawah lehernya, sofa di punggungnya, dan... sesuatu yang hangat dan kokoh di bawah kepalanya. Adi. Ia tersadar. Ia tertidur di pangkuan Adi. Dengan gerakan sepelan mungkin, ia mengangkat kepalanya, mencoba untuk duduk tanpa membangunkan Adi, yang ia kira juga ikut tertidur. Namun, Adi ternyata terjaga. Matanya yang tenang menatap Lestari dalam cahaya redup. "Sudah bangun?" bisik Adi, suaranya sedikit serak. "Maaf, aku ketiduran. Kamu pasti pegal sekali," balas Lestari, juga berbisik. Saat itulah ia melihatnya. Saat Adi mencoba sedikit menggeser posisinya untuk memberinya ruang, Lestari menangkap sebuah ringisan kecil di wajahnya, sebuah tarikan otot yang coba ia sembunyikan. "Kakimu..." kata Lestari pelan, naluri dokternya langsung aktif. "Kenapa tidak membangunkanku?" Adi mencoba tertawa, meski terdengar sedikit kaku. "Membangunkanmu? Rasanya lebih mudah membangunkan macan yang sedang tidur daripada melakukan itu." Lalu ia menambahkan dengan nada jenaka yang dipaksakan, "Oh, kakiku? Tidak apa-apa. Cuma lagi proses ganti wujud jadi agar-agar." Lestari melihat saat Adi mencoba meluruskan kakinya. Ia melihat bagaimana otot-otot di betisnya menegang dan bagaimana ia harus menahan napas untuk menahan sensasi ribuan jarum yang menusuk-nusuk kakinya. Kesemutan. Bukan kesemutan biasa, tapi kesemutan hebat yang datang setelah aliran darah terhambat untuk waktu yang lama. Seketika, sebuah pemahaman yang hangat dan menyakitkan membanjiri hati Lestari. Pria ini telah duduk tanpa bergerak, mungkin selama lebih dari satu jam, menahan kram dan ketidaknyamanan, hanya agar ia bisa tidur. .......................................................... Deklarasi cinta yang paling agung sering kali tidak diucapkan dengan kata-kata, melainkan dengan ketidaknyamanan yang ditanggung dalam diam: kaki yang dibiarkan kram, sisi tempat tidur yang lebih dingin, atau perjalanan memutar di tengah malam hanya untuk membeli makanan kesukaannya. Cinta adalah bahasa pengorbanan-pengorbanan kecil. .......................................................... Tanpa berkata apa-apa lagi, Lestari turun dari sofa, berlutut di lantai di hadapan Adi. Peran mereka kini berbalik. "Jangan digerakkan dulu," katanya lembut, namun dengan nada otoritas seorang dokter yang tidak bisa dibantah. "Pegang pundakku." Adi menurut. Lestari meletakkan tangannya yang hangat di betis Adi yang kaku. Dengan keahlian yang terlatih, jemarinya mulai memijat dengan lembut, tidak terlalu keras, hanya cukup untuk merangsang kembali sirkulasi darah. Setiap pijatannya terasa begitu fokus, penuh dengan rasa terima kasih yang tak terucapkan. "Lain kali, bangunkan saja aku," kata Lestari pelan, matanya masih terfokus pada pekerjaannya. "Tidak akan pernah," jawab Adi sederhana. Suaranya terdengar begitu mantap, begitu final, hingga Lestari tidak bisa membantahnya. Mereka berada dalam posisi yang aneh. Seorang dokter brilian yang sedang memijat kaki pasangannya yang kesemutan di ruang tengah yang remang-remang. Sebuah adegan "receh" yang terasa jauh lebih romantis daripada makan malam di restoran paling mewah sekalipun. Di sinilah cinta mereka hidup. Bukan dalam puisi atau janji, melainkan dalam tindakan nyata. Dalam kesediaan untuk saling menjaga, bahkan dari hal sekecil kesemutan. Setelah beberapa menit, Adi akhirnya bisa menggerakkan kakinya kembali, meski masih dengan sedikit rasa baal. "Sudah jauh lebih baik, Dok," katanya sambil tersenyum. "Terima kasih atas konsultasinya." Lestari bangkit, lalu mengulurkan tangannya. "Ayo. Pindah ke tempat tidur. Kasihan kakimu." .......................................................... Hubungan yang kuat bukanlah tentang siapa yang lebih kuat atau siapa yang lebih sering memberi. Ia adalah sebuah tarian di mana peran penjaga dan yang dijaga bisa berganti tanpa perlu diminta. Hari ini aku menjadi pelabuhanmu, besok mungkin kau yang akan menjadi mercusuarku. .......................................................... Adi menerima uluran tangan itu dan berdiri, sedikit terhuyung, bersandar pada Lestari. Kini Lestari yang menopangnya. Sebelum mereka berjalan ke kamar, Lestari melihat sebuah selimut wol yang terlipat rapi di sandaran kursi. Ia mengambilnya dan menyampirkannya di bahu Adi. "Untuk apa ini?" tanya Adi, bingung. Lestari tersenyum. "Gantian aku yang jaga," bisiknya. "Malam ini, pastikan kamu tidak kedinginan." Adi menatapnya, hatinya terasa begitu penuh hingga ia tidak sanggup berkata-kata. Ia hanya bisa mengangguk. Bersama-sama, mereka berjalan pelan menuju kamar tidur. Satu orang yang baru saja pulih dari kelelahan jiwa, menopang satu orang yang baru saja pulih dari kelelahan fisik. Meninggalkan di belakang mereka ruang tengah yang sedikit berantakan, piring martabak yang belum habis, dan sebuah pelajaran penting tentang cinta. Bahwa cinta, pada akhirnya, adalah tentang kesediaan untuk saling bergiliran menjaga satu sama lain, bahkan saat keduanya sama-sama merasa lelah.

Garis Langit Abu-abu

Napas yang Melambat dan Channel Televisi yang Terlewat

Di publikasikan 12 Oct 2025 oleh Titik Nol

Setelah semua cerita dibagikan, keheningan kembali mengisi ruang di antara mereka. Tapi kali ini, keheningan itu terasa berbeda. Lebih padat, lebih kaya, seolah setiap molekul udaranya telah menyerap pemahaman dan empati yang baru saja mereka tukar. Lestari tetap berbaring dengan kepala di pangkuan Adi, matanya terpejam. Adi terus membelai rambutnya, sebuah gerakan ritmis yang menjadi satu-satunya denyut kehidupan di ruangan yang tenang itu. Perlahan, Adi mulai merasakan sebuah perubahan. Ia merasakannya melalui berat kepala Lestari di pangkuannya yang terasa sedikit lebih pasrah. Ia mendengarnya dalam napas Lestari yang berubah dari tarikan napas sadar menjadi embusan napas yang lebih dalam, lebih lambat, dan sepenuhnya teratur. Ia melihatnya di wajah Lestari yang diterpa cahaya temaram; setiap otot terakhir dari ketegangan profesionalnya kini telah benar-benar luruh. Lestari tidak lagi hanya beristirahat. Ia telah tertidur. Momen itu terasa begitu sakral bagi Adi. Di pangkuannya, tidak ada lagi Dokter Ayu yang heroik atau Lestari sang kekasih yang jenaka. Yang ada hanyalah esensi paling murni dari seorang manusia yang merasa cukup aman untuk melepaskan seluruh pertahanannya. Melihatnya begitu damai, begitu rapuh, Adi merasakan gelombang perasaan protektif yang begitu kuat, sebuah insting purba untuk menjaga tidur ini dari gangguan apa pun. .......................................................... Ada tingkat keintiman yang melampaui kata-kata dan sentuhan. Yaitu saat kau dipercaya untuk menjaga tidur seseorang. Menyaksikan napasnya yang teratur, wajahnya yang damai tanpa topeng. Di saat itulah kau tidak hanya melihat orang yang kau cintai, kau sedang melihat jiwanya yang sedang beristirahat. .......................................................... Adi sadar ia tidak bisa bergerak. Sedikit saja pergeseran, dan ia berisiko membangunkan Lestari dari istirahat yang jelas sangat dibutuhkannya. Jadi, ia tetap diam. Namun, pikirannya yang aktif butuh sesuatu untuk menyibukkan diri. Dengan gerakan yang sangat pelan agar tidak menimbulkan guncangan, tangannya meraba-raba meja kopi di sampingnya, mencari benda yang menjadi sahabat bagi mereka yang terjebak di sofa: remot televisi. Ia menekan tombol daya, dan layar televisi menyala tanpa suara—ia selalu mengatur volumenya di angka nol saat mematikannya. Di tengah keheningan apartemen, layar itu menjadi satu-satunya jendela yang bergerak. Adi mulai menekan tombol channel secara acak, sebuah kegiatan "receh" yang tidak membutuhkan konsentrasi. Layar itu menampilkan potongan-potongan dunia luar yang terasa begitu jauh. Sebuah siaran berita menampilkan grafik-grafik ekonomi yang rumit dan wajah-wajah politisi yang serius. Ia menekannya lagi. Sebuah sinetron lokal dengan adegan melodrama yang dilebih-lebihkan. Ia menekannya lagi. Sebuah acara memasak. Lagi. Sebuah dokumenter alam tentang kehidupan singa di sabana Afrika. Adi berhenti sejenak, menyaksikan gambar-gambar tanpa suara itu. Singa-singa yang sedang berburu, sebuah dunia yang penuh perjuangan untuk bertahan hidup. Ia tersenyum tipis. Mungkin, dunianya dan dunia Lestari tidak jauh berbeda. Hanya saja, sabana mereka terbuat dari beton, dan mangsa serta predatornya memiliki wujud yang lebih abstrak. Kaki kanannya mulai terasa kesemutan, tetapi ia mengabaikannya. .......................................................... Ukuran cinta yang sesungguhnya sering kali tidak terlihat dalam pengorbanan yang besar dan heroik. Ia tersembunyi dalam pengorbanan-pengorbanan kecil yang tak terlihat: membiarkan kakimu kram agar tidurnya tak terganggu, bangun di tengah malam untuk menyelimutinya, atau memberikan potongan martabak terakhir yang sebenarnya kau inginkan. .......................................................... Lestari sedikit bergerak dalam tidurnya, kepalanya bergeser, dan ia mengeluarkan sebuah gumaman pelan yang tidak jelas artinya. Adi seketika membeku. Ia berhenti bernapas sejenak, tangannya yang tadi membelai rambut Lestari kini diam, hanya menempel ringan di bahunya, menawarkan rasa aman bahkan di dalam mimpi. Setelah beberapa detik, napas Lestari kembali teratur. Ia kembali terlelap. Adi menatap wajah lelah yang damai itu. Haruskah ia membangunkannya? Memindahkannya ke tempat tidur yang lebih nyaman? Logika berkata ya. Tapi hatinya berkata tidak. Membangunkannya sekarang terasa seperti sebuah kejahatan kecil, seperti mengganggu sebuah proses penyembuhan yang sedang berlangsung. Ia membuat keputusan. Malam ini, sofa ini adalah tempat tidur mereka. Atau lebih tepatnya, tempat tidur Lestari. Dan pangkuannya adalah bantalnya. Dengan gerakan yang lebih hati-hati dari seorang penjinak bom, Adi meraih bantal sofa yang tidak terpakai. Ia sedikit mengangkat kepalanya, menyelipkan bantal itu di bawah leher Lestari untuk memberinya topangan yang lebih baik. Kemudian, ia mematikan televisi, mengembalikan ruangan itu ke dalam kegelapan yang menenangkan, hanya diterangi oleh pendar cahaya kota dari jendela. Ia bersandar ke belakang, membiarkan kepalanya menempel di sandaran sofa, memejamkan matanya sendiri. Ia tidak akan tidur senyenyak Lestari, ia tahu itu. Tapi malam ini, ia tidak sedang mencari kenyamanan untuk dirinya sendiri. Ia sedang menjadi kenyamanan itu. Di tengah keheningan malam, ia berjaga. Seorang penjaga yang diam, yang bayarannya adalah suara napas teratur dari orang yang paling ia cintai di dunia.

Garis Langit Abu-abu

Cerita yang Dibagi dan yang Disimpan Sendiri

Di publikasikan 12 Oct 2025 oleh Titik Nol

Keheningan pertama setelah Lestari keluar dari kamar mandi adalah keheningan yang sakral. Mereka duduk di sofa, berbagi piring berisi martabak keju-cokelat yang masih sedikit hangat. Untuk beberapa menit pertama, tidak ada percakapan. Hanya ada suara kecil dari piring keramik, tegukan teh melati, dan alunan piano lembut yang Adi putar. Ini bukan keheningan yang canggung, melainkan keheningan yang penuh rasa syukur. Keduanya sedang mengisi kembali energi mereka, tidak hanya dengan makanan, tetapi dengan kehadiran satu sama lain. Lestari memejamkan mata sambil mengunyah potongan martabak pertamanya. Manisnya cokelat dan gurihnya keju terasa seperti sebuah hadiah di penghujung hari yang pahit. "Martabak ini," katanya pelan, matanya masih terpejam, "rasanya seperti kemenangan kecil." Adi tersenyum. Ia memperhatikan Lestari dengan tatapan seorang penulis yang sedang mempelajari karakternya. Ia melihat sisa-sisa kelelahan yang tidak bisa disembunyikan oleh piyama yang nyaman, dan sebuah keteduhan yang baru. Ia tahu ada cerita besar di balik hari ini. Tapi ia tidak akan menanyakannya secara langsung. Pertanyaan "Bagaimana harimu?" terasa terlalu kecil untuk menampung semua yang mungkin telah Lestari lalui. Sebaliknya, ia menunggu Lestari menghabiskan kunyahannya, lalu berkata dengan lembut, "Wajahmu tadi waktu pulang... kelihatannya lebih dari sekadar lelah biasa. Ada jejak pertempuran di sana." Pertanyaan itu adalah sebuah undangan. Sebuah kunci yang ditawarkan dengan hati-hati untuk membuka pintu yang mungkin masih tertutup rapat. Lestari membuka matanya, menatap Adi. Ia tahu ia bisa menceritakan semuanya. Tentang kepanikan perawat, tentang garis lurus di monitor, tentang sensasi dingin dari bantalan defibrilator. Tapi untuk apa? Untuk membagi beban, atau untuk menularkan trauma? .......................................................... Berbagi cerita dengan pasangan bukanlah tentang melaporkan setiap detail dari harimu. Seni sejati dari keintiman adalah mengetahui detail mana yang harus diceritakan, dan detail mana yang harus kau simpan sendiri—bukan untuk menyembunyikan, tetapi untuk melindungi hati mereka dari gema pertempuran yang tidak perlu mereka dengar. .......................................................... Lestari mengambil napas, lalu mulai bercerita. Ia memilih kata-katanya dengan saksama, seperti seorang dokter yang sedang memilih dosis obat yang tepat. "Paginya lumayan berat," mulainya. "Ada pasien yang kondisinya tiba-tiba drop. Kami harus... bertindak cepat." Ia berhenti sejenak, mencari kata yang pas. "Cukup... intens." Kata "intens" itu menggantung di udara, sarat dengan makna yang tidak terucapkan. Adi, sebagai pendengar yang peka, tidak mendesak untuk detail lebih lanjut. Ia mengerti. "Intens" adalah kode Lestari untuk situasi di mana ia harus berdiri di garis depan antara hidup dan mati. Itu sudah cukup. Lalu, Lestari mengubah arah ceritanya, membawanya ke sebuah tempat di mana Adi bisa masuk. "Tapi yang lucu," lanjutnya, sebuah senyum tipis kini bermain di bibirnya, "setelah semua kekacauan itu selesai, hal pertama yang aku pikirkan adalah betapa aku butuh kopi dosis kedua. Dan entah kenapa, aku merasa harus mengirim pesan konyol soal telepati itu ke kamu. Seolah-olah, pesan itu adalah penutup dari semua drama tadi." Adi mendengarkan dengan saksama. Ia mengerti apa yang sedang Lestari lakukan. Lestari tidak sedang membebaninya dengan detail traumatis dari pekerjaannya. Sebaliknya, ia sedang menunjukkan pada Adi peran pentingnya dalam proses pemulihannya. Ia menjadikan Adi pahlawan di babak akhir ceritanya. Kini giliran Adi. Ia tahu, cerita tentang rapat sinkronisasi data terasa begitu pucat jika dibandingkan dengan cerita Lestari. Tapi ia juga tahu bahwa ini bukanlah kompetisi. "Aku juga tadi sempat 'drop' di ruang rapat," kata Adi, dengan sengaja meminjam istilah medis Lestari, sebuah "hal receh" yang membuat Lestari tersenyum. "Bukan henti jantung, tapi henti semangat." Ia menceritakan tentang kebosanan, tentang perasaan terasing, tentang bagaimana ia secara impulsif mengirim pesan itu di bawah meja. "Dan jujur saja," Adi mengaku, "balasan darimu tadi, lelucon soal telepati itu... itu adalah hal paling nyata dan paling penting yang terjadi di ruang rapat itu seharian ini. Rasanya seperti jangkar yang ditarik." .......................................................... Dua orang tidak harus berjalan di jalan yang sama untuk bisa saling memahami. Mereka hanya perlu menyetel hati mereka pada frekuensi yang sama. Di frekuensi itu, keluhan tentang rapat yang membosankan bisa terdengar sama pentingnya dengan cerita tentang nyawa yang diselamatkan, karena keduanya adalah nada dalam lagu yang sama: lagu tentang perjuangan menjalani hari. .......................................................... Lestari menatap Adi, hatinya terasa penuh. Ia baru sadar. Pagi tadi, Adi telah memberinya kekuatan untuk menghadapi harinya. Dan ternyata, di tengah kelelahannya, ia tanpa sadar telah memberikan kekuatan kembali pada Adi untuk menghadapi harinya. Hubungan mereka bukanlah jalan satu arah di mana Adi selalu menjadi penopang. Hubungan mereka adalah sebuah siklus, sebuah pertukaran energi yang terus-menerus. Sisa martabak kini terasa tidak lagi penting. Cerita-cerita mereka telah dibagikan. Beban hari itu tidak hilang, tetapi terasa lebih ringan karena kini ditanggung berdua, bukan sebagai masalah, melainkan sebagai pemahaman bersama. Lestari menggeser posisinya, merebahkan kepalanya di pangkuan Adi. Sebuah gerakan yang penuh kepercayaan dan penyerahan diri. Adi secara naluriah mulai membelai rambut Lestari yang masih sedikit lembap, jemarinya bergerak dengan ritme yang lambat dan menenangkan. Mereka tidak lagi berbicara. Semua yang perlu dikatakan telah terucap, baik secara verbal maupun non-verbal. Kini yang tersisa adalah menikmati buah dari kejujuran dan pemahaman mereka. Di tengah keheningan yang nyaman itu, diiringi oleh sisa aroma martabak dan teh melati, mereka tidak hanya sedang beristirahat dari hari Senin yang panjang. Mereka sedang merayakan kemenangan kecil mereka: kemampuan untuk selalu menemukan jalan pulang, bukan hanya ke sebuah apartemen, tetapi juga ke dalam hati satu sama lain.

Garis Langit Abu-abu

Pintu yang Terbuka dan Aroma Martabak Keju

Di publikasikan 12 Oct 2025 oleh Titik Nol

Adi tiba lebih dulu. Saat ia membuka pintu apartemen, ia disambut oleh keheningan yang ia tinggalkan tadi pagi. Namun, keheningan itu kini terasa berbeda. Tadi pagi, keheningan itu penuh dengan gema kehadiran Lestari. Malam ini, keheningan itu terasa penuh dengan antisipasi akan kepulangannya. Ia meletakkan kotak martabak yang masih hangat di atas meja dapur, aromanya yang manis dan gurih langsung menyebar, seolah mengusir aura steril dari hari kerjanya. Dengan sebuah helaan napas panjang, ia melonggarkan ikatan dasi abu-abunya dan melepaskannya dari leher. Gerakan itu terasa begitu membebaskan, sebuah simbol pelepasan peran formalnya. Ia menggulung lengan kemejanya hingga ke siku, dan seketika itu juga, ia merasa lebih seperti dirinya sendiri. Ia tidak langsung duduk atau menyalakan televisi. Sebaliknya, ia berkeliling apartemen, membereskan hal-hal kecil. Merapikan bantal sofa, mengumpulkan beberapa majalah yang berserakan. Ia sedang mempersiapkan "sarang" mereka, memastikan tempat itu siap menyambut rekannya yang pasti jauh lebih lelah. Ia melirik jam di ponselnya: 18:45. Seharusnya Lestari sudah hampir sampai. Ia menunggu, mendengarkan dengan seksama setiap suara dari koridor. Lima menit kemudian, ia mendengarnya. Suara langkah kaki yang familier, diikuti oleh bunyi kunci yang dimasukkan ke dalam lubang. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Pintu terbuka. Dan di sana, berdiri Lestari. Ia terlihat persis seperti yang Adi bayangkan. Lelah. Rambutnya yang tadi pagi tertata rapi kini sedikit berantakan. Ada lingkaran samar di bawah matanya, dan bahunya tampak sedikit merosot, seolah menanggung beban yang tak terlihat. Tapi saat mata mereka bertemu, semua kelelahan di wajah Lestari seolah sedikit terangkat, digantikan oleh kelegaan yang begitu dalam. .......................................................... Ada pelukan perpisahan yang berat, ada pelukan perayaan yang riang. Namun, ada satu jenis pelukan yang paling jujur: pelukan "aku pulang". Ia tidak mengandung gairah atau euforia, melainkan kelegaan murni. Sebuah transfer beban tanpa kata, di mana satu tubuh berkata pada yang lain, "Tugas jagaku sudah selesai, sekarang giliranmu." .......................................................... "Hei," kata Lestari, suaranya serak dan pelan. "Hei," balas Adi lembut. Tidak ada lagi kata yang diperlukan. Lestari melangkah masuk, melepaskan tas kerjanya hingga jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk pelan. Ia berjalan lurus ke arah Adi dan langsung membenamkan wajahnya di dadanya, melingkarkan lengannya di pinggang Adi. Adi balas memeluknya, menopang tubuh Lestari yang terasa begitu lelah. Mereka berdiri seperti itu selama hampir satu menit penuh. Lestari menghirup aroma tubuh Adi yang khas, aroma rumah. Adi merasakan ketegangan di punggung Lestari perlahan mulai mengendur di dalam pelukannya. "Aku bawa amunisi tambahan," bisik Adi di dekat telinga Lestari, sebuah callback jenaka dari percakapan mereka tadi pagi. Lestari tertawa kecil, suaranya teredam di dada Adi. "Aku mencium aromanya," jawabnya. Ia melepaskan pelukannya, meski masih tetap berdiri dekat. Matanya kini terlihat lebih hidup. "Terima kasih," katanya tulus. Kemudian, ia mengumumkan dengan nada yang tidak bisa diganggu gugat, "Aku mandi dulu. Aku merasa seperti membawa pulang separuh kuman dari rumah sakit." Sementara suara pancuran air mulai terdengar dari kamar mandi, Adi tersenyum. Ia mengambil kotak martabak, memindahkannya ke sebuah piring besar, dan menyeduh dua cangkir teh melati hangat. Ia meredupkan lampu utama di ruang tengah dan menyalakan alunan musik piano yang sama seperti tadi malam. Ia tidak sedang mencoba mengulang malam yang lalu. Ia sedang menciptakan sebuah kontinuitas, sebuah sinyal bahwa kedamaian yang mereka miliki adalah sesuatu yang bisa selalu mereka ciptakan kembali, setiap hari. .......................................................... Pancuran air hangat di penghujung hari adalah sebuah upacara sakral. Ia tidak hanya membersihkan debu dan keringat, tetapi juga mencuci bersih peran yang kita mainkan seharian. Di bawahnya, residu dari rapat yang alot, kekecewaan, dan beban tanggung jawab luruh bersama air, menyisakan hanya diri kita yang asli dan rapuh. .......................................................... Lima belas menit kemudian, Lestari muncul dari kamar. Transformasinya begitu menakjubkan. Ia mengenakan setelan piyama katun yang longgar, rambutnya yang basah terbungkus handuk, dan wajahnya bersih tanpa riasan. Jas dokter putih yang angkuh dan wibawa Dokter Ayu yang tajam telah sepenuhnya luruh, tergantikan oleh kelembutan Lestari yang apa adanya. Ia berhenti sejenak di ambang ruang tengah, melihat pemandangan yang telah disiapkan Adi. Martabak yang sudah dipotong-potong, dua cangkir teh yang mengepulkan uap wangi, dan alunan musik yang menenangkan. Matanya berkaca-kaca karena rasa haru yang tiba-tiba membuncah. Semua pertempuran yang ia hadapi seharian tadi—Kode Biru, pasien yang sulit, tumpukan laporan—terasa sepadan jika di penghujung hari ia bisa pulang ke pemandangan seperti ini. "Sini," panggil Adi lembut dari sofa, menepuk-nepuk ruang kosong di sampingnya. Lestari berjalan dan duduk di sampingnya. Ia tidak langsung mengambil martabak. Ia hanya duduk di sana, menyerap suasana, membiarkan kedamaian itu meresap ke dalam pori-porinya. Adi tidak mendesaknya untuk bercerita. Ia tahu, sebelum berbagi cerita, Lestari butuh waktu untuk kembali menjadi dirinya sendiri. Di apartemen lantai tujuh belas itu, diiringi oleh musik yang lembut dan aroma martabak keju, dua dunia yang tadinya terpisah kini telah kembali menyatu dengan sempurna. Hari Senin mereka yang panjang dan berat, akhirnya, benar-benar selesai.

Garis Langit Abu-abu

Jarum Jam yang Merangkak Pulang

Di publikasikan 12 Oct 2025 oleh Titik Nol

Di kantor Adi, jarum jam di dinding seolah merangkak dengan sangat lambat menuju angka lima. Namun, tepat saat jarum panjang itu menyentuh angka dua belas, sebuah energi kolektif yang tak terlihat langsung menyebar ke seluruh ruangan. Suara ketukan keyboard yang tadinya konstan kini berganti menjadi suara klik mouse yang mematikan aplikasi, derit kursi yang didorong mundur, dan ritsleting tas yang ditarik. Pertanda jam kerja telah usai. Adi menyelesaikan kalimat terakhir dalam emailnya, menekankan tombol "kirim" dengan perasaan lega yang luar biasa. Ia menutup semua jendela aplikasi di komputernya satu per satu, seolah sedang menutup toko untuk hari itu. Terakhir, ia menatap wallpaper di layarnya—foto Lestari yang tersenyum di tepi sebuah danau—sebelum akhirnya mematikan komputer. Misinya hari ini selesai. "Langsung pulang, Di?" sapa Pak Heru yang sudah menyampirkan tas di bahunya. "Iya, Pak. Ada misi lain di rumah," jawab Adi sambil tersenyum. "Hati-hati, jalanan lagi sadis-sadisnya," nasihat Pak Heru. Adi membereskan mejanya, memastikan semuanya kembali rapi seperti pagi tadi. Saat ia berjalan keluar dari gedung kantor yang dingin dan formal itu, ia merasakan sebuah kelegaan yang luar biasa, seolah baru saja melepaskan sebuah kostum yang berat. Persona Aditia Wibawa Sena, sang staf pemerintah, kini ia tinggalkan di mesin absensi sidik jari. Saat kakinya melangkah menuju parkiran motor, ia kembali menjadi Adi. Pikirannya tidak lagi dipenuhi oleh disposisi dan laporan, melainkan oleh pertanyaan yang jauh lebih penting: Malam ini masak apa, ya? Dan bagaimana kabar Lestari seharian ini? .......................................................... Ada dua jenis lelah di dunia ini. Lelah karena jiwamu terkuras oleh rutinitas yang hampa, dan lelah karena jiwamu kau berikan seutuhnya untuk sebuah perjuangan yang bermakna. Keduanya membuat tubuhmu ingin rebah, namun hanya satu yang membuat hatimu merasa penuh. .......................................................... Satu jam kemudian, di belahan kota yang lain, jam di dinding ruang perawat menunjukkan pukul enam lebih. Lestari sedang duduk, menyelesaikan catatan perkembangan pasien terakhirnya untuk hari itu. Tubuhnya terasa berat, punggungnya sedikit pegal, dan matanya perih karena terlalu lama menatap catatan medis dan layar monitor. Hari ini, setelah insiden Kode Biru di pagi hari, sisa harinya dipenuhi oleh serangkaian "api-api kecil" lainnya: pasien yang kadar gulanya tiba-tiba anjlok, keluarga pasien yang meminta penjelasan berulang-ulang, dan tumpukan hasil lab yang harus ia analisis. Perisainya memang tidak retak, tetapi kini terasa sedikit penyok di beberapa bagian. Setelah menyerahkan laporannya kepada tim jaga malam, secara teknis tugasnya sudah selesai. Tapi ia tidak langsung pergi. Ia berjalan menyusuri koridor yang kini lebih tenang. Tujuannya: ruang ICU dan kamar nenek yang tadi pagi ia tenangkan. Di ICU, ia melihat dari balik kaca, pasien pria paruh baya yang tadi pagi ia tarik dari ambang kematian. Kondisinya kini stabil, mesin-mesin di sekitarnya berbunyi dengan ritme yang teratur. Sebuah kemenangan. Lalu, ia berjingkat ke kamar sang nenek dan mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Nenek itu sedang tertidur pulas, wajahnya terlihat damai, dan di meja samping tempat tidurnya ada sebuah gambar krayon hasil karya cucunya. Sebuah kemenangan kecil lainnya. Melihat kedua pemandangan itu, rasa lelah di tubuh Lestari seolah menemukan maknanya. Ini adalah alasannya. Inilah yang membuat semua kelelahan ini sepadan. Dengan perasaan yang sedikit lebih ringan, ia kembali ke ruang ganti. Ia melepaskan jas dokter putihnya, menggantungnya di loker. Melepas jas itu terasa seperti melepaskan seluruh beban hari itu. Ia kembali menjadi Lestari. Dan Lestari ingin pulang. .......................................................... Perjalanan pulang bukanlah sekadar pergerakan fisik dari titik A ke titik B. Itu adalah proses alkimia di mana seorang profesional perlahan larut dan kembali menjadi manusia seutuhnya. Tujuan akhirnya bukanlah sebuah gedung, melainkan sebuah pelukan. .......................................................... Di atas sepeda motornya, Adi membelah kemacetan senja kota Bandung. Angin malam yang mulai dingin menerpa wajahnya, membersihkan sisa-sisa kepenatan dari ruang rapat tadi. Di tengah perjalanan, matanya menangkap sebuah gerobak penjual martabak manis yang ramai dikunjungi. Sebuah ide "receh" yang brilian melintas di benaknya. Ia menepikan motornya. "Satu martabak keju-cokelat, Mas. Yang spesial," pesannya. Ia tahu ini adalah salah satu "obat" favorit Lestari setelah hari yang panjang. Sementara itu, di dalam mobilnya, Lestari terjebak di tengah lautan lampu merah dan klakson. Tapi ia tidak merasa terganggu. Ia menyalakan musik, sebuah daftar putar berisi lagu-lagu folk akustik yang Adi buatkan untuknya. Alunan gitar yang lembut dan vokal yang menenangkan menjadi kepompong yang melindunginya dari hiruk pikuk di luar. Pikirannya tidak lagi pada pasien atau penyakit. Pikirannya sudah berada di depan pintu apartemennya. Membayangkan sebuah pancuran air hangat, secangkir teh, dan keheningan yang nyaman bersama Adi. Dua perjalanan yang berbeda, dari dua dunia yang kontras. Satu di atas sepeda motor yang lincah, membawa oleh-oleh hangat. Satunya lagi di dalam mobil yang nyaman, dibuai oleh alunan musik. Keduanya tidak tahu detail dari hari yang baru saja dilewati pasangannya. Tapi keduanya tahu satu hal yang pasti: jalan yang mereka tempuh, meski berbeda, akan berakhir di titik yang sama. Di sebuah pintu di lantai tujuh belas. Di sebuah tempat yang mereka sebut rumah. Dan antisipasi untuk saat itu membuat sisa perjalanan terasa jauh lebih ringan.

Garis Langit Abu-abu

PENGENALAN TOKOH

Di publikasikan 10 Oct 2025 oleh Neo Paradox

Rumah keluarga Narendra adalah representasi sempurna dari kesuksesan yang elegan dan terukur. Sebuah rumah di kawasan Menteng yang didominasi oleh kaca dan batu alam, dengan aura hangat namun sedikit formal. Di pusat rumah itu, di lantai dua, terletaklah misteri terbesar keluarga: Ruang Pribadi Ayah. Sebuah pintu mahoni gelap, tanpa pegangan, hanya panel kode digital, terletak di ujung koridor sunyi, diapit oleh perpustakaan dan ruang kerja utama. Ruangan itu adalah simbol. Simbol dari privasi absolut yang dijunjung oleh sang kepala keluarga, Rendra Narendra. Rendra Narendra (58 tahun): Ayah dan suami. CEO perusahaan konstruksi besar. Karakternya stoik, sangat logis, sukses, dan mencintai keluarganya dengan cara yang rigid—melalui materi dan kestabilan, bukan afeksi verbal. Dian Paramita (56 tahun): Ibu dan istri. Ibu rumah tangga yang anggun. Secara emosional, ia adalah jangkar keluarga, namun ia kini mulai merasa lelah dan galau dengan jarak yang diciptakan Rendra. Arka Narendra (30 tahun): Anak sulung. Seorang pengacara perusahaan yang pragmatis dan sinis. Ia melihat hidup dalam angka dan fakta. Paling tidak percaya pada hal-hal emosional dan paling curiga terhadap 'rahasia' ayahnya. Gia Narendra (28 tahun): Anak tengah. Seorang desainer interior yang sensitif dan baper. Ia mendambakan kedekatan emosional dan merasa paling terasingkan dari ayahnya. Kenan Narendra (20 tahun): Anak bungsu. Mahasiswa IT yang chill dan sedikit cuek. Secara fisik paling jauh, tetapi memiliki kemampuan teknis yang membuatnya menjadi kunci pemecah misteri. Lani (30 tahun): Istri Arka. Sosok yang realistis, namun mudah terpengaruh oleh drama keluarga. Ia bertindak sebagai 'agen provokator' tidak langsung.

RUANG PRIBADI AYAH

Chapter: I - Kunci Digital & Kecurigaan

Di publikasikan 10 Oct 2025 oleh Neo Paradox

[Sabtu malam]1 Bulan Menjelang ulang tahun Rendra yang ke-59 Malam itu, keluarga berkumpul untuk makan malam. Suasana terasa intim namun tegang. Rendra, seperti biasa, tampak sibuk dengan ponselnya, bahkan saat Dian menyajikan hidangan favoritnya. "Ayah, apa sih yang lebih penting dari makan malam keluarga?" protes Gia dengan nada merajuk. Rendra mendongak, tatapannya lelah. "Maaf, Nak. Ada urusan mendesak dengan proyek di Kalimantan. Ini proyek besar, Nak, deadline sudah mepet." Arka menyahut, "Proyek Kalimantan? Bukannya rumornya perusahaan Ayah sedang kritis di sana? Ada issue utang sama supplier besar?" Rendra membanting ponselnya pelan. "Arka, jaga bicaramu. Itu masalah internal, dan tidak ada yang namanya 'kritis'. Bisnis ada naik turunnya." Sejak Rendra tiba-tiba menjadi sangat protektif terhadap ponsel dan laptopnya dalam beberapa bulan terakhir, kecurigaan keluarga semakin membesar. Namun, yang paling mengganggu adalah perlakuan Rendra terhadap Ruang Pribadi. Sore harinya, saat Kenan tanpa sengaja melewati koridor lantai dua, ia melihat Rendra memasuki ruangan itu. Rendra memasukkan kode dengan sangat gercep dan langsung mengunci pintu. Namun, Kenan sempat melihat sekilas: di dalam ruangan itu, ada cahaya kuning remang-remang, dan ia bersumpah mendengar suara aneh, seperti getaran atau gesekan yang ritmis. Malam itu, di ruang keluarga, Arka, Gia, Kenan, dan Lani berkumpul. Dian sudah tidur, lelah. "Ayah makin aneh, deh," kata Gia, baper dengan sikap Ayahnya di meja makan. "Gue yakin dia lagi ada masalah. Perubahan sikapnya ini kayak dia lagi galau berat." "Galaunya nggak penting," potong Arka, suaranya tajam. "Yang penting itu perusahaannya. Gue yakin Ruang Pribadi itu isinya dokumen ilegal atau surat utang!" lanjut Arka. Lani mengangguk setuju. "Iya, Ken. Lo harus spill the tea soal ruangan itu. Lo kan jago tech. Apa susahnya sih bobol pintu digital itu?" Kenan, yang selama ini chill, merasa tertekan. "Waduh, kak. Itu panelnya lumayan canggih. Bukan cuma PIN, tapi ada sensor sidik jari cadangan. Lagipula, itu kan privasi Ayah. Nggak etis." "Privasi apa, Ken?" balas Arka dengan nada menghakimi. "Dia itu kepala keluarga! Kalau dia bikin bangkrut, kita semua yang kena. Kita nggak mau image keluarga kita hancur cuma karena Ayah sok perfect di luar tapi bangkai di dalam!" Kenan mendesah. Ia mulai merasa, demi kebaikan dan kedamaian hati ibunya, misteri ini harus dipecahkan. Keputusan dibuat, mereka harus masuk ke Ruang Pribadi Ayah sebelum pesta ulang tahun Rendra. Kenan, sebagai tech-guy, ditugaskan mencari cara untuk bypass keamanan. Ketegangan di rumah meningkat. Dian mulai merasa ada yang disembunyikan anak-anaknya. Ia sering melihat mereka berbisik-bisik di dapur. Sementara itu, Rendra menjadi semakin tertutup. Arka menghubungi Kenan setiap hari. Ia mengiriminya data-data keuangan perusahaan Rendra yang ia dapat dari koneksinya. Angka-angka memang terlihat merah, menguatkan dugaannya soal kebangkrutan yang disembunyikan. “Ken, lo harus sat-set! Kalau sampai Ayah keburu pindahin aset, tamat kita! Itu pasti surat-surat saham bodong di sana!” Gia menemukan dompet lama Rendra di laci meja tamu. Di dalamnya, ada foto lama yang buram. Foto seorang wanita muda, bukan Dian, dengan coretan tulisan tangan di belakangnya. Gia langsung nangis Bombay. “Ya Tuhan, Arka! Kenan! Ini pasti mantan Ayah yang mau dia temui lagi! Dia mau ninggalin Ibu, Ar! Ruangan itu pasti isinya surat cinta dan kenangan masa muda mereka!” timpal Lani. Keluarga terbagi dua, Arka fokus pada kehancuran finansial, Gia fokus pada kehancuran pernikahan. Keduanya sama-sama takut. Dua hari sebelum ulang tahun Rendra, mereka melancarkan aksi. Rendra sedang berada di luar kota untuk rapat darurat. Dian tidur lebih awal karena sakit kepala. Kenan membawa peralatan lengkapnya. Ia berhasil menonaktifkan sensor sidik jari, tetapi PIN-nya tetap menjadi masalah. "PIN itu pasti tanggal penting," bisik Lani, yang ikut deg-degan. "Gue udah coba semua tanggal lahir kita, tanggal jadian Ayah-Ibu, tanggal pernikahan," kata Kenan, wajahnya berminyak karena keringat dingin. "Nggak ada yang berhasil!" Saat Kenan hampir menyerah, Gia teringat. "Coba... coba tanggal lulus kuliah Ayah, Ken. Dia kan selalu bilang masa kuliah itu momen paling mantul dalam hidupnya." Kenan memasukkan tanggal itu. BIP... BIP... BIP... KLIK! Pintu mahoni itu terbuka. Anggota keluarga itu berdiri di ambang pintu, menahan napas. Mereka siap menghadapi tumpukan surat utang, atau mungkin lukisan seorang wanita misterius, atau bahkan dokumen gugatan cerai. Namun, pemandangan di dalamnya membuat mereka terdiam. Ruangan itu... Tidak seperti yang mereka bayangkan. Bersambung..

RUANG PRIBADI AYAH

Bab 2 Warna Diantara Kita ( The Color Between Us )

Di publikasikan 09 Oct 2025 oleh MUFARA`

Kafe itu kini tak lagi terasa sepi seperti dulu. Hari demi hari telah berlalu, ini adalah hari ketiga setelah kedatangan Hana, membuat hari ku yang terasa hampa menjadi lebih berwarna, hari di mana semuanya berubah dan membuat setiap langkah hidupku ini semakin terasa lebih mudah. Bukan karena pengunjung yang terus bertambah, tapi karena Hana selalu muncul membawa suara, warna, tingkah laku lucu dan aneh yang dia miliki. Karena nya membuat suasana di kafe ini terasa jauh lebih hidup. seperti yang ku katakan sebelum nya ia terus duduk di kursi yang sama di samping ku, selama tiga hari berturut-turut. Kadang sambil memotret kopi, kadang menulis sesuatu di buku catatan kecil berwarna kuning. Hari ini, seperti biasa, Hana datang dengan wajah cerah dan kamera yang terus tergantung di lehernya.  Tanpa menunggu izin dariku ia duduk di sampingku dan berkata, "Aku kira kamu nggak datang hari ini. Kafe ini sepi banget tanpa kamu."  Aku hanya menatap nya sekilas dan melanjutkan untuk meminum kopiku yang sudah dingin.  "Aku selalu datang jam segini." "Iya, tapi aku selalu saja mengkhawatirkanmu," Katanya ringan sambil mengedipkan mata. " kamu tuh tipe orang yang bisa hilang tiba-tiba, nggak sih?"  Aku terdiam sejenak.  Kata-kata yang di ucapkannya membuat hatiku tertampar sedikit, tapi aku menajawabnya dengan pelan,  "Mungkin saja."  Hana mengamati ekspresiku. Ia seakan tahu apa yang aku sembunyi kan di balik tatapan ku yang datar, walaupun tau tapi ia tidak menanyakan hal itu lebih jauh.  Sebaliknya, ia tersenyum dan meletakkan kameranya di meja. "Aku ingin memotretmu." Aku menoleh dengan cepat ke arahnya. "Apa?" "Kamu. Aku ingin ambil foto kamu. Tapi jangan senyum dulu, ya." "Kenapa?" "Karena wajahmu seperti orang yang ingin belajar hidup kembali." kata nya sambil terseyum dan memegang kamera nya yang sudah siap. Klik.  Satu jepretan kamera yang terdengar. Aku terdiam. Aku tidak tahu harus bagaimana bereaksi. Tapi entah mengapa jantungku terasa berdetak lebih keras dari biasanya. Hana menatap hasilnya, lalu tersenyum kecil.  "Lihat? Bahkan wajah mu yang tanpa senyum itu, terasa... lebih nyata." Aku menatap nya, lama. Ada sesuatu pada cara Hana berbicara. sederhana, tapi penuh makna yang menembus segala bentuk pertahanan yang sudah ku pertahankan selama ini. Hari-hari berikutnya berlalu seperti warna-warna lembut di kanvas yang sedang di lukis. Kadang kami hanya duduk diam, saling menatap jendela tanpa berbicara. Kadang Hana bercerita panjang lebar tetang hal-hal kecil seperti, kucing liar yang ia temui, aroma roti dari toko roti sebelah, atau langit sore, yang menurutnya "terlalu indah untuk di abaikan." "Kamu tahu nggak, Rei," katanya di suatu sore, "langit itu ngga pernah benar-benar biru ya. Kadang cuma abu-abu yang pura-pura bahagia." Aku menatap langit di luar jendela.  "Mungkin kayak manusia, ya" kata ku.  Hana terseyum kecil mendengar ku dan berkata, "kamu juga pura-pura bahagia." "Aku hanya belum lupa caranya," jawabku pelan. "Nggak apa-apa. Kalau kamu lupa... aku bisa mengigatkanmu." Aku menatapnya. Ada sesuatu di mata gadis ini. Cahaya hangat yang membuat dunia di sekitarku terasa hidup kembali. Malam itu, ketika Hana sudah pulang, Aku menatap foto yang tadi sempat diambil oleh gadis itu.  Wajahku sendiri di balik foto hasil dari jepretan yang ia buat.  Datar, tapi dengan tatapan yang entah bagaimana terasa... berwarna kembali.  Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menulis sesuatu di buku catatannya : "Ada seseorang yang membuat diamku terasa berbunyi." 🌸🌸🌸

SILENCE IN BLOOM

Bab 1 Pertemuan Di Kafe Senja ( The First Bloom )

Di publikasikan 08 Oct 2025 oleh MUFARA`

Langit sore yang tampak oranye. Hujan baru saja berhenti, aroma tanah basah yang menyebar dan suara rintik kecil dari sisa hujan membuat atap dari kafe yang kutempati, menciptakan sebuah suara yang begitu tenang. Kafe yang terletak di pinggir jalanan itu adalah tempat favoritku. Namaku Rei, seperti biasa aku hanya duduk sendirian di kafe tersebut menikmati secangkir kopi dingin dan menatap ke arah jendela yang buram. ya, jendela tersebut berembun karena sehabis hujan. Kaca yang memantulkan bayangan wajahku yang samar serta asing. Aku tidak tahu berapa lama aku sudah hidup seperti ini. Datar, sunyi, tanpa alasan untuk tersenyum. Sampai akhir nya keheningan yang aku rasa kan tadi... terpecah saat mendengar suara pintu kafe terbuka. Bel berbunyi pelan. Dan suara langkah tergesa terdengar mendekat. "Ah! Akhirnya... dapat juga nih kursi yang kosong !" Tanpa meminta izin, seorang gadis berambut cokelat muda dengan jaket kuning pastel langsung duduk tepat di samping ku. Tatapannya hidup, matanya berkilau seperti matahari yang menembus hujan.  Aku menatapnya sebentar. Gadis itu membalas dengan tersenyum lebar. "Apa kau keberatan ? Semua meja penuh, aku cuma mau duduk sebentar." "Tidak," Jawabku datar. "Syukurlah."  Gadis itu membuka tasnya, mengeluarkan sebuah kamera kecil, dan menatap keluar jendela. Ia mengambil foto dari rintik air yang jatuh dari atap, lalu berkata pelan tanpa menoleh: "Cantik, ya? Dunia setelah hujan itu... kayak baru mulai bernapas lagi, seperti orang baru yang terlahir kembali dan menjalani nya dengan sepenuh hati." Dia terseyum kembali. Aku tidak menjawabnya. Namun entah mengapa, kalimat yang di ucapkan nya terasa menusuk di dadaku.  Aku menatap gadis itu diam-diam. Caranya tersenyum, caranya menikmati hal sederhana, seolah setiap detik nya kehidupan yang ia lalui itu sangat lah berharga baginya.  "Nama ku Hana," kata nya sambil menatap ku. "Dan kamu?" "... Rei." "Rei?" Ia tersenyum lagi. "Nama yang sangat cocok untuk auramu yang terlihat tenang." Aku menundukkan kepalaku. Aku belum pernah merasa ada seseorang yang bicara padaku seakrab itu sebelumnya. Lalu gadis itu menatap langit di luar jendela, menutup kameranya, dan berbisik pelan: "Aku suka tempat ini. Rasanya damai. Mungkin aku akan datang lagi besok." Ia berdiri, melambai singkat, lalu pergi sebelum aku sempat berkata apapun. Hanya aroma samar parfum bunga tertinggal di udara.  Perasaan senang dan penasaran yang tak bisa di jelaskan oleh kata kata, karena gadis tersebut hadir sesaat di kafe favoritku. Menjadikan ini sebuah perjalanan awal dari kisahku selanjutnya. Aku menatap kursi kosong di sampingku dan tersenyum kecil. Nama yang sangat indah, Hana yang berarti bunga sesuai dengan bau parfum yang ia tinggalkan. Hari itu dan untuk pertama kalinya aku merasa dunia yang sudah kuanggap hampa, berwarna kembali datang menemui ku saat aku sudah putus asa akan kehidupan.  🌧️🌧️🌧️

SILENCE IN BLOOM

Eps.10

Di publikasikan 08 Oct 2025 oleh Fakhrin bella

Episode 10: Fajar Kebenaran ​Malam tiba. Clara menyelinap ke ruang bawah tanah Kristal Luna. Raja Theodoric dan Entitas Luna sudah menunggunya. ​"Clara, jangan!" teriak Raja Theodoric, menangis. ​Ratu Lysandra (Entitas Luna) maju. "Theodoric, biarkan dia. Sudah waktunya bagi Gloriana untuk hidup." ​Clara menarik busurnya. "Ibu," bisik Clara, air mata membasahi pipinya, "Aku tidak bisa membiarkanmu menanggung beban ini lagi. Aku tidak mau kedamaian yang dibangun dari penderitaanmu." ​"Maka tembaklah, Pemanahku," jawab Ratu dengan senyum sedih. ​Clara memejamkan mata dan melepaskan tali busur. ​FSSSH! KRACK! ​Panah Perak menembus Kristal Luna. Kristal itu pecah, dan jutaan partikel cahaya biru melayang ke atas, menyebar ke seluruh Gloriana. Raja Theodoric jatuh berlutut. Ratu Lysandra (Entitas Luna) bersinar, dan ia menghilang. ​Clara merasakan gelombang emosi yang kuat menyentuhnya: rasa bersalah, kegembiraan, kepahitan. Ia merasakan segalanya. ​Pagi hari di Gloriana tidak lagi sempurna. Terdengar tangisan keras dan teriakan kebingungan, diikuti oleh tangisan lega. Orang-orang mulai merasa lagi. ​Clara, yang kini berdiri sendirian di balkon, mengamati kekacauan dan kebangkitan di bawahnya. ​"Gloriana," gumamnya, menghapus air mata, "selamat datang kembali ke dunia yang nyata." ​Ia adalah putri yang menghancurkan kedamaian palsu, tetapi yang membawa pulang kebenaran. Gloriana telah hidup. ... Next "CLARA AND... "

Putri Clara dan kristal kebahagiaan

Eps.09

Di publikasikan 08 Oct 2025 oleh Fakhrin bella

Episode 9: Keputusan yang Menghancurkan ​Clara kembali menemui Elara. "Elara, aku harus menghancurkannya. Aku tidak bisa membiarkan Ibu... Entitas Luna... terus menderita demi sebuah kebohongan." ​Elara mengeluarkan sebuah kotak kecil. Di dalamnya, terbaring sebuah Anak Panah Perak Murni yang diukir dengan simbol penolakan sihir kuno. ​"Ini adalah warisan keluarga saya," jelas Elara. "Panah ini akan membongkar energi itu, membiarkannya kembali ke tempat asalnya, yaitu pikiran rakyat." ​Clara mengambil panah itu. "Aku akan melakukannya. Aku akan membayar harga untuk kebenaran." ... Eps.10

Putri Clara dan kristal kebahagiaan

Eps.08

Di publikasikan 08 Oct 2025 oleh Fakhrin bella

Episode 8: Clara dan Sang Raja ​Clara mencari Raja Theodoric. "Ayah tahu Ibu... Ratu Lysandra... bukanlah Ibu kandungku. Ayah tahu dia adalah Entitas Luna." ​Raja Theodoric mengangguk. "Aku mencintainya. Ketika dia datang, mengambil bentuk istriku yang meninggal, dia menawarkan Gloriana kehidupan, dan aku menawarkan dia perlindungan. Kami saling membutuhkan." ​"Ayah menjual kedamaian palsu dengan mengorbankan Entitas itu! Dia menanggung rasa sakit seluruh Gloriana!" seru Clara. ​"Itu adalah pilihannya!" balas Raja. "Dan itu adalah pilihanku untuk mempertahankannya! Jika kristal itu hancur, dia akan hancur karena semua energi yang tersimpan akan dilepaskan sekaligus. Gloriana akan kehilangan kedamaiannya, dan aku akan kehilangan dia!" ​Clara memalingkan wajahnya. "Aku adalah Pemanah. Aku tidak akan pernah memanah kebohongan." ... Eps.09

Putri Clara dan kristal kebahagiaan

Eps.07 {star of story}

Di publikasikan 08 Oct 2025 oleh Fakhrin bella

Episode 7: Pengakuan Sang Ratu  ​Clara menghadapi Ratu Lysandra di taman mawar. ​"Ibu, aku tahu tentang Kristal Luna. Bagaimana Ibu bisa membiarkan kita hidup dalam kebohongan?" ​Ratu Lysandra tersenyum, tetapi matanya memancarkan rasa sedih yang aneh. "Aku membiarkannya, Sayangku, karena aku melihat apa yang bisa dilakukan oleh kesedihan. Gloriana bunuh diri dengan amarahnya sendiri." ​Ratu kemudian memegang tangan Clara. Jari-jarinya terasa dingin. "Aku harus mengakui sesuatu yang lebih besar dari Kristal Luna. Clara, kamu adalah putriku, tetapi aku bukan ibumu yang sebenarnya. Putri Clara yang asli meninggal saat bayi. Aku adalah Entitas Luna, makhluk yang ditugaskan untuk menjaga kristal itu. Aku mengambil bentuk ibumu, Lysandra, agar aku bisa memastikan operasi Pelepasan Emosi berjalan lancar." ​Clara terhuyung mundur. "Ibu... Ibu adalah makhluk lain?" ​"Ya," jawab Ratu. "Dan inilah hukuman yang aku tanggung. Karena aku adalah penjaga, aku adalah satu-satunya makhluk di seluruh Gloriana yang mengingat semua emosi negatif yang diserap kristal selama tiga abad. Semua keputusasaan, semua kemarahan... aku merasakannya setiap detik. Aku adalah keranjang sampah emosional Gloriana. Aku adalah true ibu Gloriana, dalam penderitaan yang tak terbatas." ... Eps.08

Putri Clara dan kristal kebahagiaan

Eps.06

Di publikasikan 08 Oct 2025 oleh Fakhrin bella

Episode 6: Dilema Moral ​Keesokan harinya, Raja Theodoric memanggilnya. Raja tampak lelah. ​"Clara, aku melihat kamu banyak menghabiskan waktu dengan dayang itu, Elara. Dan kamu terlihat semakin gelisah. Apa yang kamu cari?" ​Clara menatap ayahnya tanpa gentar. "Aku mencari kebenaran, Ayah. Aku telah menemukan Kristal Luna." ​Raja Theodoric menghela napas. "Aku tahu hari ini akan tiba. Kami membangun surga untukmu, Clara. Sebuah surga yang kami beli dengan rahasia. Apakah kamu ingin menghancurkannya dan membawa neraka kembali ke Gloriana?" ​"Neraka apa, Ayah? Neraka mengingat? Kebahagiaan tanpa rasa sakit bukanlah kebahagiaan sejati. Itu adalah ketiadaan!" ​"Kau masih muda," jawab Raja dengan suara yang lebih keras. "Kau belum tahu betapa kejamnya dunia tanpa kristal ini. Jangan bertindak berdasarkan idealisme yang dangkal! Tugasmu adalah melindungi kerajaan ini." ... Star of story Eps.07

Putri Clara dan kristal kebahagiaan

Eps.05

Di publikasikan 08 Oct 2025 oleh Fakhrin bella

​Episode 5: Petunjuk dari Bawah Tanah ​Elara memberikan petunjuk: sebuah simbol bulan sabit terbalik di lantai gudang anggur tua. ​Malam itu, mereka turun ke bawah tanah. Udara menjadi lebih dingin. Di ujung tangga, ada sebuah ruangan besar. Di tengah ruangan itu, Kristal Luna memancarkan cahaya biru redup, berdenyut pelan. ​"Lihat prasasti itu," bisik Elara. "Ini adalah perjanjian. Pelepasan Agung." ​Clara membaca ukiran kuno itu: "Kedamaian Abadi akan dibayar dengan Ketiadaan Memori. Semua kesedihan rakyat Gloriana terkumpul di sini, sebagai pengorbanan suci. Penjaga harus menjaga keheningan." ​Clara merasa mual. Ia menyentuh pilar batu dan merasakan gelombang emosi yang tertekan mengalir di sana. "Kristal ini," kata Clara dengan suara bergetar, "adalah pembohong terbesar di Gloriana. Kita hidup di surga yang dibangun dari keputusasaan yang dicuri." ... Eps.06

Putri Clara dan kristal kebahagiaan

Eps. 04

Di publikasikan 08 Oct 2025 oleh Fakhrin bella

Episode 4: Pertemuan dengan Elara ​Setelah mencari, Clara menemukan Elara, seorang dayang muda di dapur yang terlihat mekanis. ​"Permisi," sapa Clara. "Namamu Elara, bukan?" ​Wanita itu menjatuhkan piring. Piring itu pecah, dan Elara menunjukkan ekspresi kekosongan. "Maafkan saya, Yang Mulia. Itu akan saya ganti." ​Clara menunjukkan lukisan itu. Mata Elara akhirnya menunjukkan secercah emosi: ketakutan. Ia cepat-cepat menarik Clara ke ruang penyimpanan bahan makanan. ​"Bagaimana Yang Mulia tahu nama itu?" bisik Elara, suaranya parau. "Nama itu seharusnya tidak ada!" ​"Aku menemukan ini di arsip rahasia Proyek Luna. Apa itu, Elara? Bisakah kamu memberitahuku mengapa kedamaian Gloriana terasa begitu dingin?" ​"Proyek Luna... adalah alasan mengapa saya bisa menangis," Elara berbisik, air mata mulai menggenang. "Saya adalah keturunan dari mereka yang menolak kristal itu 300 tahun yang lalu. Ingatan kami diwariskan melalui lisan—satu-satunya hal yang tidak bisa diserap kristal sepenuhnya. Kristal Luna memompa kebahagiaan palsu ke seluruh negeri dengan menyerap semua rasa sakit. Ayah dan Ibu Anda... mereka bukan penguasa, mereka adalah penjaga penjara." ... Eps.05

Putri Clara dan kristal kebahagiaan

Eps.03

Di publikasikan 08 Oct 2025 oleh Fakhrin bella

​Episode 3: Sang Pemanah Rahasia ​Clara teringat cerita Ibunya, “Di bawah busur panahmu, tersembunyi kunci untuk melihat yang tak terlihat.” Ia menggunakan alat kecil di liontinnya untuk membuka mekanisme tersembunyi di busur panah keramatnya. Di sana, tersembunyi kunci kuno. ​Ia menyelinap di tengah malam menuju sayap barat. Kunci itu membuka sebuah pintu baja di balik permadani tua. ​Di dalamnya, ia menemukan kantor yang dingin. Sebuah gulungan dokumen menarik perhatiannya: "Proyek Luna: Kodeks Pelepasan Emosi." ​Gulungan itu berisi diagram dan rumus. Inti dari catatan itu berbunyi: "Demi stabilitas 300 tahun, seluruh beban emosi negatif (kesedihan, kemarahan, ketakutan, iri hati) akan dipindahkan ke Resonator Kristal Luna. Subjek akan mengalami kebahagiaan yang konstan, namun kosong. Operasi ini harus dirahasiakan mutlak." ​Clara tersentak. "Tidak mungkin... kedamaian kita... itu buatan?" Di sudut ruangan, ia menemukan lukisan wanita yang mirip dirinya, namun tatapannya sedih. Di belakangnya, tertulis satu nama: Elara. ... Eps.04

Putri Clara dan kristal kebahagiaan