Login Daftar - Gratis

Jangan engkau lihat apa yang Allah berikan kepadanya karena engkau tidak tau apa yang Allah ambil darinya

Di publikasikan 16 Jul 2026 oleh Bangun

Kutipan indah dari ustadz Firanda Andirja dalam salah satu video beliau hafidzahullah. Ini tentang qona'ah, merasa cukup dengan apa yang Allah berikan kepada kita. Tanpa membanding bandingkan nikmat orang lain yang telah Allah berikan kepadanya Setiap nikmat akan ditanya. Jadi janganlah kita merasa iri dengan apa yang di berikan oleh Allah kepada orang lain.

Renungan

Kita ini sebentar

Di publikasikan 16 Jul 2026 oleh Bangun

Seorang yang beriman sudah semestinya memahami bahwa ada kehidupan lain setelah kehidupan kita sekarang di dunia ini. Karena beriman kepada hari akhir ini disebutkan dalam hadits jibril ketika nabi ﷺ ditanya tentang iman. Nabi ﷺ menjawab: (Iman itu adalah) Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir serta engkau beriman kepada takdir baik dan buruk. Dan kehidupan kita di dunia ini sangatlah sebentar, dibandingkan kehidupan setelahnya. Berapa banyak kita menyadari bahwa waktu terasa begitu cepat. Dari kita sebagai anak yang baru lahir tau-tau sudah bisa jalan, dari baru bisa jalan tau-tau sudah beranjak dewasa, dari beranjak dewasa tau-tau sudah menikah, dari sudah menikah tau-tau sudah punya anak yang dewasa, dari sudah punya anak yang dewasa tau-tau badan ini terasa lemah tua renta hingga akhirnya kita semua akan meninggal dunia. Dari anak yang baru lahir hingga meninggal dunia ini kurang lebih rata-rata 60-70 tahun, sebagaimana disebutkan oleh Rasul ﷺ dari 1400 tahun yang lalu: أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ  Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun, dan sangat sedikit yang melebihi itu Dan setelah kehidupan dunia ini, kita akan masuk kedalam alam barzah atau alam kubur kita menyebutnya, yang berapa lamanya kita tidak tau, bisa 1 hari, bisa 10 tahun, bisa 100 tahun, bisa ribuan tahun atau lebih sampai ditegakkan hari kiamat. Setelah alam barzah, kita akan masuk kedalam alam akhirat yang kata Allah azza wa jalla dalam surat Al Hajj ayat 47: وَإِنَّ يَوْمًا عِندَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِّمَّا تَعُدُّونَ Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu Setelah itu hanya ada 2 tempat yang akan dimasuki oleh manusia, surga atau neraka. Dimana kedua tempat tersebut dalam sebuah hadits bukhari no 6544 disebutkan يَا أَهْلَ النَّارِ لاَ مَوْتَ، وَيَا أَهْلَ الْجَنَّةِ لاَ مَوْتَ Wahai penghuni neraka, tidak ada kematian. Wahai penghuni surga, tidak ada kematian. --- Jadi kehidupan kita yang sementara ini, menentukan nasib kita selamanya.

Renungan

Bab 8 Jembatan Kanal

Di publikasikan 01 Jul 2026 oleh Bengkoang

Cukup soal kagetku pada asal-usul Jamia dan gedung-gedung pencakar langit yang menggantung terbalik di atas sana, waktunya kembali ke urusanku dengan lelaki kekar yang masih menungging di tanah ini. “Oi. Oi …, apa dia tadi pingsan?” “Se-sepertinya begitu, Tuan.” “Bisa-bisanya ….” Kutoleh Jamia di sebelah. “Huh.” Kugerakkan kepala sekali. Isyarat yang sontak disahut pakai langkah cepat serta tendangan kaki si kuncen Roda Bara ke permukaan pantat Lame. Duak! “Aaa! Aku tidak melakukan apa-apa, tidak melakukan apa-apaaa …!” Hem. Sebaiknya tidak usah kukatakan apa yang pria kekar kita lakukan pas bangun dari pingsan. Gak bagus—percaya padaku, kalian juga takkan mau melihat cara dia barusan terperanjat. “Bung Mi? Pak Tua Jamia? Ka-kalian …?” “Berhenti menunjuk-tunjukiku dan cepat bayar dua tiket buat kalian naik ke atas—mana?!” ujar Jamia, cekak setengah pinggang sambil menodong Lame dengan tangan tertengadah minta ongkos tol. “Lima neodin.” “Apa?!” sergah pria kekar kita, seolah tak percaya pada pendengarannya. “Ke-kenapa mahal sekali—Pak Tua Jamia, seingatku Tiket Roda Bara bulan kemarin cuma satu neodin per orang ….” Mahal? Hem. Kesampingkan adu tawar Lame dan Jamia sebelah sana. Kalian mungkin lupa atau boleh jadi ada yang belum tahu. Seratus neodin Puing Lalika itu umum buat membeli segenggam batu mana biasa yang dibanderol tujuh ratus perunggu Eldhera, artinya lima neodin tadi cuma tiga puluh lima keping koin paling receh milik benua ini. Mahal dari mananya, coba? “Nih.” Kuberi cucunya John tadi sepuluh neodin lalu mendelik pada pria kekar kita. “Kau keterlaluan kalau masih menawar harga semurah itu, Bung Lame. Dan dia ini orang tua, jangan terlalu kasar.” “Benar, Tuan!” dukung Jamia semangat, “kau harusnya tahu diri. Mana rasa hormatmu, hah—Anak Nakal!” “Bu-bukan begitu!” sanggah pria kekar kita, bela diri sekalian meluruskan informasi. “Bung Mi, dirimu harus tahu satu neodin Pak Tua Jamia itu sepuluh kali neodin biasa. Lima di sini maksudnya lima ratus suth, bukan cuma lima puluh macam di pasar-pasar Roda Bara di atas sana.” “Oh.” Seketika delikanku berpindah arah, dan sekali lagi kutoleh Jamia pakai mata sebal. “Kau ini aslinya mau merampok, hah, Bocah?” “Hehe.” Cucu teman lamaku itu terkekeh dan garuk kepala. “Ha-hanya kebiasaan ….” *** Ini bukan pengalaman pertamaku menyeberang ke kanal lain. Jadi saat Jamia membuka portal Roda Bara di atas sana, kulihati arloji pemberiannya sebentar lalu kulempar cip pelacak sama alat teleportasi sekali pakai itu ke belakang terus terbang menyusul Lame yang langsung terangkat ke udara begitu memakai ‘tiket masuk kanal lain’ tersebut. Buat jaga-jaga. Kulepas penanda koordinat mantra teleportasi satu arah ke bawah sana tepat sebelum melewati selaput gelembung pembatas kanal sampai …. [Radiasi tower tidak terdeteksi.] Chloe memberitahuku separuh omongan Jamia di bawah—sekarang jadi di atas—sana sesaat lalu bukan hanya bualan atau omong kosong belaka, kanal kecil yang kudatangi ini ternyata betulan jembatan alami tanpa satu pun menara penghubung macam di Puing Lalika dan Tanah Merah. Yang, secara teknis, itu juga berarti dia bisa kuakuisisi langsung tanpa perlu repot berebut dengan host lain. “Hem.” Ketika kakiku mendarat di puncak sebuah gedung. “Bocah tadi bilang sebulan di sini satu jam di luar, terus tiap lima hari atau sepuluh menit di Benua Baru kanal kecil ini juga bakal ganti rupa sesuai bentuk kanal-kanal yang tersambung kemari, terakhir lokasi gerbang-gerbang masuknya ikut teracak pas pergantian itu.” Ting! Chloe tanya apakah diriku perlu sesuatu. “Ya, Chloe. Aku butuh Botol Labu Tawon.” Jika ini benar menara kanal versi alam, maka cara kerjanya gak akan jauh beda sama menara-menara di Tanah Merah-ku sama kanal-kanalnya Chloe dulu, bukan? Paling tidak secara teori. [Tandai koordinat kita?] “Enggak usah. Monitor aja para tawon, Chloe. Aku di sini cuma buat ngelihat situasi doang ….” Rencanaku sekarang, setelah datang kemari, cuma memverifikasi keterangan dari Jamia sekalian membuktikan beberapa dugaan soal kanal kecil ini. Selebihnya paling hanya melihat-lihat …. *** Kalau kuingat-ingat. Dulu, dulu sekali. Ketika kakiku benar-benar baru pertama kali menginjak pesisir Benua Baru, entah berapa milenium silam, pemandangan pertamaku juga tidak jauh beda dari apa yang menggantung terbalik di atas sana. Ya. Kurang lebih. Pepohonan, hijau sejauh mata memandang. Butiran pasir, putih menyamai buih selepas ombak berbalik arah serta membentang sangat panjang waktu kutoleh kanan kiri. Lalu birunya langit …. “Hem.” Tidak. Langit Benua Baru kala itu kelabu, sangat, dan lebih baik bila jangan kukatakan sekelabu apa—pokoknya kelabu, titik. “Jadi mereka datang dari sini ….” Pendeknya benua ini masih sangat asing dan jauh dari kata damai meski bentang alamnya menakjubkan. Salak, dengking, dengan pekik saling sahut di kejauhan. Tanah bergetar setiap sekian langkah, disambung oleh deru serta embus debu yang mendorong tubuh berhenti bahkan kerap memaksa diriku berbalik mundur ‘tuk ambil ancang-ancang sebelum mencoba kembali. Kesan pertama yang menantang, harus kuakui. “Jangan harap kalian lolos dari tanganku ….” Ah, ya! Alasanku datang ke tanah asing yang kelak dipanggil Benua Baru ini adalah mereka, makhluk-makhluk berbentuk manusia dengan tambahan sepasang tanduk putih melengkung macam padudan kebalik sama sayap kelelawar yang terbang melintasi laut timur Eldhera satu bulan sebelum diriku nekat menyeberang kemari. Ultrus, kutahu sebutan mereka setelah Doll berbagi gelembung ingatan denganku sekian tahun kemudian—masih lumayan agak lama dari cuplikan saat ini. Doll membutuhkan inti makhluk-makhluk tadi, mutiara biru dengan kemampuan regenerasi tubuh ajaib di kepala mereka, buat melawan penyakit aneh. Kalau kalian tanya untuk apa. Alasan lain, kenapa dulu aku nekat menyeberang ke benua asing, yaitu penjaga tabir benua serupa Yamadi dan ular putih besar di Sarang Naca Putih. Makhluk mitos berwujud tunas bakal pohon raksasa setinggi seperlima benua itu sendiri. Buruanku. “Haha. Aku menemukanmu—hahaha ….” Jangan tanya, aku sendiri tak tahu kenapa diriku mendadak bernafsu ‘tuk memburu monster-monster berskala benua ini setelah menerima warisan Yamadi. Oke? Yang jelas, dulu rasa laparku baru reda ketika mightyguardian dan Jantung Benua di benua keempat kutelan. Itu saja. Selebihnya aku tidak punya penjelasan …. “Huh.” Sekarang semua, hal-hal yang terjadi di masa lalu itu, malah terasa lucu. “Aku terlempar ke dunia lain pas menggali warisan Suku Kara di bawah Reruntuhan Ghori, Gurun Kesik. Terdampar di kanal tanpa penghuni, jadi host terus menerima menara, kehilangan Doll waktu melawan wanita ular di Tanah Merah, lanjut mencari air mata dan berkat naga legenda sambil menyerbu banyak kanal. Berlomba dengan Puing Lalika lantas kembali ke Eldhera. Sekian tahun berikutnya pergi ke Benua Baru demi mencari jejak putriku dan sekali lagi berakhir di kanal kecil yang jelas-jelas sudah dunia lain. Hahaha!” [Anda sedang bicara sendirikah?] Bedanya, kali ini diriku sendirian. “Ya, Chloe. Aku ingin ketawa pas ingat bagaimana hidupku berputar ….” ***

Plester Co.

Bab 7 Kanal Kecil dan Roda Bara

Di publikasikan 01 Jul 2026 oleh Bengkoang

“Kita sampai ….” Hem. Bagaimana aku mengatakan ini? Roda Bara, yang kukira tongkrongan superramai dengan mobil juga motor-motor hasil modifikasi, ternyata sebuah gerbang pinggir kota. Segitu saja. Benar-benar gerbang antara deretan pagar sekian belas kaki berkawat duri pembelah barisan pohon di kanan kiriku sama sisi seberang sana. Bahkan setelah kupakai Mata Perak buat mengintip ke dalam, penampakan yang kudapat sesuai kemasan luar. “Kabin kayu sama seorang penghuni …,” gumamku sebelum menggeser si Jago ke dekat Lame dan pria yang tengah ia ajak bicara, “Bung Lame, candaanmu ini sungguh tidak lucu.” “Eh, ada apa, Bung Mi?” “Kukira dirimu baik hati,” kataku lekas turun dari mobil dan menenteng Kelabang Merah, kapak perangku, menghampiri mereka. “Mau menemaniku melihat Roda Bara—” “Wow, wow, wow!” Ia sigap menjaga jarak sembari mengacungkan tangan, sedang pria yang tadi bicara dengannya segera menarik pistol dari pinggang kemudian menodongkannya ke arahku. Isyarat agar diriku jangan buru-buru mendekat. “Bung Mi, Bung Mi, apa barusan diriku tidak sengaja menyinggungmukah?” “Tuan, saya tidak tahu ada apa, tapi tolong letakkan kapak dari bahu Anda itu di tanah.” “Huh.” Aku mendengkus. “Tidak ada yang bisa memerintahku di medan perang.” “Wow, Bung Mi—Bung Miii … Bung Mi.” Lame semakin menjaga jarak. “Sepertinya kita ada salah paham di sini. Tolong beritahu kami dulu, kenapa kau bisa sampai semarah ini, oke?” “Tuan, tolong tenang.” “Kukira kesepakatanmu dan diriku adalah datang ke Roda Bara buat menonton jagoan-jagoan yang kaubilang sebelum kita sepakat pergi bersama berlaga. Benar begitu, ‘kan, Bung Lame?” “Be-benar, benar! Itu Benar. Kau dan aku akan melihat penampilan L-269 milik Lucy di arena!” “Lantas kenapa kau malah membawaku ke hutan pinggir kota begini, hah?!” Lame dan orang sebelahnya sontak silih lirik sebelum keduanya kompak tertawa berbarengan. “Hahaha … Bung Mi—” Kutodongkan Kelabang Merah pas Lame mau mendekat, membuat ia segera mundur kembali terus berbalik arah dan sembunyi di bahu orang yang sedari tadi menodongiku pistol. “Tuan, mungkin Anda salah paham. Roda Bara, me-memang di sini.” Aku celingak-celinguk, sekali lagi memeriksa sekeliling pakai Mata Perak. “Bohong!” bentakku kemudian, mendekat selangkah dengan kapak perang siap diayun. “Cuma ada kabin tua di depan, dan tidak ada orang lagi selain pak tua yang sekarang sedang membakar daging apalah di sana. Jangan coba-coba menipuku, Kaliaaan—” “Tungguuu!” teriak Lame, ia melompat dan mengacungkan tangan menahanku. “Tunggu, Bung Mi, tunggu … kau salah paham. Salah paham, oke?” “Apanya yang salah?!” “Roda Bara, di atas sanaaa ….” Pria kekar kita kembali berteriak, kali ini sembari memejamkan mata dan menunjuk langit di kejauhan. Menunjukkanku penampakan Roda Bara. Yang, kalian tahu, ternyata menggantung terbalik di atas hutan dan kabin kayu tua di bawahnya. Hem …. *** Sebelumnya, di perjalanan menuju lokasi Roda Bara. “Bung Mi?!” “Apa?!” “Aku tahu ini kali pertama kita pergi bersama!” ujar Lame sebelah sedanku, agak teriak biar gak kalah kencang sama deru motor tunggangannya. “Nanti di Roda Bara kau ikut rombonganku saja. Bagaimana?!” “Ya, ya, aturlah, Bung. Ini benar-benar pengalaman pertamaku!” “Bagus. Percayakan semua padaku. Hahaha …!” Kukira waktu ia bilang percayakan semua padanya tadi berarti aku sudah tak perlu salah paham macam barusan. “Bung Mi?” Tahunya …. “Apa?” “Boleh turunkan kapakmu sekarang?” tanya pria kekar kita, menoleh ke kiri sambil tertawa garing. “Kita akan menemui penjaga portal masuk, gak enak kalau kapak besar—” “Buktikan dulu kita benar-benar akan naik ke sana,” bantahku lalu memutar gagang Kelabang Merah, tanda agar Lame jangan banyak bicara lagi. “Atau tunjukkan saja omonganmu tadi bukan dusta, Bung.” “Haha ….” Ia tertawa lesu. “Kurasa aku tidak bisa menawar—” Lame berhenti, kami kini tiba di halaman kabin kayu yang kuintip pakai Mata Perak dari luar hutan. “Ho. Kau telat lagi, Bung Lame. L-269 kesukaanmu sudah menang dua babak di a—hem … kau bawa teman rupanya. Mari masuk, tidak bagus bicara di luar.” Kalian tahu, adegan selanjutnya rada bikin geli. Pria tua dengan jubah hitam di depan sana berbalik, seakan ia mau membukakan pintu kabin buat kami. Tanpa ada gestur atau gerakan apa pun yang mecurigakan. Namun, pas langkah kedua dari api unggun tempat si pak tua tadi memanggang makan malam, dia tiba-tiba saja melompat ke kegelapan sekitar lalu muncul sebelahku dengan arit mengayun menyasar leher. Sat—Tang! Walaupun, ya, kalian tahu sendiri. Lempeng tipis macam itu langsung patah pas membentur kulitku …. “Kau barusan mau apa?” tanyaku, senyum sinis melirik sang lelaki tua. “Menggarukkan leherkukah?” Kuangkat Kelabang Merah dari bahu Lame. Gerakan yang sontak membuat pria kekar kita menyungkur dan menutupi kepala di tanah. Huh. “Ka-kau bukan pendudu—huek!” “Gak usah bacot …,” gumamku setelah menendang ‘pelan’ perut si pak tua, “simpan saja bualan baumu buat memberitahuku di mana markas kalian, sayang aku kemari kalau cuma memukuli dua orang. Ya, ‘kan?” “A-apa maksudmu?” Wajah heran pak tua di depanku kelihatan menyebalkan, setelah sok dia mau pura-pura bingung. “A-apa, a-apa kau, apa kau penyeberang kanal yang dikirim untuk membuat kacau di sini?” tanyanya pakai bahasa asing, bahasa yang seketika menjeda langkah dan membelalakkan mataku sekejap. “Hah …, kau, kau seorang penyeberang, hah?!” Sekarang gantian, malah diriku yang pasang roman bingung—tambah sedikit tidak peracaya. Bingung sebab kenapa bisa pak tua itu bicara dalam bahasa Puing Lalika yang notabene kanal lain, tidak percaya karena kutahu ini Benua Baru dan tak ada satu pun menara tiga tahun setengahku berkeliaran di sini. Jadi bagaimana mungkin? “Pak Tua,” balasku pakai bahasa yang sama, “siapa kau?” “Huh.” Ia mendengkus. “Bagus, sekarang kau takut pada—akh!” “Jawab saja pertanyaanku, Orang Tua!” “Ba-baik …, baik …, baiiik.” Selanjutnya kulepas ‘cekikan’ dari lehernya, kutarik kursi kayu bekas ia duduk menunggui daging bakar pakai Benang Pandora, lalu kupasang kuping sambil duduk depan si pak tua. Menyediakan diri ‘tuk mendengarkan penjelasan atas kebingunganku pada saat itu. “Sekarang ceritakan apa hubunganmu dengan Puing Lalika dan kenapa kau bisa ada di sini ….” *** Hem. Kalian mungkin gak akan percaya ini. Pak tua yang lagi duduk sopan di hadapanku ternyata salah seorang cucunya John. John, penduduk Puing Lalika yang juga merupakan teman lamaku pas dulu berkeliaran di sana. Jamia putra Jobu alias John Jr. putra pertama John. Siapa sangka. Soal bagaimana dirinya kemari …. “Biar kurangkum dulu. Dirimu diusir dari apartemen tempat kalian tinggal terus ambil sampingan pemandu tur ke kanal lain lalu naik jabatan jadi penjaga salah satu pangkalan kanal di sini setelah seratus tahun?” “Be-benar.” Aku berdecak selesai mendengarkan riwayat pak tua yang ternyata cucu teman lamaku tersebut. “Roda Bara?” “Ro-roda Bara …, oh, maksud Anda kanal kecil di atas sanakah?” tanya Jamia, menunjuk sambil mendongak sekali sebelum lanjut bicara. “Di-dia serupa—tower! Serupa tower, Tuan. Jembatan penghubung kanal alami. Menghubungkan Puing Lalika, Kanal Delapan Satu, dan kanal-kanal besar lain ke tempat ini.” “Jamia, berapa lama kau bertugas di sini?” “Se-sekarang ….” Pak tua itu mengangkat tangan dan mulai menghitung. “Tahun kelima puluhku, Tuan.” Barusan dia bilang dirinya sempat bekerja seratus tahun di Puing Lalika sebelum dilempar kemari, bukan? Jika cerita lima puluh tahun silam tadi benar artinya satu juta tahunku di sini sekitar dua abad Puing Lalika atau kurang, betul? Berarti selisih antara Chloria dan Mirandi kalau pakai perkiraan ini sekitar delapan puluh sampai sembilan puluh ribu tahun saja paling lama. Hah. Akhirnya aku punya kotretan kasar soal waktu hilangku dari Eldhera …. ***

Plester Co.

Bab 6 Kantor Cabang

Di publikasikan 01 Jul 2026 oleh Bengkoang

“Gimana, Bos?” Semingguku kembali berlalu di Benua Baru. Cepat, juga monoton. Aku hampir tak merasakan apa-apa sampai mobil-mobil yang pegawaiku usulkan di perjalanan ke acara makan malam minggu lalu sudah menyambutku di halaman kantor pagi ini begitu saja. “Hem.” Kulirik Stevan dan empat mobil sebelahnya. “Mana yang punya saya?” “Ah! Bos yang ini ….” Selera si kepala bagian humas dan manajer pemasaran itu boleh juga. “Saya gak ada masalah sama tampilan luar …,” ujarku mengangguk dua kali, menyetujui sedan hitam dengan ornamen berbentuk kepala kuda pada ujung penutup mesin bak cula pada hidung badak di depanku. “Cuma, tolong ganti kepala kuda ini sama tanduk banteng atau bulan sabit.” “Ah, si Bos gak suka kuda?” “Bukan,” kataku sambil menoleh, “kepala kuda terlalu biasa buat saya, jadi bosen.” “Oh!” Stevan lekas memanggil orang dealer yang ternyata juga masih di sana ‘tuk memenuhi permintaan kecil barusan, dan beruntungnya mereka punya ornamen lain buat ganti kepala kuda tadi. “Gimana, Bos?” “Hem.” Meski bukan persis yang kumau. “Kepala ayam lagi dongak, tapi macem cula badak,” kataku sebelum kembali menoleh Stevan dan pegawai dealer di sebelah, “gak apa-apalah, daripada enggak banget.” “Hehe. Syukur deh kalau si Bos oke.” “Tolong buka kap mesinnya sebentar, saya mau lihat ….” Aku bukan ahli mobil, tidak paham lebih gamblangnya, dan ini pun pengalaman keduaku dengan sedan setelah dari dealer kemarin lusa. Namun, aku takkan mengakui itu di depan semua orang. Jadi mari lanjutkan aktingku waktu memeriksa ‘pretelan’ mobil hitam tersebut sampai selesai …. “Sekarang.” Setelah tanda terima empat sedan kutandatangani dan semua orang kembali ke kesibukan masing-masing. Diriku, laki-laki bercepol dengan jumsuit di dalam sedan hitam. Usai puas mengusap-usap setir, kaca, dasbor, sebagian kursi hingga ke langit-langit mobil baru. Tengah merapal mantra boneka sembari memegang Mutiara Samudra dan menggantung botol tawon di kaca dasbor. “Dengan nama-Nya Yang Menggenggam Awal, Dia Yang Tak Berawal Maupun Terawali ….” Coba membawa keajaiban Eldhera dengan menanam inti berisi kesadaran bangsa Ultrus ke kendaraan baru. Tid-tid! Lampu sedan itu berkedip dan klakson berbunyi dua kali begitu manik ajaibku berhasil merasuk serta melebur bersama botol tawon tadi. “Bagus! Kau kemudi kendaraan-kendaraanku—” Spontan, kulihat kepala ayam di seberang. “Namamu, Jago!” Segera, tatkala si Jago mendengarku, ia sontak menderu lalu berlari mengejar tiga sedan lain yang sudah duluan melaju membawa Sisi, Stevan, juga Wiji di depan sana. Brum—Swuuush! Sekencang yang empat rodanya bisa …. *** Minggu lalu, di Kediaman Wali Kota Mungli. “... saya rasa Saudara Mi paham maksud asisten pribadi saya, ini sekalian bentuk iktikad baik kota kami dalam menyambut usaha dengan perusahaan jasa angkut barang seperti milik Anda.” Ketika satu sudut bibirku naik dengar omongan pria gendut dan asisten wanita di meja sebelah sana. “Benar,” sambungku dari sofa ruang sebelah aula tempat acara makan malam sebelumnya dilaksanakan, tepat seberang halaman di mana tiga manajerku kini tengah berbincang bersama tamu-tamu lain. “Saya juga paham kerja sama yang Anda singgung bukan sekadar menyediakan keleluasaan gerak, tapi jaminan bahwa perusahaan sayalah satu-satunya pemonopoli usaha sejenis di Mungli, bukan?” “Jadi Anda setuju?” “Belum.” “Loh, kenapa tak bersedia?” tanya si orang nomor satu se-Kota Mungli agak tersentak, lantas silih toleh singkat bersama asisten sebelahnya. “Bukankah Anda sendiri tadi bilang kerja sama kita memberikan perusahaan Anda jaminan monopoli, apanya yang kurang dari itu?” “Bukan tidak, tapi belum. Tolong cermati jawaban saya, Pak Wali Kota.” Pria gemuk tersebut terdiam sejenak. “Kenapa belum?” Jika boleh mengatakan tidak, tentu aku akan bilang tidak. Namun, kata tidak berarti boikot untuk Plester Co. di kota ini. Jadi aku tidak bisa mengatakannya blak-blakan meskipun ingin. “Sebab cara kerja saya by researce,” alasanku pada mereka, “Plester Co. memang berniat membuka cabang di sini, kota Anda, tapi itu dua sampai tiga tahun lagi—setelah tim kami selesai memetakan demografi Mungli!” Kujeda ia pakai telunjuk supaya jangan dulu menyela. “Bisa dipercepat,” lanjutku lantas bergeser ke ujung sofa mendekati si wali kota, “tapi tetap butuh satu sampai setengah tahun dari rancangan dengan peta kerja pascadisetujui.” “Apa Yotaar dan Sebek—” “Sama,” selaku lantas merebah ke sandaran sofa, “bukankah Anda sudah menyelidiki Plester Co. diambil dari nama kelompok tunawisma di sekitaran Stuckenborstel?” “Hem.” Si pria gendut melihat asistennya. “Saya takkan memaksa.” “Namun, Pak Wali Kota.” Aku sadar menolak orang ini terang-terangan dampaknya masih terlalu signifikan buatku dan Plester Co. “Bila Anda percaya, bagaimana kalau kita lakukan percobaan kecil sebelum ….” Alhasil, inti obrolan dengan si gendut pada malam itu ialah kami sepakat diriku akan mengaturkan orang-orangnya ‘tuk mendirikan pangkalan sementara di semua distrik Mungli. Menjual nama perusahaanku sebagai pemrakarsa acara, melakukan uji coba sekaligus pemetaan wilayah kerja selama setahun atau kurang, kemudian menandatangani kerja sama yang ia tawarkan setelah Plester Co. cabang Mungli-ku tadi siap tahun depan. Hal yang entah bagaimana pokoknya harus kugagalkan sekuat tenaga, titik. *** Kembali ke hari ini, satu minggu kemudian, saat di mana mobil pertamaku di Benua Baru melaju sekian puluh mare—ratusan kilometer pakai satuan jarak kalian—ke kota yang entah apa namanya. Ckiiit—Brum! “Oi, Jago. Kau membawaku ke mana ini, hah?” Mobil baruku membunyikan klakson singkat sebagai jawaban, sepertinya dia juga tidak tahu. Hem. “Kau ini ….” Aku lekas turun dari mobil, melihat jalanan sekitar stasuin pengisian bahan bakar umum alias pom bensin—jangan bayangkan bensin hasil sulingan minyak bumi, di sini bensinnya agak beda. Dia gerusan batu kutukan, residu batu mana yang entah bagaimana sudah berbentuk cair dan jadi bahan bakar kendaraan—sepi sekilas, lalu mengambil selang buat memberi si Jago minum. “Kuharap pom sini menerima kartu kredit.” “Tentu saja mereka menerima kartu kredit,” sahut seseorang, pria kekar dengan wajah seorang wanita ikal di lengan kanan berotot yang sempat membuatku terkejut, dari sebelah. Rompi kulitnya keren juga. “Hai, Bung. Sedan itu model paling baru sama keluaran terbatas, ‘kan?” Kulihat si Jago sambil senyum dengar ucapan si pria kekar bertato. “Aku baru lihat sedan ini di jalanan Xelowa,” sambungnya, selesai isi bahan bakar motor gede lalu membayar pakai kartu kredit mencontohkanku. “Lame, tidak ada yang belum mengenalku di sekitaran sini, Raja Malam dari Xelowa Barat.” Kuangguki jempol pria itu sembari lanjut mengisi bensin si Jago. “Entahlah. Pegawaiku yang memilihkan mobil ini … Mi, dari Yotaar.” “Yotaar?! Dirimu jauh-jauh kemari buat menonton Roda Bara-kah?” tanya Lame kemudian, menyempatkan diri ‘tuk mengintip interior si Jago lewat kaca-kaca gelap mobil itu sejenak. “Huh, benar-benar gelap. Takkan ada yang tahu kalau kau menyembunyikan wanita di dalam sana, Bung Mi.” Kepalaku memiring lihat tingkahnya, ia menyisir rambut dan merapikan kerah rompi kulit samping sedanku seolah di depan cermin tanpa malu-malu. “Baiklah, baiklah. Mobilmu, gayamu.” Kutaruh moncong selang bensin lalu membayar pakai kartu kredit mengikuti cara si pria kekar tadi. “Ngomong-ngomong, Bung Mi, kau betulan mau menonton Roda Bara malam ini?” “Kuyakin aku tidak harus menjawabnya, bukan?” kataku sembari meniru postur berdirinya, menaruh lengan kiri di atap si Jago. “Apa yang harus kutahu sebelum kita berdua pergi ke sana, Bung Lame?” Jujur aku baru dengar istilah Roda Bara saat itu. Namun, jika tebakanku benar, ini mungkin ajang balapan liar atau sejenis di kota tersebut. Dan itu kesempatanku buat melihat dunia malam Benua Baru zaman ini …. ***

Plester Co.

Bab 5 Mobil Kantor

Di publikasikan 01 Jul 2026 oleh Bengkoang

“Udah siap semua?!” “Serius gak mau ganti ke tuksedo aja, Bos?” tanya Wiji begitu lihat busanaku ‘tuk acara malam ini, makan malam di Rumah Wali Kota Mungli, delik dan gerak kepalanya bak menyiratkan kecewa. “Acara Wali Kota, loh. Semiformal.” Hariku sebagai CEO Plester Co. berlanjut. Laporan dan jadwal acara silih ganti menyapa meja kerja di siang hari, sedang pada malamnya diriku masih dipaksa ikut acara yang sebetulnya, kalau boleh kubilang terus terang, tidak ingin kudatangi sehabis capek lembur macam sekarang. Meskipun gak tiap hari ada, acara sosial demi bisnis modelan begini buatku menyebalkan. Balik ke busana …. “Memang kenapa sama pakaian saya?” tanyaku merespons mata orang-orang kantor sebelum berangkat ke acara malam itu, “rapi, kok. Sopan juga. Apanya yang salah?” “Bos.” Sisi mendekat. “Bukan maksud apa-apa, tapi kostum pertapa Anda mungkin bisa dicopot dulu—khusus malam ini, tolong. Kita mau ke tempat Wali Kota, betul kata Wiji. Acara semiformal.” Hah?! Memang apa yang salah dengan jubah pertapa. Toh, diriku benar seorang pertapa walau bukan garis keras lantaran pernah menikah dan punya anak. Mataku mulai mendelik di sini. Heran. Jika masalahnya adat, ya, kebiasaan berpakaianku sebagai orang Eldhera Timur mungkin kurang elok bagi standar penduduk Benua Baru zaman ini. Terlebih, sekarang orang sudah tidak lagi punya batas kelompok atau marginalisasi kian pudar sampai semua hal dituntut harus sama. Diriku sadar. Hanya, aku menolak ‘tuk tunduk pada norma semacam itu. Titik. “Gak. Jubah, jumsuit, mantel, sandal, sama cepol saya udah bagus. Enggak ada, ya, tuksedo-tuksedoan.” “Tapi, Bos—” “Saya kira gak apa-apa kalau si Bos pengen pake baju dia,” ucap Stevan, Kepala Bagian Humas dan Manajer Pemasaran Plester Co.-ku dari arah sofa. “Toh, sehari-hari juga penampilannya begitu, ‘kan?” “Nah!” Telunjukku spontan mencuat pada si lelaki klimis, merasa dapat dukungan. “Kalau ganti dandanan gegara ini acara sama pejabat, itu namanya tumben. Sesama laki-laki, paham pikiran laki-laki!” “Beda, ya, cara pikir penjilat mah.” Begitu celetuk Wiji sambil melihat ke teman sesama manajernya dan Sisi tersebut. Namun, tidak berdampak apa-apa sebab kami tetap berangkat dengan dandananku yang ala biasa. Jubah Bukit Muara dirangkap jumsuit, celana kodok, berbahan kulit beruang asli dan Mantel Duyung Ungu sebagai tambahan luar. Kebanggaanku sebagai penduduk Eldhera lintas zaman. Gak lupa, rambut cepol dibalut sutra putih dan ikat bandul marjan kenang-kenangan Guru Kyongdok sama sandal alas mitril. Hehe. *** Menurut kabar, Wali Kota Mungli mengundang banyak artis dan selebritas di acara malam ini. Konon, mereka-mereka sengaja ‘dipelihara’ sedari muda khusus ‘tuk merayu tamu yang menurut si kepala daerah tingkat dua patut atau layak dijadikan kawan pada acara-acara model sekarang. Gamblangnya makan malam nanti merupakan jaring buat memilah antara sekutu sama bukan—dugaanku saja, sih. Pasalnya, aku pernah dengar cerita bahwa Mungli ini punya peran ganda di luaran sana. Selain kota terpadat yang menggantungkan hidup pada aliran limbah kota lain, ia juga merupakan ibu kota dan pusat kegiatan gelap. Jadi, tolong garis bawahi, berurusan sama mereka serupa artinya dengan kita masuk ke gorong-gorong bawah tanah menurut perumpamaan. Cuma, terserahlah. Gak aneh. Toh, bukan kali pertamaku juga. “Bos?” “Ya, Stevan?” “Soal obrolan kita kemarin sore …?” Kulihat Wiji dan Sisi sekilas, dari raut wajah mereka kutahu barusan diriku melamun terlalu lama. “Yang soal mobil inventaris kantor itu?” “Ah, betul. Bos, kita ini pendatang baru yang lagi naik daun. Masa, ya, ke acara-acara formal begini sewa mobil rental terus ….” Mataku mengerling dengar omongan Stevan soal mobil kantor. Topik ini berulang kali ia angkat tiap kali ada kesempatan. Benar-benar tiap kali ada kesempatan, tahu?! Ketika rapat, sehabis bertemu pemodal, sampai di perjalanan ke acara luar kantor macam sekarang. Sang kepala bagian humas dan pemasaranku itu sangat gigih, kuakui. No debate. Kadang, persistensinya ini mengingatkanku pada Roxina. “Saya, kan, udah pernah bilang, ‘Kalau kamu berhasil ngelobi pemkot Yotaar sama kota-kota sekitar Sebek supaya pake jasa kita, baru kantor punya anggaran buat beli mobil inventaris sendiri.’ Tinggal tunggu hasil kerja kamu aja sebenarnya, Stevan. Ya, ‘kan?” “Gak usah yang mahal-mahal,” balas si laki-laki klimis, tak menyerah meski jawabanku sangat jelas. “Sedan kecil dulu aja, Bos—itung-itung mobil pribadinya si Bos. Ya, gak?” “Hem.” Aku beralih pada Sisi. “Si, berapa perkiraan profit kita bulan depan?” “Sebentar.” Manajer keuangan sebelahku lekas ambil tablet dan membuka sebuah aplikasi. “Kalau semua proposal kita tembus tender, Plester Co. akan punya sekitar tiga puluh ribu pelanggan bulan depan. Total keuntungan bersihnya kira-kira satu setengah juta suth, Bos.” “Harga mobil?” “Sedan bekas dua puluh sampai lima puluh ribuan!” sambar Stevan semangat, “itu juga udah bagus buat awal-awal kita mah, Bos. Gimana?” “Hem.” Kulihat wajah para manajerku, satu per satu, berpikir sekalian menambah jumlah kata. “Saya lebih pengen buka kantor cabang, sih, Stevan. Cuma, ide kamu ini keknya gak buruk. Oke, deh.” “Yes!” sambut Stevan semangat, mengajak Wiji sebelahnya tos. “Ini baru bos kita—Bener, ya, Bos. Nanti biar saya yang pilihin model sama atur semuanya. Bos tinggal terima beres, deh.” Satu sudut bibirku naik. Tadinya, kupikir tahun pertama Plester Co. inventaris cukup truk tambah serba-serbi kantor. Toh, dua itu paling dibutuhkan buat modal selain tenaga sama karyawan. Namun, dari alasan-alasan si kepala humas waktu membujukku supaya mau beli mobil, ternyata pretelan penunjang gengsi juga masuk daftar yang perlu didahulukan. Manajer pemasaran satu itu pernah bilang, merujuk pengalamannya melobi banyak orang, investor jarang lihat seberapa bagus rekam jejak pekerjaan kami saat menghadapi pelanggan. Baik atau buruk tak penting di situasi ini. Sebab penilaian mereka cenderung terpengaruh oleh kesan pertama. Dia minta mobil jadi masuk akal kalau pakai teori tersebut. Ilusi perusahaan sehat dengan risiko rendah muncul lewat dandanan luar tadi …. “Saya gak mau bekas,” tambahku sebelum topik mobil kantor ditutup, “kayaknya sedan di bawah seratus mapuluh ada kemarin saya lihat, beli itu aja dua atau empat.” “Dua, Bos?” “Buat saya satu,” terangku sambil senyum, “kamu emang mau nunggu saya nganggur dulu baru bisa pake mobil kantor buat jalan, Stevan?” “Ah, si Bos, nih. Bisa aja. Itu kan mobil buat kerja.” “Saya gak lagi bercanda, kok,” kataku lalu mengedipkan mata, “kepala cabang kita sama manajer itu muka-mukanya Plester Co. di masa depan, depan belakang, jadi kayaknya kalian bertiga emang butuh mobil biar kelihatan ‘garang’ terus gak diremehin orang.” Setelah topik kantor cabang dan mobil inventaris, obrolan dilanjut ke hal-hal teknis seputar acara makan malam di Rumah Wali Kota Mungli. Yang, ternyata lebih ketat ketimbang acara formal di kantor dinasnya sendiri. Aku sampai berkali-kali mendelik dan geleng kepala dengar apa-apa yang boleh serta tak boleh kulakukan sebelum sama sesudah acara utama selesai …. ***

Plester Co.

Bab 12

Di publikasikan 26 Jun 2026 oleh MUFARA`

Jarak Pukul lima pagi. Suara alarm berbunyi di seluruh asrama. "Hnggg..." Kevin menarik selimutnya. Lalu menutup kepala. "Aku tidak mau jadi atlet lagi." "Bangun." Rian melempar bantal. "Terlalu pagi." "Ini jam lima." "Itu maksudku." Sementara itu. Di luar asrama. Arka sudah bangun sejak empat puluh menit lalu. Seperti biasa. Tidak ada yang berubah. Udara pagi masih dingin. Lapangan masih sepi. Dan di tangannya terdapat buku catatan kecil. Catatan pertandingan kemarin. Kekalahannya melawan Farhan. Ia membaca setiap langkah. Setiap kesalahan. Setiap keputusan. Satu per satu. Tidak ada rasa malu. Tidak ada alasan. Hanya fakta. Ia kalah. Dan ia ingin tahu kenapa. "Sudah kuduga." Suara itu muncul dari belakang. Arka menoleh. Naila. Membawa botol air. "Kamu di sini lagi." "Kamu juga." "Aku jogging." "Lalu kenapa berhenti?" Naila menatap buku catatan di tangan Arka. "Karena aku tahu kamu pasti sedang menganalisis pertandingan kemarin." Sunyi. "Kamu menyeramkan." "Itu pujian?" "Tidak." Untuk pertama kalinya pagi itu. Mereka tertawa. "Apa yang kamu lihat?" Naila duduk di bangku sebelahnya. Arka membuka catatan. "Langkah dua puluh tiga." "Hm?" "Farhan mengorbankan pion." Naila melihat posisi yang digambar Arka. Kemudian matanya sedikit membesar. "Oh." "Kamu baru sadar?" "Tidak." Naila menunjuk posisi lain. "Aku baru sadar ini." Arka membeku. Ada variasi lain. Variasi yang bahkan belum ia lihat. Sunyi. Kemudian. Arka tersenyum. "Kamu hebat." Naila langsung memalingkan wajah. "..." "Hm?" "Tidak apa-apa." Namun telinganya sedikit merah. Untung Arka terlalu fokus pada papan untuk menyadarinya. Latihan pagi dimulai. Hari ini berbeda. Coach Aditya membagi mereka ke dalam kelompok. Latihan strategi tim. Bukan pertandingan individu. "Mulai sekarang." Pelatih berdiri di depan papan besar. "Kalian harus belajar satu hal." Semua memperhatikan. "Catur tim bukan tentang siapa yang paling kuat." Tatapan Coach Aditya berkeliling ruangan. "Melainkan bagaimana empat orang menjadi lebih kuat bersama." Arka sedikit mengernyit. Ia masih belum terbiasa dengan konsep itu. Selama bertahun-tahun. Ia bermain untuk dirinya sendiri. Bukan untuk tim. Sesi latihan berlangsung hampir tiga jam. Dan hasilnya... Berantakan. Sangat berantakan. "Kenapa kamu melakukan itu?!" Kevin menunjuk papan. "Itu langkah terbaik." Jawab Arka. "Iya buat kamu!" "Lalu?" "Kita satu tim!" "Hm?" "Kalau kamu menang tapi strategi tim hancur, kita tetap kalah!" Sunyi. Untuk pertama kalinya. Arka tidak punya jawaban. Sore hari. Latihan selesai. Semua pemain terlihat lelah. Bahkan Kevin sudah rebahan di lantai. "Aku mati." "Kamu masih bicara." "Itu refleks." Rian tertawa. Sementara Arka duduk diam. Memikirkan sesuatu. Ia teringat kata-kata Kevin tadi. Dan juga kata-kata pelatih. "Catur tim bukan tentang siapa yang paling kuat." Kalimat itu terus terngiang. Karena selama ini. Ia selalu berpikir bahwa jika dirinya cukup kuat... Maka semuanya akan baik-baik saja. Namun sekarang. Ia mulai menyadari sesuatu. Mungkin... Menjadi pemain terbaik bukan satu-satunya cara untuk menang. Malam hari. Sebelum tidur. Arka kembali membuka catatannya. Di halaman terakhir. Ia menulis sesuatu. Bukan target baru. Bukan ranking baru. Melainkan sebuah pertanyaan. Bagaimana cara menjadi pemain yang dibutuhkan tim? Ia menatap tulisan itu. Lama. Kemudian menutup buku. Besok. Ia akan mulai mencari jawabannya. End...

Beyond the Board : Book One

Bab 11

Di publikasikan 25 Jun 2026 oleh MUFARA`

Orang-Orang yang Lebih Kuat Senin pagi. Bus tim nasional melaju meninggalkan kota. Di dalamnya terdapat dua belas pemain yang baru lolos seleksi. Beberapa terlihat bersemangat. Beberapa gugup. Kevin sedang tidur. Rian sedang mendengarkan musik. Naila membaca buku. Dan Arka... Menganalisis partai catur. Tentu saja. "Aku sudah tidak terkejut lagi." Rian melirik layar tablet Arka. "Kamu bahkan latihan di bus." "Perjalanan empat jam." "Iya." "Itu maksudku." Kevin yang baru bangun ikut menoleh. "Dia memang tidak punya obat." "Aku dengar." "Bagus." Empat jam kemudian. Mereka tiba. Pusat Pelatihan Nasional. Gedungnya jauh lebih besar daripada yang dibayangkan Arka. Lapangan olahraga. Asrama. Ruang kelas. Perpustakaan. Dan sebuah gedung khusus. Gedung Catur Nasional. "Wow." Bahkan Kevin terlihat terkesan. Coach Aditya berdiri di depan mereka. "Selamat datang." Beberapa pemain langsung menegakkan badan. "Mulai hari ini." "Kalian akan tinggal di sini." "Belajar di sini." "Berlatih di sini." "Dan mungkin menderita di sini." Sunyi. "..." "..." "..." "Bagian terakhir bercanda kan?" Kevin bertanya. Coach Aditya tersenyum. "Itu bukan bagian yang bercanda." "OH TIDAK." Satu jam kemudian. Para pemain berkumpul di aula utama. Di depan mereka terdapat layar besar. Coach Aditya menyalakan proyektor. Muncul foto-foto pemain catur dunia. Grandmaster. Juara dunia. Legenda. Arka langsung mengenali sebagian besar nama itu. "Mulai sekarang." Coach Aditya berbicara. "Kalian tidak lagi bersaing di tingkat nasional." Slide berikutnya muncul. Turnamen Asia. Turnamen Dunia. Ranking internasional. "Kalian akan menghadapi pemain dari seluruh dunia." Tatapan para peserta mulai berubah serius. Kemudian slide kembali berganti. Kali ini muncul logo Pelatnas Junior. Di bawahnya tertulis: KEJUARAAN NASIONAL ANTAR TIM JUNIOR Beberapa peserta langsung memperhatikannya. "Target pertama kalian adalah turnamen ini." Coach Aditya menunjuk layar. "Kalian akan menghadapi tim-tim terbaik dari seluruh Indonesia." "Bukan sebagai individu." "Tapi sebagai satu tim." Ruangan menjadi sunyi. Karena untuk pertama kalinya. Sebagian besar dari mereka benar-benar memahami tujuan pelatnas ini. "Empat pemain utama nantinya akan mewakili tim Pelatnas Indonesia." "Yang lain tetap menjadi bagian penting dari tim." "Tidak ada yang datang ke sini sendirian." Arka sedikit mengernyit. Masih terasa asing. Karena selama ini. Catur selalu terasa seperti perjalanan seorang diri. "Dan saya akan jujur." Coach Aditya mematikan proyektor. Lalu menatap mereka satu per satu. "Saat ini..." "Kalian belum cukup kuat." Sunyi. Sangat sunyi. Beberapa pemain langsung menegang. Termasuk Arka. "Tapi aku pemain nomor satu nasional..." Seseorang berbisik. Coach Aditya mendengarnya. "Lalu?" Ruangan langsung membeku. "Saya tidak peduli." Tatapannya tajam. "Nomor satu nasional hanyalah titik awal." "Bukan tujuan." Arka merasakan dadanya berdebar. Karena jauh di dalam dirinya... Ia tahu pelatih benar. Masih ada dunia yang belum ia lihat. Masih ada pemain yang lebih kuat. Masih ada puncak yang lebih tinggi. Dan entah kenapa. Ia menyukai perasaan itu. Sore hari. Latihan pertama dimulai. Para pemain dibagi menjadi beberapa meja. Sesi simulasi pertandingan. Arka duduk berhadapan dengan salah satu pemain senior tim nasional junior. Namanya Farhan. Peringkat internasional junior. Pengalaman tiga tahun lebih banyak daripada Arka. Pertandingan dimulai. Sepuluh langkah. Dua puluh langkah. Tiga puluh langkah. Arka fokus. Sangat fokus. Namun semakin lama. Posisinya semakin sulit. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama... Ia merasa tertinggal. Bukan karena blunder. Bukan karena gugup. Melainkan karena lawannya melihat lebih banyak. Jauh lebih banyak. Satu jam kemudian. "Checkmate." Sunyi. Pertandingan selesai. Arka kalah. Ia menatap papan. Lama. Sangat lama. Perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan kembali muncul. Kagum. Frustrasi. Dan sedikit kegembiraan. Karena sekali lagi. Ia menemukan sesuatu yang belum bisa ia lakukan. Sesuatu yang bisa ia pelajari. "Bagus." Suara Coach Aditya terdengar dari belakang. Arka menoleh. "Aku kalah." "Iya." "Lalu kenapa bagus?" Pelatih menyilangkan tangan. Karena untuk pertama kalinya hari itu... Arka terlihat hidup. "Bukankah ini yang kamu cari?" "Hm?" "Orang yang lebih kuat darimu." Sunyi. Arka kembali melihat papan. Kemudian tersenyum tipis. Sangat tipis. Tapi tulus. "...iya." Di kejauhan. Naila sedang berlatih. Rian sedang bertanding. Kevin sedang panik karena waktu di jam caturnya hampir habis. Dan untuk pertama kalinya sejak menjadi pemain nomor satu nasional... Arka merasa menjadi murid lagi. Dan itu terasa menyenangkan. End...

Beyond the Board : Book One

Bab 10

Di publikasikan 24 Jun 2026 oleh MUFARA`

Janji di Bawah Langit Malam Hari terakhir liburan. Besok mereka harus kembali. Kembali ke latihan. Kembali ke jadwal padat. Kembali mengejar mimpi masing-masing. Namun malam itu. Tidak ada yang langsung masuk kamar. Mereka berkumpul di pantai. Angin malam terasa sejuk. Ombak datang silih berganti. Dan untuk pertama kalinya sejak bertemu. Tidak ada yang membicarakan catur. Setidaknya selama lima menit. "Lalu?" Kevin membuka pembicaraan. "Apa target kalian?" "Target?" "Iya." Rian berpikir sejenak. "Lolos ke kejuaraan dunia." "Bagus." Kevin mengangguk. "Naila?" Gadis itu menatap laut. "Menjadi pemain yang lebih baik." Jawaban sederhana. Namun Arka tidak terkejut. Itu memang terdengar seperti Naila. "Lalu kamu?" Naila menunjuk ke arah kevin. "Aku?" "Iya." Kevin tertawa kecil. "Aku ingin tetap menikmati catur." Sunyi. Arka langsung tahu. Jawaban itu sangat Kevin. "Kalau kamu?" Kini semua mata tertuju pada Arka. Untuk beberapa detik. Ia hanya melihat ombak. Kemudian menjawab. "Aku ingin menjadi pemain terbaik di dunia." Sunyi. Tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang mengejek. Karena mereka tahu. Arka serius. Sangat serius. Bahkan mungkin lebih serius daripada siapa pun di sini. Kevin tersenyum. "Memang kamu banget." Rian mengangguk. "Aku juga tidak terkejut." Naila hanya memperhatikan wajah Arka. Lama. Seolah mencoba memahami sesuatu. Malam semakin larut. Percakapan mulai berpindah ke topik-topik lain. Makanan. Film. Hal-hal biasa. Namun Arka tidak terlalu ikut. Karena pikirannya masih tertinggal pada pertanyaan Kevin tadi. Target. Tujuan. Mimpi. Sejak kecil jawabannya selalu sama. Menjadi yang terbaik. Menjadi nomor satu. Menjadi juara dunia. Namun entah kenapa. Malam ini. Untuk pertama kalinya. Jawaban itu terasa sedikit berbeda. "Nih." Sesuatu mendarat di kepalanya. Arka menoleh. Kaleng minuman. Naila. Lagi. "Kamu sering melakukan itu." "Apa?" "Memberi minuman tanpa bilang apa-apa." "Itu masalah?" "Tidak." Naila duduk di sampingnya. Beberapa saat. Mereka hanya melihat laut. Lalu Naila berkata. "Aku rasa tujuanmu keren." Arka berkedip. "Hm?" "Menjadi pemain terbaik dunia." "..." "Tapi." Nah. Ada kata itu lagi. "Tapi?" Naila menatap bintang-bintang. "Jangan sampai kamu lupa menikmati perjalanan ke sana." Sunyi. Kalimat itu sederhana. Sangat sederhana. Namun entah kenapa. Ia teringat Kevin. Ia teringat pertandingan melawan Naila. Ia teringat dirinya sendiri lima tahun lalu. Saat pertama kali kalah. Saat pertama kali merasa kagum pada permainan ini. Bukan pada trofi. Bukan pada gelar. Melainkan pada permainan itu sendiri. Malam semakin larut. Satu per satu mereka kembali ke penginapan. Kevin paling dulu. Rian menyusul. Naila berdiri. Lalu berhenti. "Arka." "Hm?" "Jangan kalah dulu sebelum kita main di dunia." Untuk pertama kalinya. Arka tertawa. "Itu terdengar seperti tantangan." "Mungkin." Lalu Naila pergi. Meninggalkan Arka sendirian. Ia tetap duduk di sana. Melihat laut. Melihat bintang. Dan memikirkan perjalanan panjang yang menunggunya. End...

Beyond the Board : Book One

Bab 9

Di publikasikan 22 Jun 2026 oleh MUFARA`

Hal-Hal yang Tidak Ada di Papan Catur Pagi hari. Langit cerah. Suara ombak terdengar dari luar penginapan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya... Arka dibangunkan bukan oleh alarm. Melainkan oleh Kevin. "Bangun!" BRAK! Pintu kamar terbuka. Arka langsung terbangun. "Apa yang kamu lakukan?!" "Sudah jam tujuh." "Itu bukan alasan untuk mendobrak pintu." "Aku mengetuk." "Kapan?" "Tiga detik yang lalu." "..." Arka mulai mempertimbangkan tindakan kriminal. Satu jam kemudian. Mereka sudah berada di pantai. Kevin entah dari mana membawa bola voli. "Tim!" "Tidak." "Itu bukan pertanyaan." "Kevin." "Kita main." "Kenapa?" "Karena liburan." "Itu tetap bukan alasan." Namun lima menit kemudian. Mereka tetap bermain. Karena ternyata Kevin memiliki bakat supernatural dalam memaksa orang ikut bersenang-senang. Tim pertama: KevinNailaTim kedua: ArkaRian"Kenapa aku satu tim sama dia?" Rian menunjuk Arka. "Aku tidak bisa main voli." "Aku juga." "Justru itu masalahnya." Pertandingan dimulai. Kevin melakukan servis. Bolanya meluncur sempurna. Arka gagal menerimanya. Poin. "Hah." Kevin tersenyum. "Menarik." "Apa?" "Ada olahraga yang kamu tidak jago." "Itu bukan informasi baru." "Tapi menyenangkan melihatnya." Sepuluh menit kemudian. Arka berkeringat. Dan mulai kesal. Karena mereka kalah telak. Sangat telak. Kevin tertawa setiap kali mendapat poin. Rian meminta maaf setiap kali gagal menerima bola. Dan Naila... Naila ternyata sangat kompetitif. "Jangan kasih mereka kesempatan." "Siap." Kevin langsung mengikuti. Arka berkedip. "Hah." "Apa?" "Kamu ternyata suka menang juga." Naila menatapnya. Seolah baru saja mendengar sesuatu yang bodoh. "Tentu saja." "Loh?" "Aku suka memahami catur." "Hm." "Itu tidak berarti aku suka kalah." Untuk pertama kalinya. Arka tidak bisa membantah. Setelah pertandingan selesai. Mereka duduk di bawah payung pantai. Kevin membeli es kelapa. Rian langsung memesan dua. Dan entah bagaimana. Arka akhirnya menikmati suasana. Tidak ada tekanan. Tidak ada lawan. Tidak ada jam catur. Hanya angin laut. Dan teman-temannya. Teman. Kata itu terasa aneh. Karena selama bertahun-tahun. Sebagian besar waktunya dihabiskan sendirian. Berlatih. Belajar. Bertanding. Namun sekarang... Ada orang-orang yang berjalan di sampingnya. Dan tanpa sadar. Ia menyukai itu. Menjelang sore. Mereka berjalan di sepanjang pantai. Kevin dan Rian berjalan di depan. Entah sedang membahas makanan atau hal tidak penting lainnya. Sementara Arka dan Naila tertinggal beberapa langkah. Untuk beberapa saat. Mereka hanya berjalan. Tanpa bicara. Namun anehnya. Tidak terasa canggung. "Aku punya pertanyaan." Naila akhirnya berbicara. "Hm?" "Kamu pernah takut kalah?" Arka terdiam. Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba. "Pernah." Jawabannya lebih cepat dari yang ia duga. Naila sedikit terkejut. "Kukira kamu akan bilang tidak." "Aku bukan robot." "Itu masih diperdebatkan." Arka memutar bola matanya. Membuat Naila tertawa kecil. "Lalu?" "Apa?" "Kenapa takut?" Arka melihat laut. Ombak datang. Ombak pergi. Kemudian menjawab. "Karena kalau kalah..." Ia berhenti. Mencari kata-kata yang tepat. "Rasanya seperti semua usahaku tidak cukup." Angin berembus pelan. Dan untuk pertama kalinya. Naila melihat sisi Arka yang jarang diperlihatkan. Bukan pemain nomor satu. Bukan kandidat tim nasional. Bukan orang yang selalu menang. Melainkan seseorang yang juga takut. Sama seperti orang lain. Malam hari. Mereka kembali ke penginapan. Kevin langsung tertidur. Rian tidak jauh berbeda. Namun Arka masih terjaga. Entah kenapa ia tidak bisa tidur. Mungkin karena terlalu banyak hal yang sedang dipikirkannya. Akhirnya ia turun ke lobi penginapan. Suasana sudah sepi. Hanya terdengar suara ombak dari kejauhan. Arka duduk di salah satu meja dekat jendela. Memandangi laut yang gelap. Beberapa menit berlalu. Lalu seseorang menarik kursi di depannya. Naila. Di tangannya ada dua kaleng minuman. Tanpa berkata apa-apa. Ia meletakkan salah satunya di depan Arka. "Terima kasih." "Hm." Mereka duduk berhadapan. Diam. Mendengarkan suara ombak yang masuk melalui jendela yang sedikit terbuka. Lalu Naila berkata pelan. "Kalau suatu hari nanti kamu kalah..." Arka menoleh. Naila tetap melihat laut. "...jangan pernah menganggap semua usahamu sia-sia." Sunyi. Tidak ada jawaban. Karena untuk pertama kalinya. Arka tidak tahu harus menjawab apa. Dan jauh di dalam dirinya. Entah kenapa. Kalimat itu terus tertinggal. Seolah suatu hari nanti... Ia akan membutuhkannya. End...

Beyond the Board : Book One

Bab 8

Di publikasikan 21 Jun 2026 oleh MUFARA`

Liburan yang Tidak Benar-Benar Libur Beberapa hari setelah seleksi berakhir. Sebuah grup chat baru terbentuk. Tim Nasional Junior. Awalnya hanya berisi informasi latihan dari Coach Aditya. Namun dalam waktu kurang dari satu jam... Grup itu berubah menjadi tempat Kevin mengirim meme, Rian mengeluh soal liburan yang membosankan, dan Naila sesekali mengirim foto langit tanpa penjelasan apa pun. Di tengah kekacauan itu. Muncul satu pesan baru. Kevin: Liburan. Kevin: Pantai. Kevin: Tidak menerima penolakan. Dan entah bagaimana. Kurang dari satu hari kemudian. Mereka sudah saling bertukar nomor telepon, alamat penjemputan, dan rencana keberangkatan. Seminggu kemudian. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan. Tidak ada pertandingan. Tidak ada seleksi. Tidak ada peringkat. Dan itu membuat Arka merasa aneh. Sangat aneh. Pukul enam pagi. Ia sudah duduk di depan papan catur. Sendirian. Seperti biasa. Tangannya memindahkan bidak. Menganalisis posisi. Mencatat variasi. Lalu ponselnya bergetar. Kevin Arka langsung curiga. Biasanya kalau Kevin menghubunginya pagi-pagi... Tidak ada hal baik yang akan terjadi. Ia membuka pesan itu. Bangun.Arka membalas. Sudah.Beberapa detik kemudian. Keluar rumah.Kenapa?Keluar aja dulu.Tidak mau.Aku di depan rumahmu.Sunyi. Arka berjalan ke jendela. Dan benar saja. Kevin berdiri di depan gerbang. Bersama Rian. Dan... Naila. "Hah?" Sepuluh menit kemudian. Arka sudah berada di dalam mobil. Masih bingung. "Jadi." "Kita mau ke mana?" Kevin tersenyum lebar. "Liburan." "Itu bukan jawaban." "Pantai." "Oh." Arka kembali diam. Lalu membuka tasnya. Dan mengeluarkan buku catatan catur. "JANGAN." Kevin langsung merebutnya. "Oi." "Kamu liburan." "Aku bisa membaca sambil duduk." "Tidak." "Aku bahkan belum membuka—" "TIDAK." Rian tertawa sampai hampir tersedak minuman. Sementara Naila memalingkan wajahnya. Tapi bahunya sedikit bergetar. Dia sedang menahan tawa. Dua jam kemudian. Mereka sampai. Pantai tidak terlalu ramai. Angin laut berembus pelan. Suara ombak memenuhi udara. Untuk beberapa saat. Tidak ada yang berbicara. Karena pemandangannya terlalu indah. Kevin langsung berlari ke laut. Rian ikut mengejar. Meninggalkan jejak kaki di pasir. Dan dalam waktu kurang dari satu menit... Mereka berdua jatuh. "Hahaha!" "Idiot." Untuk pertama kalinya hari itu. Arka tertawa cukup keras. Lalu tiba-tiba. Klik. Ia menoleh. Naila sedang memegang kamera. "Kamu motret?" "Hm." Sejak kapan? "Sudah lama." Naila melihat hasil fotonya. Lalu berkata pelan. "Aku suka menyimpan momen." "Momen?" "Karena semuanya cepat berlalu." Angin kembali berembus. Untuk beberapa saat. Mereka hanya melihat laut. Tanpa sadar. Suasana terasa nyaman. Tidak canggung. Tidak perlu banyak kata. Sore hari. Mereka duduk di tepi pantai. Kevin membeli terlalu banyak makanan. Rian mengeluh. Naila memotret langit senja. Dan Arka... Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama. Tidak memikirkan pertandingan. Setidaknya sampai... Ia melihat sesuatu. Di kejauhan. Ada meja kecil milik kafe pantai. Dan di atas meja itu. Sebuah papan catur. "..." Naila langsung menyadarinya. "Jangan." "Aku belum bilang apa-apa." "Jangan." "Aku cuma melihat." "Arka." "Aku cuma penasaran." "Arka." "Hanya lima menit." "Arka." Kevin dan Rian langsung tertawa. Karena mereka tahu. Pertarungan ini sudah dimenangkan Naila sejak awal. Malam hari. Mereka menginap di penginapan dekat pantai. Semua orang sudah tidur. Lampu koridor redup. Penginapan terasa jauh lebih sunyi dibanding siang tadi. Hanya terdengar suara ombak dari kejauhan. Arka duduk di salah satu meja dekat jendela. Memandangi laut yang gelap. Dan mulai menganalisis pertandingan. Satu posisi. Dua posisi. Tiga posisi. Waktu berlalu. Tanpa ia sadari. Seseorang duduk di seberangnya. Naila. "..." "..." Mereka saling menatap. Lalu Naila menghela napas. "Aku sudah menduga." "Apa?" "Kamu pasti tetap latihan." Arka menggaruk pipinya. Sedikit bersalah. "Maaf." Yang mengejutkan. Naila justru mengeluarkan notebook miliknya. Lalu meletakkannya di meja. "Aku juga." Sunyi. Arka berkedip. "Hah?" Naila membuka catatan partai. "Liburan memang penting." Katanya pelan. "Tapi kita tetap punya tujuan yang sama." Untuk pertama kalinya malam itu. Arka tersenyum. Bukan karena catur. Bukan karena latihan. Tapi karena menyadari sesuatu. Ia tidak sendirian. Dan mungkin. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Perjalanan menuju puncak tidak terasa terlalu sepi. End...

Beyond the Board : Book One

Bab 7

Di publikasikan 20 Jun 2026 oleh MUFARA`

Nama-Nama yang Terpilih Ruang konferensi terasa lebih sunyi dari biasanya. Dua belas kursi berjajar rapi. Dua belas pemain terbaik yang berhasil lolos seleksi nasional. Arka duduk di barisan tengah. Di sebelahnya Rian. Di depan mereka Kevin. Dan di seberang ruangan Naila. Aneh. Beberapa hari yang lalu mereka masih saling mengalahkan. Sekarang mereka duduk memakai jaket yang sama. Jaket tim nasional. "Masih terasa aneh." Rian memegang bagian lengan jaketnya. "Aku benar-benar lolos." Kevin mengangguk. "Aku juga." Naila melirik mereka. "Kalian terdengar seperti tidak percaya diri." "Karena memang tidak percaya." "Jujur sekali." Rian tertawa. Di sisi lain. Arka memperhatikan lambang negara yang terpasang di dada jaketnya. Tidak besar. Tapi cukup membuat dadanya terasa hangat. Lima tahun lalu. Ia hanya seorang anak yang kalah di turnamen lokal. Sekarang. Ia duduk di ruangan yang sama dengan pemain-pemain terbaik di negaranya. Dan untuk pertama kalinya. Ia benar-benar merasa telah melangkah jauh. Pintu ruangan terbuka. Coach Aditya masuk. Seluruh peserta langsung tenang. Pelatih meletakkan beberapa dokumen di atas meja. Lalu melihat satu per satu wajah para pemain. "Saya ucapkan selamat." Tidak ada tepuk tangan. Karena semua orang menunggu kelanjutannya. "Tapi jangan terlalu senang." Beberapa pemain langsung menghela napas. "Tentu saja." Kevin berbisik. Coach Aditya melanjutkan. "Kalian belum menjadi tim nasional." Ruangan langsung sunyi. Beberapa pemain saling berpandangan. "Hah?" "Kalian baru lolos seleksi." Pelatih menyilangkan tangan. "Menjadi pemain hebat itu satu hal." "Menjadi tim adalah hal lain." Tatapan Coach Aditya berkeliling ruangan. "Saya sudah melihat banyak pemain berbakat." "Banyak jenius." "Banyak juara nasional." "Tapi mereka gagal ketika harus bermain untuk sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri." Arka tanpa sadar memperhatikan setiap kata. Karena kalimat itu terasa ditujukan padanya. "Mulai minggu depan." Coach Aditya menunjuk layar proyektor. "Program pemusatan latihan nasional dimulai." Beberapa pemain langsung menegakkan badan. "Selama satu tahun." "Kalian akan berlatih bersama." "Bertanding bersama." "Menang bersama." "Dan kalah bersama." Kalimat terakhir terasa lebih berat. Namun sebelum suasana menjadi terlalu serius. Coach Aditya menghela napas. "Lalu setelah itu." Semua menunggu. "Libur satu minggu." Sunyi. "..." "..." "..." Kevin berdiri paling dulu. "LIBUR?!" Ruangan langsung pecah. Beberapa pemain tertawa. Bahkan pelatih sampai memijat pelipisnya. "Sit down." "Maaf." Kevin langsung duduk lagi. Namun senyum di wajahnya tidak hilang. Setelah pertemuan selesai. Keempat orang itu berjalan keluar gedung bersama. Matahari sore mulai turun. Untuk pertama kalinya. Mereka tidak lagi memikirkan pertandingan. Tidak ada papan catur. Tidak ada jam pertandingan. Tidak ada lawan. Hanya jalan pulang. "Jadi..." Kevin memecah keheningan. "Liburan." "Hm." "Kalian mau ngapain?" Rian mengangkat bahu. "Tidur." "Wah cita-cita yang sederhana." "Kamu?" Kevin tersenyum lebar. "Makan." "Itu bukan kegiatan." "Itu gaya hidup." Mereka tertawa. Naila menggeleng pelan. "Kalian ini..." Namun bahkan dia terlihat sedikit lebih santai dari biasanya. Lalu Kevin menoleh ke Arka. "Kamu?" "Hm?" "Mau ngapain selama liburan?" Semua langsung menunggu jawabannya. Arka berpikir sebentar. Kemudian menjawab dengan sangat serius. "Latihan." Sunyi. "..." "..." "..." "Tentu saja." Kevin menepuk dahinya. Rian tertawa terbahak-bahak. Bahkan Naila sampai menahan senyum. Dan untuk pertama kalinya. Arka tidak mengerti kenapa mereka semua tertawa. Malam itu. Saat semua orang mulai merencanakan liburan mereka. Arka kembali membuka catatan pertandingannya. Posisi demi posisi. Langkah demi langkah. Ia masih melihat kesalahan-kesalahannya selama seleksi. Masih menemukan hal-hal yang bisa diperbaiki. Masih menemukan celah untuk berkembang. Di luar jendela. Langit malam terlihat tenang. Dan di atas meja. Sebuah catatan baru mulai terisi. Target berikutnya. Menjadi pemain utama tim nasional. Arka menatap tulisan itu. Lalu tersenyum tipis. Perjalanannya belum selesai. Justru baru dimulai. End...

Beyond the Board : Book One

Bab 6

Di publikasikan 19 Jun 2026 oleh MUFARA`

Orang yang Tidak Menyukai Kompetisi Hari terakhir seleksi. Hasil akhir diumumkan sore ini. Sejak pagi, suasana gedung terasa berbeda. Lebih tegang. Lebih sunyi. Tidak ada lagi peserta yang mengobrol santai. Tidak ada lagi candaan berlebihan. Karena semua orang tahu. Hari ini beberapa mimpi akan berlanjut. Dan beberapa lainnya akan berhenti di sini. Arka baru saja menyelesaikan pertandingan terakhirnya. Menang. Tidak sempurna. Tapi cukup untuk memastikan posisinya aman. Ia berjalan keluar ruangan. Dan menemukan Kevin duduk sendirian di dekat mesin minuman. Tidak tersenyum. Tidak bercanda. Tidak seperti biasanya. "Kamu kenapa?" Kevin mengangkat kepala. "Oh." "Hasilmu bagaimana?" "Aman." "Bagus." Lalu sunyi lagi. Arka duduk di sampingnya. Mungkin untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu. Kevin terlihat murung. Beberapa saat kemudian. Suara tangisan terdengar dari ujung koridor. Arka menoleh. Seorang peserta perempuan berjalan keluar sambil menutupi wajahnya. Di belakangnya. Seorang pelatih mencoba menenangkannya. "Tahun depan masih ada kesempatan." Namun gadis itu tetap menangis. Karena mereka semua tahu. Kesempatan tidak selalu datang dua kali. Kevin memperhatikan pemandangan itu. Lama. Sangat lama. Kemudian berkata pelan. "Aku tidak suka melihat itu." "Hm?" "Orang menangis." Arka kembali melihat koridor. "Oh." Kevin tersenyum kecil. Namun kali ini senyumnya terasa sedih. "Aku tahu ini aneh." "Apa?" "Aku sebenarnya tidak terlalu suka kompetisi." Untuk pertama kalinya. Arka benar-benar terkejut. "Hah?" "Itu ekspresi yang sering kudapat." "Tapi kamu pemain turnamen." "Iya." "Kamu ikut seleksi nasional." "Iya." "Lalu kenapa tidak suka kompetisi?" Kevin menatap langit-langit. Seolah mencari jawaban di sana. "Aku suka catur." "Hm." "Aku suka bertanding." "Hm." "Tapi aku tidak suka bagian setelahnya." Arka mengernyit. "Bagian setelahnya?" Kevin mengangguk. "Kamu menang." "Hm." "Orang lain kalah." "..." "Orang tua kecewa." "..." "Pelatih sedih." "..." "Teman-teman menangis." Kevin tersenyum pahit. "Kadang aku berpikir." "Akan lebih baik kalau semua orang bisa menang." Sunyi. Arka tidak langsung menjawab. Karena untuk pertama kalinya. Ia mendengar seseorang melihat kompetisi dari sudut pandang seperti itu. "Kalau semua orang menang..." Kevin menoleh. "Ya?" "Berarti tidak ada yang menang." Jawaban Arka keluar begitu saja. Kevin tertawa kecil. "Nah, itu dia masalahnya." "?" "Aku tahu kamu benar." Dia melihat ke arah aula pertandingan. "Aku tahu kompetisi itu perlu." "Aku tahu orang berkembang karena ada persaingan." "Aku tahu semua itu." "Lalu?" Kevin menunduk. Kemudian berkata pelan. "Tetap saja aku membencinya." Angin sore berembus melalui jendela koridor. Untuk beberapa saat. Tidak ada yang berbicara. "Aku tidak mengerti." Akhirnya Arka berkata jujur. Kevin tersenyum. "Aku juga tidak berharap kamu mengerti." "Hah?" "Kamu tipe orang yang ingin menang." "Tentu saja." "Kamu ingin jadi yang terbaik." "Iya." Kevin mengangguk. "Lalu aku senang ada orang seperti kamu." Arka berkedip. "Kenapa?" "Karena kalau semua orang sepertiku..." Kevin tertawa kecil. "...dunia kompetisi bakal bubar." Untuk pertama kalinya hari itu. Arka ikut tertawa. Sore hari. Pengumuman hasil seleksi dimulai. Puluhan peserta berdiri di depan layar besar. Tidak ada suara. Tidak ada candaan. Hanya ketegangan. Nama demi nama muncul. Peserta yang lolos. Peserta yang gagal. Arka melihat. Arka Pratama. Lolos. Naila Putri. Lolos. Rian Saputra. Lolos. Kevin Wijaya. Lolos. Mereka berhasil. Namun saat Arka menoleh ke belakang. Ia melihat beberapa peserta lain menundukkan kepala. Ada yang menangis. Ada yang diam membeku. Ada yang langsung pergi. Dan untuk pertama kalinya. Ia sedikit memahami apa yang dimaksud Kevin. Kemenangan seseorang. Kadang dibangun di atas kekecewaan orang lain. Malam itu. Saat semua orang pulang. Arka berdiri sendirian di depan gedung. Langit sudah gelap. Namun kata-kata Kevin masih terngiang di kepalanya. "Aku tahu kompetisi itu perlu.""Tetap saja aku membencinya."Arka tidak setuju. Baginya kompetisi adalah sesuatu yang penting. Tanpa kompetisi. Ia tidak akan sampai sejauh ini. Tanpa kompetisi. Ia tidak akan menjadi lebih kuat. Namun entah kenapa. Untuk pertama kalinya. Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri. Dan akhirnya ia mulai memahami mengapa Kevin tidak pernah benar-benar tersenyum setelah sebuah kemenangan. End...

Beyond the Board : Book One

Bab 5

Di publikasikan 18 Jun 2026 oleh MUFARA`

Orang yang Ingin Menang Hari kedua seleksi. Ruangan terasa lebih hidup dibanding kemarin. Jika hari pertama dipenuhi ketegangan dan rasa gugup... Hari ini berbeda. Semua orang sudah merasakan pertandingan pertama mereka. Tidak ada lagi peserta yang sibuk menyembunyikan kecemasan. Yang tersisa hanyalah pemain-pemain yang ingin menang. Di salah satu sudut ruangan, beberapa peserta sedang membahas pertandingan kemarin. Di sudut lain, ada yang sibuk mempelajari catatan partai mereka. Sementara layar besar di depan ruangan menampilkan klasemen sementara hasil ronde pertama. Arka melihat namanya berada di posisi teratas. Namun perhatiannya segera tertarik pada daftar pertandingan berikutnya. Meja 1. Arka Pratama vs Naila Putri. "Hm." Untuk pertama kalinya sejak seleksi dimulai. Ia merasa sedikit bersemangat. Di sisi lain ruangan. Naila juga sedang melihat daftar yang sama. Mata mereka bertemu. Naila tersenyum tipis. "Jangan mengecewakanku." "Kamu juga." Lima belas menit kemudian. Pertandingan dimulai. Pion putih maju dua langkah. Arka membuka permainan dengan agresif. Naila menjawab dengan tenang. Sepuluh langkah pertama berlalu tanpa kejutan. Dua puluh langkah. Tiga puluh langkah. Posisi mulai rumit. Dan untuk pertama kalinya. Arka merasa ditekan. Bukan karena kalah posisi. Melainkan karena Naila tidak bermain seperti kebanyakan lawannya. Biasanya orang mencari kemenangan. Naila tidak. Dia mencari pemahaman. Setiap langkahnya terasa seperti pertanyaan. "Kalau aku bergerak ke sini, apa yang akan kamu lakukan?" "Kalau posisi berubah seperti ini, apa yang kamu lihat?" Bukan serangan. Bukan jebakan. Melainkan percakapan. Dan Arka membencinya. Karena ia tidak terbiasa dengan itu. Baginya catur adalah medan perang. Bagi Naila... seolah-olah catur adalah bahasa. 15 menit berlalu. Posisi semakin sempit. Tidak ada yang unggul jauh. Naila memindahkan kudanya. Arka langsung mengernyit. Langkah aneh. Tidak menyerang. Tidak bertahan. Seolah hanya memperbaiki posisi. Namun setelah berpikir beberapa menit... Arka menyadari sesuatu. Langkah itu luar biasa. Sangat sederhana. Tapi membuka kemungkinan yang tidak ia lihat sebelumnya. Dadanya berdebar. Ia suka perasaan ini. Perasaan ketika menemukan sesuatu yang baru. Perasaan ketika melihat dunia yang lebih luas. "Masih banyak yang belum aku tahu..." Entah kenapa. Ia teringat kalimat pelatih lamanya. 25 menit kemudian. Pertandingan mencapai akhir permainan. Dan akhirnya... Arka menemukan celah. Kecil. Sangat kecil. Tapi cukup. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Naila terdiam. Untuk pertama kalinya sejak pertandingan dimulai. Ia tersenyum. "Luar biasa." Lalu menjulurkan tangannya. "Aku menyerah." Ruangan menjadi sunyi. Pertandingan meja satu selesai. Arka menang. Namun anehnya. Ia tidak merasakan kepuasan seperti biasanya. Karena kemenangan ini tidak terasa seperti mengalahkan seseorang. Melainkan seperti mempelajari sesuatu. Setelah pertandingan. Mereka bertemu di area istirahat. Naila sedang membaca catatan partai mereka. Arka duduk di sampingnya. Beberapa detik berlalu tanpa suara. Lalu Naila bertanya. "Kenapa kamu bermain catur?" Pertanyaan mendadak. Arka berpikir sebentar. "Karena aku ingin menjadi lebih kuat." Naila mengangguk. "Dan setelah itu?" "Hm?" "Setelah kamu menjadi kuat." "..." "Apa tujuanmu?" Arka menatap langit-langit. Kemudian menjawab. "Menjadi yang terbaik." Jawabannya keluar tanpa ragu. Naila tersenyum tipis. "Aku sudah menduga." "Lalu kamu?" Naila menutup buku catatannya. "Aku suka memahami sesuatu." "Apa maksudnya?" "Catur." Dia menunjuk papan analisis di dekat mereka. "Setiap pertandingan mengajarkanku cara berpikir yang berbeda." "Meskipun kalah?" "Meskipun kalah." Arka terdiam. Jawaban itu terdengar aneh. Sangat aneh. Namun entah kenapa. Ia tidak bisa menertawakannya. Karena selama pertandingan tadi... Ia juga merasakan hal yang sama. Sore hari. Seleksi berakhir. Para peserta berjalan keluar dari gedung. Langit mulai berubah jingga. Di depan pintu keluar. Kevin sedang duduk di bangku sambil memakan es krim. "Kalian selesai?" "Iya." "Siapa menang?" "Arka." Kevin mengangguk. Lalu memakan sesendok es krim lagi. "Kasihan." Arka berkedip. "Hah?" "Yang kalah pasti sedih." Sunyi. Naila menatap Kevin. Arka menatap Kevin. Kevin menatap mereka balik. "Apa?" "Kamu memang aneh." "Itu pujian atau hinaan?" "Aku juga tidak tahu." Mereka bertiga tertawa kecil. End... 

Beyond the Board : Book One

Bab 4

Di publikasikan 17 Jun 2026 oleh MUFARA`

Orang yang Tidak Cocok Jadi Pemain Catur "Seleksi berlangsung selama tiga hari." "Setiap peserta akan memainkan lima pertandingan." "Peringkat ditentukan berdasarkan total poin." Begitu kata Coach Aditya... "Babak pertama dimulai dalam lima menit." Suara panitia menggema di seluruh ruangan. Puluhan peserta mulai menuju meja masing-masing. Beberapa terlihat tenang. Beberapa lainnya jelas gugup. Arka melihat daftar pertandingan yang ditempel di papan pengumuman. Meja 7 Arka Pratama vs Kevin Wijaya "Kevin..." Nama yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. "Semoga aku tidak bikin kamu susah." Arka menoleh. Seorang anak laki-laki dengan senyum lebar berdiri di sampingnya. Rambutnya sedikit berantakan. Ekspresinya terlalu santai untuk ukuran seleksi tim nasional. "Kamu Kevin?" "Yup." Kevin mengulurkan tangan. "Senang bertemu dengan pemain nomor satu nasional." Arka menjabat tangannya. "Duduk saja dulu." "Hah?" "Pertandingannya sebentar lagi." Kevin berkedip. Kemudian tertawa. "Kamu memang tidak suka basa-basi ya." Arka tidak menjawab. Kevin kembali tertawa. "Aku suka orang jujur." Dan entah kenapa... Arka langsung merasa lelah. Lima menit kemudian. Pertandingan dimulai. Jam catur ditekan. Bidak pertama bergerak. Arka memilih pembukaan favoritnya. Kevin merespon dengan tenang. Satu langkah. Dua langkah. Lima langkah. Sepuluh langkah. Lalu Arka mulai menyadari sesuatu. Lawan di depannya kuat. Sangat kuat. Tidak sekuat Naila. Belum. Tapi jauh lebih kuat dari yang ia bayangkan. Kevin mungkin tidak masuk sepuluh besar nasional. Namun pemahaman posisinya luar biasa. Menit demi menit berlalu. Posisi papan semakin rumit. Kevin terus tersenyum. Sementara Arka mulai berpikir serius. "Kenapa kamu tersenyum terus?" Kevin tertawa kecil. "Hah?" "Kita sedang bertanding." "Iya." "Lalu kenapa terlihat senang?" Kevin memandang papan catur. Karena baginya pertanyaan itu terdengar aneh. "Lah memang aku senang." "..." "Aku suka main catur." Jawaban sederhana. Terlalu sederhana. Namun untuk beberapa alasan... Arka tidak tahu harus menjawab apa. Dua puluh menit kemudian. Kevin mulai terdesak. Bentengnya hilang. Posisinya memburuk. Dan akhirnya... "Checkmate." Kevin menatap papan. Diam beberapa detik. Kemudian menghela napas panjang. "Wah." Arka menunggu. "Mengagumkan." "Hm?" "Kamu benar-benar kuat." Tidak ada kekesalan. Tidak ada frustrasi. Hanya kekaguman tulus. Kevin mengulurkan tangan. "Selamat." Arka menjabatnya. "Terima kasih." Biasanya setelah menang. Lawan akan menunjukkan berbagai ekspresi. Kesal. Kecewa. Sedih. Namun Kevin malah terlihat bahagia. Aneh. Sangat aneh. Saat makan siang. Arka kembali bertemu Kevin. Dan sayangnya... Kevin langsung duduk di sebelahnya. "Yo." "..." "Kamu makan apa?" "..." "Kenapa diam?" "Aku sedang makan." "Oh." Sepuluh detik berlalu. Kevin kembali bicara. "Arka." "Apa?" "Kamu menikmati catur nggak?" Pertanyaan itu membuat Arka berhenti mengunyah. Menikmati? Apa maksudnya? Bukankah tujuan bermain adalah menang? Bukankah tujuan latihan adalah menjadi lebih kuat? Menikmati? Ia tidak pernah memikirkannya. "Aku tidak tahu." Kevin tampak terkejut. "Kamu tidak tahu?" "Aku ingin menjadi pemain terbaik." "Itu bukan jawaban." Arka terdiam. Kevin meminum jusnya. Kemudian tersenyum. "Kalau suatu hari nanti kamu jadi pemain terbaik dunia..." "Hm." "Lalu apa?" "..." "Kamu akan berhenti bermain?" Untuk pertama kalinya. Arka tidak punya jawaban. Sore hari. Hasil sementara seleksi diumumkan. Nama-nama peserta terpampang di layar besar. Arka melihat namanya. Naila juga ada. Rian masih bertahan. Dan sedikit di bawah mereka... Kevin Wijaya. "Syukurlah." Rian menghela napas lega. Naila hanya mengangguk pelan. Sementara Kevin... Kevin malah tersenyum lebar seperti baru memenangkan undian. "Kamu senang sekali." Arka akhirnya mengucapkan apa yang sejak pagi ingin ia tanyakan. Kevin berkedip. "Lah?" "Kamu kalah." "Iya." "Tapi kamu tetap tersenyum." Kevin berpikir sebentar. Lalu menatap papan pengumuman. "Aku cuma senang masih bisa main besok." Arka terdiam. Karena untuk pertama kalinya... ia bertemu seseorang yang memainkan catur bukan untuk menang. Melainkan karena ia benar-benar menyukainya. End...

Beyond the Board : Book One

Bab 3

Di publikasikan 16 Jun 2026 oleh MUFARA`

Seleksi Satu bulan kemudian. Arka berdiri di depan gerbang sebuah gedung olahraga nasional. Di tangannya terdapat surat pemanggilan seleksi. Di dalam tasnya terdapat papan catur lipat yang sudah menemaninya selama lima tahun. Dan di dalam dadanya... Ada sedikit gugup. Ia tidak suka mengakuinya. Tapi ini berbeda. Turnamen nasional adalah satu hal. Namun tempat ini adalah gerbang menuju tim nasional junior. Tempat berkumpulnya pemain-pemain terbaik dari seluruh negeri. "Jadi orang hebat juga bisa gugup ya." Arka menoleh. Rian berdiri di sampingnya sambil tersenyum. "Kamu ikut juga?" "Tentu saja." Rian mengangkat surat seleksinya. "Aku memang tidak sekuat kamu, tapi aku masih masuk peringkat dua puluh besar." Arka mengangguk. "Bagus." "Hanya 'bagus'?" "Kamu maunya apa?" "Sedikit semangat kek, sedikit." "Semangat." "Terlalu datar." "Kalau begitu jangan lolos." "OI!" Untuk pertama kalinya pagi itu, Arka tersenyum tipis. Mereka masuk ke dalam gedung. Ruangan seleksi sudah dipenuhi peserta. Sekitar lima puluh orang. Mungkin lebih. Ada yang sedang mempelajari notasi pertandingan. Ada yang membuka laptop. Ada yang berlatih pembukaan catur bersama pelatih pribadi. Suasana tegang. Arka memperhatikan sekeliling. Banyak wajah asing. Banyak nama yang pernah ia lihat di peringkat nasional. Namun satu suara tiba-tiba menarik perhatiannya. "Kamu Arka, kan?" Seorang gadis berdiri di depannya. Rambut hitam panjang diikat sederhana. Sorot matanya tajam. Arka mengangguk. "Kamu siapa?" "Aku Naila." Nama itu terdengar familiar. Lalu Arka ingat. Peringkat tiga nasional. Pemain yang terkenal karena gaya bermain defensif yang hampir mustahil ditembus. Naila menyilangkan tangan. "Aku pernah melihat pertandinganmu." "Oh." "Oh saja?" "Mestinya bagaimana?" Naila menghela napas. "Kamu benar-benar sulit diajak bicara ya." "Aku sering dengar itu." Rian yang melihat percakapan mereka langsung mundur beberapa langkah. "Aku tidak ikut campur." "Kamu kenapa?" tanya Arka. "Insting bertahan hidup." "?" Naila mengabaikan mereka. "Aku cuma ingin bilang satu hal." Arka menunggu. Naila menatap lurus ke matanya. "Aku ingin mengalahkanmu." Sunyi. Beberapa peserta di sekitar mereka ikut menoleh. Rian langsung memegang kepalanya. "Ah, mulai deh." Namun yang mengejutkan... Arka tidak tersinggung. Sebaliknya. Ia tersenyum. Tipis. Sangat tipis. Tapi cukup untuk membuat Naila menyadarinya. "Kenapa kamu tersenyum?" "Karena aku juga ingin mengalahkanmu." Untuk pertama kalinya sejak datang ke gedung itu... Arka merasa bersemangat. Bukan karena seleksi. Bukan karena tim nasional. Melainkan karena menemukan seseorang yang menantangnya secara langsung. Saat itulah suara pelatih terdengar dari depan ruangan. "Semua peserta, harap duduk." Ruangan langsung tenang. Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun berdiri di depan. Wajahnya tegas. Tatapannya tajam. Pelatih kepala tim nasional junior. Coach Aditya. "Saya tidak peduli dengan peringkat kalian." Kalimat pertamanya langsung membuat ruangan membeku. "Saya tidak peduli siapa juara nasional." Beberapa peserta saling melirik. "Saya juga tidak peduli siapa yang dianggap jenius." Tatapan Coach Aditya berkeliling ruangan. "Karena catur tim berbeda dengan catur individu." Arka sedikit mengernyit. Catur tim? Coach Aditya melanjutkan. "Sebagian besar dari kalian datang ke sini karena hasil turnamen nasional individu." "Dan itu memang alasan kalian dipanggil." Beberapa peserta mulai memperhatikan lebih serius. "Tapi turnamen individu hanya menunjukkan seberapa kuat kalian sebagai pemain." Pelatih menyilangkan tangan. "Sementara di tingkat yang lebih tinggi, kalian tidak selalu bertanding sendirian." Sebuah slide muncul di layar proyektor. Logo Tim Nasional Junior Indonesia. Di bawahnya tertulis: PROGRAM PEMUSATAN LATIHAN NASIONAL KEJUARAAN NASIONAL ANTAR TIM JUNIOR Ruangan menjadi semakin sunyi. "Kalian dipanggil ke sini untuk membentuk tim nasional junior." "Target pertama kalian adalah Kejuaraan Nasional Antar Tim Junior." "Di sana kalian akan menghadapi tim-tim terbaik dari seluruh Indonesia." "Bukan sebagai individu." "Tapi sebagai satu tim." Beberapa peserta saling berpandangan. Karena untuk pertama kalinya mereka benar-benar memahami tujuan seleksi ini. "Kalian boleh menjadi pemain hebat." "Tapi jika tidak bisa bekerja sebagai tim..." Coach Aditya menatap mereka satu per satu. "...kalian tidak akan bertahan lama di sini." Kalimat itu terus terngiang di kepala Arka. Karena sejujurnya... Ia belum pernah memikirkan catur seperti itu. Selama ini. Papan. Lawan. Dan kemenangan. Hanya itu yang ada dalam pikirannya. Tim? Ia tidak tahu. Namun untuk pertama kalinya... Arka mulai merasa bahwa dunia yang akan ia masuki mungkin jauh berbeda dari yang ia bayangkan. End...

Beyond the Board : Book One

Bab 2

Di publikasikan 15 Jun 2026 oleh MUFARA`

Talenta Muda Lima tahun kemudian. "Checkmate." Suara jam catur berhenti. Lawan di seberang meja menatap papan dengan wajah tidak percaya. Beberapa detik lalu posisinya masih terlihat seimbang. Namun sekarang rajanya terjebak. Tidak ada jalan keluar. "A-Aku menyerah." Arka mengangguk pelan. Lalu menjabat tangan lawannya. "Pertandingan selesai!" Tepuk tangan terdengar dari beberapa penonton. Tidak terlalu ramai. Tapi cukup untuk membuat lawannya semakin tertunduk. "Juara kategori U-15 tahun ini adalah..." Panitia melihat kertas di tangannya. "...Arka Pratama!" Tepuk tangan kembali terdengar. Kali ini lebih meriah. Namun Arka hanya berdiri dari kursinya. Mengambil tas. Lalu berjalan menuju pintu keluar. "Oi! Tunggu!" Seseorang memanggilnya dari belakang. Arka bahkan tidak perlu menoleh. Ia sudah tahu siapa itu. Rian. Seorang anak laki-laki dengan rambut sedikit berantakan berlari menghampirinya sambil membawa dua botol minuman. "Kamu nggak mau foto juara dulu?" "Nanti saja." "Nanti saja, nanti saja. Kamu selalu bilang begitu." Arka menerima minuman yang disodorkan. "Terima kasih." Rian mendesah. "Kadang aku heran." "Apa?" "Kamu baru saja juara." "Lalu?" "Lalu kenapa mukamu seperti habis kalah?" Arka terdiam. Karena sebenarnya... Ia memang tidak terlalu memikirkan trofi itu. Yang memenuhi pikirannya justru pertandingan semifinal tadi. Ada satu posisi yang belum bisa ia pecahkan. Satu langkah yang terasa kurang efisien. Satu kesempatan yang terlewat. Rian melihat ekspresi sahabatnya lalu langsung mengerti. "Kamu mikirin pertandingan lagi ya?" "..." "Kamu ini benar-benar aneh." "Kenapa?" "Kebanyakan orang senang karena menang." Rian menunjuk kepala Arka. "Sedangkan kamu malah sibuk memikirkan langkah yang salah." Arka berpikir sejenak. "Mungkin karena aku masih belum cukup kuat." Rian langsung memegang dahinya. "Tuh kan." "Apa?" "Tidak ada obatnya." Untuk pertama kalinya hari itu, Arka tertawa kecil. Mereka berjalan keluar gedung turnamen. Di luar. Langit sore mulai berubah jingga. Beberapa peserta lain sedang berfoto bersama keluarga mereka. Ada yang menang. Ada yang kalah. Ada yang menangis. Ada yang tertawa. Namun perhatian Arka tertarik pada satu papan pengumuman. Daftar peringkat nasional junior. Ia berjalan mendekat. Matanya langsung menemukan namanya. 1. Arka Pratama Tepat di posisi paling atas. Lima tahun lalu, ia bahkan tidak tahu cara bermain dengan benar. Sekarang. Ia adalah pemain junior terbaik di negaranya. Seharusnya ia bangga. Tapi anehnya... Perasaannya biasa saja. Karena begitu melihat peringkat itu. Yang muncul di kepalanya bukan rasa puas. Melainkan pertanyaan: "Lalu setelah ini?" Nasional sudah tercapai. Apa langkah berikutnya? Saat itulah matanya menangkap sebuah poster di samping papan pengumuman. PROGRAM PEMUSATAN LATIHAN NASIONALTIM JUNIOR INDONESIASELEKSI BULAN DEPANArka berhenti membaca. Tim nasional. Level berikutnya. Dunia yang lebih besar. Lawan yang lebih kuat. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Rian yang berdiri di sampingnya ikut membaca poster itu. Lalu tersenyum. "Oh." "Apa?" "Matamu." "Hah?" "Kamu lagi bersemangat." Arka mengalihkan pandangan. "Tidak." "Pembohong." Rian tertawa. Karena ia mengenal Arka lebih baik daripada siapa pun. Ekspresi itu selalu muncul setiap kali Arka menemukan tantangan baru. Ekspresi seorang anak yang melihat gunung lebih tinggi untuk didaki. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama... Arka merasakan sesuatu yang belum ia rasakan sejak kecil. Kegembiraan. Bukan karena menang. Melainkan karena menyadari masih ada tempat untuk menjadi lebih baik. Di kejauhan. Poster tim nasional bergoyang pelan tertiup angin. Dan tanpa Arka sadari. Keputusan yang akan ia ambil bulan depan akan mengubah seluruh hidupnya. End...

Beyond the Board : Book One

Bab 1

Di publikasikan 14 Jun 2026 oleh MUFARA`

Dunia di Atas Enam Puluh Empat Kotak Satu minggu setelah turnamen. Arka kembali kalah. "Checkmate." Dua hari kemudian. Dia kalah lagi. "Kamu terlalu cepat menyerang." Tiga hari setelahnya. Kalah. "Rajamu terlalu terbuka." Empat hari. Lima hari. Enam hari. Kalah. Kalah. Kalah. "Kenapa sih?!" Arka menjatuhkan bidaknya ke meja. Pelatih sekolah dasar tempatnya berlatih hanya menghela napas. "Kamu marah karena kalah?" "Tentu saja!" "Bagus." Arka berkedip. "Hah?" Pelatih itu mengambil pion putih dan meletakkannya di tengah papan. "Anak-anak yang berhenti berkembang biasanya bukan yang kalah." "Lalu?" "Yang menang terlalu sering." Arka tidak mengerti. Bukankah menang itu tujuan bermain? Pelatih melanjutkan. "Orang yang menang terus merasa dirinya sudah cukup kuat." "Tapi orang yang kalah..." Pria itu mengetuk papan catur. "...selalu dipaksa melihat apa yang belum bisa ia lakukan." Arka menunduk. Ia teringat langkah terakhir di turnamen minggu lalu. Langkah yang tidak pernah terpikirkan olehnya. Langkah yang masih terus menghantuinya hingga sekarang. "Ayo lagi." Hari itu Arka pulang paling akhir. Seperti biasa. Matahari mulai tenggelam saat ia keluar dari ruang klub. Tas sekolah menggantung di bahunya. Sementara sebuah papan catur lipat berada di tangannya. "Kamu bawa lagi?" Ibunya yang menjemput tertawa kecil. Arka mengangguk. "Memangnya mau dipakai di rumah?" "Iya." "Besok juga latihan." "Iya." "Arka." "Apa?" "Kamu kecanduan ya?" Anak itu berpikir sejenak. Kemudian menjawab dengan sangat serius. "Mungkin." Ibunya tertawa. Sementara Arka kembali melihat papan catur di tangannya. Belakangan ini ada satu hal yang terus mengganggunya. Bukan kekalahan. Bukan trofi. Bukan turnamen. Melainkan pertanyaan sederhana. "Apa lagi yang belum aku tahu?" Semakin banyak ia belajar. Semakin ia sadar betapa luas dunia catur. Ada pembukaan. Ada strategi. Ada pengorbanan bidak. Ada perangkap. Ada akhir permainan. Ada ribuan pola yang bahkan belum pernah ia lihat. Dan setiap kali menemukan sesuatu yang baru... Dadanya selalu berdebar. Seolah-olah ada dunia lain yang menunggunya. Malam itu. Setelah makan malam. Setelah mengerjakan PR. Setelah semua orang tidur. Lampu kamar Arka masih menyala. Di atas meja belajar. Puluhan bidak catur tersusun rapi. Ia sedang mencoba mengulang pertandingan final minggu lalu. Langkah demi langkah. Satu per satu. Putih bergerak. Hitam membalas. Putih menyerang. Hitam bertahan. Sampai akhirnya... Ia menemukan langkah itu lagi. Langkah yang membuatnya kalah. Arka membeku. "Oh..." Untuk pertama kalinya. Ia benar-benar memahami kenapa langkah itu kuat. Bukan karena lawannya beruntung. Bukan karena dirinya ceroboh. Melainkan karena lawannya melihat sesuatu yang tidak bisa ia lihat. Dan entah kenapa... Alih-alih kesal. Arka justru tersenyum. "Hebat..." Kata itu keluar begitu saja. Kemudian ia mengambil buku catatan. Dan menulis sebuah kalimat. Target. Menjadi pemain catur terkuat di Indonesia. Ia menatap tulisan itu. Lama. Lalu menambahkan satu kalimat lagi di bawahnya. Aku akan menjadi lebih baik setiap hari. End...

Beyond the Board : Book One

Prolog

Di publikasikan 13 Jun 2026 oleh MUFARA`

Langkah Pertama Suara bidak catur yang bergesekan dengan papan terdengar memenuhi ruangan. "Skak." Seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun membeku di kursinya. Matanya terpaku pada papan di hadapannya. Raja hitamnya tidak memiliki jalan keluar. Benteng lawan mengunci satu sisi. Menteri lawan mengawasi sisi lainnya. Dan pion-pion yang tersisa hanya menjadi penonton atas kekalahannya. Wasit mendekat. "Checkmate." Ruangan yang sebelumnya terasa begitu ramai tiba-tiba menjadi sunyi. Anak itu menundukkan kepala. Tangannya masih menggenggam bidak kuda yang tidak sempat dimainkan. Pertandingan selesai. Dia kalah. "Arka!" Suara ibunya terdengar dari kejauhan. "Sudah selesai?" Arka tidak menjawab. Dia masih menatap papan catur. Bagaimana bisa? Beberapa langkah lalu dia merasa unggul. Bahkan pelatih sekolahnya bilang posisi itu menguntungkan. Tapi sekarang... dia kalah. Lawan di depannya mulai membereskan bidak. Anak laki-laki yang usianya tidak jauh berbeda. Wajahnya biasa saja. Tidak terlihat seperti monster. Tidak terlihat seperti jenius. Tapi entah bagaimana dia menemukan langkah yang tidak dilihat Arka. "Kamu hebat." Suara lawannya membuat Arka mengangkat kepala. "Aku hampir kalah." Arka mengerutkan kening. Kalimat itu terdengar seperti ejekan. "Hampir kalah tetap saja kalah." Lawan itu hanya tertawa kecil. "Mungkin." Kemudian dia berdiri dan pergi. Meninggalkan Arka sendirian bersama papan catur yang masih dipenuhi bidak. Satu menit. Dua menit. Tiga menit. Arka masih duduk di sana. Kenapa belum pulang?" Seorang pria tua menghampiri meja. Panitia turnamen. Mungkin juga pelatih salah satu peserta. Arka tidak tahu. "Pak..." Pria itu menoleh. "Ya?" Arka menunjuk posisi terakhir di papan. "Langkah apa yang membuatku kalah?" Pria itu tersenyum tipis. Kemudian duduk di kursi lawan. "Kamu benar-benar ingin tahu?" Arka mengangguk. Pria itu memindahkan sebuah menteri. Hanya satu langkah. Satu langkah sederhana. Begitu sederhana hingga membuat Arka terdiam. "Kalau dia memainkan ini..." "Posisimu runtuh." Arka menatap papan. Lalu menatap lagi. Dan lagi. Dadanya terasa sesak. Bukan karena sedih. Bukan karena marah. Melainkan karena kagum. Ada dunia yang belum bisa ia lihat. Ada langkah yang tidak mampu ia bayangkan. Ada pemain yang lebih kuat darinya. Jauh lebih kuat. Pria tua itu berdiri. "Masih banyak yang harus dipelajari." Arka mengepalkan kedua tangannya. Matanya tidak lagi tertuju pada kekalahannya. Melainkan pada kemungkinan yang terbentang di depannya. Jika ada langkah yang tidak bisa ia lihat hari ini... Maka suatu hari nanti ia akan melihatnya. Jika ada pemain yang lebih kuat hari ini... Maka suatu hari nanti ia akan menyusulnya. Untuk pertama kalinya sejak mengenal catur, Arka menyadari sesuatu. Bukan kemenangan yang membuat permainan ini menarik. Melainkan fakta bahwa selalu ada tempat untuk menjadi lebih baik. Ia menatap papan catur untuk terakhir kalinya. Lalu tersenyum. Senyum kecil. Namun penuh tekad. Aku ingin menjadi lebih baik. Aku ingin lebih kuat. Aku ingin melihat dunia yang belum bisa kulihat hari ini. End...

Beyond the Board : Book One

CHAPTER 4

Di publikasikan 12 Jun 2026 oleh _didiable

Malam pertama setelah Kevin Anggara meninggalkan kantornya, Grace tidak langsung pulang. Ia duduk di kursi kerjanya selama hampir satu jam saat jam kerja berakhir, menatap map cokelat yang tergeletak di tengah meja seperti benda yang bisa meledak kalau disentuh terlalu cepat. Di luar jendela, langit Jakarta berubah dari jingga kusam menjadi ungu tua, dan lampu-lampu gedung perkantoran di seberang jalan mulai menyala satu per satu. Map itu tidak tebal. Tiga puluh dua halaman, termasuk surat kuasa yang belum ditandatangani, kronologi singkat yang ditulis dengan font Times New Roman ukuran dua belas, dan fotokopi surat dakwaan dari kejaksaan. Kevin Anggara — nama itu tercetak di sudut kanan atas setiap halaman. Grace membuka halaman pertama. Membacanya sampai selesai. Lalu menutupnya kembali dan meletakkannya di posisi yang persis sama. Enam bulan. Enam bulan sejak ia meninggalkan Arman Sudibjo & Partners. Enam bulan sejak ia meletakkan surat pengunduran diri di meja Pak Arman dan berjalan keluar tanpa menoleh. Enam bulan sejak ia memutuskan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa ia lakukan, bahkan jika bayarannya cukup untuk membeli ketenangan. Dan sekarang hal yang ia tinggalkan datang mengetuk pintunya, duduk di kursi tamunya, dan menatapnya dengan mata yang tidak tahu bahwa Grace pernah memegang pisau yang nyaris menusuknya. Ia mengambil notes pink dari laci. Nama Kevin Anggara sudah tertulis di sana, tulisan tangannya sendiri dari sore tadi, huruf-hurufnya sedikit miring ke kanan seperti selalu. Di bawah nama itu, ia menambahkan satu baris: Pratama — div. keuangan — Q3 2024. Lalu ia mematikan lampu meja, mengambil tasnya, dan pulang ke rumah dengan map cokelat itu di dalam tas. Malam itu, ia tidak membukanya lagi. ** Enam bulan sebelumnya. Ruang kerja di Arman Sudibjo & Partners memiliki jenis keheningan yang berbeda dari kantor biasa. Bukan hening karena kosong, tapi hening karena semua orang tahu bahwa dinding-dinding di sana menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang tertulis di berkas mana pun. Karpet tebal meredam langkah, partisi kaca setengah buram menyamarkan ekspresi wajah, dan sistem ventilasi yang terlalu efisien membuat udara terasa seperti sudah disaring dari emosi apa pun yang mungkin terbawa masuk. Grace Jasmine duduk di mejanya di lantai empat belas, monitor menampilkan spreadsheet yang sudah ia pandangi selama tiga jam. Di sebelah kirinya, secangkir kopi yang sudah dingin. Di sebelah kanannya, tumpukan berkas berlabel CONFIDENTIAL — PRATAMA GROUP — INTERNAL REVIEW. Pak Arman memanggilnya pukul dua siang. Ruangan Pak Arman selalu berbau kayu cedar dan ambisi yang sudah terlalu lama dipoles sampai mengkilap. Rak buku di belakang mejanya berisi deretan buku hukum yang Grace curigai tidak pernah dibuka, mereka ada di sana bukan untuk dibaca, melainkan untuk memberi kesan bahwa orang yang duduk di depannya adalah seseorang yang bisa membacanya kalau mau. "Grace, duduk." Pak Arman tidak pernah bertanya. Ia memberikan instruksi yang disamarkan sebagai undangan. "Kamu sudah lihat laporan audit internal divisi keuangan?" "Sudah, Pak." "Bagus." Pak Arman membuka map di depannya. "Ada satu nama yang muncul berulang di tiga transaksi yang bermasalah. Kevin Anggara, senior analyst. Kamu perlu membangun legal framework untuk menunjukkan bahwa aliran dana ilegal ini bisa dilacak langsung ke posisinya." Grace tidak langsung menjawab. Ia membaca nama itu di halaman yang Pak Arman sodorkan, Kevin Anggara, divisi keuangan, bergabung 2021. "Pak, ini untuk keperluan apa?" "Perusahaan perlu menunjukkan bahwa mereka sudah mengambil tindakan tegas. Investor asing mau ada kepala yang jatuh sebelum mereka mau lanjut bicara soal pendanaan putaran ketiga." Pak Arman mengatakannya dengan nada yang sama seperti ketika ia memesan makan siang. "Kevin Anggara adalah kandidat yang paling masuk akal. Posisinya cukup tinggi untuk terlihat signifikan, tapi tidak cukup tinggi untuk punya pelindung." Tidak cukup tinggi untuk punya pelindung. Grace mendengar kalimat itu dan merasakan udara di ruangan berubah temperatur, atau mungkin hanya ia yang berubah. "Saya perlu melihat semua datanya dulu, Pak." "Tentu. Rizal akan kirim ke kamu sore ini. Saya butuh draft framework-nya akhir minggu." Grace kembali ke mejanya dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena berkas yang ia bawa, melainkan karena ia mulai mengerti bahwa ia tidak diminta mencari kebenaran. Ia diminta membangun sesuatu yang terlihat seperti kebenaran, dengan fondasi yang sudah ditentukan sebelum ia mulai menggali. Tiga hari berikutnya, Grace membaca semuanya. Bukan hanya tiga transaksi yang ditunjuk Pak Arman,  melainkan semua data yang bisa ia akses. Laporan audit internal, catatan otorisasi transfer, email chains yang seharusnya sudah dihapus tapi masih tersimpan di server backup, notulen rapat direksi yang tidak pernah masuk ke catatan resmi. Dan yang ia temukan membuat kopinya semakin sering dingin tanpa tersentuh. Kevin Anggara bukan pelakunya. Tiga transaksi itu memang melewati sistem yang berada di bawah tanggung jawab posisinya, tapi otorisasi final tidak pernah datang dari Kevin. Ada tiga lapis approval di atasnya, dan dua di antaranya memiliki jejak digital yang mengarah ke nama-nama yang jauh lebih besar. Nama-nama yang duduk di lantai tujuh belas, bukan lantai empat belas. Kevin Anggara adalah orang yang kebetulan memegang pena terakhir di formulir yang sudah ditandatangani oleh tangan-tangan yang tidak mau terlihat. Grace menyusun temuannya dalam dokumen terpisah, bukan di sistem kantor, melainkan di laptop pribadinya. Ia tahu persis apa yang akan terjadi jika ia menyerahkan ini ke Pak Arman, dokumen itu akan hilang, dan ia akan diminta kembali ke framework yang sudah dipesan. Malam keempat, ia duduk di rumah, menatap dua dokumen di layar laptopnya. Yang pertama, draft framework yang diminta Pak Arman. Rapi, logis, meyakinkan. Sebuah bangunan argumen hukum yang bisa menghancurkan karier seorang pria yang tidak bersalah, dan Grace tahu persis betapa efektifnya bangunan itu karena dialah yang membangunnya. Yang kedua, dokumen temuannya sendiri. Berantakan, belum tersusun, penuh catatan kaki dan tanda tanya. Tapi jujur. Ia menutup laptop tanpa mengirim keduanya. Keesokan paginya, Grace masuk ke kantor lebih awal dari biasanya. Ia meletakkan draft framework di meja Rizal, bukan di meja Pak Arman, dengan sebuah sticky note kuning: "Rizal, ini draft yang diminta. Tapi cek halaman 14–17 sebelum dikirim ke atas. Ada yang tidak konsisten dengan data otorisasi." Halaman 14–17 berisi bagian di mana Grace, dengan sangat hati-hati, menyisipkan celah. Bukan sabotase, ia tidak menghapus argumen atau mengubah data. Ia hanya memastikan bahwa siapa pun yang membaca dengan teliti akan menemukan pertanyaan yang belum terjawab. Lubang kecil yang cukup besar untuk dimasuki keraguan. Itulah saat terakhir Grace meninggalkan Arman Sudibjo & Partners. Pak Arman tidak mencoba menahannya. Orang-orang seperti Pak Arman tidak menahan, mereka mengganti. Dan di firma sebesar Arman Sudibjo, selalu ada seseorang yang bersedia mengisi kursi yang ditinggalkan tanpa bertanya mengapa kursinya kosong. Ia tidak tahu apakah celah di halaman 14–17 akan ditemukan. Ia tidak tahu apakah Kevin Anggara akan baik-baik saja. Yang ia tahu adalah bahwa ia tidak bisa menjadi orang yang memegang palu itu. *** Hari kedua dari tiga hari yang ia minta. Grace membaca ulang kronologi yang Kevin tulis, rapi, detail, dengan referensi silang ke setiap dokumen pendukung, dan merasakan sesuatu yang menyakitkan: Kevin Anggara menulis kronologi ini seperti orang yang terbiasa membuat laporan yang tidak akan dipertanyakan oleh siapa pun. Gaya penulisan yang sama, ketelitian yang sama, kebiasaan profesional yang sama. Hanya saja kali ini, laporan itu bukan tentang angka perusahaan, melainkan tentang kehancurannya sendiri. Di halaman sembilan belas, Kevin menulis: "Saya tidak pernah memiliki akses otorisasi level 3 untuk transfer internasional. Bukti: lampiran F, email penolakan akses dari IT Security, tertanggal 12 Maret 2024." Grace berhenti membaca. Ia tahu ini benar. Bukan karena ia baru membacanya sekarang, melainkan karena enam bulan lalu, ia sudah menemukan fakta yang sama di data yang ia gali sendiri. Email yang sama, tanggal yang sama, bukti yang sama. Kevin Anggara menghabiskan berbulan-bulan menyusun pembelaan yang Grace sudah punya jawabannya. Ada sesuatu yang kejam dalam ironi itu. Malam harinya, Dinda datang tanpa diundang, yang berarti ia memang sedang khawatir. "Gue bawa bakso Pak Kumis," kata Dinda dari depan pintu rumah, mengangkat kantong plastik merah seperti bendera perdamaian. "Yang pake tulang sumsum. Jangan bilang lo udah makan karena gue tau lo belum." Grace membuka pintu lebih lebar. "Dari mana lo tau?" "Karena lo cuma makan teratur kalau lagi nggak mikirin sesuatu, dan dari suara lo di telepon tadi siang, lo lagi mikirin sesuatu yang berat banget." Mereka duduk di lantai ruang tamu, kebiasaan lama sejak kuliah yang tidak pernah hilang meskipun Grace punya sofa yang sangat layak, dengan mangkuk bakso di pangkuan dan tisu di antara mereka. "Oke," kata Dinda setelah mangkuknya separuh kosong. "Cerita. Gue tau lo nggak ngajak gue ke sini cuma buat makan bakso. Well, gue yang dateng sendiri sih. Tapi intinya sama." Grace meletakkan sendoknya. Menatap bakso yang mengambang di kuah yang mulai mendingin. Lalu mulai bicara. Ia menceritakan semuanya. Bukan versi ringkas yang ia simpan untuk percakapan profesional, melainkan versi lengkap. Kantor lamanya dulu, proyek yang memintanya membangun argumen untuk menghancurkan seseorang yang tidak bersalah. Nama yang ia baca di berkas itu. Malam-malam membaca data sampai kopi dingin. Celah di halaman 14–17 yang ia tinggalkan seperti pintu darurat yang mungkin tidak akan pernah ditemukan siapa pun. Surat pengunduran diri. Kotak kardus. Enam bulan membangun firma sendiri dari nol. Dan kemarin sore, pria itu masuk ke kantornya. Duduk di kursi tamunya. Menyerahkan map cokelat. Memintanya menjadi pengacaranya. "Dia nggak tau," kata Grace. "Kevin nggak tau gue pernah kerja di sana. Nggak tau gue pernah megang berkas yang bisa ngancurin dia. Nggak tau gue... hampir jadi bagian dari itu semua." Dinda tidak langsung menjawab. Ia meletakkan mangkuknya di lantai, mengambil tisu, mengelap tangannya dengan cara yang sangat pelan dan deliberate, dan Grace tahu bahwa kelambatan itu bukan karena Dinda sedang berpikir, melainkan karena Dinda sedang memilih kata-kata yang tidak akan menyakiti tapi juga tidak akan berbohong. "Lo bilang 'hampir,'" kata Dinda akhirnya. "Lo bilang lo 'hampir' jadi bagian dari itu. Tapi lo nggak jadi. Lo resign. Lo pergi." "Gue pergi, Din. Tapi gue nggak menghentikan apa pun." Grace merasakan sesuatu yang panas di belakang matanya dan berkedip cepat. "Gue cuma ninggalin celah di draft dan berharap seseorang nemu. Itu bukan keberanian. Itu... kabur with style." "Atau itu satu-satunya hal yang bisa lo lakuin di posisi lo waktu itu tanpa menghancurkan diri lo sendiri." "Dinda..." "Grace, denger gue." Dinda memutar badannya supaya mereka berhadapan langsung. "Lo bukan superwoman. Lo associate junior di firma raksasa yang dipimpin orang-orang yang udah main di level yang lo bahkan belum sepenuhnya ngerti waktu itu. Lo nemuin sesuatu yang salah, lo nggak ikut, dan lo pergi. Apakah itu ideal? Nggak. Apakah itu manusiawi? Iya." Grace diam. Bakso di mangkuknya sudah tidak mengepul lagi. "Yang gue mau tanya," lanjut Dinda, nadanya berubah dari lembut menjadi sesuatu yang lebih tajam bukan menyerang, melainkan menggali, "adalah kenapa lo sebenarnya ragu. Karena gue kenal lo, Grace Jasmine. Kalau ini cuma soal kasus besar yang berisiko, lo udah bilang iya dari kemarin. Lo suka tantangan. Lo makan itu buat sarapan." Grace tersenyum kecil meskipun tidak ingin. "Gue nggak suka tantangan. Gue cuma nggak bisa tidur kalau ada yang nggak beres." "Same thing. Jadi apa yang bikin lo minta waktu tiga hari?" Pertanyaan itu menggantung di udara ruang tamu yang lampunya terlalu terang untuk percakapan sedalam ini. "Karena kalau gue ambil kasus ini," kata Grace pelan, "gue harus ngadepin Pak Arman. Sistem yang gue tinggalin. Dan cepat atau lambat, Kevin bakal tau bahwa gue pernah di sana. Bahwa gue pernah megang berkas yang isinya cara menghancurkan dia." Ia berhenti sebentar. "Dan gue nggak tau apakah dia masih mau gue jadi pengacaranya setelah tau itu." Dinda menatapnya lama. Lalu mengambil mangkuk baksonya kembali dan menyeruput kuah yang sudah dingin dengan ekspresi yang menyatakan bahwa ia sedang memikirkan sesuatu yang besar tapi memilih untuk menyampaikannya secara menyamping. "Gue mau nanya sesuatu dan lo harus jujur." "Kapan gue nggak jujur sama lo?" "Setiap kali gue tanya lo udah makan dan lo bilang 'udah' padahal yang lo maksud itu kopi item doang." Dinda meletakkan mangkuknya lagi. "Pria ini, Kevin. Yang dateng ke kantor lo kemarin. Dia kayak apa orangnya?" Grace merasakan sesuatu bergeser di dalam dadanya. "Profesional," jawab Grace. "Tenang. Detail. Dia nulis kronologi kasusnya kayak nulis laporan audit, rapi, ada referensi silang, ada lampiran. Bukan tipe orang yang panik." "Itu deskripsi CV, Grace. Gue nanya dia kayak apa!" Grace diam sebentar terlalu lama, dan ia tahu Dinda menangkap jeda itu. "Dia... dateng dengan setelan yang masih bagus tapi udah nggak baru. Jahitannya sedikit longgar di bahu, mungkin dia turun berat badan belakangan ini. Tapi dia tetep pake. Kayak... gue nggak tau. Kayak orang yang masih menjaga dirinya meskipun dunianya udah berantakan." Dinda tersenyum. Bukan senyum lebar, senyum kecil, sudut bibir kiri saja, jenis senyum yang ia gunakan ketika ia menemukan informasi yang ia cari. "Lo perhatiin jahitan jasnya." "Gue pengacara Din. Gue trained buat memperhatikan detail." "Lo trained buat memperhatikan detail yang relevan secara hukum. Jahitan jas yang longgar bukan bukti di pengadilan." Grace membuka mulutnya untuk membalas, lalu menutupnya lagi. Dinda tertawa, tawa pelan yang hangat, jenis yang hanya muncul di antara orang-orang yang sudah saling kenal terlalu lama untuk berpura-pura. "Gue nggak bilang apa-apa," kata Dinda, mengangkat kedua tangannya. "Gue literally nggak bilang apa-apa." "Lo bilang banyak, dengan nggak bilang apa-apa." "Itu bakat." Mereka diam sebentar. Di luar, suara motor lewat dan anjing tetangga menggonggong pada sesuatu yang mungkin nyata atau mungkin hanya bayangan di bawah lampu jalan. "Din." "Hm?" "Menurut lo gue harus ambil?" Dinda menatapnya, benar-benar menatap, dengan cara yang membuat Grace merasa seperti sedang dibaca oleh seseorang yang sudah menghapal setiap halaman. "Menurut gue, lo udah tau jawabannya sejak dia keluar dari kantor lo kemarin. Lo cuma butuh waktu buat bikin perdamaian sama diri lo sendiri." Dinda bangkit, mengumpulkan mangkuk-mangkuk kosong. "Dan itu bukan sesuatu yang bisa gue jawab buat lo. Tapi gue bisa cuciin mangkok ini buat lo." Grace tertawa, tawa yang terasa seperti sesuatu yang lepas, simpul yang akhirnya mengendur setelah berhari-hari ditarik terlalu kencang. "Thanks ya, Din." "Thanks for what? Gue cuma bawa bakso." "Bukan. Buat nggak menghakimi." Dinda berhenti di pintu dapur, menoleh dengan ekspresi yang lebih serius dari biasanya. "Grace, lo pergi dari tempat itu. Lo nggak ikut menghancurkan siapa pun. Dan sekarang orang yang lo khawatirkan datang sendiri ke pintu lo, minta tolong. Kalau itu bukan kesempatan buat memperbaiki sesuatu, gue nggak tau apa namanya." Ia masuk ke dapur. Suara air mengalir dan dentingan mangkuk yang beradu memenuhi rumah kecil itu, dan Grace duduk di lantai ruang tamunya, menatap map cokelat Kevin yang tergeletak di meja, dan merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan. Bukan keyakinan, belum. Tapi sesuatu yang datang sebelum keyakinan. Seperti ketika fajar belum muncul tapi langit sudah mulai berubah warna, dan kamu tahu bahwa gelap tidak akan bertahan selamanya meskipun kamu belum bisa melihat matahari. *** Hari ketiga. Grace datang ke kantor jam tujuh pagi dan langsung menata mejanya. Ia memindahkan tumpukan berkas kasus Anita Wijaya ke lemari arsip. Membersihkan permukaan meja sampai hanya tersisa laptop, map cokelat Kevin, dan tempat pulpen. Lalu ia duduk dan membuka laptopnya. Di layar, ia membuat folder baru: Kevin Anggara v. Pratama Group. Ia belum menelepon Kevin. Belum mengirim pesan. Tapi tangannya sudah bergerak di keyboard, membuka database hukum online, mencari preseden kasus penggelapan korporat di mana terdakwa terbukti dijadikan kambing hitam. Mira datang pukul delapan lewat lima belas menit. "Selamat pagi, Bu Grace!" Suaranya riang seperti biasa, dan Grace mendengar bunyi *duk* pelan yang berarti Mira baru saja menabrak sesuatu, mungkin ujung meja resepsionis, mungkin tong sampah, mungkin realita itu sendiri. "Kopi seperti biasa?" "Tolong, Mir. Hitam, gulamya dikit aja." "Sama kayak kemarin dan kemarin-kemarinnya. Satu hari nanti saya bakal bikin Bu Grace coba kopi susu karamel dan hari itu akan jadi hari paling penting dalam hidup saya." Grace tersenyum. "Jangan taruh harapan terlalu tinggi." Namun Bowo sudah datang tanpa suara seperti biasa, Grace baru menyadari kehadirannya ketika aroma kopi hitam yang sempurna muncul di mejanya, menggantikan kopi buatan Mira yang... penuh semangat tapi kurang presisi. "Bowo, terima kasih." Bowo mengangguk. Meletakkan serbet kertas di samping cangkir. Lalu menghilang ke belakang dengan efisiensi yang membuat Grace curiga bahwa Bowo di kehidupan sebelumnya adalah ninja yang memutuskan untuk pensiun dan membuat kopi sebagai gantinya. Pukul sepuluh lewat tiga menit, ponsel Grace bergetar. Pesan dari nomor Kevin Anggara. Singkat, seperti semua komunikasinya: "Selamat pagi, Bu Grace. Saya harap saya tidak mengganggu. Saya mengerti kalau Ibu butuh waktu lebih dari tiga hari. Tidak ada tekanan." Grace menatap pesan itu selama empat puluh tujuh detik, ia tahu karena matanya sempat melirik jam di sudut layar laptop, terhitung sejak ia membaca kata pertama sampai jarinya mulai mengetik balasan. Empat puluh tujuh detik. Waktu yang cukup untuk menimbang satu keputusan yang akan mengubah arah firmanya, kariernya, dan mungkin, meskipun ia belum siap mengakui ini bahkan kepada dirinya sendiri, sesuatu yang lebih dari itu. Ia mengetik: "Selamat pagi, Pak Kevin. Bisakah kita bertemu hari ini, pukul 2 siang di kantor saya? Saya ingin membahas beberapa hal tentang kasus Bapak." Balasan datang dalam dua menit: "Saya akan datang. Terima kasih, Bu Grace." Grace meletakkan ponselnya. Menatap map cokelat di depannya. Lalu menatap papan nama kecil yang berdiri di sudut meja, Grace Jasmine, SH.,MH, dan nama firma yang tercetak di bawahnya: Grace Jasmine Law firm. Enam bulan lalu, ia pergi dari Arman Sudibjo & Partners karena tidak mau menjadi orang yang menghancurkan seseorang yang tidak bersalah. Sekarang, ia akan menjadi orang yang membelanya. Kali ini, pikir Grace, aku tidak pergi. Ia membuka map cokelat itu untuk terakhir kalinya sebagai pengacara yang sedang mempertimbangkan. Ketika ia menutupnya nanti, ia akan membukanya kembali sebagai pengacara Kevin Anggara. Di luar jendela, Jakarta bergerak dengan kecepatan dan kekacauannya yang biasa, tidak peduli pada keputusan-keputusan kecil yang dibuat di ruangan-ruangan kecil oleh orang-orang yang mencoba melakukan hal yang benar meskipun mereka tidak yakin apa artinya. Tapi di dalam ruangan ini, di meja ini, di map cokelat ini, sesuatu sudah berubah.Dan Grace tahu bahwa perubahan itu baru permulaan. Catatan di notes pink, tertempel di sisi monitor Grace, ditulis pukul 10:51 pagi: Kevin Anggara — kasus diterima. Hal pertama: cari tau siapa yang menggantikan aku menyusun framework di Pratama. Celah di halaman 14–17 — apakah masih ada? Hal kedua: cari bantuan. Aku butuh seseorang yang bisa riset dan tidak akan menyerah saat melihat siapa lawannya. Di bawahnya, ditambahkan kemudian dengan tinta yang berbeda: Hal ketiga: bilang ke Kevin tentang Pratama. Sebelum dia dengar dari orang lain. Belum tau kapan. Belum tau bagaimana. Tapi harus. --- Di tempat lain di Jakarta, pukul 10:53 pagi, Kevin Anggara duduk di bangku halte busway Trans Jakarta, menatap layar ponselnya di mana pesan balasan dari Grace masih terbuka. "Pukul 2 siang di kantor saya." Ia membaca kalimat itu tiga kali. Bukan karena ia tidak mengerti, melainkan karena sudah sangat lama sejak seseorang mengatakan sesuatu kepadanya yang terdengar seperti awal, bukan akhir. Ia menyimpan ponselnya. Merapikan jasnya, jas yang sama, jahitan yang sama, yang masih sedikit longgar di bahu kanan. Lalu berdiri dan mulai berjalan ke arah halte, karena ia perlu pulang dulu, mengganti kemeja, dan memastikan bahwa ketika ia duduk di kursi tamu Grace Jasmine nanti siang, ia datang bukan sebagai orang yang meminta pertolongan, melainkan sebagai orang yang siap bertarung bersama seseorang yang bersedia bertarung untuknya. Angin pagi membawa aroma gorengan dari sisi jalan pejalan kaki, dan untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan, Kevin Anggara merasakan sesuatu yang menyerupai harapan. Ia menarik nafas panjang saat buswaynya tiba dan melangkahkan kakinya dengan pasti.

Graces's Cases

CHAPTER 3

Di publikasikan 10 Jun 2026 oleh _didiable

Satu minggu berlalu sejak sidang kasus Anita, dan firma kecil itu mulai terasa hidup. Grace datang lebih awal dari siapa pun, yang mana bukan pencapaian istimewa, sebab "siapa pun" dalam hal ini hanyalah dua orang lain: Mira, resepsionis baru yang melamar setelah melihat lowongan ditempel di papan pengumuman minimarket seberang jalan, dan Bowo, petugas kebersihan yang menjadi office boy, datang atas rekomendasi bapak tukang fotokopi di lantai bawah. Tim kecilnya, jika kata itu bisa digunakan untuk menggambarkan tiga orang yang masih saling menghafalkan kebiasaan masing-masing, telah ada selama empat hari. Mira berusia dua puluh tiga tahun, ceria dengan cara yang hampir tidak masuk akal, ia bisa mengomentari cuaca, filosofi hidup, dan harga cabai dalam satu tarikan napas tanpa kehilangan senyumnya. Grace belum sepenuhnya terbiasa dengan energi semacam itu di pagi hari, tetapi ia menyadari bahwa setiap kali Mira menyapanya dengan kalimat pembuka yang terlalu panjang, ruangan firma yang masih berbau cat itu terasa sedikit lebih berpenghuni. Bowo, sebaliknya, adalah jenis tenang yang membuat orang bertanya-tanya apakah ia pendiam atau sekadar sangat efisien. Ia mengerti kapan harus mengisi galon, kapan harus menghilang agar tidak mengganggu percakapan, dan kapan harus muncul kembali dengan secangkir kopi yang selalu pas manisnya, dan bakat terakhir inilah yang membuat Grace diam-diam mensyukuri keberadaannya lebih dari yang ia akui. Pagi itu, Grace duduk di meja kerjanya dengan laptop terbuka dan layar yang menampilkan spreadsheet keuangan firma, angka-angka yang belum mengkhawatirkan tetapi juga belum menggembirakan. Honor dari kasus Anita cukup untuk menutup sewa dua bulan ke depan, dan meskipun itu jauh dari aman, ia tahu bahwa firma ini tidak dibangun untuk menghasilkan uang dengan cepat. Ia membangunnya untuk alasan lain. "Mbak Grace, kopinya mau sekarang atau nanti?" Bowo berdiri di ambang pantri kecil, handuk tersampir di bahu, dengan ekspresi serius yang agak berlebihan untuk sebuah pertanyaan tentang kopi. "Sekarang aja, Wo." "Gulanya setengah?" "Iyes, jangan banyak-banyak ya!" "Oke. Tapi hari ini saya coba tambahin jahe sedikit, Mbak. Katanya bagus buat fokus." Grace mengangkat alis, tetapi tidak menolak. Bowo mengangguk puas dan menghilang kembali ke pantri. Mira muncul dari pintu depan tiga menit kemudian, tas selempangnya melintang, rambut setengah basah, tanda bahwa ia lari-lari dari halte busway dan langsung menyapa dengan volume yang tidak proporsional untuk ruangan seluas empat kali empat meter. "Pagi, Mbak Grace! Hari ini cerah banget lho, padahal tadi malam hujan, Mira kira bakal banjir soalnya selokan depan kos Mira tuh suka meluap kalau hujannya lebih dari.." "Pagi, Mir." "...setengah jam. Eh iya, pagi!" Mira nyengir lebar sambil meletakkan tasnya. "Ada yang jadwal ketemu hari ini, Mbak?" Grace menggeleng. "Belum. Tapi coba cek email, barangkali ada yang masuk." Mira duduk di mejanya, meja yang sebenarnya adalah meja makan lipat yang dibeli dari toko furniture bekas, tetapi setelah dibalut taplak putih dan ditambahi satu pot kaktus kecil, tampilannya cukup meyakinkan. Ia membuka laptop, dan untuk beberapa saat firma itu kembali tenggelam dalam suara ketikan dan dengung AC kecil yang sesekali berderit. Grace menyeruput kopi jahe buatan Bowo yang ternyata memang enak, meski ia tidak akan mengatakannya secara langsung agar Bowo tidak semakin bereksperimen dan membiarkan pikirannya mengembara. Kemenangan di kasus Anita memberinya sesuatu yang sulit ia jelaskan; bukan kebanggaan, melainkan semacam konfirmasi bahwa apa yang ia lakukan punya makna. Tetapi konfirmasi itu, seperti kebanyakan hal baik dalam hidup, tidak datang tanpa bayangan. Karena setiap kali ia menutup mata dan mengingat ruang sidang itu, kemenangan, kelegaan, pelukan Anita, bayangan lain selalu menyusul: pria di kursi belakang. Berpakaian rapi. Tenang. Menatapnya dengan cara yang tidak bisa ia masukkan ke dalam kategori mana pun. Ia telah mencoba melupakannya tapi semakin keras usahanya, semakin jelas kehadirannya. "Mbak Grace?" Grace mengerjap. Mira menatapnya dari balik layar laptop. "Ada tamu, Mbak." "Tamu?" "Di luar. Baru aja masuk ke lorong." Grace mengernyit. Firma ini belum beriklan di mana pun selain satu postingan media sosial yang hanya di like oleh Dinda dan ibu Mira. Tamu dadakan, di pagi hari, tanpa janji, itu bisa berarti apa saja, tetapi pengalaman mengajarkannya bahwa biasanya itu berarti seseorang yang sudah kehabisan pilihan lain. "Suruh masuk," kata Grace. Mira bangkit, merapikan rambutnya yang masih setengah berantakan, dan berjalan ke pintu kaca dengan langkah yang berusaha terlihat profesional, sebuah usaha yang sedikit terganggu ketika ia tersandung kabel charger laptopnya sendiri. Pintu terbuka. Dan di baliknya berdiri seorang pria yang membuat seluruh pagi itu berhenti, selama satu detik yang terasa jauh lebih panjang dari yang seharusnya. Ia tinggi, lebih tinggi dari yang Grace ingat di ruang sidang, mungkin karena saat itu ia duduk. Rambut hitam disisir rapi ke belakang, jas biru gelap yang dipasangkan dengan kemeja putih tanpa dasi, dan wajahnya, Grace tidak bisa menyangkalnya, memiliki ketenangan yang langka, semacam kedamaian yang biasanya hanya dimiliki orang-orang yang sudah melewati banyak hal dan memilih untuk tidak membiarkan semuanya terlihat. Ia berusia sekitar tiga puluh lima tahun. Matanya gelap dan jernih, dan ketika ia melangkah masuk, tatapannya langsung menemukan Grace dengan presisi yang membuat Grace merasa ia bukan sedang mencari sesuatu, melainkan telah menemukan apa yang ia cari sejak lama. "Selamat pagi," katanya. Suaranya tenang, lebih rendah dari yang Grace bayangkan, dan ada sesuatu di dalamnya yang menyerupai kesopanan yang sudah dilatih bertahun-tahun namun tetap tulus. "Saya ingin bertemu dengan pengacara Grace Jasmine." "Saya Grace," jawab Grace, berdiri dari kursinya. "Silakan duduk." Pria itu mengangguk, anggukan yang sama, Grace menyadari, seperti yang ia berikan di ruang sidang seminggu lalu. Pelan, nyaris seperti penghormatan. Ia duduk di kursi tamu yang masih baru, dan Mira yang entah bagaimana sudah pulih dari tersandung kabel, muncul dengan segelas air mineral yang diletakkan dengan hati-hati sebelum mundur ke mejanya, meski matanya sesekali melirik ke arah tamu itu dengan penasaran yang tidak terlalu ia sembunyikan. "Nama saya Kevin Anggara," kata pria itu. Dan dunia Grace, yang semenit lalu masih berputar pada spreadsheet dan kopi jahe, berhenti. Bukan karena ia tidak mengharapkan nama itu. Tetapi karena ia telah berharap — berharap dengan putus asa, selama lebih dari setahun — untuk tidak pernah mendengarnya lagi. Kevin Anggara. Nama yang pertama kali ia baca di layar laptop kantor lamanya, di dalam berkas kasus Pratama Group, di bawah kolom yang bertuliskan 'pihak yang disarankan sebagai target peralihan tanggung jawab'. Nama yang dicetak dengan huruf biasa, tanpa penekanan, tanpa tanda seru, seolah menjadikan seseorang kambing hitam adalah hal yang tidak lebih penting dari catatan kaki. Nama yang nyaris ia bantu tenggelamkan. Grace tidak bergerak. Wajahnya tetap tenang, ia telah belajar, selama lima tahun di kantor hukum yang penuh permainan politik, untuk tidak membiarkan keterkejutan terlihat dari luar. Tetapi di dalam, ada sesuatu yang runtuh pelan-pelan, seperti dinding pasir yang terkena ombak pertama. "Saya datang karena saya butuh pengacara," lanjut Kevin, dan ada sesuatu dalam cara ia mengucapkannya, tanpa dramatisasi, tanpa permohonan, hanya pernyataan fakta yang membuat Grace semakin sulit bernapas. "Dan saya memilih Mbak Grace." Grace membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali. Pertanyaan pertama yang seharusnya ia ajukan 'untuk kasus apa?' sudah ia tahu jawabannya sebelum kata itu keluar. "Kasus Pratama Group," kata Kevin, seolah membaca pikirannya. Grace mengangguk pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Kevin. "Boleh tolong di ceritakan?" tanya Grace. Kevin menarik napas, dan untuk pertama kalinya ketenangan di wajahnya retak sedikit, bukan pecah, hanya bergeser, seperti permukaan danau yang disentuh angin. "Saya bekerja di Pratama Group selama tujuh tahun. Divisi keuangan. Posisi terakhir saya supervisor audit internal." Ia berhenti sejenak, seakan menimbang setiap kata. "Setahun lalu, manajemen meminta saya menandatangani laporan audit yang isinya tidak sesuai dengan temuan saya di lapangan. Saya menolak. Dua bulan kemudian, saya diberhentikan. Tiga bulan setelah itu, saya didakwa melakukan penggelapan dana perusahaan senilai empat belas miliar rupiah." Angka itu menggantung di udara firma kecil itu seperti beban yang tidak punya tempat untuk mendarat. "Mereka menyusun narasi bahwa saya memanipulasi data keuangan untuk keuntungan pribadi," lanjut Kevin. Suaranya tetap rata, tetapi Grace menangkap sesuatu di baliknya, bukan kemarahan, melainkan kelelahan yang sudah terlalu lama dibawa. "Rekening saya dibekukan. Nama saya masuk media." Ia berhenti, dan kali ini jedanya lebih panjang. "Ibu saya sakit. Tidak bisa tidur sejak nama saya muncul di berita." Grace mendengarkan tanpa menyela. Setiap kalimat yang Kevin ucapkan terasa seperti potongan-potongan yang sudah lama ia ketahui bentuknya, karena ia pernah melihat cetak birunya, ia pernah memegang 'blueprint' penghancuran ini di tangannya sendiri, di dalam map bertinta merah yang diberikan Pak Arman malam itu. "Kenapa Pak Kevin memilih saya?" tanya Grace akhirnya. Kevin menatapnya, dan di dalam tatapan itu ada sesuatu yang membuat Grace harus menahan diri untuk tidak memalingkan wajah. "Saya ada di persidangan Mbak Grace minggu lalu," katanya. "Kasus kekerasan dalam rumah tangga." "Saya tahu," jawab Grace, sebelum sempat menahan dirinya. "Saya melihat Bapak." Alis Kevin terangkat sedikit, terkejut, mungkin karena ia mengira kehadirannya tidak diperhatikan. "Saya sudah menemui empat pengacara sebelum ini," lanjut Kevin. "Dua menolak karena kasusnya melibatkan Pratama Group. Satu menerima tapi minta biaya yang tidak masuk akal. Satu lagi…" Ia tersenyum tipis, dan senyum itu menyimpan kepahitan yang tertahan. "Menyarankan saya untuk mengaku bersalah dan bernegosiasi, karena menurut dia, melawan perusahaan sebesar itu adalah bunuh diri." Keheningan mengisi ruangan. "Lalu saya melihat Mbak Grace di pengadilan itu," kata Kevin. "Mbak berdiri sendirian. Firma kecil, tanpa nama besar di belakang. Tapi Mbak tidak gentar. Mbak membela seseorang yang tidak punya apa-apa, dan menang bukan karena trik, bukan karena koneksi, tapi karena kebenaran." Ia berhenti. "Saya butuh pengacara yang seperti itu." Grace merasakan sesuatu yang menyesakkan di dadanya, bukan karena pujian Kevin, melainkan karena ironi yang begitu tajam sampai rasanya bisa memotong. Pria ini datang kepadanya karena ia melihat seorang pengacara yang berani membela kebenaran. Pria ini tidak tahu, tidak mungkin tahu bahwa pengacara yang sama pernah duduk di meja kerja, membaca namanya di dalam berkas, dan nyaris menjadi bagian dari sistem yang menghancurkannya. "Pak Kevin," kata Grace, dan suaranya tetap terkendali meski setiap suku katanya terasa lebih berat dari biasanya. "Saya perlu jujur dengan Anda." Kevin menunggu. Grace menelan ludah. Ada bagian dirinya yang ingin mengatakan semuanya 'saya dulu bekerja di kantor hukum yang menangani kasus Pratama Group, saya pernah membaca berkas yang dirancang untuk menghancurkan Anda, saya tahu bahwa Anda tidak bersalah bukan karena saya mempercayai Anda sekarang tetapi karena saya pernah melihat buktinya dari sisi yang berlawanan'. Tetapi kalimat-kalimat itu terlalu banyak untuk satu tarikan napas, dan sebagian dari dirinya tahu bahwa kejujuran penuh di detik ini bisa menghancurkan kepercayaan yang baru saja Kevin letakkan di hadapannya. "Kasus ini tidak sederhana," katanya akhirnya, memilih jalur yang lebih sempit tetapi masih jujur. "Pratama Group punya sumber daya yang besar. Tim hukum mereka salah satu yang paling kuat di kota ini. Kalau saya menerima kasus Anda, ini bukan hanya soal membela Anda di pengadilan. Ini soal melawan sebuah sistem yang sudah dirancang untuk menang." "Saya tahu," jawab Kevin tenang. "Dan firma saya…" Grace menunjuk sekeliling ruangan dengan gerakan kecil,  meja lipat Mira, rak buku setengah kosong, pot kaktus yang miring. "Ini bukan kantor hukum besar. Saya hampir tidak punya tim. Sumber daya saya terbatas." "Saya juga tahu itu." "Lalu kenapa tetap datang ke sini?" Kevin diam sejenak. Lalu ia menjawab dengan satu kalimat yang membuat Grace merasa seluruh udara di ruangan itu menipis. "Karena keempat pengacara sebelum Mbka Grace, melihat kasus ini sebagai risiko." Ia menatap Grace tepat di mata. "Mbak adalah orang pertama yang saya yakin akan melihatnya sebagai ketidakadilan." Ruangan itu diam. Bowo berdiri membeku di ambang pantri dengan cangkir kopi jahe di tangan, tidak berani masuk. Mira berhenti mengetik, jari-jarinya menggantung di atas keyboard. AC berderit pelan, seolah ikut menahan napas. Grace menatap Kevin Anggara, pria yang namanya pernah ia baca sebagai target, pria yang kini duduk di depannya sebagai klien, pria yang memilih datang kepadanya karena alasan yang paling sederhana dan paling berat sekaligus: kepercayaan. Dan ia merasakan, di suatu tempat yang lebih dalam dari logika dan lebih tua dari perhitungan, bahwa menolak pria ini adalah hal yang tidak bisa ia lakukan. Bukan karena rasa bersalah, meskipun rasa bersalah itu ada, mengendap, menunggu. Bukan karena Kevin tampan atau tenang atau menatapnya dengan cara yang membuat bagian-bagian tertentu di dadanya bergerak ke arah yang tidak ia izinkan. Tetapi karena inilah persisnya alasan ia meninggalkan segalanya. Inilah ujian yang sesungguhnya. "Saya butuh waktu," kata Grace akhirnya. Kevin mengangguk. Tidak ada kekecewaan di wajahnya; hanya penerimaan yang tenang. "Berapa lama?" "Tiga hari. Saya perlu mempelajari kasusnya lebih dalam sebelum memutuskan." "Tiga hari," ulang Kevin, seakan menyimpan angka itu di tempat yang aman. "Baik." Ia berdiri, dan ketika ia berdiri, Grace menyadari untuk pertama kalinya bahwa jas biru gelap yang ia kenakan memiliki jahitan yang sudah sedikit longgar di bahu kanan — detail kecil yang menceritakan sebuah cerita: bahwa ini mungkin satu-satunya jas bagus yang ia miliki, bahwa ia memakainya bukan untuk bergaya, melainkan untuk menghormati pertemuan ini. Dan entah mengapa, detail itu membuat Grace merasa lebih berat dari seluruh angka empat belas miliar yang tadi disebutkan. "Terima kasih sudah mendengarkan," kata Kevin di depan pintu. "Itu… yang seharusnya saya lakukan," jawab Grace, dan ia tidak yakin apakah yang ia maksud adalah mendengarkan ceritanya hari ini, atau sesuatu yang lebih tua dari itu. Kevin mengangguk sekali lagi, anggukan ketiga, dan Grace mulai bertanya-tanya apakah itu memang kebiasaannya atau cara ia menyimpan hal-hal yang tidak bisa diucapkan, lalu melangkah keluar. Pintu kaca menutup pelan. Langkah Kevin terdengar menjauh di lorong, dan ketika suara itu hilang sepenuhnya, ruangan itu terasa berbeda. Lebih penuh. Seolah kehadiran pria itu meninggalkan jejak yang tidak bisa disapu oleh siapa pun, termasuk Bowo yang kini akhirnya berani masuk dengan kopi jahe yang sudah setengah dingin. "Mbak Grace," kata Mira pelan, matanya masih menatap pintu kaca. "Dia… siapa?" "Calon klien," jawab Grace singkat. Mira membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu yang jelas bukan tentang status klien, lalu menutupnya lagi ketika menangkap ekspresi Grace. "Oke," katanya bijak, lalu kembali ke laptopnya. Grace duduk kembali di kursinya. Spreadsheet keuangan masih terbuka di layar, angka-angkanya masih sama, tetapi semuanya terasa tidak penting. Ia menutup laptop, menyilangkan tangan di depan dada, dan menatap lurus ke papan nama yang terlihat dari posisinya 'Gracia Jasmine Law Firm'  huruf-huruf yang seminggu lalu membuatnya tersenyum bangga, tetapi hari ini membuat dadanya terasa berat oleh tanggung jawab yang belum sepenuhnya ia pahami. Kevin Anggara. Nama itu berputar di kepalanya seperti roda yang tidak mau berhenti. Ia meraih ponselnya dan mengetik pesan. Grace: "Din, bisa ketemu sore ini? gue mau cerita." Dinda: "Serius apa ringan?" Grace: "Serius." Dinda: "Oke. BlackKafe jam 4. Gue yang traktir." Grace meletakkan ponsel, menarik napas panjang, lalu memejamkan mata. Di balik kelopak matanya, dua gambar saling bergantian: wajah Kevin yang tenang dan penuh harap, dan wajahnya sendiri dari setahun lalu, duduk di bawah cahaya laptop, membaca nama yang sama dengan tangan yang gemetar dan hati yang ingin lari. Ia lari waktu itu. Ia memilih pergi. Tetapi orang yang ia tinggalkan di dalam berkas itu kini telah datang sendiri ke pintunya, dengan luka yang benar-benar terjadi, meminta pertolongan yang benar-benar nyata. Dan Grace menyadari dengan kejelasan yang menyakitkan dan menyesakkan sekaligus, bahwa resign saja tidak cukup. Bahwa pergi dari sebuah ketidakadilan bukan berarti ia telah melawannya. Bahwa selama ini ia membawa kepergiannya sebagai bukti bahwa ia berada di pihak yang benar, padahal yang sebenarnya ia lakukan hanyalah menyelamatkan dirinya sendiri. Kevin tidak terselamatkan waktu itu. Dan sekarang Kevin ada di sini. Grace membuka matanya. "Bowo," panggilnya. "Ya, Mbak?" "Kopinya enak." Bowo tersenyum lebar, senyum pertama yang Grace lihat darinya selama empat hari. "Besok saya tambahin sereh, Mbak." Grace mengangguk tanpa benar-benar mendengar, karena kepalanya sudah berada di tempat lain, di sebuah ruang sidang yang belum terjadi, menghadapi wajah-wajah yang pernah ia kenal, membela pria yang seharusnya ia bela sejak awal. Di meja kerjanya, di bawah tumpukan dokumen kasus Anita yang sudah selesai, tersimpan selembar kertas notes pink yang ia tulis di malam pertama setelah resign. Ia menariknya pelan, membaca tulisan tangannya sendiri yang sedikit miring: Nama firma. Struktur. Perizinan. Lokasi. Dan di bawahnya, ditambahkan kemudian dengan tinta yang berbeda: Untuk siapa semua ini? Grace mengambil pulpen, dan di bawah pertanyaan itu, ia menulis satu nama. Kevin Anggara. Lalu ia menatap nama itu lama, terlalu lama, sebelum akhirnya menutup notes itu dan menyimpannya kembali di bawah tumpukan dokumen, tepat di tempat yang sama, seolah jawaban itu belum siap untuk dilihat oleh dunia. Tetapi jawaban itu sudah ada. Dan Grace tahu, meskipun ia belum mengatakannya kepada siapa pun, belum kepada Dinda, belum kepada Kevin, bahkan belum sepenuhnya kepada dirinya sendiri, bahwa tiga hari yang ia minta bukanlah untuk memutuskan. Keputusan itu sudah jatuh sejak detik pertama Kevin menyebutkan namanya. Tiga hari itu adalah untuk mempersiapkan dirinya menghadapi semua yang akan datang setelahnya.

Graces's Cases

Waktu, induk kenikmatan dunia

Di publikasikan 09 Jun 2026 oleh Bangun

Ketika kita melihat dalil dalil tentang penghuni neraka, mereka meminta untuk di kembalikan di dunia, agar mereka diberikan waktu agar bisa beramal shaleh. وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَآ أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَـٰلِحًا غَيْرَ ٱلَّذِى كُنَّا نَعْمَلُ ۚ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَآءَكُمُ ٱلنَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا۟ فَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِن نَّصِيرٍ  Dan mereka berteriak di dalam neraka, "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami (dari neraka), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan, yang berlainan dengan yang telah kami kerjakan dahulu." (Dikatakan kepada mereka), "Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, padahal telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami), dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun." (QS Al Fatir ayat 37) Selama ini mereka melalaikan waktu. Waktu yang seharusnya bisa mereka lakukan untuk mengingat Allah, mereka lakukan untuk mengingat angan-angan duniawi. Waktu yang seharusnya bisa mereka pakai untuk dzikir setelah shalat, mereka gunakan untuk buka hp. Waktu yang seharusnya bisa mereka gunakan untuk mengunjungi orang tua, mereka gunakan untuk sibuk mengurusi bisnisnya, pekerjaannya. Waktu yang seharusnya bisa mereka lakukan untuk bersedekah, mereka simpan hartanya. Waktu yang seharusnya bisa mereka lakukan untuk berdoa, mereka gunakan untuk ngobrol. Mereka (penghuni neraka) meminta dikembalikan di dunia itu bukan karena dunia itu indah, tetapi mereka ingin lari dari siksaan. Tetapi tidak ada jalan kembali bagi mereka yang menyekutukan Allah, bagi mereka yang tidak beriman kepada Allah. Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang senantiasa men-tauhidkan Allah, dijauhi dari perbuatan syirik, dan semoga Allah senantiasa memberikan kita ingatan akan dahsyatnya siksaan di neraka seperti halnya ayat diatas sehingga kita dapat terus bersemangat untuk beribadah kepada Allah dan semoga Allah memasukkan kita kedalam surga Firdaus tanpa hisab. Allahuma Aminn

Renungan

Tenang dengan memahami hakekat dunia dan takdir

Di publikasikan 08 Jun 2026 oleh Bangun

Hakekat DuniaAllah mendesain dunia ini bukan sebagai tempat istirahat, Allah membuat dunia ini sebagai tempat ujian bagi hamba-hambaNya, Allah ingin tau siapa diantara hamba-hambaNya yang lulus dalam ujian tersebut dan akan diberikan ganjaran yang indah setelah di dunia Allah berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍۢ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍۢ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّـٰبِرِينَ  Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS Al Baqarah ayat 155) ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًۭا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun. (QS Al Mulk ayat 2) أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman," dan mereka tidak diuji? (QS Al Ankabut ayat 2) Hakekat TakdirBetapa sering kita merasa kecewa jika sesuatu yang menimpa kita tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan? Padahal segala sesuatu yang menimpa kita itu Allah yang pilih, dan kita tau Allah memiliki sifat Al Adl (yang maha adil), Allah memiliki sifat Al Alimm (yang maha mengetahui). Jadi segala sesuatu yang menimpa kita ini bukan karena manusia lain, melainkan karena Allah sudah tetapkan. Dan kembali lagi, segala ketetapan Allah, segala takdir Allah pasti yang terbaik. Allah berfirman:  . . . وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ خَيْرٌۭ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًۭٔا وَهُوَ شَرٌّۭ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (QS Al Baqarah 216) --- Dengan merenungkan 2 hakekat diatas, kita menjalani hidup dengan lebih ringan, insya Allah. Jika ada musibah, mbatin "Namanya juga dunia, ini tempat ujian, tinggal kita sabar, ikhtiar, dan minta pertolongan Allah"Jika tidak sesuai keinginan, mbatin "Pasti ada sesuatu yang Allah siapkan dibalik kejadian ini"Jika kita marah tidak terima atas kejadian yang menimpa kita, mbatin "Jangan sok tau! Kita tu siapa? baca lagi ayat Al Baqarah 216"وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.

Renungan

CHAPTER 2

Di publikasikan 05 Jun 2026 oleh _didiable

Pagi itu terasa berbeda, bukan karena cuaca, bukan pula karena rutinitas, melainkan karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya Grace melangkah menuju sesuatu yang sepenuhnya miliknya sendiri. Ia berhenti beberapa detik di depan pintu kaca kecil yang masih berkilau oleh sapuan lap terakhir, menatap papan nama sederhana yang terpasang di atasnya — *Gracia Jasmine Law Firm*. Tulisan itu tidak besar, tidak mencolok, bahkan mungkin akan terlewat oleh orang yang berjalan terburu-buru di koridor ini; tetapi bagi Grace, deretan huruf itu adalah seluruh keberaniannya yang akhirnya menemukan bentuk. Tangannya terangkat menyentuh gagang pintu yang masih terasa dingin, ia menarik napas pelan, lalu mendorongnya hingga terdengar bunyi klik halus yang anehnya terasa seperti penanda dimulainya sesuatu yang besar. Ruangan persegi itu menyambutnya dengan bau cat baru dan kayu yang belum sepenuhnya kering, sementara sinar matahari pagi menyelinap dari jendela di sisi kanan dan jatuh tepat di atas meja kerja utama — meja yang ia pilih sendiri dengan pertimbangan yang terlalu detail untuk sesuatu yang begitu sederhana. Ada dua meja yang belum semuanya terisi, beberapa kursi yang masih berbau plastik pembungkus, rak buku yang baru setengah penuh, dan satu laptop yang menunggu di atas meja seperti satu-satunya saksi atas mimpi yang sedang ia bangun. Grace berjalan masuk, sepatunya beradu pelan dengan lantai dan menciptakan gema kecil di ruangan yang masih lengang, dan ketika ia berhenti di tengah ruangan untuk menatap sekeliling, tanpa sadar ia tersenyum. "Gue benar-benar melakukan ini," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun. Ia menarik kursi dan duduk, membiarkan dirinya merasakan keheningan yang tidak lagi menekan seperti di kantor lama — tidak ada dengung printer, tidak ada panggilan rapat, tidak ada tekanan dari atasan yang menatapnya seakan idealisme adalah sebuah kekurangan. Hanya ada dirinya dan pilihan-pilihan yang kini sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya sendiri, dan dari situ muncul perasaan yang aneh tetapi hangat, perasaan yang membuatnya merasa, untuk pertama kalinya sejak lama, benar-benar hidup. Tetapi kehangatan itu tidak bertahan lama, sebab di balik setiap langkah besar selalu menunggu pertanyaan yang jauh lebih sulit, dan pertanyaan itu kini menatapnya balik dari layar laptop yang menyala kosong: *selanjutnya apa?* Ia menyandarkan punggung, melipat tangan di depan dada, dan menyadari bahwa sebuah firma tanpa klien hanyalah ruangan indah dengan nama yang cantik — bahwa keberanian saja tidak membayar sewa, dan idealisme tidak datang dengan daftar perkara. Hari-hari pertama berjalan seperti itu, diisi rancangan strategi yang ia tulis dan hapus berulang kali, daftar relasi lama yang ragu-ragu ingin ia hubungi, dan keheningan panjang yang membuatnya bertanya-tanya apakah ia telah melompat terlalu jauh tanpa jaring. Namun jawaban atas pertanyaan itu, sebagaimana sering terjadi dalam hidup, justru datang bukan dari arah yang ia rencanakan, melainkan dari dinding di sebelah kamarnya sendiri. *** Malam itu udara terasa lebih dingin dari biasanya, dan Grace baru saja sampai di depan rumahnya ketika suara itu kembali terdengar — lebih keras, lebih telanjang daripada malam-malam sebelumnya. "Diam kamu!" Suara seorang laki-laki, disusul bunyi benda yang dibanting hingga pecah, lalu tangisan yang tidak lagi berusaha disembunyikan. Kali ini berbeda, sebab bukan hanya Grace yang mendengarnya; beberapa pintu rumah di sepanjang gang itu terbuka satu per satu, dan para tetangga mulai keluar dengan wajah yang menyimpan campuran cemas dan ragu. Seorang ibu di seberang berdiri sambil menutup mulutnya, seorang bapak menggumamkan niat menelepon ketua RT, dan bisik-bisik mulai merambat di antara mereka seperti percikan yang menunggu menjadi api. "Saya sering lihat istrinya lebam," kata seseorang pelan. "Kemarin di tukang sayur juga, mukanya ditutup-tutupin," sambung yang lain. Grace berdiri diam di antara mereka, menatap rumah di sebelah yang lampunya menyala terang namun menyimpan kegelapan yang jauh lebih pekat daripada malam di luar, dan untuk kesekian kalinya kalimat lama yang selalu ia pakai untuk melindungi diri — *bukan urusanku* — terasa busuk di lidahnya. Ia teringat dirinya sendiri beberapa minggu lalu, berdiri di ruangan Pak Arman dan menolak menenggelamkan seorang manusia demi memenangkan perkara; dan ia menyadari betapa munafiknya bila ia berani melawan ketidakadilan yang berjarak satu meja kantor, tetapi memilih tuli terhadap ketidakadilan yang berjarak satu dinding kamar. Ketua RT akhirnya datang, kerumunan semakin rapat, dan di tengah situasi itu seorang ibu yang usianya kira-kira sebaya dengannya menoleh dan menatapnya dengan mata yang penuh harap. "Mbak Grace," katanya ragu, "Mbak kan pengacara. Memang nggak bisa bantu?" Pertanyaan itu sederhana, hampir polos, tetapi ia menghantam tepat di tempat yang paling dalam — tempat di mana Grace menyimpan seluruh alasan mengapa ia rela melepaskan karier yang aman demi sebuah ruangan kecil berbau cat baru. Ia terdiam beberapa saat, merasakan beratnya tatapan orang-orang yang menunggu, lalu perlahan mengangguk. "Bisa," katanya akhirnya, dan pada detik itu juga ia tahu bahwa firma kecilnya baru saja menemukan kasus pertamanya, bukan dari relasi atau iklan, melainkan dari hati nuraninya sendiri yang menolak untuk diam lebih lama. *** Keesokan paginya Grace berdiri di depan rumah itu, menarik napas, lalu mengetuk pintu yang sebentar kemudian terbuka setengah. Seorang pria menjulang di ambang pintu, tubuhnya besar, sorot matanya tajam dan penuh kecurigaan, dan dari dalam rumah menyelinap keluar bau rokok bercampur sesuatu yang pahit. "Ada apa?" tanyanya dingin begitu melihat Grace. Grace tidak langsung menjawab; ia menahan tatapan pria itu dengan tenang, tidak menantang tetapi juga tidak mundur. "Saya ingin bicara dengan istri Bapak," katanya akhirnya. Rahang pria itu mengeras. "Dia lagi nggak bisa diganggu." Dari balik bahu pria itu, Grace menangkap sekilas sosok seorang perempuan yang berdiri setengah tersembunyi di balik dinding, wajahnya pucat, dengan bekas keunguan samar di pipi kiri yang berusaha ditutup bedak. Mata mereka bertemu sekejap sebelum perempuan itu buru-buru menunduk, dan Grace mengenali jenis ketakutan itu — bukan sekadar takut dimarahi, melainkan takut akan sesuatu yang jauh lebih dalam dan jauh lebih lama. "Saya hanya ingin memastikan dia baik-baik saja," lanjut Grace dengan suara yang dijaga tetap rata, "karena beberapa kali terdengar suara ribut dari rumah Bapak." Pria itu tertawa pendek, tawa tanpa kehangatan. "Dia baik-baik saja. Kamu nggak perlu ikut campur." "Kalau memang begitu," kata Grace tenang, "biarkan dia yang bilang sendiri." Keheningan menggantung di antara mereka seperti kabel yang nyaris putus, sampai pria itu setengah berbalik dan melempar perintah ke dalam rumah dengan suara keras, menyuruh sang istri mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Perempuan itu melangkah maju dengan gerakan yang seakan memikul beban yang tak terlihat, dan tanpa berani menatap Grace ia berbisik, "Saya… baik-baik saja." Grace menatapnya lama, mengangguk pelan, lalu berkata bahwa ia akan kembali lagi nanti; dan ketika ia melangkah pergi sementara pintu ditutup kasar di belakangnya, ia tahu satu hal dengan pasti — perempuan itu baru saja berbohong, bukan untuk melindungi suaminya, melainkan untuk bertahan hidup. ** Hari itu Grace tidak kembali ke kantor, melainkan duduk lama di sebuah warung kecil di ujung jalan dengan segelas es kopi yang batu esnya perlahan mencair, sementara di kepalanya mulai tersusun bukan rasa marah, melainkan sebuah peta. Kekerasan, ia tahu betul dari pengalaman bertahun-tahun membaca berkas perkara, tidak pernah benar-benar acak; ia selalu punya ritme, punya waktu, punya siklus yang berulang, dan justru pada keberulangan itulah letak kelemahannya sebagai sebuah perbuatan yang bisa dibuktikan. Di layar ponselnya ia mulai mengetik daftar yang akan menjadi tulang punggung perkaranya: kesaksian tetangga, rekaman suara, dokumentasi luka, riwayat medis, dan pola kejadian — dan ketika matanya berhenti di kata terakhir, ia menatap ke arah rumah itu dan berbisik pada dirinya sendiri bahwa jika perempuan itu belum mampu bersuara, maka ialah yang harus membuat dunia mendengarnya. Malam-malam berikutnya, lampu ruang tamu Grace sengaja dibiarkan padam, dan ia duduk di dekat jendela dengan tubuh setengah tersembunyi di balik tirai tipis, ponselnya dalam mode perekam, menunggu dengan kesabaran seorang pengacara yang tahu bahwa satu bukti yang sah lebih berharga daripada seratus kemarahan. Suara itu datang pada malam pertama sekitar pukul sembilan lewat, tidak terlalu keras tetapi cukup jelas — nada tinggi yang patah-patah, disusul bunyi benturan; lalu datang lagi pada malam kedua, dan malam ketiga, dan meskipun hasil rekaman itu jauh dan tidak sepenuhnya jernih, pada setiap potongannya tersimpan pola yang sama persis: nada marah, suara benturan, dan tangisan yang berusaha ditahan. Di siang hari, di dalam kantornya yang sunyi, Grace memutar ulang rekaman-rekaman itu satu per satu, mencatat waktu, frekuensi, dan durasinya, menyadari bahwa ia tidak sekadar mengumpulkan suara, melainkan sedang menyusun sebuah cerita yang tidak bisa lagi disangkal oleh siapa pun. Langkah berikutnya adalah kesaksian, dan untuk itu Grace tidak bergerak frontal melainkan perlahan, mendekati ibu-ibu yang biasa berkumpul di tukang sayur pada pagi hari, menyatu dalam obrolan ringan sebelum akhirnya bertanya pelan tentang rumah sebelah. Obrolan itu sempat berhenti, beberapa orang saling pandang dengan ragu, sampai satu suara muncul nyaris berbisik, "Kamu juga dengar, ya?" — dan dari sanalah cerita mengalir seperti air yang menemukan celah, tentang teriakan yang hampir setiap malam, tentang wajah lebam yang terlihat sekilas, tentang alasan-alasan yang selalu sama: jatuh, terpeleset, terbentur pintu. "Kalau sesekali sih mungkin," kata seorang ibu, "tapi ini berulang," dan Grace mencatat semuanya — nama, tanggal, setiap detail kecil yang kelak bisa menjadi potongan bukti — sambil menyadari bahwa masih ada satu hal tersulit yang belum ia miliki, yaitu pengakuan dari korban itu sendiri. Maka Grace kembali ke rumah itu, kali ini dengan perhitungan yang cermat, menunggu sampai mobil pria itu keluar sebelum ia mendekat dan mengetuk pelan, dan ketika pintu terbuka, perempuan itu muncul dengan wajah yang lebih pucat daripada sebelumnya. "Boleh saya masuk?" tanya Grace lembut, dan setelah keraguan yang panjang, pintu itu akhirnya terbuka lebih lebar. Di dalam, udara terasa berat dan kosong, seperti rumah yang sudah lama tidak mengenal tawa, dan mereka duduk berhadapan dengan tangan yang sama-sama dingin. "Saya Grace," katanya pelan, "saya pengacara, dan saya tahu apa yang terjadi di sini, tapi saya tidak bisa membantu kalau Mbak tidak mau bicara." Keheningan panjang menggantung sebelum perempuan itu akhirnya bersuara dengan getir, "Apa bedanya? Kalau saya bicara, dia akan lebih marah," dan ketika Grace balik bertanya dengan lembut tentang apa yang terjadi bila ia terus diam, satu-satunya jawaban adalah air mata yang jatuh tanpa suara. Grace tidak mendekat dan tidak memaksa; ia membiarkan ruang itu tetap terasa aman, hanya berkata pelan bahwa perempuan itu tidak sendirian — dan barangkali justru karena ia tidak memaksa itulah, sang perempuan akhirnya menyebut namanya sendiri dengan suara nyaris hilang. "Saya Anita," katanya, lalu buru-buru menambahkan dengan gelisah bahwa Grace tidak bisa berlama-lama karena suaminya hanya keluar sebentar untuk membeli rokok dan bir. Mereka pun membuat janji: Grace akan kembali dua hari lagi, pada jam ketika sang suami pergi mengurus tokonya dari pagi hingga sore — satu-satunya rentang waktu yang cukup panjang dan cukup aman untuk benar-benar bicara. Dua hari kemudian Grace datang sesuai janji, dan ruang tamu yang sama kini terasa sedikit berbeda, lebih tenang meski masih dibebani keheningan yang sama, dengan hanya detak jam dinding yang mengisi kekosongan yang terlalu lama dibiarkan. Grace duduk di sofa abu-abu dengan tangan terlipat di pangkuan, tidak tergesa dan tidak mendesak, memberi ruang alih-alih tekanan, karena ia tahu betul bahwa kata pertama selalu menjadi yang paling sulit diucapkan. "Mbak Anita tidak harus cerita semuanya hari ini," katanya akhirnya membuka suara, "kita bisa pelan-pelan." Anita menatapnya sekilas dengan mata yang mulai menggenang. "Kalau saya cerita," bisiknya, "apa benar bisa berubah?" Grace memilih kata-katanya dengan hati-hati sebelum menjawab bahwa perubahan itu mungkin, bukan karena cerita itu sendiri, melainkan karena Anita memilih untuk tidak lagi diam — dan dengan pelan, hampir tanpa terlihat, Grace menekan tombol rekam pada ponselnya, lalu membiarkan perempuan di hadapannya menemukan keberaniannya sendiri, satu kalimat demi satu kalimat. "Saya capek, Mbak," kata Anita tiba-tiba, suaranya pecah, dan dari sanalah seluruh bendungan itu jebol. Ia bercerita bahwa pada mulanya tidak seperti ini, bahwa dulu suaminya begitu baik sampai semua orang pun berkata demikian, bahwa kemarahan pertama hanyalah bentakan yang ia anggap wajar karena semua orang sesekali marah. Lalu datang tangan yang pertama — ia mengingatnya dengan jelas, hanya karena ia terlambat membuka pintu — dan ketika ia meminta maaf, suaminya pun ikut meminta maaf, mengaku khilaf, berjanji tidak akan mengulanginya; dan Anita mempercayainya, karena ia mencintai, dan karena cinta sering kali menjadi alasan paling jujur sekaligus paling menyakitkan untuk bertahan. "Lalu terjadi lagi," lanjutnya dengan tangan yang gemetar, "awalnya sebulan sekali, lalu dua minggu sekali, sekarang hampir tiap minggu." Grace mendengarkan dengan tenang, sesekali bertanya pelan, dan ketika ia menanyakan apa yang biasa dikatakan sang suami, Anita menjawab lirih bahwa ia selalu disalahkan — bahwa kalau ia lebih diam, lebih cepat, lebih menurut, semuanya akan baik-baik saja — sampai akhirnya, dengan tatapan kosong yang menghantam, ia mengakui hal yang paling menyakitkan dari semuanya, "Saya… mulai percaya." Kalimat itu menggantung berat di udara sebelum Grace mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan dan berkata dengan lembut namun tegas, "Mbak Anita, tidak ada satu pun yang Mbak lakukan yang membuat Mbak pantas disakiti." Ketika Anita mencoba membantah dengan menyebut apa yang selalu dikatakan suaminya, Grace memotongnya pelan, "Kita jangan dulu peduli apa kata dia. Kita peduli dulu pada apa yang benar," dan untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, Anita tidak langsung menunduk. Anita mengakui ketakutannya — takut bila ia melapor suaminya akan lebih marah, takut bila kelak pria itu bebas — dan Grace tidak menyangkalnya, tidak memberi harapan palsu, melainkan menjawab setiap kekhawatiran itu dengan satu kata jujur yang berulang, "Iya." Ketika Anita bingung mengapa pengacara di hadapannya justru membenarkan semua ketakutannya, Grace tersenyum tipis dan menjelaskan bahwa semua itu memang kemungkinan yang nyata, tetapi ada satu hal yang belum Anita lihat, yaitu bahwa ia tidak harus menghadapi semua itu sendirian — bahwa ada hukum, ada proses, ada perlindungan, dan ada dirinya. Perlahan Anita mulai membuka apa yang selama ini ia kunci rapat: tentang dorongan yang membuatnya jatuh menghantam meja dapur hingga lengannya membekas, tentang seminggu lalu ketika ia dipukul dengan ikat pinggang, dan setiap pengakuan itu membuat ruangan terasa semakin sempit sekaligus semakin terang oleh kebenaran yang akhirnya berani disuarakan. "Terima kasih sudah cerita," kata Grace, dan ketika Anita menunduk malu, Grace menambahkan dengan tegas bahwa yang seharusnya malu bukanlah dirinya, melainkan orang yang telah menyakitinya. Mereka memulai dari hal paling sederhana — pertanyaan apakah Anita ingin berhenti dari semua ini — dan untuk pertama kalinya tidak ada keraguan dalam anggukannya. Ketika Grace menyebut langkah berikutnya adalah melapor, ketakutan itu memang kembali muncul di mata Anita, tetapi Grace dengan sabar berkata bahwa itu tidak harus dilakukan hari ini, bahwa mereka akan menuju ke sana bersama-sama; lalu ia mengulurkan tangannya, tidak memaksa, hanya menawarkan, dan setelah beberapa detik yang terasa panjang, Anita menggenggamnya. "Tolong saya," bisik Anita lirih, dan Grace menggenggam tangan itu lebih erat sambil berkata, "Saya di sini" — dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Anita merasa ada seseorang yang datang bukan sebagai penyelamat yang menggurui, melainkan sebagai teman, sebagai pendengar, sebagai saksi. *** Hari-hari berikutnya mereka mencuri waktu di sela jadwal sang suami yang mengurus toko, dan dalam pertemuan-pertemuan singkat itu Grace meminta izin untuk memotret luka-luka lebam di tubuh Anita, mengumpulkannya bersama rekaman-rekaman malam itu menjadi bahan laporan ke polisi demi memperoleh surat permintaan visum. Anita kerap terdiam dengan wajah dipenuhi ketakutan, dan ketika akhirnya mereka duduk di kantor polisi dengan tangan Anita yang gemetar menggenggam, Grace menggenggamnya balik dan berkata pelan bahwa langkah ini bukan semata untuk melawan suaminya, melainkan untuk melindungi Anita sendiri. Ketika laporan itu akhirnya ditulis dan ditandatangani, ada sesuatu yang bergeser secara halus namun mendasar: Anita tidak lagi hanya menjadi korban yang menanggung dalam diam, tetapi telah menjadi seorang saksi yang bersuara. Langit sudah gelap ketika Anita turun dari mobil Grace malam itu, dengan salinan laporan polisi tersimpan di dalam tasnya — kertas yang terasa berat bukan karena bentuknya melainkan karena maknanya — dan dengan bekas pemeriksaan visum yang masih menyisakan nyeri serta bau antiseptik yang seolah menempel di kulitnya bersama sisa ketakutan yang belum sepenuhnya pergi. Ia berdiri beberapa saat di depan pagar rumah yang tampak begitu tenang dan diam seakan tak pernah menyimpan apa pun, lalu menarik napas panjang dan mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci — dan jantungnya langsung berdegup lebih cepat ketika mendapati suaminya sudah duduk di sofa dengan tubuh condong ke depan, kedua tangan bertaut, rahang mengeras, dan tatapan yang langsung menembusnya begitu pintu terbuka. "Kamu dari mana?" Suara pria itu rendah, dan justru kerendahannya itulah yang membuat Anita semakin takut. Ia mencoba menjawab bahwa ia hanya keluar sebentar, lalu mengatakan bahwa ia pergi ke dokter, tetapi setiap jawaban hanya membuat tatapan pria itu semakin menyipit penuh curiga, sampai akhirnya tangan kasar itu mencengkeram pergelangannya dan suaranya meninggi menuntut penjelasan. Tamparan itu datang tiba-tiba, membuat kepala Anita terhempas ke samping dan dunia berputar sesaat; benda-benda berjatuhan, remote televisi melayang nyaris mengenai kepalanya dan membentur pintu dengan bunyi keras, dan sebelum ia sempat bangkit, dorongan kasar kembali menghempaskan tubuhnya ke meja kecil hingga pecahan kaca berserakan di lantai. *** Di rumah sebelah, Grace baru saja keluar dari kamar mandi ketika suara itu kembali terdengar — lebih keras dari biasanya, lebih dekat, lebih membahayakan. Bentakan yang memekik, bunyi benda jatuh, dan tangisan yang kali ini benar-benar pecah, bukan tangisan yang ditahan. Jantung Grace berdegup kencang, tetapi tidak ada lagi ruang untuk ragu; ia meraih ponselnya dan menekan nomor polisi, melaporkan dengan cepat namun jelas bahwa sedang terjadi kekerasan dalam rumah tangga, menyebutkan alamat lengkapnya hingga detail bloknya, dan menegaskan bahwa korban dalam bahaya saat itu juga karena suara kekerasan masih berlangsung. Setelah petugas memastikan unit segera dikirim, Grace tidak menutup teleponnya; ia tetap berjaga di balik jendela, mengawasi, mendengarkan, menolak untuk meninggalkan Anita sendirian meski hanya dalam jarak pandang. Di dalam rumah itu Anita telah terjatuh ke lantai, tubuhnya meringkuk berusaha melindungi diri sementara suaminya tidak juga berhenti, tendangan demi tendangan mendarat di sisi tubuhnya diiringi bentakan tentang keberaniannya keluar tanpa izin. Ia menangis, gemetar, tangannya mencoba menahan meski sia-sia, sampai akhirnya dari kejauhan terdengar suara sirene yang mula-mula samar lalu semakin dekat, membuat pria itu terhenti dengan napas memburu dan gumaman bingung. Sesaat kemudian sirene itu meraung tepat di depan rumah, cahaya biru memantul di kaca jendela, dan ketika pria itu membuka pintu dengan langkah cepat, dua orang polisi telah berdiri di sana menyampaikan bahwa mereka menerima laporan dugaan kekerasan. Pria itu menggeleng cepat, berdalih bahwa tidak ada apa-apa dan bahwa itu hanya urusan keluarga, tetapi ketika polisi meminta izin masuk dan tidak menunggu jawaban, pemandangan di dalam rumah itu tidak bisa lagi disangkal oleh kata-kata apa pun: Anita tergeletak di lantai dengan luka yang jelas dan segar serta napas yang tidak stabil. Salah satu polisi berlutut di sampingnya dan bertanya pelan siapa yang melakukan ini, dan setelah keheningan yang terasa begitu lama, Anita mengangkat tangannya yang gemetar dan menunjuk ke arah suaminya. "Dia," ucapnya — satu kata, tetapi cukup untuk mengubah segalanya. Pria itu meledak berteriak menyebut semua ini fitnah sambil berusaha meronta, namun genggaman polisi lebih kuat, dan ia digiring keluar masih dengan teriakan dan penyangkalan yang kini tidak lagi didengar siapa pun. Dari seberang, Grace menyaksikan semuanya dengan tangan yang masih menggenggam ponsel, napasnya perlahan kembali stabil seiring mobil polisi membawa pria itu menjauh; lalu ia berlari menuju rumah Anita, dan beberapa menit kemudian petugas medis membantu Anita keluar dengan tubuh yang lemah tetapi dengan mata yang berbeda — masih menyimpan takut, tetapi kini ada sesuatu yang lain di sana, sesuatu yang rapuh namun nyata, yaitu harapan. Grace memeluknya, menguatkan tubuh sekaligus hatinya, dan dalam pelukan itu keduanya tahu bahwa malam terburuk ini justru menjadi malam pertama Anita benar-benar melangkah keluar. *** Ruang sidang itu terasa dingin, bukan semata karena pendingin ruangan, melainkan karena suasana menekan yang merembes dari setiap sudutnya, dari deretan kursi kayu yang hampir penuh hingga bisik-bisik para tetangga sekompleks yang sengaja datang dan bergerak seperti gelombang kecil sebelum tiba-tiba mereda saat pintu samping terbuka. Majelis hakim memasuki ruangan dengan langkah terukur dan wajah yang sulit dibaca, dan ketika seruan agar hadirin berdiri menggema, semua orang bangkit serempak sebelum kemudian kembali duduk mengikuti ketukan palu. Di bangku depan, Anita duduk dengan jari-jari menggenggam ujung blazer yang dikenakannya, berusaha menahan gemetar yang tetap saja menjalar, sementara di sampingnya Grace duduk tegak dan tenang, tangannya memegang berkas perkara yang telah tersusun rapi dengan setiap halaman ditandai dan setiap detail telah ia hafal di luar kepala. Ketika terdakwa digiring masuk dengan tangan terborgol dan wajah yang masih keras meski kini menyimpan kegelisahan, matanya mencari dan berhenti pada Anita, membuat perempuan itu refleks menunduk — tetapi Grace menyentuh tangannya pelan, sebuah sinyal kecil tanpa kata yang berarti *kamu aman*. Jaksa penuntut umum berdiri dan membacakan dakwaannya dengan suara tegas dan terlatih, menjabarkan bahwa terdakwa didakwa melakukan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga secara berulang terhadap istrinya sendiri, lengkap dengan tanggal kejadian, bentuk kekerasan, serta dampak fisik dan psikis yang ditimbulkan. Setiap kalimat yang terucap membuat Anita menahan napas seakan luka-luka lama itu dibuka kembali, namun kali ini pembukaan itu bukan untuk menyakitinya melainkan untuk memperlihatkan kebenaran, dan ketika jaksa menutup dakwaannya dengan menyatakan akan membuktikan semuanya melalui saksi, ahli, dan alat bukti yang sah, hakim mengangguk dan memerintahkan pemeriksaan saksi dimulai. Nama Anita dipanggil, dan ia melangkah pelan menuju kursi saksi, mengucapkan sumpah dengan tangan yang masih dingin, sementara dari kursi penasihat hukum Grace menatapnya tenang, memberi kekuatan tanpa sepatah kata pun. Atas pertanyaan hakim yang lembut namun tegas, Anita mulai bercerita bahwa pada awalnya hanya ada bentakan, lalu berkembang menjadi tamparan, namun selalu disusul permintaan maaf dan janji bahwa itu tak akan terulang — sebuah pola yang ia percayai karena ia berpikir keadaan akan membaik, sampai pola itu terus berulang dan semakin sering. Ketika hakim bertanya apakah ia pernah melawan, Anita menggeleng pelan dan mengakui ketakutannya, takut bila suaminya menjadi lebih marah, takut bila ia tidak akan pernah bisa keluar; namun pada malam terakhir itu, katanya dengan suara yang melemah lalu menatap lurus ke depan, ia sudah tidak kuat lagi, dan untuk pertama kalinya ia memilih bercerita. Bukti-bukti pun dipaparkan satu per satu, dimulai dari rekaman suara yang diputar di ruang sidang — suara bentakan, benda jatuh, dan tangisan yang terdengar begitu jelas hingga beberapa pengunjung menahan napas — disusul kesaksian seorang ibu dari lingkungan sekitar yang menuturkan malam-malam penuh teriakan dan wajah Anita yang pernah ia lihat penuh lebam, lalu keterangan dokter yang menjelaskan hasil visum dengan temuan luka memar di beberapa bagian tubuh yang tingkat keparahannya menunjukkan adanya kekerasan berulang. Setiap bukti saling menguatkan satu sama lain, merajut sebuah gambaran yang semakin sulit dibantah. Lalu tibalah giliran pihak terdakwa, dan pengacara pembela berdiri dengan percaya diri, mengajukan argumen bahwa perkara ini sesungguhnya adalah konflik rumah tangga yang seharusnya diselesaikan secara internal, bahwa tidak semua pertengkaran dapat serta-merta dikategorikan sebagai tindak pidana. "Tidak ada satu pun saksi yang melihat langsung kejadian tersebut, Yang Mulia," lanjutnya dengan nada yang ditata rapi, "dan klien kami memang mengakui adanya luapan emosi, namun sama sekali tidak berniat mencederai." Belum puas dengan itu, sang pembela meminta izin melakukan pemeriksaan silang terhadap Anita, dan ketika diberi kesempatan, ia berjalan mendekati kursi saksi dengan senyum tipis yang dingin. "Saudari Anita," katanya, "Anda mengaku takut pada suami Anda, takut sampai tidak berani melawan, benar begitu?" Anita mengangguk pelan. "Tapi anehnya," lanjut sang pembela dengan nada yang sengaja diperhalus untuk menyembunyikan jebakannya, "Anda justru berani diam-diam merekam, diam-diam menemui pengacara, diam-diam mengumpulkan bukti selama berhari-hari. Bagi orang yang katanya begitu ketakutan, bukankah itu justru terdengar seperti seseorang yang terencana, yang punya agenda? Bukankah mungkin saja, Saudari Anita, bahwa semua ini Anda susun untuk menyingkirkan suami Anda demi alasan lain?" Ruangan seketika hening, dan Anita merasakan napasnya tercekat; bibirnya bergetar, matanya mulai berkaca, dan untuk sesaat ia tampak hampir runtuh di kursi saksi itu, seakan seluruh keberanian yang susah payah ia kumpulkan terancam rontok hanya oleh beberapa kalimat yang diputarbalikkan. Ia membuka mulut namun tak ada suara yang keluar, dan tatapan terdakwa yang menusuk dari seberang ruangan membuat tubuhnya semakin mengecil. "Keberatan, Yang Mulia." Suara Grace memecah keheningan saat ia berdiri dengan tenang namun tegas. "Penasihat hukum sedang menggiring saksi pada kesimpulan spekulatif dan menyerang karakter korban, bukan menanyakan fakta. Mengumpulkan bukti atas penderitaan yang dialami bukanlah tanda agenda tersembunyi, melainkan tanda bahwa korban akhirnya menemukan keberanian untuk tidak lagi diam." Hakim mengangguk. "Keberatan diterima. Penasihat hukum diminta mengarahkan pertanyaan pada fakta, bukan asumsi." Sang pembela tersenyum tipis dan mundur selangkah, namun Grace belum selesai; dengan izin hakim ia bangkit dan maju beberapa langkah, suaranya tenang tetapi setiap kata terdengar jelas memenuhi ruangan. "Yang Mulia, izinkan saya meluruskan logika yang barusan ditawarkan kepada kita. Penasihat hukum yang terhormat menyebut bahwa korban tidak memiliki saksi yang melihat langsung, seakan-akan kekerasan baru menjadi nyata bila ada penonton yang menyaksikannya. Tetapi kekerasan dalam rumah tangga justru dirancang untuk terjadi tanpa penonton — di balik pintu yang tertutup, di dalam dinding yang sengaja dibuat bisu. Maka menuntut adanya saksi mata langsung sama saja dengan menuntut agar korban tidak pernah bisa memperoleh keadilan." Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimat itu mengendap, lalu melanjutkan sambil sesekali menatap ke arah Anita. "Kita telah mendengar rekaman suaranya. Kita telah melihat hasil visumnya yang menunjukkan kekerasan berulang, bukan satu insiden tunggal. Kita telah mendengar kesaksian tetangga yang konsisten satu sama lain. Dan yang terpenting, kita telah mendengar langsung dari korban. Menyebut semua ini sekadar konflik rumah tangga adalah bentuk penyangkalan terhadap penderitaan yang nyata, dan bila penyangkalan semacam itu kita biarkan menang, maka kita sedang mengirim pesan kepada setiap rumah di negeri ini bahwa kekerasan boleh ditoleransi asalkan terjadi di balik pintu yang tertutup." "Klien saya hanya khilaf!" sela pengacara pembela, mencoba merebut kembali kendali, tetapi Grace menoleh dengan ketenangan yang justru terasa lebih tajam daripada bentakan. "Khilaf terjadi satu kali," katanya. "Yang terjadi berulang selama berbulan-bulan, dengan pola yang sama, bukan lagi kekhilafan — itu adalah pilihan. Dan setiap pilihan, Yang Mulia, memiliki konsekuensi hukum." Pada titik itulah sesuatu di dalam diri terdakwa tampak retak; wajahnya yang sejak awal keras kini memerah oleh amarah yang tak lagi mampu ia tahan, dan tiba-tiba ia bangkit dari kursinya sambil berteriak ke arah Anita, "Kamu memang nggak pernah becus! Gara-gara kamu semua jadi begini, dasar perempuan tidak tahu diuntung!" Suaranya menggelegar memenuhi ruang sidang, urat-urat di lehernya menonjol, dan petugas harus bergegas menahannya saat ia mencoba melangkah maju — dan dalam ledakan beberapa detik itu, watak yang selama ini ia sembunyikan di balik dalih "khilaf" dan "urusan keluarga" terbuka telanjang di hadapan majelis hakim, jaksa, dan setiap pasang mata di ruangan itu. Keheningan yang menyusul terasa lebih nyaring daripada teriakan tadi. Hakim menatap terdakwa dengan tatapan yang tak lagi menyembunyikan penilaian, lalu memerintahkannya duduk dan tenang, sementara di kursi saksi Anita yang semula nyaris runtuh kini justru menegakkan punggungnya sedikit — seakan ledakan itu, yang dahulu selalu terjadi di ruang tertutup tanpa saksi, kini akhirnya disaksikan oleh dunia dan tidak bisa lagi disangkal sebagai rekaan dirinya. Grace kembali ke tempat duduknya tanpa dramatisasi, tanpa kemenangan yang dipamerkan, karena ia tahu bahwa terdakwa baru saja membuktikan sendiri apa yang berusaha disangkal oleh pembelaannya. Setelah seluruh bukti dan kesaksian dipertimbangkan, hakim membuka berkas dan membacakan putusannya dengan suara yang tegas, menyatakan bahwa terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga, lalu menjatuhkan pidana penjara selama sepuluh tahun sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Ketika palu diketuk dengan satu bunyi tegas yang menutup segalanya, tangis pun pecah di ruangan itu — bukan tangis ketakutan seperti yang dahulu selalu mengiringi malam-malam Anita, melainkan tangis kelegaan; Anita menutup wajahnya, bahunya yang selama bertahun-tahun terangkat tegang oleh kewaspadaan akhirnya turun, dan beban yang begitu lama ia panggul perlahan terlepas dari tubuhnya. Di luar ruang sidang, Anita berdiri di bawah langit yang terasa jauh lebih luas daripada sebelumnya, menarik napas dalam untuk pertama kalinya tanpa rasa takut, lalu berbalik pada Grace dan berucap lirih, "Terima kasih." Grace mengangguk, dan dengan senyum tenang ia berkata, "Ini bukan akhir, Mbak. Ini awal" — dan Anita pun tersenyum, dengan rasa lega dan bebas yang menjalar ke seluruh hatinya, mengucapkan syukur dan terima kasih berkali-kali seakan tak mampu menampung semuanya dalam satu kalimat. Grace menatap perempuan itu melangkah menuju keluarganya, dan untuk sesaat ia membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan di penghujung sebuah perkara — bukan kemenangan, melainkan makna. Inilah alasan ia melepaskan ruangan ber-AC di lantai dua puluh itu, inilah alasan papan nama kecil di firma sederhananya, dan inilah hukum sebagaimana yang dulu ia bayangkan ketika masih kecil. Ia tengah membereskan berkasnya ketika menyadari ada seseorang yang sejak tadi belum beranjak dari kursi pengunjung di barisan belakang — seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun, berpakaian rapi dengan ketenangan yang berbeda dari kerumunan, menatapnya bukan dengan rasa ingin tahu yang dangkal melainkan dengan semacam pengakuan yang sulit dijelaskan. Ketika tatapan mereka bertemu sekejap, pria itu tidak buru-buru memalingkan wajah; ia hanya mengangguk pelan, nyaris seperti penghormatan, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar — meninggalkan Grace dengan perasaan ganjil bahwa entah bagaimana, ini bukanlah terakhir kalinya ia akan bertemu pria itu.

Graces's Cases

CHAPTER 1

Di publikasikan 05 Jun 2026 oleh _didiable

Hujan turun sejak sore, tipis tapi konsisten, Dari balik jendela kaca lantai dua puluh, Grace menatap titik-titik air yang meluncur perlahan. Pukul 19.45, lantai kantor sudah kosong. Lampu-lampu di kubikel padam satu per satu, menyisakan lorong panjang yang terasa lebih dingin dari biasanya. Hanya beberapa ruangan yang masih menyala, termasuk ruang kerja Grace, dipenuhi berkas, catatan, dan secangkir kopi yang sudah kehilangan hangatnya sejak tiga jam lalu. Grace menghela napas panjang. Layar laptop di depannya menampilkan dokumen pembelaan untuk klien perusahaan besar yang sedang tersandung kasus penggelapan dana internal. Ia sudah membaca berkas itu berkali-kali. Bahkan tanpa melihat pun, ia tahu setiap paragrafnya. Dan itulah masalahnya. Grace tahu terlau banyak. Tahu bahwa kliennya tidak sepenuhnya jujur.Tahu bahwa seseorang sedang dikorbankan.Dan tahu bahwa dirinya… diminta menjadi bagian dari itu. “Belum pulang, Grace?” Suara itu membuatnya menoleh. Dika, rekan kerjanya, berdiri di ambang pintu sambil merapikan jasnya. “Sebentar lagi,” jawab Grace singkat. Dika masuk, melihat layar laptop Grace sekilas, lalu tersenyum miring. “Kasus Pratama Group?” Grace mengangguk. Dika mendengus pelan. “Kasus panas. Tapi ya… lo tahu sendiri lah gimana endingnya.” Grace menatapnya. “Maksud lo?” “Ya menang, lah. Selama kliennya punya uang dan nama besar, kita pasti menang.” Dika mengangkat bahu. “Itu kan yang penting.” Grace tidak langsung menjawab. Dika memperhatikannya beberapa detik, lalu berkata, “Jangan bilang lo masih mikirin soal benar atau salah.” Grace tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Bukannya itu inti dari hukum?” Dika tertawa kecil. “Itu inti dari buku teks. Bukan dunia nyata.” Kalimat itu menggantung di udara. Grace tersenyum tipis, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Bukannya itu inti dari hukum?” Dika tertawa kecil. “Itu inti dari buku Grace, bukan di dunia nyata.” Kalimat itu menggantung di udara. Grace tidak membalas. Ia hanya kembali menatap layar laptopnya, tapi huruf-huruf di sana terasa semakin kabur. “Gue cabut duluan ya.” Pamit Dika sambil berlalu. Setelah Dika pergi, ruangan itu kembali sunyi. Bukan sunyi yang menenangkan, tapi menekan. Grace memejamkan mata sejenak. Lima tahun. Sudah lima tahun ia bekerja di kantor hukum itu. Lima tahun membangun reputasi, membuktikan diri, dan naik perlahan menjadi salah satu associate yang paling diandalkan. Dan selama lima tahun itu, ia terus berkata pada dirinya sendiri: Ini cuma sementara. Aku hanya perlu bertahan sedikit lagi. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya… ia mulai ragu apakah itu benar. Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan dari ibunya. Mama : “Kamu belum pulang, Nak? Jangan terlalu capek ya.” Grace menatap pesan itu lama. Jari-jarinya bergerak pelan, membalas singkat. Grace : “Masih di kantor, Ma. Sebentar lagi pulang.” Ia melihat sekeliling ruangan, menghela nafas dan berniat bersiap-siap untuk pulang. Pintu ruangannya diketuk dua kali. “Masuk,” kata Grace. Pak Arman berdiri di sana. Partner senior yang selama ini menjadi atasannya, seorang pria di akhir lima puluhan dengan aura tegas dan tatapan yang sulit dibaca. “Grace, masih di sini. Bagus,” katanya sambil masuk tanpa menunggu undangan. Grace langsung duduk lebih tegak. “Iya, Pak. Saya masih nyusun draft final untuk pembelaan besok.” Pak Arman meletakkan sebuah map di meja Grace. “Revisi ini,” katanya singkat. Grace membuka sebuah dokumen, beberapa halaman sudah ditandai dengan tinta merah. Ia mulai membaca, dan alisnya perlahan berkerut. Narasi yang ia buat… diubah. Bukan sekadar diperhalus. Tapi diarahkan menggeser fokus kesalahan dari struktur manajemen perusahaan… ke satu nama. Seorang karyawan divisi keuangan. Nama yang sebelumnya hanya muncul sekilas di berkas, sekarang dijadikan pusat cerita. Grace mengangkat wajahnya. “Pak, ini…” “Kita ubah pendekatannya,” potong Pak Arman tenang. “Tapi ini berarti kita menyalahkan dia sepenuhnya.” sahut Grace. Pak Arman menatapnya tanpa ekspresi. “Memang itu strateginya.” Grace menelan ludah. “Tapi bukti-buktinya belum cukup kuat untuk menyimpulkan dia pelaku utama.” Pak Arman tersenyum tipis. “Bukti bisa disusun, Grace. Yang penting narasinya harus meyakinkan.” Jantung Grace berdetak lebih cepat. “Pak, saya sudah baca semua transaksi. Ada indikasi kuat bahwa aliran dana tidak berhenti di dia. Ada pihak lain…” “Grace.” Potong Pak Arman dengan nada rendah berwibawa. Satu kata itu menghentikan semuanya. Pak Arman melangkah lebih dekat, menatap Grace dengan tajam. “Kita tidak dibayar untuk mencari semua kemungkinan,” katanya pelan tapi tegas. “Kita dibayar untuk memenangkan kasus.” Grace menggenggam dokumen itu lebih erat. “Kalau dia bukan pelakunya, Pak?” suaranya hampir berbisik. Pak Arman menghela napas pendek, seolah lelah mengulang hal yang sama. “Grace, kamu pintar. Itu sebabnya kamu ada di sini. Tapi kamu terlalu idealis.” Ia berhenti sejenak. “Dunia tidak bekerja seperti itu.” Kalimat itu lagi. Selalu kalimat itu. Grace menatap berkas di tangannya. Nama itu terasa semakin berat. Seorang karyawan biasa. Tidak punya kuasa. Tidak punya uang. Dan sekarang, akan dijadikan tameng. “Apa dia tahu?” tanya Grace. “Apa?” “Kalau dia akan dijadikan pihak yang bertanggung jawab?” Pak Arman tidak langsung menjawab. Dan dari diam itu, Grace sudah mendapatkan jawabannya. Tidak. Tentu saja tidak. Grace menarik napas dalam. Parasaan yang tidak nyaman merasuki hatinya. “Pak, saya tidak bisa,” katanya akhirnya. Pak Arman mengangkat alis. “Tidak bisa apa?” “Menyusun pembelaan seperti ini.” Jawab Grace. Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit. “Ini perintah grace, saya kesini bukan untuk diskusi.” Suara Pak Arman mulai berubah. Grace menatapnya, kali ini tanpa ragu. “Saya tidak bisa menulis sesuatu yang saya tahu tidak benar.” Hening. Detik terasa lebih panjang dari biasanya. Pak Arman tertawa kecil, tapi tidak ada humor di dalamnya. “Kamu serius?” Grace mengangguk. “Ini bukan soal serius atau tidak, Grace. Ini soal pekerjaanmu.” Suaranya mulai meninggi. “Kalau kamu tidak bisa melakukan ini, untuk apa kamu ada di sini?” Pertanyaan itu menancap. Dan untuk pertama kalinya, Grace tidak punya jawaban yang bisa ia gunakan untuk bertahan. Ia melihat sekeliling ruangannya. Rak yang penuh dengan buku dan dokumen-dokumen, sertifikat di dinding, foto-foto tim yang tersenyum di acara perusahaan. Semua yang dulu membuatnya bangga. Sekarang terasa… asing. Grace perlahan menggeser dokumen di mejanya. Lalu ia menutup laptopnya. Klik. Suara kecil itu terdengar jauh lebih keras dari yang seharusnya. Ia berdiri. Gerakannya tenang, tapi ada ketegasan yang tidak bisa disembunyikan. “Pak,” katanya pelan, “kalau pekerjaan saya mengharuskan saya melakukan hal seperti ini, berati saya memang tidak seharusnya ada di sini.” Wajah Pak Arman mengeras. “Kamu sedang membuat kesalahan besar.” “Mungkin,” jawab Grace. “Tapi ini kesalahan yang saya pilih sendiri.” Hening dari luar ruangan terasa masuk sampai ke dalam. Dan di dalam ruangan itu, sebuah keputusan akhirnya menemukan bentuknya. Grace menarik napas. “Saya resign.” Dua kata sederhana. Tapi terasa seperti melepaskan beban yang sudah ia bawa terlalu lama. Pak Arman menatapnya tajam, mencoba mencari celah—keraguan, ketakutan, apa pun yang bisa membuat Grace mundur. Tapi tidak ada. Yang ada hanya ketenangan yang aneh. “Pikirkan lagi,” Bujuknya tanpa usaha. “Terimakasih pak,” jawab Grace. Untuk pertama kalinya dalam percakapan itu, tidak ada getaran di suaranya. Pak Arman menggeleng pelan. “Kamu akan nyesal Grace.” Grace hanya tersenyum tipis tanpa menjawab. Ia meraih tasnya, meninggalkan laptop kantornya dan semua berkas-berkas di meja yang tadi sedang ia kerjakan. Langkahnya menuju pintu terasa ringan, terlalu ringan untuk sesuatu yang baru saja akan mengubah hidupnya. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak. Menoleh ke ruangan itu untuk terakhir kalinya. Lima tahun. Dan semuanya berakhir di malam yang panjang ini. Grace membuka pintu. Udara dingin lorong menyambutnya. Lampu-lampu yang tersisa terlihat redup, seperti ikut memahami bahwa sesuatu telah selesai. Ia berjalan melewati deretan meja kosong. Tidak ada yang menghentikannya. Tidak ada yang tahu. Dan untuk pertama kalinya… itu tidak masalah. Saat pintu lift terbuka, Grace melangkah masuk. Pintu menutup perlahan. Refleksi dirinya terlihat samar di permukaan logam dinding lift. Wanita berusia tiga puluh tahun yang lelah, tapi merasa yakin atas keputusan yang diambilnya. Saat pintu lift terbuka di lantai dasar, suara hujan terdengar jelas. Grace melangkah keluar gedung. Tanpa payung. Tanpa rencana pasti. Tapi dengan sesuatu yang selama ini hilang, kejujuran pada dirinya sendiri. Hujan membasahi wajahnya, rambutnya, pakaiannya. Tetapi ia tidak berhenti. Tidak berlari. Ia berjalan pelan, menikmati setiap tetes yang jatuh. Seolah membersihkan semua yang selama ini menempel. Di tengah trotoar yang basah dan lampu kota yang berpendar, Grace tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama…Ia merasa bebas. Dan meskipun ia belum tahu ke mana langkah berikutnya akan membawanya, ia tahu satu hal. Ia tidak akan kembali. *** Grace terbangun tanpa suara alarm. Tidak ada nada dering yang memaksanya membuka mata. Tidak ada notifikasi rapat. Tidak ada pesan mendesak dari klien. Tidak ada apa-apa. Ia menatap langit-langit kamarnya yang putih dan datar. Untuk beberapa detik, ia hanya berbaring, mencoba memahami perasaan yang mengendap di dadanya. Bukan panik. Bukan juga lega sepenuhnya. Lebih seperti… kosong. Grace menarik napas panjang, lalu duduk perlahan di tepi tempat tidur. Jam di meja menunjukkan pukul 07.12. Biasanya, di jam seperti ini, ia sudah berada di mobil, terjebak macet, atau setidaknya sedang bersiap-siap dengan tergesa. Sekarang? Ia bahkan belum tahu hari ini ingin melakukan apa. “Ini yang kamu mau,” gumamnya pelan pada diri sendiri. Ia berdiri, berjalan ke jendela, dan membuka tirai. Cahaya pagi masuk dengan lembut, menyinari lantai kamarnya yang rapi. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun… ia punya waktu. Dan anehnya, justru itu yang membuatnya bingung. --- Satu jam kemudian, Grace sudah berpakaian rapi, tidak formal, hanya kaos putih longgar dan celana bahan. Kebiasaan lama yang belum sepenuhnya hilang. Grace mengetik pesan untuk sahabatnya sebelum keluar rumah, Grace : Sarapan di BlackKafe ya, otw. Ia meraih tasnya, lalu melangkah keluar rumah. Begitu ia menutup pintu, suara itu kembali terdengar. “Dasar kamu nggak guna!” Suara laki-laki. Keras. Kasar. Disusul suara benda jatuh. Dan kemudian tangisan perempuan. Grace berhenti sejenak di depan pintu. Ia tidak perlu mencari sumber suara itu. Ia tahu persis dari mana asalnya. Rumah di sebelah. Dan ini bukan pertama kalinya, bahkan bukan yang kedua atau ketiga. Sudah berbulan-bulan,  mungkin lebih. Awalnya, Grace sempat merasa terganggu. Bahkan pernah berdiri lebih lama di depan pintu seperti sekarang, mencoba memastikan apakah ia harus melakukan sesuatu. Tapi ia takut dikira terlalu ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Dan lama-lama, ia terbiasa. Atau lebih tepatnya, dipaksa terbiasa. “Bukan urusanku,” bisiknya pelan, hampir otomatis. Kalimat yang sama yang selalu ia gunakan. Kalimat yang membuatnya bisa tetap berjalan. Hari ini pun, ia melakukan hal yang sama. Menarik napas. Mengalihkan pandangan. Lalu melangkah pergi. Seolah tidak terjadi apa-apa. *** Aroma kopi yang hangat langsung menyambut begitu Grace membuka pintu BlackKafe. Musik lo-fi lembut mengalun di latar, menjadi backsound beberapa pelanggan yang sibuk dengan laptop atau buku mereka. “Grace!” Suara ceria itu datang dari sudut dekat jendela. Dinda melambaikan tangan, senyumnya lebar seperti biasa. Grace tidak bisa menahan senyum kecilnya. Dinda, sahabatnya sejak kuliah. Satu-satunya orang yang selalu tahu bagaimana membaca Grace tanpa perlu banyak kata. Grace berjalan mendekat, lalu duduk di kursi seberangnya. “Lo kelihatan beda,” kata Dinda sambil menatapnya penuh perhatian. Grace mengangkat alis. “Baru juga duduk.” “Justru itu. Biasanya elo datang sambil buka laptop, ngecek email, sambil ngomel soal klien.” Dinda menyandarkan dagunya di tangan. “Sekarang lo cuma… duduk.” Grace tersenyum kecil. “Karena emang enggak ada yang harus gue buka lagi.” Dinda menyipitkan mata. “Oke??” Grace menghela napas. “Gue resign.” Dinda membeku selama satu detik. Lalu.. “HAH..APA?!” Beberapa orang di kafe menoleh. Dinda langsung menutup mulutnya, lalu berbisik dengan suara yang masih penuh keterkejutan, “Elo serius?!” Grace mengangguk pelan. Dinda menatapnya lama, mencoba memastikan ini bukan lelucon. “Kapan?” “Semalam.” “Dan elo baru bilang sekarang?!” Dinda memukul ringan meja. Grace tersenyum tipis. “Yes, here i am”, mengambil gelas kopi Dinda di sebrang mejanya dan menyeruputnya. “Mas, Es Americano satu ya!” Grace berkata pelan pada barista di sebrang meja bar. Dinda bersandar, masih memproses. “Oke… tunggu… tunggu…” katanya sambil mengangkat tangan. “Ini Grace yang sama yang selalu bilang ‘sedikit lagi, gue tahan sedikit lagi’? Yang kerja sampai malam tiap hari? Yang bahkan lupa ulang tahunnya sendiri tahun lalu?” Grace tertawa pelan. “Yes, still me.” “Dan sekarang elo resign?” “Iya.” Tegas Grace. Hening sejenak. Lalu perlahan, ekspresi Dinda berubah. Bukan lagi terkejut. Tapi… bangga. “Akhirnya,” katanya pelan. Grace menatapnya. “Akhirnya?” Dinda mengangguk. “Gue udah nunggu momen ini dari dulu.” Grace mengernyit. “Serius?” “Serius.” Dinda tersenyum. “Elo itu pintar, Grace. Tapi lo terlalu lama bertahan di tempat yang salah.” Grace menunduk, memainkan ujung cangkir kopinya. “Yah, lama-lama capek juga lah, Din.” Dinda tidak langsung menjawab. Sebagai seorang psikolog, ia tahu kapan harus diam. Kapan harus memberi ruang. Dan Grace… mulai bicara. Tentang kasus terakhir. Tentang tekanan. Tentang bagaimana ia diminta membelokkan kebenaran. Tentang rasa bersalah yang selama ini ia tekan. Semua keluar, seperti bendungan yang akhirnya rubuh. Dinda mendengarkan. Tidak memotong. Tidak menghakimi. Hanya sesekali mengangguk, atau memberikan respons kecil yang membuat Grace tahu, ia tidak sendirian. “Kadang gue mikir…” kata Grace pelan, “apa gue terlalu idealis?” Dinda tersenyum lembut. “Menurut lo sendiri gimana?” Grace terdiam. “Gue cuma pengen melakukan hal yang benar,” lanjutnya. “Dan itu salah?” tanya Dinda balik. Grace menggeleng pelan. “Berarti bukan elo yang salah,” kata Dinda tenang. Grace menghela napas panjang. “Terus sekarang?” tanya Dinda. “Elo mau ngapain?” Grace tertawa kecil. “Itu dia masalahnya. Gue enggak tahu.” Dinda menatapnya beberapa detik, lalu menyipitkan mata seperti sedang menganalisis sesuatu. “Elo tahu nggak sih masalah lo sebenarnya apa?” Grace mengangkat alis. “Apa?” “Elo kesepian.” Grace langsung tertawa. “Apa hubungannya?” “Banyak.” Dinda bersandar santai. “Elo udah berapa lama nggak pacaran?” Grace mengerjap. “Itu… nggak relevan.” “Jawab aja!” Grace menghela napas. “Empat tahun.” Dinda mengangguk seolah itu mengonfirmasi sesuatu. “Nah.” “Nah apanya?” Grace mengerutkan dahi. “Elo terlalu fokus sama kerjaan. Sampai-sampai hidup lo cuma itu. Jadi, pas sebuah pekerjaan itu ternyata nggak sesuai dengan nilai lo, ya lo jadi ngerasa kehilangan arah.” Grace terdiam. Ada benarnya, dan anehnya tiba-tiba ia menjadi merasa tidak nyaman. “Jadi menurut lo, gue ini resign karena kesepian?” tanya Grace setengah bercanda. “Bukan cuma itu,” kata Dinda. “Tapi itu salah satu faktor.” Grace menggeleng sambil tersenyum kecil. “Elo psikolog apaan si Din, ngelawak lo ya?!” “Gue serius,” lanjut Dinda. “Elo butuh sesuatu yang lebih dari sekadar pekerjaan. Sesuatu yang… lo percaya.” Hening sejenak. Grace menatap keluar jendela. Hujan semalam menyisakan jalanan yang masih basah. Orang-orang berjalan dengan tujuan masing-masing. Ia merasa seperti… berdiri di tengah persimpangan. Tanpa tahu harus ke mana. “Tapi kalau bukan itu…” katanya pelan, “gue harus ngapain?” Dinda terdiam sejenak. Lalu, dengan nada yang lebih santai—seolah hanya asal bicara—ia berkata: “Ya kalo elo emang seidealis itu… kenapa nggak buka firma hukum sendiri aja?” Grace menoleh cepat. “Hah?” Dinda mengangkat bahu. “Ya… kantor elo, aturan elo. Elo yang tentuin klien mana yang mau lo ambil. Elo juga yang tentuin prinsipnya.” Grace menatap sahabatnya itu, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. “Itu… nggak semudah itu lah, Din.” “Ya memang nggak.” Dinda mengangguk. “Tapi bukan berarti nggak mungkin.” Grace tidak langsung menjawab. Kalimat itu, sederhana. Tapi terasa seperti sesuatu yang membuka pintu yang selama ini ia anggap terkunci. “Kantor lo... aturan lo…” Grace mengulang ucapan sahabatnya pelan, menyilangkan tangannya didada sambil menatap langit-langit kafe. Dinda tersenyum kecil. “Iya.” Grace menunduk. Membayangkan. Sebuah tempat… di mana ia tidak perlu mengorbankan nilai-nilainya. Di mana ia bisa memilih untuk membela yang benar. Di mana ia tidak perlu lagi berkompromi dengan hal yang membuatnya muak. “Gila sih!” kata Grace pelan. Dinda tertawa. “Ide bagus emang biasanya kedengarannya gila di awal.” Grace mengangkat wajahnya dan mematung. Bukan ragu. Bukan kosong. Tapi… harapan. “Kalau gue beneran bikin kantor sendiri…” katanya perlahan, “lo bakal dukung gue kan?” Dinda langsung menjawab tanpa ragu. “Selalu.” Grace tersenyum. Keputusan itu belum sepenuhnya terbentuk. Tapi benihnya… sudah ada. Dan itu cukup untuk memulai. *** Sesampainya dirumah, Grace duduk di meja makan dan membuka laptop. Masih ada ketidakpastian, tapi ia merasa memiliki tujuan baru, arah yang baru. Ia mebuka notes pinknya menuliskan : Nama firma. Struktur. Perizinan. Lokasi. Dan Grace pun tehanyut dengan laptop dan buku catatannya untuk menjalankan rencana barunya sampai malam tiba. *** Keesokan paginya Grace terbangun dengan suara alarm 05.30. Rutinitas hariannya selama ini membuatnya terbiasa bangun pagi. Saat menggoreng telur untuk sarapan. Pikirannya tentang membuka kantor sendiri terlalu jauh sampai membuat telurnya gosong. Isi kepalanya terlalu penuh, dan Grace merasa harus menguraikannya satu persatu. Grace mengambil buku catatannya, menuliskan apa saja  yang akan dia lakukan hari ini sambil melahap telurnya. Mulai dari pencarian lokasi, bagaimana interior kantornya nanti, dan mencari tahu cara mendirikan perusahaan. Setelah ia selesai dengan rutinitas paginya. Grace mulai mencari lokasi yang pas untuk kantornya. Ia berjalan dari satu gedung ke gedung lain. Melihat ruang kosong. Membayangkan meja kerja. Membayangkan papan nama. Membayangkan dirinya sendiri berdiri di sana. Bukan sebagai karyawan, tapi sebagai pemilik. Sebagai seseorang yang menentukan arah. Prosesnya tidak mudah, birokrasi berbelit, formulir yang tak ada habisnya, biaya yang membuatnya beberapa kali terdiam lebih lama dari seharusnya. Tapi setiap kali ragu datang, ia mengingat kembali malam itu. Dan alasan ia resign. Hari-hari berikutnya berlalu cepat. Grace sibuk menyiapkan kantor barunya. Lebih sibuk dari sebelumnya. Tapi berbeda, tidak ada lagi rasa tertekan, yang ada hanya lelah yang memuaskan. Dinda sesekali datang membantu. Memberi perspektif, atau sekadar menemani sampai akhirnya kantor siap. *** 1 bulan setelah resign. “Gue nggak nyangka lo bisa secepat ini,” kata Dinda suatu sore saat melihat sebuah ruangan yang hampir selesai disiapkan. Grace tersenyum. “Gue juga.” Ruangan itu sederhana, tidak besar, tapi cukup. Dua meja kerja, satu sofa panjang, dan beberapa kursi. Pantry kecil dengan mesin kopi di sudut ruangan, dan rak buku yang masih kosong. Lalu sebuah papan kecil di depan pintu. Grace berdiri di depannya. Membaca nama yang tertera. Gracia Jasmine Law Firm Ia menghela napas pelan, perjalanan ini baru dimulai. Masih banyak yang belum ia tahu, masih banyak yang mungkin akan menguji. Tapi satu hal yang pasti, Kali ini, ia berjalan di jalannya sendiri. Dan untuk pertama kalinya. Itu terasa benar.

Graces's Cases

Bab 4 Berusaha Cerdas

Di publikasikan 01 Jun 2026 oleh Bengkoang

“Ah. Pagi, Merah.” Satu minggu kemudian, dua minggu dari kedatanganku ke Yotaar, dan seminggu sejak Plester Co. berdiri. Tujuh hariku bolak-balik menyeberangi jembatan selatan kota sambil mengetuk pintu-pintu rumah di sana tanpa bosan kini berbuah, seperdelapan dari total komunitas area kumuh tersebut telah berhasil kucatat sebagai pelanggan uji coba. Gak buruk, bukan? Tentu, ini bukan hasil kerjaku sendiri. “Siap buat hari ini, Sobat?” tanyaku selesai dari kamar mandi, menyambar gagang kapak perang sama tas selempang lalu melangkah ke luar kamar, semangat. “Jadwal kita lumayan padat ….” Keliling seratus enam puluh blok, menarik kresek-kresek sampah ke atas punggung Kelabang Merah pakai Benang Pandora, mengetuk pintu calon pelanggan baru, kemudian menyebar selebaran iklan selesai dari TPA sekian mare arah tenggara kota. Belum selesai. Sehabis itu aku juga ada wawancara sama para calon pekerja magang di taman kota. Bukan mau sok keren, tapi seratus enam puluh blok lebih gak mungkin terus kusisir setiap hari sendiri, ‘kan? Makanya sekarang kubuka lowongan kerja, berharap pintu-pintu berkah makin terbuka kalau jalan rezeki kulebarkan ‘tuk banyak orang. Toh, niat awalku bikin usaha ini pun memang biar lapangan kerja meningkat dan angka tunakarya turun. “Kalian ….?” “Sobet, Bos. Ini, Potur. Kami mau melamar jadi pegawai Plester Co.” Kalian tahu, dua karyawan pertama Plester Co. beberapa hari kemudian adalah seorang laki-laki kurus dan seorang pria gempal. Kombinasi unik yang kalau dibayangkan ibarat nol dengan koma. Namun, keduanya jujur dan mudah diajari. Jadi bukan masalah. Kan, yang kubutuhkan tenaga mereka. Selang sekian waktu, Plester Co. kembali meningkatkan diri dengan memesan seragam dan memperbarui kontrak kerja sama layanan. Beberapa poin selanjutnya kuevaluasi supaya pekerjaan lebih efektif, tertata, serta sistematis secara konsep maupun praktik di lapangan. Hal-hal terkait jabatan, pembagian wilayah, perangkat juga alur kerja pegawai, semua kureka sedemikian rupa biar Kelabang Merah mudah mengangkut kresek-kresek dari kota ke TPA sekali jalan. Puncaknya, dua bulan kemudian kami sudah bisa menyewa kantor dengan empat kendaraan operasional lalu truk pengangkut tadi bertambah jadi enam belas unit di bulan keempat. Haha. *** “Hoi, Mi!” “Ah, Pak Simon.” Aku turun dari truk sampah lantas menyapa pelanggan pertama Plester Co. tersebut. “Anda kelihatan makin cerah, Pak Simon.” “Hoho, kamu ini. Justru yang makin cerah itu kamu, Mi,” balas beliau, cekak pinggang sembari tersenyum. Hangat seperti biasa. “Bawa pegawai baru lihat-lihat lokasi lagikah?” “Haha, iya, Pak. Besok saya gak keliling lagi, jadi ceritanya hari ini mau pamit sekalian ngenalin pegawai.” “Hah?” Pak Simon melihat dua pegawai magangku lantas mencondongkan badan. “Saya gak salah dengar, kamu pindah tugas apa gimana? Kok, gak keliling lagi?” “Iya, Pak. Daerah sini sekarang dipegang manajer sama penyelia, saya jadinya pindah ke bagian kantor.” “Ke bagian kantor? Wah, mujur kamu!” Entah bagaimana harus kurespons muka senang Pak Simon kala itu, tapi tahu beliau turut bahagia dengar diriku pindah ke kantor sudah cukup bikin hati berbunga. “Awal ketemu, kamu sama teman kamu masih jalan kaki bawa-bawa papan dada. Sekarang, empat bulan dari pas itu, kamu naik truk terus malah udah mau pindah ke bagian kantor aja—eh, ya, temanmu kemarin gimana? Saya perasaan enggak pernah lihat kalian bareng lagi, deh.” “Oh, dia resign, Pak.” Aku gak mungkin bilang kami berdua ribut sejak hari pertama Plester Co. mulai jalan, ‘kan? Lagi pula, hubunganku dan Pareta juga rumit. “Katanya pindah ke Yotaar, tapi gak tahu kerja di apa.” “Oh ….” Mulut dan mata Pak Simon membulat. “Pantas. Saya kira kalian cuma beda daerah kerja, ternyata dia resign, ya.” Selain Pak Simon, beberapa pelanggan turut kusapa sepanjang jalan sampai ke jembatan tempat Kelabang Merah biasa kupanggil buat lanjut mengangkut gundukan kresek ke TPA hari tersebut. Dan, macam Pak Simon di halaman rumah beliau, mereka juga menyelamati, minta foto, sebagian bahkan mendoakan pas dengar diriku besok pindah jadi ke bagian kantor. Benar-benar hangat. Padahal tak kusebut maksud pindah ke bagian kantor tadi apa, haha. Apa pun, diriku bersyukur senyum tulus para pelanggan Plester Co. menutup sore itu dengan kehangatan. Terima kasih …. *** “Bos.” Besoknya, kegiatanku berlanjut. “Pemkot Foaer minta setengah keuntungan perusahaan buat izin kota mereka, ambil atau jangan?” Dan, sebagai direktur merangkap CEO Plester Co., pagiku dibuka dengan laporan keuangan bulan kemarin sama seabrek dokumen ini itu. Mataku sampai melotot sama kepala geleng-geleng lihat tumpukan kertas di meja kepala perusahaan yang harus selesai kubaca sebelum jam makan siang, argh. “Kamu bilang apa tadi?” tanyaku pada Sisi, Manajer Keuangan Plester Co. “Setengah keuntungan?” Gadis kacamata berambut bob, wangi, serta sangat rapi dalam balutan kemeja di balik blazer longgar dan rok hitam selutut itu mengangguk. “Berapa populasi mereka?” “Lima sampai enam ribu, Bos.” “Anggap lima ribu,” kataku lalu beralih ke berkas lain, “ambil aja.” “Bos?” “Apa lagi, Sisi?” tanyaku buat kedua kali, “kamu gak lihat laporan Wiji belum saya baca, hah?” “Wali Kota Mungli mengundang Anda makan malam.” Aku seketika terdiam, berpikir, coba mencerna informasi yang manajer keuanganku sampaikan barusan. “Mungli, TPA?” “Tempat Pembuangan Akhir, ya,” ulang Sisi sebelum lanjut merinci, “katanya usaha kita ilegal, undangan ini sekaligus iktikad baik Pemerintah Mungli buat menyambut kerja sama sama Plester Co. ….” Benar. Aku tahu cepat atau lambat hari ini akan datang, saat di mana usahaku dibenturkan dengan otoritas dan pemegang kekuasaan setempat. Hem. “Kapan?” “Minggu depan.” “Ngomong-ngomong, kenapa kamu yang kasih tahu saya, mana Stevan?” “Manajer Stevan masih ngelobi Wali Kota Yotaar,” timbrung kepala bagian personaliaku, Wiji, mendekat dengan dokumen baru yang langsung mendarat tepat di puncak tumpukan berkas di meja. “Tolong periksa yang ini dulu, Bos. Saya perlu buat rapat jam sembilan.” “Bagus!” komentarku rada buang muka, enek sarapanku tumpukan berkas butuh tanda tangan, “saya kira ada empat puluh orang lebih di kantor ini, tapi kenapa cuma saya yang sarapannya kertas sama pulpen?” Sisi spontan melepas senyum geli, dan cepat-cepat ia tahan pas kepalaku menoleh. Sedang Wiji, seketika melipat tangan lantas memiringkan muka merespons delik melas dari mataku. “Biar saya rinci,” sambut si kepala bagian personalia yang segera menepati kata-kata tersebut, “satu orang CEO, tiga manajer, dua asisten manajer, empat penyelia, tiga puluh dua pengemudi, dua pembantu umum merangkap juru masak, sama dua pegawai magang bakal akuntan baru. Empat puluh enam orang. Semua punya peran dengan tanggung jawab masing-masing, dan—” “Dan saya pemegang tanggung jawab tertinggi di kantor ini,” selaku mendahului agar ia berhenti, “tempat semua berkas yang butuh tanda tangan terdampar. Ya, ‘kan?” “Betul,” timpal Wiji yang lalu menganggukkan kepala sambil merem satu kali, “jadi tolong keluhan kayak barusannya dikurang-kurangi, ya, Bos. Saya juga capek ini nunggu tanda tangan Anda gak nempel-nempel dari tadi, padahal jam sembilan tinggal sejam setengah lagi.” Dengar itu, teman sesama manajer sebelah si kepala personalian langsung merapatkan bibir. Menahan tawa yang pada akhirnya tetap pecah walau singkat, ffth! ***

Plester Co.

Bab 3 Melawan Malas

Di publikasikan 01 Jun 2026 oleh Bengkoang

“Udah dapat kerjanya?” Seharian ini aku keliling kota bareng Pareta, mengetuk pintu belakang toko, restoran, sampai ke rumah-rumah penduduk sambil senyum menawarkan jasa kelola limbah rumah tangga. Plester Co. Hasilnya sederet nama pelanggan percobaan di kertas yang kupegang tambah satu orang nelangsa yang langsung ambruk di pojok taman sana, haha. “Si Mi curang!” protes Pareta, mengeluh di depan Niki dan semua anggota Geng Plester. “Dia seharian ini cuma nyatet terus basa-basi sama orang doang.” “Hei!” sanggahku, hendak bela diri. “Ngeyakinin orang buat jadi pelanggan kita juga butuh skill, tahu.” “Pelanggan, huh?” Niki mendekat. “Coba lihat kamu berhasil dapat pelanggan berapa.” Kuasongkan papan dada di tangan lalu bergabung dengan yang lain. “Kita baru keliling seperempat kota—” “Hari pertama seperempat kota dan badanku udah pegal-pegal!” sahut Pareta dari belakang, menyusul terus duduk bersama geng kami. “Aku gak mau ikut kamu besok, Mi.” “Hem.” Terserahlah, toh hari ini sudah selesai. “Ya, ya, kamu bebas mau ngapain aja besok, Pare.” “Lima belas orang di hari pertama, gak buruk.” Komentar Niki pas mengembalikan papan dada terdengar sinis serta agak remeh, tapi itu wajar. Lima belas pelanggan uji coba setelah panas-panasan seharian bagi ia dan gengnya yang biasa keliling kota memang tampak sepele, meskipun buatku mereka pembuka yang lumayan baik. “Seenggaknya mulai besok aku ada kerjaan,” balasku menerima papan dada tadi, “ketimbang nganggur.” “Cih! Serah.” “Lima belas pelanggan. Serius besok mau lanjut keliling kota lagi, Mi?” Kudeliki Pareta lantaran ia menanyakan hal yang sudah jelas, sebal. “Gak usah melotot,” pintanya sambil sigap menyilangkan tangan depan dada dan ambil jarak, pertahanan diri menghadapi delikanku sebelum fokus memperhatikan Niki di depan sana. “Kita, kan, fren.” “Perhatian semuanya ….” *** “Yakin gak mau ikut kita ambil makan di alun-a—” Besoknya, sesuai rencana, kubekap mulut Pareta pas ia menyapaku depan penginapan lalu melengos ‘tuk memulai hari. Gak ada yang perlu kubicarakan lagi soal kegiatan kami pagi itu. “Mi, tunggu!” Dan, ia yang katanya gak mau ikut aku hari ini malah menyusul. “Kamu gak dengar omongan Niki semalam, pemkot bakal bagi-bagi duit, seratus suth per orang sama seratus mapuluh kalau bawa bayi atau anak-anak?” Kutoleh mukanya sekilas, terus balik fokus lihat ke depan. “Mi, aku tahu kamu gengsi—oh, ayolah. Oi! Kita ini orang susah, kenapa malu nerima sumbangan?” Aku berhenti, berbalik dan menunggu dirinya, lalu cekak pinggang. “Terus kamu mau selamanya susah, gitu?” “Mi! Sadar, kapan kamu terima kenyataan kita itu gak punya apa-apa. Tinggal aja di kolong jembatan.” Kugerakkan kepala sambil mengerling sekali, isyarat menunjuk motel yang seminggu ini kutumpangi. “Ya …, kamu bisa maksain bayar motel—cuma kamu itu tetep gelan … bajumu boleh rapi, tapi ini semua gak ngebikin kita berdua beda. Kalau enggak ada Plester, sekarang mungkin kamu masih luntang-lantung di Stuckenborstel.” “Oh.” Satu sudut bibirku naik. “Terus kalian ngerasa aku berhutang budi, gitu?” “Ya.” “Dengar.” Kutunjuk pemuda di depanku. “Kita sekarang emang lagi susah, gak punya—apalah sebutannya, terserah. Cuma ingat, itu bukan alasan buat kamu berpangku tangan dan gak ngelakuin apa-apa. Paham?” “Ho. Tuan terhormat bisa khotbah, ya. Bagus, makan tuh gengsi!” Hah. Kurasa di situasi kami sekarang diriku memang cuma bisa menggeleng melihat punggung Pareta yang makin menjauh. Plester mungkin tampak saling peduli dari luar, tapi ketidakberdayaan yang terus mereka pelihara di antara anggotanya benar-benar bukan hal bagus. Bukan menampik keadaan yang memang sedang serba sulit, aku sendiri tahu bagaimana rasanya ditolak waktu melamar pekerjaan gegara gak bisa baca tulis dan penampilan kotor bulan lalu, diriku mengerti. Namun, menyerah pada keadaan sambil menghindar buat cari solusi juga salah. Aku tidak ingin begitu, hidup ini pilihan, dan aku mau yang terbaik meski kutahu takkan mudah. *** “Kamu datang lagi?” Aku menoleh. “Pak Simon.” Pak Simon, pria paruh baya berkulit pucat kemerahan pelanggan pertamaku kemarin. “Saya kira kalian cuma menipu kemarin, ternyata kamu betulan ambil sampah saya hari ini.” “Haha. Bapak bisa saja,” balasku sambil senyum, “Anda sudah bayar di muka untuk jasa kami, kewajiban saya datang kemari sampai bulan depan.” “Kamu tahu, di sini sering datang penipu pura-pura jual jasa. Inilah, itulah. Saya pikir kamu sama pemuda lusuh, maaf, teman kamu kemarin salah satunya. Lima belas suth saya, saya anggap sedekah.” “Mana bisa begitu, Pak.” Kuikat kresek sampah di halaman Pak Simon lantas kupanggul. “Anda ini. Mari.” “Tunggu!” panggil si pria paruh baya, berjalan menghampiriku. “Kalau kamu betul dari jasa ambil sampah apalah itu, tolong mampir ke rumah saudari saya. Dua blok dari sini, cat ungu—cuma rumah dia yang pakai warna ini, gak mungkin salah. Ah, ada pohon nangka juga di halamannya kalau kamu ragu.” Pak Simon mengasongiku lima belas suth lagi. “Keluarganya sibuk kerja jadi halaman rumahnya juga berantakan kayak saya, haha. Tolong sekalian kamu rapikan, ya. Saya kasih bonus kalau dia gak ngeluh depan rumahnya bau lagi.” “Oh.” Kuturunkan kresek sampah tadi sebentar, menerima uang Pak Simon, lantas mengambil papan dada dari pinggang. “Saya catat dulu, ya, Pak. Tolong nama sama alamat saudari bapak ….” Keliling kota dan mengambil kresek sampah dari halaman ke halaman begini mungkin memang capek, tapi uang hasil kerjanya halal. Juga, baik. Meskipun enggak sekaligus banyak kayak upah buruh, pelayan, sama pegawai-pegawai bergaji di kantor korporat. Eh?! Plester Co. juga masuk korporasi, ya? Hehe. Biarpun baru merintis …. *** “Beres!” Kutepuk tanganku lega selesai berkeliling dan mengambil kresek-kresek sampah di kota. “Sekarang …, Chloe.” Sejak dulu, Eldhera dan Benua Baru memang ajaib. Tolong jangan kaget kalau tiba-tiba aku mengeluarkan kapak perang kemudian mengubah wujudnya jadi kelabang raksasa model sekarang. Toh, kalian juga sudah pada tahu aku punya Kantung Hati Naga sama satu pengelola menara yang memang menampung barang-barang ajaib di belakang pinggang, ‘kan? Bukan hal baru. Balik ke si Kelabang Merah, kapak perangku yang sekarang berwujud lipan atau kelabang raksasa. Biar gak buluk sama karatan. Dia mau kupakai buat usaha—paling tidak sampai aku bisa beli kendaraan sendiri. “Oi, Merah. Gak usah ngeluh, di sini udah gak ada perang. Mending kupake buat ngangkut kresek-kresek itu atau enggak pernah kukeluarin sama sekali, hah?” Kelabang raksasaku mendekat, lalu antenanya ia gosokkan ke perutku. “Bagus. Begitu baru benar. Anak baik.” [Barang-barang Anda bisa disimpan sementara di Kantong Hati Naga, Tuan.] “Hem.” Mataku mendelik baca pesan Chloe. “Kresek-kresek itu isinya sampah. Jangan sok ngide mau situ tampung di Kantong Hati Naga, deh.” [Hanya niat membantu,] balas si pengelola kantung ajaib, [keputusan ada di tangan Anda.] “Ya, dan keputusanku jangan ngide sama muncul kalau gak kupanggil lagi.” [Dimengerti ….] Setelah semua kresek tadi kunaikkan ke punggung Kelabang Merah, kami pun melaju ke TPA terdekat dari kota tersebut. Merayap bersama semilir angin senja nan syahdu bertemankan garis jingga sepanjang mata memandang di kejauhan …. ***

Plester Co.

Bab 2 Plester Co.

Di publikasikan 01 Jun 2026 oleh Bengkoang

“Hah …, hah …, hah ….” “Haaah—mereka gak ngejar kita, ‘kan?” Aku ingin ketawa lihat Pareta dan Niki terkapar di trotoar. “Kamu kenapa, Mi?” “Cuma geli—Geng?!” “Mi, aku tahu buntelan lemak bikin kamu susah napas …, cuma, kalau ngomong jangan setengah-setengah …, hah, itu bikin kesel.” “Setuju ….” “Gak.” Kutepuk-tepuki bahu Pareta biar dia lihat sediri. “Bukan …, tuh, tuh! Mending lihat sendiri, deh.” “Apa?” “Kalian lihat apa?” “Gak tahu,” timpal Pareta, menoleh Niki lantas selonjoran. “Si Mi nyuruh lihat ke depan, tapi enggak tahu ada apa. Cuma langit cerah doang.” Aku berdecak dengar komentar Pareta, gak percaya dia gak paham maksudku. “Maksudnya coba lihat kota di depan. Gitu, loh, akh!” “Kota?” “Kota apa?” Sekian detik berlalu sebelum dua anggota Geng Plester itu kompak geleng kepala. “Gak ada apa-apa, tuh, Mi.” “Hah?” Mataku membulat. “Serius kalian gak lihat apa-apa?” “Emang apaan, sih?” tanya Niki, melihatku heran. “Gak usah main kode, bilang langsung aja kali, Mi.” “Hah.” Aku menggeleng lantas duduk di tiang lampu jalan. “Sebulan ini kalian nyari-nyari kerjaan, ‘kan—nah, kota di depan tuh cocok buat kita.” Masalah pertamaku selain bahasa, aksara, tempat tinggal dan makanan, juga adalah sumber pemasukan yang belum pasti. Benar-benar gak pasti. Dua bulanku mengikuti Geng Plester, mereka mengais hidup dari barang-barang sisa yang ditemukan sepanjang jalan. Gaya hidup yang tak bisa kuikuti, jelas saja. Di Eldhera aku bisa pergi berburu atau menukar besi-besi bekas pakai buat kulebur jadi pisau sama barang-barang penunjang keperluan lain, paling pahit diriku akan mengambil pesanan serikat kalau gak mendaftar paruh waktu sebagai pengumpul mayat sama coba pekerjaan-pekerjaan lain di Kantor Muri Distrik. Di sini, mana bisa. Walaupun pada praktiknya diriku tetap mengandalkan minyak cendana Chloe, kantung ajaibku, sebulan bersama mereka-mereka ini. Intinya ada masalah fundamental lain yang harus kuhadapi di Benua Baru, itu saja. Cukup. “Hei, Mi. Orang bodoh juga tahu banyak kerjaan di tempat kumuh kayak gitu, pe-er buat pemerintah kota mereka. Kamu lagi bercanda, ya?” “Gak. Aku enggak bercanda. Gundukan sampah di ujung jembatan ini, misal, tanda kalau pemerintah kota mereka belum punya sistem pengelolaan limbah—itu peluang kita buat punya kerjaan di sana.” Niki dan Pareta silih lirik sebelum keduanya kompak angkat bahu, tidak paham maksud kata-kataku. “Oke. Kamu boleh coba cari kerjaan di sana,” ujar Niki, tersenyum singkat lalu putar badan. Acuh tak acuh menanggapi ide ‘brilian’ barusan, sepertinya. “Aku masih ada kerjaan di Yotaar, jangan lupa malam ini kita ada operasi. Segitu aja, bye!” “Hah.” Kurasa menunjukkan memang lebih mudah daripada bicara. “Pare, kamu mau ikut aku ke kota itu atau balik ke Yotaar kayak Niki?” “A ….” Anak itu menjuling. “Aku gak ada kerjaan, sih. Ikut kamu aja, deh. Hehe.” Bagus. Setidaknya aku gak sendiri …. *** “Oi, Mi. Buat apa kita beli pulpen sama kertas segala?” “Buat nyatet-lah, apa lagi?” Aku menjuling menanggapi Pareta waktu keluar dari toko ATK, ia yang banyak tanya kadang menyebalkan. “Nanti kamu tahu sendiri, kok.” Rencananya, aku dan pemuda satu sebelahku mau mengetuk pintu rumah-rumah di sini ‘tuk menawarkan jasa ambil sampah bulanan. Tiap sore atau pagi hari kami akan mengambil sampah rumah tangga mereka buat dibuangkan ke tempat pembuangan akhir atau TPA terdekat dari kota ini. Begitu. Doakan semua lancar dan kami dapat pelanggan. “Pare, kita ke gang itu dulu ….” Menurut pengalamanku, masalah limbah semacam ini berakar dari mental tambah kemalasan yang secara sadar atau tidak terpelihara lewat perilaku sehari-hari. Bukan cuma kesadaran soal kebersihan lingkungan. Sekali abai, kemungkinan selamanya akan tetap begitu. Dampaknya macam-macam, mulai masalah kesehatatan ringan sampai hal-hal berat yang tidak kita tahu. Namun, kita bukan mau membahas itu. Perhatianku sekarang ialah bagaimana memanfaatkan kemalasan orang-orang kota ini buat jadi sumber uang. Hehe. “Permisi, kami dari—” “Permisi, kami—” “Permisi.” “Kami ….” Meskipun praktik dan langkah pertamanya memang tidak mudah. “Hah!” Pareta merebah di rumput halaman sebuah rumah. “Kamu serius mau ngetuk rumah semua orang di sini, Mi? Kita udah keliling delapan blok, diusir tiga kali, sama dikejar anjing galak dua kali.” “Namanya juga usaha,” balasku yang kala itu tertarik oleh aktivitas seseorang, “tunggu sini bentar.” “Oi, Mi? Kamu mau ke mana ….” Keliling delapan blok sambil kerja masih belum apa-apa ketimbang keliling kota buat nyari kerjaan. Apalagi di usaha ini kami kepala, bukan buntut bahkan lebih remeh karena rentan kena pecat kapan saja bos suka. Bukan maksud merendahkan kaum-kaum karyawan berprestasi tinggi pekerja keras jujur dengan dedikasi penuh atau semacamnya, sungguh, ini hanya keluh atas pengalaman lapangan di masa lalu. Tolong jangan tersinggung, oke? “Permisi.” Aku mau coba dekati calon pelanggan dulu. “Permisi,” panggilku ‘tuk kedua kali, ”salam, Bapak di sana. Selamat siang.” “Ya?” “Hallo, Bapak. Perkenalkan, saya Mi—” “Langsung aja, kamu mau apa ke halaman saya?” “Oh, begini. Saya dan teman sebelah sana dari Korporasi Plester atau pendeknya Plester Co., Bapak. Kami baru di kota ini, mau menawarkan jasa kelolakan limbah rumah tangga bulanan. Jadi setiap pagi atau sore hari selama satu bulan tertanggal langganan, tim kami akan—” “Plester? Korporasi? Kok …, maaf, tapi penampilan temanmu di sana kayak gelandangan?” “Oh. Terima kasih, Anda sungguh jeli. Sebagian pekerja Plester Co. memang para tunawisma lokal yang sengaja diberdayakan lewat usaha-usaha sejenis i—” “Kalian bisa dipercaya?” Ya, ampun. Apa penampilanku dan Pareta tak semeyakinkan itu? “Kalau Bapak belum yakin,” timpalku sambil senyum, “kita bisa mulai uji coba satu bulan, setengah harga dibayar di muka dan jika kinerja tim kami tak memuaskan Bapak tak perlu lanjut berlangganan.” Laki-laki paruh baya di depanku memiringkan muka sebentar. “Apa jasa kalian tadi?” “Kelolakan limbah rumah tangga, Bapak.” “Jadi, kamu sama teman kamu di sana bakal ke sini tiap hari selama satu bulan buat ambil sampah-sampah rumah tangga saya?” “Betul.” “Berapa?” “Normalnya lima puluh suth per bulan,” sambutku semringah mengenalkan paket layanan, “karena kami masih promo dan Bapak masuk pelanggan uji coba pertama, cukup tiga puluh suth saja.” “Satu suth per hari?” “Betul.” “Kalian meragukan,” komentar orang itu, yang sialnya harus tetap kuterima pakai senyum. “Cuma, biaya makan keluarga saya aja lima belas suth per hari. Huh. Keluar lima belas suth lagi hari ini bukan masalah.” “Ah!” Segera kuasongkan kertas dan pulpen yang kubawa. “Tolong tulis nama Anda di sini, tanda tangan sebelah sini … terima kasih, Bapak.” Pelangan pertamaku, laki-laki paruh baya dengan kulit pucat kemerahan. Tidak buruk. *** “Berhasil?” Kulihat Pareta sambil senyum. “Berhasillah,” balasku nan lantas memintanya mulai bekerja, “sana ambilin plastik di tong itu, kamu yang bawa plastik sampah hari ini.” “Sialan ….” Jasa kelola sampah bulanan, Plester Co. Kalian mungkin menganggapku terlalu cepat senang sebab sudah senyum lebar padahal baru dapat satu pelanggan, tapi siapa peduli. Biarpun baru satu tetap dihitung pelanggan berbayar, ya, ‘kan? “Kita ke mana lagi?” “Ke mana lagi?” Kulirik Pareta sebentar sebelum teriak semangat, “Kita lanjut ke rumah di seberaaang!” “Arrgh! Bisa tenang sedikit gak? Aku malas dilihatin orang-orang begi—” “Gak papa, biar semua orang tahu kita dari perusahaan kelola limbah bulanan ada di sini ….” ***

Plester Co.

Bab 1 Pengangguran

Di publikasikan 01 Jun 2026 oleh Bengkoang

Biasanya, aku akan menulis tanggal sebagai pembuka, bulan sekian di tahun mana terus minggu atau hari keberapa pada musim apa. Setelah jelas kapan, barulah kusebut lokasi dan mulai bercerita. Selain kebiasaan, hal itu tampak lebih rapi bagi mataku yang senang merunut. Jadi aku suka. Namun, sekarang agak beda. Sebab kata yang muncul di kepalaku pas memikirkan catatan ini adalah …. “Semangi.” “Semangi?” “Ya, semangi. Rumput yang katanya tanda keberuntungan kalau daunnya punya cabang empat.” “Maksudmu semanggi ….” Sebagai tokoh utama di banyak cerita, kuakui diriku berkembang menjadi sangat narsis. Saking narsisnya sampai enggan ganti sudut pandang padahal gaya orang ketiga jauh lebih mudah tatkala harus menggambarkan keseluruhan peristiwa, dan aku kukuh ingin jadi jangkar cerita meski dengan segala keterbatasan yang ada di orang pertama macam sekarang. Pokoknya sudut pandangku, titik. “Jadi tulisannya itu semanggi, ge-nya dua?” tanyaku, memastikan nama rumput yang baru saja kuda-kuda di kandang ini kunyah. “Ge-nya betulan ada dua, bukan satu?” “Dari dulu ge-nya itu memang dua, kok, Sayang.” Eh, ya! Wanita yang lagi kuajak bicara ini Lian, Hie Lian, istriku. Cantik, ‘kan? Tubuh ramping, pipi merah, kulit cerah, mata bak mutiara. Sempurna sejauh yang bisa kubayangkan. “Sayang, bukannya kaubilang mau mengurus masalah Serindi?” Dan, ya, biar kalian gak bingung. Pada buku lain kota tempat tinggal kami diinvasi kerajaan tetangga hingga keluargaku mau tak mau harus mengungsi sampai kemari. Serindi, nama kerajaan tersebut. Di sana diriku, bersama beberapa orang termasuk ayah mertua ditambah ketua dengan saudara-saudara seperguruan satu sekte, tengah merencanakan sesuatu guna membalas mereka. Namun, kita di sini bukan ‘tuk membahas hal itu. Jadi …. “Balas dendam sudah ditangani banyak orang.” Begitu jawabku sebelum lantas mengajak Lian pergi. “Kau gak perlu khawatir, Sayang. Ah, ya! Mumpung rumah sepi, kenapa kita enggak …?” “Hallah! Kau. Ya, sudah—ayo siniii, tangkap aku kalau bisaaa! Ahaha ….” *** “Ahaha, haha, haha ….” Kejadian tadi cuplikan mimpiku akhir-akhir ini, mimpi yang ketika diriku terbangun langsung berubah jadi kenangan di Eldhera dua ratus tahun lalu. Bukan lagi kenyataan yang menahan senyum di wajahku sekarang. Brak! “Mi!” Pemuda gimbal yang baru menendang pintu sebelah sana Pareta, kenalan pertama di Geng Plester sekaligus orang yang mengajakku bergabung ke kelompok tunawisma Stuckenborstel, kota pelabuhan di pinggir Benua Baru tempatku terdampar empat bulan sebelumnya, tersebut. “Cepat bangun, kita punya masalah di sini!” Ya. Serindi sudah lama jatuh, begitu pula Pahlawan dan Penyintas Dunia Lain bersama pasukan mereka di Benua Lama. Semua luluh lantak ratusan tahun silam. Sesuai rencana, diriku datang ke benua ini untuk mencari jejak putri sulungku tiga tahun lalu. Namun, bak jarum di tumpukan jerami, tiga tahun itu jadi pengalaman termemilukan. Terbang ke sana kemari dengan mata perak menyala juga harapan membara, tetapi tetap tidak menemukan apa-apa pada akhirnya. Huh, aku bahkan selalu ingin tertawa jika ingat bagaimana penumpang-penumpang kapal yang kubayar ‘tuk membawaku ke Benua Baru ini sepakat tak memberiku kesempatan mencoba sekali lagi. Dan mereka kembali ke Eldhera tanpa diriku, tentu saja. “Lihat, mereka dari Geng Lomen.” Sekarang, lima bulan kemudian. Diriku menjadi salah seorang tunawisma di Plester setelah luntang-lantung di Stuckenborstel menawarkan beberapa botol minyak cendana yang tak laku. Bukan secara harfiah. Minyak kayu cendana masih semahal dan selangka sepengetahuan kalian, tentu. Hanya, uang di sini benar-benar ketat. Maksudku bekal yang kusiapkan sebelum berlayar kemari tidak bisa kupakai lebih daripada membayar orang-orang di kapal sampai lima bulan kemarin. Di luar itu, biaya hidup selama di pelabuhan atau kota-kota yang kujelajahi tak bisa pakai uang Eldhera. Pendeknya mata uang Benua Baru berbeda dari terakhir kali diriku kemari, itu saja. Titik. “Kenapa Geng Lomen bisa ada di Yotaar?” Aku sampai harus gabung ke kelompok tunawisma cuma biar minyak cendana di sakuku masuk penadah. Lucu memang. Tetua sekte terhormat di Eldhera sana tetiba menjadi anggota perkumpulan tunawisma di sini, mau gak mau, segampang itu dunia berputar. “Ayo kembali, Mi. Kita kasih tahu yang lain ….” *** “Geng!” Ya. Gak usah kalian tebak, mereka anggota Plester. Para tunawisma nomaden, sama sepertiku. “Geng, dengar. Kita harus pindah sekarang—sekaraaang!” “Pareta. Apa maksudnya kita harus pindah?!” “Ya, ya, kita baru di sini seminggu ….” Ngomong-ngomong, Benua Baru benar-benar berubah. Secara fisik. Jika pengalaman pertamaku tempat ini begitu perawan, sangat hijau, belum ada tanda-tanda bekas tangan manusia selain suku adat, sekarang dia sudah sangat ‘lihai’ mempermainkan balik orang-orang di atas tanahnya. Teknologi canggih, gemerlap lampu kota, jalan-jalan lebar nan sibuk, gambar bergerak dan tulisan-tulisan berjalan menyapa siapa saja lewat layar besar di banyak persimpangan, gedung-gedung tinggi mencakari langit, sampai ke taman-taman kota sesak oleh orang-orang serupa Geng Plester. Ingar bingarnya jauh dari kesan Benua Baru di ingatanku. “Geng, ki-kita punya masalah.” “Bagus!” Belum sempat Pareta menjawab tepukan tanganku, kala itu masalah yang kurujuk benar-benar tiba tepat waktu. “Di sini kalian rupanya, Berandal.” “Limbao ….” Orang-orang Geng Plester berdiri, sebagian segera merapatkan diri ke belakang yang lain bak anak ayam di ketiak induk mereka. “Ke-kenapa dia di sini?” Ya, mereka ketakutan. “Yo! Aku capek nyari kalian, Pecundang. Kalian pikir buat apa jambul badaiku muncul di sini, hah?” “Limbao!” panggil salah seorang dari kelompokku, Niki, ketua geng ini. “Kukira Ben dan aku sepakat buat ngebiarin kami pergi dari Stuckenborstel setelah—” “Itu sebelum kutahu laki-laki gendut di sana punya harta karun,” sela si bocah dengan jambul tinggi yang tadi dipanggil Limbao, menunjukku. “Oi, Gendut! Kenapa gak pindah ke Geng Lomen saja?” “Aku?” Kutunjuk muka sendiri lalu celingak-celinguk. “Ngo-ngomong sama aku?” “Ya. Di sini kami punya pelac*r, kasur empuk, terus kita juga gak perlu keluyuran nyari uang receh macam para gelandangan di sana. Bagaimana?” “Jangan dengarkan dia, Mi.” “Gak usah ikut-ikutan, Rambut Minyak!” teriak Limbao, menunjuk Pareta lalu tersenyum remeh. “Kalian sudah cukup kenyang meras sapi perah macam dia, bukan?” Cek! Aku tahu Pareta dengan gengnya mengajakku bergabung gegara minyak cendana kemarin. Bukan hal baru jika dibilang mereka memanfaatkanku karena itu, toh faktanya teman-temannya memang langsung minta ‘pajak anggota baru’ begitu botol-botol minyak tadi laku. Cuma, siapa yang barusan dia panggil sapi perah? “Dengar ….” Jadi, mari ladeni si jambul tinggi sebentar. “Limbao, ‘kan?” Laki-laki di seberang mengangguk bangga. “Kalau kalian kemari buat minyak cendana, mereka kujual di kota lain. Kalaupun pindah ke Lomen, kurasa kalian juga gak bakal dapat apa-apa la—” “Alasan! Teman-teman, hajar mereka—” “Mi, lariii ….” Aku tahu ini bikin geli. Kenapa mantan dewa perang yang perkasa malah lari terbirit-birit bak kucing dikejar anjing menghadapi berandal macam si jambul dkk., ya, ‘kan? Padahal mereka itu cuma keroco. Entahlah, aku juga tidak tahu. Namun, satu hal bisa kukatakan pada kalian. Rasanya lebih hidup saat kakiku ikut berhamburan bersama banyak orang begini …. ***

Plester Co.

Klausul Tak Terukur

Di publikasikan 30 May 2026 oleh Titik Nol

Tiga hari berlalu dalam keheningan yang terdistorsi. Bara tidak kembali bekerja, mengutip "cuti duka" yang disetujui tanpa pertanyaan. Namun, ia tidak berduka dalam artian konvensional. Ia terobsesi. Tiga objek peninggalan Senja—tiket, kartu pos, dan buku sketsa—tergeletak di atas meja kerjanya yang biasanya bersih, seperti tiga anomali dalam sebuah persamaan yang sempurna. Ia menatapnya berjam-jam, mencoba melihatnya dari sudut yang berbeda, membolak-baliknya, berharap sebuah pola logis akan muncul dari keacakan mereka. Tidak ada yang muncul. Jam pintarnya mencatat pola tidurnya yang berantakan dan detak jantung istirahatnya yang meningkat. Ia sedang berada dalam kondisi gridlock intelektual. Panggilan itu datang pada hari keempat, bukan dari ponselnya, melainkan dari interkom apartemen. Sebuah kurir mengantarkan surat resmi. Di dalamnya, kop surat dari sebuah firma hukum terkemuka: Kantor Hukum Widjojo & Rekan. Surat itu memintanya hadir bersama orang tuanya untuk pembacaan surat wasiat personal Senja Kirana. Ruang rapat di firma hukum itu adalah antitesis dari studio Senja. Dindingnya dilapisi panel kayu mahoni yang gelap. Udaranya beraroma kulit dari kursi-kursi yang berat dan parfum mahal. Di sini, setiap kata memiliki bobot hukum, setiap kalimat adalah sebuah klausul yang mengikat. Di sini, tidak ada ruang untuk ambiguitas. Bara duduk di seberang Tuan Widjojo, seorang pria berusia enam puluhan dengan kacamata berbingkai perak dan aura otoritas yang tenang. Orang tuanya duduk di sampingnya, tampak kecil dan lelah di kursi yang besar itu. "Terima kasih sudah datang," Tuan Widjojo memulai, suaranya tenang dan terukur. "Seperti yang sudah kita diskusikan sebelumnya via telepon, pembagian aset utama almarhumah Senja Kirana sudah jelas dan sesuai dengan hukum waris. Namun," ia berhenti sejenak, membuka sebuah amplop tebal dengan pembuka surat dari perak. "Almarhumah meninggalkan sebuah adendum. Sebuah surat wasiat personal, yang secara spesifik ditujukan untuk Anda, Bara." Tuan Widjojo mengeluarkan selembar kertas tebal, bukan kertas legal yang kaku, melainkan kertas surat berwarna gading. Ia berdeham, lalu mulai membacakan isinya. Suaranya yang formal dan tanpa emosi menciptakan kontras yang aneh dengan kata-kata yang ia ucapkan. "Untuk adikku, sang pangeran di menara data," Tuan Widjojo membacanya verbatim, tanpa ironi. "Aku tahu kau pasti sedang mencoba memecahkan segalanya, mencari pola dalam kesedihan, mencari logika dalam kehilangan. Tapi beberapa hal tidak bekerja seperti itu." Bara merasakan rahangnya mengeras. "Aku meninggalkanmu beberapa barang. Bukan harta, tapi remah-remah roti dari perjalananku. Semua petaku ada di sana. Temukan aku, dan kau akan menemukan dirimu." Jantung Bara berdetak lebih cepat. Ia melirik orang tuanya, mereka hanya menatap kosong, terlalu lelah untuk memproses. Tuan Widjojo melanjutkan ke paragraf terakhir. Paragraf yang akan mengubah segalanya. "Tapi ada satu syarat, Bar. Satu-satunya syarat. Jangan gunakan logikamu. Logikamu sudah membangun menara yang cukup tinggi. Untuk perjalanan ini, gunakan sesuatu yang sudah lama kau lupakan." Keheningan yang berat memenuhi ruangan setelah Tuan Widjojo selesai membaca. Pengacara tua itu melipat kembali surat itu dengan hati-hati, seolah menangani sebuah artefak yang rapuh. Di dalam kepala Bara, sebuah badai berkecamuk. Logikanya yang terlatih mencoba mengkategorikan apa yang baru saja ia dengar. Ini bukan dokumen hukum. Ini adalah sebuah puisi, sebuah teka-teki, sebuah... omong kosong. Perasaan frustrasinya selama tiga hari terakhir kini bercampur dengan kilatan amarah. Bahkan setelah tiada, Senja masih mempermainkannya, masih menantangnya dengan aturan-aturan dunianya yang irasional. Ini bukan wasiat, pikirnya getir. Ini adalah lelucon terakhirnya. Sebuah pembuktian bahwa dunianya memang tidak masuk akal. Perintah "jangan gunakan logikamu" terasa seperti sebuah serangan personal. Logika adalah dirinya. Itu adalah satu-satunya instrumen yang ia miliki dan percayai. Memintanya untuk meninggalkannya sama saja dengan memintanya untuk berjalan di kegelapan tanpa mata. Pertemuan itu berakhir. Tuan Widjojo menyerahkan surat asli itu kepada Bara. "Ini milikmu," katanya dengan nada yang sedikit lebih lembut. Bara menerimanya. Kertas itu terasa hangat di tangannya yang dingin. Ia berjalan keluar dari gedung itu, kembali ke trotoar kota yang ramai dan bising. Ia berdiri terpaku sejenak di tengah arus manusia, memegang selembar surat wasiat yang berisi klausul paling tidak logis yang pernah ia temui. Tantangan itu kini bukan lagi hanya sebuah misteri yang terkunci dalam kotak, tetapi sebuah mandat resmi, sebuah wasiat terakhir. Sebuah peta yang petunjuk pertamanya adalah: tinggalkan petamu.

Arah yang Tak Tertulis di Peta

Upaya Dekripsi yang Gagal

Di publikasikan 30 May 2026 oleh Titik Nol

Bara membawa kotak kayu itu pulang ke apartemennya, ke dalam benteng keteraturannya. Di atas meja kerjanya yang terbuat dari kaca dan baja poles, benda itu tampak seperti artefak dari peradaban lain. Kasar, organik, dan sunyi. Di sebelahnya, laptopnya yang tipis dan ponselnya yang hitam legam tampak seperti penganut sebuah keyakinan yang berbeda. Tugas pertama adalah membuka kuncinya. Bara, dengan metodologi seorang insinyur, mengeluarkan sebuah set perkakas presisi. Dengan bantuan lampu meja yang terang, ia mencoba memanipulasi pin-pin di dalam lubang kunci yang kecil itu. Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Kait kuningan itu tidak bergeming. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ini adalah masalah mekanis sederhana, seharusnya ia bisa menyelesaikannya. Kegagalan ini terasa personal, sebuah hinaan bagi kecerdasan logisnya. Frustrasi mengalahkan kesabaran. Ia meninggalkan perkakas presisinya dan mengambil sebuah obeng pipih yang kokoh. Dengan kekuatan yang terukur—cukup untuk membongkar, tidak cukup untuk menghancurkan—ia menempatkan ujung obeng di celah antara tutup dan badan kotak. Dengan sekali hentak, terdengar suara retakan kayu yang pelan. Kuncinya menyerah. Ia berhenti sejenak, mengatur napas. Ada perasaan menang yang aneh, sekaligus rasa bersalah karena telah menggunakan kekerasan pada benda peninggalan kakaknya. Ia membuka tutup kotak itu perlahan. Di dalamnya, terbaring tiga benda di atas lapisan kain beludru merah yang sudah pudar. Sebuah tiket kereta api kertas, warnanya sudah kekuningan. Sebuah kartu pos dengan gambar observatorium bintang di malam hari. Dan sebuah buku sketsa bersampul kulit tebal yang tampak sudah sering digunakan. Selama satu jam berikutnya, apartemen Bara yang biasanya senyap diisi dengan suara ketukan keyboard yang cepat. Ia telah kembali ke wilayah kekuasaannya: dekripsi data. Objek 1: Tiket Kereta. Ia memasukkan kode seri dan nama stasiun tujuan ke dalam mesin pencari. Hasilnya muncul seketika. Sebuah perjalanan kelas ekonomi, tiga tahun lalu, menuju sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang namanya pun baru pertama kali ia dengar. Kota itu, menurut data, dikenal karena kerajinan kayu dan ritual adatnya. Tidak ada industri, tidak ada teknologi. Data demografisnya tidak menarik. Informasi itu faktual, tetapi tidak memberikan konteks. Mengapa Senja ke sana? Data tidak menjawabnya. Jalan buntu pertama. Objek 2: Kartu Pos. Gambar observatorium itu tajam dan indah. Bara melakukan pencarian gambar dan langsung menemukan lokasinya: sebuah observatorium tua non-pemerintah di puncak sebuah gunung terpencil, dikelola oleh komunitas astronom amatir. Di bagian belakang kartu pos, dalam tulisan tangan Senja yang artistik dan sedikit miring, hanya ada satu kalimat: "Temukan aku di antara riak cahaya." Bara mengerutkan kening. "Riak cahaya". Ia memasukkan frasa itu ke dalam jurnal ilmiah dan basis data astronomi. Hasilnya nol. Itu bukan istilah teknis. Itu hanya... kata-kata. Kebisingan puitis. Jalan buntu kedua. Objek 3: Buku Sketsa. Ini adalah harapan terakhirnya. Ia membukanya. Halaman demi halaman berisi sketsa-sketsa Senja yang luar biasa hidup: wajah orang asing, detail arsitektur bangunan tua, pola-pola awan. Bara membaliknya cepat, ia tidak mencari seni, ia mencari informasi. Ia tiba di halaman terakhir. Halaman itu berbeda. Tidak ada gambar representasional, hanya serangkaian simbol geometris yang rumit, digambar dengan tinta hitam yang presisi. Di bawah simbol-simbol itu, ada satu kalimat: "Awal dari peta yang tidak ada." Sebuah kode. Akhirnya, sesuatu yang bisa ia pecahkan. Ia memindai halaman itu dengan pemindai resolusi tinggi. Ia menjalankan gambar itu melalui beberapa program pengenalan pola. Ia bahkan menulis sebuah skrip Python sederhana untuk menganalisis frekuensi, simetri, dan hubungan antar simbol, mencocokkannya dengan basis data kriptografi kuno dan modern. Prosesor laptopnya bekerja keras, kipasnya mulai berputar lebih cepat. Dua puluh menit kemudian, hasilnya muncul di layar. NO RECOGNIZABLE CRYPTOGRAPHIC PATTERN DETECTED. Bara bersandar di kursinya, menatap kosong ke tiga layar monitornya yang kini tampak bodoh. Di sekelilingnya ada teknologi senilai ratusan juta rupiah, perangkat yang mampu memproses miliaran titik data per detik. Namun, semua itu telah dikalahkan oleh selembar tiket kereta, selembar kartu pos, dan beberapa coretan tinta di atas kertas. Sebuah rasa frustrasi yang dingin dan berat menyelimutinya. Renungan itu menghantamnya dengan kekuatan penuh. Aku bisa memprediksi pergerakan pasar saham dengan akurasi 90%, tapi aku tidak bisa memahami tiga benda peninggalan kakakku sendiri. Ia mematikan semua programnya. Dalam keheningan apartemennya yang steril, ia mengambil buku sketsa itu lagi. Tangannya menelusuri simbol-simbol geometris yang terasa asing. Ia membaca kalimat di bawahnya sekali lagi, kali ini membisikkannya ke udara yang hampa. "Awal dari peta yang tidak ada." Sebuah paradoks. Sebuah kemustahilan logis. Di dalam benteng keteraturannya, Bara Adhitama akhirnya bertemu dengan sebuah masalah yang datanya tidak lengkap, sebuah sistem yang aturannya tidak ia kenali. Ia kalah.

Arah yang Tak Tertulis di Peta

Arsip Kekacauan

Di publikasikan 30 May 2026 oleh Titik Nol

Prosesi kremasi berjalan seperti sebuah algoritma yang telah ditulis ribuan tahun lalu. Ada langkah-langkah yang harus diikuti, doa-doa yang harus diucapkan, dan isak tangis yang terjadwal di antara jeda keheningan. Bara mengikuti setiap tahapannya dengan kepatuhan mekanis. Ia mengamati api melahap peti itu, mengubah materi padat menjadi abu, sebuah proses entropi yang bisa dijelaskan oleh hukum fisika. Namun, ia tahu orang-orang di sekelilingnya tidak melihatnya seperti itu. Bagi mereka, ini adalah perpisahan. Bagi Bara, ini adalah penutupan sebuah bab. Sebuah final execution. Dua hari kemudian, di ruang tamu rumah orang tuanya yang sunyi, sebuah masalah logistik muncul. Apartemen studio yang disewa Senja. Tempat itu, beserta seluruh isinya, kini menjadi sebuah arsip tanpa kurator. Ibunya terlalu rapuh untuk menghadapinya, dan ayahnya tampak kehilangan arah di hadapan tugas itu. "Kita harus segera membereskannya," kata ayahnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun. "Tapi... saya tidak tahu harus mulai dari mana." Di tengah kebuntuan emosional itu, Bara melihat sebuah masalah yang memiliki solusi. Sebuah sistem yang kacau yang perlu diorganisir. "Biar aku yang urus," katanya. Kalimat itu meluncur begitu saja, praktis dan tanpa emosi. Orang tuanya menatapnya dengan campuran lega dan sedih. Lega karena beban itu terangkat; sedih karena putra mereka bisa menghadapi warisan kakaknya seperti sebuah tugas kantor. Ayahnya menyerahkan sebuah kunci. Satu-satunya kunci. Pintu apartemen studio Senja berada di ujung koridor sebuah bangunan tua yang artistik. Tidak ada smart lock atau kartu akses, hanya sebuah lubang kunci konvensional dari kuningan. Saat Bara memutar kunci itu dan mendorong pintunya, udara dari dalam ruangan seolah menyambutnya. Udara yang beraroma aneh: campuran tajam terpentin, wangi manis cat minyak yang mengering, debu, dan aroma kertas tua. Jika apartemen Bara adalah sebuah laboratorium, maka studio Senja adalah sebuah hutan. Cahaya sore yang keemasan menembus jendela besar yang menghadap ke barat, menerangi partikel-partikel debu yang menari di udara. Kanvas-kanvas dalam berbagai ukuran bersandar di setiap dinding. Beberapa sudah selesai, menampilkan lanskap mimpi dan potret wajah-wajah asing yang penuh emosi. Banyak yang lain baru setengah jadi, sketsa arang yang menunggu warna, atau sapuan warna-warni yang belum membentuk apa pun. Buku-buku menumpuk di lantai, di atas kursi, di mana pun ada permukaan datar. Bukan buku tentang data atau bisnis, melainkan tentang filsafat, mitologi, sejarah seni, dan puisi. Stoples-stoples kaca berisi kuas dengan berbagai ukuran, seperti karangan bunga yang kaku. Di sudut ruangan, sebuah easel kayu berdiri tegak, memegang sebuah kanvas yang baru dilapisi warna dasar biru langit. Seolah pemiliknya hanya pergi sebentar untuk menyeduh teh. Ini adalah episentrum dari kekacauan yang selalu Bara kritisi dalam diam. Sebuah arsip dari proyek-proyek yang tidak pernah selesai. Bara meletakkan ranselnya, menyingsingkan lengan kemejanya, dan memulai satu-satunya cara yang ia tahu untuk menghadapi situasi ini: mengorganisir. Ia menetapkan zona-zona di lantai: Zona Buku, Zona Alat Lukis, Zona Pakaian, Zona Kanvas. Sebuah upaya untuk memaksakan geometri pada hutan. Ia mulai dengan tumpukan buku di dekat jendela. Ia mengangkatnya satu per satu, membaca judulnya, lalu meletakkannya di zona yang telah ia tentukan. Mitologi Yunani. Zen dan Seni Merawat Sepeda Motor. Kumpulan Puisi Rumi. Di sela-sela halaman, ia menemukan sehelai daun kering, tiket bioskop bekas, atau catatan kecil tulisan tangan Senja yang berisi satu baris kalimat puitis. Setiap benda adalah data, tapi data yang tidak berstruktur. Saat memindahkan tumpukan terakhir, matanya menangkap sesuatu yang tidak pada tempatnya. Di bawah tumpukan buku tentang pelukis-pelukis surealis, tergeletak sebuah benda yang sama sekali tidak sureal. Sebuah kotak kayu persegi, warnanya cokelat polos tanpa pernis, ukurannya mungkin tiga puluh kali dua puluh sentimeter. Sangat sederhana, sangat biasa. Justru kesederhanaannya yang membuatnya menonjol di tengah ledakan warna dan bentuk di sekelilingnya. Di dalam kepalanya, renungan itu muncul tanpa diundang, saat ia menatap kanvas biru yang belum jadi itu. Senja hidup di antara hal-hal yang belum selesai. Aku hidup dengan menyelesaikan segalanya. Apakah hidup memang harus selalu dituntaskan? Ia mengabaikan pertanyaan itu dan berjongkok, meraih kotak kayu tersebut. Terasa kokoh dan lebih berat dari yang ia duga. Tidak ada ukiran, tidak ada tanda, hanya serat-serat kayu alami. Di bagian depannya, ada sebuah kait kecil dari kuningan yang kusam. Bara mencoba membukanya. Terkunci. Ia mengguncangnya pelan di dekat telinga. Tidak ada suara gemerincing. Isinya padat. Bara meletakkan kotak itu di tengah lantai yang sudah ia bersihkan. Di sekelilingnya, arsip kekacauan kakaknya menunggu untuk dirapikan. Namun kini, semua atensinya, seluruh prosesor logis di dalam otaknya, terfokus pada satu objek tunggal ini. Sebuah sistem tertutup. Sebuah anomali di dalam anomali. Sebuah masalah yang bisa dipecahkan.

Arah yang Tak Tertulis di Peta

Geometri Duka

Di publikasikan 30 May 2026 oleh Titik Nol

Jari telunjuk Bara menekan ikon hijau di layarnya. Sebuah tindakan sederhana yang terasa membelah waktu menjadi dua: sebelum dan sesudah. Ia menempelkan ponsel ke telinga, dan dunia di sekelilingnya—dengungan server, ketukan keyboard yang ritmis, pendingin ruangan yang berdesis—seketika meredup, menjadi latar yang tidak relevan. Di seberang sana, bukan sapaan yang ia dengar, melainkan isak tangis yang tertahan, suara ibunya yang terdistorsi oleh duka. Bara tidak menyela. Ia menunggu. Dalam benaknya, sebuah prosesor mulai bekerja, mencoba menganalisis data audio yang tidak lengkap ini, mencari pola, mencari makna. "...Senja..." Suara ibunya pecah. "Bar... Kakakmu... Senja sudah tidak ada." Kata-kata itu tiba. Bukan sebagai ledakan emosi, melainkan sebagai serangkaian data baru yang masuk ke dalam sistem Bara. Input: Senja sudah tidak ada. Status: Final. Konsekuensi: Belum terdefinisi. Tidak ada air mata. Tidak ada napas yang tercekat. Respons pertamanya adalah sebuah pertanyaan logis. "Di mana?" suaranya sendiri terdengar asing, datar dan tanpa getaran. "Rumah sakit mana? Apa langkah berikutnya?" Ia mencatat detail-detail yang diberikan ibunya dengan presisi seorang manajer proyek: nama rumah sakit, nomor kamar jenazah, alamat rumah duka yang sudah dihubungi oleh paman mereka. Prosedur. Langkah-langkah yang harus dieksekusi. Setelah panggilan berakhir, ia berdiri. Dunianya, yang beberapa menit lalu adalah sebuah simfoni keteraturan, kini menjadi sebuah sistem yang mengalami critical error. Tapi kepanikan bukanlah respons yang efisien. Ia berjalan ke meja atasannya, menunggu sang manajer menyelesaikan panggilan teleponnya. Saat tatapan mereka bertemu, Bara berkata dengan nada yang sama datarnya, "Saya harus pergi. Ada urusan keluarga." Tidak ada penjelasan lebih. Dan anehnya, tidak ada yang bertanya. *** Rumah duka beraroma campuran lili dan melati dengan konsentrasi yang pekat. Di dalam ruangan yang didominasi warna putih dan krem itu, duka memiliki geometrinya sendiri: barisan kursi yang lurus, karangan bunga yang membentuk lingkaran dan oval, serta peti jenazah berwarna cokelat tua yang menjadi titik pusat dari semuanya. Manusia-manusia bergerak di antara bentuk-bentuk ini, wajah mereka basah oleh air mata, suara mereka bergetar. Bara berdiri di sudut, sebuah anomali dalam ekosistem emosi ini. Ia menerima pelukan dari para kerabat, membalasnya dengan kekakuan yang canggung. Ia mengucapkan, "Terima kasih sudah datang," berulang kali hingga kalimat itu kehilangan makna dan menjadi sekadar skrip. Ia mengamati tangisan tantenya, menganalisisnya: getaran di bahu, interval isak tangis, volume suara yang naik turun. Fenomena yang menarik, namun ia tidak bisa merasakan resonansinya. Ia mencoba mengakses data internalnya, mencari respons emosional yang sesuai untuk situasi ini. File not found. Pandangannya terpaku pada sebuah lukisan abstrak yang tergantung di dinding rumah duka, sebuah hiasan standar. Sapuan kuasnya yang acak dan warnanya yang cerah terasa tidak pada tempatnya. Sapuan warna itu menariknya ke dalam sebuah memori, begitu jelas hingga aroma melati di sekitarnya seolah berganti menjadi aroma kopi dan kertas. Satu tahun yang lalu. Sebuah kafe kecil di pinggiran kota. Hujan di luar. Bara baru saja meluncurkan aplikasi analisis pasar saham pribadinya. Dengan bangga, ia menunjukkan grafik-grafik di tabletnya kepada Senja. "Lihat, Nja. Algoritma ini bisa memprediksi pergerakan harga dengan akurasi 82%. Semua berdasarkan data historis dan analisis sentimen. Logika murni." Senja, yang sedang asyik membuat sketsa di buku catatannya, melirik sekilas. Ia tersenyum, senyum yang selalu tampak menyimpan rahasia kecil. Ia tidak melihat tablet Bara, melainkan menunjuk ke cangkir kopinya yang mulai dingin. "Angka-angkamu bisa memprediksi segalanya, Bar," katanya lembut, jemarinya yang sering ternoda cat menari di atas kertas. "Tapi bisakah mereka memprediksi rasa kopi ini saat diminum sambil tertawa? Atau memprediksi warna langit besok sore saat bertemu dengan hujan? Ada hal-hal yang tidak untuk diprediksi. Hanya untuk dirasakan." Bara saat itu hanya mendengus pelan, menganggapnya sebagai romantisme naif seorang seniman. Logika adalah kebenaran. Perasaan adalah variabel pengganggu. Sebuah tepukan lembut di bahunya menarik Bara kembali dari ingatan. Pamannya menatapnya dengan khawatir. "Kamu tidak apa-apa, Bar? Kamu pucat." Bara hanya mengangguk. Tapi di dalam kepalanya, sebuah pertanyaan mulai terbentuk. Sebuah kalkulasi yang tidak pernah ia coba lakukan sebelumnya. Bagaimana cara mengukur tawa Senja saat itu? Berapa bobot kenangannya? Jika sebuah hal tidak bisa dikuantifikasi, apakah itu berarti ia tidak nyata? Malam semakin larut. Para pelayat mulai pulang, meninggalkan keheningan yang lebih pekat. Bara berjalan menyusuri lorong, menjauh dari ruang utama. Ia berhenti di depan sebuah pintu kamar yang disediakan untuk keluarga. Kamar peristirahatan sementara Senja. Dengan ragu, ia mendorong pintu itu hingga terbuka. Di dalamnya bukan lagi kamar steril rumah duka. Kerabat mereka telah membawa beberapa barang pribadi Senja. Selendang kain berwarna-warni tersampir di kursi. Beberapa buku sketsa tergeletak di meja. Aroma samar cat minyak dan kertas menguar di udara, menimpa aroma lili dan melati. Itu adalah arsip dari sebuah kehidupan yang ia anggap sebagai kekacauan. Ia berdiri di ambang pintu, menatap ke dalam fragmen dunia kakaknya. Untuk pertama kalinya sejak telepon tadi siang, prosesor di kepalanya berhenti bekerja. Tidak ada data untuk dianalisis. Tidak ada prosedur untuk dieksekusi. Sebagai gantinya, ia merasakan sesuatu yang asing. Sebuah lubang hitam di dalam sistemnya. Kekosongan yang tidak bisa diukur.

Arah yang Tak Tertulis di Peta

Frekuensi Keteraturan

Di publikasikan 30 May 2026 oleh Titik Nol

05:00:00 Bukan sebuah alunan melodi yang membangunkan Bara Adhitama, melainkan getaran singkat dan presisi dari pergelangan tangannya. Di layar jam pintarnya, angka-angka berpendar putih di atas latar belakang hitam pekat. Pola tidur: 7 jam, 58 menit. Fase tidur dalam: 94%. Detak jantung istirahat: 52 bpm. Efisiensi: 98%. Data yang memuaskan untuk memulai sebuah hari. Tidak ada tombol tunda. Menunda adalah variabel anomali, sebuah cacat dalam sistem yang tidak bisa ia tolerir. Dunia Bara adalah dunia yang berjalan di atas frekuensi keteraturan. Apartemennya di lantai 28 sebuah menara di pusat distrik bisnis adalah bukti nyata dari filosofi itu. Dindingnya berwarna kelabu muda, perabotnya minimalis dengan garis-garis tegas. Tidak ada hiasan, tidak ada foto, tidak ada apa pun yang tidak memiliki fungsi. Baginya, ornamen adalah noise—data yang tidak relevan. Tujuh menit di bawah pancuran air dengan suhu yang diatur di 38 derajat Celsius. Tiga menit untuk mengenakan setelan pakaian yang sudah disiapkan malam sebelumnya: kemeja putih tanpa corak, celana bahan berwarna arang, sepatu kulit hitam tanpa tali. Semuanya adalah bagian dari sebuah algoritma yang telah teruji efisiensinya. Sarapannya adalah cairan berwarna hijau pucat di dalam sebuah tabung blender. 150 gram bayam, setengah buah alpukat, satu sendok takar bubuk protein, 300 ml air dingin. 280 kalori, 25 gram protein, 15 gram lemak, 12 gram karbohidrat. Bahan bakar, bukan kenikmatan. Ia meminumnya sambil berdiri, menatap hamparan kota dari jendela apartemennya yang menjulang. Di bawah sana, jutaan kehidupan bergerak dalam kekacauan yang tak terduga. Macet, telat, salah jalan. Variabel-variabel yang membuat Bara muak sekaligus bersyukur atas keteraturan yang ia ciptakan untuk dirinya sendiri. 06:45:00. Aplikasi Laju di ponselnya menunjukkan mobil pesanan akan tiba dalam tiga menit. Tepat sesuai prediksinya. Ia melangkah keluar dari lobi apartemen tepat saat sedan hitam itu menepi. Perjalanan menuju kantor adalah satu-satunya bagian dari harinya yang tidak sepenuhnya bisa ia kendalikan, namun setelah tiga tahun melewati rute yang sama, ia sudah hafal polanya. Ia tahu di persimpangan mana akan terjadi perlambatan, di ruas jalan mana kecepatan bisa kembali optimal. Pintu kaca markas besar Aksarafin bergeser tanpa suara pada pukul 07:30:17. Aksarafin bukan sekadar perusahaan fintech, melainkan sebuah katedral data. Di sinilah angka-angka dipuja, dan algoritma adalah kitab sucinya. Bara adalah salah satu pendeta tertingginya. Sebagai Lead Data Scientist, tugasnya adalah menerjemahkan kekacauan pasar menjadi pola-pola yang bisa diprediksi, mengubah ketidakpastian menjadi keuntungan. Hari ini adalah hari yang baik. Algoritma prediktif yang ia dan timnya kembangkan selama enam bulan terakhir akan diluncurkan. Proyek "Arus Biru". Sebuah nama puitis yang diberikan oleh tim pemasaran, namun bagi Bara, Arus Biru adalah serangkaian 1,4 juta baris kode yang elegan, sebuah mahakarya logika. Ia melewati jajaran meja kerja dalam keheningan yang khusyuk. Hanya ada suara ketukan papan ketik yang ritmis. Rekan-rekannya mengangguk singkat, sebuah pengakuan keberadaan yang efisien tanpa perlu pertukaran kata-kata basa-basi. Bara duduk di kursinya, dan dunianya menyempit menjadi tiga layar monitor yang menampilkan barisan angka dan grafik yang bergerak dinamis. Di sini, di frekuensinya, ia merasa utuh. Pukul 15:30:00, email notifikasi masuk. Implementasi Arus Biru: SUKSES. Akurasi prediktif awal: 98,7%. Melampaui target. Ada dengungan kepuasan yang sunyi di dalam ruang kerja. Beberapa orang saling melempar senyum tipis. Bagi mereka, ini adalah bonus akhir tahun. Bagi Bara, ini adalah keindahan dari sebuah sistem yang bekerja sempurna. Ia menyandarkan punggungnya sejenak, sebuah kemewahan yang jarang ia lakukan. Pandangannya kembali ke luar jendela, ke kota yang kini mulai diselimuti cahaya sore. Ia melihat jalanan yang padat, manusia yang bergerak seperti partikel tak beraturan. Kekacauan yang sama seperti tadi pagi. Ia memikirkan semua emosi yang mendorong keputusan-keputusan tidak logis di luar sana—cinta, amarah, harapan, cemburu. Variabel-variabel acak yang mengotori data. Manusia adalah variabel yang paling tidak bisa diandalkan, batinnya. Angka, sebaliknya, tidak pernah berbohong. Itu adalah momen kepuasan puncaknya. Sebuah kesimpulan sempurna di hari yang sempurna. Keteraturan telah menang. 15:32:15. Ponselnya di atas meja bergetar. Bukan notifikasi sistem atau email pekerjaan. Pola getarannya berbeda. Di layar, sebuah nama muncul. Sebuah anomali. Sebuah data yang seharusnya tidak berada di frekuensi hari ini. Ibu. Frekuensi keteraturan itu retak. Untuk sepersekian detik, Bara Adhitama hanya bisa menatap nama itu, dan untuk pertama kalinya hari ini, ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Arah yang Tak Tertulis di Peta

Bab 10 KESEPIAN YANG MENGAJARKAN BANYAK HAL

Di publikasikan 10 May 2026 oleh Rasa Dalam Kata

Tidak semua kesepian datang karena tidak punya teman.Kadang seseorang bisa berada di tengah keramaian,tertawa bersama banyak orang,berbicara seperti biasa,namun tetap merasa sangat sepi di dalam dirinya. Ada rasa kosong yang sulit dijelaskan.Seperti ada bagian dalam hati yang perlahan kehilangan arah. Dan anehnya,rasa sepi seperti itu sering datang di saat-saat paling tenang. Di malam hari. Saat lampu kamar mulai redup. Saat suasana mulai sunyi. Saat dunia terasa melambat,dan isi kepala mulai berbicara lebih keras dari biasanya. Di momen seperti itu,pikiran manusia berjalan ke mana-mana. Kita mulai memikirkan hidup. Memikirkan masa depan. Memikirkan orang-orang yang berubah. Memikirkan kehilangan. Memikirkan hal-hal yang selama ini sengaja kita abaikan karena terlalu sibuk bertahan. Dan jujur saja,kesepian memang tidak nyaman.Ada hari-hari di mana rasa sepi terasa begitu berat,sampai membuat seseorang mempertanyakan dirinya sendiri. “Kenapa aku merasa kosong?” “Kenapa aku tetap merasa sendirian meski banyak orang di sekitarku?” “Kenapa hidup terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya?” Namun semakin dewasa,kita mulai memahami bahwa kesepian bukan selalu musuh.Kadang kesepian datang untuk mengajarkan banyak hal yang tidak bisa diajarkan keramaian.Kesepian mengajarkan kita bahwa tidak semua orang akan selalu ada. Orang datang dan pergi. Hubungan berubah. Kedekatan perlahan memudar. Dan pada akhirnya, kita tetap harus belajar berdiri dengan kaki sendiri.Dulu mungkin kita terlalu bergantung pada kehadiran orang lain. Merasa bahagia hanya ketika diperhatikan. Merasa tenang hanya ketika ada yang menemani. Merasa berharga hanya ketika dicari. Namun hidup tidak selalu memberi itu selamanya.Ada masa di mana kita dipaksa menghadapi semuanya sendiri.Dan dari situlah kesepian mulai membentuk kita perlahan. Kesepian mengajarkan bahwa ketenangan sejati tidak selalu datang dari orang lain.Kadang ketenangan justru datang saat kita mulai nyaman dengan diri sendiri. Saat kita bisa duduk sendirian tanpa merasa hampa. Saat kita mulai menikmati waktu tanpa harus selalu ditemani. Saat kita berhenti mencari validasi dari semua orang. Karena selama ini mungkin kita terlalu sibuk mencari tempat pulang pada manusia,sampai lupa bahwa diri sendiri juga harus menjadi rumah yang nyaman.Kesepian juga membuat kita lebih mengenal diri sendiri. Saat hidup terlalu ramai,kita sering lupa mendengarkan isi hati sendiri. Kita terlalu sibuk memenuhi ekspektasi orang lain. Terlalu sibuk mengejar pengakuan. Terlalu sibuk terlihat baik-baik saja. Sampai akhirnya kita lupa bertanya: “Apa sebenarnya yang aku inginkan?” “Apa yang benar-benar membuatku bahagia?” “Apa yang sedang dirasakan hatiku?” Dan dalam kesepian,pertanyaan-pertanyaan itu mulai muncul perlahan.Memang tidak selalu nyaman,Kadang menyakitkan. Namun dari situlah seseorang mulai mengenal dirinya lebih dalam.Kita mulai sadar apa yang benar-benar penting dalam hidup.Mulai tahu siapa yang benar-benar tulus. Mulai memahami hal-hal yang selama ini kita abaikan.Kesepian juga membuat kita lebih menghargai kehadiran orang-orang yang benar-benar peduli.Karena saat hidup sedang ramai,semua orang terlihat dekat.Namun saat kita berada di titik paling sunyi,barulah terlihat siapa yang benar-benar tinggal. Dan percaya atau tidak,masa-masa paling sepi sering kali menjadi masa yang paling membentuk manusia.Banyak orang menjadi lebih dewasa karena pernah merasa sendirian.Banyak orang menjadi lebih kuat karena pernah tidak punya siapa-siapa selain dirinya sendiri. Karena saat tidak ada tempat bersandar,manusia belajar menjadi kuat untuk dirinya sendiri.Kalau hari ini kamu sedang merasa sepi,jangan buru-buru membenci keadaan itu. Jangan langsung menganggap hidup sedang menghukummu.Mungkin hidup sedang memberimu ruang untuk bertumbuh.Mungkin hidup sedang mengajarkanmu cara berdamai dengan diri sendiri. Mungkin hidup sedang membuatmu berhenti bergantung pada hal-hal yang selama ini diam-diam melemahkanmu.Kesepian memang tidak selalu mudah dijalani. Ada malam-malam panjang yang terasa berat. Ada rasa kosong yang datang tanpa alasan. Ada hati yang lelah karena terlalu lama memendam semuanya sendiri. Namun bukan berarti semua rasa sunyi itu sia-sia.Karena sering kali,versi diri yang paling kuat justru lahir dari masa-masa paling sepi. Versi diri yang lebih tenang. Lebih dewasa. Lebih memahami hidup. Dan suatu hari nanti,kamu mungkin akan melihat kembali masa-masa sunyi itu,lalu menyadari bahwa ternyata kesepian pernah menyelamatkanmu dari kehilangan dirimu sendiri. Karena pada akhirnya,kesepian bukan selalu tentang tidak punya siapa-siapa. Kadang kesepian adalah proses panjang untuk menemukan kembali diri kita yang sempat hilang.

Manusia dan Luka - lukanya

Bab 9 TIDAK SEMUA ORANG AKAN MEMAHAMIMU

Di publikasikan 10 May 2026 oleh Rasa Dalam Kata

Salah satu rasa kecewa terbesar dalam hidup adalah ketika kita merasa tidak dimengerti. Kita sudah berusaha menjelaskan isi hati,namun orang lain tetap salah paham. Kita sedang berjuang sekuat mungkin,namun orang lain hanya melihat hasil akhirnya. Mereka melihat kita tersenyum,lalu mengira hidup kita baik-baik saja. Mereka melihat kita diam,lalu menganggap kita tidak peduli.Padahal ada banyak hal yang sebenarnya tidak pernah berhasil kita ucapkan. Dan pada akhirnya,karena terlalu lelah menjelaskan semuanya,kita memilih diam. Semakin dewasa,kamu akan sadar bahwa tidak semua orang mampu memahami dirimu. Tidak semua orang mengerti bagaimana rasanya menjadi kamu. Tidak semua orang tahu seberapa berat isi kepalamu setiap malam. Tidak semua orang tahu perjuangan yang kamu sembunyikan di balik senyum. Tidak semua orang tahu berapa kali kamu hampir menyerah namun tetap memaksa diri untuk bertahan. Ada luka yang tidak terlihat. Ada rasa takut yang tidak pernah diucapkan. Ada tangisan yang sengaja disembunyikan agar dunia tetap melihat kita sebagai seseorang yang kuat. Namun dunia memang sering menilai hanya dari apa yang terlihat.Kalau kamu jarang mengeluh,orang menganggap hidupmu mudah.Kalau kamu tetap tertawa,orang mengira kamu tidak punya masalah. Padahal mungkin,kamu hanya terlalu lelah untuk menjelaskan semuanya.Kadang manusia berharap ada seseorang yang mampu mengerti tanpa perlu banyak penjelasan. Seseorang yang cukup peka untuk memahami bahwa di balik kata “aku gapapa” sebenarnya ada hati yang sedang penuh sesak. Namun kenyataannya,manusia hanya memahami sebatas apa yang pernah mereka rasakan. Orang yang belum pernah kehilangan mungkin tidak akan benar-benar mengerti rasa hancurnya ditinggalkan. Orang yang belum pernah berjuang sendirian mungkin tidak akan memahami bagaimana lelahnya bertahan tanpa dukungan siapa pun. Dan itu bukan salah mereka.Karena setiap manusia hidup dengan pengalaman yang berbeda. Itulah kenapa kamu tidak perlu terlalu kecewa ketika ada orang yang gagal memahami perjuanganmu. Mereka tidak hidup di kepalamu. Mereka tidak menjalani hari-hari yang kamu lalui. Mereka tidak merasakan semua rasa takut yang diam-diam kamu tahan sendirian. Dan itu tidak membuat perjuanganmu menjadi tidak nyata. Apa yang kamu rasakan tetap valid. Apa yang kamu perjuangkan tetap berarti,meski tidak semua orang melihatnya. Ada masa di mana kamu akan merasa sangat sendirian meski berada di tengah banyak orang.Kamu tertawa bersama mereka, namun di dalam hati tetap merasa kosong.Kamu berbicara seperti biasa,namun sebenarnya sedang sangat lelah. Dan itu adalah rasa sepi yang paling sulit dijelaskan.Bukan sepi karena tidak punya siapa-siapa.Namun sepi karena merasa tidak benar-benar dipahami. Kadang hati memang lelah karena terlalu lama menyimpan semuanya sendiri.Terlalu sering berpura-pura kuat. Terlalu sering menenangkan orang lain. Terlalu sering berkata “aku baik-baik saja” demi menghindari pertanyaan panjang. Sampai akhirnya diri sendiri lupa bagaimana rasanya benar-benar didengarkan.Namun dari semua itu, hidup perlahan mengajarkan satu hal penting: Tidak semua orang akan tinggal. Tidak semua orang akan mengerti. Tidak semua orang akan mendukungmu. Dan itu tidak apa-apa.Karena hidup memang tidak mengharuskan semua orang memahami kita.Yang lebih penting adalah bagaimana kita tetap memahami diri sendiri.Jangan sampai karena terlalu ingin diterima, kamu mulai mengubah dirimu menjadi seseorang yang bukan dirimu.Jangan sampai karena takut dianggap berbeda, kamu memaksa diri memakai topeng setiap hari.Karena jika kamu terus hidup demi menyenangkan semua orang, suatu hari nanti kamu akan kehilangan dirimu sendiri.Dan kehilangan diri sendiri jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan orang lain. Tetaplah jadi dirimu. Tidak perlu menjadi sempurna agar diterima. Tidak perlu mengubah seluruh dirimu hanya agar disukai. Orang yang tepat akan mengerti tanpa perlu terlalu banyak penjelasan.Mereka mungkin tidak memahami seluruh luka yang kamu rasakan,namun mereka tidak akan membuatmu merasa sendirian saat menghadapinya. Dan yang paling penting: Meski dunia kadang gagal memahamimu,jangan sampai kamu ikut berhenti memahami dirimu sendiri. Dengarkan hatimu. Pahami lelahmu. Hargai perjuanganmu. Karena sering kali,satu-satunya orang yang benar-benar tahu seberapa keras dirimu bertahan adalah dirimu sendiri. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Manusia dan Luka - lukanya

Bab 8 TENTANG HARAPAN

Di publikasikan 10 May 2026 oleh Rasa Dalam Kata

Dalam hidup, manusia bisa bertahan karena satu hal: Harapan. Bukan karena hidup selalu mudah. Bukan karena semuanya baik-baik saja. Namun karena masih ada sesuatu di dalam hati yang berkata, “mungkin besok akan lebih baik.” Dan sering kali,hal kecil itulah yang menyelamatkan seseorang.Harapan membuat seseorang tetap bangun meski hatinya lelah.Harapan membuat seseorang tetap mencoba meski berkali-kali gagal.Harapan membuat seseorang tetap bertahan meski hidup terasa sangat berat.Kadang kita tidak sadar betapa pentingnya harapan sampai hidup benar-benar berada di titik paling gelap.Ada masa di mana semuanya terasa kosong.Bangun tidur terasa berat.Hari-hari berjalan tanpa semangat.Hal-hal yang dulu membuat bahagia perlahan kehilangan rasanya.Dan di titik itu,manusia mulai merasa lelah pada hidupnya sendiri.Ada orang yang tersenyum setiap hari,namun diam-diam sedang kehilangan alasan untuk melanjutkan semuanya.Ada yang terlihat baik-baik saja,padahal setiap malam bertarung dengan pikirannya sendiri. Dan mungkin,beberapa dari mereka masih bertahan hanya karena secuil harapan kecil di dalam hatinya.Harapan memang tidak selalu menghilangkan rasa sakit.Namun harapan memberi alasan untuk tetap berjalan.Kadang hidup memang terasa sangat gelap. Ada hari-hari di mana semuanya terasa tidak adil. Ada masa di mana kehilangan datang bersamaan. Ada waktu ketika seseorang merasa sendirian bahkan di tengah banyak orang. Dan jujur saja,itu melelahkan.Namun satu hal yang harus kamu ingat: "Bahkan malam paling gelap pun tetap berakhir pagi.Tidak ada hujan yang turun selamanya.Tidak ada luka yang selamanya terasa sama." Hidup selalu berubah. Perasaan manusia juga berubah. Apa yang hari ini terasa menghancurkan,mungkin suatu hari nanti hanya akan menjadi bagian dari cerita hidup yang membuatmu lebih kuat.Mungkin hari ini kamu sedang kecewa. Sedang kehilangan arah.Sedang merasa hidup tidak berjalan sesuai keinginan.Dan itu tidak apa-apa. Kamu tidak harus selalu kuat setiap saat.Namun jangan kehilangan harapan hanya karena hidup sedang berat.Karena sering kali, manusia menyerah beberapa langkah sebelum hal baik datang.Padahal siapa tahu, jawaban dari semua perjuanganmu sebenarnya sudah dekat.Kita memang tidak bisa mengontrol semua hal dalam hidup. Tidak bisa memastikan semua rencana berhasil. Tidak bisa memaksa orang lain tetap tinggal. Tidak bisa membuat hidup selalu berjalan sesuai harapan. Namun kita masih bisa memilih satu hal:tetap percaya bahwa hidup belum selesai. Dan itu penting.Karena selama seseorang masih memiliki harapan,selama itu pula ia masih punya alasan untuk bertahan.Harapan tidak selalu harus besar.Kadang harapan sederhana sudah cukup. Harapan untuk bisa tidur lebih tenang. Harapan untuk sembuh dari rasa sakit. Harapan untuk dipeluk oleh seseorang yang tulus. Harapan untuk hidup yang lebih baik suatu hari nanti. Dan semua harapan kecil itu layak diperjuangkan.Kalau hari ini kamu merasa lelah,jalani pelan-pelan saja. Tidak perlu langsung hebat. Tidak perlu langsung sembuh. Tidak perlu langsung punya semua jawaban. Cukup lewati hari ini dulu. Satu langkah lagi. Satu napas lagi. Satu hari lagi. Karena hidup sering berubah secara perlahan. Dan siapa tahu,hal baik yang selama ini kamu tunggu ternyata tinggal sedikit lagi datang.Jangan menyerah sekarang.Karena mungkin, versi dirimu di masa depan sedang berterima kasih karena hari ini kamu memilih tetap bertahan. Dan percaya atau tidak,bertahan sampai hari ini saja sudah sebuah keberanian besar.

Manusia dan Luka - lukanya

Bab 7 MIMPI YANG MASIH HIDUP

Di publikasikan 10 May 2026 oleh Rasa Dalam Kata

Semua orang punya mimpi.Namun tidak semua orang cukup kuat untuk memperjuangkannya.Karena mengejar mimpi tidak selalu seindah yang dibayangkan.Di awal, semuanya mungkin terasa menyenangkan. Kita penuh semangat. Penuh harapan. Penuh keyakinan bahwa suatu hari semuanya akan berhasil. Namun semakin jauh berjalan,kita mulai sadar bahwa perjalanan menuju mimpi ternyata melelahkan.Ada rasa takut yang datang diam-diam. Takut gagal. Takut tidak cukup mampu. Takut mengecewakan diri sendiri. Takut semua usaha ini berakhir sia-sia. Dan rasa takut itu sering membuat seseorang ingin berhenti.Apalagi ketika hidup tidak langsung memberi hasil.Kita sudah berusaha keras,namun tidak ada yang berubah.Sudah mencoba berkali-kali,namun tetap gagal.Sudah mengorbankan banyak hal,namun tetap diremehkan. Dan jujur saja,itu menyakitkan. Ada malam-malam di mana seseorang mulai mempertanyakan dirinya sendiri. “Apa aku benar-benar bisa?” “Apa mimpiku terlalu tinggi?” “Apa aku hanya membuang waktu?” Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala.Ditambah lagi omongan orang lain yang sering kali lebih mudah menjatuhkan daripada mendukung. Ada yang meremehkan. Ada yang menertawakan. Ada yang berkata bahwa mimpimu tidak realistis. Dan semua itu perlahan menguras semangat.Kadang kita ingin menyerah bukan karena tidak mampu. Namun karena terlalu lama berjalan tanpa merasa dihargai. Tapi dengarkan baik-baik: "Semua hal besar selalu dimulai dari sesuatu yang kecil." "Tidak ada bangunan tinggi yang langsung berdiri dalam semalam." "Tidak ada keberhasilan tanpa proses panjang." "Tidak ada orang hebat yang hidupnya selalu mudah." Semua orang yang berhasil pernah berada di titik lelah. Pernah gagal. Pernah diremehkan. Pernah merasa sendirian dalam memperjuangkan mimpinya. Namun mereka tetap berjalan.Dan mungkin,itulah yang membedakan antara mimpi yang mati di tengah jalan dan mimpi yang akhirnya menjadi nyata. Bukan soal siapa paling pintar. Bukan soal siapa paling cepat. Namun siapa yang tetap bertahan ketika semuanya terasa sulit.Karena memperjuangkan mimpi memang membutuhkan keberanian besar. "Keberanian untuk terus mencoba meski belum berhasil." "Keberanian untuk tetap percaya meski belum ada hasil." "Keberanian untuk melangkah meski banyak orang meragukan." Dan tidak semua orang mampu melakukan itu.Mungkin hari ini belum ada yang percaya padamu.Tidak apa-apa.Tidak semua mimpi langsung dimengerti orang lain.Kadang orang hanya percaya pada hasil,bukan perjuangan.Namun jangan sampai keraguan orang lain membuatmu ikut meragukan dirimu sendiri.Karena saat kamu kehilangan percaya pada diri sendiri,di situlah mimpi perlahan mulai mati. Jagalah mimpimu baik-baik. Meskipun kecil. Meskipun sederhana. Meskipun belum terlihat jelas arahnya. Karena mimpi adalah salah satu alasan manusia tetap bertahan. Ada orang yang mampu melewati masa-masa berat hanya karena masih punya sesuatu yang ingin dicapai.Dan itu sangat berarti.Kalau hari ini hidupmu masih jauh dari apa yang kamu inginkan,jangan menyerah dulu.Proses setiap orang berbeda.Ada yang berhasil cepat. Ada yang harus jatuh berkali-kali dulu sebelum akhirnya menemukan jalannya.Dan semuanya tetap berharga.Tidak apa-apa berjalan pelan.Tidak apa-apa gagal berkali-kali.Yang penting,kamu tidak berhenti mencoba. Tetap belajar. Tetap berkembang. Tetap melangkah meski perlahan. Karena sering kali,orang yang akhirnya berhasil bukan orang paling berbakat.Melainkan orang yang terus berjalan bahkan saat dirinya sendiri hampir menyerah. Dan percayalah,mimpi yang terus dijaga dengan sungguh-sungguh akan menemukan jalannya suatu hari nanti. Mungkin tidak hari ini. Mungkin tidak besok. Namun selama kamu masih percaya dan terus bergerak,kemungkinan itu akan selalu ada.Jadi jangan matikan mimpimu hanya karena dunia terlalu sering membuatmu ragu. Sebab siapa tahu, hal besar yang sedang kamu perjuangkan hari ini akan menjadi alasan dirimu bangga di masa depan nanti.

Manusia dan Luka - lukanya

Bab 6 ISTIRAHAT BUKAN BERARTI MENYERAH

Di publikasikan 10 May 2026 oleh Rasa Dalam Kata

Ada masa di mana seseorang terlalu lelah untuk menjelaskan apa yang sedang dirasakannya.Bukan karena tidak ingin bercerita.Namun karena dirinya sendiri sudah bingung harus mulai dari mana. Capek secara fisik. Capek secara mental. Capek karena terlalu lama berpura-pura kuat di depan banyak orang. Dan yang paling melelahkan, kadang kita tetap harus terlihat baik-baik saja meski sebenarnya hati sudah hampir runtuh. Dunia memang sering menuntut manusia untuk terus berjalan. Harus produktif. Harus kuat. Harus cepat bangkit. Harus selalu punya energi untuk mengejar sesuatu. Sampai akhirnya banyak orang lupa bahwa dirinya juga manusia. Bukan mesin. Kita punya batas. Punya rasa lelah. Punya hati yang bisa sesak jika terlalu lama memendam semuanya sendiri.Namun anehnya,istirahat sering dianggap sebagai kelemahan. Kalau berhenti sebentar dianggap malas. Kalau terlihat lelah dianggap tidak mampu. Kalau memilih menenangkan diri dianggap tidak punya semangat hidup. Padahal tidak ada manusia yang bisa terus kuat tanpa jeda.Bahkan langit pun punya waktunya hujan. Laut pun punya ombak tenang dan ombak besar.Jadi kenapa manusia terus memaksa dirinya harus kuat setiap waktu? Tidak semua hari harus produktif. Tidak semua waktu harus dipenuhi pencapaian. Kadang tubuhmu hanya butuh tidur lebih lama. Kadang pikiranmu hanya butuh didengarkan. Kadang hatimu hanya butuh dipeluk oleh dirimu sendiri. Dan itu tidak salah. Kita hidup di dunia yang terlalu sibuk mengejar hasil,sampai lupa bahwa kesehatan hati dan pikiran juga penting. Ada orang yang terlihat sukses,namun diam-diam kehilangan dirinya sendiri. Ada yang terus bekerja tanpa henti,namun setiap malam merasa kosong. Karena manusia bukan hanya butuh uang dan pencapaian.Manusia juga butuh tenang.Butuh merasa cukup. Butuh merasa hidupnya tidak hanya tentang bertahan dari rasa lelah. Kadang istirahat adalah bentuk paling tulus dari mencintai diri sendiri.Karena seseorang yang terus memaksa dirinya tanpa jeda, pada akhirnya akan hancur perlahan.Banyak orang tidak sadar bahwa dirinya sudah terlalu lelah.Mereka tetap berjalan meski hati sudah penuh sesak. Tetap tersenyum meski pikirannya berisik. Tetap membantu orang lain meski dirinya sendiri hampir tenggelam.Dan semua itu perlahan menguras jiwa. Sampai akhirnya satu hal kecil saja mampu membuat seseorang menangis tanpa alasan yang jelas.Bukan karena masalah kecil itu besar.Namun karena dirinya sudah terlalu lama menahan semuanya sendiri.Kalau hari ini kamu merasa lelah,beristirahatlah.Tidak apa-apa. Dunia tidak akan berhenti hanya karena kamu mengambil waktu untuk menenangkan diri.Pergilah sebentar dari hal-hal yang membuatmu sesak. Matikan ponselmu sejenak. Dengarkan lagu favoritmu. Minum minuman hangat. Tidur lebih awal. Lihat langit sore tanpa memikirkan apa pun. Biarkan dirimu bernapas.Karena selama ini mungkin kamu terlalu sibuk bertahan, sampai lupa bagaimana rasanya hidup dengan tenang.Belajarlah memberi ruang untuk dirimu sendiri.Tidak perlu selalu tersedia untuk semua orang.Tidak perlu selalu memaksakan diri terlihat kuat. Kadang mengatakan,“aku lelah”juga bentuk keberanian.Sebab menerima bahwa diri sendiri sedang tidak baik-baik saja bukan kelemahan.Itu adalah bentuk kejujuran paling manusiawi.Jangan merasa bersalah karena memilih istirahat. Kamu tidak malas hanya karena ingin tenang. Kamu tidak gagal hanya karena berjalan lebih pelan. Karena hidup bukan tentang siapa yang paling sibuk.Bukan juga tentang siapa yang paling cepat mencapai semuanya.Namun tentang siapa yang mampu menjaga dirinya tetap utuh di tengah kerasnya hidup. Dan percaya atau tidak,menjaga diri sendiri tetap waras di dunia yang melelahkan ini juga sebuah pencapaian besar.Jadi sembuhkan dirimu perlahan.Tidak perlu buru-buru.Luka tidak selalu harus segera hilang.Beberapa rasa sakit memang membutuhkan waktu untuk benar-benar tenang.Dan itu tidak apa-apa.Karena manusia bukan diciptakan untuk selalu kuat.Manusia juga butuh istirahat.Butuh dipeluk. Butuh merasa bahwa dirinya tidak harus sempurna setiap saat.Kalau hari ini kamu memilih berhenti sebentar untuk bernapas,itu bukan berarti kamu menyerah.Itu berarti kamu sedang belajar bertahan dengan cara yang lebih sehat. Dan itu jauh lebih penting.

Manusia dan Luka - lukanya

Bab 5 JANGAN MEMBANDINGKAN HIDUPMU

Di publikasikan 10 May 2026 oleh Rasa Dalam Kata

Di era sekarang, merasa tertinggal adalah hal yang sangat mudah.Kita membuka media sosial hanya beberapa menit, lalu melihat banyak orang terlihat berhasil menjalani hidupnya. Ada yang sudah punya pekerjaan impian. Ada yang sukses membangun usaha. Ada yang menikah dengan seseorang yang dicintainya. Ada yang hidupnya terlihat tenang, bahagia, dan sempurna. Dan tanpa sadar, kita mulai melihat diri sendiri dengan rasa kurang. “Kenapa hidup mereka lebih baik?” “Kenapa aku masih di titik ini?” “Kenapa semua orang terlihat sudah menemukan jalannya, sementara aku masih bingung?” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu pelan-pelan memenuhi kepala.Kita mulai merasa gagal hanya karena hidup tidak berjalan secepat orang lain.Padahal masalah terbesar manusia bukan selalu tentang kekurangan. Namun tentang terlalu sering membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain.Kita melihat pencapaian mereka, namun tidak melihat perjuangan panjang di baliknya.Kita melihat senyumnya,namun tidak melihat malam-malam ketika mereka hampir menyerah. Karena manusia memang cenderung memperlihatkan bagian terbaik dari hidupnya,dan menyembunyikan bagian paling rapuhnya.Itulah kenapa media sosial sering membuat seseorang merasa hidupnya buruk, padahal sebenarnya semua orang sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Ada orang yang terlihat bahagia,namun diam-diam sedang kehilangan arah. Ada orang yang terlihat sukses,namun setiap malam merasa sangat kesepian. Ada orang yang terlihat kuat,namun sebenarnya sedang bertarung hebat dengan pikirannya sendiri. Kita tidak pernah benar-benar tahu cerita lengkap kehidupan seseorang.Karena itu,membandingkan hidup sendiri dengan hidup orang lain adalah hal yang tidak adil. Setiap manusia lahir dengan jalan hidup yang berbeda. Ada yang sejak kecil hidup berkecukupan. Ada yang harus bekerja keras sejak muda. Ada yang tumbuh dengan dukungan penuh dari keluarga. Ada juga yang harus belajar bertahan sendirian. Dan semua latar belakang itu membentuk perjalanan yang berbeda pula.Tidak semua orang memulai hidup dari titik yang sama. Jadi kenapa harus memaksa hasilnya sama? Kadang kita terlalu keras pada diri sendiri hanya karena merasa tertinggal. Padahal mungkin, kita sudah berjalan sangat jauh dibanding versi diri kita yang dulu.Kita lupa menghargai proses kecil yang berhasil dilewati. Berhasil bangun pagi saat mental sedang buruk juga pencapaian. Berhasil tetap hidup meski hati sedang lelah juga bentuk kemenangan. Namun karena terlalu sibuk melihat hidup orang lain, kita lupa menghargai perjuangan sendiri.Hidup bukan perlombaan siapa paling cepat sukses.Hidup juga bukan tentang siapa yang paling banyak pencapaiannya. Karena pada akhirnya, setiap orang sedang berusaha bertahan dengan caranya masing-masing. Ada yang berjuang untuk keluarga. Ada yang berjuang melawan rasa takut. Ada yang berjuang keluar dari luka masa lalu. Ada yang hanya berusaha agar tidak menyerah hari ini. Dan semua perjuangan itu valid.Jangan merasa dirimu gagal hanya karena jalanmu lebih lambat. "Bunga tidak mekar bersamaan". Namun semua bunga tetap indah ketika waktunya tiba.Begitu juga manusia.Ada yang menemukan jalannya lebih cepat. Ada yang harus tersesat dulu sebelum akhirnya memahami hidup.Dan itu tidak apa-apa.Tidak semua orang harus berhasil di usia muda. Tidak semua orang harus langsung tahu tujuan hidupnya.Kadang hidup memang membutuhkan waktu lebih panjang untuk dipahami.Yang penting bukan seberapa cepat kamu sampai. Namun apakah kamu tetap berjalan tanpa kehilangan dirimu sendiri.Karena ada banyak orang yang terlihat berhasil, namun diam-diam kehilangan ketenangan hidupnya.Ada yang punya segalanya,namun tidak pernah benar-benar bahagia. Jadi jangan ukur hidup hanya dari apa yang terlihat.Beberapa hal paling berharga dalam hidup justru tidak bisa dipamerkan. "Ketenangan". "Keikhlasan". "Kesehatan mental". "Hubungan yang tulus". "Hati yang masih mampu bersyukur". Itu semua jauh lebih penting daripada sekadar terlihat sukses di mata orang lain. Kalau hari ini hidupmu masih terasa lambat,tidak apa-apa. Kalau kamu masih bingung menentukan arah,itu juga tidak apa-apa. Kamu tidak terlambat.Kamu hanya sedang menjalani waktumu sendiri. Tetap berjalan pelan-pelan. Tetap belajar. Tetap mencoba. Karena hidup bukan tentang menjadi seperti orang lain.Namun tentang menjadi versi terbaik dari dirimu sendiri. Dan percayalah, suatu hari nanti kamu akan sadar bahwa perjalananmu yang lambat itu juga sedang membentukmu menjadi seseorang yang kuat.

Manusia dan Luka - lukanya

Bab 4 TENTANG KEHILANGAN

Di publikasikan 10 May 2026 oleh Rasa Dalam Kata

Tidak semua kehilangan datang dengan perpisahan. Ada orang yang masih ada, tapi rasanya sudah jauh. Ada hubungan yang masih berjalan, tapi sudah tidak lagi sama. Kehilangan punya banyak bentuk. Dan sayangnya, manusia sering baru sadar arti sesuatu setelah kehilangannya. Kehilangan seseorang yang dicintai adalah salah satu rasa sakit paling sunyi. Karena setelah itu, hidup tetap berjalan seperti biasa. Matahari tetap terbit. Orang-orang tetap tertawa. Dunia tetap sibuk. Sementara ada bagian dalam diri kita yang terasa kosong. Ada kenangan yang tiba-tiba datang saat mendengar lagu tertentu. Ada rindu yang muncul tanpa alasan. Ada malam-malam di mana kita hanya diam, memikirkan seseorang yang sudah tidak bisa kembali. Dan itu manusiawi. Tidak semua luka harus segera sembuh. Tidak semua kesedihan harus dipaksa hilang. Kadang kita hanya perlu belajar hidup berdampingan dengan rasa kehilangan. Karena beberapa orang memang tidak ditakdirkan tinggal selamanya. Mereka datang untuk memberi pelajaran. Mengajarkan arti sayang. Mengajarkan arti ikhlas. Mengajarkan bagaimana rasanya mencintai dan melepaskan. Melepaskan bukan berarti tidak peduli. Kadang melepaskan adalah bentuk cinta paling dewasa. Dan suatu hari nanti, kamu akan belajar bahwa tidak semua yang pergi membawa kehancuran. Beberapa kepergian justru mengajarkan kita cara bertahan.

Manusia dan Luka - lukanya

Korban-korban malam

Di publikasikan 10 May 2026 oleh Obsi·dian

Kami berlima adalah korban dari malam hari. Bukan malam yang menakutkan, bukan pula malam yang penuh dosa. Malam kami dulu adalah malam yang syahdu, malam yang berbau dupa dan lafaz, malam yang ditegakkan di atas sajadah lusuh dan keikhlasan yang masih murni. Sehabis sholat isya, ketika langit kampung sudah gelap seperti kain batik yang dilipat rapat-rapat, kami berlima duduk bersila di bawah lampu masjid yang berderak pelan ditiup angin. Di sanalah kami, lima pemuda dengan sarung dan kopiah, melafalkan zikir seperti orang-orang yang sungguh-sungguh percaya bahwa Tuhan sedang mendengarkan. Pak Ustadz selalu pulang lebih dulu. Ia mengendarai motor tuanya yang selalu berderit di tikungan pertama, meninggalkan kami dengan cahaya remang dan suara jangkrik yang seperti ikut berzikir dari balik semak. Jarum jam baru akan menyentuh angka sembilan ketika kami akhirnya berdiri, mengibaskan sarung, lalu berjalan pulang masing-masing ke rumah yang tidak terlalu jauh satu sama lain. Warga kampung mengenal kami dengan sebutan yang membuat dada terasa hangat didengarnya: para pemuda masjid. Banyak dari kami lulusan pesantren yang letaknya tidak seberapa jauh dari tanah kelahiran, dua jam naik angkot lalu disambung ojek melewati jalan yang belum diaspal. Kata warga, kehadiran kami membuat kampung terasa syahdu. Seolah-olah kampung itu sebuah lagu, dan kami adalah not yang membuatnya tidak sumbang. "Ikatan mereka luwih kenthel tinimbang getih," begitu kata Bu Rohani, penjual nasi uduk di ujung gang, setiap kali ditanya tentang kami. Dan memang begitulah rasanya. Suka maupun duka kami tanggung bersama, seperti para petani yang bergotong-royong membawa gabah basah dari sawah. Tidak ada yang ketinggalan. Tidak ada yang ditinggal. Hingga suatu pagi di bulan Maret, salah satu dari kami mengumumkan berita yang membuat empat orang lainnya terdiam cukup lama sebelum akhirnya bertepuk tangan. Fiki namanya, pemuda yang tubuhnya selalu berbau tanah dan jerami karena sering membantu Pak Ajak mengarit padi di sawah sejak kelas dua SMP. Ia tidak banyak bicara, tapi kalau berbicara selalu tepat sasaran. Ia tidak punya banyak mimpi, tapi mimpi yang ia punya dijaganya seperti menjaga bara di tungku supaya tidak padam sebelum air mendidih. Tawaran itu datang lewat perantaraan adik sepupu dari ustadz mereka di pesantren, seorang pria asal Tegal yang sudah lima tahun bekerja sebagai mandor di sebuah pabrik tekstil terkemuka di pinggiran Jakarta. Katanya, pabrik itu sedang butuh tenaga baru. Katanya, gajinya lumayan. Katanya, kalau rajin dan tidak banyak ulah, dalam dua tahun sudah bisa naik jabatan. Fiki tidak perlu waktu lama untuk memutuskan. Pak Ajak, ayahnya, sudah mulai sering batuk-batuk di malam hari. Sawahnya sempit, hasilnya tidak seberapa, dan biaya dokter di kota terus naik setiap tahunnya. Fiki yang baru dua puluh dua tahun itu memandang Jakarta seperti memandang pintu yang sudah terbuka setengah, dan bodoh rasanya bila tidak masuk. Maka pada suatu Selasa pagi, kami berlima menaiki sebuah mobil bak terbuka milik Pak Sarkawi yang dipinjam tanpa ongkos, mengantar Fiki ke halte bus di kecamatan. Angin pagi mengibar-ngibarkan baju kami. Fiki duduk di antara kami dengan satu koper besar warna hijau tua yang kuncinya sudah diganjal lakban karena agak rusak. Di dalam koper itu ada beberapa helai baju, satu sarung terbaik, satu Al-Quran kecil, dan impian yang belum punya bentuk tapi sudah punya nama. "Mengko nek Lebaran ojo lali mulih, To. Sesuk awak dewe dolanan maneh koyok biasane," kata Anto sambil menepuk pundak Fiki. Matanya berkaca-kaca tapi ia pura-pura melihat ke arah lain. "Iyo, paling rong tahun yo wis balik," kata Fiki sambil tersenyum. "Nek Gusti Allah kerso." Beberapa warga yang kebetulan melintas ikut berhenti, ikut melambaikan tangan, ikut merasa seperti sedang menyaksikan sesuatu yang penting. Dan memang itu penting. Karena dalam hidup orang-orang kampung kecil, kepergian seorang pemuda yang berani bermimpi selalu terasa seperti sebuah doa yang sedang dikirim ke langit, dengan harapan kembali dalam wujud yang lebih baik. Bus itu akhirnya datang. Fiki naik. Pintu ditutup. Dan kami berlima pulang ke masjid, meneruskan zikir seperti biasa, seolah-olah tidak ada yang berubah. Padahal sesuatu sudah mulai berubah. Kami hanya belum tahu. Dua tahun pertama, kabar tentang Fiki masih mengalir dengan lancar seperti air got setelah hujan. Ia bilang sudah dapat kontrakan sempit tapi cukup bersama dua teman sekampung lainnya. Ia bilang gajinya lumayan. Ia bilang akan kirim uang bulan depan. Dan memang ia kirim. Pak Ajak sempat kelihatan lebih segar. Sawahnya tidak dijual, batuk-batuknya berkurang, wajahnya sedikit berisi. Warga yang tadinya khawatir mulai bernapas lega. "Nah, iku Fiki. Bocah sing bener," kata Bu Rohani suatu pagi. "Ora koyok anake si Parno sing minggat nang Surabaya terus ora ana kabare." Tapi memasuki tahun ketiga, sesuatu mulai terasa tidak beres. Seperti bau got yang muncul dari arah yang tidak terduga. Kiriman uang dari Fiki mulai jarang, lalu terlambat, lalu berhenti sama sekali. Pak Ajak yang tadinya mulai membaik kembali terlihat murung. Ia mulai sering duduk di beranda sambil memeluk lutut, memandang ke arah jalan seolah menunggu sesuatu yang tidak pernah datang. Rambutnya menipis, pipinya kempot, kemejanya satu ukuran terlalu longgar. Kemudian mulailah desir kabar itu beredar dari mulut ke mulut, dari warung ke warung, dari sumur ke sumur. "Pak Ajak mau esuk neng omahe Bu Yati. Nyilih dhuwit." "Neng omahe Pak Carik uga jarene, isin-isin tapi nagih terus." "Loh, Fiki kerjo neng pabrik, masa ora cukup nggo mangan?" Pihak pesantren akhirnya ikut turun tangan mencoba menghubungi Fiki melalui saluran apapun yang bisa dijangkau: telepon wartel, pesan titip lewat kenalan di Jakarta, bahkan surat. Tidak ada yang dibalas. Yang datang hanya kesunyian, dan kesunyian itu lebih berisik dari apapun. Memasuki tahun keempat, Pak Ajak mulai melakukan hal-hal yang membuat warga kampung mengerutkan dahi. Ia menggadaikan sawah. Kendaraan satu-satunya, sebuah sepeda motor bebek tahun delapan puluh sembilan yang knalpotnya sudah bolong, ikut digadaikan. Bahkan sertifikat tanah tempat rumahnya berdiri, tanah yang sudah diwariskan turun-temurun sejak zaman kakeknya, ikut diserahkan kepada seorang rentenir bernama Pak Gono yang tinggal dua kecamatan sebelah. Dan hal yang paling membuat orang-orang menggelengkan kepala adalah ini: sebagian besar uang dari hasil gadai itu dikirimkan kepada Fiki di Jakarta. Seorang ayah yang sedang sekarat mengirimkan uangnya kepada anak yang pergi untuk mencari uang. Ada logika apa di balik itu, tidak ada yang bisa menjawab. Anto pernah mendatangi Pak Ajak pada suatu sore, membawakan sebungkus roti dan niat untuk bertanya baik-baik. Pak Ajak hanya duduk memandangi lantai semen, matanya kosong seperti ember yang sudah lama tidak diisi. "Dheweke butuh dhuwit, To," kata Pak Ajak akhirnya, dengan suara yang parau. "Ora ngerti nggo opo. Tapi dheweke butuh." "Butuh nggo opo, Pak? Dheweke kan kerjo." Pak Ajak hanya menggeleng pelan. Dan dari cara ia menggeleng, Anto tahu bahwa orang tua itu sebenarnya sudah tahu jawabannya. Hanya saja jawaban itu terlalu berat untuk diucapkan oleh mulut seorang ayah. Fiki pulang dua minggu sebelum Lebaran tahun 2006, tepatnya pada hari Selasa sore ketika langit kampung sedang mendung rendah dan udara berbau petrichor. Tidak ada yang menjemput. Tidak ada mobil bak terbuka kali ini. Tidak ada tepuk tangan. Ia berjalan kaki dari halte bus, menyeret koper hijau tua yang kuncinya masih diganjal lakban, sama persis seperti lima tahun lalu. Hanya saja isinya sudah berbeda. Dan orangnya juga sudah berbeda. Yang pulang itu bukan Fiki yang pergi. Yang pulang adalah tubuh yang meminjam nama Fiki, tubuh yang kurus seperti batang jagung di musim kering, dengan mata yang kemerahan dan sorot yang susah difokuskan pada satu titik terlalu lama. Kulitnya yang dulu sawo matang sehat kini terlihat abu-abu, pucat dengan noda-noda kecil di sana-sini. Dan di sepanjang lengan kirinya, berjejer bekas suntikan seperti titik-titik pada peta jalan menuju kehancuran. Warga yang menyaksikan kepulangannya dari depan rumah masing-masing tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Ada yang masuk ke dalam dan menutup pintu pelan-pelan. Ada yang tetap berdiri tapi membuang muka. Ada yang berbisik kepada pasangannya dengan telapak tangan menutupi mulut. "Innalillahi," terdengar seseorang berucap lirih. Fiki tidak memandang siapapun. Ia berjalan lurus ke rumahnya seperti orang yang tahu ia sedang dilihat tapi sudah tidak peduli lagi dengan pandangan orang. Berna adalah yang pertama kali mencoba mendekatinya. Ia datang ke rumah Pak Ajak pada sore ketiga setelah kepulangan Fiki, membawa niat yang tulus dan kekhawatiran yang sudah tidak bisa ia tahan. Mereka duduk di ruang tamu yang lampunya cuma satu dan agak redup, ditemani suara cicak di dinding dan bau kapur barus yang menyengat. "Fik, loh kok awakmu dadi ngene?" kata Berna, dan dalam pertanyaan itu tersimpan lima tahun kerinduan yang sekarang berubah wujud menjadi luka. Fiki tidak langsung menjawab. Ia duduk dengan punggung agak membungkuk, jari-jarinya mengetuk-ngetuk lutut dalam irama yang tidak beraturan. Kemudian ia tersenyum, senyum yang tidak sampai ke mata, senyum yang terasa seperti topeng yang dipasang terlalu tergesa-gesa sehingga tidak pas betul di wajahnya. "Ber," katanya akhirnya, suaranya serak seperti daun kering yang diinjak, "aku sejatine duwe dhuwit akeh. Akeh banget malah." Berna menunggu. Fiki merogoh saku celana dan mengeluarkan sebuah plastik klip kecil, isinya daun kering yang digulung-gulung tidak beraturan. Ia meletakkannya di meja di antara mereka berdua seperti orang yang sedang menawarkan dagangan. "Carane aku dodolan iki. Tinimbang ngurusi sawah sing hasile ora sepiro, mending mbantu aku dodolke barang iki. Lumayan, Ber. Serius." "Iki opo, Fik?" tanya Berna, mengerutkan dahi. "Tembakau," jawab Fiki ringan. "Tapi enak tenan cok. Bedo karo rokok biasa." Ia memelintir satu selinting dan menyodorkannya kepada Berna. Berna seharusnya pergi. Seharusnya berdiri, menggeleng, dan pergi. Seharusnya ia teringat pada suara mereka berlima yang melafalkan zikir di bawah lampu masjid, pada angin malam yang dulu terasa seperti berkah, pada Pak Ustadz yang selalu berpamitan lebih dulu dengan lambaian tangan. Tapi Berna tidak pergi. Ia menerima rokok itu. Menghisapnya. Dan dalam sekejap, pikirannya dibawa ke suatu tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Tempat yang terasa ringan dan hangat dan tidak ada masalah di dalamnya. Tempat yang berbahaya justru karena terasa nyaman. "Iyo," kata Berna setelah lama diam. Hanya itu. Satu kata. Dan satu kata itu sudah cukup untuk memulai segalanya. Fiki dan Berna mengajak yang lainnya satu per satu. Caranya halus, tidak tergesa-gesa, seperti air yang meresap perlahan ke dalam tanah kering. Tidak ada paksaan. Tidak perlu ada. Karena yang paling berbahaya bukan yang memaksa, melainkan yang menawarkan dengan senyum dan menunggu penderitaan bekerja sendiri. Dan tanpa mereka sadari, sebuah kerajaan kecil telah berdiri di antara lahan-lahan kosong dan kebun singkong di ujung kampung. Bukan kerajaan yang megah. Hanya sepetak tanah dengan beberapa orang yang duduk bersila, tapi kali ini bukan di atas sajadah, melainkan di atas tanah lembab dengan botol minuman di tangan dan asap yang mengambang di antara mereka seperti kabut yang tidak tahu ke mana harus pergi. Lima pemuda yang dulu dikenal sebagai para pemuda masjid itu kini lebih sering nongkrong di kebun daripada di serambi masjid. Pak Ustadz masih mengendarai motor tuanya setiap malam. Masih berderit di tikungan yang sama. Tapi kali ini ia tidak meninggalkan siapapun di masjid. Karena masjid itu sudah kosong sebelum ia pergi. Lampu masjid yang dulu menyinari wajah-wajah mereka yang berzikir kini menyala sendirian, seperti lilin di ruangan yang sudah tidak ada orangnya. Anto masih kadang-kadang melewati masjid itu kalau pulang malam. Ia berhenti sebentar di depan pintunya. Memandangi lampu yang masih menyala. Mendengarkan kesunyian yang dulu ramai. Pernah sekali ia masuk, duduk di tempat yang biasa ia duduki dulu, meletakkan telapak tangan di atas lutut, mencoba mengingat lafaz zikir yang sudah lama tidak ia ucapkan. Tapi tenggorokannya terasa mampet. Kata-katanya tidak keluar. Seolah ada sesuatu yang menyumbatnya dari dalam. Ia duduk di sana cukup lama, sendirian, di bawah lampu yang sama. Dan lampu itu tetap menyala, seperti biasa. Seperti sedang menunggu. Seperti tidak pernah menyerah untuk menunggu. Tapi tidak ada yang datang. Itulah yang paling menyakitkan, bukan tentang orang-orang yang jatuh. Melainkan tentang cahaya yang tidak pernah padam, tapi tidak lagi ada yang butuh melihatnya

Korban-korban malam

Bab 3 BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI

Di publikasikan 10 May 2026 oleh Rasa Dalam Kata

Salah satu hubungan paling sulit dalam hidup adalah hubungan dengan diri sendiri. Kita bisa memaafkan orang lain, tapi sulit memaafkan diri sendiri. Kita mengingat kesalahan bertahun-tahun lalu. Menyesali keputusan yang pernah diambil. Membenci diri karena tidak menjadi seperti yang diharapkan. Dan tanpa sadar, kita menjadi musuh bagi diri sendiri. Padahal manusia memang tempat salah. Tidak ada orang yang hidup tanpa pernah membuat kesalahan. Masalahnya bukan pada kesalahannya. Masalahnya adalah ketika kita terus menghukum diri sendiri karenanya. Berdamai dengan diri sendiri bukan berarti membenarkan semua kesalahan. Namun menerima bahwa masa lalu tidak bisa diubah, dan satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah belajar darinya. Ada banyak orang yang terlihat kuat di luar, tapi diam-diam lelah karena terus berusaha menjadi sempurna. Padahal tidak ada manusia yang benar-benar sempurna. Kamu tidak harus selalu kuat. Tidak harus selalu terlihat baik. Tidak harus selalu memenuhi ekspektasi semua orang. Kadang hidup menjadi berat karena kita terlalu sibuk berusaha diterima. Sampai lupa menerima diri sendiri. Belajarlah berkata: “Aku memang belum sempurna, tapi aku sedang bertumbuh.” Karena proses menjadi lebih baik tidak pernah instan. Ada luka yang sembuhnya lama. Ada trauma yang tidak mudah hilang. Ada rasa kecewa yang masih tertinggal. Namun perlahan, semuanya bisa membaik jika kamu berhenti membenci dirimu sendiri. Mulailah menghargai hal-hal kecil tentang dirimu. Cara kamu bertahan. Cara kamu tetap hidup meski sering merasa lelah. Cara kamu tetap mencoba meski berkali-kali gagal. Itu semua juga bentuk kekuatan.

Manusia dan Luka - lukanya

Bab 2 KEGAGALAN BUKAN AKHIR

Di publikasikan 10 May 2026 oleh Rasa Dalam Kata

Setiap orang pasti pernah gagal. Entah gagal dalam hubungan, pekerjaan, persahabatan, atau mimpi yang sudah diperjuangkan bertahun-tahun. Dan tidak semua kegagalan terasa biasa. Ada kegagalan yang menghancurkan rasa percaya diri. Ada kegagalan yang membuat seseorang mempertanyakan dirinya sendiri. “Kenapa aku selalu gagal?” “Apa aku memang tidak cukup baik?” Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul diam-diam di malam hari. Padahal sebenarnya, kegagalan bukan tanda bahwa hidupmu selesai. Kegagalan adalah bagian dari proses. Tidak ada orang hebat yang hidupnya selalu mulus. Setiap orang sukses pasti pernah jatuh. Bedanya, mereka memilih bangkit lagi. Kadang kita terlalu takut gagal sampai akhirnya tidak berani mencoba. Padahal penyesalan terbesar bukan tentang gagal. Melainkan tentang tidak pernah mencoba sama sekali. Bayangkan kalau bayi menyerah saat pertama kali jatuh ketika belajar berjalan. Mungkin sampai sekarang ia tidak akan pernah bisa berdiri. Hidup juga seperti itu. Jatuh bukan masalah. Yang berbahaya adalah ketika kita memutuskan berhenti. Kamu boleh kecewa. Boleh sedih. Boleh menangis. Tapi jangan biarkan satu kegagalan membuatmu lupa bahwa kamu masih punya masa depan. Kadang jalan hidup memang memutar. Kadang Tuhan menunda sesuatu karena ada hal yang perlu dipersiapkan. Dan sering kali, kita baru memahami alasan di balik semua rasa sakit setelah semuanya berlalu. Karena itu, jangan buru-buru menyerah hanya karena satu pintu tertutup. Mungkin hidup sedang mengarahkanmu ke pintu yang lebih tepat.

Manusia dan Luka - lukanya

Bab 1 HIDUP TIDAK SELALU ADIL

Di publikasikan 10 May 2026 oleh Rasa Dalam Kata

Sejak kecil kita diajarkan bahwa jika kita menjadi orang baik, hidup akan berjalan baik juga. Kalau kita rajin, kita akan berhasil. Kalau kita sabar, semuanya akan indah pada waktunya. Tapi semakin dewasa, kita mulai sadar bahwa hidup tidak sesederhana itu. Ada orang yang sudah berjuang mati-matian, tapi tetap gagal. Ada orang yang jujur, tapi justru sering dimanfaatkan. Ada orang yang tulus, tapi malah ditinggalkan. Dan di titik tertentu, kita mulai bertanya: “Kenapa hidup seberat ini?” Kita melihat orang lain terlihat bahagia. Mereka tertawa, jalan-jalan, punya pasangan yang baik, pekerjaan bagus, keluarga harmonis. Sedangkan kita masih sibuk melawan pikiran sendiri. Kadang rasanya dunia pilih kasih. Namun satu hal yang perlu dipahami: setiap manusia membawa bebannya masing-masing. Orang yang terlihat paling bahagia pun belum tentu benar-benar baik-baik saja. Beberapa orang hanya pandai menyembunyikan luka. Kita hidup di zaman di mana semua orang memperlihatkan senyumnya, tapi menyimpan tangisnya rapat-rapat. Karena itu, jangan terlalu cepat iri pada kehidupan orang lain. Kamu hanya melihat cuplikan hidup mereka, bukan seluruh ceritanya. Hidup memang tidak selalu adil. Tapi hidup juga tidak selalu kejam. Ada banyak hal yang mungkin belum kamu sadari: beberapa kegagalan menyelamatkanmu dari jalan yang salah. Beberapa kehilangan membuatmu lebih kuat. Dan beberapa rasa sakit diam-diam membentuk dirimu menjadi seseorang yang lebih dewasa. Kadang kita terlalu fokus pada apa yang hilang, sampai lupa menghargai apa yang masih kita punya. Kamu mungkin belum punya hidup sempurna. Tapi kamu masih punya kesempatan. Masih punya waktu. Masih punya harapan. Dan selama itu masih ada, semuanya belum selesai.

Manusia dan Luka - lukanya

Chapter 1 - After Holiday

Di publikasikan 08 May 2026 oleh felcia naura izzati

Ruang kelas yang dipenuhi cahaya yang masuk dari jendela memantul ke meja-meja yang bersih. Suara tawa teman-teman yang mengisi lorong sekolah bercampur dengan suara langkah kaki murid-murid yang baru datang ke sekolah. Udara pagi itu lumayan sejuk, untungnya Vellyne, anak kelas 12 itu memakai cardigan soft pink di tubuhnya yang langsing. Aroma bubur ayam di kantin sekolah yang mengalir di udara membuat perut Vellyne keroncongan karena belum sempat sarapan. Vellyne melangkah masuk kelas, disambut dengan ketiga temannya, yaitu Aurora, Zeva, dan Yoona. Vellyne melihat ke belakang tempat duduknya, dan Elvano sedang tidur. Ini anak tidur mulu tapi ranking satu. Ucap Vellyne dalam hati “Vell, kemarin liburan ke mana aja?” tanya Yoona. “Ga ke mana-mana, cuma di rumah doang,” jawab Vellyne. “Sama dong kita,” potong Aurora. “Emang kamu ngapain aja, Ra, di rumah?” tanya Zeva. “Scroll TikTok, hehe” jawab Aurora sambil menahan tawa kecil. “Beda dong, Yon. Kamu males-malesan, aku bantuin beresin rumah” kata Vellyne dengan nada sombong. “Hahaha.” Tawa Vellyne dan Zeva membuat Aurora malu. “Eh, by the way, Vell. Kamu ga nge-date tuh sama si itu?” tanya Aurora sambil mengedipkan mata. Hah? Siapa? Kata Vellyne dalam hati, kebingungan. “Itulah si Elvano,” celetuk Zeva dengan nada tinggi, membuat Vellyne merasa jijik. Duh, semoga Vano ga denger deh. Males banget soalnya kalo udah berurusan sama manusia itu. Vellyne berharap sekali Elvano, musuhnya itu, tertidur pulas sehingga tidak mendengar percakapan teman-temannya. Tiba-tiba… “Kayak ada yang ngomongin gua,” celetuk Elvano sambil mengangkat kepalanya dari meja. “Lu ngomongin gua, Vel?” Tanya Elvano, membuat Vellyne terkejut dan spontan menoleh ke belakang. “Apaan sih? Orang Aurora yang nyebut nama lu, Van,” ucap Vellyne dengan kesal. “Alah, bilang aja lu kangen sama gua, kan,” sahut Elvano dengan nada sombong sambil mengangkat alisnya. “Ewh, disgusting,” celetuk Vellyne.  🔔 Kring! Bel berbunyi. Siswa-siswi berhamburan masuk kelas dan duduk di tempatnya masing-masing. Semua murid menyiapkan buku matematika karena itu adalah pelajaran jam pertama. “Halo, anak-anak. Apa kabar semuanya?” Sapa Bu Guru. “Baik, Bu,” Jawab murid-murid. “Oke, karena hari ini adalah hari pertama kalian masuk ke semester baru setelah dua minggu libur, Ibu mau kalian membuat kelompok ya,” Jelas Bu Guru. Salah satu murid mengangkat tangan, lalu ditunjuk oleh Bu Guru. “Bu, pemilihan kelompoknya bebas atau dipilih, Bu?” Tanya siswa tersebut. “Hmm,” Bu Guru berpikir sebentar. “Spin aja ya, nggak usah ribet.” Situs spin itu mulai berputar. Vellyne memandang ke arah layar dan melihat kelompok keluar satu per satu. Sampai akhirnya, satu nama muncul tepat di dalam kelompoknya—menjadi sasaran penglihatan Vellyne. Dan yap, itu Elvano. Mata Vellyne terbelalak, tidak percaya pada nama yang muncul tepat di samping namanya. "What?! Dari sekian banyak nama di kelas ini, kenapa harus si bocah ngeselin itu yang masuk kelompok aku?!" kritik Vellyne dalam hati dengan sangat kesal. “Anak-anak bisa langsung duduk bersama kelompoknya, ya,” perintah Bu Guru. Vellyne bergegas menuju meja kelompoknya agar tidak duduk dekat si bocah Elvano itu. Namun, saat ia sampai di meja kelompoknya… ternyata hanya tersisa satu kursi. Dan kursi itu berada tepat di samping Elvano. “Cepet duduk.” suruh Elvano dengan suara pelan. Ia memang dikenal sebagai cowok yang cool, tapi tidak jika berhadapan dengan musuhnya—Vellyne. Vellyne mendecak pelan. Ia menarik kursinya kasar lalu duduk sejauh mungkin dari Elvano. “Gue juga nggak mau duduk sebelah lo,” gumamnya. “Ya, syukur” balas Elvano singkat tanpa menoleh. Vellyne mendecak pelan. Ia menarik kursinya kasar lalu duduk sejauh mungkin dari Elvano. Kerja kelompok pun dimulai, sampai di tengah-tengah diskusi..  Aduh… sakit banget, batin Vellyne sambil memegangi perutnya pelan. Ia membungkuk di kursinya, berharap rasa sakitnya sedikit berkurang. Di sampingnya, Elvano sempat melirik sekilas ke arah Vellyne yang terlihat pucat. Vellyne yang sadar dirinya diperhatikan langsung menoleh kesal. “Apa lo?” ketusnya. elvano hanya diam lalu kembali fokus menulis di bukunya, seolah tidak terjadi apa-apa. “Perut gue sakit banget.” Ujar Vellyne Elvano mendengar itu, tetapi ia tetap tidak menggubris nya  — Jam istirahat pun telah tiba 🔔 — Para siswa berhamburan menuju kantin, tetapi tidak dengan Vellyne. Ia tetap membungkuk di kursinya sambil memegangi perutnya, walaupun ketiga sahabatnya sudah membujuknya pergi ke kantin. “Vell, ayolah ke kantin. Jangan diem terus di sini,” ucap para sahabatnya. Vellyne sudah sangat lemas. Untuk berbicara saja hampir tidak kuat, apalagi berdiri dan berjalan. Tanpa disangka, Elvano tiba-tiba masuk ke kelas sambil membawa dua bungkus bubur ayam. Lelaki itu berjalan mendekati Vellyne dan duduk di kursi tepat di sebelahnya—kursi Zeva. “Makan dulu,” ucap Elvano cuek. “Gausah sok peduli.” ucap Vellyne "Jangan geer, tadi abangnya ngelamun jadi dibikinin 2"  "Alasan" kata Vellyne "Oh lo gamau? Yaudah gue kasih ke yang lain" "EH JANGAN" Teriak Vellyne, lalu ia memakan bubur itu dengan lahap  "Lo udah makan aja, mana terimakasih nya? " Tanya Elvano "Oh hehe makasih" Lalu, Vellyne memakan seporsi bubur itu dengan lahap. Elvano pun ikut memakan seporsi bubur miliknya. Saat mereka sedang asyik makan, tiba-tiba ketiga teman Vellyne masuk ke kelas. Mereka terkejut melihat dua musuh itu makan bersama. “SERIUS NIH? SEORANG ELVANO LAGI MAKAN BARENG VELLYNE?!” ucap salah seorang teman Vellyne dengan wajah sangat terkejut. “Wow, cie cie, ekhm,” Zeva menimpali. Vellyne langsung tersedak. Ia menepuk-nepuk dadanya pelan, lalu menatap Zeva dengan tatapan tajam. “Apaan sih, diem, nggak! Ini kebetulan doang, kalo perut gue lagi ga sakit juga gue ga nerima” ucapnya kesal. Elvano melirik sekilas, lalu kembali memakan buburnya. “Tenang aja, gue cuma makan sebentar” ucapnya datar. “Kebetulan, tapi kok makannya samping-sampingan?” Yoona menyahut dengan wajah curiga. Ih, ogah banget juga samping-sampingan sama bocah ini. Tapi karena laper, ya mau gimana lagi. Terima aja, batin Vellyne. Tak lama kemudian, Elvano pergi ke arah tempat duduknya, meninggalkan mereka. Vellyne menatap punggung Elvano. Ia merasa lega karena sudah tidak duduk bersama Elvano. 

Lowkey, It's You

Chapter II - Ruang yang Menghafal Pulang

Di publikasikan 04 May 2026 oleh Neo Paradox

Yang pertama kali mereka dengar dari dalam ruangan itu bukan suara mesin besar, bukan printer dokumen, bukan pula dengung brankas elektronik seperti di film-film kriminal. Melainkan bunyi kecil. Tik. Tik. Tik. Pelan, teratur, dingin. Seperti jantung yang sedang dipaksa tetap hidup. Gia berdiri paling dekat dengan pintu. Wajahnya yang tadi penuh ketegangan mendadak berubah kosong. Ia sudah menyiapkan diri untuk melihat sesuatu yang menghancurkan. Foto wanita simpanan. Surat cerai. Dokumen utang. Apapun yang bisa menjelaskan kenapa ayahnya berubah menjadi orang asing di rumah sendiri. Tapi ruangan itu tidak seperti ruang rahasia seorang pria kaya yang sedang menyembunyikan dosa. Ruangan itu lebih mirip… museum kecil. Museum tentang mereka. Lampu kuning remang-remang menggantung di tengah langit-langit, cahayanya jatuh lembut ke lantai kayu yang bersih sekali. Tidak ada bau pengap. Tidak ada aroma parfum perempuan asing. Tidak ada asap rokok mahal atau minuman keras. Yang ada hanya bau kayu mahoni, kertas lama, dan sedikit wangi minyak kayu putih. Di dinding sebelah kiri, foto-foto keluarga Narendra tertempel rapi. Bukan foto resmi yang biasa dipajang di ruang tamu, bukan foto studio dengan senyum kaku dan baju senada. Ini foto candid. Foto yang diambil diam-diam. Dian sedang menyiram anggrek di balkon belakang. Arka tertidur di sofa dengan jas masih melekat di badan, berkas kerja berserakan di dadanya. Gia duduk sendirian di tangga, memeluk lutut sambil menatap jendela. Kenan kecil, umur mungkin tujuh tahun, duduk di lantai sambil membongkar remote TV. Lani, dengan rambut dicepol asal, membawa semangkuk sup ke ruang makan. Di bawah setiap foto, ada tulisan tangan Rendra. Bukan tulisan besar dan tegas seperti tanda tangan kontrak. Tulisan itu kecil. Rapi. Sedikit gemetar. Gia maju satu langkah. Di bawah fotonya sendiri, tertulis: “Gia kalau bilang ‘nggak apa-apa’, biasanya sedang sangat apa-apa. Jangan selesaikan masalahnya dulu. Dengarkan.” Gia menutup mulutnya. Matanya langsung berkaca-kaca. “Ini apa, sih…” bisiknya. Arka tidak menjawab. Matanya bergerak cepat menyapu ruangan, seperti sedang mencari celah kebohongan. Naluri pengacaranya masih aktif. Ia tidak mau kalah oleh rasa haru yang terlalu cepat datang. “Jangan langsung baper,” katanya pelan, meski suaranya sendiri terdengar tidak stabil. “Ini bisa aja… kamuflase.” “Kamuflase apaan, Ar?” Gia menoleh, tersinggung. “Foto gue nangis di tangga buat kamuflase?” Arka mengabaikan Gia. Ia berjalan ke sisi ruangan lain. Di sana ada meja kerja besar. Di atasnya tersusun beberapa benda aneh: sebuah metronom digital kecil yang bergerak pelan, alat perekam suara, kamera yang menghadap kursi tunggal, tumpukan kartu berwarna, dan sebuah buku tebal bersampul hitam. Bunyi tik… tik… tik… berasal dari metronom itu. Kenan mendekat lebih dulu. “Jadi suara getaran yang gue denger waktu itu…” Ia menyentuh metronom dengan hati-hati. “Bukan mesin. Ini alat latihan ritme.” “Latihan apa?” tanya Lani, suaranya mengecil. Kenan tidak langsung menjawab. Di depan kursi tunggal itu ada cermin besar. Pada pinggir cermin, tertempel kertas-kertas kecil. Kenan membaca salah satunya. “Latihan tersenyum tanpa terlihat marah.” Ia membaca lagi. “Latihan bilang: ‘Ayah bangga sama kamu’ tanpa terdengar seperti evaluasi kerja.” Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit. Gia menangis, tapi kali ini tidak bersuara. Tangannya meremas ujung lengan bajunya. Ia memandangi cermin itu seolah baru pertama kali melihat ayahnya dari sisi yang sama sekali lain. Ayah mereka, Rendra Narendra, pria yang selama ini terlihat seperti dinding beton, ternyata berdiri di depan cermin ini untuk belajar tersenyum. Belajar memeluk. Belajar terdengar seperti ayah. Arka membuka buku hitam di atas meja. Halaman pertama berisi tulisan besar: “HAL-HAL YANG TIDAK BOLEH SAYA LUPA.” Di bawahnya ada daftar. “Dian suka teh melati hangat tanpa gula saat sakit kepala.” “Arka tidak suka dikasihani. Kalau ia marah, jangan dilawan keras. Ia sedang takut.” “Gia butuh disentuh bahunya saat sedih. Jangan bilang dia berlebihan.” “Kenan sering pura-pura santai. Anak ini paling pandai menghilang di rumah sendiri.” “Lani sering terlihat ikut campur, tapi sebenarnya ia ingin keluarga ini tetap bicara.” Lani yang dari tadi berusaha menjadi paling tenang, mendadak menarik napas pendek. Kalimat terakhir itu seperti menamparnya pelan, tapi tepat di tempat yang selama ini ia sembunyikan. “Dia… nulis tentang gue juga?” gumamnya. Arka menutup buku itu terlalu cepat. “Cukup.” Gia menoleh tajam. “Kenapa cukup?” “Karena ini aneh,” jawab Arka. Kali ini suaranya lebih keras. “Ayah nggak pernah begini. Dia nggak sentimental. Dia nggak bikin scrapbook keluarga kayak anak SMA galau. Ada alasan kenapa dia bikin ruangan ini, dan alasan itu pasti nggak sesederhana ‘Ayah sebenarnya sayang’.” Kenan diam. Ia melihat ke arah komputer di sudut ruangan. Komputer itu sedikit tertutupi debu, Kenan kemudian menyalakan komputer tersebut, selang beberapa menit kemudian layar komputer tersebut menampilkan logo Windows XP dengan kontras layar agak sedikit redup seperti baru saja bangun dari tidur. Pada layar, ada tampilan folder dengan satu nama besar. “RENDRA MEMORY VAULT.” Kenan menelan ludah. “Guys…” Semua menoleh. Di layar itu, ada banyak folder dengan nama-nama yang membuat punggung mereka dingin. DIAN. ARKA. GIA. KENAN. LANI. KALIMANTAN. SEBELUM 59. JANGAN DIBUKA TANPA DIAN. Arka langsung mendekat. “Nah. Itu dia.” “Ar, jangan sembarangan,” cegah Gia. “Udah telanjur, Gia.” Arka menggerakkan mouse. “Kita udah masuk ke ruangan ini. Sekarang jangan sok suci setengah jalan.” Kenan menahan tangan Arka. “Kak, tunggu.” Arka menatap adiknya. “Ken, kita bukan lagi main tebak-tebakan. Kalau Ayah sakit, kita harus tahu. Kalau Ayah bangkrut, kita harus tahu. Kalau Ayah nyembunyiin sesuatu yang bisa hancurin keluarga ini, kita juga harus tahu.” Kenan tidak membantah. Tapi ada sesuatu di dadanya yang mulai terasa tidak enak. Bukan takut ketahuan. Bukan takut dimarahi. Lebih dari itu. Seperti perasaan ketika seseorang membuka pintu kamar orang yang sedang menangis, lalu sadar bahwa ia tidak punya hak untuk melihat air mata itu. Namun Arka sudah mengklik folder “SEBELUM 59”. Di dalamnya hanya ada satu file video. Judulnya: “UNTUK KALIAN, KALAU AYAH GAGAL BICARA.” Gia langsung menggenggam tangan Lani. Kenan menatap layar tanpa berkedip. Arka, untuk pertama kalinya malam itu, tidak langsung bicara. Lalu menyalakan Speaker Mini yang sudah agak sember karena mungkin sudah terlalu lama tidak di gunakan. Video diputar. Layar hitam beberapa detik. Lalu muncul Rendra. Ia duduk di kursi yang sama dengan kursi di depan cermin. Kemejanya putih, rambutnya tersisir rapi, tapi wajahnya terlihat jauh lebih tua daripada saat makan malam terakhir mereka. Matanya cekung. Bibirnya kering. Ada jeda panjang sebelum ia bicara, seolah kalimat sederhana pun harus ditarik dari tempat yang sangat jauh. “Halo.” Rendra berhenti. Ia menatap kamera, lalu menunduk ke kartu kecil di tangannya. “Kalau kalian menonton ini… berarti Ayah terlambat.” Gia mengeluarkan suara seperti isak yang tertahan. Rendra di layar tersenyum kecil. Senyum yang aneh. Kaku. Tapi nyata. “Ayah tahu kalian pasti masuk ke ruangan ini dengan dugaan buruk. Arka mungkin berpikir ini tentang utang. Gia mungkin berpikir ini tentang perempuan lain. Kenan mungkin merasa bersalah karena membuka pintu. Lani mungkin pura-pura kuat padahal ikut takut.” Lani langsung menutup wajahnya. Arka mundur setengah langkah. Rendra melanjutkan. “Dugaan kalian tidak sepenuhnya salah. Ada utang. Ada perempuan dalam foto lama. Ada proyek Kalimantan. Ada rahasia. Tapi pusat dari semua itu bukan skandal.” Ia menarik napas. Lama sekali. “Ayah sakit.” Tidak ada yang bergerak. “Ayah sudah sakit cukup lama. Awalnya cuma lupa kecil. Lupa naruh kunci. Lupa nama staf lama. Lupa kenapa masuk ruangan. Ayah pikir itu karena kerja. Karena umur. Karena stres. Lalu Ayah mulai lupa kata-kata. Ayah tahu apa yang ingin Ayah ucapkan, tapi mulut Ayah tidak menemukan jalannya.” Video itu sedikit bergetar. Mungkin tangan Rendra menyentuh meja. “Dokter bilang ini gangguan neurodegeneratif progresif. Ada gangguan bahasa. Ada perubahan emosi. Ada kemungkinan Ayah akan kehilangan banyak hal pelan-pelan. Ingatan, kemampuan bicara, kendali diri. Mungkin juga cara mengenali kalian.” Gia menggeleng pelan, seolah bisa menolak kenyataan hanya dengan gerakan kecil itu. “Nggak…” bisiknya. “Nggak mungkin.” Arka tertawa pendek. Tawa yang pecah, pahit, dan sama sekali tidak lucu. “Ini bohong,” katanya. “Ini pasti… ini pasti cara Ayah buat nutupin hal lain.” Tapi suaranya tidak terdengar yakin. Kenan membuka folder lain dengan tangan gemetar. Di dalam folder itu ada hasil pemeriksaan, rekaman konsultasi, jadwal terapi, catatan dokter, dan rekaman suara harian. Salah satu file audio tersorot. Judulnya: “Hari ketika aku memanggil Kenan dengan nama Arka.” Kenan tidak memutarnya. Ia tidak sanggup. Di video, Rendra masih bicara. “Ponsel dan laptop Ayah bukan Ayah jaga karena ada chat rahasia. Di situ ada pengingat. Ada rekaman suara kalian. Ada catatan tentang kebiasaan kalian. Ada video Ayah sendiri untuk Ayah sendiri, supaya kalau suatu hari Ayah bangun dan tidak tahu siapa yang sedang duduk di meja makan, Ayah bisa belajar pulang.” Belajar pulang. Dua kata itu jatuh di ruangan seperti pecahan kaca. Gia terduduk di lantai. Selama ini ia merasa ayahnya menjauh karena tidak peduli. Ternyata ayahnya sedang berusaha tetap tinggal. Dengan cara yang paling sunyi. Arka menekan rahangnya keras-keras. Matanya merah, tapi ia menolak menangis. Ia mengambil satu kartu biru di meja, lalu membacanya. “Kalau Arka bertanya soal perusahaan, jangan marah. Ia takut kehilangan rumah yang ia kenal. Jawab dengan data, lalu bilang: Ayah tidak akan membiarkan kalian jatuh sendirian.” Tangan Arka gemetar. Kartu itu jatuh ke lantai. “Brengsek,” katanya pelan. Gia menatapnya. “Arka…” “Brengsek,” ulang Arka, kali ini bukan marah pada Rendra. Lebih seperti marah pada dirinya sendiri. “Gue nanya dia soal utang, supplier, saham… gue kira dia sembunyiin kebangkrutan. Dia duduk di depan kita, mungkin lagi berjuang inget nama kita, dan gue malah…” Kalimatnya habis. Tidak ada satu pun dari mereka yang punya jawaban. Lani maju ke meja. Ia membuka folder “KALIMANTAN” dengan hati-hati, lebih pelan daripada Arka tadi. Di dalamnya ada dokumen keuangan. Arka langsung mengenali beberapa angka. Angka merah yang selama ini ia curigai. Tapi saat dibaca lebih teliti, dokumen itu tidak sesederhana laporan perusahaan yang hampir bangkrut. Ada rekening pribadi Rendra. Ada pembayaran kompensasi pekerja. Ada pelunasan supplier kecil. Ada dana pendidikan untuk nama-nama yang tidak mereka kenal. Ada satu berkas besar bertanda: “INSIDEN MURUNG RAYA — 2004.” Kenan mengernyit. “2004?” Lani membuka berkas itu. Gia yang masih duduk di lantai langsung berdiri ketika melihat foto di halaman pertama. Foto itu sama dengan foto yang ia temukan di dompet lama Ayahnya, Rendra. Wanita muda itu. Wajahnya lembut, rambutnya sebahu, senyumnya kecil tapi hangat. Kali ini fotonya lebih jelas. Ia berdiri di depan sebuah bangunan setengah jadi, memakai kemeja kotak-kotak, satu tangannya memegang map, tangan lain menyentuh perutnya yang sedikit membuncit. Di bawah foto tertulis: “AYU LARASATI.” Gia menahan napas. “Itu dia…” Arka merebut berkas itu. “Siapa Ayu?” Kenan membaca halaman berikutnya sebelum Arka sempat menutupinya. Namanya ada di sana. Bukan nama Rendra. Bukan nama Dian. Namanya. “Kenan Wicaksono. Bayi laki-laki. Usia tiga minggu.” Dunia seperti berhenti bernapas. Kenan mundur. “Kenapa ada nama gue?” Tidak ada yang menjawab. Karena tidak ada yang bisa. Ia mengambil berkas itu dari tangan Arka. Kali ini Arka tidak melawan. Di dalamnya ada salinan dokumen lama. Kertasnya sudah menguning, tapi tulisannya masih terbaca. Surat penyerahan hak asuh. Nama ibu kandung: Ayu Larasati. Nama wali: Rendra Narendra dan Dian Paramita. Kenan membaca kalimat itu tiga kali. Empat kali. Lima kali. Huruf-hurufnya tidak berubah. Tapi hidupnya berubah. “Ini…” Suara Kenan pecah. “Ini apaan?” Gia mendekat, tapi Kenan langsung mundur lagi. “Jangan.” Gia berhenti. Kenan menatap Arka, lalu Gia, lalu Lani, seolah mereka semua tiba-tiba menjadi orang asing. “Lo semua tahu?” “Ken, gue sumpah nggak tahu,” kata Gia cepat, air matanya sudah jatuh lagi. “Gue beneran nggak tahu.” Arka pun pucat. Untuk pertama kali, Arka Narendra tidak punya argumen. Kenan memegang dokumen itu dengan tangan gemetar. Semua kecanggihannya, semua logika IT-nya, semua sikap chill yang biasa ia pakai untuk menertawakan dunia, runtuh hanya oleh satu lembar kertas lama. Ia bukan hanya anak bungsu yang paling jauh secara fisik. Mungkin sejak awal, ia memang berasal dari tempat lain. Layar komputer tiba-tiba berubah. Video Rendra masih berjalan, tapi mereka tadi terlalu shock untuk menyadari bagian berikutnya. Rendra di layar menunduk lama. Ketika ia kembali menatap kamera, matanya basah. “Kenan…” Kenan langsung menoleh ke layar. “Ayah paling takut bagian ini.” Rendra mengusap wajahnya. “Ada kebenaran yang Ayah dan Ibu tunda terlalu lama. Bukan karena kamu bukan anak kami. Justru karena sejak pertama kali kamu masuk rumah ini, kamu menjadi anak kami dengan sangat penuh, sampai Ayah lupa bahwa cinta tidak bisa menghapus hak seseorang atas asal-usulnya.” Kenan berdiri kaku. Rendra melanjutkan dengan suara serak. “Ayu bukan simpanan Ayah. Ayu bukan alasan Ayah tidak mencintai Ibu. Ayu adalah seseorang yang Ayah gagal selamatkan.” Hening. “Dan kamu, Kenan…” Rendra berhenti lagi. Kali ini jedanya panjang sekali. “Kamu adalah satu-satunya hal baik yang tersisa dari kegagalan itu.” Kenan membujur kaku seolah menuju yang istilah orang bilang "Mati Berdiri". Bukan karena ingin menangis. Tapi karena napasnya seperti tidak menemukan jalan keluar. Tiba-tiba terdengar suara langkah dari luar ruangan. Semua membeku. Pintu yang tadi terbuka pelan kini bergerak sedikit. Dian berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat. Rambutnya berantakan. Ia memakai cardigan tipis di atas baju tidur, dan satu tangannya mencengkeram kusen pintu seperti kakinya hampir tidak kuat menahan tubuhnya. Matanya langsung jatuh ke dokumen di tangan Kenan. Dalam satu detik, Dian tahu semuanya. Ia tidak marah. Itu yang paling membuat mereka takut. Ia hanya terlihat… kalah. “Kenan,” kata Dian pelan. Kenan mundur lagi. “Jangan panggil aku begitu dulu!.” Kalimat itu menghantam Dian Ibu Sambungnya lebih keras daripada teriakan. Gia menangis semakin keras. Arka menunduk. Lani menyentuh lengan Gia, tapi ia sendiri ikut gemetar. Dian masuk ke ruangan itu perlahan. Ia memandangi foto Ayu di meja, lalu video Rendra yang masih menyala, lalu anak-anaknya. “Seharusnya bukan begini caranya,” ucap Dian. Kenan tertawa kecil. Hampa. “Seharusnya kapan, Bu?” Dian memejamkan mata. Panggilan “Bu” itu masih ada, tapi sudah terluka. “Kami mau bilang setelah ulang tahun Ayahmu.” “Ayah aku yang mana?” Ruangan itu runtuh dalam diam. Dian seperti ingin menjawab, tapi kalimatnya tersangkut. Matanya berpindah ke layar, ke wajah Rendra di video, seolah mencari izin dari pria yang tidak ada di sana. “Ayahmu tetap Rendra,” katanya akhirnya. “Bukan karena darah. Tapi karena dua puluh tahun terakhir, dia yang bangun malam saat kamu demam. Dia yang pura-pura tidak panik waktu kamu jatuh dari sepeda. Dia yang menyimpan semua mainan rusakmu karena kamu bilang nanti mau diperbaiki. Dia yang tidak pernah bisa bilang sayang dengan benar, tapi selalu memastikan kamu punya rumah.” Kenan menggeleng. “Kenapa bohong?” Dian menghela nafas panjang dengan mata berkaca-kaca. “Karena kami pengecut.” Jawaban itu sederhana. Terlalu sederhana. Dan justru karena itu terasa jujur. “Kami takut kehilangan kamu sebelum kamu cukup besar untuk mengerti. Lalu saat kamu sudah besar…” Dian menelan tangis. “Kami takut kamu membenci kami.” Kenan melihat lagi dokumen itu. Ayu Larasati. Ibu kandung. Tiga minggu. Insiden Murung Raya. “Kalimantan,” gumamnya. Dian tidak menjawab. Tapi diamnya adalah jawaban. Pada saat itu, ponsel di atas meja berbunyi. Semua terkejut. Layar ponsel menyala. Nama kontaknya: RENDRA (Suamiku). Dian langsung mengangkatnya dengan tangan gemetar. “Papa?” Tidak ada jawaban beberapa detik. Lalu terdengar suara pria asing. “Selamat malam. Ini dengan keluarga Bapak Rendra Narendra?” Dian membeku. “Iya. Saya istrinya.” “Bu, kami dari petugas Bandara Soekarno-Hatta. Bapak Rendra ditemukan di area kedatangan sekitar lima belas menit lalu. Beliau tampak kebingungan. Beliau membawa kartu kecil di dompetnya dengan nomor Ibu.” Dian mencengkeram ponsel itu semakin kuat. “Dia kenapa?” Suara petugas itu melembut. “Beliau tidak terluka parah, Bu. Tapi beliau… tidak bisa mengingat alamat rumah. Saat kami tanya nama lengkapnya, beliau hanya menjawab satu kata berulang kali.” Dian nyaris tidak bernapas. “Apa?” Di ruangan itu, metronom masih berbunyi. Tik. Tik. Tik. Petugas itu berkata pelan, “Kenan.” Kenan menatap ponsel di tangan Dian. Dan untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya benar-benar hancur. Di layar komputer, video Rendra masih belum selesai. Suara Rendra terdengar lirih dari speaker kecil. “Kalau suatu hari Ayah lupa banyak hal, tolong jangan percaya bahwa Ayah lupa mencintai kalian. Kadang cinta adalah hal terakhir yang tertinggal, bahkan ketika nama-nama sudah pergi.” Metronom terus bergerak. Tik. Tik. Tik. Seolah ruangan itu sedang menghitung mundur sesuatu yang tidak bisa mereka hentikan. Bersambung…

RUANG PRIBADI AYAH

Bab 20 Ramuan Keabadian, Lagi?

Di publikasikan 01 May 2026 oleh Bengkoang

“Mustahil!” Pengujung Musim Gugur 224 Shirena. Beginilah hari kelulusanku. Waktu di mana catatanku selesai dan kudatangi Gurua Tua ‘tuk sekadar berterima kasih sekalian mengucapkan salam perpisahan, tapi malah berakhir dengan beliau mondar-mandir di sel sambil meracau tak jelas macam …, macam …, aku tidak ingin mengatakannya. Pokoknya Guru Tua-ku bukan Guru Tua yang biasanya, itu saja. Titik. “Mana mungkin dirimu tahu resep ramuan keabadian asli—ya! Mustahil! Sangat mustahil ….” Reaksi beliau bisa kupahami. Jika tetua yang mengabdikan separuh hidupnya mencari ramuan terkutuk itu puluhan tahun saja tidak berhasil, bagaimana ceritanya anak kemarin sore sepertiku tahu resep aslinya. Ya, ‘kan? Masuk akal. Namun, lain cerita bila kita bicara latar belakang keluarga. “Tunggu! Si-siapa kau sebenar—” “Dia seorang Miria!” timbrung seseorang, menimpali Guru Tua sebelum muncul dari balik bayangan di ujung lorong penjara bawah tanah tersebut. Pria dengan cepol dan jubah pertapa dirangkap zirah milisi Dataran Tengah. “Cucu buyut dari buyut-buyut-buyutnya buyut-buyutku—Oi, Bocah! Aku lupa kau keturunan keberapa.” Laki-laki yang mengaku sebagai Bapak Keluarga Miria, kakek dari kakek-kakek-kakeknya kakek buyutku di zaman Chloria. Entah berapa juta tahun silam. Aku juga sempat tidak percaya, tapi darah orang ini beresonansi dengan bandul giok di kalung warisan keluargaku pas kami pertama kali bertemu. Ingat waktu kubilang sebelum ini—entah diriku sudah pernah bilang apa belum, lupa—sesuatu mendorongku kembali ke Serindi musim dingin tahun kemarin? Nah, itu beliau. “Bukannya tadi Anda bilang mau menunggu di luar, Kek?” “Gak janji …,” balasnya terus duduk sebelahku, “dia ini guru tuamu itukah?” “Ya. Beliau Kepala Sekolah Cermin Rembulan, Penasihat Kanan Kekaisaran Serindi Raya, pengajar sekaligus Guru Tua-ku di sekolah. Guru Besar Wu.” “Hem. Kaubilang orangnya berwibawa,” balas buyutku spontan, “tapi gak papa—salam, Kepala Sekolah Wu. Aku Mi, kakek buyut bocah ini. Maaf sudah merepotkanmu, diriku malu tidak bisa mengajarinya dengan baik sampai harus merepotkan kalian untuk hal-hal sepele.” “Ahaha, tidak mengapa, Saudara Mi.” Anehnya, Guru Tua-ku macam jadi beda orang pas menghadapi kakek buyut sebelahku itu. “Cermin Rembulan hanya sekolah sederhana, menerima dan mencetak generasi penerus yang baik memang kewajiban kami.” “Haha, aku senang mendengarnya. Ngomong-ngomong, Kepala Sekolah Wu, bukankah topik kita tadi itu soal resep ramuan keabadian?” Bagus, suasana balik serius. “Benar. Mustahil muridku ini tahu resep lengkap ramuan keabadian di usianya sekarang, tapi pas tahu dia salah seorang Miria semua jadi masuk akal. Hanya ….” Guru Tua menatap ke Kakek Buyut. “Anda di sini untuk menjemput Empat atau karena hal lain, Tetua?” Tatap yang sesaat dibalas senyum misterius. “Gak heran sekolah Anda jadi yang terkondang se-Serindi sekian tahun ini, kejelian seorang Kepala Sekolah Wu memang tiada lawan. Benar, aku kemari memang karena ada urusan di Ibu Kota.” “Boleh kutahu apa itu …?” Dua orang tua di depanku selanjutnya silih tatap. Mata keduanya saling cengkeram dan tak mau melepaskan sampai salah seorang menggeser topik dengan gurau sekalian pamit lalu membawaku keluar dari penjara bawah tanah tersebut. Hal yang sama sekali tak kupahami. Sedang diriku sehabis itu lanjut melepas penutup wajah dengan simpul tanda masa sekolah selesai …. *** “Anda bilang mau menunggu di luar. Kenapa tadi malah menyusul ke dalam, Buyut?” Di luar penjara bawah tanah Istana Bate Serindi Lama, beberapa saat kemudian. “Kepala Sekolah Wu bukan tandinganmu di level sekarang, Bocah.” Ketika heran dengan penasaranku cuma dijawab seadanya oleh orang di kuda merah sebelah. “Kau hampir masuk perangkapnya tadi.” “Maksud Anda bujukan untuk menciptakan Serindi Raya yang—” “Gak usah kaubahas lagi,” sela Buyut Mi sambil korek kuping dan menjuling, “aku malas dengar nama lawan perangku disebut-sebut, apalagi sama cucu buyutku sendiri.” Kuangkat bahu dengar komentar barusan, tidak tahu sedalam apa dendam yang beliau bawa. “Setelah malam ini aku ingin membawamu ke Istana Naga Timur sebelum lanjut menziarahi makam nenek-nenekmu di barat dan tengah benua. Sebagai seorang Miria, kau perlu tahu dari mana keluarga kita berasal.” “Kakek pernah membawaku ke dermaga Pelabuhan Permata Biru Kecil,” balasku sambil menoleh, “kukira kita bisa lewatkan Istana Naga Timur besok, Buyut.” “Pelabuhan Permata Biru Kecil?” “Tanah terlarang selatan Sesa, tiga mare seberang Ibu Kota Militer Kerajaan Ding. Kakek bilang, semua anak keluarga kita dibawa ke sana pas upacara kedewasaan.” “Kalian menyeberang ke Danau Laut Timur?” “Tidak. Kakek bilang, keturunan pemilik perahu naga sudah hilang jauh sebelum era Shirena. Beliau sendiri hanya tahu ada istana di danau itu dari cerita-cerita leluhur.” “Hah.” Kakek buyut menggeleng, raut wajahnya macam orang menyesal. “Aku sendiri baru tahu kalian masih ada setelah jatuh di depan rombongan dagangmu musim dingin kemarin, bukan? Kalau saja burung besar itu tak menggangguku sejak keluar dari Reruntuhan Tanah Tenggara, diriku mungkin masih akan berpikir Keluarga Miria kita cuma sejarah. Cek! Hidup, oh hi—” “Ah, ya, Buyut!” Sekarang aku penasaran. “Jadi ramuan panjang umur itu sungguhan?” Aku pernah lihat catatan perjalanan Guru Tua, nama-nama herba yang beliau tulis di sana mirip dengan salah satu resep di catatan herba keluargaku. Bukan ramuan keabadian memang, makanya sekarang kutanya. “Apa ramuan hidup abadi itu betulan ada?” Lama kakek buyutku terdiam sebelum akhirnya menjawab. “Gak ada.” Ia bilang, tapi senyum di akhir diamnya barusan mencurigakan. “Gak ada keabadian di dunia yang dirancang buat rusak, hanya hidup sedikit lebih lama daripada yang lain. Itu saja kurasa, gak lebih.” “Hidup lebih lama daripada yang lain?” Aku belum mengerti, sungguh, terutama karena jawaban ini datang dari orang yang menurut pikiran normal sudah terkubur bahkan mungkin telah lama diurai tanah. Namun, dirinya terbukti masih ada di jutaan tahun dari zamannya. Masuk akal? “Aku tahu dirimu ragu, Bocah,” ujar Buyut Mi, menoleh sambil senyum. “Rencanaku dulu cuma ingin mati dengan tenang saat menghabiskan masa tua di Kabin Kecil setelah lihat Miaw dan Aester menikah terus punya keluarga kecil mereka sendiri, siapa sangka orang yang menulis cerita kita sepertinya punya keinginan berbeda. Aku dibiarkannya hidup sementara satu per satu keluargaku dikubur atau lenyap tanpa berita dari dunia ini.” “Anda melankolis.” “Sangat!” sambar buyutku lekas tertawa, “hahaha. Aku sangat melankolis kalau soal keluarga, Bocah.” “Hem.” Mataku menjuling. “Lalu soal ramuan keabadian Guru Tu—” “Ramuan Darah Naga …,” sela beliau lantas jeda singkat sebelum lanjut menjelaskan, “guru tuamu mencari ramuan yang mustahil dibuat di zaman ini, kau tahu.” Aku diam sebentar sebelum tanya lagi. “Buyut, dari mana Anda tahu resep yang Guru Tua cari itu Ramuan Darah Naga dan bukan yang lain?” “Catatanmu.” “Catatan …?” Aku menoleh lama, berharap Buyut Mi akan memberiku penjelasan. “Aku sudah baca catatan asli yang rangkumannya kauberikan ke Pak Tua tadi,” aku beliau, “dari bahan-bahan yang kautulis di sana kutahu itu Ramuan Darah Naga, puas?” “Belum,” balasku kemudian tanya, “bukankah di Kitab Alkimia Miria-kita ada ramuan lain dengan bahan-bahan mirip, Buyut? Kenapa Anda langsung menyimpulkan ke sa—” “Karena yang dia cari keabadian.” Aku terdiam, menatap Buyut Mi sambil berpikir. “Sejak dulu Ramuan Darah Naga sudah disalahpahami sebagai ramuan keabadian,” sambung beliau, “sedang ramuan yang kau singgung cuma obat peluruh mana buat membantu latihan Jurus Racun Ludah Naga.” “Oh.” Kuanggukkan kepala dua kali. Yang, sontak ditimpali pengakuan mencengangkan. “Rasa Ramuan Darah Naga juga tidak enak, aku takkan meminumnya kalau gak benar-benar kehausan dulu ….” ***

Catatan Keempat: Serindi

Bab 19 Penasihat Kanan Wu

Di publikasikan 01 May 2026 oleh Bengkoang

“Selamat jalan, Kepala ….” Hari berikutnya di pengujung Musim Panas 224 Shirena. Aku bertolak dari Kantor Muri Distrik Barat Ritie ‘tuk menuju Ibu Kota Serindi Raya sesuai rencana kemarin kemudian sampai ke tujuan satu bulan kemudian. Akan tetapi, beda dari apa yang kubilang pada semua orang, keretaku langsung ganti arah begitu tiba di depan gerbang Ibu Kota lalu lenyap dari pandangan. Segera, kabar hilangnya keretaku saat menuju Ibu Kota tersebut pun menjadi perbincangan. Sebagian berpikir positif dengan bilang diriku mungkin mampir atau melakukan penyelidikan di suatu tempat guna mendukung kampanye tahun ini, sebagian lagi langsung buruk sangka rombonganku ditangkap lalu ditahan di Ibu Kota. Banyak cerita beredar. Namun, satu hal sangat jelas, kepergianku kala itu menjadi penutup catatan di gulungan pemberian Guru Tua dan aku tidak melakukan apa yang dianggapkan orang-orang. Hingga hari ini …. “Musim gugur?” Ketika hari kelulusanku datang. “Sekarang sudah musim gugur 224-kah, Empat?” “Penutup musim gugur,” timpalku lantas berhenti di depan salah satu sel penjara bawah tanah bekas ibu kota militer Kerajaan Vu, Serindi Lama. “Lama tak bertemu, Guru ….” *** “Rasanya baru kemarin kita berdua diborgol lalu dijebloskan ke ruang bawah tanah ini, siapa sangka bahwa lima tahun itu ternyata sangat singkat.” Satu sudut bibirku naik mendengarkan Guru Tua. Beliau yang lima tahun lalu kukira hanya seorang cendekiawan, rupanya lebih dari sekadar pemikir berat. Ahli falak dan geografi ulung, punya pengetahuan herba mendalam, tahu cara bermain siasat serta paham ilmu tata negara. Benar-benar di luar dugaan jika lihat penampilan sederhana sehari-harinya. Tusuk konde ranting plum, jubah putih mulai lusuh, dan hampir tidak ada pernak-pernik atau tambahan apa-apa selain giok tanda kepala sekolah yang menggantung di pinggang kiri beliau—aku takkan melihatnya jika Guru Tua tidak berdiri barusan. “Bagi murid, kata singkat tadi sudah lebih lama daripada selamanya.” “Oh. Benarkah …, tapi bukankah dirimu tetap berhasil sampai ke hari ini juga, Empat?” “Benar ….” Kuisikan cangkir teh beliau lantas mendorongkannya melewati sela jeruji. “Sayang, aku tidak bisa melihat secara langsung bagaimana dirimu dengan kakak-kakakmu membuat Serindi jadi negara makmur dan—” “Hanya Kakak Ketiga …,” selaku lantas jeda sebentar, kemudian senyum saat Guru Tua berbalik hingga beliau duduk kembali di hadapanku. “Silakan. Hanya Kak Tiga yang betulan membantu Pu Ambas memoles fondasi negara ini, Guru. Sisanya, cuma buat onar dan menjadikan Serindi momok bagi benua.” “Benarkah …, tehmu tidak pernah mengecewakanku, Empat.” “Terima kasih.” Aku senang Guru Tua masih bisa menikmati hari di sini cuma …. “Hanya teh biasa.” Banyak hal yang mesti dibuka hari ini. “Belum sebanding dengan sajian istana yang dikirim kemari tiap pagi dan sore hari. Atau …, haruskah murid katakan Andalah yang sebenarnya keluar di waktu-waktu itu, Guru?” “Ho.” Air muka Guru Tua sama sekali tak beriak, masih amat datar seakan maksud dibalik kata-kataku barusan bukanlah hal baru atau tidak mengejutkan bagi beliau. “Aku memang tidak selalu di ruangan ini, dan kuyakin kedatanganmu kemari bukan cuma untuk menyindirku secara gamblang, benar?” “Hari ini kelulusan murid.” “Hem.” Guru Tua elus janggut, melirikku singkat, kemudian menghadap ke kanan. “Aku memang menebak salah seorang murid Cermin Rembulan akan berbalik melawan Serindi setelah hari kelulusan kalian, tapi siapa sangka jika diriku akan kehilangan dua berturut-turut.” “Kak Rui mengadu domba Nare dan mengatur kota-kotanya dengan hukum yang berat sebelah, sedang Kak Cu membawa ketakutan ke mana pun dirinya pergi. Secara teknis Anda sudah kehilangan penerus ajaran moral sekolah kita, Guru.” “Namun, Tiga memabawa perdamaian—” “Bukan. Yang Kak Tiga bawa adalah kesetaraan, dan ini jauh dari kata damai.” “Benarkah?” Guru Tua menoleh. “Lalu bagaimana dengan dirimu?” Kuperhatikan wajah Guru Tua-ku saksama. “Dirimulah orang terakhir di Cermin Rembulan, bukan?” Beliau selanjutnya melihatku. “Tidak pandai dalam banyak mata pelajaranku, tapi sangat terampil di hal-hal praktis yang saudara-saudaramu anggap sulit. Separuh hari kaupakai tidur, tetapi tak pernah tinggal kelas. Bertindak paling belakang, dan merebut semua pencapaian hingga menjadi Kepala Penyiasat Terbaik Kedua. Empat. Menurutmu kenapa Serindi Raya belum juga menguasai benua padahal punya dukungan empat murid terbaik Cermin Rembulan-kita?” Kugelengkan kepala tak tahu. “Karena orang seperti dirimu memilih untuk abai pada sekeliling.” Ya. Begitulah diriku di mata orang-orang. Pemalas, acuh tak acuh, tanpa ambisi, tak suka basa-basi dan jarang peduli apa pun kecuali menarik. Aku juga tipe yang blak-blakan jadi …. “Murid hanya bersikap apa adanya. Bila Guru punya pandangan berbeda, mohon beri pencerahan.” Guru Tua hela napas, menggeleng, kemudian tersenyum remeh. “Diriku ternyata memang sudah tua ….” Begitu gumam beliau sebelum lantas tanya, “Empat, apa yang bisa membuatmu bertahan di Serindi?” Hari itu aku merenung. Kubayangkan tahun-tahunku di sekolah, lima tahun bolak-balik Serindi juga negara-negara yang diserbunya, terus sekian hariku yang kuhabiskan sebelum datang ke penjara bawah tanah ini. Niatku menemui Guru Tua kala itu hanya satu, yaitu gulungan bambu yang kututup dua bulan lalu. Soal pandangan beliau, hal-hal yang sebelumnya kami obrolkan, sampai ke pertanyaan barusan. Semua datang tanpa persiapan. Aku tidak tahu harus merespons bagaimana. Isi kepalaku sekarang cuma …. “Selain kembali ke kampung halaman, murid tak pernah terpikirkan hal lain.” Jeda agak lama sebelum diriku lanjut berkata, “Apa yang Anda katakan mungkin benar. Serindi bisa menjadi makmur bahkan mendominasi benua, tapi itu bukan di tangan Mapu. Ambisinya dijegal oleh keabadian.” Guru Tua-ku tersenyum. “Lanjutkan. Aku ingin dengar Serindi bagaimana di matamu, Empat.” “Bicara soal negara, Anda tentu lebih paham daripada murid. Namun, jika topik obrolan kita bukan sekadar cara melanggengkan kuasa, Serindi bukan satu-satunya pilihan untuk tinggal. Sama seperti ramuan abadi palsu Anda bukan satu-satunya cara murid lulus dari sekolah.” Mata Guru Tua membulat. “Apa maksudmu, Empat?” “Hah.” Kini giliranku hela napas. “Ramuan Anda palsu …,” ulangku yang lalu meletakkan gulungan bambu di pinggang ke hadapan kami, “selain bahan utama, ada sekian bahan yang sengaja murid ganti dengan tanaman lain. Sebutan mereka mirip, tapi kasiatnya jauh bahkan beberapa bertolak belakang.” “Mustahil!” “Benar, memang mustahil jika Anda tidak mengganti nama beberapa herba ke bahasa asing lebih dulu. Murid bahkan sempat ragu sebelum berani menghapus sebagian lalu mengurangi atau menambah takaran bahan-bahan tadi waktu menulis ulang resep ramuan Anda, Guru. Namun, kita semua tahu bagaimana kejadian berikutnya. Anda termenung hari pertama kita di penjara ini karena memikirkan itu, bukan?” Entah bagaimana harus kugambarkan reaksi Guru Tua. Belalakan kagetnya singkat, raut aneh yang ia lempar sesudah itu sukar kukatakan, lalu tawa senyap di akhir sebelum beliau balik menghadapiku rumit. Entah hanya ungkapan tak percaya tambah rasa kaget biasa, atau barang kali ada juga luapan ekspresi lain yang diriku tidak paham. Mimik, gestur, semua yang Guru Tua tampilkan di seberangku baru pertama kali kulihat. Kakekku saja paling banter hanya teriak sama bungkuk sambil memukul-mukul udara …. ***

Catatan Keempat: Serindi

Bab 18 Ritie dan Negara Bagian Serindi

Di publikasikan 01 May 2026 oleh Bengkoang

“Hem. Kepala Penyiasat?” “Ya, Pu?” “Sekarang apa …?” Di bagian sebelum ini kubilang kepasifan Ritie ada kaitannya dengan rencanaku, bukan? Nah, biar kujelaskan sebagian maksudnya sekarang. Kenapa Ambas Trara lebih baik bertahan ketimbang lanjut menekan Tzudi macam Pi sama Nare menekan Nadi dengan Azura di selatan dan utara. Paling tidak sampai ayahandanya turun tahta. “Kenapa di peta ini kotaku kaukelilingi pasukan Serindi …, Ayahanda, Kak Prama, Bekas Penasihat Runibi, dan kenapa juga senjata-senjata berat di sana itu malah kaubalikkan arahnya ke dalam me—mengincar gerbang kota. Oi, Kepala Penyiasat?!” “Anda benar tidak tahu, atau hanya kura-kura dalam perahu?” tanyaku sebelum lanjut memanggil Tera Gong, “Tera, tolong kau duduk sebelah Pu. Benar, kita akan mulai simulasi macam kemarin lagi.” “Apa simulasi? Simulasi apa? Kepala Penyiasat, kau masih belum menjawab pertanyaanku, ya!” “Tolong sabar, Baginda. Kepala Penyiasat sebentar lagi akan menjelaskan kenapa kita melakukan simulasi pengepungan kota semacam ini sambil jalan.” “Huh. Awas kalau penjelasanmu tidak memuskan ….” Tentu, penjelasanku musim lalu itu memang tidak dan takkan pernah memuaskan sebab pembukanya saja sudah serbuan ke Ritie dari tiga arah serentak. Ibu Kota Serindi Raya di timur, Kauro di utara, dan Nare di selatan. Tiga wilayah yang selama hampir dua tahun menguras lumbung taman bermain milik si pu mungil. “Apa-apaan ini?!” “Ada yang salah, Pu?” “Kepala Penyiasat, kenapa saat Tera Gong mendorog serdadu-serdaduku ke Tzudi kau malah mendorong meriam tempur Ayahanda kemari?” “Seperti yang Anda lihat, kita ada di tengah-tengah—” “Bukan!” Raja wilayah mungil kita melotot. “Kenapa Ayahanda menyerangku?” Menjawabnya, mari mundur dua musim ke belakang. “Anda lupa apa yang terjadi musim dingin tahun kemarin, Pu?” tanyaku sambil topang dagu, “ayahanda Anda mengirim lima puluh ribu orang ke wilayah Ritie.” “Itu bantuan untukku di garis depan.” “Luarnya, ya. Namun, bagaimana jika saat itu dua penasihat lain gagal menjepit Tzudi lalu Anda terkurung di antara timur Ding, selatan Nadi, dan utaranya Azura?” “Kau mau bilang Ayahanda mau menggunakan pasukannya buat mengambil wilayahku, hah?” ‘Bagus, aku suka belalakan singkatnya.’ “Tunggu dulu!” Anak itu kini pegang dagu, berpikir. “Kalau Ayahanda mau wilayahku kenapa beliau tidak langsung mengeluarkan titah, lebih mu—” “Anda lupa orang macam apa ayahanda Anda, Pu?” “Maksudmu?” “Apa yang terjadi waktu beliau menarik setengah pasukan kota Anda ke Ibu Kota?” “Dulu?” “Ya.” “Kekuatan kotaku menipis ….” Aku tepuk jidat terus geleng. Benar militer Ritie pernah turun, tapi bukan itu maksudku di konteks tadi. “Pu, saat itu rakyat kita marah. Para sarjana membuat petisi minta Anda menutup gerbang dan menolak orang-orang dari Ibu Kota masuk ke Ritie. Ingat?” “Ah, ya, ya! Diriku ingat. Kakakmu pas itu memintaku untuk membatalkan panggilan militer dan mengganti sistem pengawasan kerja di perbatasan jadi berbasis swadaya.” “Nah, seandainya ayahanda Anda kali ini juga mengeluarkan titah lalu mengambil Ritie dengan cara se—” “Aku paham maksudmu,” sela Ambas Trara, kelihatan agak murung. “Ritie akan memberontak, ‘kan?” “Itulah kenapa lima puluh ribu tentara Ibu Kota kemarin dikirim kemari lebih dulu.” “Tuduhanmu ini berlebihan, Kepala Penyiasat. Buat apa juga Ayahanda mengambil alih Ritie yang jelas-jelas makmur di tangan kita berdua selama ini, bukan?” “Benar. Memang kedengaran mustahil ….” Aku mundur dari meja lalu menghampiri Pu Ambas. “Namun, bagaimana seandainya Ritie menjadi Ibu Kota Serindi Raya?” Anak itu menjuling. “Ritie sekarang jadi wilayah strategis,” lanjutku sebelahnya, “ia tepat di tengah-tengah antara garis depan kita dengan dua wilayah lain, mudah jika mau pergi ke mana-mana, dan lebih cepat bila ingin dapat kabar sambil memantau jalannya pertempuran secara aktual.” “Hem.” “Tera Gong pernah melakukan simulasi ini puluhan kali. Bila penjelasan bawahan barusan sukar dimengerti, dirinya mungkin bisa membantu sembari jalan. Benar, ‘kan, Tera?” Niat asliku ingin membantu bocah satu ini bersiap menghadapi perpecahan Serindi sebelum makin tajam dan diriku tidak lagi di sisinya, atau kata lainnya aku gak mau merasa terlalu bersalah bila nanti menghilang setelah hari kelulusan musim depan. Pindah dari negara menyebalkan ini, macam Kakak Ketiga. Sekalian berkemas, merapikan banyak hal sebelum pergi, selagi Kak Rui sama Kak Cu masih belum benar-benar mengarahkan pisau ke leher masing-masing saat berlomba di kampanye sekarang. Mumpung keduanya masih sihih pantau dari kemah militer di utara dan selatan …. *** “Aku tidak percaya ini!” Sore hari, tatkala simulasi Ritie diambil alih oleh ayahanda juga saudara-saudara Ambas Trara di Kantor Muri Distrik Barat selesai. Ketika tangan kecilnya berkali-kali menggebrak meja sambil teriak-teriak usai kalah di arena siasat sebelah asistenku, Tera Gong. “Kenapa semua yang kulakukan untuk membuat pengambilalihan ini gagal sia-sia, hah?” sergahnya ke kuping sang panitera kantor muri, kasihan. “Teraaa! Penduduk dan tokoh-tokoh besar di kotaku sangat banyak, tapi kenapa mereka selalu berakhir mati atau terusir dari Ritie dengan muka menunduk, hah—jawaaab!” “Anda mungkin lupa kita ini sangat dikenal baik oleh lawan-lawan—” “Jangan bilang lawan!” Sekarang telunjuk lentiknya menghunjam lurus ke mukaku. “Ini cuma simulasi, pura-pura, Ayahanda mana mungkin merampas Ritie dari putra kesayangannya.” Aku ingin ketawa dengar bantahan barusan. Anak itu menyangkal kemungkinan saudara dengan ayahandanya menyerbu kemari, tetapi tetap ingin melihat simulasi bagaimana Ritie dimanipulasi dari tiga arah oleh mereka. “Semoga dugaan bawahan salah, Pu.” “Aku tak ingin main simulasi lagi,” rajuk sang bocah, ia lantas putar badan diikuti kasim serta pelayan-pelayan pribadinya dari belakang. “Jangan cari aku kecuali kalian sudah dapat ide bagaimana kita akan memenangkan perang ini dan aku jadi anak kesayangan Ayahanda ….” Diriku cuma senyum sambil topang dagu mengantar kepergian si raja wilayah muda dari meja strategi tersebut, tidak ikut berdiri macam Tera Gong dengan yang lain di depan sana. “Ke-kepala, Anda tidak memberi tahu Pu Ambas soal keberangkatan ke Ibu Kota besok?” tanya Tera Gong, sesaat kepala negara mungil kami hilang dari pandangan. “Bu-bukankah—” “Kau ingin aku memberitahunya bagaimana, Tera?” selaku yang lantas mundur dari meja strategi dan kembali ke meja kerja terus merebah, “tolong rapikan meja di sana. Aku mau rehat sebentar sebelum pulang.” “Kepala?” “Kubilang aku mau istirahat, Tera. Kenapa kau malah mengikutiku kemari?” Si asisten muri diam sejenak sebelum lanjut bertanya dengan nada ragu. “A-anu …, soal surat-surat Penasihat Kiri dan Penasihat Junior Kanan kemarin, Kepala?” “Hem.” Kurapikan duduk lantas menoleh terus sangga kepala. “Tera Gong, menurutmu sebaiknya kuapakan permintaan mereka berdua itu?” “Ah! Bawahan tidak berani, tidak berani.” Cih! Aku sebal dapat asisten modelan begini. “Kalau gak berani kasih masukan kenapa terus tanya aku, hah?” Kugerak-gerakkan telunjuk ke arahnya sekian kali sebelum lanjut menjelaskan. “Jika kudiamkan begini, artinya biarkan saja. Gak usah kita turuti, mengerti?” “Ta-tapi, Kepala?” “Kau takut Mapu akan mengirim titah terus ikut campur lagi?” Kepala Tera Gong mengangguk. “Hah.” Aku capek. “Buat apa selama ini kau kubawa ke mana-mana kalau ujung-ujungnya tidak belajar apa-apa, Tera. Dirimu sengaja kubiarkan melihat bagaimana caraku bekerja supaya suatu saat bisa menggantikanku melindungi Pu Ambas bila Ritie betulan ditekan ayahanda dengan saudara-saudaranya ….” ***

Catatan Keempat: Serindi